33 research outputs found

    Pengaruh Minyak Cumi Pada Umpan Bubu Dasar Terhadap Hasil Tangkapan Ikan-ikan Karang

    No full text
    Bottom trap have been used widely by coastal communities in North Sulawesi to catch coral fishes, since it simple in design, cheaper and easy to manage with a small boat. Unfortunately, the fishing practice of the traditional trap is usually conducted in destructive way, where fishermen cover the gear with live coral to attract fishing target. Although the gear's design has evolved over centuries, there is still potential for improving its catching efficiency and selectivity. An attempt to understand the fishing process of bottom trap should therefore be focused on bait and how its chemical composition, visual and physical properties may stimulate target species to attack the bait and captured. Addition of squid liver oil to the bait could increase the fishing power of bottom trap gear. But scientific information's about its applications are not available yet. Therefore, the objective of this research was to study the effect of squid liver oil on bait of bottom trap toward the capture of coral fishes. This research was done in Bangka Strait North of Minahasa, based on experimental method. Six units of bottom trap (bamboo) were operated ten nights in collecting data; where tree units of them used scad mackerel bait that injected by squid liver oil, and tree other units just used scad mackerel bait without squid liver oil; and the capture data were analyzed by ttest. The catch was 117 fish in total consist of 2 genera; 74 fish was caught by scad mackerel bait with squid liver oil, and 43 fish was caught by bait without squid liver oil. Analysis of ttest show that t0= 8.908>t0.05; 5= 3.250; which means that the addition of squid liver oil on bait could increase the catch of bottom trap

    UMPAN BUATAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP HASIL TANGKAPAN PANCING LAYANG-LAYANG DI SELAT BANGKA, SULAWESI UTARA (The Study of Artificial Bait on the Catch of Kite Fishing in Bangka Strait, North Sulawesi)

    No full text
    AbstractNeedlefish  (Tylosurus  sp.)  known  locally  as  sako  is  one  of  the  economically  important fisheries resources in Bangka Strait of North Sulawesi. The success kite fishing is highly dependent on the availability of small natural bait which is  caught only by lift net during the dark moon phase. Therefore, it should be attempted using artificial baits to address the issue of lack of natural bait at certain times. This study aimed to determine the effect of artificial baits toward  catch of  kite  fishing and to  identify the  species  of needle  fish  caught.  This research was carried out in Bangka Strait  by using  experimental  method.  Two  types  of  baits  were  used,  namely  natural  bait  (rainbow sardine/Dussumieria acuta), and artificial baits such as  rubber fish  that  widely available in the bait shop.  The catch data from four units of kite fishing  were  analyzed using t-test.  The result showed that  total  catch  during  the  study  were  40  needlefish es  consist  of  Tylosurus  crocodiles  (39)  and Tylosurus acus melanotus (1). As many as 22 needlefishes caught with natural baits and 18 caught with  artificial  baits.  The  analysis  showed  that  the  used  of  natural   baits  were  not  significantly different from the artificial bait.  During the study needlefish could be caught at wind speeds of 4-  7 knots and operated on 11.00–14.45 Mid Indonesian Time.Keywords: artificial bait, Bangka Strait, kite fishing, wind speedAbstrakIkan cendro (Tylosurus sp.) yang dikenal dengan nama lokal sebagai ikan sako adalah salah satu  sumber  daya  ikan  ekonomis  penting  yang  dihasilkan  dari  perairan  Selat  Bangka,  Sulawesi  Utara.   Keberhasilan  penangkapan  ikan  dengan  pancing  layang-layang  sangat  tergantung  pada  ketersediaan umpan alami berukuran kecil yang tertangkap dengan alat tangkap bagan pada saat  bulan  gelap.  Oleh  karena  itu,  perlu  dicobakan  penggunaan  umpan  buatan  untuk  mengatasi persoalan  kurangnya  umpan  alami  pada  waktu-waktu  tertentu.  Penelitian  ini  ditujukan  untuk  mengetahui  pengaruh  umpan  buatan  terhadap  hasil  tangkapan  pancing  layang-layang  dan  mengidentifikasi  jenis  ikan  cendro  yang  tertangkap.  Penelitian  ini  dilakukan  di  Selat  Bangka didasarkan  pada  metode  eksperimental.   Dua  jenis  umpan  yang  digunakan,  yaitu  umpan  alami yaitu ikan japuh (Dussumieria  acuta), dan umpan buatan.  Umpan buatan berupa ikan karet yang banyak tersedia di toko pancing. Data tangkapan dikumpulkan dari 4 unit pancing layang-layang, dan kemudian data dianalisis dengan menggunakan uji  t. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa  hasil  tangkapan  selama  penelitian  berjumlah  40  ekor   ikan  cendro  yang  terdiri  dari Tylosurus  crocodiles  (39  ekor)  dan  Tylosurus  acus  melanotus  (1  ekor).  Sebanyak  22  ekor  ikan cendro  tertangkap  dengan  umpan  alami  dan  18  ekor  ikan  cendro  tertangkap  dengan  umpan buatan. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan umpan alami tidak berbeda nyata dengan umpan  buatan  pada  pancing  layang-layang  untuk  menangkap  ikan  cendro  di  perairan  Selat Bangka. Ikan cendro dapat tertangkap pada kecepatan angin antara 4–7 knot dan dioperasikan  pada sekitar jam 11.00-14.45 Wita.Kata kunci: umpan buatan, Selat Bangka, pancing layang-layang, kecepatan angin</jats:p

