Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
    337 research outputs found

    PRODUCTION PERFORMANCE OF SPINY LOBSTER (Panulirus homarus) NURSERY IN SUBMERGED NET CAGES WITH DIFFERENT DEPTHS: KINERJA PRODUKSI PENDEDERAN LOBSTER PASIR (Panulirus homarus) PADA KARAMBA JARING TENGGELAM DENGAN KEDALAMAN BERBEDA

    Full text link
    Tantangan utama dalam pemeliharaan lobster pasir (Panulirus homarus) adalah rendahnya laju pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup, yang secara langsung menghambat optimalisasi kinerja produksi. Benih lobster dapat dipelihara di karamba jaring tenggelam untuk meningkatkan kinerja produksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kedalaman terhadap kinerja produksi pendederan lobster pasir di karamba jaring tenggelam. Penelitian dilakukan di Sea Farming Center, Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Kelautan (PKSPL) IPB, di perairan Karang Lebar, Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga kali ulangan dan perlakuan penempatan karamba pada kedalaman 4 dan 6 m. Benih lobster pasir alami dengan berat 1,0 ± 0,04 g dibudidayakan dengan kepadatan 50 ekor per karamba. Sebanyak 10% biomassa diberikan kepada lobster dua kali sehari berupa 70% kerang hijau dan 30% ikan rucah. Hasil penelitian menunjukkan hasil kinerja produksi berupa tingkat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan mutlak, laju pertumbuhan spesifik, rasio konversi pakan, dan produktivitas pendederan lobster yang lebih baik pada kedalaman 6 m.The primary challenge in rearing spiny lobsters (Panulirus homarus) is the low growth and survival rates, which directly hinder the optimization of production performance. Lobster seeds can be reared in submerged net cages to improve production performance. This study aims to analyze the effect of depth on the production performance of lobster nurseries in submerged net cages. The study was conducted at the Sea Farming Center, Center for Coastal and Marine Resources Studies (PKSPL), IPB University, in the waters of Karang Lebar, Semak Daun Island, Seribu Islands, Jakarta. This study used a completely randomized design with three replications and cage placement treatments at depths of 4 and 6 m. Natural spiny lobster seeds weighing 1.0 ± 0.04 g were cultivated at a density of 50 individuals per cage. A total of 10% of biomass was given to lobsters twice a day in the form of 70% green mussels and 30% trash fish. The study\u27s results showed improved production performance, as indicated by a higher survival rate, absolute growth rate, specific growth rate, feed conversion ratio, and lobster nursery productivity, at a depth of 6 m

    KARAKTER BIOMETRIK DAN FISIOLOGIS BENIH IKAN SIDAT (Anguilla sp.) DI MUARA SELATAN SUKABUMI, JAWA BARAT: KARAKTER BIOMETRIK DAN FISIOLOGIS BENIH IKAN SIDAT (Anguilla sp.) DI MUARA SELATAN SUKABUMI, JAWA BARAT

