85 research outputs found
Bimba IntelliSense
Author Abstract:
The main problem of this proposal is building a test stand that can be used to test a seal leak for Bimba actuators in order to create a “self-healing” property for these actuators. Some of the design criteria were not able to be implemented because of difficulties with the budget and schedule of the project; however, the test stand this team will design follows all of the main design goals and functional requirements needed for the completion of this project. Once completed, it will implement the IntelliSense software, be able to test actuators with a load, simulate air leaks in both seals of an actuator, and be able to utilize a control algorithm for the “self-healing” cylinder. This cost-effective solution was based on the budget given by Bimba and the test stands they have already created. In order to build on their previous work, this test stand will set the ground work for Bimba actuators to improve their life span so that they become even more reliable and effective in the industry today
PENERAPAN METODE FUN LEARNING PADA PROSES PEMBELAJARAN DALAM MENINGKATKAN PENGENALAN AKSARA DAN ANGKA PADA ANAK USIA DINI (Studi Kasus terhadap Proses Pembelajaran di BIMBA AIUEO Unit Guruminda Jl. Antabaru Cibeunying Bandung)
Penelitian mengungkapkan penerapan metode fun learning yang menjadi bagian dari metode BIMBA AIUEO dalam meningkatkan pengenalan aksara dan angka anak usia dini. Penelitian didasari oleh keberhasilan BIMBA AIUEO melaksanakan pembelajaran untuk level 1 kurang dari 72 jam dan penggunaan metode fun learning yang terintegrasi dengan metode lain serta teknik pemverbalan. Tujuan penelitian ini adalah ; (1) Mendeskripsikan penerapan metode fun learning dalam proses pembelajaran di Bimbingan Minat Baca dan Belajar Anak BIMBA AIUEO, (2) Mendeskripsikan hasil yang dicapai dari penerapan metode fun learning terhadap pengenalan aksara dan angka anak usia dini di Bimbingan Minat Baca dan Belajar Anak BIMBA AIUEO, dan (3) Mendeskripsikan kesulitan yang dihadapi pembimbing dalam penerapan metode fun learning dalam meningkatkan pengenalan aksara dan angka anak usia dini di Bimbingan Minat Baca dan Belajar Anak BIMBA AIUEO.
Teori dan Konsep yang melandasi penelitian ini adalah pandangan Montessori bahwa “perkembangan anak usia dini sebagai suatu proses yang berkesinambungan“Pendidikan anak usia dini ditujukan bagi anak-anak usia prasekolah dengan tujuan agar anak dapat mengembangkan potensi-potensinya sejak dini sehingga mereka dapat berkembang secara wajar sebagai anak”. Elizabeth G. Hainstock : Anak – anak usia dini tidak hanya dapat diajarkan membaca tetapi bahwa inilah masa puncak anak secara alamiah dan antusias menyerap kecakapan – kecakapan membaca.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan berupa observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Subjek penelitian adalah 2 orang warga belajar dengan 3 informan yaitu; 1 orang pengelola, dan 2 orang pembimbing.
Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan : (1) Metode fun learning dalam pembelajaran di BIMBA AIUEO dilaksanakan untuk menciptakan suasana yang menyenangkan sehingga anak merasa nyaman ketika mengikuti proses pembelajaran di BIMBA AIUEO, (2) Kemampuan anak dalam mengenal aksara dan angka berbeda-beda tergantung dari kecerdasan dan kemampuan anak dalam menerima materi serta kemampuan pembimbing dalam menerapkan metode fun learning pada proses pembelajaran dalam meningkatkan pengenalan aksara dan angka. Tetapi rata-rata waktu yang dibutuhkan anak dalam mengenal aksara dan angka 1,5 bulan, dan (3) Kesulitan yang dihadapi pembimbing ada beberapa faktor : (a) Ketergantungan anak terhadap orangtua dalam mengikuti proses pembelajaran, (b) Terbatasnya media dan sarana pembelajaran bersifat fun learning yang disediakan oleh lembaga, dan (c) Kurangya pelatihan yang diberikan lembaga untuk meningkatkan kreativitas pembimbing dalam penerapan metode fun learning.
