1,720,998 research outputs found
Gusmiati Suid Sang Maestro Tari II
Totalitas Gusmiati Suid dalam berolah kreativitas seni, mendapat apresiasi dan pujian dari berbagai kalangan. Ratna Sarumpaet, dalam acara Anugerah Seni Dewan Kesenian Jakarta 2004 mengemukakan, bahawa Gusmiati Suid adalah seorang seniman Indonesia yang telah memberikan kontribusi kreatif terhadap perkembangan kesenian, terutama seni tari dan musik yang berakar tradisi budaya Minangkabau. Melalui Gumarang Sakti yang didirikan tahun 1982, Gusmiti Suid telah mengukirkan kreativitasnya melalui karya-karya pertunjukan tari dan musik, yang kemudian mengukuhkan dirinya sebagai salah seorang Maestro Tari Indonesia yang mendapat penghargaan luas, baik di dalam maupun luar negeri. Gusmiati tidak banyak bicara apalagi berwacana. Wacana Gusmiati adalah gerak dan perjalanannya. Seorang perempuan Minang yang berani melangkah untuk mewujudkan kemauannya, meski di era itu adat dan tradisi yang berlaku dapat mengecam dan menjadikan sika dan pendiriannya sebagai pergunjingan kurang menyenangkan. Misteri Gusmiati tersimpan dalam suaranya yang tidak terlalu diperdengarkan. Karena dian itulah yang membuat orang tersentak begitu melihat panggung pergelarannnya. Pergelaran yang mengucapkan banyak hal, yang berbicara tentang banyak hal, yang memperdulikan dan prihatin pada banyak hal (Sarumpaet, 2004:2-3)
Gusmiati Suid Sang Maestro Tari I
Gusmiati suid, lahir pada tanggal 16 Agustus 1942 di dusun Parak Jua Batu Sangkar, Sumatera Barat. Tumbuh dan dibesarkan oleh pasangan guru sekolah dalam alam dan adat Minang serta ajaran Islam yang kokoh. Sejak usia 4 tahun, Gusmiati Suid sudah harus berlatih fisik dengan keras dan disiplin diri yang tinggi, karena ia satu-satunya turunan untuk meneruskan garis Silat Kumango supaya tidak punah. Berlatih keras dengan disiplin tinggi adalah sebuah keharusan dalam silat. Manakala Gusmiati lalai, ia harus rela berjam-jam berdiri di tengah empang keluarga. Pada suatu ketika diceritakan, Gusmiati cilik baru saja pulang dari menjenguk keluarga di kampung sebelah. Tiba di rumah sang mamak (paman) galak bertanya, “berapa banyak pohon yang ia lalui di jalan?”. Gagap menjawab pertanyaan pelik itu, Gusmiati cilik tahu apa yang harus ia lakukan; berjam-jam menempatkan diri di tengah empang. Begitulah sang mamak mengajarkan sari ajaran “Alam Takambang Jadi Guru,” mengenali lingkungan dengan teliti, bekerja keras dan membentuk disiplin diri. Bagi Gusmiati, tak pernah ada jalan pintas, tak ada anugerah yang jatuh dari langit. Setiap prestasi dan keberhasilan, hanya bisa diperoleh dengan kerja keras, perjuangan tak henti, dan disiplin diri yang tinggi.
Sebagaimana gadis desa di Minang pada umumnya, sejak kecil Gusmiati rajin pergi ke surau (tempat ibadah) untuk belajar mengaji, bersembahyang, memperdalam pengetahuan dan pemahamannya akan hukum dan ajaran Islam. Ketika tumbuh menjadi remaja, Gusmiati mulai belajar tari Melayu dan menjadi guru. Bergabung dengan Hoeriah Adam (pembaharu tari Minang), serta melanjutkan pendidikan di Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Padang Panjang. Tetapi, komitmenya kepada silat, tari Minang, dan nilai-nilai tradisi tak pernah pudar. Gusmiati mencintai tradisi tetapi tidak melihatnya sebagai barang mati. Tradisi itu baginya tumbuh dan berkembang sesuai dengan tempat dan masanya, sesuai dengan petuah Minang Alam Takambang Jadi Guru, Dimana Bumi Dipijak Disitu Langit Dijunjung, atau Sakali Aia Gadang Sakali Tapian Barubah. Melalui perjuangan keras dan keyakinan diri, puteri Asiah dan Said Gasssim itu berhasil membentuk diri menjadi penata tari yang handal dan memiliki harga diri dengan rasa cinta yang mendalam kepada bangsa, negeri dan kemanusiaan, bukan hanya ditingkat nasional tetapi juga dalam pergauluan antar bangsa.
