1,720,957 research outputs found

    OPTIMALISASI STRATEGI PROMOSI DINAS PENGELOLAAN PASAR KOTA SURAKARTA DALAM MEMPUBLIKASIKAN PASAR KLEWER

    Full text link
    Promosi merupakan kegiatan dalam pemasaran yang bertujuan untuk memperkenalkan produk, meyakinkan, dan mempengaruhi konsumen untuk melakukan suatu pembelian terhadap produk serta mengingatkan konsumen tentang perusahaan dan produknya. Salah satu promosi yang dilkukan oleh Dinas Pengelolaan Pasar Kota Surakarta yaitu periklanan. Periklanan merupakan faktor terpenting yang ikut mempengaruhi kemajuan suatu promosi pada pasar tradisional. Hal ini sangat berkaitan dengan semakin ketatnya persaingan bisnis antar peritel yang bergerak di bidang yang sama. Untuk mampu bersaing diperlukan strategi promosi khususnya periklanan yang dilakukan oleh Dinas Pengelolaan Pasar Kota Surakarta dalam mempublikasikan pasar tradisional agar dikenal oleh masyarakat. Dengan penjelasan tersebut dapat diketahui bagaimana pentingnya periklanan terhadap kelangsungan pasar tradisional. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui variabel bauran promosi yang dilakukan oleh Dinas Pengelolaan Pasar Kota Surakarta dalam menarik minat masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif mengenai optimalisasi strategi promosi Dinas Pengelolaan Pasar Kota Surakarta dalam mempublikasikan pasar tradisional Klewer. Penulis menggunakan metode wawancara secara langsung kepada pegawai Dinas Pengelolaan Pasar Kota Surakarta cabang Pasar Klewer. Dari penelitian yang dilakukan selama satu bulan penuh oleh penulis, dapat diketahui bahwa media periklanan yang digunakan oleh Dinas Pengelolaan Pasar Kota Surakarta khususnya dalam mempublikasikan pasar Klewer dengan menggunakan media cetak antara lain Media cetak, Booklet, Leaflet, Spanduk, Event, Website dan Televisi, selain itu dalam mempublikasikan pasar Klewer Surakarta dengan menggunakan teknik Word-of-Mouth atau lewat omongan dari mulut ke mulut. Berdasarkan evaluasi tersebut promosi yang dilakukan oleh Dinas Pengelolaan Pasar Kota Surakarta harus lebih variatif karena promosi dapat mempengaruhi minat beli masyarakat, disamping itu sarana periklanan perlu ditambahkan agar masyarakat lebih mendengar dan menyimak dengan jelas informasi dari Dinas Pengelolaan Pasar Kota Surakarta. Kata Kunci : Periklana

