1,720,964 research outputs found

    IMPLEMENTASI PRINSIP BAGI HASIL DAN RISIKO DI PERBANKAN SYARIAH (Studi di Perbankan Syariah Cabang Mataram)

    Full text link
    Indonesia is a country with number of the greatest Moslem in the world, but whole Islamic values application in daily life is not performed yet fully. For example, in banking financial institution, syariah banking in Indonesia emerged in 1992 when it was legitimated the act number 7 1992 about banking, in this act began accommodate syariah banking with name production sharing banking, furthermore it was changed by Act number 10 1998. The problem faced is how to implement a production sharing principal and risk in fund accumulation activity, principal implementation of production sharing in funding activity in Syariah banking of Mataram and what is to be operational obstacle faced in implementation of production sharing principal of that production. This research uses the method of doctrinal and non doctrinal or social legal approach namely regarding law not only text of act but also regarding law to interact with society. One of Syariah banking effort is contract of production sharing and risk in which bank and customer share the profit based on production sharing ratio decided previously. The function of banking is as intermediary institution between fund owner and people who need fund; therefore the main activity of syariah banking is accumulating fund of society and redistribute in form of funding. Fund accumulation activity in syariah banking of Mataram is performed by wadiah and mudharabah principal, several its products such as BSM clearing of Dollar Singapore, BSM clearing, Exchange BSM clearing, OURO BSM clearing, wadiah clearing of Muamalat bank in form of Rupiah currency or exchange, personal or firm, junior member saving, congenial saving. Meanwhile mudhabarah such as pilgrimage saving, educated invest saving, offering saving and saving with SharE card, BSM deposit, Exchange BSM deposit and mudhabarah deposit. Meanwhile fund distribution in form of production sharing funding is by mudhabarah contract and partnership. This production sharing principal is the major characteristic in Syariah banking, but in funding activity in Syariah banking is still low compared with the other funding Murahabah (trade), this case is caused by the high of risk which has to be guaranteed by bank if happen loss caused not by deliberateness or neglect of customer so bank will be careful in giving a funding to customer. The other obstacle inadequate human resources, management of syariah banking, information and technology system, people attitude who still regard Syariah Bank is similar to conventional bank and there is no moral standard applied in funding activity. Indonesia merupakan Negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, akan tetapi penerapan nilai nilai Islam secara Kaffah dan utuh dalam kehidupan sehari hari belum dilaksanakan seutuhnya. Misalnya dalam lembaga keuangan perbankan, perbankan syariah di Indonesia baru muncul pada tahun 1992 ketika di sahkannya Undang undang No 7 Tahun 1992 tentang Perbankan dalam Undang undang ini mulai mengakomodir perbankan syariah dengan nama perbankan bagi hasil, selanjutnya diganti dengan Undang undang No. 10 Tahun 1998. Permasalahan yang dihadapi adalah bagaimana implementasi prinsip bagi hasil dan risiko dalam kegiatan penghimpunan dana, implementasi prinsip bagi hasil dalam kegiatan pembiayaan di perbankan syariah Mataram dan apa yang menjadi kendala operasional yang dihadapi dalam implementasi prinsip bagi hasil hasil tersebut. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan doktrinal dan non doktrinal atau socio legal yakni memandang hukum bukan saja teks dalam Undang undang akan tetapi juga melihat hukum berinteraksi dengan masyarakat. Salah satu prinsip usaha Perbankan Syariah adalah akad Bagi Hasil dan resiko dimana bank dan nasabah membagi keuntungan berdasarkan rasio Bagi Hasil yang ditentukan sebelumnya. Fungsi perbankan adalah sebagai lembaga perantara (intermediary institution) antara pemilik dana dan orang yang membutuhkan dana, untuk itu kegiatan utama Perbankan Syariah adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali dalam bentuk pembiayaan. Kegiatan penghimpunan dana di Perbankan Syariah Mataram dilakukan dengan prinsip wadiah dan mudharabah, beberapa produknya seperti Giro BSM Dollar Singapura, Giro BSM, Giro BSM Valas, Giro BSM OURO, giro wadiah bank Muamalat dalam mata uang Rupiah maupun Valas, pribadi maupun perusahaan, tabungan umat junior, tabungan simpatik. Sedangkan mudharabah seperti: Tabungan Haji, Tabungan Investa Cendekia, Tabungan Qurban dan Tabungan dengan Kartu SharE, deposito BSM, deposito BSM Valas dan Deposito Mudharabah. Sedangkan penyaluran dana dalam bentuk pembiayaan Bagi Hasil adalah dengan akad mudharabah dan musyarakah. Prinsip Bagi Hasil ini merupakan karakteristik utama dalam Perbankan Syariah, akan tetapi dalam kegiatan pembiayaan di Perbankan Syariah masih rendah di bandingkan dengan pembiayaan lainnya seperti Murabahah (jual beli), hal ini disebabkan antara lain karena tingginya resiko yang harus di tanggung oleh bank apabila terjadi kerugian yang di akibatkan bukan dari kesengajaan atau kelalaian dari nasabah sehingga bank akan sangat berhati hati dalam memberikan pembiayaan kepada nasabah. Kendala lainnya adalah Sumber daya Manusia yang kurang memadai, manajemen perbankan syariah, system informasi dan teknologi, sikap masyarakat yang masih memandang Bank Syariah sama dengan bank Konvensional dan tidak adanya standar moral yang diterapkan dalam kegiatan pembiayaan