Berdasarkan temuan-temuan penelitian di atas, maka peneliti memberikan saran sebagai rekomendasi untuk lembaga diperlukan pelatihan yang berkesinambungan bagi pembimbing untuk meningkatkan kreativitas pembimbing dalam menerapkan metode fun learning, menyediakan media dan sarana pembelajaran yang lebih variatif untuk mendukung kreativitas pembimbing dalam menerapkan metode fun learning. Pembimbing diharapkan lebih menggali kreativitasnya dalam menerapkan metode fun learning melalui berbagai cara seperti; mengkaji literatur yang berhubungan dengan metode fun learning, dan mengikuti pelatihan
PENERAPAN METODE FUN LEARNING PADA PROSES PEMBELAJARAN DALAM MENINGKATKAN PENGENALAN AKSARA DAN ANGKA PADA ANAK USIA DINI (STUDI KASUS TERHADAP PROSES PEMBELAJARAN DI BIMBA AIUEO UNIT GURUMINDA JL. ANTABARU CIBEUNYING BANDUNG)
Penelitian mengungkapkan penerapan metode fun learning yang menjadi bagian dari metode BIMBA AIUEO dalam meningkatkan pengenalan aksara dan angka anak usia dini. Penelitian didasari oleh keberhasilan BIMBA AIUEO melaksanakan pembelajaran untuk level 1 kurang dari 72 jam dan penggunaan metode fun learning yang terintegrasi dengan metode lain serta teknik pemverbalan. Tujuan penelitian ini adalah ; (1) Mendeskripsikan penerapan metode fun learning dalam proses pembelajaran di Bimbingan Minat Baca dan Belajar Anak BIMBA AIUEO, (2) Mendeskripsikan hasil yang dicapai dari penerapan metode fun learning terhadap pengenalan aksara dan angka anak usia dini di Bimbingan Minat Baca dan Belajar Anak BIMBA AIUEO, dan (3) Mendeskripsikan kesulitan yang dihadapi pembimbing dalam penerapan metode fun learning dalam meningkatkan pengenalan aksara dan angka anak usia dini di Bimbingan Minat Baca dan Belajar Anak BIMBA AIUEO.
Teori dan Konsep yang melandasi penelitian ini adalah pandangan Montessori bahwa “perkembangan anak usia dini sebagai suatu proses yang berkesinambungan“Pendidikan anak usia dini ditujukan bagi anak-anak usia prasekolah dengan tujuan agar anak dapat mengembangkan potensi-potensinya sejak dini sehingga mereka dapat berkembang secara wajar sebagai anak”. Elizabeth G. Hainstock : Anak – anak usia dini tidak hanya dapat diajarkan membaca tetapi bahwa inilah masa puncak anak secara alamiah dan antusias menyerap kecakapan – kecakapan membaca.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan berupa observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Subjek penelitian adalah 2 orang warga belajar dengan 3 informan yaitu; 1 orang pengelola, dan 2 orang pembimbing.
Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan : (1) Metode fun learning dalam pembelajaran di BIMBA AIUEO dilaksanakan untuk menciptakan suasana yang menyenangkan sehingga anak merasa nyaman ketika mengikuti proses pembelajaran di BIMBA AIUEO, (2) Kemampuan anak dalam mengenal aksara dan angka berbeda-beda tergantung dari kecerdasan dan kemampuan anak dalam menerima materi serta kemampuan pembimbing dalam menerapkan metode fun learning pada proses pembelajaran dalam meningkatkan pengenalan aksara dan angka. Tetapi rata-rata waktu yang dibutuhkan anak dalam mengenal aksara dan angka 1,5 bulan, dan (3) Kesulitan yang dihadapi pembimbing ada beberapa faktor : (a) Ketergantungan anak terhadap orangtua dalam mengikuti proses pembelajaran, (b) Terbatasnya media dan sarana pembelajaran bersifat fun learning yang disediakan oleh lembaga, dan (c) Kurangya pelatihan yang diberikan lembaga untuk meningkatkan kreativitas pembimbing dalam penerapan metode fun learning.