    PENGARUH EKSTRAK KIMIA PADA UMPAN PANCING DASAR TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN-IKAN KARANG DI SELAT BANGKA, MINAHASA UTARA

    No full text
    Pancing dasar telah digunakan secara luas oleh masyarakat pantai di Sulawesi Utara untuk menangkap ikan-ikan karang, karena konstruksinya sederhana, relatif murah dan mudah dioperasikan dengan kapal atau perahu ukuran kecil. Walaupun alat tangkap ini telah berkembang sejak lama, tetapi masih memiliki potensi untuk meningkatkan efisiensi penangkapan dan selektivitasnya. Suatu upaya untuk memahami proses tertangkapnya ikan dengan pancing dasar adalah tertuju pada umpan dan bagaimana komposisi kimia dan sifat-sifat fisiknya yang merangsang ikan untuk memakan umpan dan tertangkap. Penambahan ekstrak kimia pada umpan dapat meningkatkan fishing power dari alat tangkap pancing dasar. Tetapi informasi ilmiah tentang aplikasinya belum tersedia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian ekstrak kimia pada umpan pancing dasar terhadap hasil tangkapan ikan-ikan karang. Tiga jenis ekstrak kimia yang diberikan pada umpan potongan daging ikan malalugis segar, adalah power bait, squid liver oil, ekstrak udang dan umpan ikan segar tanpa ekstrak sebagai kontrol. Data tangkapan dikumpulkan dengan mengoperasikan 4 unit alat tangkap pancing dasar di perairan dekat karang pada kedalaman antara 30 sampai 50 m; dan analisis data dikerjakan berdasarkan rancangan acak kelompok. Hasil tangkapan total berjumlah 205 ekor, terdiri dari 20 famili dan 29 spesies ikan. Hasil analisis sidik ragam menunjukan bahwa pemberian ekstrak kimia pada umpan pancing dasar, memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap hasil tangkapan. Hasil uji BNT untuk perlakuan menunjukan bahwa pemberian ketiga jenis ekstrak pada umpan tidak ada perbedaan terhadap hasil tangkapan; tetapi pemberian ekstrak power bait dan squid liver oil sangat berbeda nyata terhadap umpan segar tanpa ekstrak; sedangkan pemberian ekstrak udang tidak berbeda nyata dengan umpan tanpa ekstrak

