Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
    337 research outputs found

    ESTIMATION OF MIXING AND TRANSFORMATION OF SOUTH PACIFIC WATER MASSES IN THE HALMAHERA SEA: ESTIMASI PERCAMPURAN DAN TRANSFORMASI MASSA AIR PASIFIK SELATAN DI LAUT HALMAHERA

    Full text link
    Laut Halmahera merupakan bagian dari jalur timur Indonesian Throughflow dan adalah wilayah kunci untuk interaksi dan transformasi massa air. Penelitian ini bertujuan untuk memperkirakan pencampuran vertikal dan menganalisis implikasinya terhadap transformasi massa air Pasifik Selatan di Laut Halmahera. Data yang digunakan adalah data observasi arsip dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menggunakan profiler CTD dan pengukuran kecepatan arus vertikal pada Februari 2021. Estimasi percampuran dilakukan menggunakan analisis Thorpe untuk menghitung tingkat dispersi energi kinetik turbulen (ε) dan difusivitas Eddy vertikal (Kρ). Area pencampuran turbulen diidentifikasi pada kedalaman 50–300 m. Massa air S. Pasifik Selatan memiliki nilai salinitas maksimum 35,5 psu pada isopiknal σθ = 25,4, dan salinitas minimum 34,5 pada  isopiknal σθ = 26,5. Laut Halmahera di dekat Selat Obi mengalami perubahan salinitas maksimum pada isopiknal σθ = 25,5 dengan nilai 35,4 psu, sedangkan salinitas minimum pada σθ = 26 adalah 34,8 psu. Lapisan ini (σθ = 24–26), memiliki tingkat disipasi energi kinetik turbulen yang relatif tinggi (10-6 W/kg) dan difusivitas eddy vertikal (10-3 m2/s) yang menggambarkan transportasi Air Subtropis Pasifik Selatan (SPSW). Lapisan isopiknal σθ = 26–27 menunjukkan penurunan salinitas minimum, dengan ε pada ordo (10-7 W/kg) dan Kρ pada ordo (10-3 m2/s) di lapisan tengah dan dalam di dekat Selat Obi, menunjukkan pencampuran yang didorong oleh instabilitas geser yang terkait dengan zona disipasi energi gelombang internal.The Halmahera Sea is part of the eastern pathway of Indonesian Throughflow and is a key area for water mass interaction and transformation. This study aims to estimate vertical mixing and analyze its implications for South Pacific water masses transformation in the Halmahera Sea. The data used are archived observational data from the National Research and Innovation Agency (BRIN), using CTD profilers and vertical current velocity measurements on February, 2021. Mixing estimation was using Thorpe analysis to calculate the turbulent kinetic energy dissipation rate (ε) and vertical eddy diffusivity (Kρ). Turbulent mixing areas were identified at depths of 50–300 m. The South Pacific water masses have a maximum salinity of 35.5 psu at the isopycnal σθ = 25.4, and a minimum salinity of 34.5 at the isopycnal σθ = 26.5. The Halmahera Sea near Obi Strait experiences a maximum salinity change at the isopycnal σθ = 25.5 with a value of 35.4 psu, while the minimum salinity at σθ = 26 is 34.8 psu. This layer (σθ = 24–26) exhibit a relatively high turbulent kinetic energy dissipation (10-6 W/kg) and vertical eddy diffusivity (10-3 m2/s) that describe the transport of South Pacific Subtropical Water (SPSW). The isopycnal σθ = 26–27 show a decrease in minimum salinity, with ε on the order of 10-7 W/kg and Kρ on the order of 10-3 m2/s in the middle and deep layers near Obi Strait, indicating mixing driven by shear instability associated with internal wave energy dissipation zones

    FORMULATION DEVELOPMENT OF A PREGNANCY SUPPLEMENT BASED ON TUNA EYE OIL USING MIXTURE DESIGN: PENGEMBANGAN FORMULASI SUPLEMEN KEHAMILAN BERBASIS MINYAK IKAN MATA TUNA MENGGUNAKAN MIXTURE DESIGN

