35,729 research outputs found
Dan Nolta
Dan Nolta (second from the right) is a 1962 graduate of George Fox College. He became pastor of Olympic View Friends Church (Tacoma, Washington) in September of 1969 guiding the construction of a new building. After many years, Dan, became the Chaplain (1984) in the Tacoma-Peirce County Sheriffs Department, where he served until his retirement. In retirement he and wife, Judy, a 1961 George Fox graduate, moved to Newberg, Oregon, in 2013. Dan and Judy have five children, two sons and three daughters.https://digitalcommons.georgefox.edu/noteable_individuals/1038/thumbnail.jp
Interview with C.P. Fox, Director of the Circus Museum
C.P. (Chappie) Fox helped establish the Circus World Museum in Baraboo, Wisconsin. Fox is interviewed by Jim Peck, WTMJ-TV host and Dan Dooley, coordinator of the Schlitz Old Milwaukee Days' Circus Parade. Fox talks about his early interest in circus life, his collection of memorabilia, and the planning and development of the Circus World Museum.GrayscaleSoun
George Fox University Faculty/Staff
George Fox University Faculty/Staff
1. Sam Sherril 2. Julia Hobbs 3. Sherrie Sherril 4. Marge Weesner 5. Dan Dunn ? 6. Joyce Davenport ? 7. Ron Crecelius 8. Jo Gerig 9. Lee Gerig 10. ? 11. ? 12. Jan Barlow ? 13. Bev Carr 14. Karen Peterson 15. Glenn Moran 16. Leni Liebler 17. Claudine Kratzberg 18. Bruce Longstroth 19. Gene Hockett 20. Jim Settle 21. Lee Nash 22. Flora Allen 23. Carolyn Staples 24. Myron Goldsmith 25. Rich Allen 26. Bob Gilmore 27. David LeShana 28. ? 29. Bob Lauinger 30. Bill Green 31. Joe Gilmore 32. Mary Green 33. Frank Kyte 34. Bill Loewen 35. Ralph Beebe 36. Joel Loken ? 37. ____ Crabbs 38. Don Millage 39. Harold Ankeny 40. Hank Helsabeck 41. Curt Loewen 42. Genette McNichols 43. Cyril Carr 44. Scott Chambers 45. Hector Munn 46. Paul Chamberlain 47. Arthur Roberts 48. Michael Graves 49. Herman Hughes 50. Jim Fleming ? 51. Sam Willard 52. Dennis Hagan 53. Jerry Friesen 54. Pete Snow 55. David Howard 56. ? 57. Richard Engnell 58. ? 59. Elver Voth 60. Mel Schroeder
1979-1980https://digitalcommons.georgefox.edu/gfu_photos_1975_1979/1423/thumbnail.jp
Ron Gregory
Ron Gregory graduated in 1963. He was appointed by Washington Governor Dan Evans to a position on the Governor’s Commission for Youth Involvement. Gregory was also president of Workman’s Compensation Advisor, Inc. in Seattle. He served on the George Fox Board of Trustees beginning in 1977.https://digitalcommons.georgefox.edu/noteable_individuals/1014/thumbnail.jp
Corporate capital allocation: a behavioral perspective
Previous research on capital investment has identified a tendency in multi-business firms toward cross-subsidization from well performing to poorly performing divisions, a phenomenon that has previously been attributed to principal-agent conflicts between headquarters and divisions (Stein, 2003). In this paper we argue that cross-subsidization reflects a more general tendency toward even allocation over all divisions in multi-business firms that is driven at least in part by the cognitive tendency to naïvely diversify when making investment decisions (Benartzi and Thaler, 2001). We observe that this tendency also leads to partition dependence in which capital allocations vary systematically with the divisions and subdivisions into which the firm is organized or over which capital is allocated. Our first study uses archival data to show that firms’ internal capital allocations are biased toward equality over the number of business units into which the firm is partitioned. Two further experimental studies of experienced managers examine whether this bias persists when participants are asked to allocate capital to various divisions of a hypothetical firm. This methodology eliminates the possibility of agency conflicts. Nevertheless, allocations varied systematically with the divisional and subdivisional structure of the firm, and whether capital was allocated in a centralized or decentralized manner
OPTIMASI PERTUMBURAN BAKTERI KHITINOLITIK Fox-14 DAN Fox-17 UNTUK FORMULASI BIOFUNGISIDA ANTI JAMUR Fusarium oxysporum
Perkembangan teknologi dalam mengatasi serangan jamur patogen tanaman adalah dengan metnanfaatkan potensi mikrobia khitinolitik. Bakteri khitinolitik isolat Fox-14 dan Fox- I 7 dad Ferniah et al (2003) mempunyai kemampuan menghambat pertumbuhan jamur Fusarium oxysporum. Untuk dapat dikembangkan sebagai agen biofungisida, kedua isolat tersebut harus diketahui kondisi optimum pertumbuhannya.