Apa sebetulnya yang telah diperbuat Gusmiati Suid, yang sejak tahun 1982 mendayung kreativitasnya melalui sanggar Gumarang Sakti, Jakarta. Tentu cukup banyak yang telah diperbuatnya, sehingga mendorong banyak orang dan lembaga-lembaga seni dan budaya memberikan apresiasi. Salah satu yang patut dikenang adalah keteguhan hati dalam menetapkan pilihan hidupnya sebagai seniman, yang diiringi dengan kegelisahan kreativitas dan kultural yang terus menerus menggodanya. Dalam konteks kebudayaan Minangkabau, apa yang dilakukan Gusmiati Suid merupakan sebuah “pemberontakan kultural” yang tidak selalu dipahami dan diakomodasi oleh kehidupan kebudayaan masyarakat Minangkabau masa kini. Meskipun tradisi kebudayaan Minangkabau, selalu ada ruang untuk keluar dan cengkraman tradisi, seperti diungkapkan dalam pepatahnya, “adat dipakai baru, kain dipakai usang”, namun kadang-kadang “ruang” tersebut sering menyempit dan menimbulkan benturan-benturan yang melelahkan.
Mungkin karena itu pulalah, dipenghujung tahun 1980-an, Gusmiati Suid hijrah dari kampung halamannya ke Jakarta dan memulai era baru dalam perjalanan kreativtas seninya dengan mendirikan sanggar tari Gumarang Sakti (1982). Minangkabau, yang merasuk begitu kuat dalam dirinya, ternyata semakin mengental dan menemukan muara pengucapanya yang semakin luas. Bahasa seni pertunjukan yang dipresentasikan lewat berbagai karya tarinya, meskipun semakin kompleks namun memperlihatkan kematangan da kearifan serta kesederhanaan dalam kultur. Berbagai fenomena dan problematik kehidupan berbangsa, diungkapkanya secara kreatif melalui simbol-simbol yang dikenal luas dalam kebudayaan Minangkabau, sehingga menjadi pertunjukan yang komunikatif; meskipun sejumlah kata-kata yang meluncur dari pertunjukan cukup sulit dimengerti oleh orang yang bukan Minangkabau. Namun disitulah kekhasan Gusmiati Suid, kesetiaannya terhadap tradisi budaya yang membesarkannya, yakni Minangkabau merupakan salah satu sumber kekuatannya dalam berkarya. Karena Tradisi kebudayaan Minangkabau, jika dipahami secara mendalam sebetulnya sangat terbuka untuk berdialog dan bersinergi dengan kebudayaan di luarnya. Itu pulalah yang menyebabkan, sadar atau tidak sadar bahasa pertunjukan karya-karya tari Gumiati Suid berkembang melalui persentuhannya dengan berbagai wacana seni yang ada di luar wilayah budanyanya sendiri.
Kehadiran Gusmiati Suid sebagai salah seorang maestro Tari Indonesia, selain telah memberikan semangat dan pembaharuan yang cukup penting dalam perkembangan seni pertunjukan di lingkungan masyarakat Minangkabau, juga telah menjadi bagian penting dari kehidupan kesenian di Indonesia. Berbagai penghargaan dan punian yang telah diberikan kepadanya, baik semasa beliau masih hidup maupun setelah meninggal, merupakan suatu pengakuan terhadap pencapaian kreatif dan dedikasinya terhadap seni pertunjukan di Indonesia. Dalam konteks seni pertunjukan Indonesia, inilah sumbangan yang cukup penting dari Gusmiati Suid. Kesetiaan terhadap tradisi yang membersarkannya serta kemampuannya untuk menerobos batas-batas tradisi tersebut, telah mengantarkan Gusmiati Suid sebagai salah seorang maestro tari Indoensia (Utama, 2004:4-5)
KONTRIBUSI SILAT TUO DALAM TARI RANTAK KARYA GUSMIATI SUID
Rantak is a dance choreography created by Gusmiati Suid on 1987. The dance is still beenlearned at schools, colleges, and dance studios in West Sumatra. Beyond West Sumatra, thedance also often becomes a learning material in creating Minangkabau style dance. Rantak Dancehas become a well–known Minangkabau cultural icon in Indonesia and abroad. The Rantak Danceadapted Minangkabau’s silat tuo moves as the choreography idea. Not only the moves, the danceadapted the essence and the philosophy of silat tuo, these facts distinguish Rantak Dance fromother Minangkabau dances. The creation process that was taken by Gusmiati Suid was veryamazing. She was doing silat tuo in–depth learning process for six years at several nagari iniMinangkabau. Her seriousness showed that Rantak Dance was a legitimate monumental danceby a choreographer named Gusmiati Suid.
Â
Â
Â
Tari Rantak Gusmiati Suid :
Hubungan masyarakat, seniman & karya seni adalah hubungan timbal & saling keterkaitan antara ketiganya selalu berjalan. Seniman mencipta, kemudian suatu karya lahir & masyarakat mengujinya. Jadi mata rantai yang melahirkan karya dari seorang seniman berasal dari masyarakat.Tari Rantak karya Gusmiati Suid seorang koreografer yang berasal dari Minangkabau mencerminkan hubungan tmbal balik tersebut. Dalam waktu yang singkat, karya tari ini diterima masyarakat etnisnya & masyarakat Indonesia
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
