83 research outputs found

    Pengaruh Penggunaan Media Gambar Dan Video Terhadap Hasil Belajar kelas VIII mata pelajaran IPS di MTsN 10 Jombang

    Get PDF
    Harianto, feri. 2020. Pengaruh media gambar dan video terhadap hasil belajar IPS bab negara-negara ASEAN di MTsN 10 jombang,. Skripsi, jurusan tadris ilmu pengetahuan sosial, institut agama islam negri tulungagung, pembimbing: hendra pratama, M.Pd. Kata kunci: media video, hasil belajar IPS Media pembelajaran gambar dan video merupakan cara alternatif dalam kegiatan pembelajaran. Penggunaan media gambar dan video akan mempengaruhi hasil belajar siswa. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh media pembelajaran gambar dan video terhadap hasil belajar IPS kelas VIII. Apakah ada perbedaan hasil belajar siswa antara penggunaan media pembelajaran menggunakan gambar dan video dengan konvensional kelas VIII. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen berbentuk Quasi Experimental Design Type Nonequivalent Control Group Design yang menggunakan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen diberi perlakuan menggunakan media gambar dan video, sedangkan kelompok kontrol melaksanakan pembelajaran seperti biasa dengan konvensional. Variabel penelitian ini terdiri dari variabel bebas yaitu media gambar dan video, dan variabel terikat yaitu hasil belajar IPS. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII D dan VIII F MTsN 10 JOMBANG yang berjumlah 64 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan tes hasil belajar IPS dan lembar angket. Teknik analisis data menggunakan uji-t untuk menguji pengaruh penggunaan media Gambar dan video terhadap hasil belajar IPS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perhitungan rata-rata nilai post-test kelompok eksperimen sebesar 74,22 lebih tinggi daripada rata-rata kelompok kontrol sebesar 68,28. Hasil analisis data menunjukan nilai sig(2tailed)=0,046 lebih besar dari 0,05, atau H0 ditolak. Artinya ada perbedaan yang signifikan antara hasil post-test kelas eksperimen yang menggunakan media gambar dan video pembelajaran dengan kelas kontrol yang konvensional. Hal ini dapat dimaknai bahwa pembelajaran yang menggunakan media gambar dan video memiliki hasil belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan pembelajaran yang tidak menggunakan media gambar dan video. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh positif penggunaan media gambar dan video terhadap hasil belajar IPS kelas VIII di MTsN 10 JOMBANG

    Model Pengembangan Peningkatan Kinerja K3 Konstruksi Berbasis Perilaku Keselamatan Dengan Mengggunakan Sistem Dinamik

