Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
    337 research outputs found

    POTENSI DAN TINGKAT PEMANFAATAN SUMBERDAYA IKAN DEMERSAL DI PERAIRAN PULAU AMBON PROVINSI MALUKU

    Full text link
    Salah satu sumberdaya perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi adalah sumberdaya perikanan demersal di perairan dalam. Hasil penelitian ini mendapati 22 jenis ikan demersal dengan nilai ekonomis tinggi yang ditangkap oleh nelayan. Hasil penelitian ditemukan sebanyak 22 jenis ikan dari berbagai jenis, ada 5 jenis yang mendominasi hasil tangkapan dari sisi jumlah maupun frekuensi kehadiran atau yang dapat ditemukan hampir diseluruh daerah dan musim penangkapan. Lima jenis ikan tersebut adalah lencam (Lethrinus sp), kurisi (Etelis spp), kerapu (Ephinephelus sp), kakap merah (Lutjanus spp), Ikan bubara (Caranx sp). Jenis-jenis ikan hasil tangkapan tersebut ditemukan menyebar di sekitar perairan Pulau Ambon. Potensi pada tingkat lestari (MSY) ikan kerapu (Epinephelus spp) sebanyak 572.02 ton dengan upaya optimum 15.75 trip. Produksi rata-rata saat ini sebesar 178.919 ton. Tingkat pemanfaatan rata-rata ikan kerapu saat ini sebesar 31.27% atau yang belum dapat dimanfaatkan sebesar 68.72 %. Jumlah tangkapan yang didasarkan pada nilai MSY diperbolehkan untuk jenis ikan tersebut adalah 457.60 ton/tahun. MSY ikan kakap merah (Lutjanus spp) 146.83 ton dengan upaya optimum 2.631 trip. Produksi rata-rata saat ini 67.704 ton. Tingkat pemanfaatan rata-rata ikan kakap merah saat ini sebesar 47.47% atau dengan kata lain potensi ikan kakap merah yang belum dimanfaatkan sebesar 52.52%. Peluang pemanfaatan pada nilai MSY maka jumlah tangkapan yang diperbolehkan untuk jenis ikan tersebut adalah 117.464 ton/tahun. MSY ikan bobara (Caranx sp) 270.60 ton dengan upaya optimum 3630 trip dengan produksi rata-rata 72.96 ton.One of the fishery resources that have high economic value are demersal fisheries resources in deep sea waters. The results ofthis study found 22 demersal fish species with high economic value captured by fishermen. The results ofthe study found as many as 22 species, five fish stretcher 5 that can be foundin nearly all areas and fishing season. Five types of fish are: lencam (Lethrinus sp.), kurisi (Etelis spp), kerapu (Ephinephelus sp), red snapper (Lutjanus spp), bubara fish (Caranx sp). The types of fish catches were found spread around the waters of Ambon Island. The potential at Maxsimum sustainable Yield (MSY) of fish grouper (Epinephelus spp) 572.02 with 15.75 tonnes optimum effort trip. The average production of 178.919 tonnes currently. Thus the average utilization rate of groupers currently 31.27% or 68.72% untapped. If it is based on the MSY allowable catch for the fish species is 457.60 tons / year. MSY red snapper (Lutjanus spp) 146.83 wih 2.631 tonnes optimum effort trip. Average production is currently 67.704 tons. Thus the average utilization rate of the red snapper fish is currently 47.47%, or in other words the potential for red snapper untapped 52.52%. If it is based on the MSY allowable catch for the fish species is 117 464 tons / year. MSY bubara fish (Caranx sp) 270.60 tonnes with optimum effort 3630 trip with an average yield of 72.96 tons

