3 research outputs found

    Implementasi Pelaksanaan Kecakapan Hidup Abad 21 pada Mata Pelajaran Sejarah Indonesia di SMA Negeri 5 Malang Semester Genap Tahun Ajaran 2018/2019

    No full text
    IMPLEMENTASI PELAKSANAAN KECAKAPAN HIDUP ABAD 21 PADA MATA PELAJARAN SEJARAH INDONESIA DI SMA NEGERI 5 MALANG SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2018/2019 Harbatul Ahkam Arrozy, Universitas Negeri Malang E-mail: [email protected]   ABSTRAK: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat mengenai pelaksanaan penumbuhan kecakapan hidup abad 21 di mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 5 Malang. Penelitian didasarkan pada masalah yang ditemukan peneliti saat melakukan observasi dan wawancara. Peneliti ingin melihat bagaimana menerapkan dan melaksanakan kecakapan hidup abad 21 pada mata pelajaran sejarah sebagai salah satu langkah pemerintah untuk mengatasi kurangnya kualitas SDM di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualititatif deskriptif. Metode yang digunakan yaitu metode penelitian oleh Moeloeng yang dimaksudkan bahwa penelitian kualitatif bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, pandangan, motivasi, tindakan sehari hari, secara holistik dan dengan metode deskripsi dalam bentuk kata kata dan bahasa (naratif) pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.   Kata Kunci: Kecakapan Hidup Abad 21, Sejarah, Implementasi. ABSTRACT: The purpose of this study is to see about the implementation of 21st century life skills growth in history subjects in Malang 5 Public High School. Research is based on problems found by researchers when conducting observations and interviews. The researcher wants to see how to implement and implement 21st century life skills in history subjects as one of the government's steps to overcome the lack of quality human resources in Indonesia. This study uses descriptive qualitative research methods. The method used is the method of research by Moeloeng which means that qualitative research intends to understand the phenomenon of what is experienced by research subjects, such as behavior, perceptions, views, motivations, daily actions, holistically and with methods of description in the form of words and languages (narrative) in a special context that is natural by utilizing various natural methods.   Key Word: 21’st Century Life Skill, History, Implementation. Pendidikan nasional di Indonesia berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membangun watak peserta didik seperti yang dituangkan pada dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 3 yang berbunyi:”Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, 2017: 1). Pendidikan nasional berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, yang menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membetuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab (SMA Negeri 5 Malang, 2018: 1) Demi mewujudkan kepentingan nasional, pendidikan di Indonesia mempersiapkan peserta didiknya untuk memiliki berbagai kecerdasan di abad 21 ini yang mengedepankan informasi dan teknologi. Untuk itu pemerintah memberikan solusi dalam pendidikan dengan menerapkan kecakapan hidup abad 21 di sekolah. Kecakapan hidup abad 21 digunakkan pemerintah untuk menyiapkan peserta didik untuk menjadi pribadi yang memiliki kecerdasan faktual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Adapun 4 komponen kecakapan hidup abad 21 adalah berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi dan kreatif. Implementasi kecakapan hidup abad 21 juga dilakukan pada pembelajaran sejarah. Menarik untuk diteliti mengenai implementasi kecakapan hidup abad 21 pada pembelajaran sejarah. Khususnya Sejarah Indonesia. Terkait bagaimana perencanaan dan pelaksanaan kecakapan hidup abad 21 ini pada pembelajaran sejarah Indonesia oleh guru sejarah. Terkait dengan penelitian yang akan dilakukan di SMA Negeri 5 Malang, peneliti telah melakukan observasi di kelas E2. Dipilihnya kelas E2 disebabkan oleh beberapa hal. Salah satunya kelas E2 merupakan salah satu kelas X yang baru saja masuk SMA dan cocok menjadi obyek dalam penelitian ini. Saat melakukan observasi pendahuluan pada tanggal 15-19 Maret 2019, peneliti telah melakukan pengamatan pada proses pembelajaran di kelas E2. Hasil yang ditemukan adalah guru membuat kelompok dan memberi tugas pada peserta didik untuk mencari penjelasan mengenai gambar yang ditampilkan di proyektor. Disini ditemukan salah satu cara guru untuk menerapkan penumbuhan kecakapan hidup abad 21 pada pembelajaran sejarah. Selain itu peneliti juga mendokumentasikan fasilitas penunjang kecakapan hidup abad 21, seperti proyektor, LCD, dan fasilitas penunjang lainnya. Pada 21 maret 2019, peneliti melakukan wawancara untuk mengetahui implementasi kecakapan hidup abad 21. Peneliti melakukan wawancara dengan Dedi Pambela, S.Pd selaku Wakil Kepala Sekolah bagian Kurikulum. Dalam wawancara itu peneliti mendapatkan beberapa fakta mengenai implementasi kecakapan hidup abad 21 seperti kesiapan sekolah dalam menghadapi penumbuhan kecakapan hidup abad 21 di SMA Negeri 5 Malang, faktor penghambat dan faktor pendukung penumbuhan kecakapan hidup abad 21 di SMA Negeri 5 Malang. Pada tanggal 25 maret 2019, peneliti kembali melakukan wawancara dengan dua narasumber. Pertama dengan Drs. Amat, M.M.Pd selaku Kepala Sekolah. Peneliti mendapat beberapa fakta penting mengenai implementasi penumbuhan kecakapan hidup abad 21 di SMA Negeri 