Penelitian ini bertujuan mengetahui kondisi optimum pertumbuhan Fox-14 dan Fox-17. Parameter yang diujikan meliputi pengaruh jenis media, pola pertumbuhan pada media yang sesuai, pengaruh penambahan sumber N dan sumber C, serta didukung dengan suhu dan pH inkubasi yang sesuai.
Hash! penelitian menunjukkan bahwa Fox-14 dan Fox-17 mempunyai kondisi optimum pertumbuhan sama, yaitu tumbuh balk pada media Nutrien Broth dengan mencapai Case logaritma pada 3 jam pertama inkubasi. Uptimalisasi media dieapai dengan penambahan sumber N dari NH4CI dan sumber C dari fruktosa. Suhu dan pH yang paling sesuai adalah 28°C dan pH 6.
SUMMARY
Some chitinolytic microbes are potential against some pathogenic fling) Fox-14 and Fox-17 chitinolytic bacteria (Ferniah et al, 2003) inhibit the growth of Fuson= oxysporum. To he use as a biofungicide, we must optimize the growth of that isolates.
This study will determine optimum condition of the Fox-14 and Fox-17 growth. The main parameters are the effect of different media, the growth curve in the optimum media, and the effect of nitrogen and carbon resources addition. The other parameters are optimum pH and temperature incubation.
Fox-14 and Fax-17 need a similar condition to grow optimum. The isolates grow well in the Nutrient Broth and reach logarithmic fuse on the early 8 hours incubation. Ailla as a nitrogen source and fructose as a carbon source can optimize the growth. Six and 29C are the optimum pH and temperature, respectively
Why are there more and more guns in America? Blame Fox News
Dan Cassion 80x108Why do Americans buy guns? For many, it’s because they are worried that new gun control measures may stop them from buying guns in the future. Dan Cassino examines the role of the news media – specifically Fox and network news, in driving Americans’ fears about gun control. He finds that while mass shootings do lead to an increase in gun sales – as measured by the number of background checks – coverage of gun control measures by Fox leads to far more. He writes that in the wake of the Sandy Hook shootings in 2012, for example, coverage of gun control by Fox News led to an additional 1.9 million background checks
Analisis Bangkitan dan Tarikan Perjalanan Gedung Hotel Fox Lite
Meningkatnya pembangunan infrastruktur adalah wujud perkembangan suatu kota, salah satu infrastruktur tersebut adalah hotel sebagai hunian sementara yang memberikan fasilitas terbaik bagi penginapnya. Salah satu hotel bintang tiga yang dibangun di Kota Samarinda ialah Fox Lite Hotel yang berdiri pada ruas Jalan S. Parman. Pembangunan hotel ini akan menimbulkan dampak terhadap sistem lalu lintas akibat adanya proses bangkitan dan tarikan, sehingga perlu dilakukan analisis pada masa operasional dan didapatkan model bangkitan dan tarikan perjalanan. Pengambilan data dilakukan dengan survei lapangan dan menyebarkan kuisioner kepada pengunjung serta pegawai Fox Lite Hotel yang kemudian diolah menggunakan Program SPSS Statics 23. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bangkitan dan tarikan yang ditimbulkan Fox Lite Hotel pada masa beroperasi dan pada masa 5 tahun mendatang, serta model bangkitan dan tarikannya. Hasil analisis perkiraan jumlah bangkitan perjalanan tahun 2023 sebesar 264 perjalanan/hari dan pada tahun 2028 sebesar 269 perjalanan/hari. Model bangkitan perjalanan dengan regresi linear berganda menunjukkan model bangkitan perjalanan Y = -0,664+ 0,861X1. Kemudian, hasil analisis perkiraan jumlah tarikan perjalanan yang ditimbulkan Fox Lite Hotel Samarinda tahun 2023 sebesar 236 perjalanan/hari dan pada tahun 2028 sebesar 241 perjalanan/hari. Model tarikan perjalanan dengan regresi linear berganda menunjukkan model tarikan perjalanan Y = 0,075 + 0,768X1
KUALITAS HASIL PENERJEMAHAN INDIVIDU DAN PENERJEMAHAN KELOMPOK (Studi Kasus Proses dan Hasil Penerjemahan Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Linguistik Minat Utama Penerjemahan Universitas Sebelas Maret Surakarta)
Dewasa ini, menerjemahkan bukanlah aktivitas baru lagi khususnya bagi
mereka yang berkecimpung di bidang akademis karena sebagian besar referensi
yang digunakan sebagai buku penunjang menggunakan bahasa asing (baca =
Inggris). Disadari atau tanpa disadari pada saat membaca referensi-referensi
tersebut sebenarnya mereka telah melakukan aktivitas menerjemahkan karena
mereka mencoba untuk mentransfer makna yang ada dalam teks sumber ke bahasa
sasaran (Indonesia) untuk bisa memahami makna yang terkandung dalam buku-
buku referensi tersebut.
Lebih lanjut, pada saat aktivitas menerjemahkan tersebut berlangsung,
mereka tidak peduli apa saja yang telah terjadi pada saat menerjemahkan
referensi-refensi yang mereka baca karena dalam benak mereka hanya terfokus
pada menerjemahkan teks referensi-referensi untuk memahami dan mengetahui
maksud dari teks referensi-referensi yang dibaca dalam bahasa mereka.
Padahal banyak hal yang sebenarnya terjadi pada saat menerjemahkan
seperti proses pencarian padanan yang sesuai dan tepat, proses pengambilan
keputusan, proses penyusunan kembali kalimat terjemahan mereka, dsb; sehingga
mereka bisa mencapai harapan untuk memahami dan mengetahui maksud dari
teks referensi tersebut.2
Sebagai contoh kasus diambil dari salah satu program studi yang
terdapat pada program Pascasarjana UNS yang referensinya menggunakan bahasa
Inggris seperti program studi Linguistik minat utama Penerjemahan. Mereka, para
civitas akademisi Program Studi Linguistik Minat Utama Penerjemahan hampir
setiap harinya harus berhadapan dengan referensi-referensi berbahasa Inggris. Di
sini, mereka mentransfer makna yang terkandung dalam buku referensi tersebut ke
dalam bahasa sasaran dan tanpa disadari mereka telah melakukan aktivitas
menerjemahkan yang disertai oleh proses penerjemahan yang berlangsung di
dalam otak.
Contoh kasus di atas diadopsi karena penelitian ini difokuskan pada
civitas akademisi Program Studi Linguistik Minat Utama Penerjemahan
Pascasarjana UNS dengan beberapa pertimbangan diantaranya yaitu kemampuan
penguasaan dan pemahaman kebahasaan yang mereka miliki seperti pengetahuan
kebahasaan (linguistik) yang meliputi semantik, pragmatik, sosiolinguistik,
analisa wacana dan analisa perbandingan (contrastive analysis). Selain itu, para
penerjemah
juga
memiliki
pengetahuan
tentang
penerjemahan.