    UPAYA PEMANFAATAN MOMENTUM BONUS EMOGRAFI MELALUI FLOATING BOAT CAFE SEBAGAI IKON WISATA BAHARI BERBUDAYA DI PANTAI LAREA-REA KECAMATAN PULAU SEMBILAN KABUPATEN SINJAI

    Full text link
    Indonesia mempunyai lingkungan alam yang lengkap dibandingkan dengan Negara lain dan selalu ditemukan tempat-tempat baru yang menarik bagi wisatawan, namun perkembangan tempat wisata khususnya di wisata bahari masih belum cukup karena kurangnya fasilitas, perhatian pemerintah dan masyarakat dalam mengelola Pantai Larea-Rea .Kabupaten Sinjai merupakan wilayah yang kaya akan keindahan alamnya. Salah satunya Pantai Larea-Rea yang memilki objek wisata yang indah dan unik. Namun, potensi yang belum dikembangkan dan dioptimalkan dengan baik, mengakibatkan daya tarik pengunjung masih minim, serta  fasilitas yang terdapat di Pantai Larea-Rea sangat terbatas, sehingga membuat pengunjung tidak berlama-lama di pulau tersebut. Pantai Larea-Rea merupakan Pulau kecil yang tidak berpenghuni dan sangat minim pengunjung tetapi memiliki keindahan dan keunikan tersendiri, Pulau ini perlu dioptimalkan dengan baik agar dapat menarik para wisatawan.Berdasarkan permasalahan-permasalahan tersebut Peneliti memberikan sebuah solusi penerapan Floating Boat Café untuk mengoptimalkan Pantai Larea-Rea menjadi tempat wisata indah dan unik seperti pulau-pulau pada umumnya sekaligus memberikan pengajaran budaya kepada para pengunjung.Floating boat cafe dapat mengoptimalkan daerah pesisir dan laut sebagai ikon wisata budaya dan bahari serta dapat memperkenalkan budaya Sinjai sebagai salah satu ikon wisata.Jenis penelitian karya tulis Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Menurut H. B. Sutopo, penelitian deskriptif kualitatif dilakukan dengan cara mengumpulkan data berupa kata-kata, kalimat atau gambar yang memiliki arti lebih daripada sekedar angka atau frekuensi, Pengoptimalan Pantai Larea-Rea agar dapat meningkatkan pengunjung, meningkatkan perekonomian bagi masyarakat pesisir, meningkatkan kreativitas dan inovasi pemerintah dalam kemajuan budaya lokal agar tidak terlupakan serta tercapainya hubungan antara wisatawan, masyarakat, dan pemerintah.Floating Boat Café jugadapat memberikan pembelajaran bagi para pengunjung mengenai budaya seperti kuliner khas Sinjai, Tari-tarian dan beberapa pajangan foto tokoh-tokoh penting terdahulu, agar masyarakat dapat mengingat dan mengenal kembali tokoh-tokoh terdahulu diSinjai. Sehingga para pengunjung dan masyarakat Sinjai merasa bangga akan budaya yang selama ini hampir tertutupi oleh budaya-budaya barat

