1,721,225 research outputs found

    PERAN EMIL SALIM DALAM KEMENTERIAN PENGAWASAN PEMBANGUNAN DAN LINGKUNGAN HIDUP DI INDONESIA 1972-1983

    Full text link
    Skripsi ini dilatarbelakangi oleh ketertarikan penulis pada kajian sejarah Orde Baru, terutama mengenai Kementerian Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup. Kemudian ditemukan sebuah informasi bahwa Emil Salim adalah tokoh yang berperan dalam pembentukan kementerian ini dan setelahnya menjabat sebagai Menteri Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup yang pertama tahun 1978-1993, namun penulis membatasi kajian Peran Emil Salim dalam kementerian ini hanya pada periode pertama yakni pada tahun 1978-1983. Untuk itu akan sangat menarik jika peran Emil Salim dalam pembentukan Kementerian Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup serta kebijakannya sebagai menteri dari kementerian ini ditelusuri lebih mendalam pada suatu penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan proses terbentuknya Kementerian Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup, sekaligus menganalisis kebijakan yang dicetuskan oleh Emil Salim dalam melindungi juga mengelola lingkungan hidup dan pembangunan. Metode penelitian yang digunakan oleh penulis adalah metode penelitian historis yang dilakukan melalui empat tahapan yaitu heuristik, kritik, intepretasi dan historiografi. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan informasi bahwa Emil Salim sebenarnya ialah seorang ekonom yang kemudian dipercaya untuk mengelola bidang lingkungan hidup. Selama menjabat sebagai menteri Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup, Emil Salim mencetuskan beberapa kebijakan dalam melindungi juga mengelola lingkungan hidup dan pembangunan. Kebijakan tersebut yaitu Pusat Studi Lingkungan (PSL) tahun 1979, Piagam Kalpataru tahun 1981 dan Produk Hukum Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982. This theses is based on writer interest to New Order history, especially about Ministry of State for Development Supervision and Environment. After some research writter found out that Emil Salim is the man behind Ministry of Environment and he also acknowledge as the first minister of Environment in 1978 – 1993, however writer study is focus on Emil Salim first period as Minister in 1978 – 1983. For that it will be very interesting if Emil Salim role in formation of Ministry of State for Development Supervision and Environment and his policy as minister from this sector is have furthermore studies. This research is intend to explain the formation process of Ministry of State for Development Supervision and Environment, and analyzed Emil Salim policy on protecting environtment and managing development. This research uses historical research methods that is heuristic, critic, and historiography. Based on the research, Emil Salim is economist who is trusted by New Order goverment to manage development and environment. As minister, Emil Salim pioneered some policies for protecting and managing the environment. Some of his policies is Center for Environmental Studies in 1979, Kalpataru Charter in 1981 and Product of Law in Constution Number 4 year 1982

    KONSEP ETIKA LINGKUNGAN MENURUT EMIL SALIM DAN SEYYED HOSSEIN NASR

    Full text link
    Penelitian ini membahas tentang konsep etika lingkungan menurut Emil Salim dan Seyyed Hossein Nasr. Mereka adalah dua tokoh yang sama-sama mengangkat masalah lingkungan dengan perspektif berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan bagaimana konsep etika lingkungan menurut Emil Salim dan Seyyed Hossein Nasr. Dalam penelitian ini, digunakan berbagai bahan kepustakaan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Penelitian ini dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai cara penerapan etika lingkungan dalam praktik dan kebijakan, agar dapat menangani tantangan lingkungan saat ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapatnya persamaan dan perbedaan antara kedua tokoh tersebut. Mereka sama-sama menekankan pentingnya keseimbangan antara manusia dan lingungan. Dengan latar belakang yang berbeda, Emil merupakan seorang ahli ekonomi, politik dan pemikir Indonesia yang memiliki dampak besar dalam pengelolaan lingkungan. Dalam hal tersebut Emil Salim menyatakan bahwa Masalah lingkungan yang dihadapi oleh negara-negara berkembang sering diakibatkan oleh kemiskinan yang memaksa masyarakat untuk merusak lingkungan. Rendahnya pendapatan masyarakat, minimnya peluang kerja, tingkat pendidikan yang masih rendah, sehingga berkontribusi pada pengurasan sumber daya alam untuk menghasilkan pendapatan demi kelangsungan hidup. Ia menekankan tindakan yang berlandaskan tanggung jawab pentingnya moral dan peranan manusia dalam mengelola lingkungan dengan mengembangkan pembangunan berkelanjutan. Sedangkan latar belakang Seyyed dikenal dengan pemikirannya di bidang filsafat dan tasawuf. Adapun menurut Seyyed Hossein Nasr alam semesta merupakan manifestasi dari sifat-sifat Ilahi, sehingga ia menekankan nilai-nilai spiritual untuk menjaga dan melestarikan lingkungan. Dengan mengedepankan nilai-nilai spiritual, manusia dapat lebih mudah membedakan antara perbuatan yang baik dan buruk. Nasr menjelaskan bahwa masalah spiritual adalah isu yang sangat berpengaruh bagi manusia. Menurut Seyyed Hossein Nasr, masalah lingkungan yang terjadi sekarang disebabkan oleh pemikiran yang menganggap manusia sebagai pusat dari segala sesuatu, yang dikenal sebagai antroposentrisme. Oleh sebab itu, jalan keluar dari masalah ling kungan ini, didasarkan pada ajaran Islam yang berkaitan dengan hakikat manusia sebagai khalifah di dunia serta sebagai makhluk yang memiliki hubungan dengan Tuhan. Kata Kunci: Emil Salim, Seyyed Hossein Nasr, Etika Lingkungan, Spiritua