Dengan
kompetensi lebih yang dimiliki civitas akademisi Program Studi Linguistik Minat
Utama Penerjemahan tersebut, peneliti mencoba untuk menggali lebih dalam
proses penerjemahan yang berlangsung selama penugasan dan kualitas terjemahan
yang mereka hasilkan.
Dalam penelitian ini, peneliti tidak hanya melihat proses dan produk dari
penerjemahan individu akan tetapi mencoba untuk membandingkan bentuk
penerjemahan tersebut dengan penerjemahan kelompok baik dari segi proses3
maupun produknya. Pertimbangan untuk membandingkan kedua bentuk
penerjemahan tersebut karena pada umumnya penerjemahan dilakukan secara
individu dan jarang sekali penerjemahan dilakukan secara berkelompok. Di
samping itu, sejauh ini penelitian-penelitian yang sering dilakukan terfokus pada
penerjemahan yang dilakukan oleh orang per orang (individu) daripada
penerjemahan yang dilakukan secara kelompok. Pada penerjemahan individu,
proses yang berlangsung benar-benar secara monolog mulai dari pengambilan
keputusan untuk menentukan strategi dan teknik penerjemahan, kemudian
penentuan makna yang sesuai, selanjutnya merangkai dan menyusun kembali
kalimat terjemahannya. Semuanya murni bergantung pada penerjemah itu sendiri
tanpa ada pertimbangan ataupun masukan dari pihak lain.
Bagaimana
dengan
penerjemahan
kelompok?
Apakah
proses
penerjemahan yang berlangsung pada penerjemahan kelompok sama dengan
proses penerjemahan yang dilakukan secara individu atau perorangan? Tentunya
proses yang terjadi bisa jadi berbeda dengan penerjemahan individu karena pada
saat menerjemahkan, mereka menemukan istilah-istilah yang mungkin tidak
diketahui maknanya atau mungkin dimengerti maknanya tetapi sulit untuk
diungkapkan dalam bahasa sumbernya, mereka tidak hanya dapat menemukan
maknanya dalam kamus serta memikirkan sendiri makna yang tepat dan sesuai
seperti yang dialami oleh penerjemah individu, melainkan mereka bisa bertukar
pikiran dan pendapat untuk memecahkan permasalahan sehingga mampu
memperoleh solusi yang tepat. Dengan kata lain, proses penerjemahan yang
berlangsung dalam penerjemahan kelompok terjadi secara dialog.4
Kemudian, setelah proses penerjemahan dengan penentuan strategi
penerjemahan yang tepat pastinya berpengaruh pada teknik penerjemahan seperti
contoh berikut ini
Data 004 TETS
Teks BSu Teks Bsa Individu Teks BSa Kelompok
At last all his money Semua uangnya sudah Suatu hari, semua
was gone and the habis. Dia hanya uangnya habis dan
shoemaker had only memiliki selembar kulit tukang sepatu itu hanya
enough leather left to yang cukup untuk memiliki bahan kulit
make one pair of shoes. membuat sepasang yang cukup untuk
sepatu. membuat sepasang
sepatu.
Kedua teks terjemahan di atas yaitu terjemahan individu dan kelompok memiliki
teknik penerjemahan yang berbeda. Teks terjemahan individu menggunakan dua
teknik terjemahan yaitu teknik penerjemahan literal dan teknik transposisi. Teknik
transposisi bisa diidentifikasi dari perubahan bentuk kalimat yaitu pada teks BSu
merupakan kalimat kompleks berubah menjadi dua kalimat simpleks pada teks
BSa. Teknik penerjemahan literal bisa dilihat dari struktur teks terjemahan
individu yang memiliki kesamaan dengan struktur yang terdapat pada teks Bsu,
sedangkan teknik penerjemahan yang terdapat pada teks BSa kelompok
merupakan teknik amplifikasi. Teknik ini tampak dari adanya informasi tambahan
pada teks BSa yang tidak terdapat pada teks BSu. Penambahan informasi tersebut
dapat diidentifikasi dari penambahan keterangan waktu suatu hari.
