Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
    337 research outputs found

    STATUS OF FACILITIES AND INFRASTRUCTURES AVAILABILITY OF THE CAPTURE FISHERIES AREA IN WEST SUMATRA: STATUS KETERSEDIAAN SARANA DAN PRASARANA KAWASAN PERIKANAN TANGKAP DI SUMATERA BARAT

    Full text link
    Potensi besar sumberdaya ikan di Samudera Hindia akan dapat dimanfaatkan masyarakat Sumatera Barat secara optimum jika tersedia infrastuktur perikanan yang memadai. Pembangunan infrastruktur perikanan ini sebaiknya sinergi dengan output dan outcome dari program pengembangan kawasan pesisir Sumatera Barat sebelumnya. Salah satu langkah awal untuk membuat sinergi ini adalah melakukan penelitian yang bertujuan menganalisis kondisi perikanan tangkap yang akan dikembangkan dan kondisi infrastruktur yang tersedia di kawasan pesisir tersebut, yaitu sarana dan prasarana perikanan serta program pengembangan kawasan perikanan tangkap. Penelitian ini menggunakan data dan informasi yang diperoleh dari observasi lapangan, wawancara, focus group discussion (FGD), pengisian kuesioner, dan data sekunder yang bersumber dari instansi pemerintahan. Kesiapan kawasan dinilai dari indeks ketersedian infrastuktur relatif terhadap kebutuhan infrastruktur untuk sasaran yang direncanakan. Analisis menyimpulkan bahwa ketersediaan sarana dan prasarana perikanan memiliki status tercapai kategori sedang, masing-masing 63% dan 72%. Di antara beberapa jenis fasilitas yang masih harus dilengkapi adalah penyediaan air bersih dan pengadaan pabrik es untuk menjaga kualitas ikan.The great potential of fishery resources in the Indian Ocean can be optimally utilized by the community of West Sumatra if adequate fishery infrastructure is available. The development of this infrastructure should ideally synergize with the outputs and outcomes of previous coastal area development programs in West Sumatra. One initial step to create this synergy is to analyze the conditions of the capture fisheries and the available infrastructure in the coastal areas, namely fisheries facilities and infrastructures, as well as the capture fisheries area development programs. This research utilized data and information obtained from field observations, interviews, focus group discussions (FGDs), questionnaire surveys, and secondary data from government agencies. The readiness of the area was assessed by the index of infrastructure availability relative to the infrastructure needs for the planned targets. The analysis concludes that the availability of fisheries facilities and infrastructures had a moderate category status, respectively 63% and 72%. Among several types of facilities, some still need to be constructed, such as clean water supply and ice factories to maintain the quality of fish

    PENILAIAN DOMAIN SUMBER DAYA IKAN LEMURU MELALUI PENDEKATAN EKOSISTEM DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA (PPN) PENGAMBENGAN: PENILAIAN DOMAIN SUMBER DAYA IKAN LEMURU MELALUI PENDEKATAN EKOSISTEM DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA (PPN) PENGAMBENGAN

