Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
337 research outputs found
Sort by
WAGE PATTERN AND COMPOSITION OF PURSE SEINE SHIP CREW: CASE STUDY OF KM. SUMBER MAJU: POLA PENGUPAHAN DAN KOMPOSISI UPAH AWAK KAPAL PURSE SEINE: STUDI KASUS KM. SUMBER MAJU
Purse seine yang digunakan di Kota Batam berjenis waring, dikenal dengan istilah purse seine waring. Pendapatan setiap awak kapal memiliki bagian yang berbeda dipengaruhi oleh jumlah hasil tangkapan dan level jabatan di kapal. Perhitungan pola pengupahan di Kota Batam ditentukan oleh perusahaan. Tujuan penelitian ini untuk menghitung hasil pendapatan selama 3 trip, menentukan pola pengupahan, dan menganalisis komposisi upah awak kapal dan awak kapal purse seine berdasarkan jumlah hasil tangkapan per trip. Penelitian dilakukan mulai bulan Februari-Mei 2022. Metode yang dilakukan adalah observasi dan wawancara melalui 3 trip. Analisis data yang digunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama 3 trip awak kapal mendapatkan hasil tangkapan 74 ton sejumlah Rp 138.674.300. Pendapatan awak kapal disesuaikan dengan jabatan organisasi di kapal. Nahkoda mendapatkan 3 bagian, kepala kamar mesin (KKM) 2,5 bagian; kerani, mualim, juru sampan, dan wakil KKM I masing-masing 2 bagian; juru haluan, wakil juru sampan, juru batu, wakil KKM II, dan koki masing-masing 1,5 bagian, dan ABK kapal 1 bagian. Sumber pendapatan awak kapal terbagi atas 6 jenis, yaitu upah pokok 1, 2, 3, tunjangan tetap, tunjangan tidak tetap 1 dan 2. Setiap awak kapal mendapatkan setiap jenis pendapatan berdasarkan jabatan di kapal.The purse seine used in Batam City is a type of waring, known as a purse seine waring. Each crew member\u27s income has a different share depending on the amount of catch and the position level on the ship. Calculation of the profit-sharing system for purse seine waring fishermen in Batam is determined by the company. The purpose of this study is to calculate the income results during 3 trips, determine the wage pattern, and analyze the composition of wages for crew and purse seine crew based on the amount of catch per trip. The study was conducted from February to May 2022. The method used was observation and interviews over 3 trips. Data analysis used descriptive analysis. The research results showed that during the 3 trips, the catch was 74 tons, amounting to 138,674,300 IDR. Fishermen\u27s income was adjusted to their organizational position on the ship. The captain got 3 parts; the engine room chief (ERC) was 2.5 parts; the assistant ship\u27s mate, the mate, the boatman, and the ERC I deputy were 2 parts, respectively; the bowman, the deputy canoe master, the Stoneman, the ERC II deputy, and the chef were 1.5 parts, respectively; and the crew member was 1 part. The crew\u27s income sources were divided into 6 types, namely basic wages 1, 2, and 3; fixed allowances; and non-fixed allowances 1 and 2. Each fisherman gets income based on his position on the ship
ESTIMATION OF THE FIRST MATURITY SIZE OF SILVER BARB (Barbonymus gonionotus) IN SIDENRENG LAKE, SOUTH SULAWESI: PENDUGAAN UKURAN PERTAMA KALI MATANG GONAD IKAN TAWES (Barbonymus gonionotus) DI DANAU SIDENRENG, SULAWESI SELATAN