Meskipun jenis penerjemahnya berbeda yaitu penerjemah individu dan
penerjemah kelompok dan dengan penerapan strategi yang berbeda pula, tidak5
semua teknik penerjemahan yang dihasilkan juga berbeda semua. Ada beberapa
kalimat pada teks BSa pada terjemahan individu yang memiliki jenis teknik
penerjemahan yang sama dengan terjemahan kelompok. Di samping itu, ada pula
teks BSa pada terjemahan kelompok yang memiliki teknik penerjemahan sejenis,
seperti contoh kasus berikut ini
Data 01 TCLA
Teks BSu Teks Bsa Individu Teks BSa Kelompok
Translation Kompetensi Kompetensi
Competence and Penerjemahan dan Penerjemahan dan
Language Awareness Kesadaran Bahasa. Pengetahuan Bahasa.
Kedua teks terjemahan di atas yaitu teks BSa Individu dan teks BSa Kelompok
menggunakan teknik penerjemahan yang sama yakni teknik penerjemahan literal.
Teknik penerjemahan literal tersebut bisa dilihat dari struktur kedua terjemahan
yang dihasilkan oleh masing-masing penerjemah. Terjemahan tersebut memiliki
struktur yang sama dengan struktur yang terdapat pada teks BSu. Meskipun
memiliki teknik penerjemahan yang sama, namun kedua terjemahan tersebut juga
memiliki tingkat kesepadanan yang berbeda yang dikarenakan adanya perbedaan
pada pemilihan istilah. Awareness oleh penerjemah individu diterjemahkan
sebagai
kesadaran
namun
oleh
penerjemah
kelompok
istilah
tersebut
diterjemahkan menjadi pengetahuan. Istilah yang tepat untuk menggantikan
istilah awareness adalah pengetahuan karena dalam kamus Oxford awareness
berarti having knowledge of somebody or something; interested in and knowing
about something.6
Penelitian berikutnya adalah untuk melihat kualitas terjemahan dari
kedua bentuk penerjemahan tersebut. Bagaimana kualitas terjemahan yang
dihasilkan oleh kedua penerjemah dengan pertimbangan penerapan strategi
penerjemahan yang berbeda dan teknik penerjemahan yang ada? Kedua bentuk
penerjemahan, penerjemahan kelompok dan penerjemahan individu, mungkin
akan menghasilkan terjemahan yang berbeda termasuk dari segi kualitas
terjemahannya apabila dilihat dari segi kesepadanan, keberterimaan, dan
keterbacaan, meskipun para penerjemah memiliki kompetensi atau keahlian yang
sama atau hampir sama. Belum tentu terjemahan yang dikerjakan secara
kelompok memiliki kualitas yang baik dibanding dengan penerjemahan yang
dilakukan secara individu. Begitu juga sebaliknya, bisa jadi teks terjemahan dari
penerjemah individu memiliki kualitas yang lebih baik dari teks terjemahan
kelompok.
Penelitian ini akan membandingkan kedua bentuk penerjemahan tersebut
yaitu penerjemahan individu dan kelompok dari beberapa segi di antaranya dari
segi strategi penerjemahan, teknik penerjemahan serta kualitas penerjemahan,
sedangkan materi yang digunakan sebagai tolak ukur dari ketiga segi di atas
dalam penelitian ini terdiri atas dua teks yaitu (1) kalimat-kalimat yang terdapat
pada penggalan teks non-fiksi yaitu teks yang terkait dengan penerjemahan
“Translation Competence and Language Awareness” dan (2) kalimat-kalimat
pada penggalan teks fiksi yaitu teks yang terkait dengan karya sastra “The Elves
and The Shoemaker”.7
Kedua materi di atas dipilih sebagai sumber dalam penelitian ini karena
teks tersebut sudah mencakup dalam keahlian atau kompetensi yang dimiliki oleh
penerjemah, meliputi kompetensi kebahasaan (linguistik), kompetensi budaya,
kompetensi tekstual, kompetensi bidang ilmu, kompetensi strategi, dan
kompetensi transfer
- …