    PENGOPERASIAN RUMPON ELEKTRONIK PADA ALAT TANGKAP BAGAN DI PULAU LANCANG KEPULAUAN SERIBU JAKARTA

    Full text link
    Rumpon Elektronik merupakan inovasi alat bantu penangkapan ikan yang memiliki fungsi sama seperti rumpon pada umumnya yaitu untuk memikat dan mengumpulkan ikan. Uji coba rumpon elektronik ini dilakukan pada alat tangkap bagan, dengan tujuan untuk melihat kinerja dari alat tersebut. Efektivitas penggunaan rumpon elektronik dianalisis dari hasil tangkapannya. Rumpon elektronik ini memiliki atraktor berupa cahaya (LED, 5 Watt) dan suara (10-1000 Hz, 1-20 kHz dan 20-100 kHz) dengan sumber tegangan berupa aki 12 volt. Pemasangan rumpon elektronik dalam uji coba mengikuti metode penangkapan yang ada di bagan. Berdasarkan jumlah hasil tangkapan, rumpon elektronik berhasil mengumpulkan rata-rata 4.60 kg jika lama waktu pemasangan satu jam, dan mengumpulkan rata-rata 4.07 kg jika lama waktu pemasangan setengah jam. Rumpon elektronik bekerja dengan baik, atraktor mampu berfungsi selama uji coba dan berhasil mengumpulkan ikan, namun jika dibandingkan tingkat efektivitas hasil tangkap dengan bagan, maka penggunaan rumpon elektronik di bagan masih belum efektif. Saran untuk meningkatkan efektivitas hasil tangkap rumpon elektronik pada bagan yaitu dengan menambah intensitas dan daya pada atraktor cahaya, serta adanya kajian lebih dalam terhadap frekuensi suara yang direspon oleh ikan.Electronics FADs is an innovative fishing tools tha thave the same function as in the general FADs to attract and collect fish. The trial of electronic FADs was did at liftnet gear, in purpose to see the performance of these tools. Effectiveness of use electronic FADs analysis from catch harvest. Electronic FADs has attractor a light (LED, 5 Watts) and sound (10-1000 Hz, 1-20 kHz and 20-100 kHz) with a voltage source of 12 volt battery. Installation ofelectronic FADs in the trial following the existing catch method in the liftnet. Based on catches, electronic FADs managed to collectan average of 4.60 kg if time installation is an hour, and collect an average of 4.07 kg if time installation is 30 minute. Electronic FADs work well, attractor is able to function through out the trial and managed toc ollectt he fish, but when compared the effective ness of the catch to the liftnet, then the use of electronic FADs in the liftnet is still not effective. Suggestions for improving the effectiveness ofelectronic FAD scatchon the liftnet is increase the intensity and power on light attractor, and deeper study of the sounds frequency which response by fish

    PENGEMBANGAN DATA LOGGER SUHU AIR BERBIAYA RENDAH

    Full text link
    Water temperature data logger merupakan sebuah alat perekam suhu perairan dari waktu ke waktu secara otomatis sehingga memungkinkan untuk mendapatkan gambaran dari kondisi suhu perairan yang dipantau. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan desain dan kontruksi water temperature data logger berbiaya rendah. Casing dirancang berbentuk silinder menggunakan bahan aluminium dengan diameter 3.20 cm dan panjang 16.50 cm. Sistem elektronik terdiri atas mikrokontroler ATmega 328P sebagai pusat pengendali, DS18B20 sebagai sensor suhu, mini motor DC sebagai indikator getar, DS3231 sebagai penanda waktu, dan micro SD card sebagai media penyimpanan. Uji kinerja water temperature data logger menunjukan casing kedap dan tenggelam jika dimasukan ke air sehingga tidak perlu penambahan pemberat. Baterai dapat bertahan selama 10 hari 8 jam pada interval pencuplikan 30 menit. Nilai galat kalibrasi sensor antara (-0.37)-0.41 o C dengan nilai RMSE 0.23 °C. Pengukuran suhu air Danau Institut Pertanian Bogor pada tanggal 10-20 Oktober 2013 berkisar antara 27.69-31.63 °C dengan suhu harian terendah pada pukul 5:30-8:30 WIB dan tertinggi pada pukul 12:00-16:00 WIB. Uji-t perbandingan data suhu antara water temperature data logger dengan termometer selama dua hari di kolam menunjukan bahwa data tidak berbeda nyata.Water temperature data logger is an instrument to record thewater temperature automatically andcapable ofmonitoring of temperature condition of the medium or environment. This research aims to design and construct low cost water temperature data logger. Casing of the logger was designed using cylindric aluminum material with a diameter of 3.20 cm and a length of 16.50 cm. The electronic systemswere built from the microcontroller ATmega 328P as main controller, DS18B20 as temperature sensor, mini DC motor as vibration indicator, DS3231 as time marker sensor, and micro SD card as data storage. The result offield test showed that casing was waterproof and did not need an addition of ballast. The battery life time is 10 days 8 hours for 30 minutes sampling intervals The range error value of sensor calibration is between (-0.37)-0.41°C and RMSE value 0.23 °C. The result of measurement in Bogor Agricultural University lake on October 10th –20th 2013 ranged from 27.69-31.63 °C with the lowest daily temperature at 5.30-8.30 WIB and the highest at 12:00 -16:00 WIB. T test comparison of data between the water temperature data logger and a thermometer in thepond for two days showed that the data were not significantly different