    Full text link
    Stunting is a chronic nutritional problem with a high prevalence in Indonesia, with inadequate intake of protein and DHA during pregnancy being among the primary causes. This study aims to develop and optimize a pregnancy supplement formulation based on tuna eye oil and katsuobushi protein hydrolysate using a mixture design approach. The research stages included the extraction and characterization of fish oil from tuna eyeballs, the enzymatic hydrolysis of katsuobushi protein using papain, and the formulation of an emulsion using egg yolk as the emulsifier. Optimization was conducted using a simplex-lattice {3,1} design with axial points via Minitab 19 software. The optimal formulation consisted of 40.40% tuna eye oil, 31.02% katsuobushi protein hydrolysate, and 28.58% egg yolk, resulting in a pH of 4.29 and a viscosity of 3,880 cPs. The final product delivered 210 mg DHA per day, fulfilling the recommended daily intake for pregnant women. Nutritional profile and microbial safety tests also met established standards. These findings highlight the potential of tuna eye oil and katsuobushi-based supplements as an innovative nutritional intervention for stunting prevention.Stunting merupakan permasalahan gizi kronis yang masih tinggi prevalensinya di Indonesia, dengan salah satu penyebab utamanya adalah kekurangan asupan protein dan DHA selama kehamilan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan mengoptimalkan formula suplemen kehamilan berbasis minyak mata tuna dan hidrolisat protein katsuobushi menggunakan pendekatan mixture design. Tahapan penelitian meliputi ekstraksi dan karakterisasi minyak mata tuna, hidrolisis protein katsuobushi dengan enzim papain, serta formulasi emulsi menggunakan eggyolk sebagai emulsifier. Optimasi dilakukan dengan rancangan simplex-lattice {3,1} with axial points menggunakan software Minitab 19. Formula terbaik terdiri dari 40,40% minyak mata tuna, 31,02% hidrolisat protein katsuobushi, dan 28,58% eggyolk, dengan pH 4,29 dan viskositas 3.880 cPs. Formula ini menghasilkan kandungan DHA sebesar 210 mg per hari, mencukupi rekomendasi untuk ibu hamil, serta memiliki profil gizi dan keamanan mikrobiologi yang sesuai standar. Hasil ini menunjukkan bahwa suplemen berbasis minyak mata tuna dan katsuobushi berpotensi sebagai solusi inovatif dalam mendukung pencegahan stunting secara nutrisi

    MANGROVE CARBON BIOMASS POTENCY THROUGH SATELLITE IMAGE ANALYSIS IN THE EASTERN AREA OF MAUMERE BAY: POTENSI BIOMASSA KARBON EKOSISTEM MANGROVE MELALUI ANALISIS CITRA SATELIT DI KAWASAN TIMUR TELUK MAUMERE