    PENGARUH PEMIKAT CAHAYA BERKEDIP PADA BUBU TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN KARANG (The Effect of Blinking Light Attractor on Trap Toward the Capture of Coral Fishes)

    No full text
    ABSTRACTThis study was aimed at observing the influence of blinking light attractor of trap on the coral fish catch and identifying the catch species. It was carried out in the coastal waters of Kampung Ambon, East Likupang district, North Minahasa Regency using an experimental method. Data were collected using 6 iron-framed fish traps of net wall and operated for 6 days. Three units had Mackerel and blinking light, and the other three used only Mackerels as bait. Results showed that there were total 71 individuals of fish caught, 49 fish were caught in the blinking light traps and 22 individuals in the trap without blinking light. T-test indicated highly significant different effect on the catch gain between trap with blinking light and that without blinking light.Keywords: attractor, blinking light, coral fish, trap-------ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh penggunaan atraktor cahaya berkedip pada bubu terhadap hasil tangkapan ikan karang dan mengidentifikasi jenis-jenis ikan hasil tangkapan. Penelitian ini dilakukan di perairan pantai Kampung Ambon, Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara dengan menggunakan metode eksperimen. Data dikumpulkan dari enam unit bubu besi dengan dinding jaring, selama 6 hari. Pada 3 unit bubu dipasangkan umpan ikan Malalugis dan cahaya berkedip; dan 3 unit lainnya hanya dipasangkan umpan ikan Malalugis. Hasil tangkapan bubu selama penelitian berjumlah 71 ekor ikan, dimana 49 ekor ikan tertangkap dengan bubu lampu kedip dan 22 ekor ikan tertangkap dengan bubu tanpa cahaya berkedip. Hasil analisis uji t menunjukan pengaruh yang berbeda nyata terhadap hasil tangkapan antara bubu dengan cahaya berkedip dan bubu tanpa lampu berkedip.Kata kunci: atraktor, cahaya berkedip, ikan karang, bubu</jats:p

    Musim penangkapan ikan julung-julung (Hemirhampus sp.) dengan soma giop di Desa Leleoto Kecamatan Tobelo Selatan Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara

    No full text
    Ikan julung-julung (Hemirhamphus sp.) merupakan salah satu sumberdaya perikanan ekonomis penting yang dihasilkan dari perairan pantai Desa Leleoto Kecamatan Tobelo Maluku Utara. Sumberdaya ini tergolong ikan pelagis yang hidup di perairan pantai cenderung oseanis, dan hanya terlihat bergerombol di sekitar perairan karang ketika akan memijah. Alat tangkap yang umum digunakan oleh nelayan untuk menangkap ikan julung-julung adalah soma giop roa, sejenis pukat cincin ukuran kecil. Tetapi informasi ilmiah tentang musim penangkapan ikan julung-julung belum banyak tersedia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis musim penangkapan ikan julung-julung dan mengetahui kontribusi ekonomi tangkapan julung-julung bagi nelayan. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif yang didasarkan pada studi kasus; teknik pengumpulan data dikerjakan dengan cara mengisi daftar pertanyaan, wawancara, pencatatan, pengamatan langsung dan partisipasi aktif. Musim penangkapan ikan julung-julung dianalisis dengan membandingkan hasil tangkapan per satuan upaya bulanan dengan rata-rata hasil tangkapan per satuan upaya total pada tahun tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa musim penangkapan ikan julung-julung di perairan pantai Desa Leleoto bervariasi setiap tahunnya, tetapi secara umum dapat dibagi ke dalam dua fase utama, yaitu fase pertama terjadi pada bulan Februari dan Maret; dan fase kedua terjadi sekitar bulan November. Kontribusi ekonomi hasil tangkapan julung-julung terhadap nelayan, terutama masanae belum cukup baik

    Pengaruh umpan buatan terhadap hasil tangkapan pancing layang-layang di Selat Bangka