    ANALISIS PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI JAGUNG DITINJAU DARI ASPEK KEPEMILIKAN LAHAN DI DESA RADA KECAMATAN BOLO KABUPATEN BIMA

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis produksi dan pendapatan petani jagung ditinjau dari aspek kepemilikan lahan dan untuk mengetahui pengaruh kepemilikan lahan terhadap produksi dan pendapatan petani jagung. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode stratificated random Sampling dengan persentase pengambilan sampel penelitian masingmasing 15%, sehingga diperoleh sampel petani pemilik 24 orang, petani penyewa 8 orang dan petani penyakap 2 orang. Dengan demikian jumlah sampel adalah 34 orang. Analisi data yang digunakan yaitu analisis pendapatan dan uji t (One Sample T test). Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi dan pendapatan ditinjau dari aspek kepemilikan lahan dimana, Produksi petani pemilik sebesar 1825,7 Kg/Ha, petani penyewa sebesar 2612,5 Kg/Ha dan petani penyakap sebesar 1325 Kg/Ha. Dan pendapatan petani pemilik sebesar Rp. 2.986.808, petani penyewa sebesar Rp. 2.400.522 dan petani penyakap sebesar Rp.1.253.400. Berdasarkan hasil analisis uji t (One Sample T test) uji rata-rata produksi dengan nilai t hitung 5,127 ≥ dari t tabel 1,695 dengan nilai signifikansinya 0,03 dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kepemilikan lahan berpengaruh nyata terhadap produksi. Dan uji t rata-rata pendapatan nilai t hitung 4,348 ≥ dari t tabel 1,695 dengan nilai signifikansinya 0.04 dari hasil tersebut dapat disimpilkan bahwa kepemilikan lahan berpengaruh nyata terhadap pendapatan petani jagung

    Praktik Ekonomi Mandiri Berbasis Agrofarming sebagai Upaya Meningkatkan Minat Bertani GenZ

    Full text link
    Program pelatihan dan pendampingan pembuatan Pupuk Organik Cair (POC), kompos, dan budidaya cabai di lahan demplot Desa Ncera dirancang untuk mengembangkan praktik ekonomi mandiri berbasis agrofarming, sekaligus menumbuhkan minat generasi muda, khususnya Gen Z, untuk terjun ke dunia pertanian. Peserta tidak hanya dibekali keterampilan mengolah limbah organik menjadi pupuk ramah lingkungan bernilai jual, tetapi juga diajarkan teknik budidaya cabai secara organik dan strategi pemasaran hasil panen. Hasil pendampingan menunjukkan terbentuknya Kelompok Wanita Tani (KWT) Lestari dan Komunitas Petani Gen Z (Kompeten) yang telah terverifikasi sebagai anggota Rumah Produksi. Kedua kelompok ini berhasil meningkatkan kapasitas produksi dan pemasaran POC, kompos, serta cabai secara mandiri, yang berdampak pada kenaikan pendapatan rumah tangga hingga 30% dan pengurangan ketergantungan terhadap pupuk kimia. Dengan melihat peluang bisnis yang nyata dan menjanjikan, para peserta berkomitmen melanjutkan kegiatan ini sebagai usaha berkelanjutan. Program ini membuktikan bahwa agrofarming bukan hanya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga menjadi strategi efektif untuk membangun kemandirian ekonomi dan mendorong regenerasi petani.Kata kunci: agrofarming, minat bertani, ekonomi mandiri, generasi muda, pemberdayaa

    The Influence of Socio-Economic Factors and Farmer Participation in Institutional Capital on Farmers' Participation in the National Community Empowerment Program

    No full text
    Community empowerment programs aim to empower farmers by providing them access to the resources, training, technology, and support needed to increase agricultural productivity, increase income, and achieve agricultural desires. However, the success of such programs highly depends on the active participation of farmers. Factors influencing farmer participation in the NCEP program were analyzed using a binary logistic regression approach using STATA (Statistics and Data). Several factors are thought to influence farmer participation in the NCEP program, namely age, education level, income level, community meetings, participation in cooperatives, and participation in savings and loans. The results of the analysis show that what is influential at the 1% error level are the variables education, community meetings, and participation in savings and loans. Meanwhile, the influence at the 5% error level is the cooperative variable. Further efforts are needed regarding outreach to farmers who have not participated in the program and the government is expected to create a special strategy to attract farmers' interest in joining and participating in the Community Empowerment National Program (NCEP), so that farmer welfare and productivity can be achieved. In addition, it is suggested that cooperatives and savings and loans actively provide easy access to information and capital as well as increase their activities to support farmers in implementing the NCEP program