    Full text link
    Mangrove ecosystems can store significant amounts of carbon in their standing biomass. The eastern part of Maumere Bay contains mangrove areas that are important because of their economic and ecological value. The amount of carbon stored in the mangroves is unknown due to the lack of inventory data. The objective of this study is to obtain estimated surface carbon biomass stocks in the mangrove forests in the eastern part of Maumere Bay using Sentinel-2A imagery. The study was conducted from June to September 2024. Carbon stock values ​​were obtained using the Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) analysis method. Actual carbon stocks in surface biomass were obtained from the allometric equation. A stratified sampling method was applied to determine 18 sample spots, each with a size of 10×10 m2. Data was analyzed using accuracy tests and linear, polynomial, and exponential regression. The results of the regression analysis show that the exponential regression equation has the highest coefficient of determination (R2) value, namely 0.8373, with the highest accuracy. Therefore, the exponential regression equation was accepted as a model for estimating surface carbon stocks. The NDVI vegetation index has a strong correlation with carbon stocks of 83.73% (R2 = 0.8373). The exponential equation is y = 13.637e2.0499x, which reflects natural growth patterns where y is the carbon value and x is the NDVI value. The mangrove area covers 527.93 ha. The total aboveground carbon stock amounts to 29,760.52 tons of carbon, with an average value of 56.34 tons of carbon per hectare.Ekosistem mangrove dapat menyimpan banyak karbon pada biomassa tegakan. Bagian timur Teluk Maumere memiliki kawasan mangrove yang sangat penting untuk dijaga demi memelihara nilai ekonomis dan ekologisnya. Jumlah karbon yang tersimpan pada mangrove belum diketahui karena tidak ada data inventarisasi. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan data estimasi cadangan biomassa karbon permukaan pada hutan mangrove di bagian timur Teluk Maumere, menggunakan citra Sentinel-2A. Penelitian dilakukan pada Juni hingga September 2024. Nilai cadangan karbon diperoleh dari metode analisis NDVI (Normalized Difference Vegetation Index). Cadangan karbon aktual biomass permukaan diperoleh dari persamaan alometrik. Metode sampel stratified digunakan untuk menentukan 18 titik sampel, yang berupa plot berukuran 10×10 m2. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji akurasi, linear, polinomial, dan regresi eksponensial. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa persamaan regresi eksponensial memiliki nilai koefisien determinasi (R2) tertinggi, yaitu 0,8373 dengan nilai akurasi tertinggi. Oleh karena itu, persamaan regresi eksponensial diterima sebagai model penduga stok karbon permukaan. Indeks vegetasi NDVI memiliki korelasi yang kuat dengan cadangan karbon sebesar 83,73% (R2 = 0,8373). Persamaan eksponensial y = 13,637e2,0499x yang mencerminkan pola pertumbuhan alami dengan y adalah nilai karbon dan x adalah nilai NDVI. Luas hamparan mangrove sebesar 527,93 ha. Total cadangan karbon di atas permukaan mencapai 29.760,52 ton karbon, dengan nilai rata-rata 56,34 ton karbon per ha

    YELLOWFIN TUNA (Thunnus albacares) FISHERIES SUSTAINABILITY: A WEIGHT-LENGTH ANALYSIS IN THE WEST SUMATERA WATERS: KEBERLANJUTAN PERIKANAN TUNA SIRIP KUNING (Thunnus albacares): ANALISIS PANJANG BERAT DI PERAIRAN SUMATERA BARAT

    Full text link
    Ikan tuna sirip kuning adalah komoditas perikanan bernilai tinggi dan sumber utama mata pencaharian nelayan di Sumatra Barat. Namun, intensifikasi penangkapan sering mengabaikan selektivitas alat tangkap, sehingga ikan belum layak tangkap turut tertangkap, mengganggu regenerasi populasi, menurunkan biomassa, dan meningkatkan risiko overfishing. Informasi ukuran layak tangkap penting untuk mendukung keberlanjutan perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi ukuran panjang ikan, pola pertumbuhan ikan dan menentukan tingkat kelayaktangkapan ikan tuna (Thunnus albacares). Data distribusi ikan, seperti panjang dan berat ikan dikumpulkan melalui pengukuran langsung terhadap hasil tangkapan nelayan. Distribusi ukuran dan berat ikan dianalisis secara deskriptif, sedangkan pola pertumbuhan ikan ditentukan menggunakan persamaan W=aLb. Jumlah ikan tuna yang berhasil diukur selama periode Juni - Agustus 2020 mencapai 398 ekor. Ikan yang paling dominan tertangkap berkisar antara 135-144 cm dengan berat 44-60 kg. Analisis distribusi ikan menghasilkan persamaan regresi y = 0,00005x2,7787, dengan nilai R² = 0,9575 dan nilai b = 2,4969. Nilai b yang lebih kecil dari 3 mengindikasikan pola pertumbuhan alometrik negatif, di mana pertumbuhan panjang ikan lebih dominan dibandingkan pertumbuhan beratnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 81% ikan memenuhi kriteria layak tangkap, sedangkan 19% lainnya tergolong tidak layak tangkap. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam mendukung pengelolaan perikanan tuna sirip kuning yang berkelanjutan berbasis ukuran layak tangkap.Yellowfin tuna is a high-value fishery commodity and the primary source of livelihood for fishers in West Sumatra. However, fishing intensification often overlooks the selectivity of fishing gear, resulting in the capture of fish that are not yet suitable for fishing, which disrupts population regeneration, reduces biomass, and increases the risk of overfishing. Information on suitable catch size is important to support fisheries sustainability. This study aims to determine the distribution of fish length growth patterns and assess the catchability level of tuna (Thunnus albacares). Fish length and weight were collected by measuring tuna catches. Fish length and weight distribution were analyzed descriptively, while fish growth patterns were determined using the equation W = aLb. The study shows that the tuna measured from June to August 2020 reached 398 individuals. In addition, the dominant fish caught ranged from 135 to 144 cm and between 44 and 60 kg. The analysis of fish distribution produced a regression equation y = 0.00005x2.7787, with an R² value of 0.9575 and a b value of 2.4969, which indicates a negative allometric growth pattern, indicating that growth in fish length is more dominant than its weight growth. The results of this study indicate that 81% of tuna meet the criteria for catchability, while the others are unsuitable for catchability. This study was important in supporting the sustainable management of yellowfin tuna fisheries based on catchability size