    No full text
    Salah satu sumberdaya perikanan ekonomis penting yang dihasilkan dari perairan Selat Bangka Sulawesi Utara adalah ikan cendro (Tylosurus sp), dan dikenal dengan nama  lokal sebagai ikan sako. Alat tangkap yang umum digunakan untuk menangkap ikan cendro ialah jaring insang permukaan, jaring insang hanyut  dan pancing tonda; tetapi pancing layang-layang lebih populer di Selat Bangka. Keberhasilan penangkapan ikan dengan pancing layang-layang, sangat bergantung pada ketersediaan umpan alami berukuran kecil. Umpan alami tersebut hanya tertangkap dengan bagan pada sekitar bulan gelap. Oleh karena itu perlu dicobakan penggunaan umpan buatan; sehingga penelitian ini ditujukan untuk untuk mengetahui pengaruh umpan buatan terhadap hasil tangkapan pancing layang-layang. Penelitian ini dilakukan di Selat Bangka didasarkan pada metode eksperimental. Dua jenis umpan yang digunakan, yaitu umpan alami ikan japuh (Dussumieria acuta) dan umpan buatan dari ikan karet. Data tangkapan dikumpulkan menggunakan empat unit pancing layang-layang; dan data dianalisis dengan uji t. Hasil tangkapan selama penelitian berjumlah 40 ekor ikan cendro dan hanya jenis Tylosurus crocodilus; sebanyak 22 ekor tertangkap dengan umpan alami dan 18 ekor tertangkap dengan umpan buatan. Analisis uji t menunjukan bahwa 0,38&lt; t tabel 0,05;5 = 2,571;  yang berarti penggunaan umpan alami tidak berbeda nyata dengan umpan buatan pada pancing layang-layang untuk menangkap ikan cendro di perairan Selat Bangka. Ikan cendro dapat tertangkap pada kecepatan angin antara 4–7 knot

    Monitoring jenis ikan pada modul terumbu buatan di Selat Lembeh Kelurahan Mawali Kecamatan Lembeh Selatan Kota Bitung (Fish species monitoring on artificial reef modules in Lembeh Strait, Mawali Village, South Lembeh District of Bitung)

    No full text
    Coral reefs are communities of organisms that live at the bottom of shallow seas of tropics area. Degradation of coral reefs in the waters of Pulau Lembeh, Bitung caused by fishing activities were not responsible. However, there have been attempts to build artifial reefs since 2014 to protect natural coral reefs as well as repairing the damaged coral reefs. It is necessary to hold monitoring association of fish species target on artificial reef has been built with Acropora sp. trasnplantated. This research was conducted in Mawali Village, Lembeh Strait, on August - December 2016; done with descriptive method; and the data were analyzed through the diversity and richness index. Results of the analysis showed that the diversity of species classified as moderate with a value of 2.85; and species richness is high with a value of 6.09. This figure reflects the dominance of Cheilodipterus isostigmus species to other species in terms of number. Oceanography parameters such as temperature (26,99 – 28,97°C), salinity (32 – 33,2 ppt), dissolved oxygen (10,2 – 12,4 mg/l), acidity (7,3 – 8,4 pH), dissolved density (30,4 – 31,1 g/l ) and level of turbidity (1,2 – 2,6 NTU) in natural conditions support the development of the association of fish around the artificial reefs. Keywords: Monitoring, Fish Species Target, Artificial Reefs, Lembeh Strait, Mawali Village ABSTRAK Terumbu karang merupakan komunitas organisme yang hidup di dasar laut dangkal daerah tropis. Degradasi terumbu karang di perairan Pulau Lembeh, Kota Bitung disebabkan oleh aktifitas perikanan yang tidak bertanggungjawab. Namun telah ada upaya pembangunan terumbu buatan sejak tahun 2014 untuk melindungi serta memperbaiki terumbu karang alami yang rusak. Maka dipandang perlu mengadakan monitoring asosiasi ikan target pada terumbu buatan yang telah dibangun dengan karang yang ditransplantasikan jenis Acropora sp.  Penelitian ini dilakukan di Selat Lembeh Kelurahan Mawali pada bulan Agustus – Desember 2016; dikerjakan dengan metode deskriptif; dan data dianalisis melalui indeks keragaman dan indeks kekayaan.  Hasil analisis menunjukan bahwa keanekaragaman spesies tergolong sedang dengan nilai 2,85; dan kekayaan spesies tergolong  tinggi dengan nilai 6,09. Hal ini menggambarkan adanya dominasi spesies Cheilodipterus isostigmus terhadap spesies lain dari segi jumlah. Parameter oceanografi seperti suhu (26,99 – 28,97°C), salinitas (32 – 33,2 ppt), oksigen terlarut (10,2 – 12,4 mg/l), derajat keasaman (7,3 – 8,4 pH), kepadatan terlarut (30,4 – 31,1 g/l ), dan tingkat kekeruhan (1,2 – 2,6 NTU) dalam kondisi alami menunjang perkembangan asosiasi ikan di sekitar terumbu buatan. Kata kunci : Monitoring, Jenis Ikan Target, Terumbu Buatan, Selat Lembeh, Kelurahan Mawal