    Full text link
    Lemuru adalah salah satu jenis ikan yang memberikan kontribusi besar di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan. Potensi sumber daya perikanan lemuru melimpah dan bernilai ekonomis tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai performa status domain sumber daya ikan dengan pendekatan ekosistem. Penelitian dilaksanakan selama tujuh bulan terhitung dari bulan Januari sampai Juli 2023. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara. Analisis data yang digunakan yakni pendekatan analisis multi kriteria dengan penilaian dan visualisasi indeks komposit dengan model bendera. Enam indikator pada domain sumber daya ikan (SDI) yang diteliti yakni tren CPUE baku, ukuran ikan lemuru, proporsi juvenile yang ditangkap, komposisi spesies hasil tangkapan, range collapse sumber daya ikan, dan spesies endangered, threatened, and protected (ETP). Indikator pada domain SDI menandakan bahwa tren CPUE baku menurun, tren ukuran ikan lemuru relatif tetap, proporsi ikan yuwana yang tertangkap 53%, komposisi spesies hasil tangkapan yakni proporsi ikan target lebih banyak, range collapse sumber daya ikan untuk daerah penangkapan ikan relatif tetap tergantung spesies target, dan untuk spesies ETP tertangkap namun dilepas. Hasil akhir penilaian status sumber daya ikan lemuru yang berbasis di PPN Pengambengan mendapatkan nilai komposit sebesar 70 sehingga masuk dalam kategori baik.Bali sardinella is a fish species that contributes greatly to the Archipelago Fishing Port (PPN) Pengambengan. The potential of Bali sardinella fishery resources is abundant and of high economic value. The purpose of this study was to assess the performance of fish resource domain status with an ecosystem approach. The research was conducted for seven months from January to July 2023. Data collection was done through observation and interviews. The data analysis used was a multi-criteria analysis approach with assessment and visualization of the composite index with a flag model. Six indicators in the fish resources (SDI) domain were studied, namely standardized CPUE trends, Bali sardinella size, proportion of juveniles caught, species composition of the catch, range collapse of fish resources, and endangered, threatened, and protected species (ETP). Indicators in the fish resources domain indicate that the trend of standardized CPUE is decreasing, the trend of Bali sardinella size is relatively fixed, the proportion of juveniles caught is 53%, the species composition of the catch is a higher proportion of target fish, the range collapse of fish resources for fishing grounds is relatively fixed depending on the target species, and for ETP species caught but released. The final result of the assessment of the status of Bali sardinella fish resources based at PPN Pengambengan received a composite score of 70, so it is in a good category

    EVALUATION OF CHITOSAN QUALITY FROM SHRIMP, CRAB, AND BLUE SWIMMING CRAB WASTE: YIELD, WATER CONTENT, AND DEGREE OF DEACETYLATION: EVALUASI KUALITAS KITOSAN DARI LIMBAH UDANG, KEPITING, DAN RAJUNGAN: RENDEMEN, KADAR AIR, DAN DERAJAT DEASETILASI

    Full text link
    Cangkang kepiting, rajungan, dan udang vannamei merupakan limbah krustasea yang belum dimanfaatkan secara optimal di Pulau Bangka dan berpotensi mencemari lingkungan. Konversi biomassa dari limbah ini menjadi kitosan mendukung prinsip ekonomi sirkular. Penelitian ini mengevaluasi kualitas kitosan yang dihasilkan dari limbah krustasea berdasarkan rendemen, kadar air, dan derajat deasetilasi (DD), serta membandingkan dua metode berbasis FTIR untuk estimasi DD menggunakan rasio pita spektral A1320/A1420 dan A1655/A3450. Limbah cangkang (masing-masing 100 g) diproses melalui tahap demineralisasi (HCl 1,5 M), deproteinasi (NaOH 3,5%), dan deasetilasi (NaOH 60%) dengan dua ulangan per jenis. Hasil rendemen kitosan berturut-turut adalah 4,0% ± 0,5 (kepiting), 8,7% ± 0,5 (udang), dan 12,4% ± 0,9 (rajungan). Kadar air masih berada dalam batas SNI 7949:2013 (<12%), yaitu 6,4% ± 2,0, 10,7% ± 2,7, dan 6,3% ± 0,6. Berdasarkan rasio A1320/A1420, nilai DD masing-masing adalah 86,8% ± 0,4, 84,4% ± 0,1, dan 95,3% ± 2,5, seluruhnya melampaui standar minimum 75%. Sebaliknya, metode A1655/A3450 menghasilkan nilai DD jauh lebih rendah (<75%). Temuan ini menunjukkan bahwa limbah cangkang krustasea lokal memiliki potensi kuat sebagai sumber kitosan berkualitas tinggi. FTIR merupakan metode praktis untuk estimasi DD, namun tetap perlu divalidasi lebih lanjut, terutama dengan metode standar seperti ¹H-NMR.Mud crab, blue swimming crab, and vannamei shrimp carapace are crustacean wastes that have not been optimally utilized in Bangka Island and have the potential to pollute the environment. Converting the biomass from this waste into chitosan supports the principles of a circular economy. This study evaluates the quality of chitosan produced from crustacean waste based on yield, moisture content, and degree of deacetylation (DD), and compares two FTIR-based methods for estimating DD using the spectral band ratios A1320/A1420 and A1655/A3450. Carapace waste (100 g) was processed through demineralization (1.5 M HCl), deproteinization (3.5% NaOH), and deacetylation (60% NaOH) with two replications per species. The chitosan yields were 4.0% ± 0.5 (mud crab), 8.7% ± 0.5 (blue swimming crab), and 12.4% ± 0.9 (shrimp), respectively. The water content was still within the limits of SNI 7949:2013 (<12%), namely 6.4% ± 2.0, 10.7% ± 2.7, and 6.3% ± 0.6. Based on the A1320/A1420 ratio, the DD values were 86.8% ± 0.4, 84.4% ± 0.1, and 95.3% ± 2.5, respectively, all exceeding the minimum standard of 75%. In contrast, the A1655/A3450 method produces much lower DD values ​​(<75%). These findings indicate that local crustacean shell waste has strong potential as a source of high-quality chitosan. FTIR is a practical method for DD estimation, but it still needs further validation, especially with standard methods such as 1H-NMR