5 Malang seperti SMA Negeri 5 Malang yang menjadi sekolah rujukan dan diadakan workshop untuk menyiapkan para staf pendidik dalam pelaksanaan pembelajaran dengan penumbuhan kecakapan hidup abad 21 di SMA Negeri 5 Malang. Wawancara yang kedua, peneliti lakukan dengan Hariati, SH selaku guru sejarah. Peneliti mendapat beberapa fakta dan data mengenai implementasi kecakapan hidup abad 21 pada mata pelajaran sejarah Indonesia di SMA Negeri 5 Malang. Data dan fakta yang didapat seperti cara mengimplementasikan 4 kecakapan dalam pembelajaran, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan data lainnya. Tidak berhenti sampai disitu, peneliti juga melakukan wawancara kepada peserta didik selaku obyek dari penumbuhan kecakapan hidup abad 21 ini. Wawancara ini dilakukan pada tanggal 26 maret 2019. Disini peneliti mendapat fakta bahwa peserta didik lebih aktif dalam pembelajaran dan kegiatan literasi di sekolah dilakukan 2 minggu sekali. Berdasarkan pengamatan dan wawancara, peneliti ingin menyatukannya dalam sebuah penelitian. Untuk itu penelitian ini dibuat. Penelitian ini penting, karena implementasi penumbuhan kecakapan hidup abad 21 di SMA Negeri 5 Malang pada pembelajaran sejarah Indonesia merupakan salah satu solusi yang dihadirkan pemerintah untuk menganggulangi rendahnya kualitas SDM di Indonesia. Terdapat beberapa manfaat yang diharapkan dari penelitian ini yaitu: 1. Bagi Sekolah Hasil penelitian tentang implementasi kecakapan hidup abad 21 dapat digunakkan sebagai salah satu bahan untuk evaluasi pembelajaran, mengembangkan perangkat kurikulum yang baik untuk menunjang profesionanlisme sekolah. 2. Bagi Guru Hasil penelitian tentang implementasi kecakapan hidup abad 21 dapat memberikan inovasi baru bagi pembelajaran dalam menciptakan perangkat pembelajaran yang kreatif dan kritis. Sehingga guru dapat menyampaikan pembelajaran sejarah dengan lebih menarik. 3. Bagi Siswa Hasil penelitian tentang implementasi kecakapan hidup abad 21 dapat digunakkan siswa untuk mengembangkan kreatifitas dan pengetahuannya secara kritis dan mandiri. Berkaitan dengan pembelajaran sejarah siswa dapat merekontruksi peristiwa peristiwa masa lampau yang sampai sekarang masih ada dalam kehidupan sekitar melalui pengalaman belajar baru.   METODE Penelitian ini memakai pendekatan kualitatif. Menurut Moleong dalam Arifin, (2010:26) penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, pandangan, motivasi, tindakan sehari hari, secara holistik dan dengan metode deskripsi dalam bentuk kata kata dan bahasa (naratif) pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Peneliti memakai metode ini dengan menjadikan diri peneliti menjadi insturmen kunci dalam penelitian ini. Peneliti hanya melihat pelaksanaan penumbuhan kecakapan hidup abad 21 pada mata pelajaran sejarah Indonesia di SMA Negeri 5 Malang dengan mengamati dan menjadikan peserta didik, guru dan pelaksanaan pembelajaran sebagai obyek penelitian. Nasution (dalam Sugiyono, 2012 : 306) mengemukakan : “Dalam penelitian kualitatif, tidak ada pilihan lain daripada menjadikan manusia sebagai instrument utama. Alasannya ialah bahwa segala sesuatunya belum mempunyai bentuk yang pasti. Masalah, fokus penelitian, prosedur penelitian, hipotesis yang digunakan, bahkan hasil yang diharapkan, tidak dapat ditentukan secara pasti dan jelas sebelumnya. Dalam keadaan yang serba tidak pasti dan tidak jelas itu, tidak ada pilihan lain dan hanya peneliti itu sendiri sebagai alat satu-satunya yang dapat mencapainya”. Dengan demikian peneliti menentukan pada penelitian ini. Peneliti bertindak sebagai instrument dan segala aspek pembelajaran serta peserta didik dan guru adalah obyek penelitian. Penelitian ini juga membutuhkan sumber primer sebagai penunjang pada penelitian ini. Adapun sumber primer menurut Sugiyono (2012: 308-309) “sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data, dan sumber sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen”. Sumber primer yang didapat dari penelitian ini terdapat dari wawancara dengan Drs. Amat, M.M.Pd selaku Kepala Sekolah, Dedi Pambela, S.Pd selaku Wakakur, Hariyati, SH selaku guru sejarah dan beberapa peserta didik. Adapun data sekunder penelitian berupa dokumen. Dokumen tersebut berupa Pedoman Pelaksanaan Panduan Implementasi Kecakapan Hidup Abad 21, Buku sejarah buku guru sejarah, buku siswa sejarah dan foto sekolah. Setelah mendapatkan data dari sumber primer dan sumber sekunder dilakukan analisis. Karena tidak semua data dapat dimasukkan dalam penelitian. Analisis data penelitian menurut Arifin (2010: 31) dibagi menjadi 3 yaitu: 1.Jenis datanya berupa uraian kalimat (deskriptif), dokumen pribadi, catatan lapangan hasil observasi partisipatif, catatan ucapan dari hasil wawancara mendalam, dan beragam tindakan responden atau obyek penelitian, serta dokumen dokumen lainnya 2. Analisis data penelitian bersifat interaktif, siklus dan induktif 3. Proses analisis data berlangsung secara terus menerus, dari awal penelitian hingga akhir penelitian. Adapun langkah langkah proses analisis data menurut Miles dan Huberman (2009:34) adalah sebagai berikut : a. Mereduksi data, yaitu peneliti menelaah kembali seluruh catatan yang diperoleh melalui teknik observasi, wawancara dan dokumen dokumen. Reduksi data adalah kegiatan mengabstraksi atau merangkum data dalam suatu laporan yang sistematis dan difokuskan kepada hal hal yang inti. Dalam penelitian ini, seluruh data baik dari sumber primer maupun sumber