    Pengaruh beberapa jenis umpan pada bubu paralon terhadap hasil tangkapan ikan karang di Selat Lembeh

    No full text
    Bubu dasar merupakan salah satu alat tangkap yang umum digunakan oleh masyarakat nelayan untuk menangkap ikan-ikan karang, karena kontruksi sederhana, relatif murah dan mudah dioperasikan. Perbedaan jenis umpan, diduga dapat meningkatkan kemampuan tangkap bubu  paralon. Namun informasi ilmiah seperti ini, khususnya pada ikan-ikan karang, belum banyak tersedia. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh umpan bubu paralon terhadap hasil tangkapan ikan-ikan karang; dan mengidentifikasi jenis-jenis ikan yang tertangkap. Penelitian ini dilakukan di Selat Lembeh Kota Bitung; yang didasarkan pada metode eksperimental. Empat jenis umpan yang digunakan sebagai perlakuan, yaitu ikan layang (Decapterus macarellus), selar (Selaroides sp), tongkol (Euthynnus affinis) dan cumi (Loligo sp.). Data tangkapan dikumpulkan menggunakan 12 unit bubu paralon; dan data dianalisis menggunakan rancangan acak kelompok. Hasil tangkapan total sebanyak 128 ekor; yang terdiri dari 17 famili, 26 genus dan 38 spesies ikan. Analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perbedaan jenis umpan pada bubu paralon memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap hasil tangkapan. Uji BNT untuk perlakuan menyatakan bahwa penggunaan umpan cumi memberikan hasil tangkapan yang sangat lebih baik dibanding jenis umpan lainnya

    Pengaruh bentuk bubu terhadap hasil tangkapan rajungan portunus pelagicus di perairan pantai Desa Kema tiga Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara (The effect of pots shape toward the catch of swimming crab in coastal waters Kema Tiga Village)