    TEMPORAL AND SPATIAL VARIATIONS OF HEAVY METALS IN SHELLFISH IN BANTEN BAY: VARIASI TEMPORAL DAN SPASIAL LOGAM BERAT PADA KERANG DAN KEPITING DI TELUK BANTEN

    Full text link
    Banten Bay is a busy water area with diverse activities, including capture fisheries, aquaculture, marine and land transportation, and industry, which are estimated to generate significant amounts of heavy metals that enter the water and accumulate in fish and shellfish. Some fishery commodities commonly found in Banten Bay included shellfish, such as blood cockles, green mussels, mud crabs, and blue swimming crabs. The study aims to monitor heavy metal contamination variations spatially and temporally of the shellfish in Banten Bay. Biota samples were taken for 6 months in Cengkok Coastal Waters (March–August 2019) and 3 months in Bojonegara Coastal Waters (August–October 2020). The heavy metal content was determined using an atomic absorption spectrophotometer (AAS). Pb and Cd concentrations in the flesh of the shellfish (blood cockles, green mussels, mud crabs, and blue swimming crabs) from the Cengkok and Bojonegara Coastal Waters ranged from 0.001 to 0.070 ppm and from <0.001 to 0.030 ppm, respectively. All measured heavy metal concentrations met the BPOM (2018) quality standards. Bioconcentration factors were generally <100, indicating low accumulation levels.  Blood cockles, green mussels, and mud crabs from Cengkok Coastal Waters were still safe for consumption in normal amounts, while the consumption of swimming crabs was strictly limited to 0.42 kg/week for adults and 0.11 kg/week for children. The same four species from the Bojonegara Coastal Waters were also considered safe for consumption in normal portions.Perairan Pantai Teluk Banten merupakan salah satu wilayah perairan yang cukup ramai dengan aktivitas yang beragam, yang mencakup perikanan tangkap, perikanan budidaya, transportasi, dan industri, yang diperkirakan dapat menghasilkan limbah logam berat di perairan tersebut dan berakumulasi pada kerang dan kepiting. Beberapa jenis komoditas perikanan yang cukup sering ditemukan di Teluk Banten ini adalah kerang dan kepiting yang terdiri atas kerang darah, kerang hijau, kepiting, dan rajungan. Penelitian ini memiliki tujuan mengamati variasi spasial dan temporal kontaminasi logam berat pada kerang dan kepiting di Teluk Banten. Contoh biota diambil selama 6 bulan di Pantai Cengkok (Maret–Agustus 2019) dan 3 bulan di Pantai Bojonegara (Agustus–Oktober 2020). Kandungan logam berat diamati menggunakan atomic absorption spectrophotometer (AAS). Kandungan Pb dan Cd pada daging kerang dan kepiting (kerang darah dan hijau, kepiting, dan rajungan) pada perairan Pantai Cengkok dan Bojonegara, secara berturut-turut berkisar 0,001–0,070 ppm, dan <0,001-0,030 mg/kg. Kandungan logam berat tersebut memenuhi baku mutu BPOM (2018). Faktor biokonsentrasi secara umum bernilai <100, yang tergolong ke dalam kategori akumulasi rendah. Kerang darah, kerang hijau, dan kepiting bakau dari Pantai Cengkok masih aman dikonsumsi dalam jumlah yang normal, sedangkan konsumsi rajungan terbatas hanya 0,42 kg/minggu untuk orang dewasa dan 0,11 kg/minggu untuk anak-anak. Keempat biota yang sama dari Pantai Bojonegara masih aman dikonsumsi dalam porsi yang normal