    Full text link
    Teluk Palabuhan Ratu merupakan tempat bertemunya beberapa muara sungai, antara lain Sungai Cimandiri, Sungai Ciletuh, Sungai Cikaso, dan Sungai Cibuni, yang merupakan jalur masuknya glass eel atau benih ikan sidat (Anguilla spp.) dari perairan laut ke muara-muara tersebut. Sungai yang berbeda memiliki kondisi kualitas air yang berbeda. Kondisi kualitas air yang berbeda ini akan menyebabkan adanya perbedaan kualitas dan kuantitas benih ikan sidat yang masuk ke muara tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan lokasi yang memiliki benih unggul dan benih yang mutunya rendah berdasarkan karakteristik biometrik dan tingkat stres benih sidat di beberapa muara di selatan Sukabumi, Jawa Barat. Informasi yang diperoleh akan dijadikan dasar dalam menetapkan lokasi yang memiliki potensi benih sidat unggul dan menetapkan lokasi yang perlu dikonservasi dan rehabilitasi. Penelitian dilakukan di empat lokasi yaitu Muara Sungai Cimandiri, Ciletuh, Cibuni, dan Cikaso, dari bulan Desember 2021-Januari 2022 waktu tersebut merupakan waktu puncak ruaya benih sidat. Parameter yang diamati meliputi fisika dan kimia air, biometrik, dan glukosa darah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap lokasi memiliki nilai parameter fisika dan kimia air yang berbeda-beda, akan tetapi memiliki tingkat stres yang relatif sama. Nilai biometrik benih ikan sidat terbaik terdapat pada benih sidat yang berasal dari Muara Sungai Cimandiri, sedangkan benih yang mutunya rendah adalah benih yang ditangkap di Muara Sungai Cibuni. Oleh sebab itu, sidat yang cocok untuk kegiatan budidaya berasal dari Muara Sungai Cimandiri, sedangkan lokasi sidat yang perlu di konservasi adalan Muara Sungai Cibuni.Palabuhanratu Bay is the terminating flow for some rivers, i.e. the Cimandiri River, Ciletuh River, Cikaso River, and Cibuni River, where the estuary is the entry route for glass eels (Anguilla spp.) or fish seeds from sea waters to these estuaries. Different rivers have different water quality conditions that may imply differences in the quality and quantity of eels entering the estuary. This research aims to determine locations with superior seeds, and seeds with low quality based on studying biometric characteristics and stress levels of eel seeds in several estuaries in the south of Sukabumi, West Java. The information gathered is subject to determining the highly recommended use of glass eels as seeds in eel aquaculture, as well as determining the area where habitat rehabilitation and conservation. The research was carried out in four locations, namely the Cimandiri, Ciletuh, Cibuni, and Cikaso River Estuaries, from December 2021 to January 2022, the peak time for eel seed migration. The parameters observed include water physics and chemistry, biometrics, and blood glucose. The research results show that each location has different physical and chemical water parameter values but has relatively the same stress level. The best biometric value of eel fish seeds was found in eel seeds originating from the Cimandiri River, while the lowest one was at the mouth of the Cibuni River. Therefore, eels that are suitable for cultivation activities come from the Cimandiri River Estuary, while the eel location that needs conservation is the Cibuni River Estuary

    PENENTUAN GROSS TONAGE KAPAL PURSE SEINE DENGAN PENDEKATAN PEMODELAN FISIK DI TEGAL, JAWA TENGAH: PENENTUAN GROSS TONNAGE KAPAL PURSE SEINE DENGAN PENDEKATAN PEMODELAN FISIK DI TEGAL, JAWA TENGAH

    Full text link
    Penelitian dilaksanakan di perusahaan dock dan perkapalan PT. Perikanan Indonesia, PT. Tiara, dan koperasi unit desa (KUD) Karya Mina di kota Tegal Jawa Tengah. Waktu pelaksanaan pada bulan Oktober 2023. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan persentase perubahan bentuk badan kapal di bawah dek, nilai Cb (coefficient block) dan GT (gross tonnage) kapal purse seine di wilayah Tegal dengan pendekatan model yang dicelupkan dalam air. Penelitian Cb dan GT difokuskan pada KM. Himalaya SB dengan akurasi 84,44%. Hasil penelitian di ketiga perusahaan dock dan perkapalan tersebut diperoleh bahwa perubahan bentuk badan kapal di bawah dek rata-rata bagian I, II, III, IV, and V adalah masing-masing 14%, 20%, 30%, 11%, dan 25%, sedangkan pada contoh kasus KM. Himalaya SB bagian I, II, III, IV, and V adalah masing-masing 15%, 18% , 29%, 9%, dan 29%. Bentuk didominasi oleh bentuk III dan V, yang memberikan peningkatan nilai Cb dan GT adalah bentuk III dengan bentuk U. Hasil rata-rata persentase perubahan bentuk dari 6 buah kapal termasuk di dalamnya kapal purse seine contoh kasus mempunyai pola yang cenderung sama. Nilai Cb hasil percobaan diperoleh 0,82 > 0,70 dari koefisien faktor “f” sesuai Permenhub Nomor 8 Tahun 2013. Berdasarkan perhitungan GT, didapat peningkatan nilai sebesar 17% jika dibandingkan dengan permen tersebut.The research was carried out at the dock and shipping companies, PT. Indonesian Fisheries, PT. Tiara, and village cooperative unit (KUD) Karya Mina, at Tegal, Central Java, in October 2023. The research aims to determine the percentage change in shape of the ship’s hull below deck, Cb (coefficient block) and GT (gross tonnage) values of purse seiners in the Tegal using a physical model that is dipped in water. The Cb and GT values research was focused on KM. Himalaya SB with 84.44% accuracy. The results at the three dock and shipping companies showed that the change in the shape of the ship’s hull below deck, on average, in part I, II, III, IV, and V were 14%, 20%, 30%, 11%, and 25%, respectively, and in the case of KM. Himalaya SB part I, II, III, IV, and V were 15%, 18%, 29%, 9%, and 29%, respectively. The shape was dominated by shapes III and V. The ones that increase Cb and GT values were shape III with a U shape. The results of the average percentage change in shape for 6 ships, including the case example purse seiner, have a pattern that tends to be the same. The Cb value obtained from the experimental results was 0.82 > 0.70 from the "f" factor coefficient according to Minister of Transportation Regulation Number 8 of 2013. Based on the GT calculation, it was obtained that the value increased by 17% when compared to the regulation