Ikan tawes adalah salah satu jenis ikan introduksi yang populer di Danau Sidenreng, Sulawesi Selatan. Keberadaannya sangat menguntungkan bagi nelayan karena bernilai ekonomis penting. Nelayan menjadikannya sebagai target utama penangkapan ikan. Aktivitas penangkapan ikan tawes dilakukan sepanjang tahun menggunakan jaring insang dengan ukuran mata jaring beragam dari kecil hingga besar, yaitu 1,5”, 2”, 2,5”, 3”, dan 3,5”. Keduanya mengakibatkan populasi ikan tawes di Danau Sidenreng semakin menurun. Oleh karena itu, informasi terkait biologi perikanan ikan tawes menjadi penting untuk diketahui. Penelitian bertujuan untuk menentukan ukuran ikan tawes pertama kali tertangkap (Lc), ukuran ikan tawes pertama kali matang gonad (Lm), dan ukuran mata jaring (mesh size) jaring insang yang sesuai untuk menangkap ikan tawes layak tangkap. Data sampel dianalisis menggunakan uji statistik deskriptif dan komparatif. Hasil penelitian menujukkan bahwa ukuran ikan tawes pertama kali tertangkap di Danau Sidenreng adalah Lc = 132,66 mm. Ikan tawes betina dan jantan mengalami kematangan gonad pertama kali pada ukuran panjang cagak FL = 140,95 mm dan jantan 173,08 mm. Ukuran mata jaring insang yang direkomendasikan untuk menangkap ikan tawes layak tangkap adalah 3”, karena ukuran rata-rata FL yang tertangkap lebih besar dari nilai Lm.Silver barb is a popular introduced species in Sidenreng Lake, South Sulawesi. Its presence has been highly beneficial for local fishers due to its significant economic value. Fishers make this fish their primary target for fishing. The fishing activity for the silver barb was carried out year-round using gill nets with various mesh sizes, ranging from small to large (1.5”, 2”, 2.5”, 3”, and 3.5”). These activities have led to a decline in the fish population in the Lake. Therefore, information related to the fisheries biology of the fish is crucial. This study aims to determine the length at first capture (Lc), length at first maturity (Lm), and the appropriate gill net mesh size for catching suitable silver barb. The sample data were analyzed using descriptive and comparative statistical tests. The study results showed that the size at capture for the silver barb in the Sidenreng Lake was Lc = 132.66 mm. Male and female fish reach their first length of maturity at fork lengths (FL) of 173.08 mm and 140.95 mm, respectively. The recommended gill net mesh size for catching suitable silver barb was 3”, as the average FL caught was larger than the Lm value
IMPLICATIONS OF Acanthus ilicifolius LEAF EXTRACT UTILIZATION TO INHIBIT Candida albicans GROWTH TO SUPPORT MANGROVE CONSERVATION: IMPLIKASI PEMANFAATAN EKSTRAK DAUN Acanthus ilicifolius UNTUK MENGHAMBAT PERTUMBUHAN Candida albicans DALAM MENDUKUNG KONSERVASI MANGROVE
Salah satu jenis spesies mangrove yang memiliki manfaat sebagai bahan terapi adalah Acanthus ilicifolius. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi daya hambat ekstrak daun mangrove A. ilicifolius yang diambil dari 2 lokasi yang berbeda terhadap pertumbuhan khamir Candida albicans. Metode dalam penelitian ini menggunakan eksperimen laboratorium terkontrol dengan Rancangan Acak Lengkap. Subjek dalam penelitian ini adalah daun A. ilicifolius yang diambil di kawasan mangrove Kecamatan Socah (Kabupaten Bangkalan) dan Kecamatan Paiton (Kabupaten Probolinggo) dalam kondisi segar, serta khamir C. albicans. Potensi pemanfaatan A. ilicifolius dianalisis melalui ekstraksi, dengan metode maserasi metanol 99,98%, analisis fitokimia, dan uji daya hambat. Hasil analisis fitokimia kualitatif pada A. ilicifolius menunjukkan kandungan senyawa aktif alkaloid, flavonoid, steroid/terpenoid, tanin, dan fenol. Namun demikian, tidak ditemukan saponin. Uji fitokimia kuantitatif terhadap A. ilicifolius memperlihatkan kandungan senyawa aktif tertinggi adalah flavonoid (sebesar 162,79 ppm). Ekstrak daun A. ilicifolius memiliki daya hambat antikhamir yang dikategorikan lemah hingga sedang, meskipun setiap konsentrasi memiliki daya hambat yang berbeda nyata. Analisis statistik mengindikasikan kandungan zat aktif dalam ekstrak A. ilicifolius dari Kabupaten Bangkalan dan Kabupaten Probolinggo tidak