Jurnal Akuatika
Not a member yet
    66 research outputs found

    Kondisi Habitat Dan Polymesoda Erosa Pada Kawasan Ekosistem Mangrove Cagar Alam Leuweung Sancang

    Full text link
    Ekosistem mangrove yang berada di Cagar Alam Leuweung Sancang masih dalam kondisi alami. Salah satu biota yang hidup di ekosistem mangrove adalah Polymesoda erosa. Spesies ini memiliki nilai ekonomis dan ekologis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi dan korelasi antara habitat dengan Polymesoda erosa pada ekosistem mangrove Cagar Alam Leuweung Sancang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September hingga Desember 2013. Transek garis berplot digunakan untuk mengambil data Indeks Nilai Penting (INP) dan transek berplot yang diletakkan di dalam transek garis berplot digunakan untuk mengetahui kepadatan Polymesoda erosa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 4 spesies mangrove yang INPnya antara 37,9-300%. Kepadatan Polymesoda erosa antara 0-18±1,7 ind./10m2. Kerapatan mangrove tidak berdampak langsung pada kepadatan Polymesoda erosa, tetapi memberikan stimulasi pada parameter lingkungan seperti substrat dan kandungan C-organik pada substrat yang memiliki dampak langsung terhadap kepadatan Polymesoda erosa. Kata Kunci : Kepadatan, Mangrove, Polymesoda erosa, Sancan

    Pengujian Toksisitas Sub Akut Ekstrak Hipokotil Bakau Hitam pada Tikus Galur Sprague Dawley

    Full text link
    Hipokotil buah mangrove hitam (R.mucronata)telah terbukti mempunyai efek yang baik pada jaringan hati secara biokimia dan gambaran histopathologi[U1] [A2]  pada dosis 5 mg/kg pada tikus galur Sprague Dawley.  Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efek toksisitas secara sub-akut dari ekstrak hipokotilbuah mangrove hitam(R.mucronata)pada tikus dengan dosis 0; 15; 10[A3] 5 mg/kg berat badan.  Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah rancangan acak lengkap  dengan uji lanjut Duncan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak tidak menyebabkan penurunan berat badan dan kematian tikus.  Hasil analisis secara biokimia pada darah untuk SGPT[U4] [A5] , total bilirubin, BUN, dan kreatinin masih dalam batas normal.  Gambaran secara histopathologi menunjukkan bahwa terjadi perubahan di jaringan ginjal pada  dosis 105 mg/kg berat badan.  Hasil penelitian menujukkan bahwa dosis 15 mg/kg dari ekstrak hipokotilbuah mangrove hitam(R.mucronata) dianggap aman sebagai nutrasetika. Kata kunci: buah bakau (R.mucronata), sub-akut, toksisitas 

    Karakterisasi Kimiawi Dan Organoleptik Pempek Dengan Penambahan Tepung Tulang Ikan Mas Asal Waduk Cirata

    Full text link
    Penelitian mengenai karakterisasi kimiawi dan organoleptik pempek dengan penambahan tepung tulang ikan mas bertujuan untuk mengetahui jumlah tepung tulang ikan pada produk pempek yang paling disukai panelis.  Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Hasil Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran pada bulan Agustus sampai Nopember 2014. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan lima perlakuan yaitu penambahan tepung tulang ikan mas sebanyak 0, 5, 10, 15 dan 20% pada pempek. Parameter yang diamati adalah rendemen, karakteristik kimiawi (kadar air, kadar protein, kadar lemak, kadar abu) tepung tulang ikan, dan karakteristik organoleptik (kenampakan, aroma, tekstur dan rasa) pempek berdasarkan tingkat kesukaan menggunakan skala hedonik serta kadar kalsium pempek dari perlakuan paling disukai. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tepung tulang ikan mas menghasilkan rendemen 30%,  karakteristik kimiawinya meliputi kadar air 10,56% kadar protein 12, 11%; kadar lemak 4, 07%  dan kadar abu 2,5%. Karakteristik organoleptik terhadap kenampakan, aroma, tekstur dan rasa pempek pada dengan penambahan tepung tulang ikan mas hinga 15% masih disukai panelis. Kriteria rasa memiliki nilai terbesar dibandingkan kenampakan, aroma dan tekstur berdasarkan uji Bayes. Kadar kalsium pada pempek dengan penambahan 10% tepung tulang ikan mas adalah  0, 65 % jika dibandingkan dengan kontrol sebesar 0,18%. Kata kunci: tepung tulang, kimiawi, organoleptik, pempek 