    FAKTOR TEKNIS YANG BERPENGARUH TERHADAP HASIL TANGKAPAN UTAMA PUKAT UDANG DI LAUT ARAFURA

    Full text link
    Udang merupakan komoditas perikanan ekonomis penting dengan alat tangkap yang paling efektif yakni pukat udang. Salah satu upaya untuk memaksimalkan jumlah tangkapan udang adalah dengan mengetahui faktor teknis yang signifikan terhadap laju tangkap udang. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis faktor teknis operasi penangkapan yang dapat memaksimalkan laju tangkap pukat udang. Faktor teknis yang dianalisis adalah waktu penangkapan (siang dan malam), kecepatan towing dan lama towing terhadap laju tangkap pukat udang. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah observasi. Hasil dari penelitian ini adalah laju tangkap pada malam hari lebih tinggi (24.10 ±9.60 kg/jam), lama towing efektif yakni 91-150 menit (46.78 ± 22 kg/hauling) dan kecepatan towing dengan laju tangkap yang lebih tinggi yakni 2.50-3.0 0knot (13.18 ±3.330 kg/hour). Hasil analisis menyatakan faktor-faktor dapat memaksimalkan hasil tangkapan pukat udang.Shrimp is an economic important commodity in fishery with shrimp trawl as the most effective fishing gear. One of effort to maximize the number of shrimp catch is the application of the technical factors which significantly influence the catch rate of shrimp. Method of this research was observational. The purpose of this research was to analyze the influence of fishing time (day and night), towing speed, and towing duration towards shrimp catch rate. The result of this research are night operation has greater catch rate (24.10 ± 9.60 kg/hour, the effective tow duration is 91-150 minutes (46.78 ± 22 kg/hauling) and towing speed with greater catch rate is 2.50-3.00 knot (13.18 ± 3.30 kg/hour). The results of the analysis should that factors can maximize the catch of shrimp trawl

