1,720,956 research outputs found
Pengembangan Media Kartu Uno Sejarah Dalam Pembelajaran Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia Siswa Kelas XI IPS MAN Mojosari Mojokerto
ABSTRAK Roji, Fatkhur. 2018. Pengembangan Media Kartu Uno Sejarah dalam Pembelajaran Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia Siswa Kelas XI IPS MAN Mojosari Mojokerto. Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Slamet Sujud Purnawan Jati., M.Hum Kata Kunci: media, kartu uno, proklamasi kemerdekaan. Matapelajaran sejarah identik dengan rangkaian angka tahun dan urutan peristiwa yang harus diingat lalu diungkapkan saat menjawab soal-soal ujian. Jika tidak dipelajari secara runtut, maka pelajaran sejarah dapat menjadi pelajaran yang membosankan dan sulit dipahami. Berdasarkan hasil laporan akademik tahun ajaran 2017/2018 kelas XI IPS-3 MAN Mojosari Mojokerto merupakan salah satu kelas yang nilainya rata-rata masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal yaitu dibawah 75. Beberapa hal yang menyebabkan masalah tersebut antara lain pertama, peserta didik kurang tertarik dalam pembelajaran khususnya sejarah dan peserta didik ramai sendiri ketika guru sedang menjelaskan materi. Kedua, dalam penyampaian materi guru juga sering menggunakan metode ceramah. Salah satu alternatif dalam mengatasi masalah ini adalah penggunaan media kartu uno sejarah dalam pembelajaran sejarah peserta didik akan dilibatkan aktif dan lebih menyenangkan. Adapun tujuan penelitian dan pengembangan diuraikan sebagai berikut: (1) menghasilkan media kartu uno sejarah dalam pembelajaran sejarah di kelas XI IPS MAN Mojosari Mojokerto, dan (2) mengetahui efektivitas penggunaan media kartu uno sejarah dalam pembelajaran sejarah di kelas XI IPS-3 MAN Mojosari Mojokerto. Prosedur yang digunakan dalam pengembangan media pembelajaran ini terdapat sepuluh tahapan, merupakan modifikasi dari model pengembangan Sugiyono. Adapun tahapan pengembangan yang dilakukan yaitu: (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, (6) uji coba produk, (7) revisi desain, (8) uji coba pemakaian, (9) revisi produk, dan (10) produksi massal. Instrumen pengumpulan data menggunakan angket untuk ahli media, ahli materi, uji coba kelompok kecil dengan 10 responden, uji coba kelompok besar dengan 37 responden di kelas XI IPS-3 MAN Mojosari Mojokerto. Produk kartu uno sejarah tersebut dinyatakan sangat layak dan sangat efektif. Hal ini berdasarkan pada hasil validasi ahli materi dan ahli media diperoleh rata-rata persentase sebesar 87,05%, dan 90,00%. Sedangkan hasil uji coba kelompok kecil dan uji coba kelompok besar diperoleh rata-rata persentase sebesar 85,75%, dan 83,78%. Berdasarkan hasil validasi serta uji coba pemakaian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa produk kartu uno sejarah sangat layak dan sangat efektif untuk digunakan sebagai media pembelajaran sejarah. Selain itu pengembangan media kartu uno sejarah ini dapat digunakan sebagai tolak ukur bagi pengembangan media lainnya untuk menciptakan media pembelajaran sejenis tetapi beda materinya dengan tampilan yang lebih bagus dan menarik.
PENGEMBANGAN MEDIA KARTU UNO SEJARAH DALAM PEMBELAJARAN PROKLAMASI KEMERDEKAAN BANGSA INDONESIA
ABSTRAK Roji, Fatkhur. 2018. Pengembangan Media Kartu Uno Sejarah dalam Pembelajaran Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia Siswa Kelas XI IPS MAN Mojosari Mojokerto. Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Slamet Sujud Purnawan Jati., M.Hum Kata Kunci: media, kartu uno, proklamasi kemerdekaan. Matapelajaran sejarah identik dengan rangkaian angka tahun dan urutan peristiwa yang harus diingat lalu diungkapkan saat menjawab soal-soal ujian. Jika tidak dipelajari secara runtut, maka pelajaran sejarah dapat menjadi pelajaran yang membosankan dan sulit dipahami. Berdasarkan hasil laporan akademik tahun ajaran 2017/2018 kelas XI IPS-3 MAN Mojosari Mojokerto merupakan salah satu kelas yang nilainya rata-rata masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Beberapa hal yang menyebabkan masalah tersebut antara lain pertama, peserta didik kurang tertarik dalam pembelajaran khususnya sejarah dan peserta didik ramai sendiri ketika guru sedang menjelaskan materi. Kedua, dalam penyampaian materi guru juga sering menggunakan metode ceramah. Salah satu alternatif dalam mengatasi masalah ini adalah penggunaan media kartu uno sejarah dalam pembelajaran sejarah peserta didik akan dilibatkan aktif dan proses pembelajaran lebih menyenangkan. Adapun tujuan penelitian dan pengembangan diuraikan sebagai berikut: (1) mengembangkan media kartu uno sejarah dalam pembelajaran sejarah di kelas XI IPS MAN Mojosari Mojokerto, dan (2) mengetahui efektivitas penggunaan media kartu uno sejarah dalam pembelajaran sejarah di kelas XI IPS-3 MAN Mojosari Mojokerto. Prosedur yang digunakan dalam pengembangan media pembelajaran ini terdapat sepuluh tahapan, merupakan modifikasi dari model pengembangan Sugiyono. Adapun