sekunder sudah dirangkum dan dijadikan satu menjadi laporan yang sistematis. Data-data seperti wawancara dan dokumentasi serta data seperti RPP, Prota dan Promes sudah dijadikan satu. b. Display data, yakni merangkum hal-hal pokok dan kemudian disusun dalam bentuk deskripsi yang naratif dan sistematis sehingga dapat memudahkan untuk mencari tema sentral sesuai dengan fokus atau rumusan unsur-unsur dan mempermudah memberi makna. Pada penelitian ini, semua data yang telah dijadikan satu dipilah-pilah yang mengenai data dan fakta yang cocok untuk dimasukkan dalam penelitian ini. Dari wawancara dan dokumentasi pembelajaran sejarah di SMA Negeri 5 Malang sudah di pilah-pilah dengan baik dan diambil data-data yang diperlukan saja sesuai tema. c. Penarikan kesimpulan adalah kegiatan terakhir yang dilakukan dan merupakan pokok dari hasil penelitian. Penarikan kesimpulan merupakan jawaban dari rumusan masalah yang telah dirumuskan sejak awal dan diharapkan merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Setelah mendapatkan rangkuman, pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan kecakapan hidup abad 21 pada mata pelajaran sejarah Indonesia di SMA Negeri 5 Malang berjalan dengan baik. Sebagai salah satu solusi yang dihadirkan oleh pemerintah, masih terdapat kekurangan dalam implementasinya. Namun, untuk menutupi kekurangan itu SMA Negeri 5 Malang menggunakan faktor-faktor pendukung untuk menutupinya.   HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi kecakapan hidup abd 21 pada mata pelajaran sejarah Indonesia di SMA Negeri 5 Malang dibagi menjadi 3 tahapan dalam pelaksanaannya yakni :   A. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Mengenai format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk pelajaran sejarah tidak ada format khusus dari Dinas Pendidikan. RPP harus mencakup faktual, konseptual, prosedural dan metakognitif. Dan pada tujuan pembelajarannya harus menyebutkan komponen 4C. Pembuatan RPP dilakukan sendiri oleh guru kemudian dimusyawarahkan dalam forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Kota. Komponen-komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat oleh guru mata pelajaran sejarah kelas X di SMA Negeri 5 Malang sudah mencakup komponen-komponen yang harus ada seperti yang disebutkan sebelumnya. Berikut komponen-komponen yang ada pada RPP yang dibuat oleh guru mata pelajaran sejarah SMA Negeri 5 Malang. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat oleh Ibu Hariyati sedikit tidak sesuai dengan RPP yang diharapkan dalam penumbuhan kecakapan hidup abad 21. Karena dalam RPP yang dibuat oleh Ibu Hariyati pada kolom tujuan tidak menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran untuk menumbuhkan 4 kecakapan yakni berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi dan kreatif. Selebihnya sudah sesuai dan rinci karena disetiap langkah-langkah pembelajaran diperinci dengan alokasi waktu untuk penumbuhan salah satu kecakapan.    B. Pelaksanaan Pembelajaran Berdasarkan hasil penelitian yang ditemukan, guru sejarah SMA Negeri 5 Malang memiliki tekad untuk menubuhkan kecakapan hidup abad 21 pada peserta didik. Hal ini terlihat melalui rangkaian kegiatan pembelajaran mulai dari kegiatan pendahuluan hingga kegiatan penutup. Guru sejarah menunmbuhkan kecakapan hidup abad 21 yang memiliki 4 poin penting yakni berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, dan kreatif kepada peserta didik dengan berbagai cara.   1) Kegiatan Pendahuluan Peneliti menemukan fakta pada saat melakukan observasi dalam proses pelaksanaan pembelajaran, yang dilakukan oleh guru sejarah adalah mengucapkan salam dan menanyakan kabar. Guru sejarah menanyakan kabar kepada peserta didik agar terjalin komunikasi diantara guru dan peserta didik. Kegiatan ini dilakukan agar peserta didik dapat menerima dengan baik pelajaran yang akan disampaikan. Dan dapat terjalin keakraban antara guru dan murid. Ini merupakan salah satu penumbuhan poin dari kecakapan hidup abad 21 yakni komunikasi. Setelah keakraban antara guru dan peserta didik terjalin baik, kemudian guru mulai menjelaskan mengenai pelajaran/materi yang akan disampaikan. Guru memulainya dengan menyambungkan materi yang lalu dengan materi yang akan dipelajari. Kegiatan ini penting agar peserta didik dapat mengikuti jalannya pelajaran sejarah secara kronologis. Dan tidak menghilangkan materi yang lalu dengan materi yang akan diajarkan. Secara keseluruhan dari guru sejarah, peneliti memberikan kesimpulan bahwa guru sejarah melakukan apersepsi selama 5-10 menit setiap pertemuan dengan tujuan menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik guna mengikuti proses pembelajaran. Guru sejarah melakukan beberapa kegiatan seperti ini salam, berbincang-bincang dengan peserta didik, dan menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar serta absensi.   