Jurnal Akuatika
Not a member yet
    66 research outputs found

    Kandungan dan Sumber Asal Senyawa Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH) dalam Sedimen di Perairan Pakis Jaya, Kabupaten Karawang

    Full text link
    Perairan Pakis Jaya terletak di Kabupaten  Kawarang, Jawa Barat,  merupakan perairan yang banyak menerima masukan limbah melalui DAS Citarum  yang berasal dari aktivitas manusia. Limbah mengandung berbagai macam senyawa kimia yang bersifat toksik terhadap biota laut. Salah satunya adalah  senyawa Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar dan sumber asal senyawa PAH dalam sedimen di Perairan Pakis Jaya. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret 2014. Contoh sedimen diambil dengan menggunakan alat pengambil contoh sedimen (Grab sampler) pada 6 stasiun penelitian. Kadar senyawa PAH ditentukan dengan menggunakan Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS),  dan sumber asal PAH dengan metode diagnosa rasio individu PAH. Hasilnya menunjukkan kadar PAH dalam sedimen di perairan Pakis Jaya berkisar 0,113-0,862 ppm dengan rerata 0,370 ppm, kadar ini masih sesuai dengan nilai ambang batas aman untuk kehidupan biota laut. Jenis PAH di perairan ini didominasi oleh PAH dengan berat molekul tinggi. Hasil analisis diagnosa rasio individu PAH menunjukkan bahwa PAH dalam  sedimen di Perairan Pakis Jaya berasal dari berbagai sumber yakni tumpahan minyak bumi, pembakaran bahan bakar minyak dan pembakaran bahan organik. Untuk mengantisipasi  dan mencegah terjadinya pencemaran PAH di Perairan Pakis Jaya, perlu dilakukan efisiensi penggunaan bahan bakar minyak,  mengurangi tumpahan bahan bakar minyak, mengurangi  pembakaran bahan bakar minyak dan bahan organik serta menerapkan peraturan perundang-undangan dan pemberian sanksi  terhadap pelaku pencemaran. Kata kunci: Pakis Jaya, Sedimen, PAH, Sumber, Kandunga

    Skrining Antibakteri Produk Ekstrasel Eksosimbion Bakteri Laut pada Makroalga Terhadap Biofilm Staphylococcus aureus ATCC 25923

    Full text link
    Kemampuan Staphylococcus aureus dalam membentuk biofilm dapat meningkatkan sifat virulensi dan resistensinya terhadap antibiotik yang selama ini efektif digunakan. Penemuan kandidat antibakteri terhadap biofilm tersebut dapat menjadi solusi untuk mengatasi infeksi S.aureus. Bakteri yang bersimbiosis dengan makroalga telah diketahui menghasilkan senyawa antibiotik terhadap bakteri patogen. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh isolat bakteri eksosimbion makroalga yang mengandung produk ekstrasel yang dapat bekerja sebagai antibakteri terhadap biofilm S.aureus. Tahapan metode yang dilakukan adalah pengambilan dan determinasi bahan makroalga yang diperoleh dari Pantai Santolo, Kab.Garut,  isolasi dan pemurnian bakteri eksosimbion pada makroalga dengan metode pulas, isolasi produk ekstrasel bakteri dengan metode sentrifugasi, skrining aktivitas antibakteri terhadap S.aureus plankton dengan metode difusi agar dan terhadap biofilm menggunakan metode turbidimetri dengan pewarnaan kristal violet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari tiga jenis makroalga, diperoleh 17 isolat koloni tunggal yang memiliki warna dan morfologi koloni yang berbeda. Dari 17 isolat tersebut diperoleh lima isolat koloni, yaitu isolat 9,10,11,12,dan 13, yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap S.aureus ATCC 25923 plankton dan satu isolat koloni, yaitu isolat 9, yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap bentuk biofilmnya. Kata kunci : Staphylococcus aureus, Biofilm, Bakteri eksosimbion, Makroalga, pantai santol

    Pengaruh Suhu dan Lama Blansing Terhadap Penurunan Kesegaran Filet Tagih Selama Penyimpanan Pada Suhu Rendah

