Jurnal Teknik: Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik
Not a member yet
    280 research outputs found

    Pengembangan Katalis Berbasis Tungsten Oksida (WO3) untuk Degradasi Limbah Palm Oil Mill Effluent (POME) dengan Teknologi Fotokatalitik

    No full text
    Industri minyak kelapa sawit menghasilkan limbah signifikan seperti POME yang dapat mencemari lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. POME dapat merusak lingkungan terutama ekosistem perairan. Pengolahan POME penting untuk keberlanjutan industri ini. Advanced Oxidation Processes (AOPs), termasuk fotokatalitik, merupakan salah satu opsi teknologi yang dikembangkan untuk mendegradasi senyawa organik dalam limbah POME. Dalam studi ini, degradasi fotokatalitik limbah POME menggunakan katalis berbasis WO3 dengan menggunakan lampu Xenon 500 W menunjukkan bahwa metode ini efektif dalam mengurai limbah POME. Fotokatalis WO3 disintesis menggunakan metode hidrotermal pada temperatur 180, 200, 220, dan 240 °C, menghasilkan struktur kristal Hexagonal dan Orthorhombic, danTipe V mesopori. Penggunaan katalis WO3 dengan konsentrasi 1 g/L mampu mengurangi Chemical Oxygen Demand (COD) hingga 48,05%, degradasi warna hingga 36,22%, dengan konstanta laju reaksi COD  sebesar 3,7×10-3 menit-1.The palm oil industry generates significant waste, such as POME, which can pollute the environment if not properly managed. POME can particularry damage aquatic ecosystems. Treating POME is crucial for the sustainability of this industry. Advanced Oxidation Processes (AOPs), including photocatalysis, are being developed as a technological option to degrade organic compounds in POME waste. In this study, the photocatalytic degradation of POME waste using WO3-based catalysts and a 500 W Xenon lamp showed that this method effectively breaks down POME waste. WO3 photocatalysts were synthesized using a hydrothermal method at temperatures of 180, 200, 220, and 240°C, resulting in hexagonal and orthorhombic crystal structures and Type V mesopores. Using WO3 at a concentration of 1 g/L can reduce Chemical Oxygen Demand (COD) up to 48.05% , color degradation by 36.22%, with a COD reaction rate constant of 3.7×10-3 min-1

    Improvement of Quality of Precipitated Material using Ethanol in SCU-CP Method for Soil Stabilisation

    No full text
    Penggunaan konsentrasi kedelai yang tinggi dalam metode calcite precipitation dapat meningkatkan kadar organik. Kadar organik dapat diturunkan dengan menggunakan etanol pada rentang 20%-30% sehingga pengaruh perbedaan konsentrasi kedelai dan etanol perlu dievaluasi untuk mendapatkan endapan material CaCO3 dengan kualitas terbaik. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan parameter laju hidrolisis, pengendapan CaCO3, serta kuantifikasi massa CaCO3 dan bentuk mineral yang terbentuk. Penggunaan etanol 20% pada konsentrasi kedelai 60 g/L menunjukkan hasil terbaik dengan nilai laju hidrolisis sebesar 1547 U/g dan nilai tersebut cukup dekat dengan nilai laju hidrolisis urease komersial Kishidan 2 g/L. Selain itu, massa CaCO3 yang terbentuk sebesar 2,97 g dengan jumlah kalsit lebih tinggi dibanding vaterit dan aragonit. Massa organik yang tidak larut pada larutan kedelai dengan etanol lebih sedikit daripada variasi tanpa etanol. Hal ini berkaitan dengan penggunaan supernatan yang menurunkan jumlah kadar organik. Turunnya kadar organik mempengaruhi turunnya jumlah endapan CaCO3. Bentuk endapan yang terbentuk pada kristal kalsit (rhombohedral) menjadi bentuk terbaik dalam mengikat tanah sehingga dapat meningkatkan kekuatan tanah.The use of high soybean concentrations in the calcite precipitation method promoted increasing organic content. Organic content can be reduced by using ethanol in the range of 20%-30%, so the effect of different soybean and ethanol concentrations must be evaluated to obtain the best quality CaCO3 precipitated material. The evaluation was carried out using hydrolysis rate, CaCO3 precipitation, and quantification of CaCO3 mass and mineral forms formed. The use of 20% ethanol at a soybean concentration of 60 g/L showed the best results with a hydrolysis rate of 1547 U/g, and this value is quite close to the value of the hydrolysis rate of 2 g/L Kishidan commercial urease. In addition, the mass of CaCO3 formed was 2,97 g, with more calcite than vaterite and aragonite. The insoluble organic mass in the soybean solution with ethanol is less than the variation without ethanol. It is related to using supernatants, which reduce the amount of organic content. The decrease in organic content affects the reduction in CaCO3 precipitate. The shape of the precipitate formed in calcite crystals (rhombohedral) is the best form to bind the soil to increase soil strength