    How fishermen respond threat of climate change: empirical evidence in East Java

    No full text
    This research investigated how shrimp farmers perceive climate change and what factors influence their decision to implement adaptation strategies. Surveys were conducted with 150 households in Tambakan, Kalianyar, Raci 1, and Raci 2. Over the past five years, information about climate change has primarily reached farmers through radio and television (54%). The majority (96.21%) perceived climate change as manifested by altered rainfall patterns, rising pond water temperatures (98.71%), declining production yields (95.41%), and an increase in shrimp pests and diseases (96.23%). The researchers classified climate change adaptation strategies into four categories and used logit regression analysis to identify factors influencing their adoption. They found that the determinants of adoption varied across these categories. Based on these findings, the study concludes that raising awareness about the impact of climate change on shrimp farming is crucial for farmers to choose suitable adaptation strategies. Additionally, strengthening institutional support through improved access to association borrowing, markets, extension services, farm group activities, and use of climate-resistant shrimp varieties can contribute to increased farm production

    ANTARA MUNASAKHAH DAN AHLI WARIS PENGGANTI PADA PUTUSAN NOMOR: 0311/Pdt.G/2009/PA.SEL.

    Full text link
    Hukum waris merupakan aturan tentang proses penerusan harta pewaris kepada ahli waris yang masih hidup. Secara prinsip ketika pewaris meninggal dunia maka secara otomatis terbuka proses peralihan harta peninggalannya. Akan tetapi terkadang dalam prakteknya prinsip otomatis tadi tidak dilaksanakan seketika tetapi dikuasai oleh sebagian ahli waris untuk waktu yang lama. Hal ini bisa disebabkan karena unsur kesengajaan dan atau karena ahli waris tidak paham hak masing-masing. Misalnya dalam perkara yang diputus oleh Pengadilan Agama Selong Lombok Timur Nomor 0311/Pdt.G/2009/PA.SEL. Jenis penelitian normatif yang mengkaji berbagai aturan dalam Hukum Islam maupun aturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia yang khususnya tentang kewarisan munasakhah dan Ahli Waris Pengganti. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan perundang-undangan, pendekatan konsep, pendekatan analisis dan pendekatan kasus. Dari hasil penelitian terungkap bahwa hakim mendasarkan putusannya pada pasal 185 Kompilasi Hukum Islam. Sehingga hak ahli waris utama Amaq Yang menjadi hak ahli waris penggantinya masing-masing. Hakim dalam perkara ini terlalu formalistik yakni hanya bersifat menerapkan hukum dan tidak mempertimbangkan aspek lain, misalnya diabaikannya takharuj yang pernah terjadi antara ahli waris

    PERAKUS (PENGENDALI HAMA SERANGGA DAN TIKUS) ALAT TEPAT GUNA OTOMATIS BERBASIS MIKROKONTROLER SEBAGAI SOLUSI PANGAN TANPA PESTISIDA KIMIA

