49 research outputs found

    Probability based optimisation of non-linear multi-layered orthotropic plates

    No full text
    EThOS - Electronic Theses Online ServiceGBUnited Kingdo

    Analisa Perbandingan Metode Bottom-Up Dan Metode Top-Down Pekerjaan Basement Pada Gedung Parkir Apartemen Skyland City Education Park Bandung Dari Segi Biaya Dan Waktu

    Get PDF
    Pembangunan basement yang dilakukan secara berurutan dari bawah ke atas yang dikenal dengan metode bottom-up sudah banyak diterapkan dalam pelaksanaan konstruksi basement. Pada metode ini pekerjaan dimulai dari pekerjaan pondasi, pekerjaan galian kemudian diteruskan dengan pembuatan kolom, balok, dan pelat yang menerus sampai ke atap. Seiring berkembangnya teknologi dan inovasi dibidang konstruksi terdapat alternatif metode konstruksi lain yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kerja. Metode yang dapat diterapkan yaitu metode top-down. Pada metode ini pekerjaan basement dimulai dari basement yang teratas dan dilanjutkan lapis demi lapis sampai kedalaman basement yang diinginkan yang bersamaan dengan pekerjaan galian basement. Pekerjaan basement dapat simultan dengan pekerjaan struktur atas, sehingga waktu pelaksanaan dapat lebih singkat. Kedua metode konstruksi tersebut mempunyai perbedaan pada saat pengerjaan dan selama proses konstruksi yang berpengaruh terhadap biaya dan waktu. Tugas akhir ini adalah membandingkan metode konstruksi bottom-up dan top-down dari segi biaya dan waktu. Proyek yang djadikan objek penelitian adalah Pembangunan Gedung Parkir Apartemen Skyland City Education Park Bandung. Untuk kedua metode tersebut dilakukan studi pustaka dan pengumpulan data, analisa metode pelaksanaan, perhitungan kebutuhan material dan alat, analisa produktivitas dan durasi pekerjaan serta analisa perhitungan biaya. Dengan analisa perbandingan metode bottom-up dan top-down didapatkan hasil, metode bottom-up membutuhkan waktu pelaksanaan selama 313 hari dengan biaya sebesar Rp 20.146.074.654,00 dan metode top-down membutuhkan waktu pelaksanaan selama hari 260 dengan biaya sebesar Rp. 21.342.390.563,0

    Studi Perbandingan Analisis Respon Spektra dan Time History untuk Desain Gedung

    Get PDF
    Untuk memperhitungkan pengaruh gaya lateral akibat gempa terhadap struktur bangunan biasanya dihitung dengan 2 (dua) pendekatan, yaitu analisis statik (statik ekivalen), analisis dinamik (respon spektra dan time history). Pengaruh gempa rencana pada struktur bertingkat banyak dengan ketinggian lebih dari 10 tingkat atau 40 m harus ditinjau sebagai pengaruh beban dinamik dan analisisnya harus didasarkan pada analisis dinamis (SNI 1726 2012). Saat ini banyak studi yang membahas tentang analisis linier spektra. Pada penelitian ini, akan dibandingkan analisis linier respon spektra dan linier time history. Gedung didesain dengan analisis respon spektra kemudian desain tersebut dievaluasi dengan analisis linier time history. Data gempa untuk time history menggunakan 3 (tiga) rekaman gempa yaitu gempa Kobe (Jepang, 1995), Imperial Valley (California, 1979) dan Tabas (Iran, 1978). Dari ketiga data gempa tersebut diambil yang nilai terbesar. Hasil studi menunjukkan adanya perbedaan antara kedua analisis tersebut. Nilai base shear respon spektra lebih besar dibandingkan analisis linier time history. Presentase penurunan nilai base shear dari 3 (tiga) gempa dengan analisis linier time history terhadap respon spektra yaitu sebesar 4,69 % Kobe - x ; 11,32% Kobe -y; 62,4 % Imperial Valley - x ; 83,046 % Imperial Valley - y; 8,1 % Tabas -x dan 12,1 % Tabas - y. Hasil simpangan dengan respon spektra aman terhadap simpangan ijin, kemudian dievaluasi dengan analisis linier time history masih dalam kategori aman tapi pada simpangan arah - x, gempa imperial valley melebihi simpangan respon spektra dan arah y di beberapa lantai melebihi respon spektra. Data simpangan menunjukkan bahwa gempa imperial valley menyebabkan simpangan terbesar dari ketiga gempa yang ditinjau. Hasil desain dituangkan dalam gambar

    Analisa Sistem Clamp pada Penggantung Jembatan Kutai Kartanegara dengan Metode Elemen Hingga

