6 research outputs found

    Penentuan Beasiswa Pada SMPN 6 Pangkalpinang Menggunakan Metode SAW dan Fuzzy Multi Attribute Decision Making

    No full text
    Beasiswa merupakan salah satu alat penting dalam memajukan pendidikan untuk siswa/siswi baik beasiswa untuk siswa berprestasi maupun beasiswa kurang mampu.  Namun seringkali pihak sekolah bingung untuk menentukan siswa yang berhak menerima beasiswa tersebut, yang pada akhirnya penerima beasiswa tersebut tidak tepat sasaran.. Hal ini disebabkan karena belum adanya metode atau alat bantu yang digunakan untuk menentukan penerima beasiswa  tersebut. Untuk itu dirancang suatu sistem untuk menentukan siswa yang berhak menerima beasiswa dengan menggunakan metode Simple Additive Weighting (SAW) dan Fuzzy Multi Attribute Decision Making (FMADM). Metode SAW digunakan untuk merangking dari alternatif yang ada. Metode FMADM digunakan untuk mencari alternatif dari sejumlah alternatif dengan kriteria-kriteria yang telah ditentukan. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai alat bantu dalam mengambil keputusan untuk merekomendasikan sekolah dasar berbasis Islam

    BIOMONITORING PENCEMARAN MIKROPLASTIK MENGGUNAKAN IKAN KUWE (Caranx latus) DAN ANALISIS MIKROPLASTIK PADA AIR PERMUKAAN DI PESISIR TELUK BUNGUS, SUMATRA BARAT

    No full text
    Pencemaran mikroplastik di perairan terus menjadi perhatian utama karena potensinya merugikan organisme hidup dan ekosistem air. Biomonitoring pencemaran mikroplastik menggunakan ikan sebagai bioindikator untuk memantau tingkat pencemaran mikroplastik dilingkungan perairan. Penelitian bertujuan mengidentifikasi kelimpahan dan karakteristik mikroplastik pada ikan kuwe (Caranx latus) dan air permukaan di pesisir Teluk Bungus, Sumatra Barat. Sampel air dan ikan kuwe diambil dari 3 lokasi yang berbeda di Teluk Bungus. Kelimpahan rata-rata mikroplastik pada sampel ikan kuwe di pencernaan sebesar 21,63 ± 3,99 partikel/ikan, dan di pernapasan sebesar 9,23 ± 1,92 partikel/ikan sedangkan di air permukaan berkisar antara 55,89 ± 7,98 partikel/L. Bentuk mikroplastik paling tinggi adalah fiber, pada ikan kuwe 25,47% dan pada air permukaan 41,79%. Warna mikroplastik paling dominan adalah merah 17,03% pada ikan kuwe, dan 24,15% pada air permukaan. Ukuran mikroplastik teridentifikasi paling banyak adalah <0,5 mm pada ikan kuwe 56,89% dan air permukaan 59,14%. Jenis polimer mikroplastik yang ditemukan pada ikan kuwe dan air permukaan adalah PE, PVC, PET, dan PS dan paling dominan adalah PE, 46,50% pada ikan kuwe dan 57,20% pada air permukaan. Berdasarkan karakteristiknya, mikroplastik diidentifikasi lebih banyak pada pencernaan dibandingkan pernafasan (p<0,05). Nilai BCF rata-rata keseluruhan 0,0020 menunjukkan konsentrasi mikroplastik dalam jaringan ikan dalam kelompok rendah. Analisis korelasi menunjukkan adanya hubungan positif yang kuat antara kelimpahan mikroplastik pada ikan kuwe dan air permukaan Teluk Bungus (r = 0,0951). Hasil ini menunjukkan bahwa ikan kuwe dapat digunakan sebagai indikator dalam biomonitoring yang efektif untuk mengukur tingkat pencemaran mikroplastik di Teluk Bungus. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pemahaman tentang distribusi dan dampak pencemaran mikroplastik di perairan pesisir Teluk Bungus, serta menyediakan dasar untuk pengembangan strategi pengelolaan yang efektif dalam mengurangi pencemaran mikroplastik di masa mendatang. Kata kunci: Air permukaan, Biomonitoring, Caranx latus, Mikroplastik, Teluk Bungu

    APLIKASI PEMBUATAN KOMPOSTER SEDERHANA DI KELURAHAN TELUK KABUNG TENGAH KOTA PADANG DAN KELURAHAN RENGAS CONDONG KABUPATEN BATANG HARI JAMBI