    CHARACTERISTICS OF SHRIMP PASTE WITH RED YEAST RICE AS A NATURAL COLORANT: KARAKTERISTIK TERASI UDANG DENGAN ANGKAK SEBAGAI PEWARNA ALAMI

    Full text link
    Penggunaan pewarna sintetis dalam pangan menimbulkan berbagai kekhawatiran kesehatan, sehingga penggunaan pewarna alami sebagai pengganti pewarna sintetis merupakan solusi yang lebih aman dan bermanfaat. Salah satu pewarna alami yang potensial adalah angkak yang dihasilkan oleh kapang Monascus sp. Pewarna ini tidak hanya aman, tetapi juga meningkatkan kualitas produk pangan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi optimal angkak sebagai pewarna dalam pembuatan terasi. Konsentrasi angkak yang diuji meliputi 0,5%, 1%, 1,5% dan 2%. Terasi dibuat dari bahan baku rebon dan kepala udang segar dengan rasio 1:1 yang kemudian difermentasi selama 20 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan angkak secara signifikan memengaruhi karakteristik terasi, terutama dalam meningkatkan warna tanpa mengubah rasa, aroma, dan tekstur. Uji hedonik mengidentifikasi bahwa penambahan 2% angkak menghasilkan produk terbaik menurut panelis. Produk terasi dengan 2% angkak memenuhi syarat SNI 2716:2016 dan paling disukai dengan nilai rata-rata kesukaan 3,27 untuk terasi dengan serbuk angkak, serta 3,67 untuk terasi dengan ekstrak angkak.The use of synthetic dyes in food raises various health concerns, so the use of natural dyes as a substitute for synthetic dyes is a safer and more beneficial solution. One potential natural dye is red yeast rice produced by the fungus Monascus sp. This dye is not only safe but also improves the quality of food products. The research aims to determine the optimal concentration of red yeast rice as a coloring agent in the production of shrimp paste. The concentrations of red yeast rice tested include 0.5%, 1%, 1.5%, and 2%. Shrimp paste is made from fresh Acetes sp. shrimp and other shrimp heads with a ratio of 1:1, and is fermented for 20 days. The results showed that the addition of red yeast rice significantly affected the characteristics of shrimp paste, especially in improving color without changing the taste, aroma, and texture. The hedonic test identified that the addition of 2% red yeast rice produced the best product according to the panelists. Shrimp paste products with 2% red yeast rice meet the requirements of SNI 2716:2016 and are most preferred, with an average preference value of 3.27 for shrimp paste with red yeast rice powder and 3.67 for shrimp paste with red yeast rice extract

    EFFECTIVENESS OF UNDERWATER DIP LAMPS (LACUDA) AND CONVENTIONAL LED LAMPS IN CENTRAL BANGKA WATERS: EFEKTIVITAS LAMPU CELUP BAWAH AIR (LACUDA) DAN LAMPU LED KONVENSIONAL DI PERAIRAN BANGKA TENGAH

