1,721,743 research outputs found
KREATIVITAS GUNARTO DALAM PENYUSUNAN KARYA MUSIK (DESKRIPTIF INTERPRETATIF)
KREATIVITAS GUNARTO DALAM PENYUSUNAN KARYA MUSIK
(Deskripstif Interpretatif), xiv dan 112 halaman, Skripsi S-1, Program
Studi Karawitan, Jurusan Karawitan, ISI Surakarta.
Hakikat kreativitas adalah menemukan sesuatu yang baru atau
hubungan-hubungan baru dari sesuatu yang telah ada. Daya kreativitas
seorang seniman sangat dibutuhkan untuk mendapatkan kebebasan
berekspresi dan bereksperimen secara maksimal. Gunarto merupakan
salah seorang seniman yang mempunyai daya kreativitas dalam
penyusunan karya musik. Dan penelitian tentang Kreativitas Gunarto
dalam Penyusunan Karya Musik ini bertujuan untuk mendeskripsikan
secara kualitatif mengenai proses kreativitas penyusunan karya musik
yang dilakukan oleh Gunarto serta menganalisis karya musik Gunarto
guna mendapatkan ciri khas yang terdapat dalam karya musik Gunarto.
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan multidimensional yang
meliputi pendekatan proses dan pendekatan psikologis. Sedangkan
bentuk penelitian ini adalah deskriptif analisis kualitatif.
Proses kreatif yang dilakukan Gunarto dalam penyusunan karya
musik bermula dari tahap persiapan dan berakhir pada tahap penuangan
ide (tahap penyusunan) hingga menjadi sebuah karya musik. Pada tahap
persiapan, Gunarto berada pada tingkat ‘kesiagaan’ yang meliputi dua
aspek yang ditempuh dan dijadikan bahan pertimbangan dalam
pembuatan karya musik. Aspek tersebut antara lain aspek dalam (non
fisik) meliputi hal-hal yang tidak Nampak tetapi berpengaruh terhadap
proses penyusunan karya musik, seperti keyakinan, kekuatan mental, dan
memiliki tujuan, dan aspek luar (fisik) meliputi bahan mentah yang akan
diolah, baik ide, sumber ide, pencarian ide, pencarian materi, dan
pemilihan pendukung. Untuk tahap penuangan ide yang dimaksudkan
adalah tahap penyusunan karya. Secara garis besar dalam proses
penyusunan karya musik, Gunarto bekerja dengan mengolah unsur-unsur
melodi, ritme, volume, tempo, harmoni, dan sambungrapet dengan bahan
suara temuan pada saat bereksplorasi warna bunyi yang beragam yang
diolah dengan bumbu lain yang beragam pula.
Penelitian terhadap musik karya Gunarto berusaha menelaah lebih
jelas tentang karya-karya Gunarto yang penulis anggap mempunyai ciri
khas yang lebih condong ke arah musik popular. Eksplorasi instrumen
serta metode dalam pemilihan struktur, motif atau pola dan teknik
dirasakan penulis memiliki ciri khas tersendiri
EKSPRESI NILAI KE-JAWA-AN DALAM MUSIK GONDRONG GUNARTO
Penelitian ini dilatarbelakangi atas ketertarikan model ekspresi nilai ke-
Jawa-an dalam musik Gondrong Gunarto. Sebagai wujud kreatifitas dalam
berkarya, Gondrong melakukan garap komposisi dengan idiom-idiom tradisi. Ini
bukanlah hal yang “baru”, tetapi, bagaimana cara dia mengemasnya atau memberi
warna, menjadi sesuatu yang baru. Suatu garap komposisi musikal yang bisa laku
dan bisa dinikmati oleh kalangan pasif.
Permasalahan yang ingin diungkap dalam penelitian ini adalah, (1)
mengapa Gondrong Gunarto tertarik dengan isu-isu dan nilai-nilai Ke-Jawa-an,
(2) bagaimana cara Gondrong Gunarto mengembangkan konsep Jawa ke dalam
karyanya.
Dasar-dasar analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori
garap Rahayu Supanggah. Melalui teori ini, dapat diungkapkan bahwa sebuah
sistem garap itu banyak melibatkan beberapa unsur atau pihak yang masingmasing
terkait. Mengidentifikasi masalah-masalah yang ada pada unsur-unsur
garap musikal Gondrong Gunarto dalam berkarya.
Hasil dari penelitian ini adalah mengidentifikasi bahwa Gondrong Gunarto
mengekpresikan nilai-nilai Jawa ke dalam karya dengan cara mereproduksi karya.
Berkarya sesuai selera penonton (audiens) dengan komposisi sederhana namun
berkualitas
UPAYA NGUNDHAKAKE KATRAMPILAN MACA UKARA PRASAJA AKSARA JAWA LUMANTAR MODHEL PAMULANGAN QUANTUM LEARNING KANTHI MEDHIA KARTU KATA SISWA KELAS VII C SMP NEGERI 1 BERBEK
Gunarto, Dra. Sri Sulistiani, M.Pd
Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (Jawa)
Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Negeri Surabaya
[email protected]
Abstrak
Adhedhasar dhata asil observasi prasiklus ing kelas VIIIC SMPN 1 Berbek ditemokake perkara sajrone pamulangan. Pamulangan basa Jawa kurang ngetrapake variasi modhel pamulangan lan medhia pamulangan, saengga siswa kurang aktif lan kurang remen tumrap pamulangan basa Jawa. Siswa kangelan ngapalake ukara prasaja aksara Jawa, mbedakake ukara prasaja aksara Jawa, lan maca ukara prasaja aksara Jawa. Asile 61% siswa durung nggayuh KKM kang ditemtokake sekolah, yaiku 75. Mula saka kuwi prelu anane modhel lan medhia pamulangan kang efektif bisa narik kawigaten siswa lan ngundhakake asil pasinaon siswa.
Underane perkara yaiku kepriye undhak-undhakan katrampilan guru, aktivitas siswa, lan asil pasinaonan katrampilan maca ukara prasaja aksara Jawa siswa kelas VII C SMPN 1 Berbek lumantar modhel pamulangan Quantum Learning kanthi medhia kertu tembung?. Panliten iki nduweni tujuwan kanggo ngundhakake katrampilan guru, aktivitas siswa, lan katrampilan maca ukara prasaja aksara Jawa siswa kelas VIIIC SMPN 1 Berbek.
Ancangan panliten iki, minangka panliten tindakan kelas (PTK) kang kaperang saka rong siklus lan petang tahapan, yaiku ngrencanakake panliten, nindakake panliten, pengamatan panliten, lan refleksi. Subjek panliten, yaiku guru lan siswa kelas VII CSMPN 1 Berbek kang kaperang saka 32 siswa. Teknik pangumpule dhata ngunakake tes lan observasi. Jinis dhata kualitatif lan kuantitatif.
Asil panliten nuduhake anane undhak-undhakan katrampilan guru. Sajrone siklus I skor 24 kategori “apik”, siklus II skor 36 kategori “apik banget”. Aktivitas siswa siklus I skor rata-rata 19,2 kategori “apik”, siklus II skor rata-rata 24,03 kategori “apik banget”. Asil pasinaon arupa katrampilan maca ukara prasaja aksara Jawa prasiklus katuntasan klasikal nggayuh 37,5%, siklus I ketuntasan klasikal nggayuh 62,5%, lan siklus II nggayuh prosentase ketuntasan klasikal cacah 81,25%
Learn visual c plus-plus for information processing, 1st.ed./ Gunarto
99 hal.: ill.; 21 cm
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