Berdasarkan temuan-temuan penelitian di atas, maka peneliti memberikan saran sebagai rekomendasi untuk lembaga diperlukan pelatihan yang berkesinambungan bagi pembimbing untuk meningkatkan kreativitas pembimbing dalam menerapkan metode fun learning, menyediakan media dan sarana pembelajaran yang lebih variatif untuk mendukung kreativitas pembimbing dalam menerapkan metode fun learning. Pembimbing diharapkan lebih menggali kreativitasnya dalam menerapkan metode fun learning melalui berbagai cara seperti; mengkaji literatur yang berhubungan dengan metode fun learning, dan mengikuti pelatihan
PEMEROLEHAN BAHASA PADA ANAK USIA DINI USIA 3 DAN 4 TAHUN DI BIMBA AIUEO PERMATA PAMULANG
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perbedaan pemerolehan bahasa pada anak usia dini yang diakibatkan banyak faktor, antara lain seperti stimulus respon, kognitif dan lingkungan anak tersebut berkembang. Berdasarkan latar belakang tersebut penelitian ini bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan pemerolehan bahasa pada anak usia dini di BIMBA AIUEO Permata Pamulang pada tataran fonologi yang meliputi pemerolehan fonem vokoid, fonem kontoid, diftong dan kluster dari tutur kata yang dilafalkan oleh subjek penelitian ; (2) mendeskripsikan pemerolehan bahasa pada anak usia dini di BIMBA AIUEO Permata Pamulang pada tuturan sintaksis yang meliputi perhitungan pemerolehan kalimat melalui MLU. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Subjek yang diteliti dalam penelitian ini adalah tuturan yang dihasilkan dari anak usia 52 bulan dan 46 bulan di sekolah BIMBA AIUEO Permata Pamulang, Tangerang Selatan. Data yang diperoleh dari penelitian berdasarkan tataran fonologi dan sintaksis adalah 95 kata dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan catat lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek penelitian 1 telah menguasai fonem /a/, /i/, /u/, /U/, /e/, /É›/, /o/ dan /É™/ yang letaknya terdapat pada awal, tengah, dan akhir kata. Subjek penelitian 2 telah menguasai fonem /a/, /i/, /u/, /U/, /e/, /É›/, /o/ dan /É™/ yang letaknya terdapat pada awal, tengah, dan akhir. Bunyi konsonan yang telah dikuasai yaitu /b/, /c/, /d/, /h/, /j/, /k/, /m/, /n/, /p/, /q/, /t/, /w/, /y/, subjek 1 telah mampu menguasai konsonan tersebut yang letaknya berada di awal, tengah dan akhir kata. Subjek 2 menguasai bunyi pada konsonan /b/, /c/, /d/, /g/, /h/, /j/, /k/, /l/, /m/, /n/, /p/, /s/, /t/, /w/, /y/, yang letaknya pada awal, tengah, dan akhir kata. Sementara itu, diftong yang mampu dilafalkan oleh subjek 1 yaitu /ay/ dan subjek 2 mampu melafalkan diftong /ay/. Pada subjek 1 telah mampu melafalkan /tr/ dan subjek 2 mampu melafalkan /pr/. Sementara itu pada tataran sintaksis dihasilkan perhitungan MLU pada subjek 1 yaitu 3,7 sehingga pada tataran sintaksis subjek penelitian yang berusia 46 bulan dapat dinyatakan baik. Subjek 2 dengan hasil perhitungan mendapatkan rata-rata panjang tuturan 5,2 tataran sintaksis subjek penelitian yang berusia 46 bulan dapat dinyatakan baik.
A capoeira na sociedade do capital: a docência como mercadoria-chave na transformação da capoeira no século XX
Dissertação (mestrado) - Universidade Federal de Santa Catarina, Centro de Ciências da Educação. Programa de Pós-Graduação em EducaçãoA capoeira, desde sua primeira menção nos registros oficiais em 1789 até o final da primeira república (1930), sempre esteve relacionada ao que havia de mais discriminado na sociedade brasileira. Após as grandes transformações sociais no mundo e seus efeitos na política brasileira no século XX, essa manifestação ganha espaço social, assumindo uma nova dinâmica. Esse processo se inicia quando a docência da capoeira passa a ser estruturada sob o signo da mercadoria, expresso nas ações concretas de duas escolas de capoeiras baianos, que transformaram o conhecimento da capoeira em propriedade. Dessa forma, atribui-se uma relação de troca entre mercadorias que, nas décadas de 1980 e 1990, viriam a se concretizar sob a lógica do trabalho produtivo. Destaca-se, como marco, desse processo, a atuação do Centro de Cultura Física Regional (1936), que, sob forte influência do pensamento positivista e da forma taylorista de trabalho, materializou, nas relações diretas, a fragmentação da capoeira. Esses marcos se concretizam nos dias atuais, quando a capoeira aparta-se do seu produtor, relegando-lhe papéis secundários na sua construção. São as esferas da sociedade civil onde a capoeira se insere, a gerência na lógica dos interesses privados, em uma estrutura que une a ideologia burguesa, o estado liberal e as parcerias privadas de financiamento público. O objetivo deste trabalho é se aproximar das formas que articulam respostas contra a dinâmica da sociedade capitalista, onde a capoeira se encontra de forma alienada. Para compreender esse fenômeno, concentramos a atenção na mercadoria prática docente da capoeira, destacando nela as contradições que evidenciem a lógica da mercadoria e suas determinações. Por reconhecer mudanças nos dados concretos do trabalho pedagógico, nos espaços e tempos formativos na capoeira, assumimos uma postura de confronto, para avançar na compreensão dos limites e das possibilidades que se põem aos capoeiras, assim como a outros formadores populares de conscientização de classe e de ações revolucionárias