    Pengaruh Mobilitas Masyarakat terhadap Tingkat Penambahan Jumlah Kasus COVID-19 di Surabaya

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak mobilitas penduduk dan kendaraan terhadap jumlah kasus COVID-19 di Surabaya serta menentukan jeda waktu (time lag) optimal antara pola mobilitas dan peningkatan kasus baru. Analisis regresi linier digunakan dengan variabel dependen (Yi) berupa jumlah harian kasus positif COVID-19 dan variabel independen (Xi) berupa data mobilitas. Data mobilitas ini dikumpulkan dari titik-titik transportasi utama di Surabaya, yaitu Stasiun Kereta Api Gubeng, Terminal Bus Purabaya, dan Gerbang Tol Waru Utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pola peningkatan jumlah kasus COVID-19 yang sejalan dengan perubahan tingkat mobilitas masyarakat. Pada jeda waktu (lag) 0 hari, korelasi antara mobilitas dan kasus COVID-19 memiliki nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,719, namun meningkat menjadi 0,753 ketika menggunakan jeda waktu 15 hari (lag = 15). Hal ini menunjukkan bahwa fluktuasi mobilitas masyarakat di Surabaya memiliki pengaruh yang lebih kuat terhadap jumlah kasus COVID-19 dalam rentang waktu 15 hari setelahnya. Model regresi linier yang dibangun melalui proses seleksi stepwise memperlihatkan bahwa tingkat mobilitas di Gerbang Tol Waru Utama menjadi variabel prediktor paling signifikan, menjadikannya faktor penting dalam memahami dinamika penyebaran COVID-19 di wilayah ini.This study aims to examine the impact of population and vehicle mobility on the number of COVID-19 cases in Surabaya and to determine the optimal time lag between mobility patterns and the increase in new cases. Linear regression analysis was conducted, with the daily number of positive COVID-19 cases as the dependent variable (Yi) and mobility data as the independent variable (Xi). The mobility data were collected from transportation hubs, including Gubeng Train Station, Purabaya Bus Terminal, and the Waru Utama Toll Gate The results indicate a pattern of increased COVID-19 cases that aligns with changes in mobility patterns. At a lag of 0 days, the correlation between mobility and COVID-19 cases has a coefficient of determination (R²) of 0.719, which increases to 0.753 with a 15-day lag (lag = 15). This suggests that fluctuations in community mobility in Surabaya have a stronger impact on COVID-19 case numbers within a 15-day period afterward. The linear regression model, developed through a stepwise selection process, shows that the mobility level at the Waru Utama Toll Gate is the most significant predictor variable, making it an essential factor in understanding the COVID-19 transmission dynamics in the region

    Implementasi Konsep Green Building Melalui Value Engineering pada Pekerjaan Arsitektur