2) Kegiatan Inti Berdasarkan obeservasi yang dilakukan oleh peneliti, guru sejarah menjelaskan materi dengan santai dan menbuat peserta didik terbawa akan sejarah yang dijelaskan. Peserta didik seolah masuk kedalam situasi sejarah yang dijelaskan oleh guru sejarah. Di sela-sela penjelasan, guru sejarah juga memberikan ruang pada peserta didik untuk bertanya mengenai hal yang tidak dimengerti. Tidak hanya itu penjelasan guru sejarah pun terkesan menyenangkan karena diisi dengan beberapa guyonan yang membuat suasana menjadi hangat. Pada kegiatan inti, guru mengimplementasikan berbagai kecakapan hidup abad 21 dengan melakukan berbagai cara. Contohnya, guru menumbuhkan kecakapan berpikir kritis peserta didik dengan cara memberikan soal-soal HOTS (High Order Thingking Skills). Soal-soal dalam HOTS merupakan soal-soal yang memerlukan cara berpikir yang lebih tinggi. Soal-soal HOTS adalah soal-soal yang susah untuk diselesaikan, soal HOTS adalah soal yang melebihi tingkat berpikir pada kelasnya. Kegiatan pembelajaran dimulai dengan ceramah sekitar 15 menit, kemudian dilanjutkan dengan pembuatan kelompok untuk mencari dan mendiskusikan mengenai gambar yang diberikan oleh guru sejarah. Dari kegiatan ini, guru sejarah menumbuhkan poin komunikasi. Karena dalam sebuah kelompok dibutuhkan komunikasi yang baik antar individu untuk menghadirkan sebuah karya yang baik. Tidak hanya komunikasi yang terdapat didalamnya, poin kreatif juga muncul didalamnya. Kreatifitas dibutuhkan oleh kelompok untuk menyusun berbagai sumber/fakta menjadi sebuah karya yang baik dan dapat dimengerti.   3) Kegiatan Penutup Pada kegiatan penutup peserta didik diberikan pertanyaan terkait materi maupun peserta didik diberi kesempatan bertanya tentang permasalahan yang belum dipahami. Hal ini sesuai dengan observasi yang dilakukan oleh peniliti. Namun, faktanya masih sedikit sekali peserta didik yang aktif bertanya pada guru. Peneliti dapat memberikan kesimpulan dalam proses pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru sejarah sudah sangat baik. Pelaksanaan pembelajaran yang sudah sangat baik dilakukan oleh Ibu Hariati didasarkan pada observasi pelaksanaan pembelajaran dan keseuaian dengan hasil wawancara yang peneliti lakukan. Proses penumbuhan kecakapan hidup abad 21 sudah terlaksana denga cukup baik 4 poin 4C yakni berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi dan kreatif sudah terlaksana dengan cukup baik berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti selama proses penelitian.   C. Evaluasi Penilaian hasil belajar pada pembelajaran dalam rangka mengembangkan kecakapan abad 21 pada dasarnya sama dengan penilaian hasil belajar pada umumnya sesuai dengan peraturan yang diberlakukan. Namun, selain harus memenuhi prinsip-prinsip dasar penilaian, dalam rangka memenuhi tuntutan kecakapan Abad 21, maka penilaian hasil belajar juga harus dapat  mengukur penguasaan peserta didik terhadap kualitas karakter, kompetensi, dan pengauasaan literasi, serta dapat mengembangkan proses berfikir tingkat tinggi / Higher Order Thinking Skills (HOTS) (Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, 2017: 25). Penilaian hasil belajar oleh pendidik adalah proses pengumpulan informasi/data tentang capaian pembelajaran peserta didik dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dilakukan secara terencana dan sistematis. Penilaian hasil belajar oleh pendidik di SMA dilaksanakan untuk memenuhi fungsi formatif dan sumatif dalam bentuk penilaian harian dan dapat juga dilakukan penilaian tengah semester. Penilaian tengah semester merupakan penilaian yang dilakukan oleh pendidik yang cakupan materinya terdiri atas beberapa KD dan pelaksanaannya tidak dikoordinasikan oleh satuan pendidikan. Penilaian harian dapat berupa ulangan, pengamatan,penugasan, dan/atau bentuk lain yang diperlukan yang digunakan untuk: 1. mengukur dan mengetahui pencapaian kompetensi peserta didik; 2. menetapkan program perbaikan dan/atau pengayaan berdasarkan tingkat penguasaan kompetensi; 3. memperbaiki proses pembelajaran; dan 4. menyusun laporan kemajuan hasil belajar. Laporan penilaian sikap oleh pendidik disampaikan dalam bentuk predikat (sangat baik, baik, cukup, atau kurang) dan dilengkapi dengan deskripsi. Laporan penilaian pengetahuan dan keterampilan berupa angka (0-100), predikat (A, B, C, atau D), dan deskripsi (Direktorat Pembinaan Sekolah Atas, 2017: 12-13). Dalam proses penilailan yang dilakukan oleh ibu Hariati sudah menggunakan penialian yang berbasis kecakapan hidup abad 21. Penilaian yang dilakukan terintegrasi dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Dalam penumbuhan kecakapan hidup abad 21 terdapat 3 aspek yang dinilai yakni sikap, pengetahuan dan keterampilan. Penilaian yang dilakukan guru sejarah sesuai dengan prinsip penilaian dalam 4C. Penilaian sikap mempunyai beberapa teknik sebagai berikut : 1. observasi, 2. Penilaian diri,  dan 3. Penilaian antar teman. Penilaian pengetahuan memiliki teknik sebagai berikut : 1. tes tulis, dan 2. Tes lisan . sementara penilaian keterampilan memiliki teknik sebagai berikut : 1. Penilalian unjuk kerja, 2. Penilaian proyek, 3. Produk, 4. Penilaian portofolio.   PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam penelitian implementasi penumbuhan kecakapan hidup abad 21 pada mata pelajaran sejarah Indonesia kelompok wajib di SMA Negeri 5 Malang semester genap tahun ajaran 2018/2019 dapat ditarik kesimpulan bahwa implementasi kecaka

    IMPLEMENTASI PELAKSANAAN KECAKAPAN HIDUP ABAD 21 PADA MATA PELAJARAN SEJARAHINDONESIA KELOMPOK WAJIBDI SMA NEGERI 5 MALANGSEMESTER GENAPTAHUN AJARAN 2018/2019

    No full text