    PENATAN KAWASAN KORIDOR JALAN GATOT SUBROTO SURAKARTA

    Full text link
    1.1. Latar Belakang Sebuah kota terbentuk karena adanya interaksi kegiatan manusia dalam menjalani kehidupan dan penghidupannya. Dalam hal ini kota terbentuk oleh adanya fungsi dari aktivitas manusia dalam konteks yang lebih luas yang terakumulasi dari waktu ke waktu (Budiharjo, 1997). Di sisi lain kota tidak dapat dipandang sebagai suatu tempat yang terbentuk dalam waktu yang singkat, melainkan tumbuh dan berkembang dalam satuan waktu yang tidak terbatas. Pembangunan lingkungan fisik kota merupakan suatu usaha manusia untuk meningkatkan kualitas lingkungan sehingga dapat meningkatkan kinerja manusia dalam melaksanakan kegiatannya. Pembangunan fisik kawasan kota tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan manusia sebagai pelaku utama kegiatan di kota. Beragam warisan budaya dapat tampil dalam suatu setting warisan uang perkotaan yang terbentuk oleh bermacam potensi local yang bernilai antara lain abiotik, biotic serta kegiatan social budaya (Andhisakti, 1999) Pola ruang kota dan komponen fisik pembentuknya dapat mencerminkan adanya pertumbuhan dan perkembangan temporal lingkungannya. Kota tidak bersifat dalam bentuk dan isinya melainkan tumbuh bersamaan dengan tumbuhnya komunitas (Spreignen, 1965). Dengan demikian tumbuh dan berkembangnya tuntutan-tuntutan pelaku kegiatan. Berarti secara fisik dan fungsional intensitas dan kualitas kegiatan kota akan selalu berubah. Surakarta sebagai contoh kota yang cukup yang cukup menarik untuk dikaji Sebagai kota budaya, perdagangan dan industri yang sedang berkembang, tuntutan pemenuhan kebutuhan masyarakat kota terus meningkat, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi maka perniagaan dan perhubungan juga turut berkembang. Antara lain perluasan daerah perkotaan, ketersedian sarana dan prasarana transportasi serta peningkatan kegiatan niaga dan industri. Kesadaran dari pemda Surakarta akan potensi kotanya terlihat pada RUTRK Kotamadya Daerah Tingkat II Surakarta. Dimana disebutkan bahwa pembentukan tata ruang kota Surakarta dihadapkan pada beberapa permasalahan pertumbuhan fisik yang tidak terkendali yaitu tumbuhnya beberapa kawasan sector strategis yang perlu mendapat antisipasi penataan ruang untuk mengarahkan perkembangannya. Pertumbuhan penduduk rata-rata kota ini minimum 0,77% dan maksimum 1,19% per tahun. Dengan demikian diperkirakan jumlah penduduk yang melakukan kegiatan sehari-hari baik siang maupun malam diperkirakan antara 700.000 – 800.000 jiwa lebih saat ini, dan diperkirakan 1,4 – 1,6 juta pada 20 tahun mendatang. Tentu saja dengan penambahan jumlah penduduk tersebut, mengakibatkan meningkatnya kebutuhan akan sarana dan prasarana baik secara kualitas maupun kuantitas. Dalam RUTRK Surakarta disebutkan bahwa pembangunan perdagangan diarahkan untuk meningkatkan efisiensi perdagangan, memperlancar arus dan distribusi barang/jasa, disamping peningkatan penyebaran informasi perdagangan, penataan sistem pasar dan peningkatan daya saing ekspor. Disebutkan pula dalam RUTRK tersebut, untuk kota Surakarta yang termasuk dalam rencana fasilitas perdagangan adalah daerah pasar, pertokoan, perdagangan, (kantor, perusahaan dan bangunan), pergudangan, perhotelan dan terminal daerah perdagangan/komersial, pertokoan yang berlokasi di jalan-jalan utama, seperti jalan Slamet Ryadi, jalan Honggowongso, jalan Gatot Subroto dan jalan Dr. Rajiman. Perkembangan daerah komersial cenderung di pusat kota seperti pertokoan Singosaren, pujasera Sriwedari, pertokoan Coyudan, pasar Klewer dan pertokoan Beteng. Kawasan sepanjang jalan Gatot Subroto, memanjang dari pasar Pon sampai Pasar Singosaren, merupakan simpul perdagangan aktif dan pusat kegiatan perdagangan di Surakarta. Letaknya yang strategis di tengah kota dan keragaman komoditi yang ditawarkan merupakan potensi yang diperhitungkan sebagai kawasan perdagangan. Keragaman komoditi yang ditawarkan, seperti sepatu, tekstil, meubel, barang-barang elektronik dan lain-lain menjadikan kawasan ini memiliki potensi wisata belanja yang cukup kuat. Namun, secara umum potensi yang ada pada kawasan ini belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Hal ini disebabkan kurangnya kesadaran dan kerja sama antar pelaku kegiatan dalam mengolah elemen-elemen kawasan. Kepadatan arus pergerakan manusia di sepanjang kawasan kurang ditunjang dengan fasilitas pendukung, jalan dan pedestrian yang kurang manusiawi serta tata letak, komposisi, gaya dan ketinggian bangunan serta elemen bahan dan warna bangunan-bangunan yang kurang teratur menjadikan potensi dari kawasan ini menjadi terabaikan. Untuk itu diperlukan penataan kawasan koridor jalan Gatot Subroto sebagai pusat perbelanjaan berupa pertokoan dengan segala kelengkapan fasilitasnya, khusunya dalam penataan pedestrian, parker, sitting group, street furniture dan lain-lain sebagai fasilitas pendukung. Sehingga bisa memenuhi tuntutan dan kebutuhan konsumen akan proses berbelanja yang rekreatif, aman dan nyaman. Dalam upaya penataan ini diharapkan tidak hanya mengatasi permasalahan yang ada namun juga dapat memberikan nilai tambah bagi kawasan. Antara lain dengan melakukan penataan kembali kawasan tersebut sesuai dinamika yang berkembamng dalam masyarakat dengan menjadikan kawasan tersebut sebagai kawasan wisata belanja yang bercitra budaya. 