    No full text
    Green Building Council Indonesia menyatakan terdapat 6 aspek penerapan Green  Building berdasarkan perangkat Green ship untuk Bangunan Baru versi 1.2 yaitu Tepat Guna Lahan, Efisiensi dan Konservasi Energi, Konservasi Air, Sumber dan Siklus Material, Kualitas Udara Kenyamanan dan Manajemen Lingkungan Bangunan. Penerapan aspek Green Building dapat dilakukan salah satunya melalui metode value engineering. Analisis Value Engineering merupakan upaya pendekatan yang sistematis, rapi, terencana dalam melakukan analisis nilai (value) dari pokok masalah terhadap fungsi atau kegunaannya tapi tetap konsisten terhadap tampilan, kualitas/mutu dan perawatan dari proyek. Tujuan penelitian ini mengidentifikasi rekomendasi alternatif material berdasarkan konsep Green Buliding, biaya pelaksanaan paling ekonomis dan efisien pada tahap pelaksanaan pekerjaan arsitektur. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kuantitatif dengan metode pengumpulan data primer berupa survei harga serta wawancara metode pelaksanaan. Data sekunder yang digunakan berupa RAB, AHSP dan time schedule. Berdasarkan hasil analisis diperoleh rekomendasi alternatif material yaitu pada Proyek Sumitra Hotel adalah dinding keramik, cat dinding aquashield dan lantai keramik. Sedangkan pada Proyek Magnum Residence yaitu bata ringan. Alternatif biaya pelaksanaan pada proyek Sumitra Hotel pada pekerjaan finishing dinding Rp903.671.568 dan pada pekerjaan finishing lantai Rp510.799.447. Pada Proyek Magnum Residence alternatif biaya pelaksanaan pekerjaan arsitektur pada pekerjaan finishing dinding yaitu Rp1.658.938.657.Land use, energy efficiency and conservation, water conservation, material sources and cycles, indoor air quality, comfort, and building environmental management are the six facets of green building implementation, according to the Green Building Council Indonesia. These are based on the Green Ship tool for New Buildings version 1.2. Among other strategies, value engineering can be used to implement Green Building elements. Finding alternative material recommendations based on the Green Building concept that have the most cost-effective and efficient implementation costs during the architectural work execution phase is the aim of this study. Descriptive quantitative research methodology is employed, and pricing surveys and implementation method interviews serve as the main means of gathering data. The Budget Plan, Unit Price Analysis and timetable are secondary data that are utilized. Based on the analysis results, alternative material recommendations were obtained, namely for the Sumitra Hotel Project: ceramic walls, Aquashield wall paint, and ceramic floors. Whereas in the Magnum Residence Project, it is lightweight bricks. The alternative implementation costs for the Sumitra Hotel project for wall finishing work is Rp903,671,568 and for floor finishing work is Rp510,799,447. In the Magnum Residence Project, the alternative implementation cost for architectural work on wall finishing is Rp1,658,938,657