    Full text link
    Hama tanaman padi merupakan salah satu musuh terbesar bagi masyarakat petani, selain sifatnya yang menggaggu tanaman, juga merupakan salah satu faktor yang dapat menurunkan produksi usaha tani masyarakat, atau dikenal sebagai kegagalan dalam melakukan usaha tani. Keberadaan serangga hama dalam suatu ekosistem pertanian akan mempengaruhi kegiatan budidaya karena secara langsung akan menurunkan kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan dan jika kegiatan pengendalian tidak dilakukan maka kegiatan budidaya akan mengalami kerugian. Salah satu cara untuk mengendalikan hama pada tanaman ialah dengan menggunakan pestisida sintetik (pestisida kimia). Hama serangga merupakan salah satu faktor kendala yang dapat menjadi faktor rusaknya tanaman padi terutama pada daun dan batang tanaman padi. Gejala kerusakan yang disebabkan oleh hama ini sangat khas, yaitu pada daun terbentuk suatu lubang dengan diameter 0,5 cm sehingga daun menjadi berlubang-lubang (Sembel dalam Setiawati, 2018). Penggunaan pestisida sintetik yang tidak bijaksana dapat merusak lingkungan dan kesehatan manusia. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka peneliti merancang sebuah alat yaitu Perakus (Pengendali hama Serangga dan Tikus) sebagai Alat Tepat Guna Berbasis Mikrokontroler Arduino Mega 2560 Dan Sensor Ultrasonik. Alat ini menggunakan gelombang ultrasonik yang berfungsi sebagai pengusir hama predator dalam hal ini difokuskan pada hama tikus. Kemudian alat teknologi ini memiliki alat pengontrol yaitu mikrokontroler yang dapat mengontrol jalanya teknologi Perakus ketika digunakan. Kelebihan Alat ini sangat dibutuhkan oleh para petani saat ini, diantaranya adalah sebagai alat pengusir hama tikus, yang kedua sebagai alat pembasmi hama serangga. Hal ini karena adanya cairan mengkudu dan terasi yang diolah menjadi insektisida alami dalam megatasi serangan hama serangga Selain itu juga konsumsi penggunaan seperti pestisida kimia dapat dikurangi, karena akan berdampak pada penurunan biaya produksi petani dan meningkatkan produktivitas serta provitabilitas hasil pertanian sehingga dapat mewujudkan Indonesia food sovereignty yaitu sistem pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan guna merespon peluang dan tantangan revolusi industri 4.0

    YURIDICAL STUDY ON CLIMATE CHANGE MITIGATION THROUGH FORESTRY MANAGEMENT BY THE LOCAL GOVERNMENT

    Full text link
    The authority of the local government to regulate and manage its own household affair including forestry management is a challenge in the implementation of climate change mitigation. However there have been some amendment on forest sector in Act regarding Local Government. These change would impact to the authority of local government including climate change mitigation through forestry management. Therefore, aim of this study is to know whether the local government act may supported nor hampered the implementation of climate change mitigation trough forestry management. This study is a normative study with legislative approach and conceptual approach. Techniques of data collection is literature study. It is then analyze qualitatively. Result of the research is that amendment on rule over forest management in Act Number 23 year 2014 Regarding Local Government that gives the central government large authority concerning natural resources resulting to definite authority of local government concerning forest management including climate change mitigation. This may lead to the possibility of uneffective implementation on climate change mitigation by local government

    PENERAPAN MEDIA PEMBELAJARAN DOMINO KARAKTER DENGAN TEKNIK SHADOW TEACHER DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK AUTISME PADA MATERI OPERASI HITUNG DI MASA PEMBELAJARAN JARAK JAUH

    Full text link
    Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang meliputi tahapan: perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Tujuan penelitian yaitu untuk menganalisis aktivitas dan hasil belajar siswa autis pada materi operasi hitung dengan teknik shadow teacher menggunakan media pembelajaran domino karakter. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif yang diperoleh selama penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendampingan belajar guru di sekolah dan orangtua terhadap siswa autis memiliki perbedaan. Persentase aktivitas belajar siswa autis dari rumah pada siklus III sebesar 79,56%, sedangkan di sekolah diperoleh persentase sebesar 85,45%.  Keberhasilan dalam meningkatkan aktivitas belajar dalam proses belajar mengajar dapat menjadi faktor meningkatnya hasil belajar siswa autis. Dengan keterlibatan orangtua dalam proses pendampingan juga dapat menjadi tolak ukur keberhasilan kegiatan belajar siswa autis. Hal itu dapat dibuktikan dengan temuan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa persentase hasil belajar siswa autis dari rumah diperoleh sebesar 89,26%, sedangkan hasil belajar siswa autis dari sekolah menunjukkan persentase sebesar 87,16%. Data tersebut memiliki perbedaan yang tidak terlalu signifikan. Oleh karena itu, dengan metode pendampingan menggunakan domino karakter dalam proses belajar siswa autis dapat menjadi teknik yang baik di pemberlakuan jarak jauh dengan melibatkan peran orangtua sebagai guru pendamping
    corecore