    APPLICATION OF INVERSE DISTANCE WEIGHTED (IDW) INTERPOLATION IN DETERMINING WAVE HEIGHT IN THE WATERS OF THE SUNDA STRAIT: PENERAPAN INTERPOLASI INVERSE DISTANCE WEIGHTED (IDW) DALAM MENENTUKAN TINGGI GELOMBANG LAUT DI PERAIRAN SELAT SUNDA

    Full text link
    The Sunda Strait is one of the busiest transportation routes in Indonesia, which has great potential in the fields of shipping, fisheries, and tourism. In addition to its potential, the Sunda Strait is also faced with challenges in the form of high wave risks that can jeopardize safety and disrupt the smooth running of maritime activities. The availability of wave data is an important aspect in maintaining safety and maritime activities. This research aims to visualize Inverse Distance Weighted (IDW) interpolation of wave height to provide more accurate and detailed information in the waters of the Sunda Strait for the benefit of the maritime sector. In this study, the IDW method was applied to wind data at three Automatic Weather Stations (AWS) points around the Sunda Strait region. Before the application of IDW, the Delaunay Triangulation method was used to ensure the optimization of sample points used to perform interpolation. The results showed that the significant wave height tended to be higher in the southwest monsoon than in the northeast monsoon. During the observation period 2022-2024, the maximum significant wave height was recorded at 2.06 meters, and the minimum one was close to zero. The application of the IDW method successfully visualizes the spatial distribution of wave height in detail, thereby supporting decision-making in risk mitigation and shipping safety in the Sunda Strait.Selat Sunda merupakan salah satu jalur transportasi paling sibuk di Indonesia, sehingga memiliki potensi besar dalam bidang pelayaran, perikanan, serta pariwisata. Selain potensi yang dimiliki, Selat Sunda juga dihadapkan pada tantangan berupa risiko gelombang tinggi yang dapat membahayakan keselamatan dan mengganggu kelancaran aktivitas maritim. Ketersediaan data gelombang menjadi aspek penting dalam menjaga keselamatan dan aktivitas maritim. Penelitian ini bertujuan untuk memvisualisasikan interpolasi Inverse Distance Weighted (IDW) tinggi gelombang guna menyediakan informasi yang lebih akurat dan detail di perairan Selat Sunda serta berguna bagi sektor kemaritiman. Pada penelitian ini diterapkan metode IDW pada data angin di tiga titik Automatic Weather Station (AWS) di sekitar wilayah Selat Sunda. Sebelum penerapan IDW, metode Delaunay Triangulation digunakan untuk memastikan optimalisasi titik-titik sampel dalam menentukan interpolasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi gelombang signifikan cenderung lebih tinggi pada musim barat daya dibandingkan musim tenggara. Selama periode pengamatan 2022-2024, tinggi gelombang signifikan maksimum tercatat sebesar 2,06 meter dan minimum mendekati nol. Penerapan metode IDW berhasil memvisualisasikan distribusi spasial tinggi gelombang secara rinci, sehingga dapat mendukung pengambilan keputusan dalam mitigasi risiko dan keselamatan pelayaran di Selat Sunda