O jogo da capoeira no contexto antropológico e biomecânico
Dissertação (mestrado) - Universidade Federal de Santa Catarina, Centro de Desportos. Programa de Pós-Graduação em Educação Física.Este estudo parte do princípio de totalidade dos fenômenos e privilegia as análises estéticas do jogo de capoeira, o qual só permite a compreensão o conhecimento do todo deste universo simbólico. Para compreender o todo, deve-se conhecer a fundo as partes que constituem o universo capoeirístico. Nesta pesquisa procura-se estabelecer um diálogo entre mundos heterogêneos acerca da capoeira com o meio acadêmico. Para isso, parte-se do conhecimento popular da capoeira e suas práticas na UFSC agregando-se aos conhecimentos teóricos e análises laboratoriais sem a intenção de hierarquizar esses saberes. Encontra-se, na teoria dos antropólogos Clifford Geertz e Marcel Mauss a justificativa teórica para a possibilidade de cruzar conhecimentos epistemologicamente diferentes, que já atuam no cotidiano de um capoeira. Assim, analisa-se e descreve-se o universo do jogo da capoeira a partir do referencial teórico existente e de filmagens das aulas de capoeira de três grupos atuantes na UFSC. Conduziu-se, também, uma análise biomecânica de situações de jogos através de recursos de cinemetria, considera-se para isto, ao mesmo tempo, o elemento ético e estético que constituem cada roda de capoeira. Através do contato direto com os dados produzidos percebe-se a grandeza humana de criar e recriar as práticas sociais, pedagógicas, artísticas e culturais. As diferenças estéticas, metodológicas e prepositivas entre os grupos são mantidas sem nenhum tipo de hierarquização ou algum tipo de discriminação, pois procura-se entendê-los a partir dos espaços sociais atuantes. Através das análises realizadas, pode-se afirmar que a configuração espaço-temporal mostram semelhanças entre os grupos estudados. No entanto, observa-se que essas diferenças estão presentes no contexto antropológico do jogo, que envolve desde a formação da roda, o canto, os toques de Berimbaus e a corporalidade ali vivenciada. Os gestos, a técnica de cada estilo é diferente e reconhecível a olhos nus, apesar da semelhança de suas características físicas, quando abordadas isoladamente. Da observação participante percebe-se que todos os grupos mantêm o que se considera tradição na capoeira, elencou-se onze princípios estruturadores fundamentais na constituição da roda de capoeira que são modificados e estilizados por cada participante de acordo com os contextos sociais e culturais em que vive, porém é tradicional em seu conteúdo, em elementos que fornecem identidade à manifestação capoeira
Characteristics and outcomes of SARS-CoV-2 breakthrough infections among double-vaccinated and triple-vaccinated patients with inflammatory rheumatic diseases
Objective To analyse the clinical profile of SARS-CoV-2 breakthrough infections in at least double-vaccinated patients with inflammatory rheumatic diseases (IRDs). Methods Data from the physician-reported German COVID-19-IRD registry collected between February 2021 and July 2022 were analysed. SARS-CoV-2 cases were stratified according to patients’ vaccination status as being not vaccinated, double-vaccinated or triple-vaccinated prior to SARS-CoV-2 infection and descriptively compared. Independent associations between demographic and disease features and outcome of breakthrough infections were estimated by multivariable logistic regression. Results In total, 2314 cases were included in the analysis (unvaccinated n=923, double-vaccinated n=551, triple-vaccinated n=803, quadruple-vaccinated n=37). SARS-CoV-2 infections occurred after a median of 151 (range 14–347) days in patients being double-vaccinated, and after 88 (range 14–270) days in those with a third vaccination. Hospitalisation was required in 15% of unvaccinated, 8% of double-vaccinated and 3% of triple-vaccinated/quadruple-vaccinated patients (p<0.001). Mortality was 2% in unvaccinated, 1.8% in the double-vaccinated and 0.6% in triple-vaccinated patients. Compared with unvaccinated patients, double-vaccinated (OR 0.43, 95% CI 0.29 to 0.62) and triple-vaccinated (OR 0.13, 95% CI 0.08 to 0.21) patients showed a significant lower risk of COVID-19-related hospitalisation. Using multivariable analysis, the third vaccination was significantly associated with a lower risk for COVID-19-related death (OR 0.26; 95% CI 0.01 to 0.73). Conclusions Our cross-sectional data of COVID-19 infections in patients with IRD showed a significant reduction of hospitalisation due to infection in double-vaccinated or triple-vaccinated patients compared with those without vaccination and even a significant reduction of COVID-19-related deaths in triple-vaccinated patients. These data strongly support the beneficial effect of COVID-19 vaccination in patients with IRD. Trial registration number EuDRACT 2020-001958-21.German Society for Rheumatolog
SINDROME DI ROTHMUND-THOMSON: CARATTERIZZAZIONE CLINICO-MOLECOLARE DI TRE NUOVI PAZIENTI
La sindrome di Rothmund Thomson (RTS) è una rara genodermatosi a trasmissione autosomica recessiva. Al segno cardine del poichiloderma si associano bassa statura, alterazioni scheletriche, invecchiamento precoce, cataratta e predisposizione al cancro, in particolare osteosarcoma.
Il gene RECQL4, codificante per un’elicasi, è mutato nei 2/3 dei pazienti. I pazienti con mutazione, difetti scheletrici e suscettibilità al cancro sono definiti RTS di tipo II mentre quelli privi di mutazione, con cataratta bilaterale e senza aumentato rischio di tumori RTS di tipo I.
Riportiamo l’analisi clinica e molecolare di 3 nuovi pazienti: 2 fratelli italiani di 8 e 1 anno e un giovane sudamericano di 17 anni.
L’analisi molecolare del caso familiare ha identificato nella bimba, che all’età di 4 anni presentava poichiloderma e lievi difetti scheletrici, e nel fratello la presenza della nuova mutazione di stop c.2272C>T nell’esone 13 (p.R758*), ereditata dal padre, e della delezione nell’esone 14 c.2493_2494delAT (p.H831Rfs51*) di origine materna, entrambe nel dominio elicasico.
Entrambi gli alleli mutanti predicono proteine tronche non funzionali. L’analisi dei trascritti è conforme alla predizione per la delezione materna ma non per la mutazione paterna che codifica per un trascritto alternativo che subisce lo skipping in frame della porzione di esone 13 contenete la mutazione. Tale trascritto è rilevabile anche nei controlli, ma paziente e padre portatore ne mostrano maggiori livelli probabilmente a causa della perdita funzionale dell’ESE in cui è localizzata la c.2272C>T.
Studi di fragilità cromosomica spontanea e l’applicazione del cytome assay sui linfociti della bimba hanno evidenziato un aumento dei segni di instabilità genomica: micronuclei, buds e ponti nucleoplasmatici.
Il terzo paziente, caratterizzato da marcato poichiloderma su volto e arti superiori ma privo di alterazioni scheletriche, esemplifica l’eterogeneità clinica e allelica di RTS. L’analisi molecolare ha evidenziato la nuova mutazione missenso c.3265G>T (p.S1078M) in omozigosi nell’esone 18, fuori dal dominio elicasico. E’ in corso l’analisi dei trascritti per stabilirne il significato patogenetico, compatibile con la presenza di una proteina RECQL4 ed in accordo col fenotipo clinico lieve del paziente
Bob Azzam 1960 / Bob Azzam et son orchestre
Comprend : Mustapha : fox oriental / folklore Arr. Bob Azzam - PADRONE D'O MARE : (Toi seule), boléro / T. Manlio, d'Esposito, F. Gérald, P. de la Noë - TINTARELLA DI LUNA : fox-rock / Migliaci, B. de Filippi - T'HO VISTA PIANGERE : slow rock / Casadei - GUARDA CHE LUBA : slow rock / G. Malgoni - TI ADORERO : slow rock / Casadel - ARRIVEDERCI : slow rock / U. bundi, F. Bonifay - BELLA BIMBA : slow rock / Betetta, A. CasadeiBnF-Partenariats, Collection sonore - BelieveContient une table des matière
Dalla commedia di Goldoni ai Promessi sposi. Preliminari
Il saggio affronta il rapporto, piuttosto sottovalutato e inedito, tra i Promessi sposi e le commedie goldoniane, sia per quanto concerne riprese puntuali e allusioni circostanziate, sia per quanto riguarda questioni di più ampia portata strutturale. Si cerca di dimostrare la dinamica del funzionamento intertestuale attraverso un caso particolarmente illuminante: la scelta di un nome proprio, quello di Bettina (protagonista della goldoniana Putta onorata), attribuito nei Promessi sposi alla bimba che viene inviata da Renzo a chiamare Lucia all'inizio del romanzo, costituisce una spia linguistica metatestuale molto importante ai fini dell’individuazione di un punto del testo cruciale per la costituzione della trama
- …