    IMPLEMENTASI PELAKSANAAN KECAKAPAN HIDUP ABAD 21 PADA MATA PELAJARAN SEJARAH INDONESIA KELOMPOK WAJIB DI SMA NEGERI 5 MALANG SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2018/2019 Harbatul Ahkam Arrozy, Universitas Negeri Malang E-mail: [email protected]   ABSTRAK: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat mengenai pelaksanaan penumbuhan kecakapan hidup abad 21 di mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 5 Malang. Penelitian didasarkan pada masalah yang ditemukan peneliti saat melakukan observasi dan wawancara. Peneliti ingin melihat bagaimana menerapkan dan melaksanakan kecakapan hidup abad 21 pada mata pelajaran sejarah sebagai salah satu langkah pemerintah untuk mengatasi kurangnya kualitas SDM di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualititatif deskriptif. Metode yang digunakkan yaitu metode penelitian oleh Moeloeng yang dimaksudkan bahwa penelitian kualitatif bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, pandangan, motivasi, tindakan sehari hari, secara holistik dan dengan metode deskripsi dalam bentuk kata kata dan bahasa (naratif) pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah..   Kata Kunci: Kecakapan Hidup Abad 21, Sejarah, Implementasi. ABSTRACT: The purpose of this study is to see about the implementation of 21st century life skills growth in history subjects in Malang 5 Public High School. Research is based on problems found by researchers when conducting observations and interviews. The researcher wants to see how to implement and implement 21st century life skills in history subjects as one of the government's steps to overcome the lack of quality human resources in Indonesia. This study uses descriptive qualitative research methods. The method used is the method of research by Moeloeng which means that qualitative research intends to understand the phenomenon of what is experienced by research subjects, such as behavior, perceptions, views, motivations, daily actions, holistically and with methods of description in the form of words and languages (narrative) in a special context that is natural by utilizing various natural methods.   Key Word: 21’st Century Life Skill, History, Implementation. Pendidikan nasional di Indonesia berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membangun watak peserta didik seperti yang dituangkan pada dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 3 yang berbunyi:”Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, 2017). Pendidikan nasional berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, yang menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membetuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab (SMA Negeri 5 Malang, 2018) Demi mewujudkan kepentingan nasional, pendidikan di Indonesia mempersiapkan peserta didiknya untuk bisa survive di abad 21 ini yang mengedepankan informasi dan teknologi. Untuk itu pemerintah memberikan solusi dalam pendidikan dengan menerapkan kecakapan hidup abad 21 di sekolah. Penumbuhana kecakapan hidup abad 21 disiapkan untuk peserta didik agar bisa survive di abad 21. Adapun 4 komponen kecakapan hidup abad 21 adalah berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi dan kreatif. Implementasi kecakapan hidup abad 21 juga dilakukan pada pembelajaran sejarah. Menarik untuk diteliti mengenai implementasi kecakapan hidup abad 21 pada pembelajaran sejarah. Khususnya Sejarah Indonesia. Terkait bagaimana perencanaan dan pelaksanaan kecakapan hidup abad 21 ini pada pembelajaran sejarah Indonesia oleh guru sejarah. Terkait dengan penelitian yang akan dilakukan di SMA Negeri 5 Malang, peneliti telah melakukan observasi di kelas E2. Dipilihnya kelas E2 disebabkan oleh beberapa hal. Salah satunya kelas E2 merupakan salah satu kelas X yang baru saja masuk SMA dan cocok menjadi obyek dalam penelitian ini. Saat melakukan observasi pendahuluan pada tanggal 15-19 Maret 2019, peneliti telah melakukan pengamatan pada proses pembelajaran di kelas E2. Hasil yang ditemukan adalah guru membuat kelompok dan memberi tugas pada peserta didik untuk mencari penjelasan mengenai gambar yang ditampilkan di proyektor. Disini ditemukan salah satu cara guru untuk menerapkan penumbuhan kecakapan hidup abad 21 pada pembelajaran sejarah. Selain itu peneliti juga mendokumentasikan fasilitas penunjang kecakapan hidup abad 21, seperti proyektor, LCD, dan fasilitas penunjang lainnya. Pada 21 maret 2019, peneliti melakukan wawancara untuk mengetahui implementasi kecakapan hidup abad 21. Peneliti melakukan wawancara dengan Dedi Pambela, S.Pd selaku wakil kepala sekolah bagian kurikulum. Dalam wawancara itu peneliti mendapatkan beberapa fakta mengenai implementasi kecakapan hidup abad 21 seperti kesiapan sekolah dalam menghadapi penumbuhan kecakapan hidup abad 21 di SMA Negeri 5 Malang, faktor penghambat dan faktor pendukung penumbuhan kecakapan hidup abad 21 di SMA Negeri 5 Malang. Pada tanggal 25 maret 2019, peneliti kembali melakukan wawancara dengan dua narasumber. Pertama dengan Drs. Amat, M.M.Pd selaku kepala sekolah. Peneliti mendapat beberapa fakta penting mengenai implementasi penumbuhan kecakapan hidup abad 21 di SMA Negeri 5 Malang seperti SMA Negeri 5 Malang yang menjadi sekolah rujukan dan diadakan workshop untuk menyiapkan para staf pendidik dalam pelaksanaan pembelajaran dengan penumbuhan kecakapan hidup abad 21 di SMA Negeri 5 Malang. Wawancara yang kedua, peneliti lakukan dengan Hariati, SH selaku guru sejarah. Peneliti mendapat beberapa fakta dan data mengenai implementasi kecakapan hidup abad 21 pada mata pelajaran sejarah Indonesia di SMA Negeri 5 Malang. Data dan fakta yang didapat seperti cara mengimplementasikan 4 kecakapan dalam pembelajaran, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan data lainnya. Tidak berhenti sampai disitu, peneliti juga melakukan wawancara kepada peserta didik selaku obyek dari penumbuhan