1,721,257 research outputs found

    MAKNA LUKISAN METAFORA KUDA KARYA SUBANDI GIYANTO

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna lukisan metafora kuda karya Subandi Giyanto yang berfokus pada profil Subandi Giyanto, tema dan konsep karya, proses penciptaan, serta makna karya lukisnya. Metode penelitian menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan kritik seni, pengumpulan data lukisan karya Subandi Giyanto tentang empat karya seni lukis pada media kanvas dan diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi dengan menggunakan alat bantu, yaitu: Kamera, Smartphone, alat perekam dan buku catatan. Sedangkan pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, dan triangulasi data. Setelah dilakukan reduksi data serta penyajian data diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1) Subandi yang telah dari kecil berada dilingkungan seniman membuat ia paham dan kreatif untuk mengekspresikan idenya melalui sebuah karya seni. Dalam berkarya seni ia selalu ingin membawa wayang yang sudah menjadi tradisi ke dalam setiap karya seninya. 2) Tema karya dari empat karya seni lukis Subandi menceritakan tentang pengalaman hidup dari pribadi Subandi Giyanto. Kuda dijadikan sebagai metafora dari diri Subandi Giyanto, karena menggambarkan sosok yang berani, kuat dan semangat. Konsep dari berkarya Subandi Giyanto yaitu memadukan unsur seni modern dan tradisional dalam karyanya 3) Proses penciptaan karya seni lukis Subandi Giyanto memiliki beberapa proses pengulangan dalam setiap teknik penggarapnya baik itu dalam melukis objek kuda maupun menggambar dekoratif wayang beber wonosari dan mengisi isen-isen pada objek wayang 4) Dibalik makna karya lukis metafora kuda yang berisikan pengalaman hidupnya, Subandi Giyanto juga menyampaikan beberapa pesan yang tersirat dalam setiap karya lukisnya untuk para penikmat lukisannya

    MAKNA LUKISAN METAFORA KUDA KARYA SUBANDI GIYANTO

    Full text link
    Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan  makna  lukisan  metafora kuda  karya  Subandi Giyanto yang berfokus pada Kesenimanan Subandi Giyanto, tema dan konsep karya, proses penciptaan, serta  makna karya lukisnya.Metode penelitian menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan kritik seni, pengumpulan datadiperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi.  Sedangkan pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, dan triangulasi data. Setelah dilakukan reduksi data serta penyajian data diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1) Subandi sejak kecil berada dilingkungan seni membuatnya paham untuk mengekspresikan ide dan teknik kreatifnya melalui sebuah karya seni. 2)Temakarya dari empat karya seni lukis Subandi berisi tentang pengalaman hidup. Kuda dijadikan sebagai metafora dari diri Subandi Giyanto, karena menggambarkan sosok yang berani, kuat dan semangat.3) Proses penciptaan karya seni lukis Subandi Giyanto memiliki beberapa proses pengulangan dalam setiap teknik penciptaannya dalam melukis objek kuda dan menggambar dekoratif wayang beber Wonosari 4) Makna dalam setiap karya lukis Subandi berisikan pengalaman hidup dan pesan hidup

    KAJIAN ESTETIK WAYANG BEBER KARYA SUBANDI GIYANTO

    Full text link
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan secara mendalam tentang estetika karya Subandi Giyanto, yang berfokus pada biografi seniman, ide atau konsep penciptaan, wujud dan makna pada karya. Penelitian ini menggunakan pendekatan estetika yang dirumuskan oleh A.A.M Djelantik serta pendekatan lainnya seperti ilmu semiotika, ikonografi dan biografi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan alur pengumpulan data, analisis data, reduksi data dan penarikan kesimpulan. Proses pengumpulan data melalui observasi langsung untuk menemukan fakta di lapangan dengan menggunakan informan, pustaka, serta internet sebagai sumber data. Penelitian ini berfokus pada karya dengan tema pesan moral berupa sindiran politik. Hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut : (1) Dukungan keluarga, proses pendidikan, pengalaman sejak kecil hingga dewasa mempengaruhi Subandi Giyanto untuk terus berkembang, sehingga mampu mengekspresikan ide kreatifnya ke dalam sebuah karya seni berupa eksplorasi dan pengembangan wayang, serta berhasil mendapatkan berbagai penghargaan (2) Ide penciptaan didapatkan dari pengamatan peristiwa di sekitar, divisualisasikan ke dalam karya dengan tetap memperhatikan prinsip etika (3) Terdapatnya makna, penyimbolan, bentuk tokoh dan warna yang mengacu pada wayang kulit purwa gaya Yogyakarta serta bentuk wayang beber Wonosari yang dikembangkan, sehingga memiliki keunikan tersendiri dari karya wayang beber lainnya. Kata kunci : Subandi Giyanto, wayang beber, wayang beber Wonosar

