64 research outputs found

    Characterization of Bacillus subtilis and B. licheniformis potentials as probiotic bacteria in Vanamei shrimp feed (Litopenaeus vannamei Boone, 1931)

    No full text
    Andriani Y, Safitri R, Rochima E, Fakhrudin SD. 2017. Characterization of Bacillus subtilis and B. licheniformis potentials as probiotic bacteria in Vanamei shrimp feed (Litopenaeus Vannamei Boone, 1931). Nusantara Bioscience 9: 188-193. This study aimed to characterize the Bacillus subtilis and Bacillus licheniformis potentials as probiotic bacteria in Vanamei shrimp feed (Litopenaeus vannamei Boone, 1931). A two-phase experimental descriptive method in a laboratory scale was applied in this study. The first phase was the bacterial growth curve observation of B. subtilis and B. licheniformis. The second phase was the characterization of the two bacteria in terms of their tolerance to an acidic condition, temperature, and bile salt concentration. The measured parameter was the number of colonies in predetermined acidic conditions, temperatures, and bile salt concentrations. The number of growing bacterial colonies was calculated using the total plate count method. Results show that B. subtilis had an optimal growth point at the eighth hours, achieving a total population of 6.138x1013 CFU/mL, while the optimal growth point for B. licheniformis was reached at the tenth hour with 4.299x1013 CFU/mL. Bacillus subtilis and B. licheniformis were also tolerant at 40, 50, and 60°C. The acid tolerance testing was conducted at pH of 2, 4, and 6. It was revealed that Bacillus subtilis were intolerant to acidic condition at pH = 2, in which the number of colonies decreased drastically. On the contrary, B. licheniformis was tolerant to pH = 2, which was evident from the absence of a drastic decrease in the number of colonies. Both B. subtilis and B. licheniformis were tolerant to pH 4 and 6. High tolerance to 0.3% and 0.5% bile salt concentration was observed in both Bacillus subtilis and B. Licheniformis with a high number of colonies of 1010 CFU/mL. Therefore, it is concluded that both B. subtilis and B. licheniformis can be developed into probiotics.</jats:p

    Buletin Teknologi Hasil Perikanan, Vol VIII Nomor 2 Tahun 2005

    No full text
    Jambal roti merupakan salah satu jenis ikan asin yang cukup dikenal di Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi garam dan lama fermentasi yang terbaik pada pembuatan jambal roti dari ikan manyung (Arius thalassinus). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan acak kelompok yang terdiri dari dua faktor. Pengamatan dilakukan terhadap karakteristik jambal roti yang diolah menurut kombinasi perlakuan konsentrasi garam 25 %, 30 %, 35 % dengan lama fermentasi garam 24, 36, 48, 60, dan 72 jam. Karakteristik produk diuji secara organoleptik dengan skala hedonik. Hasil percobaan menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang nyata dari konsentrasi garam dan lama fermentasi terhadap karakteristik organoleptik jambal roti. Karakteristik terbaik jambal roti diperoleh dengan fermentasi pada konsentrasi garam 30% selama 24 jam

    Pengaruh Fermentasi Garam terhadap Karakteristik Jambal Roti

    No full text
    Jambal roti merupakan salah satu jenis ikan asin yang cukup dikenal di Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi garam dan lama fermentasi yang terbaik pada pembuatan jambal roti dari ikan manyung (Arius thalassinus). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan acak kelompok yang terdiri dari dua faktor. Pengamatan dilakukan terhadap karakteristik jambal roti yang diolah menurut kombinasi perlakuan konsentrasi garam 25 %, 30 %, 35 % dengan lama fermentasi garam 24, 36, 48, 60, dan 72 jam. Karakteristik produk diuji secara organoleptik dengan skala hedonik. Hasil percobaan menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang nyata dari konsentrasi garam dan lama fermentasi terhadap karakteristik organoleptik jambal roti. Karakteristik terbaik jambal roti diperoleh dengan fermentasi pada konsentrasi garam 30% selama 24 jam.Kata kunci: fermentasi, ikan manyung, jambal roti, organolepti

    Kajian Pemanfaatan Limbah Rajungan dan Aplikasinya untuk Bahan Minuman Kesehatan Berbasis Kitosan

    No full text
    Kitin adalah biopolimer yang tersusun atas unit N-asetil-D-glukosamin dengan ikatan  Beta-(1,4) yang paling banyak dijumpai di alam setelah selulosa. Di Indonesia limbah kitin  yang belum dimanfaatkan sebesar 56.200 metrik ton per tahun. Limbah ini belum termanfaatkan secara baik dan berdaya guna, bahkan sebagian besar merupakan buangan yang juga turut mencemari lingkungan.Di pihak lain, buangan tersebut ternyata sangat potensil untuk  dimanfaatkan sebagai kitosan. Tujuan penulisan kajian ini adalah untuk menggambarkan pemanfaatan limbah rajungan menjadi kitosan lalu mengaplikasikan kitosan tersebut sebagai bahan minuman kesehatan.Hasil kajian kitosan dijarapkan akan dapat diterapkan sebagai bahan baku industri berbasis biota laut.