    Analisis Poduksi Rumput Laut (Kappaphycus alvarezii) Berdasarkan Musim dan Jarak Lokasi Budidaya Di Perairan Kabupaten Bantaeng

    Full text link
    Rumput laut merupakan salah satu komoditas ekspor dan utama program revitalisasi perikanan berperan penting dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat.  Kabupaten Bantaeng merupakan salah satu lokasi sentra produksi rumput laut (K. alvarezii) di Sulawesi Selatan yang masih perlu ditingkatkan produksinya.   Pendekatan budidaya berdasarkan perubahan musim dan kualitas lingkungan secara ekologis yang optimal bagi pertumbuhan rumput laut yang tepat diharapkan menjadi acuan pengelolaan dan pemanfaatan lahan untuk peningkatan produksi rumput laut secara optimal dan berkelanjutan.  Strategi pengembangan budidaya rumput laut di yang perlu diterapkan adalah mengacu pada pengelolaan lingkungan perairan berbasis ekologis, aspek teknologi dalam budidaya rumput laut dan penataan kawasan sesuai daya dukung lingkungan (Kamlasi, 2008). Penelitian bertujuan menganalisis pengaruh musim dan jarak lokasi budidaya terhadap produksi rumput laut.  Manfaat penelitian sebagai acuan dalam pengelolaan budidaya rumput laut secara optimal dan berkelanjutan di perairan pesisir Bantaeng. Penelitian dilaksanakan di perairan pesisir Kabupaten Bantaeng menggunakan metode survey dan pengamatan.  Setiap stasiun pengamatan berdasarkan jarak dari garis pantai yaitu jarak dekat (0 - 500 m), jarak sedang (500 - 1000 m) dan jarak jauh (1000 - 1500 m).  Parameter lingkungan dan produksi diamati berdasarkan musim dan jarak lokasi budidaya. Analisis Univariat untuk analisis pengaruh musim dan jarak terhadap produksi serta Regresi linear berganda dengan SPSS 15. Hasil penelitian ini menunjukkan musim dan jarak dari garis pantai (P<0,05) terhadap produksi.  Produksi lebih tinggi pada musim hujan pada jarak 1500 m dari pantai.  Produksi rumput laut berkorelasi linear positif dengan kecerahan pada musim hujan, sedangkan pada musim kemarau salinitas, nitrat dan kecerahan. Kata Kunci : Jarak, Kappaphycus alvarezii, Musim, Produksi,  Rumput lau

    Karakteristik Fisiko-Kimia Minyak Biji Bintaro (Cerbera manghas L) dan Potensinya sebagai Bahan Baku Pembuatan Biodiesel

    Full text link
    Kadar rendemen dan karakteristik minyak nabati sangat dipengaruhi oleh teknik ekstraksi yang digunakan. Penelitian[AP1]  ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas teknik soklet dan teknik hot press hidrolik dalam ekstraksi minyak biji bintaro dan karakteristik fisiko-kimia minyak biji Bintaro  (Cerbera manghas L) yang dihasilkan untuk mengetahui potensinya sebagai bahan baku pembuatan biodiesel. Pada penelitian ini, minyak biji bintaro diperoleh dari hasil ekstraksi menggunakan metode hot press hidrolik dan metode sokhletasi dengan pelarut nonpolar n-heksana. Hasil ekstraksi berupa minyak berwarna kuning terang dengan kadar minyak biji bintaro 3, 7% dari hasil hot press hidrolik dan hasil sokletasi sebesar 51,07%. Hasil uji sifat fisiko-kimia biji bintaro yaitu bobot jenis 0,9084 g/mL, indeks bias 1,4659, kadar air 0,30 %, bilangan asam 1,19 mg KOH/g, bilangan iod 76,30 g I2/100g, bilangan penyabunan 202,90 mg KOH/g, dan bilangan ester 201,71 mg KOH/g. Berdasarkan sifat fisiko-kimianya minyak biji bintaro berpotensi sebagai bahan baku pembuatan biodiesel. Kata Kunci : Cerbera manghas L, Hot Press Hidrolik, Soklet, Karakteristik Fisiko-Kimia.