    LUKISAN KACA KARYA SUBANDI GIYANTO DI BANGUNJIWO KASIHAN BANTUL YOGYAKARTA DITINJAU DARI KRITIK SENI

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk, tema, teknik dan makna lukisan kaca karya Subandi Giyanto. Masalah yang dibahas yaitu bentuk, tema, teknik dan makna seni lukis kaca karya Subandi Giyanto di Gendeng RT.05 No. 178 Bangunjiwo Kasihan Bantul Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif peneliti sebagai instrument utama, dalam hal ini peneliti melakukan observasi, wawancara (interview) dan memanfaatkan dokumentasi untuk mengambil data atau informasi terhadap subyek peneliti memilih 10 karya untuk diteliti berdasarkan kesamaan tema, bentuk dan teknik lukisan kaca. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Bentuk objek sentral dalam lukisan kaca Subandi Giyanto berupa penggambaran tokoh wayang Punokawan ada tradisional maupun modern, selanjutnya ada penggambaran wayang Punokawan 2Dimensi dan 3Dimensi pada setiap karya lukis kaca. (2) Tema lukis kaca yang ada pada karya Subandi Giyanto cenderung mengandung tema-tema yang bersifat politik dan sosial pada umumnya. (3) Teknik lukis kaca yaitu menggunakan teknik sungging, kaya akan gradasi warna dan harmonisasi nuansa dekoratif serta menampilkan ornamen. Sebelumnya diawali dengan membuat desain gambar, kemudian memindahkan gambar ke media kaca dengan meletakkan desain kertas dibalik kaca dan memindahkannya di bagian muka dengan pena atau rapido hitam. Selanjutnya pewarnaan menggunakan cat akrilik dengan cara menggoreskannya memakai kuas. (4) Makna lukisan kaca karya Subandi Giyanto yaitu menunjukkan bahwa norma politik dan sosial harus dijunjung tinggi. Penyampaian ini dalam figur Punokawan yang unik, lucu, komunikatif dan edukatif dan mudah dipahami dan sudah melekat erat dengan dinamika kehidupan masyarakat. Petruk dan Gareng adalah sosok pelaku yang cerdik, unik dan lucu, serta ada penggambaran sikap perilaku yang baik dan buruk

    Pelaksanaan Kegiatan Praktik Kerja Industri Guna Mempersiapkan Uji Kompetensi Siswa Jurusan Teknik Gambar Bangunan Di SMK 1 Sedayu

    No full text
    Pelaksanaan Kegiatan Praktik Kerja Industri Guna Mempersiapkan Uji Kompetensi Siswa Jurusan Teknik Gambar Bangunan Di SMK 1 Sedayu Oleh: Giyanto 06505241027 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persiapan, program, pelaksanaan, monitoring, evaluasi praktik industri, serta mengetahui seberapa besar hubungan, serta sumbangan program di sekolah dan praktik industri terhadap uji kompetensi siswa Jurusan Teknik Gambar Bangunan di SMK 1 Sedayu. Penelitian ini merupakan penelitian Expost Facto dan eksplanasinya tergolong penelitian deskriptif korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Sampelnya adalah guru ,siswa kelas 3 Jurusan Teknik Gambar Bangunan, dan pelaku dunia industri sejumlah 40 responden. Data diambil dengan menggunakan 3 metode yaitu, dokumentasi, wawancara dan angket. Pada instrumen angket sebelumnya diuji validitas dan uji reliabilitas. Teknik analisis datanya yaitu analisis kuantitatif untuk memperoleh harga mean,modus,median, standar deviasi, normalitas, linieritas, regresi, korelasi, dan sumbangan. Dari hasil dokumentasi diperoleh profil sekolah, modul praktik kerja industri siswa, struktur kurikulum SMK, dan perangkat uji kompetensi. Dari hasil wawancara diperoleh persiapan dalam praktik kerja industri adalah, sekolah melakukan kerjasama dengan konsultan perencana, kemudian diberi pembekalan yang diisi oleh ketua Pokja, kepala sekolah, dan pihak industri. Pelaksanaannya dilaksanakan selama 3 bulan, kegiatan monitoring dilakukan 1 kali dalam 1 bulan, kegiatan evaluasi dilakukan meliputi:kedisiplinan siswa, penguasaan materi siswa, produk, dan penilaian siswa. Program praktik kerja industri yang telah disepakati adalah Up Dating Map, RAB, Drafting, menggambar pondasi, utilitas bangunan, menggambar dinding dan lantai, Program Uji kompetensi meliputi: gambar manual, gambar dengan AutoCad, dan Perhitungan RAB. Dari hasil angket diperoleh nilai korelasi antara program produktif sekolah dengan uji kompetensi sebesar rhitung = 0,602 masuk dalam kategori cukup. Korelasi Program praktik kerja industri terhadap uji kompetensi sebesar rhitung = 0,717 masuk dalam kategori cukup dan korelasi program produktif sekolah terhadap praktik kerja industri sebesar rhitung = 0,656 masuk dalam kategori cukup, serta sumbangan yang diberikan untuk uji kompetensi sebesar 35,4%. Hasil ini menunjukkan bahwa kedua program terhadap uji kompetensi cukup kuat atau berhubungan. Sehingga pelaksanaan praktik kerja industri untuk mempersiapkan uji kompetensi siswa sudah sesuai. Kata kunci : Praktik Kerja Industri, Uji Kompetens

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore