13 research outputs found
Diagnosis Kondisi Minyak Tranformator Menggunakan Teknik Dissolved Gas Analysis
At the Cikalong hydropower plant there are 3 power transformers with a voltage rating of 6.3/77 kV, because of their long life, it is necessary to analyze the condition of the transformer oil. One way to determine the level of fault gas contained in transformer oil is the DGA (Dissolved Gas Analysis) test. DGA will extract the gas to find out indications of disturbance based on the interpretation of the dissolved gases data, namely the Total Dissolved Combustible Gas (TDCG), Key Gas, Roger\u27s Ratio, Doernenberg\u27s Ratio and Duval\u27s Triangle methods. This method is in order to determine the condition of the transformer oil is normal or not, measure the breakdown voltage value and calculate the correlation value between operating hours and the amount of power production. The results of the DGA analysis on transformer units 1, 2, and 3 of the Cikalong hydropower sub-unit show the TDCG value in condition 1, which includes all transformers in good condition. The value of the correlation coefficient between hours of operation and the number of kWh production with TDCG is 0.267 and 0.297, respectively, which indicates the relationship between these variables is a weak relationship (standard value is close to 1).Pada PLTA Cikalong terdapat 3 Transformator tenaga dengan rating tegangan sebesar 6,3/77 kV, karena usia yang cukup lama, perlu dilakukan analisis terhadap kondisi minyak tranformator. Salah satu cara untuk mengetahui kadar fault gas yang terdapat pada minyak transformator dengan uji DGA (Dissolved Gas Analysis). DGA akan mengekstrasi gas tersebut untuk mengeketahui indikasi gangguan berdasarkan hasil interpretasi data gas-gas terlarut yakni dengan metode Total Dissolved Combustible Gas (TDCG), Key Gas, Roger’s Ratio, Doernenberg’s Ratio dan Duval’s Triangle. Metode ini diusulkan agar dapat mengetahui kondisi minyak transformator dalam keadaan normal atau tidak, selanjutnya mengukur nilai tegangan tembus dan menghitung nilai kolerasi antara jam operasi dan jumlah produksi daya. Hasil analisis DGA pada Transformator unit 1, 2, dan 3 Sub Unit PLTA Cikalong menunjukkan nilai TDCG pada kondisi 1, yang berarti seluruh transformator dalam kondisi baik. Nilai koefisien korelasi antara jam operasi dan jumlah produksi kWh dengan TDCG masing-masing sebesar 0,267 dan 0,297 yang menandakan hubungan antara variabel tersebut merupakan hubungan yang lemah (standar nilai mendekati 1)
The performance comparison between fast decoupled and backward-forward sweep in solving distribution systems
Jurnal Nasional Teknik Elektro dan Teknologi Informasi Universitas Gadjah Mada Volume 3 No. 2 Mei 2014
1. Analisis Faktor Determinan Penggunaan Sistem Aplikasi Pemeriksaan Laporan Keuangan dan Implikasinya
Erna Yuliasari
2. Pengaruh E-Governance Terhadap Adaptabilitas Organisasi atas Implementasi Sistem Manajemen Pemeriksaan
Bayu Nugroho
3. ARca, Pengembangan Buku Interaktif Berbasis Augmented Reality dengan Smartphone Android
Andria Kusuma Wahyudi
4. Pendekatan Framework STOPE untuk Mengukur Kesiapan Pengalihan PBB pada Pemerintah Kabupaten Gunungkidul
Hari Susanto
5. Pengukuran Tingkat Kapabilitas Tatakelola Infrastruktur Jaringan Pemerintah Daerah Provinsi Gorontalo
Nur Sigit Sulistya Hadi
6. Prototype Layanan Izin Pemanfaatan Ruang Menggunakan Service Oriented Enterprise Architecture Framework
Desak Putu Juniati
7. Prototipe Sistem Informasi Haji Untuk Menangani Jemaah Tersesat Menggunakan SMS Gateway
Sugiyanto Sugiyanto
8. Desain Sistem Kontrol LQIT-Gain Scheduling PID untuk Way Point Tracking Control Quadrotor UAV
Aditya Eka Mulyono, Aris Triwiyatno, Sumardi Sumardi
9. Skema Kendali Ball-Balancing Robot Secara Nirkabel
Gunawan Dewantoro, Franciscus Dalu Setiaji, Edwin C. Mone
10. Efek Kegagalan Alat Flue Gas Desulphur Terhadap Tegangan Lewat Denyar Isolator PDF
Tedy Juliandhy, T. Haryono, Suharyanto Suharyanto
11. Kendali Penyimpan Energi Listrik untuk Aplikasi Mikrogrid
Hilman Zarory, F. Danang Wijaya, Bambang Sutopo
12. Optimalisasi Jangka Menengah PLTA Memperhatikan Ketersediaan Air Menggunakan Linear Programming
Winasis Winasis, Hari Prasetijo, Giri Angga Setia
13. Pembebanan Ekonomis dengan Pengendalian Emisi pada Pembangkit Termis Menggunakan Algoritma Evolusi Diferensial
Afner Saut Sinaga
14. Pengujian Modul Monitor Radiasi Pada Sistem Pemantauan Pengangkutan Zat Radioaktif PDF
Adi Abimany
Optimasi Operasi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Menggunakan Linear Programming Dengan Batasan Ketersediaan Air
One of hydro power plant operational problem is how to maximize available water resouces to gather optimal electric power generation. Water availability which is limited and can be stored in a reservoir will influence electrical energy generated by the plant. This paper present a new approach of short term optimization of hydro power plant operation. The objective function is to maximize energy which is produced by power plant on scheduling operation period, with consider water resource availability in reservoir as operational constraint. The optimization problem is formulated in Linear Programming Method, in which this method is a commonly used to solve optimization problem in hydro power plant. Based on simulation results on Ketenger Hydro Power Plant using water flow data on June 1st 2013 shows that this method can be used to solve hydro power plant operation optimization problem well. Electrical energy as main objective function is maximized and all prevailing constrain is satisfied. On this short term operation (24 hour) simulation, total energy can be produced is 96121,55 kWh, or 1427 kWh (1,51%) greater comparing with real generation condition with 96694 kWh
Studi Kejenuhan pada Current Transformer (CT) Akibat Arus Hubung Singkat
The CT saturation analysis approach model was carried out using ATPDraw and Mathcad software simulations. Input simulation data obtained from CT testing at West Priok Substation, namely ratio, excitation curve V-rms-Irms, Rct. Based on the simulation results, the CT model was successfully implemented for CT conditions at the West Priok Substation which experienced saturation, as seen from the results of the distorted waveforms and the THDi value of 40.612%. These results are then compared with the IEC 61869-2 standard with the parameters obtained from the CT-Analyzer test on E-t, Ek, Ie, Kx, and Rct, that E-t is -1%, Ek is 635.25 V, Ie is 13.5 mA, Kx of 0.084 and Rct of 7432.57 ohm. This result is a deviation from the specified standard, meaning that the CT is damaged and saturated. After replacing the CT, it was tested again and the value of E-t was -0.010%, Ek was 936.09 V, Ie was 9.68 mA, Kx was 14.39 A, Rct was 4.226 ohm, and the waveform simulation results were not distorted, then the THDi value obtained by 0.08%. This indicates that the CT is in good condition and does not experience saturation when the short circuit current is 20 kA.Model pendekatan analisis saturasi CT dilakukan dengan menggunakan simulasi software ATPDraw dan Mathcad. Input data simulasi diperoleh dari pengujian CT pada GI Priok Barat yaitu rasio, kurva eksitasi V-rms-Irms, Rct. Berdasarkan hasil simulasi, bahwa model CT berhasil diimplementasikan terhadap kondisi CT di GI Priok Barat yang mengalami kejenuhan, terlihat dari hasil bentuk gelombang yang mengalami distorsi dan nilai THDi sebesar 40,612%. Hasil ini selanjutnya dibandingkan dengan standar IEC 61869-2 dengan parameter yang didapat dari pengujian CT-Analyzer terhadap E-t, Ek, Ie, Kx, dan Rct, bahwa E-t sebesar -1%, Ek sebesar 635,25 V, Ie sebesar 13,5 mA, Kx sebesar 0,084 dan Rct 7432,57 ohm. Hasil ini mengalami penyimpangan dari standar yang ditentukan artinya CT tersebut mengalami kerusakan dan kejenuhan. Setelah dilakukan penggantian CT, diuji kembali dan didapatkan nilai E-t sebesar -0,010%, Ek sebesar 936,09 V, Ie sebesar 9,68 mA, Kx sebesar 14,39 A, Rct sebesar 4,226 ohm, serta hasil simulasi bentuk gelombang tidak mengalami distorsi, kemudian nilai THDi didapat sebesar 0,08%. Hal ini menunjukkan bahwa CT dalam keadaan baik dan tidak mengalami kejenuhan ketika nilai arus hubung singkat sebesar 20 kA
Implementation of Backward-Forward Sweep Method on Load Model Variation of Distribution Systems
The Optimization of SVC Placement in Sulselbar Transmission System Using Inertia Weight Particle Swarm Optimization
Identifikasi Penurunan Kinerja Pada Minyak Transformator Di GI Lagadar Menggunakan Total Dissolved Combustible Gas, Rasio Doernenburg, Segitiga Duval, Dan Water Content
Transformator tenaga merupakan salah satu peralatan utama di sistem tenaga listrik. Diantara bagian penting dari transformator tenaga yaitu minyak transformator yang merupakan sistem isolasinya. Maka dari itu perlu dilakukan diagnosis dengan tujuan untuk mengidentifikasi penyebab adanya penurunan kinerja pada minyak transformator. Metode digunakan untuk melakukan diagnosis terhadap minyak transformator tersebut adalah Dissolved Gas Analysis (DGA) yaitu metode TDCG, Rasio Doernenburg, Segitiga Duval, serta Water Content. Diagnosis dilakukan terhadap 4 unit transformator di GI Lagadar. Hasil diagnosis didapat adanya indikasi kerusakan pada salah satu transformator yang berakibat terhadap penurunan kinerja. Sampel minyak dari keempat unit transformator diuji menggunakan DGA Portable Morgan Schaffer. Hasil pengujian yang dilakukan dengan metode Total Dissolved Combustile Gas (TDCG) mendapati konsentransi paling tinggi yaitu sebesar 1105 ppm terjadi di transformator uni 2. Hal tersebut mengindikasikan kegagalan mungkin terjadi walaupun masih dalam batasan normal. Pengukuran water content didapat konsentrasi paling besar yaitu 26,71 ppm terjadi pada transformator unit 4. Hal tersebut mengindikasikan bahwa transformator terkena gangguan berupa lowheated cellulose dan harus segera ditangani. Kandungan gas CO dan CO2 yang dominan menunjukkan adanya indikasi pemburukan isolasi akibat dari kenaikan suhu panas pada minyak transformator