    UTILIZATION OF SUCKERMOUTH CATFISH (Pterygoplichthys pardalis) AS A RAW MATERIAL OF PROTEIN IN ARTIFICIAL FEED TILAPIA: PEMANFAATAN IKAN SAPU-SAPU (Pterygoplichthys pardalis) SEBAGAI BAHAN BAKU SUMBER PROTEIN DALAM PAKAN BUATAN IKAN NILA

    Full text link
    Dalam kegiatan budidaya, pakan menyumbang sekitar 60% dari total biaya produksi. Upaya efisiensi dapat dilakukan melalui pemanfaatan bahan baku lokal, seperti tepung ikan sapu-sapu, sebagai alternatif substitusi tepung ikan impor. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh variasi tingkat substitusi antara tepung ikan lokal dan tepung ikan sapu-sapu terhadap pertumbuhan mutlak dan aktivitas enzim pencernaan ikan nila (Oreochromis niloticus). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan, yaitu: A (100% tepung ikan lokal: 0% tepung ikan sapu-sapu), B (75%:25%), C (50%:50%), D (25%:75%), dan E (0%:100%), sehingga terdapat 15 unit percobaan. Ikan uji dengan bobot awal 1,5 g/ekor ditebar sebanyak 20 ekor dalam ember plastik berisi 85 L air per unit. Ikan diberi pakan sebanyak 6% dari bobot tubuh per hari dengan dua kali pemberian pagi dan sore selama 60 hari. Variabel dianalisis menggunakan analisis varians (ANOVA), uji statistik dilakukan pada tingkat signifikansi 5% (α = 0,05) dengan interval kepercayaan 95%. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan D (25% tepung ikan lokal:75% tepung ikan sapu-sapu) memberikan pengaruh nyata terbaik (p = 0,004) terhadap pertambahan berat sebesar 3,9±0,83 g, perlakuan A, B, C, dan E sama tetapi berbeda dengan perlakuan D, sedangkan untuk aktivitas enzim pencernaan yaitu protease sebesar 0,452 U/mL dan amilase sebesar 0,579 U/mL.In aquaculture, feed constitutes approximately 60% of the total production cost. The feed efficiency can be enhanced by utilizing local ingredients, such as suckermouth catfish (Pterygoplichthys pardalis) meal, as an alternative to imported fish meal. This study aims to evaluate the effects of varying substitution levels between local fish meal and suckermouth catfish meal on the growth performance and digestive enzyme activity of Nile tilapia (Oreochromis niloticus). A Completely Randomized Design (CRD) was applied with five treatments and three replications: A (100% local fish meal:0% suckermouth catfish meal), B (75%:25%), C (50%:50%), D (25%:75%), and E (0%:100%), resulting in a total of 15 experimental units. Test fishes with an initial weight of 1.5 g/individual of fish were stocked as many as 20 individual of fish in a plastic bucket containing 85 L of air per unit. Fish were fed 6% of their body weight per day with two feedings in the morning and evening for 60 days. Variables were analyzed using analysis of variance (ANOVA), statistical tests were performed at a significance level of 5% (α = 0.05) with a 95% confidence interval. The results showed that treatment D (25% local fish meal: 75% suckermouth catfish meal) had the best significant effect (p = 0.004) on weight gain of 3.9±0.83 g, treatments A, B, C and E were the same but different from treatment D, while for digestive enzyme activity, namely protease of 0.452 U/mL and amylase of 0.579 U/mL