    Synthesis Epoxy Fatty Acid Methyl Ester Using Combined Acid Catalyst

    No full text
    Epoxy plasticizer compounds can be produced from fatty acid methyl esters through an epoxidation reaction. In this study, synthesis was carried out in a batch reactor at an operating temperature of 60oC using hydrogen peroxide as the oxygen donor. Acidic catalysts, including formic acid, acetic acid, and their combination, were applied to evaluate reaction performance. Performance was assessed based on iodine value and carbon double bond conversion, supported by physical properties such as viscosity, density, and flash point. The use of formic acid resulted in the highest conversion of 87.47% with an iodine value of 5.84g I2/100 g at a catalyst concentration of 10 wt%. Acetic acid achieved a maximum conversion of 68.96 percent with an iodine value of 14.57g I2/100 g at a catalyst concentration of 20wt%. For the mixed catalyst system, the highest conversion reached 79.30 percent with an iodine value of 9.64g I2/100 g at a total catalyst concentration of 15 wt% and a formic acid to acetic acid ratio of 30 to 70. Overall, formic acid was identified as the most effective catalyst due to its superior conversion efficiency at lower concentrations. Product analysis confirmed the formation of methyl 9,10 epoxyoctadecanoate with a yield of 12.3wt%.Senyawa epoksi untuk plasticizer dapat disintesis dari metil ester asam lemak. Proses sintesis dilakukan dalam reaktor batch pada suhu operasi 60 C. Sumber oksigen yang digunakan dalam proses epoksidasi adalah hidrogen peroksida. Katalis yang digunakan merupakan senyawa berbasis asam, yaitu asam format, asam asetat, dan kombinasi keduanya. Parameter yang digunakan untuk menilai kinerja reaksi meliputi bilangan iod dan konversi ikatan rangkap atom C, serta didukung oleh sifat fisik seperti viskositas, densitas, dan titik nyala. Kinerja asam format menunjukkan bahwa konversi maksimum yang dicapai sebesar 87.47 persen dengan bilangan iod 5.84 g I2 per 100 g pada konsentrasi katalis 10 wt%. Penggunaan katalis asam asetat menghasilkan konversi maksimum sebesar 68.96 persen dengan bilangan iod 14.57 g I2 per 100 g pada konsentrasi katalis 20 wt%. Untuk katalis kombinasi, konversi maksimum yang diperoleh sebesar 79.30 persen dengan bilangan iod 9.64 g I2 per 100 g pada konsentrasi katalis total 15 wt% dengan rasio asam format terhadap asam asetat sebesar 30 banding 70. Katalis terbaik adalah asam format karena memiliki kinerja konversi tertinggi dengan penggunaan konsentrasi minimal. Hasil analisis produk menunjukkan terbentuknya senyawa metil 9,10 epoksioktadekanoat dengan konsentrasi sebesar 12.30 wt%

    The Effect of Al-Zn Composition and Immersion Time in The Galvalume Process on Low Carbon Steel Microstructure,Mechanical Properties, and Corrosion Rate

    No full text
    The effect of Al-Zn composition and holding time on thickness, layer structure formation, mechanical properties, and corrosion resistance during the hot dip galvalume process on low-carbon steel has been carried out. Low-carbon steel is used with a chemical composition of 0.01-0.25% Carbon. The parameters used were Al55%-Zn45%, Al60%-Zn40%, and Al65%-Zn35%. The variations in immersion time used were 10 seconds, 20 seconds, and 30 seconds. The samples were tested, including Vickers micro testing, layer thickness, metallography with an optical microscope, Scanning Electron Microscope (SEM/EDS), X-ray diffraction (XRD), and dynamic potential testing. The highest layer hardness value obtained from the test results on the Al55%-Zn45% composition variation with a holding time of 30 seconds was 208.20 HV. The lowest layer hardness value obtained from the test results on the composition variation of Al65%-Zn35% with a holding time of 10 seconds is 172.16 HV. The lowest layer thickness value at a holding time of 10 seconds is 342.0 micrometers. The highest layer thickness value at a holding time of 30 seconds is 1358.0 micrometers. The range of corrosion rates is 2.097-4.69 mpy.Pengaruh komposisi Al-Zn dan lama masa tahan terhadap tebal, pembentukan struktur lapisan, sifat mekanik dan ketahanan korosi selama proses galvalume celup panas pada baja karbon rendah telah dilakukan. Baja karbon rendah yang digunakan dengan komposisi kimia 0,01-0,25% karbon. Parameter yang digunakan adalah Al55%-Zn45%, Al60%-Zn40%, dan Al65%-Zn35%. Variasi waktu perendaman yang digunakan adalah 10 detik, 20 detik, dan 30 detik. Sampel kemudian diuji meliputi pengujian mikro Vickers, ketebalan lapisan, metalografi dengan mikroskop optik, Scanning Electron Microscope (SEM/EDS), difraksi sinar-X (XRD), dan uji potensial dinamik. Nilai kekerasan lapisan tertinggi yang diperoleh dari hasil pengujian pada variasi komposisi Al55%-Zn45% dengan lama holding time 30 detik adalah 208,20 HV. Nilai kekerasan lapisan terendah yang diperoleh dari hasil pengujian pada variasi komposisi Al65%-Zn35% dengan waktu tahan tahan 10 detik adalah 172,16 HV. Nilai ketebalan lapisan terendah pada waktu tahan perendaman 10 detik adalah 342,0 mikrometer. Nilai ketebalan lapisan tertinggi pada waktu tahan perendaman 30 detik adalah 1358,0 mikrometer. Kisaran laju korosinya adalah 2,097-4,69 mpy