    No full text
    Perkembangan pesat sektor konstruksi di Indonesia membawa dampak risiko kecelakaan kerja yang tinggi. Sebagian besar tenaga kerja di sektor mempunyai kesadaran yang masih rendah tentang keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dan bekerja tidak sesuai dengan kompetensinya. Selain itu juga masih banyaknya perusahaan yang berorientasi pada produktivitas, penghematan biaya, dan kinerja keuangan jangka pendek. Salah satu ukuran kinerja proyek konstruksi adalah keselamatan dan kesehatan kerja, oleh karena itu, perilaku keselamatan pekerja mempunyai peran penting dalam mewujudkan kinerja K3. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja K3 proyek konstruksi gedung yang didasarkan pada pemahaman dan perilaku K3 pekerja. Pendekatan yang digunakan dalam proses penelitian adalah sistem dinamik. Model yang disimulasikan adalah peningkatan kinerja K3. Pemodelan kinerja K3 dikembangkan didasarkan integrasi submodel diagram kausal, yaitu pemahaman K3, perilaku K3, dan kinerja K3. Skenario dalam pemodelan sistem dinamik adalah patroli K3, insendtif moneter, video, dan game K3. Responden sebagai sampel adalah pekerja berjumlah 30 orang dengan pengambilan data menggunakan kuesioner. Pengambilan sampel menggunakan metode accidental sampling, Penelitian dilakukan di proyek konstruksi gedung yang telah menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3) di Surabaya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa skenario berbasis video K3, game K3, patroli K3, dan insentif moneter dapat memperkuat pemahaman K3 dan kepatuhan menjalankan SOP K3 dan kinerja K3, sedangkan dampak tertinggi terhadap tingkat pemahaman dan kepatuhan K3 adalah skenario video K3, selanjutnya dampak tertinggi kinerja K3 adalah skenario game K3. Kontribusi hasil penelitian ini menjelaskan bahwa dengan pelatihan K3 yang rutin dan terencana menggunakan video dan game K3 dapat meningkatkan perilaku keselamatan kerja, sehingga pada akhirnya menurunkan tingkat kecelakaan kerja di proyek konstruksi. ======================================================================================================================================== The rapid development of the construction sector in Indonesia has resulted in a high risk of occupational accidents. Most of the workforce in this sector still has a low level of awareness regarding occupational safety and health (OSH) and often works beyond their competencies. Additionally, many companies remain focused on productivity, cost efficiency, and short-term financial performance. One of the key performance indicators in construction projects is occupational safety and health. Therefore, workers’ safety behavior plays a vital role in achieving optimal OSH performance. This study aims to improve OSH performance in building construction projects based on workers’ understanding and safety behavior. The research approach employed is system dynamics. The model developed simulates the enhancement of OSH performance. The OSH performance model is constructed through the integration of three causal sub-models: OSH understanding, OSH behavior, and OSH performance. The system dynamics modeling involves four intervention scenarios: OSH patrols, monetary incentives, OSH videos, and OSH games. The respondents consisted of 30 construction workers selected using an accidental sampling method. Data collection was carried out using questionnaires. The study was conducted at a building construction project in Surabaya that has implemented an Occupational Safety and Health Management System. The results of the study show that OSH video-based scenarios, OSH games, safety patrols, and monetary incentives effectively enhance OSH understanding, compliance with safety procedures (SOP), and overall OSH performance. Among these, the OSH video scenario had the most significant impact on understanding and SOP compliance, while the OSH game scenario had the greatest effect on improving OSH performance. This study contributes to the body of knowledge by demonstrating that regular and well-planned OSH training using video and game based media can improve workers’ safety behavior, ultimately leading to a reduction in workplace accidents on constructio

    IKLIM KESELAMATAN KERJA PADA PROYEK KONSTRUKSI DI SURABAYA

    No full text
    One measure of global competition in the construction sector is the low accident rate (zero accident). To realize this, a conducive work safety climate is needed. Work safety climate can be realized needed occupational safety and health management and workforce support. This study aims to evaluate the work safety climate. Sampling was used a purposive sampling method with a work safety climate measurement tool in the form of a questionnaire based on NOSACQ-50 consisting of 7 dimensions, with analysis using a descriptive frequency test, Mann Whitney, and Chi-Square. The results showed that the three projects studied had a good safety climate, besides there were differences in management's safety priorities. The other dimensions, that are the dimensions of developing work safety management, fairness to work safety management, commitment to employee safety, employee safety priorities and the attitude of not wanting to risk work safety, communication and safety training including trusting in peer safety, competence, and worker’s confidence in the work safety system shows that there is no difference. Chi-square test shows that there is no relationship between safety climate with education level, age level and years of service.Salah satu ukuran persaingan global di sektor konstruksi adalah tingkat kecelakaan kerja yang rendah (zero accident). Untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan iklim keselamatan kerja yang kondusif. Dalam mewujudkannya dibutuhkan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja serta dukungan tenaga kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi iklim keselamatan kerja. Pengambilan sampel digunakan metode purposive sampling dengan alat ukur iklim keselamatan kerja berupa kuesioner yang didasarkan pada NOSACQ-50 yang terdiri dari 7 dimensi, dengan analisis menggunakan uji deskriptif frekuensi, Mann Whitney dan Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga proyek yang diteliti mempunyai iklim keselamatan yang baik, selain itu terdapat perbedaan prioritas keselamatan kerja manajemen. Dimensi lainnya yaitu dimensi pengembangan keselamatan kerja manajemen, keadilan terhadap keselamatan kerja manajemen, komitmen keselamatan kerja karyawan, prioritas keselamatan kerja karyawan dan sikap tidak ingin ambil risiko keselamatan kerja, komunikasi dan pelatihan keselamatan kerja termasuk percaya terhadap kompetensi keselamatan kerja rekan, dan kepercayaan pekerja dalam sistem keselamatan kerja menunjukkan hasil bahwa tidak terdapat perbedaan. Pada uji Chi-square menunjukkan tidak terdapat hubungan antara iklim keselamatan dengan tingkat pendidikan, tingkat usia dan masa kerja

