1,721,241 research outputs found

    Gunawan, Hendra

    No full text

    Gunawan, Hendra (1918–1983)

    No full text

    Analisa Variasi Gasket Head Cylinder Terhadap Kompresi Motor Diesel Satu Cylinder Dengan Bahan Bakar Ganda (SOLAR-LPG)

    No full text
    Motor diesel adalah salah satu dari Internal Combustion Engime (mesin pembakaran dalam) dimana untuk melakukan proses pembakaran membutuhkan kompresi tinggi, proses yang terjadi diruang bakar dipengaruhi oleh bahan bakar, volume total silinder, panjang langkah dan diameter torak. Dari hal tersebut peneliti ingin mengetahui pengaruh volume silinder dengan cara memvariasikan gasket Head Cylinder. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah eksperimen, penelitian ini menggunakan bahan bakar solar + LPG, putaran maksimal dan variasi gasket Head Cylinder. Untuk mengukur tekanan kompresi menggunakan alat Compression Test, untuk mengukur torsi menggunakan Brake Dynamometer, untuk mengukur putaran mesin menggunakan sensor rpm dan untuk mengukur volume total silinder dengan jangka sorong. Dari hasil analisa yang didapat pada 2343 rpm pengujian gasket Head Cylinder standart tekanan kompresinya 21 bar volume total silinder 401,92 cc menghasilkan torsi 15,59 N.m, daya 3,82 kW dan daya indikatif 16,8 Kw. Pada 2458 rpm pengujian variasi gasket Head Cylinder 0,80 mm tekanan kompresinya 22 bar dengan bahan bakar solar + LPG, volume total Head Cylinder 405,93 cc menghasilkan torsi 16,47 N.m, daya 4,23 Kw dan daya indikatif 18,65 kW. Pada 2372 rpm pengujian variasi gasket Head Cylinder 1,80 mm tekanan kompresinya 19,5 bar volume total silinder 410,96 cc dengan bahan bakar solar + LPG, menghasilkan torsi 16,23 N.m, daya 4,02 Kw dan daya indikatif 16,15 Kw. Berdasarkan hasil eksperimen, semakin tebal gasket Head Cylinder semakin rendah kompresinya namun volume total silindernya semakin besar begitu juga sebaliknya menggunakan gasket Head Cylinder yang lebih tipis

    Peran Taman Keanekaragaman Hayati Babakan Pari untuk Konservasi Tumbuhan Berguna bagi Masyarakat Sekitar.

    No full text
    Taman Keanekaragaman Hayati (Taman Kehati) adalah program Kementerian Lingkungan Hidup yang diselenggarakan untuk menyelamatkan berbagai spesies tumbuhan asli/lokal. Taman Kehati Babakan Pari yang berlokasi di Desa Caringin, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Taman Kehati Babakan Pari dibangun pada tahun 2012 untuk mengkonservasi tumbuhan lokal asli/endemik khususnya dari ekosistem Gunung Halimun Salak dan menyediakan habitat bagi satwa. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi keanekaragaman spesies tumbuhan berguna, bentuk pemanfaatan tumbuhan, serta peran Taman Kehati Babakan Pari bagi masyarakat sekitar. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah studi literatur, analisis vegetasi, dan wawancara. Hasil analisis vegetasi yang telah dilakukan di Taman Kehati Babakan Pari teridentifikasi 64 spesies dari 37 famili yang merupakan tumbuhan berguna. 71.8% berpotensi sebagai tumbuhanobat, 40.6% berpotensi sebagai tumbuhan pangan, 15.6% berpotensi sebagai tumbuhan penghasil pakan ternak, 9.3% berpotensi sebagai tanaman hias dan tumbuhan penghasil aromatik dan minyak atsiri, 7.8% berpotensi sebagai tumbuhan penghasil tali, anyaman, dan tumbuhan pewarna. Masyarakat beranggapan bahwa Taman Kehati Babakan Pari dirasa cukup bermanfaat. Khususnya karena menyediakan lapangan pekerjaan bagi penggarap yang bekerja di lahan tumpang sari

    Hubungan Tipe Penggunaan Lahan dengan Kualitas Air Sungai di Taman Kehati Babakan Pari, Sukabumi, Jawa Barat.

    No full text
    Taman Kehati Babakan Pari (TKBP) merupakan salah satu RTH yang dibuat untuk lokasi penanaman berbagai tipe vegetasi, khususnya jenis-jenis lokal. Hingga saat ini di lahan tersebut terdapat lahan garapan berupa sawah, tegalan, dan kebun yang berpotensi memberikan beban pencemaran bagi perairan sungai di dalamnya. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh keberadaan tanaman pada Taman Kehati beserta lahan garapan di dalamnya terhadap perubahan kualitas air anak Sungai Cicatih yang mengalir di Taman Kehati Babakan Pari, Sukabumi. Penelitian ini menganalisis beban pencemaran tiap tipe penggunaan lahan dan besarnya perubahan kualitas air sungai serta status kualitas air berdasarkan data pengukuran fisik-kimia dan biologi (makrozoobentos) di kedua anak Sungai Cicatih pada inlet dan outletnya. Hasil analisis data menunjukkan beban pencemaran sawah paling tinggi dibandingkan tegalan dan kebun. Parameter fisik-kimia kualitas air sungai memenuhi baku mutu air kelas II kecuali P-PO4. Status fisik-kimia kualitas air kedua anak sungai tergolong tercemar „sedang‟ hingga „baik‟. Sedangkan berdasarkan indeks biotik kedua anak sungai memiliki kriteria „tidak tercemar’ hingga „tercemar sedang’. Keberadaan TKBP dengan demikian belum berpengaruh nyata terhadap perubahan kualitas air kedua anak Sungai Cicatih, baik pada inlet maupun outletnya