    THE EFFECT OF AUTOMATIC FISH FEEDING TECHNOLOGY ON THE QUALITY OF TILAPIA FISH CULTURE PRODUCTS: PENGARUH TEKNOLOGI PEMBERI PAKAN IKAN OTOMATIS TERHADAP KUALITAS HASIL BUDIDAYA IKAN NILA

    Full text link
    Budidaya ikan air tawar memiliki peran penting untuk mencapai ketahanan pangan di Indonesia. Ikan nila merupakan salah satu ikan air tawar yang diperoleh melalui aktivitas perikanan budidaya. Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi pertumbuhan ikan nila, seperti kualitas air, proses pemberian pakan, dan kualitas pakan yang diberikan. Jumlah pemberian pakan yang terlalu sedikit dapat menyebabkan ikan nila mengalamai pertumbuhan lambat, sedangkan pemberian pakan yang terlalu banyak dapat menyebabkan kualitas air menjadi tidak baik karena ada pakan yang tidak dimakan atau terlambat untuk dimakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis penggunaan automatic feeder dibandingkan dengan cara konvensional, sehingga hasilnya dapat digunakan sebagai pilihan yang dapat diterapkan dalam perlakuan budidaya ikan tertentu untuk menghasilkan panen maksimal. Hasil dari penerapan teknologi tersebut menunjukkan efisiensi pemberian pakan mencapai 97,6%; tingkat kelulusan hidup sebesar 94,4%; dan laju pertumbuhan spesifik mencapai 3,58%. Hal tersebut lebih baik jika dibandingkan dengan beberapa perlakuan lain dalam budidaya ikan, sehingga dapat mengakibatkan hasil panen lebih cepat dengan penggunaan pakan yang efisien, dan jumlah panen yang maksimal.Fish culture has an important role in achieving food security in Indonesia. Tilapia is one of the fish that can be obtained through aquaculture activities. Several factors influence the growth of tilapia, such as water quality, feeding process, and quality of the feed provided. Too little feed can cause tilapia to experience slow growth, while too much feed can cause poor water quality because food is not eaten or eaten too late. The objective of this study is to analyze the use of an automatic feeder compared to conventional methods. The results can be a viable option for specific fish culture practices to achieve optimal yields. The results of the application of technology show that the feed conversion ratio reached 97.6%, the survival rate reached 94.4%, and the specific growth rate reached 3.58%. This is better compared to several other treatments in fish culture, so it can result in faster harvest results with efficient use of feed and maximum harvest quantity

    GLUCOSE AND CORTISOL VARIATIONS: PRELIMINARY STUDY ON PHYSIOLOGICAL RESPONSE OF MUD CRAB AFTER TRANSPORTATION ACTIVITY: VARIASI GLUKOSA DAN KORTISOL: STUDI AWAL RESPONS FISIOLOGIS KEPITING BAKAU SETELAH KEGIATAN TRANSPORTASI