    Full text link
    Perkembangan teknologi alat bantu penangkapan ikan pada bagan telah berlangsung cukup pesat, khususnya penggunaan lampu celup bawah air (LACUDA) dan lampu LED konvensional. Variasi jenis, warna, dan metode pengoperasian lampu berpengaruh terhadap jumlah, komposisi, serta produktivitas hasil tangkapan. Penelitian ini bertujuan membandingkan kinerja penangkapan bagan tancap yang menggunakan lampu celup bawah air (LACUDA) berdaya 750 watt berwarna hijau dengan lampu LED konvensional berdaya 600 watt berwarna putih. Penelitian lapangan dilaksanakan pada Oktober–November 2024 melalui enam trip penangkapan dengan total 18 kali pengangkatan. Data yang dikumpulkan meliputi produktivitas dan komposisi hasil tangkapan yang dianalisis secara deskriptif serta menggunakan uji Mann–Whitney U. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas hasil tangkapan dengan lampu LACUDA sebesar 10,07, lebih tinggi dibandingkan lampu LED konvensional sebesar 8,34. Total hasil tangkapan menggunakan LACUDA mencapai 181,3 kg, sedangkan LED konvensional 150,1 kg. Komposisi hasil tangkapan LACUDA juga lebih beragam, terdiri atas lima spesies, yaitu ikan tamban (Amblygaster leiogaster), cumi bangka (Uroteuthis chinensis), lempis (Scomberoides lysan), ciu (Selaroides leptolepis), dan teri (Stolephorus indicus), sedangkan LED konvensional hanya terdiri atas empat spesies, tanpa teri. Temuan ini menunjukkan bahwa lampu celup bawah air (LACUDA) meningkatkan produktivitas tangkapan dan keragaman spesies dibandingkan dengan lampu LED konvensional dalam operasi bagan tancap.The development of auxiliary fishing device technology for lift nets has progressed rapidly, particularly in the use of underwater dip lamps (LACUDA) and conventional LED lights. Variations in light type, color, and lamp operating methods influence catch quantity, composition, and productivity. This study aims to compare the fishing performance of fixed lift nets using 750-watt green underwater dip lamps (LACUDA) and 600-watt white conventional LED lights. Field research was conducted in October–November 2024 across six fishing trips with 18 hauls. Data collected consisting of catch productivity and composition were analyzed using descriptive statistics and the Mann–Whitney U-test. Results showed that the productivity of fixed lift nets using underwater dip lamps (LACUDA) reached 10.07, higher than 8.34 from conventional LED lights. The total catch weight of LACUDA was 181.3 kg, compared to 150.1 kg for conventional LEDs. Moreover, catch composition under LACUDA lighting was more diverse, comprising five species—smoothbelly sardinella (Amblygaster leiogaster), Bangka squid (Uroteuthis chinensis), doublespotted queenfish (Scomberoides lysan), yellowstripe scad (Selaroides leptolepis), and anchovy (Stolephorus indicus). In contrast, conventional LED catches included only four species, lacking anchovy. These findings demonstrate that underwater dip lamps (LACUDA) enhance both catch productivity and species diversity compared to conventional LED lights in fixed lift net operations

    DECLINE IN FRESHNESS OF SKIPJACK TUNA ALONG THE DISTRIBUTION CHAIN FROM LANDING SITES TO LOCAL CONSUMERS IN TERNATE: PENURUNAN KESEGARAN IKAN CAKALANG SELAMA DISTRIBUSI DARI TEMPAT PENDARATAN IKAN KE KONSUMEN LOKAL DI TERNATE