    LAMPU LED BAWAH AIR SEBAGAI ALAT BANTU PEMIKAT IKAN PADA BAGAN APUNG

    Full text link
    Penelitian lampu LED bawah air dilakukan untuk merancang dan membuat lampu LED bawah air sebagai alat bantu pemikat ikan, untuk menganalisis kekuatan bahan yang digunakan, untuk menganalisis nilai iluminasi cahaya dan distribusi yang dihasilkan dari lampu, dan untuk mendeskripsikan dan menganalisis hasil tes dari lampu LED bawah air. Penelitian ini dibagi atas tiga tahap, kegiatan pengujian material, perancangan dan pembuatan lampu LED bawah air, dan uji coba lapangan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai beban maksimum yang dapat ditahan oleh resin berkisar antara 914.27-1177.34 kgf/cm2 . Nilai beban maksimum yang dapat ditahan oleh akrilik 1.238.65-1539.30 kgf/cm2 . Desain instrumen dibangun untuk digunakan dalam air, dengan bahan dan resin akrilik sebagai perlindungan/ tahan air. Desain lampu yang dibuat terintegrasi dengan sistem kamera CCTV untuk memudahkan deteksi ikan. Lampu LED yang digunakan adalah jenis tipe RGB High Power LED 10 watt yang dihubungkan dengan water proof driver step down tipe CC-CV (QSKJ) LED driver dengan spesifikasi IN: DC.7-35V OUT: DC.2-30V. Jumlah driver yang digunakan adalah sebanyak 9 buah, dimana lampu bagian atas sebanyak 6 lampu dihubungkan dengan 1 driver untuk setiap warna. Sedangkan pada lampu bagian bawah, setiap 3 lampu dihubungkan dengan 1 driver pada setiap warna. Hasil pengukuran intensitas cahaya pada medium udara menunjukkan cahaya biru memiliki intensitas yang tertinggi dibandingkan dengan warna merah dan putih. Jenis ikan yang ditangkap selama 5 kali trip bagan apung adalah sebanyak 8 spesies, terdiri dari Auxis sp., Loligo sp., Rastrelliger sp., Trichiurus sp., Sardinella sp., Decapterus sp., dan Leiognathus sp. Hasil pengujian yang dilakukan selama 5 trip menunjukkan tangkapan dominan adalah ikan petek (Leiognathus sp.) sebanyak 288 spesies, dan Loligo sp. sebanyak 266 spesies. Rumpon elektronik pada bagan yaitu dengan menambah intensitas dan daya pada atraktor cahaya, serta adanya kajian lebih dalam terhadap frekuensi suara yang direspon oleh ikan.Study on LED underwater lamp as fish aggregating device was conducted todesign and construct the LED underwater lights, to analyze strength of materials used, to analyze the light illumination value and distribution generated from the lamp, and to describe and analyze the test results of the underwater LED lights constructed. This study was divided into three stages, the material testing activities, designing and constructing the LED activities, and the field trials. Based on the results showed that the value of the maximum load that can be retained by the resin ranged from 914.27 to 1177.34 kgf/cm2. The value of the maximum load that can be held by acrylic ranges from 1238.65 to 1539.30 kgf/cm2. Design of instrument built for use in the water, with the material and acrylic resin as a protection/ waterproof. Designof the lamps weremade integrated with a CCTV camera system to facilitate the detection of fish. The LED lights used were a type of RGB High Power LED of 10 watt connected with waterproof driver adjustable step down CC-CV (QSKJ) led driver IN: DC.7-35V OUT: DC.2-30V. The number of drivers used were as many as 9 pieces, where the top of the lamp every 6 pieces of light connected with 1 driver for each color, while for the bottom of every 3 pieces of light connected with 1 pieces driver for each color. The results of measurements of the intensity of light at air showed medium that emits blue light, the most high intensity light than red and white. Type of fish caught during the 5 timesfishing trip was as much as 8 species, consisting of Auxis sp., Loligo sp., Rastrelliger sp., Trichiurus sp., Sardinella sp., Decapterus sp., and Leiognathus sp. The results of tests performed during 5 times fishing trip showed dominant catch of Leiognathus sp. as much as 288 species, and Loligo sp. as much as 266 species