    Full text link
    Penelitian mengenai pengaruh suhu dan lama blansing terhadap penurunan kesegaran filet tagih selama penyimpanan pada suhu rendah telah dilakukan.  Tiga taraf perlakuan suhu blansing, 80o, 90o, dan 100oC dan tiga taraf lama blansing, 1, 3 dan 5 menit.  Paramater yang diamati selama penyimpanan filet tagih pada suhu rendah adalah populasi bakteri pembusuk, pH dan susut bobot.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa filet yang diblansing pada suhu 80oC selama 3 menit mampu menghambat penurunan kesegaran paling baik dengan populasi mikroba pada penyimpanan hari ke-10 sebanyak 6 x 10% CFU, peningkatan pH menjadi 6.55 pada hari ke-4 dan susut bobot pada hari ke-10 sebesar 4 persen

    Identifikasi Perubahan Luasan Greenbelt Di Kabupaten Pangandaran - Jawa Barat Menggunakan Citra Landsat

    Full text link
    Kondisi ekosistem pesisir Kabupaten Pangandaran, sepanjang 28 kmmengalami kerusakan terutama pasca tsunami tahun 2006 mulai dari Pananjung hingga Parigi, kecuali Cagar Alam Pananjung yang masih terjaga kelestariannya. Oleh karena itu, diperlukan konsep terintegrasi yang memperhatikan aspek sosial, ekonomi, dan ekologi untuk mengatasi masalah tersebut. Penelitian ini meliputi wilayah pesisir Kabupaten Pangandaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju perubahan luasan greenbelt untuk mitigasi bencana tsunami yang terjadi di pesisir Kabupaten Pangandaran menggunakan data citra landsat tahun 1999, 2003, 2010 dan 2013. Metode yang digunakan dengan analisa supervised classification dengan interpretasi Citra Landsat. Hasilnya menunjukkan bahwa sejak tahun 1999 hingga 2013, kondisi greenbelt di pesisir Kabupaten Pangandaran mengalami perubahan. Greenbelt tahun 1999 memiliki luasan sekitar 133,56 Ha dan turun sekitar 40% pada tahun 2003 menjadi hanya 81,27 Ha. Pengrusakan hutan diakibatkan oleh aktifitas illegal logging dan pembukaan lahan untuk keperluan perkebunan, tambak dan aktifitas ekonomi lainnya. Setelah kejadian tsunami pada tahun 2006, proyek penanaman kembali greenbelt mulai digalakan pada tahun 2007/2008 dan hasilnya terlihat pada peningkatan luasan greenbelt menjadi 128,82 Ha atau naik sekitar 68% dibandingkan keadaan pada tahun 2003. Namun, pada tahun 2013 atau tepatnya 6 tahun pasca tsunami 2006, jumlah luasan hutan pantai kembali berkurang sekitar 4% menjadi 120,51 Ha. Kata Kunci : Citra Landsat, Greenbelt, Pangandaran 

    Profil Vertikal Oksigen Terlarut di Danau Oxbow Pinang Dalam, Desa Buluh Cina-Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau

    Full text link
    Kandungan oksigen terlarut (DO)  terkait dengan kedalaman air. Untuk memahami profil vertikal dari konsentrasi DO, penelitian dilakukan pada bulan Februari-Maret 2014 di Pinang Dalam Oxbow Lake. Sampel air diambil di tiga stasiun, yaitu stasiun 1, stasiun 2 dan stasiun 3. Pengambilan sampel secara vertikal didasarkan pada kecerahan dimana pada permukaan perairan sekitar 2,5 m dari kedalaman secchi dan bagian dasar perairan. Parameter kualitas air yang diukur adalah pH, suhu, nitrat dan fosfat, kecerahan, serta DO. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi DO di permukaan: 3,84 mg/l-5.29 mg/l; di kedalaman 2,5 secchi: 3,51 mg/l-4,87 mg/l; dan di kedalaman bawah; 2.04 mg/l-2.58 mg/l. Kelarutan oksigen, nitrat dan fosfat konsentrasi juga terkait dengan kedalaman. Konsentrasi Nitrat dan fosfat di permukaan adalah 0,02-0,03 mg/ldan 0,04-0,05 mg/lmasing-masing, di kedalaman secchi 2,5 m adalah 0,04-0,07 mg/ldan 0,01-0,10 mg/ldan di bagian bawah adalah 0,07-0,34 mg/ldan 0,46-071 mg/l. Nilai pH di permukaan sampai ke bawah adalah 5. Berdasarkan data oksigen terlarut yang diperoleh, dapat diindikasikan bahwa ada kebutuhan oksigen oleh limbah organik terutama di bawah air. Kata kunci: Danau Pinang Dalam,Oksigen terlarut, Profil vertikal  

