191 research outputs found
Personal Branding Valentino Simanjuntak sebagai Komentator Olahraga di Media Televisi
Abstrak - Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif mengenai “Personal Branding Valentino Simanjuntak sebagai Komentator Olahraga di Media Televisi”. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis bagaimana penerapan personal branding yang dilakukan oleh Valentino Simanjuntak sebagai komentator olahraga di media televisi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian analisis deskriptif. Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini ialah post-positivisme karena peneliti ingin membuktikan dan menganalisa suatu fenomena yang terjadi pada subjek penelitian dengan berpedoman teori yang sudah ada dan berpaku pada suatu teori. Dalam objek penelitian penulis memilih Valentino Simanjuntak sebagai informan kunci, lalu memilih Ary Sapari dan Petrus Tomy Wijanarko sebagai informan pendukung dan memilih Dra. Dewi Taviana Walida, Psi, Psikolog sebagai informan ahli. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam melakukan personal branding, Valentino Simanjuntak hadir sebagai komentator olahraga di media televisi yang memiliki ciri khas variasi ragam bahasanya saat menjadi komentator olahraga yaitu slang, jargon, akrolek, dan ken dengan sebelas karaktersitik personal branding yaitu keaslian, integritas, konsisten, spesialisasi, wibawa, kekhasan, relevan, terlihat, kegigihan, nama baik, dan kinerja yang sudah cukup baik dan selaras. Akan tetapi, pada poin kewibawaan, untuk diakui sebagai ahli dalam bidang komentator olahraga Valentino Simanjuntak masih membutuhkan waktu dan proses lagi untuk memenuhi kriteria kewibawaan.Abstract - This research is a qualitative research on "Personal Branding Valentino Simanjuntak as Sports Commentator on Television Media". The purpose of this research is to analyze the way of applying personal branding carried out by Valentino Simanjuntak as a sports commentator on television media. This study uses qualitative methods with a type of descriptive analysis research. The paradigm used in this research is post-positivism because researchers want to prove and analyze the phenomena that occur in the subject of research by referring to existing theories and sticking to a theory. In the research object, the author choose Valentino Simanjuntak as the key informant, then choose Ary Sapari and Petrus Tomy Wijanarko as supporting informants and chose Dra. Dewi Taviana Walida, Psi, Psychologist as expert informant. The result of this research shows that in conducting personal branding, Valentino Simanjuntak was present as a sports commentator on television media who has a uniqueness of language variation like slang, jargon , akrolek, and ken with eleven personal branding characteristics namely authenticity, integrity, consistency, specialization, authority, distinctiveness, relevant, visibility, persistence, goodwill, and performance. It is good enough and in harmony. However, in terms of authority, to be recognized as an expert in the field of sports commentator Valentino Simanjuntak still needs more time and process to fulfill the criteria of authorityKeywords - Language Variety, Personal Branding, Sports Commentato
KETERLIBATAN PADA BINGE WATCHING DAN SOCIAL MEDIA ENGAGEMENT PADA MAHASISWA
University students, as part of the digital native generation, are highly engaged in online activities. One of the prevalent behaviors among students is binge-watching, which refers to the continuous consumption of multiple episodes of a television series in a single sitting. The extensive number of episodes often leads students to expedite the viewing process, resulting in frequent engagement in binge-watching. One potential factor associated with binge-watching behavior is social media engagement, which is commonly utilized as a medium for acquiring information about current and popular series. The present study aims to examine the relationship between social media engagement and student involvement in binge-watching. The respondents of this study consisted of 232 active university students in Indonesia, consisting of 89 males and 143 females, aged between 18 and 23 years. The research instruments utilized were the Binge-Watching Engagement Scale (BWESQ) developed by Flayelle dkk. (2020) and the Social Media Engagement Scale by Alt (2015), which was adapted into Indonesian by Ermida (2020). The results showed a significant correlation between social media engagement and student involvement in binge-watching, with r = 0.165 (p < 0.000). Students with higher levels of social media engagement demonstrated greater involvement in binge-watching activities. Students' engagement with social media provides extensive information about serial shows and contributes to an increased frequency of binge-watching
Self-Regulated Learning Strategy Training: Improving Self-Regulated Learning of First Year University Students