    POTENSI DIVERSITAS SERANGGA DI TAMAN KEHATI EMIL SALIM DAN SEKITARNYA SEBAGAI PENDUKUNG EKOWISATA KOTA SAWAHLUNTO

    Full text link
    Interaksi antara serangga dan tanaman merupakan suatu asosiasi mutualisme, dimana tumbuhan menyediakan sumber pakan bagi serangga berupa serbuk sari dan nektar. Peran serangga adalah sebagai bioindikator keseimbangan lingkungan yang bermanfaat untuk keberlangsungan ekosistem. Penelitian mengenai potensi diversitas serangga di Taman Kehati Emil Salim dan sekitarnya Sebagai Pendukung Ekowisata Kota Sawahlunto. Telah dilaksanakan di Taman Kehati Emil Salim, Kota Sawahlunto, Sumatra Barat pada bulan April-Agustus 2023 dan di Laboratorium Taksonomi Hewan Invertebrata dan Laboratorium Ekologi Hewan, Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas, Padang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis serangga, menganalisis keanekaragaman, kemerataan, dan dominansi serangga, dan mengetahui pengaruh faktor lingkungan terhadap keberadaan serangga serta potensi serangga dalam peranannya sebagai bioindikator lingkungan dan pendukung ekowisata di kawasan Taman Kehati Emil Salim dan sekitarnya Kota Sawahlunto. Metode yang digunakan survey dan deskriptif pada lokasi hutan, kebun akasia dan sawah. Pengkoleksian sampel menggunakan metode perangkap insect net, cylindrical gauze, dan honey spray bait trap. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa keanekaragaman serangga pada Taman Kehati Emil Salim sebagai lahan rehabilitasi pasca tambang sudah berangsur membaik ditandai dengan kehadiran 136 serangga yang tergabung dalam 5 Ordo dan 15 famili. Nilai indeks keanekaragaman berturut-turut adalah 2,47; 3,14; 2,10 yang masuk dalam kategori sedang, nilai indeks kemerataan berturut-turut adalah 0,93; 0,91; 0,85 yang berarti sebaran individu merata dan nilai indeks dominansi berturut-turut adalah 0,020; 0,011; 0,002 yang berarti tidak ada spesies yang mendominasi. Serangga yang paling berpengaruh sebagai bioindikator yaitu kupu-kupu(Lepidoptera: Nymphalidae)disebabkan keberadaannya yang paling melimpah di semua lokasi penelitian di kawasan Taman Kehati Emil Salim dan sekitarnya, Kota Sawahlunto

    Molecular and Functional Study of Monalysin, a Pore-Forming Toxin from Pseudomonas entomophila

    Full text link
    博士論文 要旨Abstract/本文Full 以下に掲載:Frontiers in Immunology 11(1) pp.520-520 2020. Frontiers. 共著者:Saori Nonaka, Emil Salim, Koki Kamiya, Aki Hori, Firzan Nainu, Rangga Meidianto Asri, Ayu Masyita, Takumi Nishiuchi, Shoji Takeuchi, Noriyuki Kodera, Takayuki Kuraish