    Keragaan Gonad Ikan Tengadak(Barbonymus schwanenfeldii) Setelah Diinjeksi Hormon HCG Secara Berkala

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis human chorionic gonadotrophin(hCG) yang tepat pada pematangan gonad ikan tengadak melalui injeksi secara berkala. Sebanyak 72 ekor calon induk betina ikan tengadak yang ditangkap dari alam (Sungai Melawi) dengan berat 150±8 g/ekor dipelihara dalam karamba di Sungai Kapuas untuk dijadikan calon induk. Ikan tengadak tersebut diberi perlakuan hormon hCG yang diinjeksikan secara berkala (setiap 15 hari sekali) dengan dosis masing-masing 0, 50, 100, 150, 200 dan 250 IU/kg bobot tubuh. Peubah yang diamati adalah tingkat kematangan gonad (TKG), indeks kematangan gonad (GSI), indeks perkembangan hati (HSI), fekunditas, dan sebaran diameter telur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyuntikan hCG 200 dan 250 IU/kg dapat merangsang semua ovari calon induk ikan tengadak matang (TKG IV).  Dosis hCG 200 dan 250 IU/kgjuga dapat menghasilkan GSI dan HSI tertinggi, masing-masing 4,56 dan 1,60. Fekunditas tertinggi dicapai pada injeksi berkala dengan dosis hormon 200 IU/kg, yaitu 19.021 butir. Sebaran diameter telur cenderung meningkat dengan meningkatnnya dosis hCG, telur ukuran yang lebih besar (antara 0,71 dan 0,78 mm) lebih sering dijumpai pada injeksi hCG dengan dosis 200 dan 250 IU/kg bobot tubuh. Kata kunci : Barbonymus schwanenfeldii, gonad, ikan tengadak, injeksi hC

    Pemetaan Sebaran Dan Kelimpahan Ikan Napoleon (Cheilinus undulatus) Di Teluk Maumere, Kepulauan Sembilan Dan Takabonerate

    Full text link
    Kegiatan survey pemetaan ikan napoleon dilaksanakan pada tahun 2012 dan 2013 di tiga lokasi yaitu Kepulauan Sembilan Kab. Sinjai, Teluk Maumere Kab. Sikka dan Takabonerate Kab. Kepulauan Selayar. Penelitian bertujuan untuk memetakan sebaran dan kepadatan populasi ikan napoleon di setiap lokasi penelitian. Ikan napoleon (Cheilinus undulatus) merupakan salah satu ikan yang terancam punah (endangered species) dan masuk dalam Appendiks II CITES. Penelitian dilakukan dengan metode survey yang menggabungkan citra satelit landsat sebagai peta dasar dengan hasil underwater visual census (UVC). Berdasarkan hasil UVC, kepadatan ikan napoleon di beberapa lokasi di Kepulauan Sembilan berkisar antara 0-6,3 ind/ha, di Takabonerate berkisar antara 0-4,17 ind/ha dan di Teluk Maumere tidak ditemukan ikan napoleon. Kondisi tutupan karang hidup di lokasi tempat diketemukannya ikan napoleon berkisar antara 15-60% dengan kedalaman berkisar antara 5-20. Gabungan antara hasil analisis peta dan hasil UVC menghasilkan peta lokasi sebaran ikan napoleon. Kata Kunci: Ikan napoleon, spesies terancam punah, kelimpahan, UVC, pemetaan. 

    Keberadaan Ikan Kodok (Antennarius maculates, Desjardins 1840) di Pulau Nusa Penida Provinsi Bali