    EFEK PERILAKU PEKERJA DAN PENGALAMAN PEKERJA TERHADAP KECELAKAAN KERJA PADA PEKERJAAN MECHANICAL ELECTRICAL DI PROYEK KONTRUKSI SURABAYA

    Get PDF
    Perilaku dan pengalaman pekerja merupakan faktor penyebab bertambah atau berkurangnya kecelakaan kerja, baik berasal dari dalam maupun dari luar diri manusia itu sendiri. Oleh karena itu peranan penerapan program K3 sejal awal proyek berlangsung sangatlah berpengaruh untuk perilaku dan pengalaman pekerja. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan pengambilan data melalui kuesioner. Responden penelitian yaitu mandor, tukang, dan pekerja dengan ukuran sampel 46 responden pada 3  proyek konstruksi di Surabaya. Analisis yang digunakan adalah analisis regresi regresi berganda dengan dua variabel bebas dan satu variabel terikat yang diuji dengan menggunakan uji asumsi klasik untuk memenuhi kaidah BLUE (Best Linier Unbias Estimator). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku pekerja dan pengalaman pekerja berpengaruh signifikan terhadap kecelakaan kerja, baik secara individu maupun simultan (? 0.05)

    Analisis Risiko Usaha Jasa Konsultan Pengawas Proyek Konstruksi di Surabaya

    Get PDF
    Usaha pada bidang proyek konstruksi memiliki risiko yang tinggi. Pada usaha jasa konsultan pengawas, risiko dapat muncul pada bidang pemasaran, produksi, dan sumber daya. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan identifikasi, analisis, dan respon  risiko pada pekerjaan jasa konsultan pengawas. Pengambilan data menggunakan kuesioner dengan responden yaitu Direktur, Team Leader, Quantity Engineer, Inspector, dan Administrator pada perusahaan jasa konsultan pengawas di Surabaya. Pengambilan responden menggunakan purposive sampling. Analisis risiko yang digunakan adalah Severity Index yang dikombinasikan dengan perkalian probabilitas dengan dampak. Respon dilakukan terhadap risiko dominan dengan kategori tidak dapat diterima (unacceptable) dan tidak diharapkan (undesirable). Hasil dari penelitian ini yaitu terdapat 3 risiko dengan kategori unacceptable dan 4 risiko dengan kategori undesriable. Respon terhadap risiko tersebut adalah dengan mengurangi risiko (risk reduction). Risiko dengan kategori unacceptable yaitu: pembayaran termin terlambat, pengendalian dokumen tidak baik, dan terjadi perubahan desain. Respon dengan mempersiapkan dokumen persyaratan pembayaran termin, melakukan kajian terhadap desain sebelum proses konstruksi, memfasilitasi personil dengan peralatan untuk menunjang pengawasan. Risiko dengan kategori undesirable yaitu: dokumen kualifikasi tidak sesuai, pencapaian progres rendah, adanya temuan oleh tim audit, dan kurangnya team work. Respon dengan  menyusun kualifikasi dan mengikuti lelang sesuai sub bidang, melakukan evaluasi terhadap jadwal disertai metode percepatan, menyusun laporan administrasi teknis maupun non-teknis terhadap setiap perubahan, membangun komunikasi yang baik dalam tim.

    Faktor-Faktor Keberhasilan Program Keselamatan Pada Perusahaan Konstruksi di Surabaya

    Get PDF
    Program K3 merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap perusahaan. Keberhasilan program K3 merupakan sasaran utama bagi setiap perusahaan yang bergerak di bidang jasa konstruksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang paling utama dalam keberhasilan pelaksanaan program K3. Penelitian ini menggunakan metode pembobotan TEV untuk mengetahui nilai kepentingan faktor keberhasilan program K3 dengan cara membuat pohon keputusan, kemudian dilanjutkan dengan pembobotan nilai menggunakan metode Delphi, expected value menjadi tahap akhir untuk menghitung nilai harapan tiap kelompok anak cabang pohon keputusan. Pengambilan data menggunakan kuesioner, dengan jumlah sampel sebesar 30 orang. Responden pada penelitian ini adalah divisi HSE, project manager dan site engingeering. Penelitian dilakukan di 5 perusahaan konstruksi di Surabaya. Variabel penelitian yang digunakan yaitu komitmen pimpinan, komunikasi, partisipasi pekerja, prosedur dan kebijakan K3, insentif, pelatihan K3, sarana dan prasarana serta peralatan. Hasil dari penelitian ini adalah expected value dari faktor keberhasilan program K3 pada perusahaan konstruksi di Surabaya adalah 3,68 dengan kategori tinggi sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan program K3 pada perusahaan konstruksi di Surabaya sudah berjalan dengan baik. Faktor yang paling dominan dalam keberhasilan K3 adalah komunikasi dengan nilai bobot 14,9%. Oleh karena itu pentingnya komunikasi di lapangan melalui safety talk perlu dilakukan pada setiap memulai pekerjaan