    Full text link
    Proper handling of fish is a key factor influencing the success of fresh fish distribution and trade. However, in practice, handling procedures are often inadequately implemented by fishermen, resulting in reduced fish quality and price. To address this issue, a study was conducted at the Dufa-dufa Fish Landing, Ternate City (North Maluku) to assess the distribution and quality of fresh skipjack tuna (Katsuwonus pelamis). The distribution of fresh skipjack tuna is extensive, reaching all regions of the city through various fish distribution nodes. While fishermen have endeavored to maintain the freshness, quality degradation was observed along the distribution chain. Sensory tests were conducted at each stage of the distribution process, from landing to the final consumers, assessing organoleptic attributes such as eyes, gills, and body texture. The results showed that the values differ at each node and tended to decline. The Kruskal-Wallis analysis indicated a significant difference in organoleptic values between the eyes, gills, and body texture of skipjack tuna at each distribution node (P < 0.05). These findings suggested that the freshness of skipjack tuna may decline during the distribution process.Penanganan ikan yang efektif merupakan faktor krusial dalam keberhasilan distribusi dan perdagangan ikan segar. Akan tetapi, dalam praktiknya, nelayan sering mengabaikan prosedur penanganan ikan, yang berakibat pada penurunan kualitas produk dan penurunan harga. Sebuah penelitian dilakukan di Pendaratan Ikan Dufa-dufa, Kota Ternate (Maluku Utara) untuk mengatasi kesenjangan pengetahuan ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai distribusi dan kualitas ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) segar. Distribusi ikan cakalang sangat luas, menjangkau semua wilayah kota melalui berbagai simpul distribusi ikan. Nelayan telah melakukan upaya mempertahankan kesegaran ikan cakalang pada setiap simpul jalur distribusinya. Uji sensoris dilakukan pada setiap rute distribusi ikan cakalang, dari pendaratan hingga konsumen akhir, dan nilai organoleptik ikan, termasuk mata, insang, dan tekstur tubuh, ditemukan berbeda pada setiap simpul dan cenderung menurun. Analisis Kruskal-Wallis menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik dalam nilai organoleptik antara mata, insang, dan tekstur tubuh ikan cakalang di setiap simpul distribusi (P < 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa kesegaran ikan cakalang menurun selama proses distribusi

    IDENTIFICATION AND PREVALENCE OF ECTOPARASITES IN BLUE SWIMMING CRAB (Portunus pelagicus Linnaeus, 1758) ON THE NORTH COAST OF JAVA: IDENTIFIKASI DAN PREVALENSI EKTOPARASIT PADA RAJUNGAN (Portunus pelagicus Linnaeus, 1758) DI PANTAI UTARA PULAU JAWA

    No full text
    Besides overfishing, other factors that influence the decline in blue swimming crab (Portunus pelagicus) production are diseases caused by parasites. Poor environmental conditions could trigger parasite infestation on their host. This study aims to identify ectoparasites morphologically based on the research location and to analyze the prevalence of ectoparasites of the blue swimming crabs. Crab samples and data collection of aquatic environmental parameters were carried out at five locations in the northern part of Java Island, Indonesia: Pasuruan, Lamongan, Semarang, Cirebon, and Banten. The study was conducted from December 2021 to July 2023. Morphological identification of ectoparasites was carried out at the Biology Micro Laboratory I, Department of Aquatic Resources Management, IPB University. Interviews with fishermen were also conducted to ensure the crab catchment area around the research location. The number of blue swimming crabs obtained at each location varied, ranging from 25 to 35 individuals, consisting of large, medium, and small crabs. Based on the results of morphological identification, there were a total of five types of parasites found in all research locations, namely Allokepon sp., Chelonibia testudinaria, Octolasmis angulata, Octolasmis warwickii, and Octolasmis sp. The prevalence rate of crabs in each location was significantly different in five locations, namely Pasuruan, Lamongan, Semarang, Cirebon, and Banten, which were 80%, 74%, 80%, 12%, and 70%, respectively. The highest prevalence was in Pasuruan and Semarang. Factors affecting the prevalence rate of ectoparasites in blue swimming crabs included environmental quality such as temperature, salinity, pH, and dissolved oxygen (DO).Beberapa faktor yang memengaruhi penurunan produksi rajungan (Portunus pelagicus) selain overfishing yaitu penyakit yang disebabkan parasit. Kondisi lingkungan yang buruk dapat memicu infestasi parasit pada inangnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ektoparasit secara morfologis berdasarkan lokasi penelitian serta menganalisis prevalensi ektoparasit pada rajungan. Pengumpulan sampel rajungan dan pengambilan data parameter lingkungan perairan dilakukan pada lima lokasi yang berada di bagian utara Pulau Jawa, Indonesia, yaitu Pasuruan, Lamongan, Semarang, Cirebon, dan Banten. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2021 hingga Juli 2023. Identifikasi ektoparasit secara morfologis dilakukan di Laboratorium Biologi Mikro I, Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Institut Pertanian Bogor. Wawancara nelayan juga dilakukan untuk memastikan daerah tangkapan rajungan di sekitar lokasi penelitian. Jumlah rajungan yang didapatkan di setiap lokasi berbeda berkisar 25-35 individu terdiri atas rajungan berukuran besar, sedang, dan kecil. Berdasarkan hasil identifikasi morfologis terdapat total lima jenis parasit yang ditemukan di seluruh lokasi penelitian, yaitu Allokepon sp., Chelonibia testudinaria, Octolasmis angulata, Octolasmis warwickii, dan Octolasmis sp. Tingkat prevalensi kepiting di setiap lokasi berbeda secara signifikan pada lima lokasi yaitu Pasuruan, Lamongan, Semarang, Cirebon, dan Banten masing-masing adalah 80%; 74%; 80%; 12%; dan 70%. Prevalensi tertinggi pada lokasi penelitian Pasuruan dan Semarang. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat prevalensi ektoparasit pada rajungan salah satunya adalah kualitas air yang meliputi suhu, salinitas, pH, dan dissolved oxygen (DO)