    PENGELOLAAN SUMBERDAYA IKAN KAKAP MERAH (Lutjanus spp.) DI PERAIRAN UTARA CIREBON, LAUT JAWA

    Full text link
    Ikan kakap merah (Lutjanus spp.) merupakan salah satu sumberdaya ikan demersal komoditas penting di perairan utara Cirebon, Laut Jawa. Tingginya tingkat operasi penangkapan ikan tradisional di sekitar perairan pantai diduga mempengaruhi ketersediaan stok sumberdaya ikan tersebut. Hasil penelitian menunjukan bahwa telah terjadi over fishing yang disebabkan oleh banyaknya jumlah armada penangkapan ikan tradisional di sekitar perairan pantai, terlebih masih adanya nelayan yang menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan seperti jaring arad (mini trawl) dan selain itu ikan kakap merah yang tertangkap, umumnya merupakan ikan muda yang belum matang gonad atau belum memijah. Sehubungan dengan hal tersebut perlu diatur jumlah armada penangkapan yang dapat beroperasi di perairan pantai dan penegakan peraturan serta pengelolaannya disarankan menggunakan alat tangkap yang selektif seperti menggunakan alat tangkap pancing dengan ukuran mata pancing yang lebih besar dari No. 10 dan pemasangan rumpon dasar diarahkan pada daerah fishing ground baru yang lebih luas dan jauh. Sehingga tekanan terhadap daerah penangkapan ikan kakap merah yang sekarang dapat dikurangi.Red snapper (Lutjanus spp.) is one of the important commodity of demersal fish at the northern waters of Cirebon, Java Sea. The high degree of traditional fishing operations around the coastal area is expected to affect the availability of the fish stock. The Research results showed that there have been over fishing, it is caused by the large number of traditional fishing vessels at the coastal area, especially the persistence of the fishermen who use unfriendly fishing gear such as mini trawl. And then the red snapper which caught generally is young and never spawn or not yet mature. To solve that problem, it must arrange the amount of fishing vessels which can be operated at coastal area and it must law enforcement, and then to utilize the red snapper resources it advised to use the hook size larger than No. 10 and then install the rumpon at the new fishing ground which wider and farther. So the pressure to fishing ground of snapper can be reduced

    DAMPAK PEMUTIHAN KARANG TERHADAP EKOSISTEM TERUMBU KARANG PADA TAHUN 2010 DI PERAIRAN UTARA ACEH

    Full text link
    Bulan April-Mei 2010 Perairan Andaman termasuk perairan Aceh mengalami kenaikan suhu permukaan air laut yang drastis. Kenaikan suhu permukaan air laut tersebut telah menyebabkan pemutihan karang di beberapa tempat di dunia, termasuk perairan utara Aceh. Survei pemutihan karang telah dilakukan untuk mengukur dampak pemutihan karang terhadap ekosistem terumbu karang yang meliputi, index pemutihan karang, tutupan karang keras dan kelimpahan ikan karang. Hasil survey menunjukkan bahwa lebih dari 35% karang keras yang memutih mengalami kematian. Genera karang yang mengalami tingkat kematian yang sangat besar adalah karang keras dari Genera Acropora dan Pocillopora. Pemutihan karang yang disertai dengan tingkat kematian karang yang tinggi telah menyebabkan penurunan tutupan karang keras di Perairan Utara Aceh secara signifikan bahkan di beberapa tempat tutupan karang dari Genera Acropora mengalami kematian sebesar 100%. Selain berdampak kepada penurunan tutupan karang keras, pemutihan karang pada tahun 2010 juga berdampak pada penurunan kelimpahan ikan karang terutama ikan karang pemakan polip karang (Corallivore) yang mengalami penurunan kelimpahan secara signifikan antara tahun 2009 dengan 2011 dan 2013. Data tersebut bisa disimpulkan bahwa, pemutihan karang pada tahun 2010 di Perairan Utara Aceh merupakan peristiwa yang paling parah yang pernah dilaporkan di Indonesia khususnya di Utara Aceh.A drastic increasing in Sea Surface Temperature (SST) was happened in Andaman Sea including in Aceh region from April through end of May 2010. The recent escalations of SST have caused mass coral bleaching event in many places in the world including northern Aceh water of Indonesia. Bleaching survey was conducted in Northern Aceh to measure ecological impact of bleaching including bleaching index, coral cover and reef fish abundance. More than 35% bleached coral were died, with tremendous mortality of susceptible genera such as Acropora and Pocillopora. Coral bleaching has impact in declining coral cover in Northern Aceh significantly after coral bleaching and the evidence of loss Acropora in some area. Coral bleaching also impact to coral fishes, where fishes abundance especially coralivorous fishes has declining significantly betwen 2009 and 2011 also 2013. The 2010 bleaching event is one of the most severe events reported for Indonesia including in Northern Aceh

    329

    full texts

    337

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