    CORAL REEF HEALTH ASSESSMENT ON THE EAST COAST OF KEI BESAR ISLAND, SOUTHEAST MALUKU: PENILAIAN KESEHATAN TERUMBU KARANG DI PESISIR TIMUR PULAU KEI BESAR, MALUKU TENGGARA

    Full text link
    Pulau Kei Besar di Maluku Tenggara memiliki potensi terumbu karang yang signifikan, menjadikannya daerah yang penting secara ekologis dan memiliki peluang pengembangan yang besar. Seperti terumbu karang pesisir lainnya, terumbu karang di sekitar Pulau Kei Besar sangat rentan terhadap bahaya signifikan yang ditimbulkan oleh aktivitas manusia dan tekanan lingkungan. Salah satu langkah awal yang perlu dilakukan adalah dengan mengetahui kondisi ekosistem dengan melakukan analisis kesehatan terumbu karang. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis indeks kesehatan terumbu di perairan pesisir timur Pulau Kei Besar. Penelitian lapang dilaksanakan pada 3-18 November 2018 di enam lokasi di wilayah pesisir timur Pulau Kei Besar. Lokasi-lokasi ini dipilih karena merupakan area padat penduduk di pesisir timur. Hasilnya menunjukkan bahwa ekosistem terumbu karang di pesisir timur Kei Besar tergolong pada kategori sedang hingga tinggi. Tutupan karang keras (hard coral) berkisar antara 27% (terendah di Hollat) hingga 78.67% (tertinggi di Fako). Biomassa ikan target bervariasi dari 32.92 kg/ha (terendah di Kilwait) hingga 311.41 kg/ha (tertinggi di Weduar). Indeks kesehatan terumbu karang di pantai timur Pulau Kei Besar secara umum memiliki skor 6 dari total 10 dan hanya Hollat yang memiliki skor 5.Kei Besar Island in Southeast Maluku has significant ecological coral reef potential, making it a regionally important area with great development opportunities. Like other coastal coral ecosystems, the reefs around Kei Besar Island are highly vulnerable to substantial threats from human activities and environmental pressures. A crucial initial step is to understand the ecosystem\u27s condition through a coral reef health analysis. The purpose of this study was to analyze the reef health index in the coastal waters east of Kei Besar Island. Field data were collected from November 3-18, 2018, across six locations on the east coast of Kei Besar Island. These specific locations were chosen due to their dense populations along the eastern coast. The findings showed that coral reef ecosystems in eastern Kei Besar generally fall into the moderate to high health categories. Hard coral cover ranged from a low of 27% in Hollat to a high of 78.67% in Fako. Target fish biomass varied from 32.92 kg/ha in Kilwait (the lowest) to 311.41 kg/ha in Weduar (the highest). The coral reef health index on the east coast of Kei Beasr Island generally has a score of 6 out of a total of 10, and only Hollat has a score of 5

    CONDITION FACTOR AND SIZE VARIATION OF CATFISH FRY REARING IN A SUPER-INTENSIVE UFBs-RAS SYSTEM: KONDISI FAKTOR DAN KERAGAMAN UKURAN BENIH IKAN LELE PADA PEMELIHARAAN SUPER INTENSIF DALAM SISTEM UFBs-RAS