    Full text link
    Sistem pengangkutan kepiting bakau (Scylla spp.) yang selama ini dilakukan oleh masyarakat dengan meletakkan pada kotak sterofoam diperkirakan dapat menjadi pemicu tingkat stress pada biota tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai variasi glukosa dan kortisol kepiting bakau sebagai respons fisiologis setelah kegiatan transportasi. Analisis dilakukan terhadap 2 kelompok populasi kepiting bakau (I-Februari dan II-Maret 2024). Masing-masing populasi diamati sebanyak 3 kali, yaitu populasi kepiting yang baru datang dari pengambilan di lapang (H0), populasi kepiting yang sudah dipelihara 5 hari (H5), dan populasi kepiting yang sudah dipelihara selama 10 hari (H10) di karanjang plastik (30x25x20 cm3) dalam bak semen (180x180x75 cm3) yang berisi air laut (25 PSU). Kepiting diberi pakan berupa potongan ikan sebanyak dua kali. Pada populasi I, nilai glukosa dan kortisol rata-rata dari perlakuan H0 adalah 78,3±30,5 mg/100ml dan 0,5±0,1 ng/dL, pada H5 berkisar 42,7±4,9 mg/100ml dan 1,0±0,3 ng/dL, dan pada H10 berkisar 47,0±8,5 mg/100ml dan 0,6±0,2 ng/dL. Pada populasi II, pada H0 berkisar 60,4±37,4 mg/100ml dan 0,5±0,2 ng/dL, pada H5 berkisar 44,2±3,6 mg/100ml dan 0,9±0,3 ng/dL, dan pada H10 berkisar 75,2±19,7 mg/100ml (glukosa). Berdasarkan pengamatan tersebut, nilai glukosa pada kedua populasi kepiting bakau bervariasi (3,6-37,4 mg/100ml), dan melalui ANOVA nilai tersebut tidak berbeda nyata (p>0,05). Namun demikian terdapat tren penurunan pada H0 sampai H5.The system of transporting mud crabs (Scylla spp.), carried out by the community by placing them in styrofoam boxes, was suspected of triggering stress in the biota. This study aims to determine the glucose and cortisol variation values of mud crabs as physiological response of the biota after transportation activity. Analysis was carried out on 2 groups of mud crab populations (I, II). Each population was observed 3 times, the crab had just arrived from the field (H0), had been cultivated for 5 days (H5), and had been cultivated for 10 days (H10) in a plastic box (30x25x20 cm3) in cement pond (180x180x75 cm3) filled with seawater (25 PSU). Crabs were fed with fish pieces twice per day. In population I, the average glucose and cortisol values of H0 ranged 78.3±30.5 mg/100 ml and 0.5±0.1 ng/dL, H5 ranged 42.7±4.9 mg/100 ml and 1.0±0.3 ng/dL, and H10 ranged 47.0±8.5 mg/100 ml and 0.6±0.2 ng/dL, respectively. In population II, H1 ranged 60.4±37.4 mg/100 ml and 0.5±0.2 ng/dL, H5 ranged 44.2±3.6 mg/100 ml and 0.9±0.3 ng/dL, and H10 ranged 75.2±19.7 mg/100 ml (glucose). Based on these observations, the glucose values in the two mud crab populations varied (3.6-37.4 mg/100 ml), and according to the ANOVA test, they are insignificantly different (p>0.05). However, there is a downward trend from H0 to H5

    EVALUATION RESULTS OF NUSANTARA 5 AUTONOMOUS UNDERWATER VEHICLE (N5-AUV) IN A CONTROLLED ENVIRONMENT AND THE OPEN SEA: HASIL EVALUASI NUSANTARA 5 AUTONOMOUS UNDERWATER VEHICLE (N5-AUV) DI LINGKUNGAN TERKONTROL DAN LAUT TERBUKA