    Get PDF
    Kegagalan suatu struktur dapat terjadi akibat perubahan dan terkonsentrasinya gaya-gaya dalam diluar prediksi pada saat perencanaan. Seperti halnya yang terjadi pada Jembatan Kutai Kertanegara (Kukar) yang merupakan jembatan bertipe suspension terpanjang yang dimiliki oleh Indonesia, mengalami keruntuhan pada saat proses pemeliharaan berlangsung. Penyebab runtuhnya Jembatan Kukar diperkirakan rusaknya bagian koneksi clamp yang disebabkan oleh terkonsentrasinya gaya akibat proses jacking salah satu hanger pada saat proses penyesuaian camber jembatan, selain itu korosi dari material yang digunakan juga ikut andil dalam hal ini. Salah satu metode yang bisa digunakan adalah Finite Elemen Method (FEM), metode numerik ini digunakan untuk menyelesaikan permasalahan teknik dan problem matematis dari suatu gejala phisis[1]. Untuk membantu proses simulasi diperlukan program bantu yang berbasis FEM. Dari hasil simulasi didapat gaya yang bekerja pada saat mengalami keruntuhan dan konsentrasi tegangan pada sistem clamp

    Studi Perancangan Bangunan Tahan Gempa dan Tsunami di Kota Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat

    No full text
    Mataram sebagai salah satu kota di Indonesia tempat dua lempeng aktif dunia bertemu memiliki potensi gempa bumi tinggi yang menyebabkan tsunami terjadi. Berdasarkan data yang ada, Nusa Tenggara Barat (NTB) telah mengalami dua kali peristiwa gempa dengan diikuti datangnya tsunami, tepatnya pada tanggal 10 April 1815 dengan air laut naik setinggi 3,5 meter dan pada tanggal 19 Agustus 1977 dengan air laut naik setinggi 15 meter. Dimana bencana yang terjadi pada tanggal 19 Agustus 1977 tersebut memakan banyak korban, seperti 107 orang meninggal, 54 orang menghilang, 1125 orang terluka, serta total kerugian akibat kerusakan yang terjadi sebesar Rp 239.474.000,-. Kemudian berdasarkan peraturan yang ada, evakuasi penyelamatan terhadap bencana tersebut dapat dilakukan secara horizontal maupun vertikal. Dimana evakuasi vertikal merupakan suatu bentuk penyelamatan dalam waktu singkat tetapi belum banyak digunakan karena bangunan harus memenuhi kriteria bangunan evakuasi sesuai peraturan yang berlaku, seperti performance level bangunannya harus berada pada Immediate Occupancy yang didapatkan melalui analisa statik non-linear dengan menggunakan analisis pushover. Kemudian dari analisa yang telah dilakukan diperoleh hasil, yaitu: tebal pelat lantai atap 12 cm, tebal pelat lantai 15 cm, dimensi BA 250x350, dimensi BI1 dan BI5 400x600, dimensi BI2 dan BI3 350x500, dimensi BI4 300x350, dimensi BI6 450x650, dimensi BI7 300x400, dimensi K1 1000x1000, dimensi K2 900x900, dimensi K3 800x800, tebal dinding geser 30 cm, diameter bored pile 80 cm dengan kedalama 20 m, dan dimensi sloof 300x400

    Infrastructure Health Monitoring System (SHM) Development, a Necessity for Maintance and Investigation

    Get PDF
    Failure of Kutai Bridge already give Indonesia civil engineer a blow in face. The failure which bring cause human accident make a new challenge to Indonesia civil engineer not to wait till failure but to safe before the construction failure. By the development in sensor and monitoring technology the idea become more realistic. Structure Healthy Monitoring (SHM) become new idea to detect, to monitor and to find out the reliability of structure. The development and research in Indonesia for SHM till now are presented and compared to other country. SHM research are need to predict behaviour of bridge by using data from monitoring to gain healthy condition

    FINITE ELEMENT ANALYSIS ON THE BEHAVIOR OF SLAB-COLUMN CONNECTIONS USING PVA-ECC MATERIAL

    No full text
    A 3D finite element analysis was carried out to study the behavior of slab-column connections in a flat slab structure under combined gravity and cyclic lateral load. Prior to simulating the behavior of the proposed model, the slab-column connection specimen by using standard orthogonal stud rail from the previous study was modeled with the purpose of verifying the results using finite element tool. Given that numerical simulation was undertaken using ABAQUS to predict the structural behavior of the above-mentioned structure. With regard to providing an accurate result, a sensitivity analysis was performed by changing different parameters, such as dilation angle, viscosity parameter, and damage parameter-strain on both in tension and compression. After gaining the close resemblance to the previous study, the proposed models were then simulated using the similar technique. In the proposed model, drop panel element was used as a replacement of stud rail. Additionally, the engineered cementitious composite material using polyvinyl alcohol fibers (PVA-ECC) was also employed due to its strain capacity of 3-5% under tension compared to 0.01% of conventional concrete. Through this study, the results showed that the effect of utilizing the PVA-ECC material could significantly improve the specimen behavior and damage tolerance.  </jats:p
    corecore