    Pengaruh Safety Talk terhadap Tingkat Pemahaman K3 pada Pekerja Dimoderasi dengan Gender Instruktur Safety Talk

    Get PDF
    Safety talk merupakan salah satu upaya pencegahan kecelakaan kerja pada proyek konstruksi dengan cara memberikan edukasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Namun, tidak diketahui secara pasti apakah safety talk memang dapat berpengaruh terhadap tingkat pemahaman K3 pada pekerja atau tidak. Selain itu, apakah gender instruktur safety talk dapat mempengaruhi tingkat pemahaman K3 pada pekerja. Mengingat mayoritas pekerja konstruksi adalah pria, yang cenderung lebih memperhatikan wanita dalam lingkungan proyek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh safety talk dengan dimoderasi jenis kelamin instruktur terhadap tingkat pemahaman K3 pada pekerja. Penelitian ini bersifat pre-experimental design menggunakan cross-section data. Pengambilan data dilakukan menggunakan kuesioner dengan respondennya adalah tukang dan pekerja, ukuran sampel sebesar 60 orang. Analisis yang digunakan adalah regresi dengan dimoderasi, dengan variabel bebas adalah safety talk, variabel tak bebas adalah tingkat pemahaman K3, dan variabel moderasi adalah gender. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa safety talk berpengaruh signifikan terhadap tingkat pemahaman K3 (T hitung = 16,804 T tabel = 2,0017). Gender instruktur safety talk wanita lebih baik dari pria dalam memberikan tingkat pemahaman K3, hal ini terlihat peningkatan nilai R square sebesar 5,95%

    EFEK SAFETY TALK TERHADAP PERILAKU K3 DI PROYEK APARTEMEN GRAND DHARMAHUSADA LAGOON SURABAYA

    No full text
    Pelaksanaan proyek konstruksi berisiko tinggi terjadinya kecelakaan kerja, salah satu penyebabnya adalah rendahnya kesadaran dan pemahaman tenaga kerja tentang keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Salah satu cara meningkatkan kesadaran dan pemahaman K3 yaitu melalui kegiatan safety talk. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui adanya perbedaan perilaku K3 antara pekerja yang mengikuti dan tidak mengikuti safety talk. Metode penelitian ini menggunakan experiment design dengan perlakuan safety talk. Pengukuran perilaku K3 menggunakan kuesioner dengan pekerja sebagai respondennya, ukuran sampel sebesar 15 orang ditiap kelompok experiment. Analisis yang digunakan adalah uji perbedaan dengan analisis uji independent t test. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara pekerja yang mengikuti dan tidak mengikuti safety talk dengan nilai 0.00 <0.05. Pekerja yang mengikuti safety talk memiliki perilaku K3 lebih baik dibandingkan dengan pekerja yang tidak mengikuti safety talk.The implementation of construction projects has a high risk of work accidents, one of the causes is the low level of awareness and understanding of workers about Occupational Health and Safety (OHS). One way to increase awareness and understanding of OHS is through safety talk activities. The purpose of this study was to determine the differences in OHS behavior between workers who followed and did not follow the safety talk. This research method used experiment design with safety talk treatment. Measurement of OHS behavior using a questionnaire with workers as respondents, a sample size of 15 people in each experimental group. The analysis used is the difference test with independent t-test analysis. The results showed a significant difference between workers who followed and did not participate in the safety talk with a value of 0.00 <0.05. Workers who take safety talk have better OHS behavior than workers who don't

    PENGARUH PENGALAMAN KERJA, SAFETY MORNING TALK (SMT), DAN POSTER K3 TERHADAP KECELAKAAN KERJA YANG DIMODERASI OLEH KEPATUHAN PROSEDUR KERJA