    Full text link
    Autonomous Underwater Vehicle (AUV) adalah wahana yang dikendalikan di dalam air menggunakan sistem penggerak, dikontrol dan dikemudikan (dikendalikan) oleh perangkat komputer, dan bermanuver pada tiga dimensi. AUV memiliki kegunaan untuk melakukan pekerjaan di bawah air yang sulit dilakukan oleh manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan desain dan pembuatan Nusantara 5 AUV yang dikembangkan oleh MITR club ITK (Ilmu dan Teknologi Kelautan), FPIK (Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan), IPB University dan mengevaluasi kinerjanya baik di lingkungan lapangan maupun dalam kondisi terkontrol. Metode evaluasi wahana menggunakan perbandingan hasil gerakan di air dengan program gerakan lurus, berbelok, dan gliding. Hasil pengujian kinerja menunjukkan bahwa AUV mampu bergerak lurus dengan rata-rata kesalahan sebesar 2,8° dalam lingkungan terkontrol, sedangkan di laut, rata-rata kesalahannya mencapai 5,4° dikarenakan AUV terombang ambing oleh ombak laut. Saat melakukan manuver berbelok dalam kondisi terkontrol, AUV memerlukan waktu 12,8 detik untuk menyesuaikan jalurnya setelah berbelok, sementara di laut, waktu yang dibutuhkan adalah 20 detik. Gerakan gliding masih belum sempurna, baik di dalam kolam uji maupun di laut, karena cenderung bergerak naik turun. Hal ini mengindikasikan sebuah kelemahan dalam Nusantara 5 AUV itu sendiri. Walaupun demikian, kelebihan dari Nusantara 5 AUV sendiri adalah ukurannya yang lebih kecil dibandingkan dengan pendahulunya dan juga penggunaan jumlah thruster yang lebih sedikit sehingga dapat meminimalisir biaya pembuatan.An Autonomous Underwater Vehicle (AUV) is a vehicle operated underwater using a propulsion system, controlled and navigated by a computer system, and capable of maneuvering in three dimensions. It is designed to perform tasks underwater that are difficult for humans to accomplish. This research aims to document the design and development of the Nusantara 5 AUV made by the MITR Club of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, IPB University, as well as to evaluate its performance both in field conditions and controlled environments. The evaluation method for the vehicle involved comparing the movement results in water with the programmed motions of straight movement, turning, and gliding. The performance testing results indicated that the AUV could move straight with an average error of 2.8° in a controlled environment, while in the sea, the average error reached 5.4° because the AUV was tossed around by the sea waves. During turning maneuvers in controlled conditions, the AUV required 12.8 seconds to adjust its path after turning, whereas in the sea, it took 20 seconds. Gliding motion was still not perfect, both in the test pool and in the sea, as it tended to move up and down. This indicated a weakness in the Nusantara 5 AUV itself. However, the advantage of the Nusantara 5 AUV itself was in its smaller size compared to its predecessors and the use of fewer thrusters, thus minimizing manufacturing costs

    KAJIAN TEKNIK PENANGKAPAN IKAN PADA PERIKANAN LEMURU DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA PENGAMBENGAN, BALI, INDONESIA: KAJIAN TEKNIK PENANGKAPAN IKAN PADA PERIKANAN LEMURU DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA PENGAMBENGAN, BALI, INDONESIA

    Full text link
    Pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem merupakan hal yang sangat penting untuk diterapkan. Pendekatan ini memiliki tujuan untuk mencapai keberlanjutan dan keseimbangan dimensi sosial ekonomi, ekologi, dan tata kelola perikanan yang lebih efektif. Aspek yang dinilai dalam penelitian ini adalah teknik penangkapan ikan. Penilaian tersebut terbagi menjadi enam indikator, yang mencakup metode penangkapan ikan, kapasitas perikanan, selektivitas alat tangkap, modifikasi alat penangkap ikan, kesesuaian ukuran dan fungsi kapal, serta awak kapal perikanan yang telah tersertifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk menilai status sumber daya perikanan lemuru di Perairan Selat Bali, khususnya terkait teknik penangkapan ikan. Kegiatan penelitian berlangsung di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan dari bulan Maret hingga Juli 2023. Pengumpulan data menggunakan beberapa metode, meliputi wawancara, survei, dan pengambilan sampel ukuran ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator teknik atau metode penangkapan ikan yang bersifat ilegal atau dektruktif memperoleh skor 3, modifikasi dari alat penangkap ikan yang digunakan juga mendapatkan skor 3. Kapasitas perikanan, selektivitas alat tangkap, dan kesesuaian fungsi serta ukuran kapal perikanan yang digunakan berdasarkan dokumen legal masing-masing meraih skor 3, 3, dan 1, sedangkan awak kapal perikanan yang telah tersertifikasi mendapatkan skor 1. Secara keseluruhan, penilaian komposit pada domain teknik penangkapan ikan mencapai 90%, menandakan bahwa telah diterapkan dengan baik prinsip-prinsip Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM).Fisheries management with an ecosystem approach is essential to implement. This approach aims to achieve sustainability and balance in socio-economic, ecological, and more effective fisheries governance dimensions. The aspect assessed in this study was fishing techniques. The assessment was divided into six indicators: fishing methods, fishing capacity, selectivity of fishing gear, modification of fishing gear, suitability of fishing boat size and function, and certified fishing boat crew. This study aims to assess the status of Bali sardinella fishery resources in Bali Strait Waters, especially related to fishing techniques. We conducted research activities at Nusantara Fishing Port (PPN) Pengambengan from March to July 2023. Data collection used several methods, including interviews, surveys, and fish size sampling. The study results showed that the indicator of illegal or destructive fishing techniques or methods obtained a score of 3, and modification of the fishing gear used also received a score of 3. Fishing capacity, selectivity of fishing gear, and suitability of function and size of fishing boat used, based on legal documents, received a score of 3, 3, and 1, respectively. In contrast, certified fishing crews received a score of 1. Overall, the composite assessment in the fishing technique domain reached 90%, indicating that the Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) principles have been implemented well