    No full text
    Swimming crab (Portunus pelagicus) is one of the fishery commodities that have high sales value for which raced flavor and high nutritional content. This swimming crab in coastal waters of North Sulawesi usually caught accidentally (by catch) with bottom gillnets. There has been a special fishing gear for crab traps, but not known by local fishermen. The differences of trap shape could increase the fishing power of swimming crab traps; but such scientific information is not widely available yet. Therefore, this research aimed to study the effect of pots shape to catch swimming crab; and identifies the types of biota captured. This research was conducted in the coastal waters of  Kema Tiga village, North Minahasa Regency; from September to December 2014; which is based on the experimental method. Bubu six units of traps (three units conical shape, and three other rectangular shape), operated for eight nights to collect data; used scad mackerel bait; and the capture data were analyzed by t test.  The catch was 86 swimming crab in total; 56 was caught by conical shape traps, and 30 individuals were caught by rectangular shape traps. Analysis of test showed that t0 = 4.596&gt; t table 0.01; 7 = 3.499, which means that the use of conical shape traps, giving highly significantly different swimming crab catches compared to rectangular shape traps. Keywords: Swimming crab, trap, mackerel bait, North Minahasa   ABSTRAK Rajungan (Portunus pelagicus) merupakan salah satu komoditi perikanan yang memiliki nilai jual tinggi karena memiliki rasa yang lezat dan kandungan gizi yang tinggi). Rajungan  ini di perairan pantai Sulawesi Utara biasanya tertangkap tanpa sengaja (by catch) dengan jaring insang dasar. Sebenarnya telah ada alat tangkap bubu khusus untuk rajungan, tetapi belum dikenal oleh nelayan lokal. Perbedaan bentuk bubu diduga dapat meningkatkan kemampuan tangkap dari bubu ranjungan; namun informasi ilmiah seperti ini belum banyak tersedia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh bentuk bubu terhadap hasil tangkapan ranjungan; dan mengidentifikasi jenis-jenis biota yang tertangkap.  Penelitian ini dilakukan di perairan pantai Desa Kema Tiga, Kabupaten Minahasa Utara; pada bulan September sampai Desember 2014; yang didasarkan pada metode eksperimental. Enam unit bubu (tiga unit bentuk kerucut terpancung dan tiga unit bentuk empat persegi) dioperasikan selama delapan malam untuk mengumpulkan data; menggunakan umpan ikan layang; dan data dinalisis dengan uji t. Tangkapan total berjumlah 86 ekor; 56 ekor tertangkap dengan bubu bentuk kerucut terpancung, dan 30 ekor tertangkap dengan bubu bentuk empat persegi. Hasil analisis menunjukan bahwa t hitung = 4,596 &gt; t tabel 0,01;7 = 3,499, yang berarti bahwa penggunaan konstruksi bubu bentuk kerucut terpancung, memberikan hasil tangkapan rajungan yang sangat berbeda nyata dibandingkan dengan konstruksi bubu empat persegi. Kata-kata kunci: Rajungan, bubu, umpan ikan layang, Minahasa Utara

    Komunitas ikan pada terumbu buatan untuk mendukung daerah penangkapan ikan alternatif di selat lembeh Kota Bitung Sulawesi Utara

    No full text
    Terumbu buatan merupakan salah satu dari sekian banyak alternatif yang dapat digunakan untuk mengurangi tekanan penangkapan ikan dan perusakan terumbu karang alami; melalui penciptaan daerah penangkapan ikan baru yang produktif. Namun informasi ilmiah seperti ini, khususnya pada ikan-ikan karang, belum banyak tersedia. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini mempelajari komunitas ikan pada terumbu buatan, mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh, dan menilai apakah terumbu buatan yang telah dibangun dapat mendukung suatu daerah penangkapan ikan alternatif. Penelitian ini dilakukan di Selat Lembeh Kota Bitung; yang didasarkan pada metode deskriptif. Sembilan unit terumbu buatan dikonstruksi dalam bentuk balok berlubang dan disusun menyerupai piramid di dasar laut. Struktur komunitas ikan pada terumbu buatan diamati dengan menggunakan teknik underwater visual census (UVC) oleh dua orang SCUBA divers setiap minggu selama sebulan. Jumlah total ikan yang berasosiasi dengan terumbu buatan selama 4 kali pengamatan adalah 382 individu; terdiri dari14 famili, 18 genus dan 24 spesies. Kelimpahan spesies dinilai dengan indeks keragaman (2,57), indeks kekayaan (3,87) dan indeks keseimbangan (0,544), tergolong kriteria sedang. Ikan target yang teramati berasosiasi dengan habitat baru sebanyak 88%; hal ini menunjukkan bahwa terumbu buatan yang telah dibangun dapat mendukung daerah penangkapan ikan alternatif di perairan yang lebih dalam
    corecore