kecakapan hidup abad 21 ini. Wawancara ini dilakukan pada tanggal 26 maret 2019. Disini peneliti mendapat fakta bahwa peserta didik lebih aktif dalam pembelajaran dan kegiatan literasi di sekolah dilakukan 2 minggu sekali. Berdasarkan pengamatan dan wawancara, peneliti ingin menyatukannya dalam sebuah penelitian. Untuk itu penelitian ini dibuat. Penelitian ini penting, karena implementasi penumbuhan kecakapan hidup abad 21 di SMA Negeri 5 Malang pada pembelajaran sejarah Indonesia merupakan salah satu solusi yang dihadirkan pemerintah untuk menganggulangi rendahnya kualitas SDM di Indonesia. Terdapat beberapa manfaat yang diharapkan dari penelitian ini yaitu: 1. Bagi Sekolah Hasil penelitian tentang implementasi kecakapan hidup abad 21 dapat digunakkan sebagai salah satu bahan untuk evaluasi pembelajaran, mengembangkan perangkat kurikulum yang baik untuk menunjang profesionanlisme sekolah.   2. Bagi Guru Hasil penelitian tentang implementasi kecakapan hidup abad 21 dapat memberikan inovasi baru bagi pembelajaran dalam menciptakan perangkat pembelajaran yang kreatif dan kritis. Sehingga guru dapat menyampaikan pembelajaran sejarah dengan lebih menarik.   3. Bagi Siswa Hasil penelitian tentang implementasi kecakapan hidup abad 21 dapat digunakkan siswa untuk mengembangkan kreatifitas dan pengetahuannya secara kritis dan mandiri. Berkaitan dengan pembelajaran sejarah siswa dapat merekontruksi peristiwa peristiwa masa lampau yang sampai sekarang masih ada dalam kehidupan sekitar melalui pengalaman belajar baru.   METODE Penelitian ini memakai pendekatan kualitatif. Menurut Moleong dalam Arifin, (2010:26) penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, pandangan, motivasi, tindakan sehari hari, secara holistik dan dengan metode deskripsi dalam bentuk kata kata dan bahasa (naratif) pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Peneliti memakai metode ini dengan menjadikan diri peneliti menjadi insturmen kunci dalam penelitian ini. Peneliti hanya melihat pelaksanaan penumbuhan kecakapan hidup abad 21 pada mata pelajaran sejarah Indonesia di SMA Negeri 5 Malang dengan mengamati dan menjadikan peserta didik, guru dan pelaksanaan pembelajaran sebagai obyek penelitian. Nasution (dalam Sugiyono, 2012 : 306) mengemukakan : “Dalam penelitian kualitatif, tidak ada pilihan lain daripada menjadikan manusia sebagai instrument utama. Alasannya ialah bahwa segala sesuatunya belum mempunyai bentuk yang pasti. Masalah, fokus penelitian, prosedur penelitian, hipotesis yang digunakkan, bahkan hasil yang diharapkan, tidak dapat ditentukan secara pasti dan jelas sebelumnya. Dalam keadaan yang serba tidak pasti dan tidak jelas itu, tidak ada pilihan lain dan hanya peneliti itu sendiri sebagai alat satu-satunya yang dapat mencapainya”. Dengan demikian peneliti menentukan pada penelitian ini. Peneliti bertindak sebagai instrument dan segala aspek pembelajaran serta peserta didik dan guru adalah obyek penelitian. Penelitian ini juga membutuhkan sumber primer sebagai penunjang pada penelitian ini. Adapun sumber primer menurut Sugiyono (2012 : 308-309) “sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data, dan sumber sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen”. Sumber primer yang didapat dari penelitian ini terdapat dari wawancara dengan Drs. Amat, M.M.Pd selaku kepala sekolah, Dedi Pambela, S.Pd selaku wakakur, Hariyati, SH selaku guru sejarah dan beberapa peserta didik. Adapun data sekunder penelitian berupa dokumen. Dokumen tersebut berupa Pedoman Pelaksanaan Panduan Implementasi Kecakapan Hidup Abad 21, Buku sejarah buku guru sejarah, buku siswa sejarah dan foto sekolah. Setelah mendapatkan data dari sumber primer dan sumber sekunder dilakukan analisis. Karena tidak semua data dapat dimasukkan dalam penelitian. Analisis data penelitian Menurut Arifin (2010:31) dibagi menjadi 3 yaitu : 1.Jenis datanya berupa uraian kalimat (deskriptif), dokumen pribadi, catatan lapangan hasil observasi partisipatif, catatan ucapan dari hasil wawancara mendalam, dan beragam tindakan responden atau obyek penelitian, serta dokumen dokumen lainnya 2. Analisis data penelitian bersifat interaktif, siklus dan induktif 3. Proses analisis data berlangsung secara terus menerus, dari awal penelitian hingga akhir penelitian. Adapun langkah langkah proses analisis data menurut Miles dan Huberman (2009:34) adalah sebagai berikut : a. Mereduksi data, yaitu peneliti menelaah kembali seluruh catatan yang diperoleh melalui teknik observasi, wawancara dan dokumen dokumen. Reduksi data adalah kegiatan mengabstraksi atau merangkum data dalam suatu laporan yang sistematis dan difokuskan kepada hal hal yang inti. Dalam penelitian ini, seluruh data baik dari sumber primer maupun sumber sekunder sudah dirangkum dan dijadikan satu menjadi laporan yang sistematis. Data-data seperti wawancara dan dokumentasi serta data seperti RPP, Prota dan Promes sudah dijadikan satu. b. Display data, yakni merangkum hal-hal pokok dan kemudian disusun dalam bentuk deskripsi yang naratif dan sistematis sehingga dapat memudahkan untuk mencari tema sentral sesuai dengan fokus atau rumusan unsur-unsur dan mempermudah memberi makna. Pada penelitian ini, semua data yang telah dijadikan satu dipilah-pilah yang mengenai data dan fakta yang cocok untuk dimasukkan dalam penelitian ini. Dari wawancara dan dokumentasi pembelajaran sejarah di SMA Negeri 5 Malang sudah di pilah-pilah dengan baik dan diambil data-data yang diperlukan saja sesuai tema. c. Penarikan kesimpulan adalah kegiatan terakhir yang dilakukan dan merupakan pokok dari hasil penelitian. Penarikan kesimpulan merupakan jawaban dari rumusan masalah yang telah dirumuskan sejak awal dan diharapkan merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Setelah mendapatkan rangkuman, pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan kecakapan hidup abad 21 pada mata pelajaran sejarah Indonesia di SMA Negeri 5 Malang berjalan dengan baik. Sebagai salah satu solusi yang dihadirkan oleh pemerintah, masih terdapat kekurangan dalam implementasinya. Namun, untuk menutupi kekurangan itu SMA Negeri 5 Malang menggunakan faktor-faktor pendukung untuk menutupinya.   HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi kecakapan hidup abd 21 pada mata pelajaran sejarah Indonesia di SMA Negeri 5 Malang dibagi menjadi 3 tahapan dalam pelaksanaannya yakni :   A. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Mengenai format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk pelajaran sejarah tidak ada format khusus dari Dinas Pendidikan. RPP harus mencakup factual, konseptual, prosedural dan metakognitif. Dan pada tujun pembelajarannya harus menyebutkan komponen 4c. Pembuatan RPP dilakukan sendiri oleh guru kemudian dimusyawarahkan dalam forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Kota. Komponen-komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat oleh guru mata pelajaran sejarah kelas X di SMA Negeri 5 Malang sudah mencakup komponen-komponen yang harus ada seperti yang disebutkan sebelumnya. Berikut komponen-komponen yang ada pada RPP yang dibuat oleh guru mata pelajaran sejarah SMA Negeri 5 Malang. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat oleh Ibu Hariyati sedikit tidak sesuai dengan RPP yang diharapkan dalam penumbuhan kecakapan hidup abad 21. Karena dalam RPP yang dibuat oleh Ibu Hariyati pada kolom tujuan tidak menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran untuk menumbuhkan 4 kecakapan yakni berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi dan kreatif. Selebihnya sudah sesuai dan rinci karena disetiap langkah-langkah pembelajaran diperinci dengan alokasi waktu untuk penumbuhan salah satu kecakapan.    B. Pelaksanaan Pembelajaran Berdasarkan hasil penelitian yang ditemukan, guru sejarah SMA Negeri 5 Malang memiliki tekad untuk menubuhkan kecakapan hidup abad 21 pada peserta didik. Hal ini terlihat melalui rangkaian kegiatan pembelajaran mulai dari kegiatan pendahuluan hingga kegiatan penutup. Guru sejarah menunmbuhkan kecakapan hidup abad 21 yang memiliki 4 poin penting yakni berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, dan kreatif kepada peserta didik dengan berbagai cara.   1) Kegiatan Pendahuluan Peneliti menemukan fakta pada saat melakukan observasi dalam proses pelaksanaan pembelajaran, yang dilakukan oleh guru sejarah adalah mengucapkan salam dan menanyakan kabar. Guru sejarah menanyakan kabar kepada peserta didik agar terjalin komunikasi diantara guru dan peserta didik. Kegiatan ini dilakukan agar peserta didik dapat menerima dengan baik pelajaran yang akan disampaikan. Dan dapat terjalin keakraban antara guru dan murid. Ini merupakan salah satu penumbuhan poin dari kecakapan hidup abad 21 yakni komunikasi. Setelah keakraban antara guru dan peserta didik terjalin baik, kemudian guru mulai menjelaskan mengenai pelajaran/materi yang akan disampaikan. Guru memulainya dengan menyambungkan materi yang lalu dengan materi yang akan dipelajari. Kegiatan ini penting agar peserta didik dapat mengikuti jalannya pelajaran sejarah secara kronologis. Dan tidak menghilangkan materi yang lalu dengan materi yang akan diajarkan. Secara keseluruhan dari guru sejarah, peneliti memberikan kesimpulan bahwa guru sejarah melakukan apersepsi selama 5-10 menit setiap pertemuan dengan tujuan menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik guna mengikuti proses pembelajaran. Guru sejarah melakukan beberapa kegiatan seperti ini salam, berbincang-bincang dengan peserta didik, dan menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar serta absensi.   2) Kegiatan Inti Berdasarkan obeservasi yang dilakukan oleh peneliti, guru sejarah menjelaskan materi dengan santai dan menbuat peserta didik terbawa akan sejarah yang dijelaskan. Peserta didik seolah masuk kedalam situasi sejarah yang dijelaskan oleh guru sejarah. Di sela-sela penjelasan, guru sejarah juga memberikan ruang pada peserta didik untuk bertanya mengenai hal yang tidak dimengerti. Tidak hanya itu penjelasan guru sejarah pun terkesan menyenangkan karena diisi dengan beberapa guyonan yang membuat suasana menjadi hangat. Pada kegiatan inti, guru mengimplementasikan berbagai kecakapan hidup abad 21 dengan melakukan berbagai cara. Contohnya, guru menumbuhkan kecakapan berpikir kritis peserta didik dengan cara memberikan soal-soal HOTS (High Order Thingking Skills). Soal-soal dalam HOTS merupakan soal-soal yang memerlukan cara berpikir yang lebih tinggi. Soal-soal HOTS adalah soal-soal yang susah untuk diselesaikan, soal HOTS adalah soal yang melebihi tingkat berpikir pada kelasnya. Kegiatan pembelajaran dimulai dengan ceramah sekitar 15 menit, kemudian dilanjutkan dengan pembuatan kelompok untuk mencari dan mendiskusikan mengenai gambar yang diberikan oleh guru sejarah. Dari kegiatan ini, guru sejarah menumbuhkan poin komunikasi. Karena dalam sebuah kelompok dibutuhkan komunikasi yang baik antar individu untuk menghadirkan sebuah karya yang baik. Tidak hanya komunikasi yang terdapat didalamnya, poin kreatif juga muncul didalamnya. Kreatifitas dibutuhkan oleh kelompok untuk menyusun berbagai sumber/fakta menjadi sebuah karya yang baik dan dapat dimengerti.   