    Full text link
    Catfish (Clarias gariepinus) is one of the leading aquaculture commodities in Indonesia, with a production volume reaching 1.01 million tons, accounting for approximately 15% of the national aquaculture output in 2020. The availability of high-quality fry is crucial for the sustainability of catfish farming. This study aims to evaluate the effect of high stocking densities on survival rate, condition factor, and size variation of catfish fry reared in UFBs-RAS. This research was conducted at PUI-PT Nano Powder Functional Universitas Padjadjaran (Jatinangor) from October to November 2023. The study tested catfish fry with lengths of 3–4 cm and weights of 1.2–1.4 g with four densities (10 fish/L, 15 fish/L, 20 fish/L, 25 fish/L). The results indicated that stocking density did not significantly affect the survival rate (P>0.05), but it did have a significant effect on length and weight variation (P<0.05). The condition factor did not show significant differences (P>0.05) between stocking density treatments. Overall, a density of 25 fish/L yielded the best performance within the UFBs-RAS. Therefore, this density is recommended as the optimal stocking rate for catfish fry rearing in this system. These findings suggest that the application of the UFBs-RAS system provides a strategic solution for the aquaculture industry to enhance the efficiency of catfish fry rearing at high stocking densities while maintaining optimal water quality and growth performance, thereby supporting productivity and sustainability in intensive aquaculture systems.Ikan lele (Clarias gariepinus) merupakan salah satu komoditas unggulan dalam sektor akuakultur di Indonesia, dengan produksi mencapai 1,01 juta ton atau sekitar 15% dari total produksi akuakultur nasional pada tahun 2020. Ketersediaan benih berkualitas menjadi faktor kunci dalam menjaga kesinambungan budidaya lele. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh padat tebar tinggi terhadap tingkat kelangsungan hidup, faktor kondisi dan keragaman ukuran benih ikan lele dalam sistem UFBs-RAS. Penelitian ini dilakukan di PUI-PT Nano Powder Fungsional Unviersitas Padjadjaran (Jatinangor), selama Oktober–November 2023. Benih ikan lele yang diuji memiliki ukuran panjang 3–4 cm dan berat 1,2–1,4 g dengan empat tingkat kepadatan (10 ekor/L, 15 ekor/L, 20 ekor/L, 25 ekor/L). Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa antar perlakuan padat tebar pada sistem UFBs-RAS tidak terdapat perbedaan nyata (P>0,05) terhadap tingkat kelangsungan hidup, hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perbedaan padat tebar berbeda nyata (P<0,05) terhadap keragaman ukuran panjang dan bobot, sedangkan pengaruh padat tebar tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap faktor kondisi. Secara keseluruhan, kepadatan 25 ekor/L memberikan hasil terbaik dalam sistem UFBs-RAS. Maka dari itu, padat tebar ini direkomendasikan sebagai kepadatan optimal dalam fase pemeliharan benih ikan lele pada sistem UFBs-RAS. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan UFBs-RAS dapat menjadi solusi strategis bagi industri akuakultur untuk meningkatkan efisiensi budidaya benih ikan lele pada padat tebar tinggi dengan tetap mempertahankan kualitas air dan performa pertumbuhan yang optimal, sehingga mendukung produktivitas dan keberlanjutan sistem budidaya intensif

    EVALUATION OF NUSANTARA 3 REMOTELY OPERATED VEHICLE (N3-ROV) SPECIAL REPORT OF PERFORMANCE AND STABILITY IN VARIOUS WATER CONDITIONS: EVALUASI KINERJA DAN STABILITAS NAVIGASI NUSANTARA 3 REMOTELY OPERATED VEHICLE (N3-ROV) DALAM LINGKUNGAN PERAIRAN BERBEDA