    Full text link
    Ikan kodok (Antennarius maculates, Desjardins 1840) atau Warty/ Clown Frogfish adalah ikan yang memiliki bentuk tubuh diagonal, ekornya menyerupai kaki, sirip dorsal dan ekor memiliki warna kuning cerah dan bercak-bercak merah muda, dan di atas mata ada 2 organ seperti tanduk pada sirip punggung. Ikan kodok hidup pada perairan Indonesia dan negara tropis, umumnya ditemukan pada ekosistem terumbu karang. Penelitian dilaksanakan pada bulan 20 - 28 Februari 2015 dengan menerapkan metode survey di Pulau Nusa Penida, Provinsi Bali, Indonesia. Penelitian ini fokus untuk mencari dan mengidentifikasi ikan kodok pada ekosistem terumbu karang di Indonesia dan menganalisa parameter kualitas air laut untuk kehidupan ikan kodok. Analisa foto sampel dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Kelautan, FPIK, UNPAD. Hasil penelitian menunjukan hanya 1 jenis ikan kodok (Antennarius maculates) dan hanya ditemukan di Crystal Bay yaitu di sisi barat Pulau Nusa Penida. Hal ini diduga karena ikan ini hanya hidup pada kondisi perairan yang jernih dan hidup pada ekosistem terumbu karang yang terlindung dan berbatasan dengan laut dalam. Banyaknya kegiatan manusia yang ada di Nusa Penida dapat membuat kehidupan ikan kodok terganggu. Wisata bahari telah berkembang di Nusa Penida, berbagai kegiatan yang telah dilakukan banyak wisatawan asing seperti menyelam, snorkling, bermain kano, memancing dan bermain jet ski dan water sports lainnya, telah mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya. Salah satu alasan para penyelam di Nusa Penida itu karena ingin melihat ikan Manta rays, Mola-mola, ikan hiu dan juga ikan kodok. Kata kunci : ikan kodok, ekosistem terumbu karang, nusa penida, wisata bahar

    Distribusi Dan dan Struktur Komunitas Fitoplankton Di di Perairan Jailolo, Halmahera Barat

    No full text
    Sumberdaya pesisir dan lautan menjadi alternatif untuk pembangunan masa depan Indonesia, karena memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan baik dari sisi ekonomis maupun ekologis.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi dan struktur komunitas fitoplankton di perairan Jailolo Halmahera Barat.Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari 2011 di perairan Jailolo Kabupaten Halmahera Barat Provinsi Maluku Utara pada 7 (tujuh) stasiun dengan metode penyaringan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 30 genus fitoplankton dari 3 (tiga) kelas yaitu kelas Bacillariophyceae (20 genus), Cyanophyceae (8 genus), dan Dinophyceae (2 genus).Kelimpahan fitoplankton yang ditemukan memiliki kisaran nilai antara 269.388 - 957.143 sel/m3, kelimpahan tertinggi dijumpai pada stasiun Idamdehe (957.143 sel/m3) dan terendah pada stasiun antara Gufasa dan Tuada (269.388 sel/m3).  Indeks-indeks biologi fitoplankton yang didapatkan berturut-turut dengan kisaran yaitu indeks keanekaragaman (H’) = 1,4322 - 2,1869, indeks keseragaman (E) = 0,6220 - 0,8223, dan indeks dominansi (D) = 0,1580 - 0,3223.   Kata kunci :  Distribusi, fitoplankton, Jailolo, dan struktur komunitas 

    DNA Barcoding untuk Autentikasi Produk Ikan Tenggiri (Scomberomorus sp)

    Full text link
    Abstrak Kebutuhan produk perikanan terus meningkat seiring dengan pertambahan populasi manusia. Keterbatasan bahan baku menyebabkan meningkatnya biaya produksi dan berpotensi menimbulkan kecurangan perdagangan untuk meningkatkan keuntungan sepihak. Ikan Tenggiri (Scomberomorus sp) merupakan ikan perenang cepat dan sering digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan produk perikanan. Proses Pengolahan menyebabkan ikan ini sulit dikenali secara morfologi. Pendekatan molekuler melalui amplifikasi DNA menjadi jalan keluar untuk mengetahui keaslian produk yang telah mengalami perubahan bentuk. Sampel yang telah dikumpulkan terdiri dari baso (Sio), empek-empek (PLm), kerupuk pasar tradisional (KrPsa), dan kerupuk pasar modern (KrLM). dan. Produk tersebut berlabel ikan Tenggiri. Primer yang didesain adalah Cytochrome b dengan target 380bp, merupakan salah satu gene penyandi pada DNA mitokondria. Analisis kesejajaran digunakan untuk mengetahui kedekatan kekerabatan species. Berdasarkan hasil penelitian ini, tiga produk yaitu baso, kerupuk dari pasar modern (KrLM), dan empek-empek diketahui menggunakan bahan baku ikan tenggiri, akan tetapi kerupuk yang diperoleh dari pasar tradisional (KrPsa) tidak terlacak menggunakan bahan baku ikan tenggiri. Kata kunci : Autentikasi, Primer, Tenggir

    63

    full texts

    66

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Akuatika
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