3) Kegiatan Penutup Pada kegiatan penutup peserta didik diberikan pertanyaan terkait materi maupun peserta didik diberi kesempatan bertanya tentang permasalahan yang belum dipahami. Hal ini sesuai dengan observasi yang dilakukan oleh peniliti. Namun, faktanya masih sedikit sekali peserta didik yang aktif bertanya pada guru. Peneliti dapat memberikan kesimpulan dalam proses pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru sejarah sudah sangat baik. Pelaksanaan pembelajaran yang sudah sangat baik dilakukan oleh Ibu Hariati didasarkan pada observasi pelaksanaan pembelajaran dan keseuaian dengan hasil wawancara yang peneliti lakukan. Proses penumbuhan kecakapan hidup abad 21 sudah terlaksana denga cukup baik 4 poin 4c yakni berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi dan kreatif sudah terlaksana dengan cukup baik berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti selama proses penelitian.   C. Evaluasi Penilaian hasil belajar pada pembelajaran dalam rangka mengembangkan kecakapan abad 21 pada dasarnya sama dengan penilaian hasil belajar pada umumnya sesuai dengan peraturan yang diberlakukan. Namun, selain harus memenuhi prinsip-prinsip dasar penilaian, dalam rangka memenuhi tuntutan kecakapan Abad 21, maka penilaian hasil belajar juga harus dapat  mengukur penguasaan peserta didik terhadap kualitas karakter, kompetensi, dan pengauasaan literasi, serta dapat mengembangkan proses berfikir tingkat tinggi / Higher Order Thinking Skills (HOTS) (Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, 2017 : 25). Penilaian hasil belajar oleh pendidik adalah proses pengumpulan informasi/data tentang capaian pembelajaran peserta didik dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dilakukan secara terencana dan sistematis. Penilaian hasil belajar oleh pendidik di SMA dilaksanakan untuk memenuhi fungsi formatif dan sumatif dalam bentuk penilaian harian dan dapat juga dilakukan penilaian tengah semester. Penilaian tengah semester merupakan penilaian yang dilakukan oleh pendidik yang cakupan materinya terdiri atas beberapa KD dan pelaksanaannya tidak dikoordinasikan oleh satuan pendidikan. Penilaian harian dapat berupa ulangan, pengamatan,penugasan, dan/atau bentuk lain yang diperlukan yang digunakan untuk: 1. mengukur dan mengetahui pencapaian kompetensi peserta didik; 2. menetapkan program perbaikan dan/atau pengayaan berdasarkan tingkat penguasaan kompetensi; 3. memperbaiki proses pembelajaran; dan 4. menyusun laporan kemajuan hasil belajar. Laporan penilaian sikap oleh pendidik disampaikan dalam bentuk predikat (sangat baik, baik, cukup, atau kurang) dan dilengkapi dengan deskripsi. Laporan penilaian pengetahuan dan keterampilan berupa angka (0-100), predikat (A, B, C, atau D), dan deskripsi (Direktorat Pembinaan Sekolah Atas, 2017: 12-13). Dalam proses penilailan yang dilakukan oleh ibu Hariati sudah menggunakan penialian yang berbasis kecakapan hidup abad 21. Penilaian yang dilakukan terintegrasi dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Dalam penumbuhan kecakapan hidup abad 21 terdapat 3 aspek yang dinilai yakni sikap, pengetahuan dan keterampilan. Penilaian yang dilakukan guru sejarah sesuai dengan prinsip penilaian dalam 4c. Penilaian sikap mempunyai beberapa teknik sebagai berikut : 1. observasi, 2. Penilaian diri,  dan 3. Penilaian antar teman. Penilaian pengetahuan memiliki teknik sebagai berikut : 1. tes tulis, dan 2. Tes lisan . sementara penilaian keterampilan memiliki teknik sebagai berikut : 1. Penilalian unjuk kerja, 2. Penilaian proyek, 3. Produk, 4. Penilaian portofolio.   PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam penelitian implementasi penumbuhan kecakapan hidup abad 21 pada mata pelajaran sejarah Indonesia kelompok wajib di SMA Negeri 5 Malang semester genap tahun ajaran 2018/2019 dapat ditarik kesimpulan bahwa implementasi kecakapan hidup abad 21 di SMA Negeri 5 Malang berjalan dengan baik. Alasan diberlakukan

    UPAYA KEMANDIRIAN PESANTREN MELALUI BISNIS: STUDI LITERATUR

    Full text link
    Islamic boarding schools have developed into centers of religious education as well as economic drivers through the establishment of business units. Various types of businesses such as cooperatives, agriculture, plantations, fisheries, manufacturing, and trade are the main means to achieve financial independence, support educational operations, and empower the economy of the surrounding community. Examples of businesses include BMT Sidogiri, Toko Basmalah, weaving crafts, and retail units such as mini markets. The pesantren business units also utilize local resources, business diversification, digital technology, and Islamic economic principles to ensure sustainability.The pesantren business units not only contribute to the economy but also create jobs, train the skills of students and alumni, and improve the welfare of the community. By applying professional management, diversification strategies, and partnerships with external parties, pesantren are able to overcome the challenges of the times while maintaining Islamic principles. This approach makes pesantren a model of innovative and financially independent educational institutions
    corecore