1.2. Tujuan dan Sasaran 1.2.1. Tujuan Tujuan pembahasan adalah penyusunan landasan program perencanaan dan perancangan arsitektur untuk penataan kawasan koridor jalan Gatot Subroto Surakarta, dengan cara menggali mengumpulkan dan mengidentisikasi permasalahan untuk kemudian diperoleh solusi yang berkaitan dengan penetaan kawasan koridor jalan Gatot Subroto Surakarta. 1.2.2. Sasaran Sasaran pembahasan dalam laporan ini adalah untuk mendapatkan dan menyusun rumusan Landasan Perencanaan dan Perancangan Arsitektur untuk penataan kawasan koridor jalan Gatot Subroto Surakarta sesuai dengan aspek-aspek perencanaan dan perancangan. 1.3. Manfaat 1.3.1. Manfaat Subyektif Penyusunan Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur ini adalah untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik pada Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. 1.3.2. Manfaat Obyektif Memberikan tambahan wawasan dan pengetahuan, khususnya dalam hal penataan kawasan koridor jalan Gatot Subroto Surakarta. 1.4. Lingkup Pembahasan 1.4.1. Lingkup Subtansial Lingkup pembahasan subtansial dari materi ini menggunakan ilmu urban design, mengenai penataan kawasan koridor jalan Gatot Subroto Surakarta sebagai kawasan wisata belanja. Diutamakan pada penataan ruang terbuka untuk pengunjung, arcade, sirkulasi, parker, khususnya yang berhubungan dengan penempatan kantong-kantong parker, pedagang kaki lima dan kelengkapan kegiatan di kawasan, sesuai teori elemen fisik perancangan kota. 1.4.2. Lingkup Spasial Wilayah studi penataan kawasan koridor jalan Gatot Subroto Surakarta mempunyai batas-batas sebagai berikut : Sebelah utara : Jalan Slamet Riyadi Sebelah selatan : Perempuan Singosaren Sebelah timur : Deretan bangunan pertokoan Sebelah barat : Deretan bangunan pertokoan 1.5. Metode Pembahasan 1.5.1. Tahap Pengumpulan Data Data dikumpulkan melalui pengamatan, foto dan sketsa yang berkaitan erat dengan kawasan studi, dengan wawancara langsung kepada narasumber untuk mengetahui data, masalah serta potensi kawasan, serta studi literature untuk teori perencanaan dan perancangannya. 1.5.2. Tahap Analisa Menganalisa data serta menggali potensi dan masalah yang ada dan mendari keterkaitan antar masalah sehingga diperoleh gambaran sebab timbulnya masalah. Pada tahap analisis ini didasari oleh landasan teoritis dan tinjauan kawasan utamanya. 1.5.3 Tahap Sintesa Tahap sintesa merupakan tindak lanjut dari analisa dimana upaya pemecahan masalah dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan berbagai aspek. Peraturan-peraturan pemerintah yang berlaku, potensi yang ada serta factor-faktor lain yang mempengaruhinya. Kemudian diolah secara terpadu hingga didapatkan output berupa alternatif pemecahan masalah, atau dengan kata lain berupa landasan program perencanaan dan perancangan. 1.6. Sistematika Pembahasan Sistematika pembahasan yang digunakan dalam penyusunan Laporan Perencanaan dan Perancangan ini adalah sebagai berikut : BAB I : PENDAHULUAN Menguraikan latar belakang, tujuan dan sasaran, manfaat, lingkup pembahasan, metode pembahasan, serta sistematika pembahasan dalam penyusunan laporan program perencanaan dan perancangan. BAB II : TINJAUAN TEORI Membahas tentang kajian teori mengenai kota dan elemen pembentuknya, teori urban design dan elemen fisiknya, teori ruang luar perkotaan, dan kajian wisata belanja. Serta studi komparasi yang mendukung sebagai bahan perbandingan. BAB III : TINJAUAN KAWASAN KORIDOR JALAN GATOT SUBROTO SURAKARTA Membahas tentang tinjauan kawasan dalam konteks kota Surakarta dan koridor jalan Gatot Subroto dalam konteks fisik dan non fisik. BAB IV : ANALISA KAWASAN KORIDOR JALAN GATOT SUBROTOSURAKARTA Menganalisa kawasan koridor jalan Gatot Subroto dalam konteks kota dan menganalisa koridor jalan Gatot Subroto dalam konteks kawasan dengan menggunakan delapan elemen fisik kota. BAB V : KESIMPULAN< BATASAN DAN ANGGAPAN Berisi tentang kesimpulan hasil analisa pada kawasan koridor jalan Gatot Subroto Surakarta dan batasan lingkup perencanaan dan anggapan-anggapan yang dipakai untuk memudahkan memperjelas penatan kawasan. BAB VI : PENDEKATAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Membahas tentang pendekatan jenis kegiatan dan tuntutan kebutuhan, pendekatan perencanaan penataan kawasan, pendekatan perancangan kawasan serta pendakatan kebutuhan besaran ruang. BAB VII : KONSEP DAN PROGRAM DASAR PERANCANGAN Berisi tentang konsep dasar perencanan dan pengembangan kawasan, serta program ruang kawasan