    STRATEGY FOR DEVELOPING BLUE ECONOMIC POTENTIAL THROUGH SUSTAINABLE TOURISM IN THE COASTAL AREA OF SEMARANG CITY: STRATEGI PENGEMBANGAN POTENSI EKONOMI BIRU MELALUI PARIWISATA BERKELANJUTAN DI WILAYAH PESISIR KOTA SEMARANG

    Full text link
    Kota Semarang sebagai ibu kota Provinsi Jawa Tengah, memiliki potensi besar dalam pengembangan pariwisata bahari karena lokasi yang trategis dan adanya berbagai destinasi wisata. Namun, sektor ini menghadapi tantangan dalam fasilitas, promosi, dan manajemen pengelolaan. Penelitian yang dilakukan dari Maret hingga Juni 2024 ini, bertujuan untuk menganalisis potensi penerapan blue economy untuk mendukung pengembangan pariwisata bahari dan berkontribusi dalam merumuskan strategi berbasis blue economy untuk mendukung pengembangan pariwisata bahari berkelanjutan di Kota Semarang. Metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus menerapkan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan kajian literatur. Identifikasi dilakukan dengan analisis SWOT untuk mengidentifikasi kekuatan seperti lokasi strategis dan keragaman destinasi, serta kelemahan berupa keterbatasan fasilitas. Peluang mencakup pengembangan paket wisata dan event budaya, sementara ancaman meliputi degradasi lingkungan dan banjir rob. Implementasi blue economy dapat meningkatkan sektor ini melalui strategi promosi, pengembangan acara, dan peningkatan konservasi, yang didukung oleh manajemen fasilitas dan infrastruktur yang lebih baik.Semarang City, the capital city of Central Java Province, holds significant potential for marine tourism developments due to its strategic location and various tourist destinations. However, this sector faces challenges in facilities, promotion, and management. This study was conducted from March to June 2024, and aims to analyze the potential for implementing a blue economy to support the development of marine tourism and contribute to formulating a blue economy-based strategy to support the development of sustainable marine tourism in Semarang City. The qualitative descriptive method with a case study approach applied data collection through interviews, observations, and literature reviews. Identification was carried out using a SWOT analysis to identify strengths, such as strategic location and diversity of destinations, as well as weaknesses in the form of limited facilities. Opportunities included the development of tourism packages and cultural events, while threats included environmental degradation and tidal flooding. Implementing a blue economy strategy can enhance marine tourism by improving promotional strategies, developing cultural and tourism events, and boosting conservation efforts, supported by improved management of facilities and infrastructure

    ANALYSIS OF RESISTANCE AND STABILITY IN THE MODIFICATION OF OUTRIGGED FISHING BOAT DESIGN IN THE PUGER WATER, JEMBER: ANALISIS HAMBATAN DAN STABILITAS PADA MODIFIKASI DESAIN KAPAL IKAN BERCADIK DI PERAIRAN PUGER, JEMBER