    Analisa Hasil Forensik Penerapan Manajemen Waktu pada Proyek Jalan Di Ruas Rancapanggung – Sarinagen Kabupaten Bandung Barat

    No full text
    Time management is a crucial process to ensure projects are completed on time, which focuses on planning and scheduling project activities to make them faster and more efficient. This research explores the application of time management in the Road construction project in Rancapanggung - Sarinagen, West Bandung Regency, implemented by PT Basuki - Lesindo, KSO. The purpose of this study is to identify and understand the factors that hinder time management and the dominant factors that influence it. The research method used a quantitative approach through questionnaires to 21 respondents, followed by descriptive analysis and ranking of respondents, and validation through interviews. The results showed four main barriers in the implementation of time management, insufficient number of work tools (dominant factor with 44.5%), inappropriate construction methods (43%), lack of communication and coordination among the project implementation team (41.5%), and materials that are damaged or not according to specifications (41.4%). The most dominant factor in the delay was the insufficient number of work tools, indicating the importance of adequate resource allocation.Manajemen waktu merupakan proses krusial untuk memastikan proyek selesai tepat waktu, yang terfokus pada perencanaan dan penjadwalan kegiatan proyek agar lebih cepat dan efisien. Penelitian ini mengeksplorasi penerapan manajemen waktu dalam proyek konstruksi Jalan di Ruas Rancapanggung – Sarinagen, Kabupaten Bandung Barat, yang dilaksanakan oleh PT. Basuki - Lesindo, KSO. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan memahami faktor-faktor yang menghambat manajemen waktu serta faktor dominan yang berpengaruh. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif melalui kuesioner kepada 21 responden, diikuti dengan analisis deskriptif dan perangkingan responden, serta validasi melalui wawancara. Hasil penelitian menunjukkan empat hambatan utama dalam penerapan manajemen waktu, yaitu jumlah alat kerja yang tidak mencukupi (faktor dominan dengan 44,5%), metode konstruksi yang kurang tepat (43%), kurangnya komunikasi dan koordinasi antar tim pelaksana proyek (41,5%), dan material yang rusak atau tidak sesuai spesifikasi (41,4%). Faktor paling dominan dalam keterlambatan adalah jumlah alat kerja yang tidak mencukupi, menunjukkan pentingnya alokasi sumber daya yang memadai

    Analisis Implementasi Sertifikat Laik Fungsi (SLF) Bangunan Gedung Berbasis Sistem Informasi Manajemen Bangunan Gedung (SIMBG) Di Kabupaten Bogor, Jawa Barat