    Karakterisasi Kitin dan Kitosan Asal Limbah Rajungan Cirebon Jawa Barat

    No full text
    The aim of the research was to characterize chitin and chitosan from byproduct of meat crab’s Cirebon canning industry. The preliminary research included chitin flour production. Later on, production and characterization of chitin and chitosan. Characteristics of chitin and chitosan included solubility, degree of deacetylation, intrinsic viscosity and molecular weight. Degree of deacetylation was analyzed by First Derivative Ultra Violet Spektrofotometry, intrinsic viscosity by Ubbelohde viskometry, and molecular weight by Mark-Houwink equation. The result showed that characteristics of chitin and chitosan that included solubility, degree of deacetylation, intrinsic viscosity and molecular weight were 28 %, 39.02 %, 8.57 ml/g, 11 x 103 and 79.39 %, 70.70 %, 6.93 ml/g and 8.75 x 103 respectively. Characteristic of chitosan was suitable for food field application

    Buletin Teknologi Hasil Perikanan, Vol VIII Nomor 2 Tahun 2005

    No full text
    Jambal roti merupakan salah satu jenis ikan asin yang cukup dikenal di Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi garam dan lama fermentasi yang terbaik pada pembuatan jambal roti dari ikan manyung (Arius thalassinus). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan acak kelompok yang terdiri dari dua faktor. Pengamatan dilakukan terhadap karakteristik jambal roti yang diolah menurut kombinasi perlakuan konsentrasi garam 25 %, 30 %, 35 % dengan lama fermentasi garam 24, 36, 48, 60, dan 72 jam. Karakteristik produk diuji secara organoleptik dengan skala hedonik. Hasil percobaan menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang nyata dari konsentrasi garam dan lama fermentasi terhadap karakteristik organoleptik jambal roti. Karakteristik terbaik jambal roti diperoleh dengan fermentasi pada konsentrasi garam 30% selama 24 ja

    Karakterisasi Unagi Shirayaki Berbahan Baku Ikan Sidat Dengan Perendaman Enzim Papain

    No full text
    Unagi Shirayaki bahan antara yang digunakan sebagai bahan pembuatan Unagi Kabayaki. Shirayaki yang diolah dan ditambahkan saus khusus menghasilkan produk olahan dengan teksur yang lembut dan empuk. Kendala yang dihadapi dalam mengolah unagi kabayaki adalah munculnya tekstur daging sidat yang alot berasal dari sidat abnormal (brown) yang berbeda dari sidat normal (black) yang dapat mengakibatkan penurunan tingkat kesukaan konsumen. Salah satu upaya dalam perbaikan tekstur unagi adalah dengan perendaman menggunakan enzim papain. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik Unagi Shirayaki hasil perendaman enzim serta untuk mengetahui konsentrasi dan lama perendaman terbaik untuk memperbaiki karakteristik Unagi Shirayaki. Sebanyak 3 perlakuan konsentrasi enzim papain (0,5, 1,0 dan 1,5%) dan 3 lama perendaman (5, 10, 15 menit) digunakan dalam penelitian ini. Parameter yang diuji meliputi kadar proksimat (kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein), total bakteri, pH, tekstur dan organoleptik. Hasil penelitian menunjukan bahwa konsentrasi dan lama perendaman enzim papain terbaik untuk memperbaiki karakteristik Unagi Shirayaki adalah perendaman menggunakan larutan enzim papain dengan konsentrasi sebesar 0.5% selama 15 menit. Produk yang dihasilkan memiliki total koloni bakteri 1,04 x 10-3, pH 7,0, kadar air sebesar 51,39%, kadar lemak 18,24%, kadar protein 26,70% kadar abu 0,85%, kadar gula reduksi 0,00%, tingkat kekerasan 2,493.11 g/Force, kekenyalan 57,85 g/Force serta rasa, aroma, tekstur, dan kenampakan yang mirip dengan unagi shirayaki asal sidat normal (black)
    corecore