    Get PDF
    Semua pekerjaan mengandung resiko terjadi kecelakaan salah satunya yaitu pekerjaan pembangunan proyek konstruksi, dengan demikian tidak menuntut kemungkinan jika sering terjadi kecelakaan terhadap pekerja dilokasi proyek. Pengalaman kerja, safety morning talk, poster K3, dan kepatuhan prosedur kerja diperkirakan memiliki potensi mempengaruhi terjadinya kecelakaan kerja dimoderasi oleh kepatuhan prosedur kerja. Teknik pengambilan sampel penelitian menggunakan metode non probability sampling disertai teknik purposive sampling. Responden penelitian adalah mandor,tukang dan kuli. Penyebaran kuesioner di 2 proyek, yaitu Proyek Pembangunan Apartemen Grand Dharmahusada Lagoon dan Pembangunan Rumah Sakit Katolik St Vicentius Paulo (RKZ). Berdasarkan hasil analisis sebelum dimoderasi pengalaman kerja (X1) berpengaruh signifikan terhadap kecelakaan kerja (Y) (T-statistic = 2,107 1,96). sedangkan safety morning talk (X2) tidak berpengaruh terhadap kecelakaan kerja (Y) (T-statistic = 0,072 1,96). Poster K3 (X3) berpengaruh signifikan terhadap kecelakaan kerja (Y) (T-statistic = 5,250 1,96). Untuk setelah dimoderasi (X1) tidak berpengaruh terhadap (Y) yang dimoderasi (Z) (T-statistics 0,002 1,96). Untuk (X2) tidak berpengaruh terhadap (Y) yang dimoderas i (Z) (T-statistics 0,016 1,96).  (X3) tidak berpengaruh terhadap (y) yang dimoderasi (Z) (T-statistics 0,029 1,96), dan variabel (X1),(X2), dan (X3) tidak berpengaruh terhadap (Y) yang dimoderasi oleh (Z) variabel kepatuhan prosedur kerja (Z) tidak berfungsi sebagai variabel moderate

    Analisis Penerapan Sistem Manajemen K3 dan Kelengkapan Fasilitas K3 Pada Proyek Konstruksi Gedung Di Surabaya

    Get PDF
    Proyek konstruksi gedung bertingkat memiliki risiko kecelakaan kerja yang tinggi, khususnya bagi pekerja di lapangan. Oleh karena itu, perlu adanya penerapan Sistem Manajemen K3 serta fasilitas K3 yang lengkap dan layak di lokasi kerja. Sistem Manajemen K3 merupakan bagian dari perencanaan dan pengendalian kecelakaan pada proyek konstruksi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis penerapan SMK3 dan kelengkapan fasilitas K3 serta membandingkan antara 3 proyek konstruksi gedung yang ada di Kota Surabaya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survai dengan pengambilan data dilakukan melalui kuesioner dengan respondennya adalah Manager, Safety Officer dan Quality Control. Analisis penerapan Sistem Mnajemen K3 berdasarkan audit Permenaker no.5 tahun 1996. Hasil dari penelitian ini untuk proyek Apartemen BeSS Mansion nilai rata-rata pencapaian adalah 92,56% , proyek Gedung Ciputra World nilai rata-rata pencapaian 91,80% , dan proyek Gedung C dan Masjid Kampus Perbanas II nilai rata-rata pencapaian 89,76%. Kriteria ketiga proyek tersebut adalah memuaskan. Sedangkan hasil analisis kelengkapan APD dan fasilitas K3 pada proyek Apartemen BeSS Mansion mendapat nilai rata-rata 95,55%, proyek Gedung Ciputra World dengan nilai rata-rata 93,67%, dan pada proyek Gedung C dan Masjid Kampus Perbanas II mendapat nilai rata-rata 73,33%. Adapun terdapat 4 faktor yang mempengaruhi perbedaan dalam penerapan SMK3 di ketiga proyek tersebut yaitu faktor perencanaan, faktor perusahaan kontraktor, faktor kesiapan manajemen, faktor kesadaran manajemen. Dengan demikian, untuk ketiga proyek tersebut telah siap Permenaker no.5 tahun 1996. Namun perlu adanya perbaikan atau perencanaan kembali pada kriteria-kriteria yang tidak sesuai, serta memperhatikan APD dan fasilitas proyek yang kurang layak dan tidak lengkap
    corecore