    DIVERSITAS DAN KELIMPAHAN FAUNA TANAH SEBAGAI BIOINDIKATOR KESUBURAN TANAH DI TAMAN KEHATI EMIL SALIM, SAWAHLUNTO, SUMATRA BARAT

    Full text link
    Penelitian mengenai diversitas dan kelimpahan fauna tanah sebagai bioindikator kesuburan tanah di taman Kehati Emil Salim, Sawahlunto, Sumatra Barat telah dilaksanakan pada bulan Oktober 2022 hingga Mei 2024 di Laboratorium Ekologi Hewan dan Laboratorium Taksonomi Hewan Invertebrata, Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas, Padang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis serta keanekaragaman dan kelimpahan fauna tanah pada lahan rehabilitasi pasca tambang di Taman Kehati Sawahlunto sebagai bioindikator kesuburan tanah pada Taman Kehati Emil Salim, Sawahlunto. Metode yang digunakan yaitu purposive random sampling pada dua tipe habitat yang berbeda, yaitu pada plot hutan dan plot kebun. Pengkoleksian sampel menggunakan metode quadra protocol dan Pitfall Trap. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa keanekaragaman fauna tanah pada Taman Kehati Emil Salim sebagai lahan rehabilitasi pasca tambang sudah berangsur membaik ditandai dengan kehadiran 136 fauna tanah yang tergabung dalam 13 Ordo dan 5 Kelas Fauna, serta indeks keanekaragaman yang sedang dengan nilai indeks keanekaragaman keseluruhan plot yaitu H’= 2,55 yang masuk dalam kategori sedang. Fauna tanah yang paling berpengaruh sebagai bioindikator yaitu semut (Hymenoptera: Formicidae) disebabkan keberadaannya yang paling melimpah pada kedua habitat pada Taman Kehati Emil Salim, Sawhlunto, Sumatra Barat

    Komunitas Plankton di Embung dalam Kawasan Taman Kehati Emil Salim Kota Sawahlunto Sumatera Barat

    Full text link
    Penelitian tentang komunitas plankton di embung dalam kawasan Taman Kehati Emil Salim Kota Sawahlunto Sumatera Barat telah dilaksanakan pada bulan Desember 2021 sampai Juni 2022. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi dan struktur komunitas plankton di embung dalam kawasan Taman Kehati Emil Salim Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Penelitian ini menggunakan metode random sampling dengan lokasi sampling sebanyak empat embung. Berdasarkan penelitian ini ditemukan 52 spesies, 29 famili dan 13 kelas, dengan filum fitoplankton (44 spesies, 22 famili, 9 kelas) dan filum zooplankton (8 spesies, 7 famili, 4 kelas). Kepadatan total plankton yaitu 71,62 ind./l, yang berkisar antara 3,40 – 39,96 ind./l. Kepadatan spesies tertinggi yaitu Euglena acus (7,11 ind./l). Spesies yang selalu ada ditemukan disetiap embung adalah Navicula cryptocephala, Navicula lanceolata, Euglena acus, Phacus caudatus, Nauplius, Cyclops sp., dan Anuraeopsis fissa. Indeks diversitas (H’) plankton di embung dalam kawasan Taman Kehati Emil Salim tergolong sedang (2,69). Indeks equitabilitas (E) tergolong hampir merata (0,82). Indeks dominansi (C) mendekati nol (0,12). Indeks similaritas (IS) antar embung tergolong tinggi (>50%)

    Ulasan Buku: 90 Tahun Prof. Emil Salim Pembangunan Berkelanjutan: Menuju Indonesia Tinggal Landas 2045