    Full text link
    Sumber daya laut yang luas memerlukan observasi dan eksplorasi bawah air, tetapi metode konvensional penyelaman memiliki banyak risiko. Oleh karena itu, pengembangan teknologi bawah air seperti Remotely Operated Underwater Vehicle (ROV) sangat penting untuk mengurangi risiko. Namun, lingkungan bawah air yang tidak terduga memerlukan pengujian kinerja ROV sebelum digunakan secara optimal. Oleh karena itu, dilakukan penelitian ini untuk menguji kinerja N3-ROV, mengetahui spesifikasi khususnya, serta merancang sistem kendali dan akuisisi video agar dapat menjadi alternatif untuk observasi dan eksplorasi bawah air. N3-ROV memiliki dimensi 61x65x34 cm, berat total 13 kg dengan daya apung sebesar 128,4 kg.m/s2 dengan kendali di permukaan menggunakan gamepad yang terhubung ke laptop. Uji kinerja dilakukan pada dua lingkungan yang berbeda, lingkungan kolam dan lingkungan lapang. N3-ROV memiliki pergerakan lurus pada lingkungan kolam dengan error sebesar 0° dan pada lingkungan lapang sebesar 1,7° dengan kecepatan berturut-turut 76,6 cm/s dan 77,2 cm/s. Gerak turun pada kedua lingkungan berbeda dimana pada lingkungan kolam gerak turun memiliki delay dan error berturut-turut sebesar 9,7 detik dan 94,1° dibandingkan dengan lingkungan lapang 3,9 detik dan 48,8°. Delay dan error pada gerak berbelok di lingkungan kolam lebih tinggi dibandingkan lingkungan laut. Gerak gliding pada lingkungan kolam memiliki kecepatan surfacing yang lebih lambat dibandingkan dengan lingkungan lapang.Vast marine resources require underwater observation and exploration, but conventional diving methods have many risks. Therefore, developing underwater technology such as Remotely Operated Underwater Vehicles (ROV) is essential to reduce the risk. However, the unpredictable underwater environment requires ROV performance testing before optimal use. Therefore, this study was conducted to test the performance of the N3-ROV, determine its specific specifications, and design a control system and video acquisition so that it can be an alternative for underwater observation and exploration. The N3-ROV has dimensions of 61x65x34 cm, a total weight of 13 kg, with a buoyancy of 128.4 kg.m/s², with surface control using a gamepad connected to a laptop. Performance tests were carried out in two different environments, a pool environment and a field environment. The N3-ROV has a straight movement in the pool environment with an error of 0° and in the field environment of 1.7° with speeds of 76.6 cm/s and 77.2 cm/s, respectively. The descent motion in both environments is different, where in the pool environment, the descent motion has a delay and error of 9.7 seconds and 94.1°, respectively, compared to the field environment of 3.9 seconds and 48.8°. The delay and error in the turning motion in the pool environment are higher than in the sea environment. The gliding motion in the pool environment has a slower surfacing speed compared to the field environment

    SUITABILITY AND CARRYING CAPACITY OF MANGROVE ECOTOURISM IN KAMPUNG NIPAH, SEI NAGALAWAN VILLAGE, NORTH SUMATRA: KESESUAIAN DAN DAYA DUKUNG EKOWISATA MANGROVE DI KAMPUNG NIPAH, DESA SEI NAGALAWAN, SUMATRA UTARA

    Full text link
    Ekosistem mangrove merupakan ekosistem yang rentan terhadap kerusakan, sehingga upaya konservasi sangat diperlukan. Pengembangan ekowisata mangrove menjadi salah satu upaya pemanfaatan jasa ekosistem secara berkelanjutan tanpa merusaknya. Ekowisata di ekosistem mangrove dianggap dapat berintegrasi dengan upaya konservasi, sehingga mendukung perlindungan ekosistem. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kesesuaian dan daya dukung ekowisata mangrove di Kampung Nipah, Desa Sei Nagalawan, Sumatra Utara. Penelitian dilakukan pada Juli 2023 di kawasan ekowisata mangrove Kampung Nipah. Lokasi penelitian dipilih menggunakan metode purposive sampling, yang terdiri atas tiga stasiun. Data ekologi dikumpulkan melalui metode transek mangrove untuk memperoleh data primer. Metode deskriptif digunakan untuk menganalisis indeks kesesuaian wisata (IKW) dan daya dukung kawasan (DDK). Hasil perhitungan menunjukkan bahwa kawasan ekowisata mangrove Kampung Nipah untuk 3 stasiun adalah 1,97; 1,87; dan 1,87; serta DDK sebesar 200 orang per hari. Artinya, secara keseluruhan ekowisata mangrove Kampung Nipah, Desa Sei Nagalawan termasuk ke dalam kategori tidak sesuai. Beberapa rekomendasi yang dapat diterapkan meliputi memperluas area hutan mangrove sehingga ketebalan ekosistem meningkat dan mempertahankan jumlah kunjungan wisatawan dengan sistem kuota untuk mendukung kelestarian kawasan.Mangrove ecosystems are highly vulnerable to damage, making their conservation crucial. The development of mangrove ecotourism serves as an approach to utilizing ecosystem services sustainably without causing harm. Ecotourism in mangrove ecosystems is beneficial as it synergizes with conservation efforts to protect the ecosystems. This study aims to assess the suitability and carrying capacity of mangrove ecotourism in Kampung Nipah, Sei Nagalawan Village of North Sumatra. The research was conducted in July 2023 within the mangrove ecotourism area of Kampung Nipah. The research location was selected using the purposive sampling method, consisting of three stations.  Primary ecological data were collected through the transect method. The descriptive method was applied to analyze the tourism suitability index (TSI) and the spatial carrying capacity (SCC). The results indicate that the TSI values for the three substations were 1.97, 1.87, and 1.87 out of 3, while the SCC (carrying capacity) was 200 people per day. Based on these findings, the mangrove ecotourism area in Kampung Nipah, Sei Nagalawan Village, is conditionally suitable for tourism. The following recommendations can be implemented to expand the mangrove area to increase ecosystem thickness and maintain a visitor quota system to regulate tourist numbers and ensure sustainability