    THE RELATIONSHIP BETWEEN CORAL REEFS AND COASTAL FISHERIES RESOURCES IN PANGGANG ISLAND AND SURROUNDING AREAS, SERIBU ISLANDS, JAKARTA: KETERKAITAN TERUMBU KARANG DENGAN SUMBERDAYA PERIKANAN PESISIR PULAU PANGGANG DAN SEKITARNYA, KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA

    Full text link
    Pulau Panggang memiliki potensi ekosistem terumbu karang seluas sekitar 9 ha, namun keberadaan terumbu karang di perairan Pulau Panggang dan sekitarnya mengalami penurunan luasan. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi kondisi terumbu karang serta menganalisis hubungan terumbu karang dengan biomassa ikan terumbu di perairan Pulau Panggang dan sekitarnya. Pengambilan data ekosistem terumbu karang dilakukan menggunakan metode Line Intercept Transect (LIT), sedangkan pengambilan data ikan dilakukan menggunakan metode sensus visual bawah air (underwater visual census). Kondisi terumbu karang di lokasi penelitian tergolong kategori sedang. Tutupan karang hidup tertinggi tercatat di Pulau Panggang dengan nilai 41% dan di Pulau Air senilai 31%. Bentuk pertumbuhan terumbu karang (life form) di kedua lokasi penelitian ditemukan sebanyak 10 ragam, dengan life form tertinggi dimiliki oleh Coral foliose dan Coral encrusting. Jumlah ikan karang yang teramati sebanyak 867 individu dari 106 spesies yang tergabung dalam 27 famili ikan karang, yang didominasi oleh famili Pomacentridae (72,81%). Kelimpahan ikan di Pulau Air sebanyak 386±113 individu/250m2 dan di Pulau Panggang sebanyak 406±160 individu/250m2. Hasil pengukuran nilai tertinggi biomassa ikan karang terdapat di Stasiun 4 Pulau Panggang (43,05 g/m2), sedangkan biomassa ikan karang yang terendah di Stasiun 3 Pulau Air (4,98 g/m2).Panggang Island has the potential for a coral reef ecosystem covering an area of around 9 ha, but the existence of coral reefs in the waters of Panggang Island and its surroundings has decreased in area. This study aims to identify the condition of coral reefs and analyze the relationship between coral reefs and reef fish biomass in the waters of Panggang Island and its surroundings. Coral reef ecosystem data collection was carried out using the Line Intercept Transect (LIT) method, while fish data collection was carried out using the underwater visual census method. The condition of the coral reefs at the research location was classified as moderate. The highest live coral cover was recorded on Panggang Island with a value of 41% and on Air Island with a value of 31%. The coral reef growth forms (life forms) at both research locations were found to be 10 types, with the highest life forms being Coral foliose and Coral encrusting. The number of coral fish observed was 867 individuals from 106 species belonging to 27 families, dominated by the family Pomacentridae (72.81%). The abundance of fish on Air Island was 386±113 individuals/250 m², and on Panggang Island it was 406±160 individuals/250 m². The highest measurement results of coral fish biomass were at Station 4 of Panggang Island (43.05 g/m²), while the lowest one was at Station 3 of Air Island (4.98 g/m²)

    329

    full texts

    337

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