    Study of Habitat Characteristic and Spatial Distribution Pattern of Javan leopard (Panthera pardus melas Cuvier, 1809) in Gunung Halimun-Salak National Park.

    No full text
    Javan leopard (Panthera pardus melas Cuvier 1809) is one of the endemic animal in Java Island. In Indonesia, this species is protected by Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, and Peraturan Pemerintah RI No. 7 tahun 1999 tentang perlindungan tumbuhan dan satwaliar. Few of research on habitat characteristic and spatial distribution of javan leopard in order to daily activities and other habitat factors for determine a habitat. This research was conducted in three months, from November 2010 to January 2011 in Gunung Halimun-Salak National Park (GHSNP). The goal of the research is to analyze of habitat characteristic of Javan leopard, and to estimate density and distribution of javan leopard in GHSNP. The data is consist availability of prey, water, and cover and an encountered activity oof javan leopard and its prey. Accurred of javan leopard and their prey are collected by tracking survey method. Vegetation structure and composition are collected by square line method in sample plot. Cover characteristic habitat of javan leopard in GHSNP is have a higher portion than surroundings, dense of crown, high and big trees, high and dense shrub, content of cave and bamboos and far away from human activities. Water availability helping on javan leopard hunting their preys because the prey abundant of near of the water location, have a plant surrounding, and near from the shelter. A Characteristic of preys which needed by javan leopard are abundant and easy found at their homeranges. Distance from river and disturbance are the factors which have strong correlation with javan leopard existence, but both factors not enough influencely. Main factor which have influence to javan leopard existence is prey, water, and cover. Javan leopard in GHSNP have a highest relative density approximately 0,31 individual/km2 at primary sub-montain forest.Macan tutul jawa (Panthera pardus melas Cuvier 1809) adalah salah satu satwa vertebrata endemik di pulau Jawa. Di Indonesia, satwa ini dilindungi oleh Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, serta Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. Macan tutul jawa mendapat tekanan yang cukup besar baik populasi maupun habitatnya, sementara data dan informasi mengenai ekologi satwa tersebut masih sangat terbatas. Penelitian mengenai habitat macan tutul jawa tergolong sedikit terutama karakteristik habitat dan pola sebaran spasial yang digunakan macan tutul jawa untuk melakukan aktivitas hariannya. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2010 sampai dengan Januari 2011 di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji karakteristik habitat macan tutul jawa serta menduga kelimpahan dan pola penyebaran macan tutul jawa di Taman Nasional Gunung Halimun- Salak. Data yang dikumpulkan adalah karakteristik habitat yang meliputi ketersediaan satwa mangsa, sumber air, dan tempat berlindung (cover) serta aktivitas perjumpaan dengan macan tutul jawa dan satwa mangsanya. Metode pengambilan data untuk mencatat perjumpaan dengan macan tutul dan satwa mangsanya adalah menggunakan tracking survey. Jenis data yang diambil adalah jumlah jejak (tapak kaki, suara, cakaran, kotoran, sisa mangsa) dan jumlah individu, kemudian ditandai pada GPS. Data struktur dan komposisi vegetasi diperoleh menggunakan metode garis berpetak pada berbagai tipe habitat. Karakteristik cover yang digunakan macan tutul jawa di TNGHS memiliki daerah lebih tinggi dari daerah sekitarnya, tajuk yang rapat, batang pohon yang tinggi dan besar, terdapat semak atau semai yang tinggi dan rapat, adanya goa, dan rerumpunan bambu yang jauh dari aktivitas manusia. Karakteristik ketersediaan air di TNGHS yang digunakan macan tutul untuk mencari mangsanya adalah sumber air utama yang ada di tempat itu, memiliki tumbuhan bawah yang melimpah di sekitarnya, dan tidak terlalu jauh dari sarang/tempat beristirahat macan tutul jawa tersebut. Karakteristik satwa mangsa yang dibutuhkan oleh macan tutul jawa adalah satwa yang melimpah dan mudah dijumpai di sekitar wilayah jelajahnya. Jarak dari sungai dan gangguan merupakan faktor yang mempunyai korelasi yang kuat dan erat dengan keberadaan macan tutul, tetapi kedua faktor ini tidak cukup berpengaruh. Faktor utama yang mempengaruhi keberadaan macan tutul jawa adalah satwa mangsa, air, dan cover. Macan tutul jawa di TNGHS memiliki kepadatan relatif tertinggi 0,31 individu/km2 di hutan pegunungan bawah primer. Macan tutul jawa di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak memiliki pola sebaran homogen mengikuti pergerakan satwa mangsanya

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
    corecore