    No full text
    Artikel ini mengulas tentang buku terbaru yang mengangkat pemikiran Prof. Emil Salim berjudul 90 Tahun Prof. Emil Salim Pembangunan Berkelanjutan : Menuju Indonesia Tinggal Landas 2045, hasil penerbitan Yayasan KEHATI pada tahun 2020 lalu. Tujuan penulisan artikel adalah untuk mengangkat pemahaman Prof. Emil Salim sebagai salah seorang tokoh nasional di bidang lingkungan hidup agar isu lingkungan hidup tersebut tetap disorot meskipun di tengah gegap gempita perkembangan teknologi dan bisnis di Indonesia. Metode yang digunakan dalam penulisan ialah studi literatur. Buku tersebut membahas tantangan pembangunan yang dihadapi Indonesia seperti jebakan pendapatan menengah, berikut kualitas sumberdaya manusia Indonesia yang perlu ditingkatkan lagi produktivitasnya. Prinsip keberlanjutan yang dilanggar akan mengakibatkan pertumbuhan ekonomi tidak akan lestari. Pola pikir yang diharapkan ialah optimisme radikal untuk melawan pesimisme, pemikiran bahwa sumberdaya itu cukup untuk semuanya, dan regenerasi radikal yang peduli alam dan sesama. Pandemi Covid-19 akibat ketidakseimbangan alam dan Omnibus Law yang disinyalir sangat berorientasi ekonomi materialistis dimana analisis dampak lingkungan dianggap mengganggu. Kesimpulan yang dapat ditarik untuk diterapkan menyongsong masa depan ialah peluang Indonesia untuk memanfaatkan bonus demografi demi kemajuan bangsa dan persyaratan untuk menjadi bangsa unggul juga perlu disorot. Strategi yang digunakan untuk mencapainya ialah transformasi pendidikan yang menghasilkan lulusan-lulusan dengan growth mindset

    Ratusan Bangsa Merusak Satu Bumi

    No full text
    Revolusi industri pada abad ke-18 telah membuat perubahan yang begitu radikal dalam kehidupan umat manusia. Peran manusia sudah digantikan dengan mesin. Pembangunan dalam berbagai bentuknya dilakukan secara masif dan besar-besaran di berbagai penjuru dunia. Masyarakat dunia sudah membuka lembaran dan kisah baru. Bahwa kehidupan mereka jauh lebih baik, bahkan menjadi sangat maju dibandingkan dengan masa sebelumnya.Akan tetapi, di balik berbagai kemajuan itu, muncul persoalan baru. Pembangunan di berbagai bidang melahirkan ancaman bagi kelangsungan hidup umat manusia. Ini memang konsekensi yang harus diterima, bahwa pembangunan selalu terkait dengan lingkungan hidup. Semakin masif pembangunan dilakukan, semakin lingkungan hidup tergerus dan menyempit satu demi satu. Kita bisa bayangkan bagaimana, misalnya, Jakarta tempo seratus tahun yang lalu, dengan sekarang. Belum lagi jika kita melihat bagaimana pembangunan pabrik-pabrik berlimbah yang mencemari lingkungan dan udara, yang sangat mempengaruhi iklim global, membuat cuaca seperti menentu. Dalam beberapa kesempatan, cuaca begitu ekstrim.Tetapi, apakah dengan segala konsekuensi yang mengancam seperti itu pembangunan mesti dihentikan? Emil Salim dalam bukunya, Ratusan Bangsa Merusak Satu Bumi, ini menegaskan bahwa pembangunan tidak mesti dihentikan. Yang harus dilakukan, menurutnya adalah membuat peta pembangunan yang seimbang, dengan memerhatikan secara serius dampak bagi lingkungan hidup. Dengan kata lain, pembangunan apa pun itu mesti ramah lingkungan. Maka konsep penataan ruang dalam pembangunan mesti dibuat secara benar-benar matang.Dalam buku ini, Emil Salim merasa begitu miris melihat bagaimana pembangunan yang justru merusak dan mencemari lingkungan hidup, sehingga sangat berbahaya bagi kehidupan umat manusia nantinya. Bayangkan, seperti ditulis dalam buku ini, dalam dua ratus tahun terakhir, seluruh negara di dunia membangun dengan merusak bumi yang hanya satu-satunya ini. Pemanfaatan tanpa batas minyak bumi dan batu bara sebagai penggerak utama pembangunan tanpa disadari telah menaikkan pelepasan gas rumah kaca (GRK) dari hanya 280 ppm pada masa sebelum revolusi industri (1780) menjadi 380 ppm. Inilah biang keladi terjadinya proses pemanasan global dan perubahan iklim yang mengancam dunia.Melalui buku ini, Emil Salim yang pada masa Presiden Soeharto diberi mandat untuk menjadi Menteri Lingkungan Hidup, memberikan cukup banyak gagasan-gagasan progresif tentang pengelolaan lingkungan hidup demi menyelamatkan bumi dari kehancuran. Tidak hanya gagasan yang berupa kritik terhadap negara-negara maju yang menjadi penyumbang terbesar perusakan lingkungan hidup di bumi, tapi juga solusi dan rekomendasi yang mendorong umat manusia untuk melihat secara serius dan ikut berperan aktif menyelamatkan bumi.Manusia adalah aktor utama perusak lingkungan hidup yang membawa bencana. Maka untuk mengurangi kerusakan lingkungan hidup, perilaku manusia sangat perlu diubah, dari perusak menjadi pelestari alam dengan cara menumbuhkan kembali ikatan manusia dalam jejaring kehidupan sosial yang serasi dengan jejaringan kehidupan lingkungan alam. Sehingga, pada gilirannya, pembangunan yang dilakukan oleh umat manusia ramah terhadap lingkungan, dan lingkungan pun ramah terhadap umat manusia. Karena apa yang dilakukan oleh umat manusia saat ini dampaknya akan dirasakan oleh generasi selanjutnya.