    No full text
    Regulasi nasional mengamanatkan bangunan yang andal dan aman melalui Sertifikat Laik Fungsi (SLF), namun implementasinya di Kabupaten Bogor menghadapi berbagai tantangan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kinerja implementasi SLF berbasis aplikasi Sistem Informasi Manajemen Bangunan Gedung (SIMBG), mengidentifikasi faktor yang memengaruhinya, dan merumuskan strategi perbaikan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan campuran (mixed-method) yaitu menggabungkan analisis kuantitatif terhadap 2.440 data Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan 197 permohonan SLF dari basis data SIMBG dengan analisis kualitatif melalui studi kasus, wawancara, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan kinerja implementasi belum optimal, ditandai oleh kesenjangan kepatuhan sebesar 24,6% untuk bangunan skala signifikan dan kegagalan fungsi jalur cepat (fast track) 3 hari. Faktor utama penyebab rendahnya kepatuhan adalah kurangnya sosialisasi dan kesadaran pemilik bangunan, serta kendala prosedural dalam SIMBG. Sementara itu, keterlambatan pada proses jalur standar (standard track) 28 hari disebabkan oleh ketidaklengkapan dokumen pemohon dan kapasitas teknis internal pemerintah daerah yang terbatas. Meskipun demikian, analisis SWOT menempatkan implementasi SLF pada kuadran pertumbuhan agresif, mengindikasikan potensi perbaikan yang sangat besar. Rekomendasi strategis difokuskan pada sosialisasi terstruktur, penguatan regulasi daerah melalui Peraturan Bupati, peningkatan efisiensi, pengembangan ekosistem jasa konstruksi lokal, dan advokasi kebijakan di tingkat nasional.          National regulations mandate reliable and safe buildings through the Certificate of Occupancy Worthiness (Sertifikat Laik Fungsi—SLF), yet its implementation in Bogor Regency faces significant challenges. This study examines the performance of SLF implementation via the Sistem Informasi Manajemen Bangunan Gedung (SIMBG), identifies influencing factors, and proposes improvement strategies. A mixed-method approach was applied, combining quantitative analysis of 2,440 Building Approvals (PBG) and 197 SLF applications from the SIMBG database with qualitative case studies, interviews, and document analysis. Findings indicate suboptimal performance, marked by a 24.6% compliance gap for significant-scale buildings and the failure of the mandated 3-day fast track. Low compliance stems mainly from limited outreach and awareness among building owners, as well as procedural constraints in SIMBG. Delays in the 28-day standard track are attributed to incomplete applicant documents and the local government’s limited technical capacity. Nevertheless, SWOT analysis positions SLF implementation in the aggressive growth quadrant, reflecting strong potential for improvement. Recommended strategies include structured outreach, strengthening local regulations through a Regent Regulation, enhancing efficiency, fostering the local construction ecosystem, and advocating policies at the national level

    Pencegahan Keruntuhan Progresif pada Struktur Jembatan Tinjomoyo dari Analisis Hidrologi dan Geoteknik

    No full text
    This study aims to analyze measures to prevent progressive collapse of the Tinjomoyo Bridge in Semarang through hydrological and geotechnical approaches. The research employs a quantitative method with a descriptive approach to evaluate issues encountered in the field. The study includes an analysis of the impact of adding crib structures on riverbank slopes to mitigate scouring caused by water flow and redesigning the bridge pier foundation structure based on soil investigation data and loading conditions. Hydrological analysis indicates that a downstream weir slope of 20% effectively directs water flow to prevent damage to the slopes and bridge piers. Simulations using Plaxis 8.2 reveal that adding crib structures to the riverbank reduces longitudinal displacement by 269.07 mm. Furthermore, the structural safety factor increases from 10.774 (initial condition) to 12.024 (engineered condition). From a geotechnical perspective, redesigning the pier foundation using bored piles with a diameter of 1 meter and 12 pile groups effectively supports the applied loads. Based on the analysis, the proposed crib and foundation design are recommended as solutions to prevent progressive collapse of the Tinjomoyo Bridge. This solution is expected to provide long-term safety and stability for the bridge structure.Penelitian ini bertujuan menganalisis upaya pencegahan keruntuhan progresif pada Jembatan Tinjomoyo, Semarang, melalui pendekatan hidrologi dan geoteknik sebagai studi kasus. Studi ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif untuk mengevaluasi masalah yang terjadi di lapangan. Penelitian meliputi analisis dampak penambahan krib pada lereng sungai terhadap gerusan aliran air serta desain ulang struktur pondasi pilar jembatan berdasarkan data investigasi tanah dan beban kerja. Analisis hidrologi menunjukkan bahwa kemiringan hilir bendung sebesar 20% dapat mengarahkan aliran air sehingga tidak merusak lereng maupun pilar jembatan. Simulasi dengan Plaxis 8.2 mengungkapkan bahwa pemasangan krib di lereng sungai mampu mengurangi displacement memanjang sebesar 269,07 mm. Selain itu, faktor keamanan struktur meningkat dari 10,774 (kondisi awal) menjadi 12,024 (kondisi rekayasa). Dari segi geoteknik, desain ulang pondasi pilar dengan bored pile berdiameter 1 meter yang terdiri dari 12 kelompok tiang terbukti efektif menopang beban kerja. Berdasarkan hasil analisis, desain krib dan pondasi tersebut direkomendasikan sebagai solusi untuk mencegah terjadinya keruntuhan progresif pada Jembatan Tinjomoyo. Solusi ini diharapkan memberikan keamanan dan stabilitas jangka panjang bagi struktur jembatan

