3 research outputs found

    Korelasi antara Kadar Interleukin-6 dengan Kadar Thyroid Stimulating Hormone, Triiodotironin, Tiroksin dan Reverse Triiodotironin pada Pasien Sakit Kritis

    No full text
    Pendahuluan: Hormon tiroid berperan pada adaptasi fungsi metabolisme selama sakit kritis. Non-thyroidal illness syndrome (NTIs) adalah suatu kelainan tes fungsi tiroid pada pasien dengan penyakit sistemik non-tiroid yang berat tanpa kelainan hipotalamus pituitari tiroid aksis dan kelenjar tiroid sebelumnya, ditandai dengan kadar triiodotironin (T3) rendah, reverse triiodotironin (RT3) tinggi, tiroksin (T4) dan thyroid stimulating hormone (TSH) normal/ rendah. Sitokin seperti interleukin (IL)-6 dikatakan terlibat dalam patogenesis NTIs. Disfungsi tiroid ini sering dihubungkan dengan hasil yang merugikan dan juga peningkatan mortalitas. Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional yang dilakukan di Departemen Penyakit Dalam RSUP Dr. M. Djamil Padang selama 6 bulan. Penelitian dilakukan pada 30 pasien sakit kritis yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pada sampel dilakukan pemeriksaan kadar IL-6, TSH, T3, T4 dan RT3. Dilakukan analisis statistik terhadap data yang telah ada. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan rerata kadar IL-6 adalah 37,457 (24,70) pg/ml dan rerata kadar TSH, T3, T4 dan RT3 secara berurutan adalah 1,19 (1,12) uIU/ml, 0,486 (0,30) nmol/L, 60,87 (27,19) nmol/L dan 181,84 (72,10) ng/dL pada pasien sakit kritis. Terdapat korelasi yang bermakna (p<0,05) dengan arah korelasi negatif dan kekuatan korelasi lemah (r=-0,319) antara IL-6 dengan TSH, korelasi kuat (r=-0,6) antara IL-6 dengan T3, korelasi lemah (r=-0,302) antara IL-6 dengan T4. Terdapat korelasi yang bermakna (p<0,05) dengan arah korelasi positif dan kekuatan korelasi sangat kuat (r=0,944) antara IL-6 dengan RT3. Angka kejadian NTIs 96,67% dengan gambaran kadar hormon tiroid terbanyak adalah TSH normal, T3 dan T4 rendah, RT3 tinggi pada 46,7%. Kesimpulan: Terdapat korelasi negatif dengan derajat korelasi lemah antara kadar IL-6 dengan kadar TSH dan T4, terdapat korelasi negatif dengan derajat korelasi kuat antara kadar IL-6 dengan kadar T3 dan terdapat korelasi positif dengan derajat korelasi sangat kuat antara kadar IL-6 dengan kadar RT3

    Hubungan Faktor Psikologis dengan Atrium Fibrilasi: Suatu Tinjauan Kepustakaan

    No full text
    Psychological factors influence the onset of cardiac rhythm and dysrhythmia disorders, including atrial fibrillation (AF), which is defined as uncoordinated atrial activation resulting in ineffective contractions. Psychological factors have a bidirectional relationship with AF, as AF symptoms can lead to a decline in mental health, which in turn negatively affects the clinical course. One explanation for how psychological stress impacts the heart and contributes to AF involves the autonomic nervous system and the hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) axis. Anxiety and depression are common comorbidities in AF. These conditions can be assessed using standardized instruments, such as the Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS), which includes subscales for anxiety (HADS-A) and depression (HADS-D). Additionally, the Beck Depression Inventory (BDI) can be used to assess depression, while the State-Trait Anxiety Inventory (STAI) is useful for evaluating anxiety. Management of psychosomatic disorders requires a bio-psycho-socio-spiritual approach, involving both non-pharmacological and pharmacological therapies. Key components include somatic or symptomatic therapy, psychotherapy or sociotherapy, and psychopharmacotherapy, with the choice of method depending on various factors. In AF patients, treatment of psychological stress, anxiety, and depression generally prioritizes non-pharmacological approaches, such as supportive psychotherapy. If necessary, short-term use of benzodiazepines as anti-anxiety medication can be considered. In cases requiring antidepressants, newer agents such as selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) are preferred, with close monitoring of heart rhythm due to the potential arrhythmogenic effects of certain medications, especially non-selective antidepressants

    Pembukaan Konsulat Jenderal Australia di Makassar Sebagai Upaya Mempererat Hubungan Kerjasama Australia dengan Indonesia Bagian Timur

    No full text
    This research aims to describe the prospect of billateral relationship between Australia and Eastern Indonesia through the existence of Australian Consulate- General in Makassar. Specifically, this research aims to know (1) the background of the opening of Australian Consulate-General in Makassar and (2) the role of Australian Consulate-General in Makassar to establish relationship with Eastern Indonesia. The method of this research is qualitative descriptive which describes the prospect of the opening of Australian Consulate-General in Makassar to strengthen its relationship with Eastern Indonesia. The data collection method used by the author is library research sourced from many literatures such as books, journals, documents, articles, and other medias such as internet, newspapers, and magazines, also use interview method to the Consul-General of Australian Consulate-General in Makassar. The result of this research shows that as a neighbour-state, Australia in its commitment to strengthen good relations with Indonesia should increase and escalate their performance of improving its cooperation between both countries to be more intense and tight by not only touch the center of Indonesia itself but also have to reach other parts of Indonesia as well as Eastern Indonesia. A lot of promotion that related to culture, education, and tourism of the Australian itself and also many programs have been planned and done by the Australian Consulate-General in Makassar with provincial government in Eastern Indonesia in order to reinforce its relationship between both countries. &nbsp; Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan prospek hubungan kerja sama bilateral Australia dengan Indonesia bagian timur melalui keberadaan Konsulat Jenderal Australia di Makassar. Secara spesifik, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) latar belakang pembukaan Konsulat Jenderal Australia di Makassar dan (2) peranan Konsulat Jenderal Australia di Makassar dalam menjalin hubungan kerja sama dengan Indonesia bagian timur. Metode penelitian yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah kualitatif deskriptif yang akan menjelaskan bagaimana prospek pembukaan Konsulat Jenderal Australia di Makassar dalam rangka kerjasama dengan Indonesia bagian timur. Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis adalah telaah pustaka yang bersumber dari buku, jurnal, dokumen, artikel, serta dari berbagai media lainnya seperti internet, majalah ataupun surat kabar harian, dan juga metode wawancara yang dilakukan kepada Perwakilan Konsuler Konsulat Jenderal Australia di Makassar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagai negara tetangga, Australia dalam komitmennya untuk menjalin hubungan baik dengan Indonesia perlu meningkatkan hubungan kerja sama yang lebih intens dan tidak hanya berpusat di kawasan ibukota saja, akan tetapi juga di Kawasan Timur Indonesia yang masih perlu pengembangan. Berbagai promosi budaya, pendidikan, pariwisata, serta program-program telah dicanangkan dan dilakukan oleh Konsulat Jenderal Australia di Makassar bersama dengan pemerintah provinsi di Kawasan Timur Indonesia untuk semakin mempererat hubungan bilateral kedua negara tersebut
    corecore