tahapan pengembangan yang dilakukan yaitu: (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, (6) uji coba produk, (7) revisi desain, (8) uji coba pemakaian, (9) revisi produk, dan (10) produksi massal. Instrumen pengumpulan data menggunakan angket untuk ahli media, ahli materi, uji coba kelompok kecil dengan 10 responden, uji coba kelompok besar dengan 37 responden di kelas XI IPS-3 MAN Mojosari Mojokerto. Penelitian dan pengembangan ini menghasilkan produk kartu uno sejarah berbasis visual yang berisi materi detik-detik pelaksanaan proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia berdasarkan Kompetensi Dasar 3.7 yang tertera dalam Kurikulum 2013. Media kartu uno diharapkan mampu membuat proses pembelajaran sejarah lebih menyenangkan karena peserta didik belajar sambil bermain, sehingga apa yang dipelajari dapat bermakna. Selain itu peserta didik dapat belajar untuk berpikir, memecahkan masalah, serta mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan. Produk kartu uno sejarah tersebut dinyatakan sangat layak dan sangat efektif. Hal ini berdasarkan pada hasil validasi ahli materi dan ahli media diperoleh rata-rata persentase sebesar 87,05%, dan 90,00%. Sedangkan hasil uji coba kelompok kecil dan uji coba kelompok besar diperoleh rata-rata persentase sebesar 85,75%, dan 83,78%. Berdasarkan hasil validasi serta uji coba pemakaian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa produk kartu uno sejarah sangat layak dan sangat efektif untuk digunakan sebagai media pembelajaran sejarah. Selain itu pengembangan media kartu uno sejarah ini dapat digunakan sebagai tolak ukur bagi pengembangan media lainnya untuk menciptakan media pembelajaran sejenis tetapi beda materinya dengan tampilan yang lebih bagus dan menarik lagi dari sebelumnya.
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
MEDIA BARU, PEMUDA DAN GERAKAN SOSIAL DI MESIR KAJIAN TERHADAP GERAKAN PEMUDA 6 APRIL
Sebelum Arab Spring melanda negara-negara Timur Tengah pada tahun
2011, Mesir adalah salah satu negara yang hidup di bawah kepemimpinan rezim
otoriter. Husni Mubarok berkuasa puluhan tahun dan segala bentuk penindasan
terhadap rakyat tidak dapat dihentikan. Berbagai perlawanan rakyat, seperti yang
diusung oleh Ikhawanul Muslimin, menghadapi tembok tebal kekuasaan dan pada
akhirnya mengalami nasib tragis berupa kegagalan.
Perlawanan terhadap rezim otoriter era Husni Mubarok telah banyak dilakukan
oleh berbagai kelompok, dan hal itu harus diakui. Salah satu gerakan perlawanan
terhadap rezim Mubarok adalah Gerakan Pemuda 6 April, yang dibentuk oleh
para pemuda seperti Maher dan Adel di tahun 2008. Pada mulanya, gerakan ini
tidak jauh berbeda dengan gerakan perlawanan terhadap rezim pada umumnya. Di
tahun itu terjadi pemogokan massal oleh para buruh pabrik yang sedang menuntut
kenaikan upah minimum mereka. Maher dan Adel bersama para demonstran
lainnya turun jalan dan membentuk Gerakan 6 April ini. Seiring berjalannya
waktu, Gerakan 6 April menjelma gerakan yang multidimensional. Berbagai tema
yang diusung oleh Gerakan 6 April ini bersifat multidimensi, mulai dari sosial,
politik, ekonomi, hukum, hingga kebudayaan. Semua bentuk penindasan oleh
penguasa, pembungkaman opini publik, korupsi yang menyebabkan ketimpangan
sosial, serta aturan hukum yang menindas rakyat, semua itu menjadi sasaran kritik
dari gerakan pemuda yang baru lahir ini. Uniknya, Gerakan 6 April ini
memanfaatkan media sosial yang sedang hit bagi generasi millenial saat itu.
Dalam memperjuangkan idealismenya, Gerakan 6 April ini cenderung berbeda
dibanding dengan gerakan-gerekan lama seperti Ikhawnul Muslimin. Media
massa, seperti facebook, flick, twitter, blog, website, dan lainnya menjadi salah
satu ciri khas yang dimiliki oleh gerakan baru ini. Sasaran tembak dalam rangka
membangun opini dan menggalang dukungan suara dilakukan dengan cara
memanfaatkan media massa. Puncaknya, rezim Husni Mubarok runtuh di tangan
pemuda yang bersenjatakan media massa ini.
Penelitian ini menggunakan teori gerakan sosial baru dengan pendekatan
sejarah. Karenanya, Gerakan Pemuda 6 April ini dapat dikatakan sebagai gerakan
sosial baru dengan segala ciri-ciri kebaruannya yang tidak lazim dan tumbuh
dalam raung waktu sejarah sebagai konteks latar belakang idealisme politik
mereka. Secara umum, gerakan sosial baru lebih menekankan pada isu-isu kecil
yang bisa dipoles sedemikian rupa hingga layak menjadi konsumsi publik.
Gerakan ini jauh lebih besar menaruh perhatian pada upaya distribusi gagasan dan
ide dari pada aksi-aksi yang menuntut narasi besar. Selain itu, spirit gerakan sosial
baru adalah nilai-nilai demokrasi, kebebasan, hak asasi manusia, dan lainnya.
Dengan begitu, Gerakan 6 April ini bagian dari gerakan rakya yang menuntut
nilai-nilai tersebut dan banyak memanfaatkan media massa dalam perjuangannya
itu
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist
We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
- …