    Studi Hematologi Untuk Diagnosa Penyakit Ikan Secara Dini Di di Sentra Produksi Budidaya Ikan Air Tawar Sungai Kapuas Kota Pontianak

    Full text link
    Kondisi hematologi dapat menggambarkan kesehatan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kondisi hematologi ikan lele dumbo (Clarias gariepinus), ikan mas (Cyprinus carpio) dan ikan nila merah (Oreochromis sp.) yang dibudidayakan di keramba apung di Sungai Kapuas Kota Pontianak, sehingga dapat diketahui apakah ikan-ikan tersebut mengalami serangan penyakit atau tidak secara lebih dini.  Pada penelitian survei ini, ikan sampel dikumpulkan secara acak dari beberapa pembudidaya ikan di KelurahanParit Mayor,  Tambelan Sampit, Banjar Serasan, Dalam Bugis, Tanjung Hilir, and Tanjung Hulu.Hasil penelitian menunjukkan bahwa hemoglobin ikan lele dumbo, ikan mas dan nila merah yaitu 4,00±0,68 g/100 ml; 6,26±0,92 g/100 ml dan 5,42±1,14 g/100 ml secara berturut-turut.Kadar hematokrit ikan lele dumbo adalah 16,63±3,10 %; ikan mas 19,72±2,88 %  dan nila merah 27,31±2,88%.  Jumlah eritrosit ikan lele dumbo yaitu 7,46±1,63 x 104 sel/mm3;ikan mas dan ikan nila merah adalah 6,76±1,07 x 104 sel/mm3 dan  8,66±1,56 x 104 sel/mm3 secara berturut-turut.Jumlah leukosit ikan lele dumbo yaitu 101,33±25,48 x 103 sel/mm3, dan secara berturut-turut ikan mas dan ikan nila merah yaitu 191,98±33.84 x 103 sel/mm3 dan 89.98±33.37 x 103 sel/mm3.  Nilai hemoglobin, hematokrit, dan eritrosit bahwa ketiga spesies ikan tersebut tidak normal dan terindikasi ada serangan penyakit. Berdasarkan parameter leukosit, ikan lele dan ikan nila merah dalam kondisi normal. Jumlah sel leukosit ikan mas di atas normal, dan ikan mas terinfeksi ekstoparasit Dactylogyrus sp. dengan prevalensi dan intensitas serangannya yang masih rendah, yaitu 8 % and 1,42.  Kata Kunci: Dactylogyrus sp. hematologi, dan Sungai Kapuas 

    Kualitas Air Di Waduk Nadra Kerenceng Kota Cilegon Provinsi Banten

    Full text link
    Waduk Nadra Krenceng merupakan waduk yang berada di Kota Cilegon, Banten merupakan penampungan air dari sungai Rawa Danau dan beberapa aliran sungai sekitar Kota Cilegon dan DAS Cidanau. Sebagai tempat penampungan air maka waduk mempunyai kapasitas tertentu dan sangat rawan mengalami perubahan kualitas. Penelitian ini bertujuan memantau kualitas air Waduk Nadra Krenceng. Penelitian ini dilakasanakan pada bulan Maret - April 2015 pada 4 stasiun pengamatan yaitu: Inlet Kapudenok, inlet Rawa Gondong Kubang Lesung, di tengah waduk dan outlet Krenceng Masigit. Suhu perairan Waduk Nadra Krenceng   berkisar antara 27-31°C,   kecerahan antara 0,16-0,25m, pH   antara 7,58-8,37, DO  antara      6,6-12,5 mg/l, Nitrat antara 1,1-9,4 mg/l, fosfat antara 0,12-0,35 mg/l dan kandungan khlorofil-a perairan berkisar antara 22,45-391,13 µg/l. Kata Kunci : Cilegon, Waduk Nadra Krenceng, Kualitas air