    Full text link
    Kapal ikan merupakan salah satu alat transportasi yang penting untuk profesi nelayan. Kapal ikan di Perairan Puger dibuat oleh pengrajin kapal tradisional secara turun temurun. Desain linggi haluan kapal ikan tersebut belum diketahui efektivitasnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh bentuk linggi haluan terhadap nilai hambatan dan stabilitas kapal. Penelitian ini menggunakan kapal ikan bercadik dengan panjang (LOA) 11 m, lebar (B) 1,5 m, tinggi (H) 1,5 m, dan sarat (T) 0,5 m. Penelitian dilakukan dengan membandingkan desain awal kapal ikan dan desain modifikasi haluannya. Perbandingan menggunakan nilai hambatan dan stabilitas sebagai acuan. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa desain modifikasi mempunyai hambatan lebih kecil sebesar 16,327%. Pada aspek stabilitas, desain modifikasi mempunyai nilai GZ lebih besar yaitu 12,7% dan sudut oleng lebih kecil 2,1% dari desain awal. Desain modifikasi mempunyai periode oleng 5,8% lebih cepat daripada desain awal. Desain modifikasi mempunyai nilai hambatan dan stabilitas yang lebih baik daripada desain awal.Fishing boats are one of the essential means of transportation for fishers. In Puger, fishing boats are crafted by traditional boat builders who have passed down their skills through generations. However, the effectiveness of the bow stem design of these fishing boats remains unknown. This research aims to analyze the impact of the bow stem shape on the resistance and stability values of the boat. This research utilized an outrigger fishing boat design with the following dimensions: a length overall (LOA) of 11 m, a beam (B) of 1.5 m, a height (H) of 1.5 m, and a draft (T) of 0.5 m. We compared the boat\u27s original design and its modified bow design. The results of this study indicate that the modified design has a 16.327% lower resistance. Regarding stability, the modified design shows a 12.7% greater GZ (upholding arm value) and a 2.1% smaller heel compared to the initial design. Additionally, the modified design has a rolling period that is 5.8% faster than the original design. The modified design has better resistance and stability than the initial design

    DEVELOPMENT STRATEGY OF SEAWEED (Kappaphycus alvarezii) CULTIVATION BUSINESS IN THE WATERS OF PANTAI AMAL OF TARAKAN CITY: STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA BUDIDAYA RUMPUT LAUT (Kappaphycus alvarezii) DI PERAIRAN PANTAI AMAL KOTA TARAKAN

    Full text link
    Rumput laut Kappaphycus alvarezii merupakan salah satu komoditas perikanan yang dikembangkan di Kota Tarakan khususnya di Perairan Pantai Amal Kota Tarakan sejak tahun 2009 dengan produksi yang fluktuatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kelayakan finansial budidaya rumput laut berdasarkan faktor internal dan eksternal serta menyusun strategi yang tepat untuk peningkatan produksi rumput laut di Kota Tarakan. Teknik pengambilan sampel secara purposive sampling dengan pendekatan kualitatif menggunakan alat bantu kuesioner. Hasil analisis SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, and threats) dan QSP (quantitative strategic planning) menunjukkan bahwa terdapat lima kekuatan dan lima kelemahan internal dengan nilai IFE (internal factor evaluation) 2,57, serta empat ancaman dan lima peluang eksternal dengan nilai EFE (external factor evaluation) 2,86. Berdasarkan matriks IE (internal-eksternal) usaha berada dalam fase pertumbuhan (sel V), sehingga strategi yang tepat untuk mengembangkan usaha budidaya rumput laut K. alvarezii menggunakan metode longline di Kota Tarakan melalui pemberdayaan anggota dan kelompok guna peningkatkan usaha (dengan skor 5,83), memperluas lahan budidaya (skor 5,65), dan peningkatan keterampilan teknis budidaya untuk peningkatan kualitas dan kuantitas produk (skor 5,52).Kappaphycus alvarezii seaweed is one of the fishery commodities developed in Tarakan City, especially in the water of Pantai Amal, Tarakan City, since 2009, with fluctuating production. This research aims to analyze the financial feasibility of the seaweed cultivation based on internal and external factors and to develop appropriate strategies to increase seaweed production in the Tarakan City. Sampling technique was conducted purposively with a qualitative approach using a questionnaire. The SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, and threats) and QSP (quantitative strategic planning) analysis results show five internal strengths and five weaknesses with an IFE (internal factor evaluation) value of 2.57, as well as four threats and five external opportunities with an EFE (external factor evaluation) value of 2.86. Based on the IE (internal-external) matrix, the business is in the growth phase (cell V), so the right strategy is to develop the K. alvarezii seaweed cultivation business using the longline method in Tarakan City through empowering members and groups to increase business (with a score of 5.83), expanding cultivation land (score 5.65), and improving technical cultivation skills to increase product quality and quantity (score 5.52)

    329

    full texts

    337

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