    No full text
    Sampah adalah sesuatu yang tidak berguna yang timbul akibat dari kegiatan manusia. Permasalahan sampah merupakan hal yang sulit terselesaikan, dikarenakan semakin meningkatnya jumlah penduduk, maka volume sampah organik rumah tangga juga akan semakin meningkat di perkotaan, yang tidak diiringi dengan pengelolaan, sistem manajemen, serta kesadaran masyarakat akan pengelolaan sampah. Salah satu teknologi tepat guna yang dapat mengatasi permasalahan sampah adalah mengolah sampah organik rumah tangga dengan metode komposting menggunakan komposter yang berbasis program pemberdayaan dan pengembangan masyarakat. Program pemberdayaan dan pengembangan masyarakat aplikasi pembuatan komposter sederhana dilakukan di dua lokasi yaitu Kelurahan Teluk Kabung Tengah Kecamatan Bungus Teluk Kabung Kota Padang Provinsi Sumatera Barat dan RT 032 RW 005 Kelurahan Rengas Condong Kecamatan Muara Bulian Kabupaten Batang Hari Jambi. Program pemberdayaan dan pengembangan masyarakat ini untuk memberdayakan masyarakat dan mengembangkan pengetahuan masyarakat tentang pengolahan sampah organik rumah tangga dengan metode komposting menggunakan komposter sederhana. Dari kegiatan ini masyarakat telah memperoleh peningkatan pengetahuan dari program pemberdayaan dan pengembangan keterampilan masyarakat dalam pengolahan sampah organik rumah tangga menjadi kompos dengan metode komposting menggunakan komposter serta motivasi masyarakat sekitar dalam upaya mengurangi sampah organik di lingkungan sekitar lokasi kegiatan. Pemanfaatan sampah organik menjadi kompos dapat mengurangi pencemaran lingkungan, bernilai ekonomis, bernilai jual, dan dapat memberikan nutrisi pada tanaman

    Analysis of Microplastics of Bilih Fish (Mystacoleucus padangensis) in Lake Singkarak, West Sumatra Using FT-IR Spectroscopy

    No full text
    Abstract: Microplastics have become a global concern due to their wide distribution and ecological effects. Understanding the interactions between microplastics and ecosystems is important for environmental risk assessment. This study analyzed the abundance and distribution of microplastics in Lake Singkarak. Substantial microplastic research is still lacking for freshwater biota, so a study was conducted to determine the level of microplastic pollution in bilih fish tissue. The fish's size, weight, and sampling point were studied about microplastic uptake through two channels, digestion and respiration. From the results, the types of polymers identified in this study were polyethylene, polyvinyl chloride, and polyethylene terephthalate. Overall, 7.14% - 23.53% (average = 11.48%) of microplastics were identified in the D tract of bilih fish from sixteen different sampling points. While 7.69% - 17.39% (average = 11.85%) of microplastics were identified in the respiration of bilih fish. The highest percentage of the abundance of microplastic forms in the digestions identified was fiber at 70.42% and 66.82% in the digestions. At the same time, The lowest percentage identified was fragmented, with an average abundance of 29.58% in digestion and 33.32% in respiration. In conclusion, this study reveals the presence and impact of microplastics in Lake Singkarak, West Sumatra, on the bilih fish (Mystacoleucus padangensis). By examining the fish's digestive and respiratory systems and using FT-IR Spectroscopy, the research highlights the ecological and economic implications of microplastic pollution. These findings emphasize the need for targeted conservation and management strategies.Abstrak: Mikroplastik telah menjadi perhatian global karena distribusinya yang luas dan efek ekologisnya. Pemahaman tentang interaksi antara mikroplastik dengan ekosistem dinilai penting untuk penilaian risiko lingkungannya. Penelitian ini menganalisis kelimpahan dan distribusi mikroplastik di Danau Singkarak. Penelitian mikroplastik secara substansial masih sedikit untuk biota air tawar maka dilakukan penelitian untuk menentukan tingkat polusi mikroplastik pada jaringan ikan bilih. Ukuran, berat, dan titik sampling ikan diteliti dalam kaitannya dengan jerapan mikroplastik melalui dua saluran, yaitu digestif (pencernaan) dan respirasi (pernapasan). Dari hasil penelitian, jenis polimer yang teridentifikasi dalam penelitian ini adalah jenis polietilen, polivinil klorida, dan polietilen tereftalat. Secara keseluruhan 7,14% - 23,53% (rata-rata = 11,48%) mikroplastik teridentifikasi pada digestif ikan bilih dari enam belas titik sampling yang berbeda. Sementara 7,69% - 17,39% (rata-rata = 11,85%) mikroplastik teridentifikasi pada respirasi ikan bilih. Persentase kelimpahan bentuk mikroplastik tertinggi pada digestif yang diidentifikasi adalah fiber sebesar 70,42% dan 66,82% pada digestif. Sementara persentase terendah yang diidentifikasi adalah fragment dengan rata-rata kelimpahan sebesar 29,58% di digestif dan 33,32% di respirasi. Sebagai kesimpulan, penelitian ini mengungkap keberadaan dan dampak mikroplastik di Danau Singkarak, Sumatera Barat, pada ikan bilih (Mystacoleucus padangensis). Dengan memeriksa sistem pencernaan dan pernapasan ikan serta menggunakan Spektroskopi FT-IR, studi ini menunjukkan implikasi ekologis dan ekonomi dari polusi mikroplastik. Temuan ini menekankan perlunya strategi konservasi dan pengelolaan yang terarah