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    PENGARUH LEADER MEMBER EXCHANGE PADA NIAT BERPINDAH KERJA : PERAN MEDIASI KEPUASAN KERJA DAN PERAN MODERASI JENIS KELAMIN ( Studi pada Karyawan Rumah Makan di Kota Solo )

    Full text link
    PENGARUH LEADER MEMBER EXCHANGE PADA NIAT BERPINDAH KERJA : PERAN MEDIASI KEPUASAN KERJA DAN PERAN MODERASI JENIS KELAMIN Studi pada Karyawan rumah makan di Kota Solo Satya Graha F1213058 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh leader member exchange pada niat berpindah kerja dengan peran mediasi kepuasan kerja dan peran moderasi jenis kelamin terhadap pengaruh kepuasan kerja pada niat berpindah kerja.Responden terdiri dari 145 karyawan pada berbagai rumah makan di Kota Solo yang sampel ditentukan secara konvenien. Uji validitas berdasarkan analisis faktor dengan kriteria loadingfactor diatas 0,5 yaitu item LMX 6 yang dikeluarkan.Sedangkan uji reliabilitas berdasarkan kriteria Cronbach Alpha diatas 0,6 semua variabel memenuhi kriteria yang ditentukan. Alat analisis menggunakan Partial Least Square (PLS) path SmartPLS 2.0 program. Hasil analisis menunjukkan bahwa leader member exchange berpengaruh positif dan signifikan pada kepuasan kerja dan kepuasan kerja bepengaruh negatif pada niat berpindah kerja, Sedangkan kepuasan kerja berperan sebagai variabel pemediasi penuh pada pengaruh leader member exchange pada niat berpindah kerja, namun jenis kelamin tidak terbukti memoderasi pengaruh kepuasan kerja pada niat berpindah kerja yang berarti bahwa niat berpindah kerja tidak tergantung apakah dia karyawan laki-laki atau wanita. Implikasi dan keterbatasan hasil temuan penelitian ini menarik untuk didiskusikan dan dikembangkan pada kegiatan penelitian mendatang. Kata kunci : leader member exchange, kepuasan kerja, niat berpindah kerja, gende

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Full text link
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods

    Author Index

    No full text
    Nao informado

    koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist

    No full text
    We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
    corecore