Penelitian ini bertujuan untuk menguji efek dari pelatihan self-regulated learning strategy untuk meningkatkan self-regulated learning pada maha-siswa tahun pertama. Penelitian ini menggunakan desain one group pretest-posttest. Pemilihan partisipan di pelatihan ini didasarkan pada skor yang didapatkan mahasiswa tahun pertama pada Self-Regulatory Strategies Scales (SRSS). Partisipan pada pelatihan ini adalah sepuluh orang mahasiswa tahun pertama yang memiliki skor yang rendah pada skala SRSS. Penelitian ini menggunakan tiga alat ukur, yaitu tes pemahaman materi self-regulated learning strategies, SRSS, dan self-regulated learning behaviour checklist. Data partisipan pada tes pemahaman dan self-regulated learning behaviour checklist dianalisis menggunakan paired-sample t-test, sedangkan data SRSS dianalisis menggunakan Wilcoxon signed-rank test. Tes pemahaman memiliki t-value sama dengan 10,67, p sama dengan 0,000 (p kurang dari 0,05), self-regulated learning behaviour checklist memiliki t-value sama dengan 9,861, p sama dengan 0,000 (p kurang dari 0,05), dan SRSS memiliki nilai Z-value sama dengan -2,092, p sama dengan 0,036 (p kurang dari 0,05). Ketiga hasil tersebut menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest partisipan pada ketiga alat ukur. Nilai posttest partisipan meningkat dibandingkan nilai pretest. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pelatihan self-regulated learning strategy dapat meningkatkan self-regulated learning pada mahasiswa tahun pertama
Guiding Questions Method and Extrinsic Learning Motivation of First Year University Students
The study aimed to examine the effects of guiding questions method on university students’ extrinsic motivation to study. The theory used was the ARCS model from Keller (1987) regarding extrinsic motivation to study. This study used a quasi-experimental method using a sample of 51 university students enrolled in General Psychology subject. Measurement used was an extrinsic motivation to study scale consisting of ARCS aspects which are attention, relevance, confidence, and satisfaction. Data was analysed using paired sample t-test and results showed that the guiding questions method was not effective to increase students’ extrinsic motivation to study. However, results also showed an increase in the ”satisfaction” aspect of extrinsic motivation to study following the guiding questions method
Regulasi Belajar pada Mahasiswa Psikologi
Penelitian ini adalah penelitian tentang regulasi belajar yang didasarkan pada hasil penelitian oleh Kadioglu, Uzuntiryaki & Aydin (2011) yang merumuskan ada tujuh aspek regulasi belajar yaitu : motivation regulation, planning, effort regulation, attention focusing, task strategies, using additional resources dan self instruction. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan regulasi belajar yang dimiliki oleh mahasiswa Fakultas Psikologi. Subjek penelitian adalah mahasiswa Fakultas Psikologi Unika Widya Mandala Surabaya yang aktif pada tahun ajaran Genap 2015/2016. Subjek penelitian sejumlah 170 orang. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah self regulatory strategic scale (SRSS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar subjek memiliki regulasi belajar yang tergolong tinggi dan sangat tinggi. Prosentase tertinggi pada aspek regulasi belajar adalah pada aspek effort regulation dan attention focusing. Aspek regulasi belajar dengan kategori rendah dan sangat rendah dengan nilai prosentase tertinggi adalah pada aspek task strategies dan planning. Fakultas disarankan untuk dapat mengembangkan program-program yang dapat mengembangkan regulasi belajar pada mahasiswa. Penelitian selanjutnya disarankan dapat mengembangkan alat ukur yang lebih variatif untuk mengungkap perilaku regulasi belajar.
Kata kunci : self-regulated learning, mahasiswa Psikologi, effort regulation, attention focusing, task strategies, plannin
First Year Challenge: The Role of Self-Regulated Learning to Prevent Internet Addiction among First-Year University Students
Predicting Academic Adjustment and Results of STUNED (STUderen in NEDerland) Students by Self Concept and Self Efficacy
-
Connect atau diconnect?: aktivitas literasi keluarga sebagai sarana pengasuhan untuk memperkuat komunikasi keluarga
-
Intervensi Latihan Membaca untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca pada Siswa Slow Learner
Membaca adalah kemampuan yang cukup penting untuk mendukung keberhasilan akademik di sekolah. Siswa yang mengalami larnban belajar (slow learner) pada tahun awal di SD terkadang belum mampu membaca secara lancar. Penelitian ini bertujuan memberikan intervensi pada
seorang siswa lam ban belajar yang duduk di SD kelas 2 sekolah inklusi. Kesulitan membaca subjek terlihat pada kata dengan konsonan ganda di tengah dan di akhir kata "ng", kata dengan konsonan ganda "ny", konsonan "n" di tengah kata dan konsonan ganda yang mengandung bunyi "r" seperti "pr" dan "tr". Intervensi berupa Iatihan membaca yang didasarkan pada metode modeling yaitu subjek akan diminta menirukan cara membaca yang benar, metode repeated practice berupa pengulangan latihan dan metode shaping yaitu memberikan penguatan secara positif terhadap respon membaca yang benar oleh subjek serta memberitahukan pada subjek pada kesalahan baca yang dilakukannya. Pendekatan psikologi positif yaitu memberikan penguatan dan feedback
secara positif pada keberhasilan yang dicapai subjek juga diberlakukan dalam proses pemberian intervensi sehingga subjek memiliki keterlibatan belajar yang lebih baik saat di kelas. Intervensi diberikan selama I 0 sesi dengan materi bacaan yang disesuaikan dengan materi pelajaran di kelas
2 SD. Hasil intervensi menunjukkan adanya peningkatan kemampuan membaca secara benar pada rangkaian konsonan yang menjadi kesulitan subjek yaitu "ng'', "ny", "n", "pr" dan "tr". Saran yang dapat diberikan adalah intervensi dengan menggunakan metode modeling, repeated practice,
shaping yang diberikan dengan menggunakan pendekatan psikologi positif dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan membaca pada siswa lamban belajar
- …