    Analisis Perkuatan Stabilitas Struktur Dinding Penahan Tanah (Sheet Pile) Dermaga yang Tidak Sesuai Detail Engineering Design (DED)

    No full text
    A wharf is a key infrastructure at a port that functions as a place for ships to dock and moor while conducting the loading and unloading of cargo, as well as passenger activities. The structural integrity of the wharf, especially along the bank, must be carefully designed to ensure ships can anchor securely. In pier construction, slope reinforcement is often done using sheet piles. When designing sheet piles, important factors such as pile depth and soil type must be considered. However, in practice, challenges arise when the construction in the field does not align with the specifications outlined in the Detail Engineering Design (DED), potentially compromising the wharf’s stability. This research aims to determine whether the reinforcement already implemented meets safety standards and technical requirements to prevent structural failure. A civil engineering approach is applied by reanalyzing the stability of existing reinforcements. The method involves evaluating the strength of the pier structure using various reinforcement types, including Corrugated Concrete Sheet Pile (CCSP), Concrete Sheet Pile (CSP), and Tie Rods. These evaluations are carried out through numerical calculations and structural analysis using the Plaxis program to simulate performance and ensure the design\u27s reliability under both normal and seismic conditions.Dermaga merupakan suatu bangunan pelabuhan yang digunakan untuk merapat dan menambatkan kapal yang melakukan bongkar muat barang dan menaik-turunkan penumpang. konstruksi pada tebing dermaga harus direncanakan sekuat mungkin supaya kapal bisa berlabuh dengan aman. Pada perkuatan tebing yang digunakan dalam proyek dermaga adalah konstruksi berbentuk sheet pile. Dalam merencanakan sheet pile yang perlu di perhatikan adalah kedalaman sheet pile dan jenis tanah. Dalam pembangunan dermaga terdapat kendala pada pelaksanaan pengerjaan konstruksi perkuatan stabilitas dermaga, di mana konstruksi yang di aplikasikan pada lapangan tidak sesuai dengan desain yang sudah di rencanakan pada Detail Engineering Design (DED). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah perkuatan tersebut memenuhi kriteria dan persyaratan untuk meminimalisir kegagalan konstruksi pada dermaga, salah satunya dilakukan rekayasa sipil berupa analisis ulang perkuatan stabilitas perkuatan yang sudah direalisasikan pada lapangan. Metode dari penelitian ini yaitu menghitung stabilitas perkuatan pada dermaga dengan perkuatan Corrugated Concrete Sheet Pile (CCSP), Concrete Sheet Pile (CSP), dan Tie Rod dengan perhitungan dan analisis menggunakan program Plaxis

    104

    full texts

    280

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Teknik: Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