    ADDITION OF PHYTASE IN ARTIFICIAL FEED GIVEN TO GIANT GOURAMI FISH FRY (Osphronemus goramy): PENAMBAHAN FITASE DALAM PAKAN BUATAN YANG DIBERIKAN PADA BENIH IKAN GURAMI (Osphronemus goramy)

    Full text link
    Pakan yang efisien sangat penting untuk memahami kualitas dan kuantitas pakan sehubungan dengan pertumbuhan ikan jika ikan mengonsumsi pakan dengan keperluan nutrisi yang pas pada kebutuhan tubuh ikan. Jumlah nutrisi yang digunakan oleh tubuh ikan akan minimal. Salah satu masalah umum dalam proses pembuatan pakan buatan adalah penggunaan protein nabati dalam pakan suboptimal karena adanya faktor anti-nutrisi yang disebut asam fitat, yang dapat mengurangi jumlah nutrisi seperti protein dan mineral, dan akan memengaruhi pertumbuhan organisme. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi dan efisiensi pakan pada benih ikan gurami dengan memasukkan enzim fitase ke dalam pakan buatan. Data yang dikumpulkan ditampilkan dalam bentuk tabel dan diagram batang, dan dianalisis memanfaatkan metode deskriptif. Temuan penelitian menyatakan bahwa penambahan 3 mg/kg fitase ke dalam pakan menghasilkan hasil yang lebih baik daripada dengan kontrol dan dosis fitase lainnya (1 g/kg pakan dan 2 g/kg pakan) dalam hal konversi pakan (1,02), efisiensi penggunaan pakan (97,77%), peningkatan panjang total (7,22 cm), dan peningkatan berat mutlak benih ikan gurami (197,44 g). Selama penelitian, kualitas air diukur pada suhu 27-28°C, pH 6-7,3, tingkat oksigen 4,8-6,3 mg/L, dan tingkat amonia 0,02-0,08 mg/L.Efficient feed is very important to understand the quality and quantity of feed concerning fish growth, if the fish consumes feed with the proper nutritional requirements for the fish\u27s body needs. The amount of nutrients used by the fish\u27s body will be minimal. One of the common problems in the process of making artificial feed is the use of vegetable protein in suboptimal feed due to the presence of anti-nutritional factors called phytic acid, which can reduce the amount of nutrients such as protein and minerals, and will affect the growth of the organism. This study aims to analyze the transformation and efficiency of feed in giant gourami fish fry by adding phytase enzymes to artificial feed. The data collected were displayed in tables and bar charts and analyzed using descriptive methods. The findings of the study stated that the addition of 3 mg/kg phytase to the feed produced better results than the control and other phytase doses (1 g/kg feed and 2 g/kg feed) in terms of feed conversion (1.02), feed utilization efficiency (97.77%), increased in total length (7.22 cm), and increased in absolute weight of giant gourami fish fry (197.44 g). During the study, water quality was measured at a temperature of 27-28°C, pH 6-7.3, oxygen levels of 4.8-6.3 mg/L, and ammonia levels of 0.02-0.08 mg/L

    329

    full texts

    337

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