    STRATEGI PENGEMBANGAN MODEL DESTINASI MANAJEMEN ORGANISASI PADA KELEMBAGAAN MASYARAKAT PENGELOLA SECARA KOLABORATIF DALAM MENGEMBANGKAN TAMAN KEHATI EMIL SALIM KOTA SAWAHLUNTO, SUMATERA BARAT

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi wisata Kawasan Kandi sebagai lokasi pembangunan Taman Kehati Emil Salim Kota Sawahlunto, mengidentifikasi pegembangan model DMO secara kolaboratif multipihak yang mendukung pengembangan ekowisata Taman Kehati Emil Salim Kota Sawahlunto, dan menganalisis strategi pengelolaan objek wisata menggunakan Model Bisnis Kanvas. Penelitian ini digolongkan penelitian mix method menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer didapatkan melalui proses observasi, pra penelitian, wawancara, Focus Group Discussion, dan dokumentasi. Data sekunder didapatkan dari instansi dan objek wisata yang terkait. Responden penelitian adalah pengelola objek wisata sebanyak 10 orang, pengunjung sebanyak 50 orang, masyarakat sebanyak 50 orang. Teknik analisis data menggunkan teknik reduksi, display data, penarikan kesimpulan. Serta, analisis deskriptif dan SWOT pada model bisnis kanvas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Jenis wisatawan yang berkunjung adalah wisatawan lokal dengan keluarga (family tour) serta wisatawan rombongan (group tour). Lokasi objek wisata memiliki akses jalan yang cukup baik, namun jauh dari pusat Kota Sawahlunto. Kondisi ini menjadi kendala bagi pengunjung yang tidak memiliki kendaraan pribadi untuk berkunjung ke Kawasan Kandi. 2) Adanya ketertarikan Lembaga masyarakat Pengelola Taman Kehati Emil Salim Sawahlunto dalam mengembangkan ekowisata dengan model destinasi manajemen organisasi. 3) Diperoleh strategi dalam pengelolaan Taman Kehati Emil Salim Sawahlunto, yaitu menciptakan proporsi nilai sesuai dengan kebutuhan konsumen melalui rancangan paket wisata, pembaharuan fasilitas, kualitas pelayanan, dan aktivitas manajerial

    Community Empowerment Through Destination Management Organisation Model In Taman Kehati Emil Salim Sawahlunto

    Full text link
    Taman Kehati Emil Salim Sawahlunto (TKES) is a local biodiversity area that will be built in Sawahlunto City. This area has an area of 24 Ha which will be managed by the surrounding community with the guidance of the Department of Housing and Settlement Areas, Land and Environment (DPKP2LH). Community empowerment through this institution is a form of sustainable development so that the government is obliged to provide direction and guidance in order to achieve development goals. This research aims to analyse community empowerment through the Destination Management Organization (DMO) model in TKES. This research was conducted at Taman Kehati Emil Salim, Sawahlunto City from January to October 2022. The approach used in this research is a qualitative approach with descriptive analysis. Data collection was conducted using primary and secondary data. Primary data was obtained through observation, documentation, Forum Group Discussion (FGD), questionnaires, and interviews. Secondary data was obtained through literature review. Research respondents were obtained using purposive sampling technique, namely the head of the TKES institution and the community. The results showed that in terms of quantity, the existing human resources around TKES are very sufficient in carrying out ecotourism management, while in terms of quality, they are still insufficient. So it is necessary to conduct training involving experts and academics from universities in supporting training to human resources
    corecore