    Penentuan Waktu Rigor Mortis Ikan Nila Merah (Oreochromis Niloticus) Berdasarkan Pola Perubahan Derajat Keasaman

    Full text link
    Penelitian mengenai penentuan waktu rigor mortis berdasarkan pola perubahan derajat keasaman daging ikan nila merah (Oreochromis niloticus) yang disimpan pada suhu rendah telah dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Industri Hasil Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpad. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui waktu masuknya rigor mortis ikan nila merah berdasarkan derajat keasamannya. Penelitian menggunakan metode deskriptif berdasarkan pengamatan mulai saat ikan mati dengan selang waktu 30menit sekali selama 7jam, dan selanjutnya tiap 60menit sekali hingga 14jam. Parameter yang diukur adalah kekerasan ikan dan derajat keasaman daging. Berdasarkan hasil penelitian, ikan nila merah sampai 1,5jam setelah mati masih dalam fase pre-rigor mortis dengan rata-rata pH relatif konstan, yaitu 6,96 – 7,04 dan rata-rata kekerasan 0,80kg/cm².  Rata-rata nilai pH pada 2jam setelah mati mulai menurun menjadi 6,66 hingga pH 6,17 pada 10 jam setelah mati, dengan nilai rata-rata kekerasan 0,81kg/cm² - 0,89kg/cm².  Selanjutnya nilai rata-rata pH mulai 11 jam hingga 14jam setelah mati terjadi peningkatan menjadi 6,26- 6,32, sedangkan nilai rata-rata kekerasan sekitar 0,88kg/cm². Berdasarkan penelitian ini dapat dikatakan bahwa ikan nila merah mulai memasuki fase rigor mortis adalah 2 jam setelah mati dan mulai memasuki fase post-rigor mortis pada 12jam setelah ikan mati, namun hingga 14 jam setelah mati, daging ikan masih dalam kondisi segar.

    Pemodelan Tinggi Gelombang Akibat Keberadaan Hutan Mangrove di Desa Mayangan, Kabupaten Subang

    Full text link
    Hutan mangrove merupakan salah satu solusi untuk mencegah terjadinya erosi dan abrasi di wilayah pesisir. Pohon mangrove mempunyai kemampuan untuk mengurangi energi gelombang yang datang ke daerah pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi perubahan tinggi gelombang yang disebabkan oleh hutan mangrove di Desa Mayangan Kabupaten Subang. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa hutan mangrove dapat mengurangi tinggi gelombang dari 1,7 m menjadi 0,1 m. Jika tidak ada lagi hutan mangrove di Desa Mayangan, pemodelan memprediksi penjalaran gelombang dapat mencapai hingga 1,6 km dari tepi pantai. Kata Kunci : Desa Mayangan, gelombang, mangrove, pemodela

    Variabilitas Angin dan Gelombang Laut Sebagai Energi Terbarukan di Pantai Selatan Jawa Barat

    Full text link
    Wilayah selatan Jawa Barat yang langsung berhubungan dengan samudra Hindia memiliki potensi pengembangan energi yang berasal dari angin dan gelombang laut. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan alternatif pemenuhan energi yang berasal dari minyak bumi dan batubara. Pola angin dan gelombang memiliki hasil tunggang yang besar dimana pola kecepatan angin berkisar antara 5,305 – 12,604 m/s. Ketinggian gelombang dalam satu tahun didapatkan pada bulan Maret yaitu antara 1,95m sampai dengan 3,1m dan yang terkecil didapatkan pada bulan Februari yaitu antara 0,54m sampai dengan 1,04m. Nilai tunggang yang besar ini dikarenakan pola angin maupun gelombang mengikuti pola musiman (triwulan) akibat monsunal

    63

    full texts

    66

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Akuatika
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