    Analysis of Microplastics on Digestive and Respiration System of Horse-Eye Jack Fish (Caranx latus) in Coastal Bungus Bay, West Sumatra

    No full text
    Microplastic pollution accumulates in the marine environment, thus impacting the health of marine organisms. The purpose of this study was to analyze and identify the abundance and characteristics of microplastics in Horse-Eye Jack fish (Caranx latus) in coastal Bungus Bay, West Sumatra. Fish samples were taken at three different locations, namely, Sako beach, Caroline Beach, and the east side of Bungus Bay. The average abundance of microplastics in horse-eye Jack fish samples in digestive is 21.63 ± 3.99 particles/fish, and in respiration, 9.23 ± 1.92 particles/fish. The shape identified forms of microplastics are fibers, films, fragments, granules, and foam, and the dominant color of microplastics is red. The most common size of microplastics found was &lt;0.5 mm. FT-IR spectroscopy analysis showed that the polymer types of microplastics found were PE, PVC, PET, and PS. Statistical tests showed differences between the abundance of microplastics in two pathways of microplastic uptake (digestive and respiration), and the sampling location P&lt;0.05. The results showed that microplastics were found in all Horse-Eye Jackfish samples in Bungus Bay, West Sumatra.These findings highlight microplastics' harm to the marine ecosystem and the necessity of managing plastic waste if we hope to avoid future plastic pollution catastrophesPencemaran mikroplastik terakumulasi di lingkungan laut, sehingga berdampak pada kesehatan organisme laut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk Menganalisis dan mengidentifikasi kelimpahan, dan karakteristik mikroplastik pada &nbsp;ikan horse-eye jack &nbsp;(Caranx latus) di pesisir Teluk Bungus, Sumatra Barat. Sampel &nbsp;ikan horse-eye jack &nbsp;diambil pada 3 lokasi yang berbeda yaitu di Pantai sako, Pantai caroline dan sebelah timur Teluk Bungus. Rata-rata kelimpahan mikroplastik pada sampel &nbsp;ikan horse-eye jack &nbsp;di&nbsp; pencernaan (digestif) sebesar 21.63 ± 3.99 partikel/ikan, dan di&nbsp; pernapasan (respirasi) sebesar 9.23 ± 1.92 partikel/ikan. Bentuk mikroplastik yang teridentifikasi adalah&nbsp; fiber, film, fragment, granule, dan foam, dan warna mikroplastik yang dominan adalah merah. Ukuran mikroplastik yang paling umum ditemukan adalah &lt;0.5 mm. Analisis spektroskopi FT-IR menunjukkan bahwa jenis polimer mikroplastik yang ditemukan adalah PE, PVC, PET, dan PS. Uji T- menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara jumlah mikroplastik terhadap dua jalur jerapan mikroplastik pada ikan (pencernaan dan pernapasan) P&lt;0.05. Uji one way ANOVA menunjukkan perbedaan lokasi sampling berpengaruh nyata terhadap kelimpahan mikroplastik pada ikan (p&lt;0.05). Penelitian ini menunjukkan bahwa mikroplastik ditemukan seluruh sampel &nbsp;ikan horse-eye jack &nbsp;di pesisir Teluk Bungus, Sumatra Barat. This provides valuable insight into the impact of microplastics on the marine environment. &nbsp; Kata kunci: Mikroplastik, Teluk Bungus, pencernaan, pernapasan, Caranx latus &nbsp

    Skrining Fitokimia dan Uji Aktivitas Antioksidan Jamur AS-3 yang Diisolasi dari Akar Sambiloto: Phytochemical Screening and Antioxidant Activity of Fungus AS-3 Isolated from The Root of Sambiloto

    No full text
    Sambiloto, often referred to as the “Raja Pahit”, is a plant belonging to the Acanthaceae family. This plant is known to produce secondary metabolite compounds with various biological benefits, including antioxidant properties. Antioxidant compounds have been shown to counteract the formation of free radicals that are harmful to the body. The antioxidant activity of the Sambiloto plant can be evaluated using endophytic fungi associated with it. This study aimed to identify secondary metabolite compounds and evaluate the antioxidant activity of AS-3 Fungus isolated from the Sambiloto roots. Phytochemical analysis revealed that the ethyl acetate extract of AS-3 contained terpenoids, flavonoids, and alkaloids. In addition, the antioxidant activity test showed promising results, with an IC50 value of 10.225 ppm, indicating high antioxidant potential. This is the first report on the phytochemical screening and antioxidant activity test of the ethyl acetate extract of AS-3 fungus isolated from Sambiloto roots
    corecore