menunjukkan perbedaan signifikan. Penelitian ini mendukung konservasi mangrove berbasis manfaat farmakologis dan berkontribusi pada pengembangan agen antikhamir berbasis tanaman untuk terapi alternatif.Acanthus ilicifolius, a mangrove species with known therapeutic material, was investigated for its ability to inhibit the growth of Candida albicans. This study aimed to analyze the potential inhibitory effect of A. ilicifolius leaf extracts on the growth of Candida albicans yeast. The method used in this study was a completely randomized laboratory experimental design. A. ilicifolius leaf and C. albicans yeast samples were collected from the mangrove areas in Socah District (Bangkalan Regency) and Paiton District (Probolinggo Regency). Leaf samples were extracted using the 99.98% methanol maceration method, followed by phytochemical analysis and an inhibition test. Qualitative phytochemical analysis of A. ilicifolius showed the presence of active compounds, alkaloids, flavonoids, steroids/terpenoids, tannins, and phenols, while saponins were absent. Quantitative tests showed flavonoids as the dominant active compound (162.79 ppm). The A. ilicifolius leaf extract exhibited weak to moderate inhibitory effects against C. albicans, with each concentration demonstrating significantly different effects. However, there was no statistically significant difference in the active compound content between the two locations. This study highlights the pharmacological potential of A. ilicifolius as a plant-based anti-yeast agent for alternative therapies and underscores the importance of mangrove conservation
CHARACTERISTICS OF TRYPSIN ISOLATED FROM THE INTERNAL ORGANS OF YELLOWFIN TUNA AND STABILITY IN NaCl: KARAKTERISTIK TRIPSIN YANG DIISOLASI DARI ORGAN DALAM IKAN TUNA SIRIP KUNING DAN STABILITASNYA DALAM NaCl
The demand for enzymes in Indonesia is extremely high, and they are still imported from other countries. Commercial trypsin is usually extracted from the pancreas of pigs and cattle, so other alternative sources are needed from fish, namely the intestines, liver, and spleen of tuna. The intestine, liver, and spleen are internal fish organs that contain trypsin with different characteristics. This study aims to determine the characteristics of trypsin in the internal organs of yellowfin tuna and its stability in NaCl. The method used was a Completely Randomized Design with the treatment of different types of intestines, liver, and spleen of tuna. Optimum trypsin activity was at 60°C and pH 8, with a specific activity value in the intestine of 0.948±0.114 U/mg, liver of 0.610±0.029 U/mg, and spleen of 0.605±0.159 U/mg. The maximum reaction speeds (Vmax) showed the largest value for the intestine, liver, and spleen were 0.248 mmol/s, 0.138 mmol/s, and 0.096 mmol/s, respectively. The constant values (Km) obtained for the intestine, liver, and spleen were 2.342, 2.268, and 1.276 mM, respectively. Trypsin has a molecular weight range of 20–30 of approximately 28 kDa. The trypsins extracted from the intestine and liver were relatively stable in up to 30% NaCl with a minimum relative activity of 60%, whereas the trypsin extracted from the spleen was relatively stable up to 20% NaCl with 54% relative activity. Based on their activity and characteristics, the internal organs of tuna, especially the intestines and liver, have the potential to be sources of trypsin.Kebutuhan enzim di Indonesia sangat tinggi dan masih diimpor dari negara lain. Tripsin komersial biasanya diekstraksi dari pankreas babi dan sapi, sehingga diperlukan sumber alternatif lainnya yang bersumber dari ikan, yaitu usus, hati, dan limpa ikan tuna. Usus, hati, dan limpa merupakan organ dalam ikan yang mengandung tripsin dengan karakteristik yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik tripsin pada organ dalam ikan tuna sirip kuning dan kestabilannya dalam NaCl. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan jenis jeroan (usus, hati, dan limpa) ikan tuna yang berbeda. Aktivitas tripsin optimum pada suhu 60°C dan pH 8, dengan nilai aktivitas spesifik pada usus sebesar 0,948±0,114 U/mg, hati 0,610±0,029 U/mg, dan limpa 0,605±0,159 U/mg. Kecepatan reaksi maksimum (Vmax) menunjukkan nilai terbesar untuk usus yaitu 0,248 mmol/s, hati 0,138 mmol/s, dan 0,096 mmol/s untuk limpa. Nilai konstanta (Km) yang diperoleh untuk usus, hati, dan limpa masing-masing adalah 2,342, 2,268, dan 1,276 mM. Tripsin memiliki kisaran berat molekul dari 20–30 yaitu sekitar 28 kDa. Tripsin yang diekstrak dari usus dan hati relatif stabil hingga 30% NaCl dengan aktivitas relatif minimum 60%, sedangkan tripsin yang diekstrak dari limpa relatif stabil hingga 20% NaCl dengan aktivitas relatif 54%. Berdasarkan aktivitas dan karakteristiknya, organ dalam ikan tuna, terutama usus dan hati, berpotensi menjadi sumber tripsin
CORRECTION OF BLUE SWIMMING CRAB FOLDING TRAP ENTRANCE: KOREKSI PINTU MASUK BUBU LIPAT RAJUNGAN
Bubu lipat rajungan banyak digunakan oleh nelayan Indonesia karena mudah dibuat, dioperasikan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa rajungan sering mengalami kesulitan ketika melewati lintasan masuk, karena kaki-kakinya terperosok ke dalam mata jaring. Duri-duri pada sisi badannya sering tersangkut pada benang jaring, karena celah masuk terlalu sempit. Akibatnya adalah peluang rajungan terperangkap menjadi sangat rendah. Tujuan penelitian pertama adalah memperoleh kombinasi sudut kemiringan dan ukuran mata jaring lintasan yang mudah dilewati rajungan. Penelitian mencoba mengombinasikan antara sudut lintasan 20°, 30°, dan 40° dengan ukuran mata jaring 0,125”, 0,35”, dan 1,25”. Adapun tujuan kedua adalah menentukan celah masuk berbentuk elips atau persegi panjang yang mudah dilalui oleh rajungan. Penelitian skala laboratorium dan data hasil penelitian diuji secara parametrik dengan analisis ANOVA dua arah dan Tukey. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi sudut 20° dan ukuran mata jaring 0,125” merupakan konfigurasi terbaik, karena sebanyak 26 rajungan dapat melewati celah masuk. Kombinasi berikutnya, 20° (0,35”) dan 30° (0,125”) masing-masing dilalui oleh 25 rajungan. Sebanyak 369 individu (63,6%) dapat melewati celah persegi panjang, sedangkan 211 individu (36,4%) lainnya melewati celah elips. Kombinasi sudut 20° dan ukuran mata jaring 0,125” dengan bentuk celah masuk persegi panjang lebih mudah dilewati rajungan dibandingkan dengan kombinasi lainnya.Folding crab traps are widely used by Indonesian fishermen because they are easy to construct and operate. Observations suggest that crabs frequently struggle to pass through the entrance channel, as their legs become entangled in the mesh. The spines on the sides of their bodies usually become entangled in the net threads because the entrance is too narrow. Consequently, the chance of crabs being trapped is very low. The objective of the study is first to determine the combination of slope angle and mesh size for the channel that allows for crabs to pass through easily. The study attempted to combine the traverse angles of 20°, 30°, and 40° with mesh sizes of 0.125", 0.35", and 1.25". The second objective is to determine the elliptical or rectangular entry gap that is easy for crabs to pass through. Laboratory-scale research and the research data were analysed parametrically using two-way ANOVA and Tukey\u27s post hoc test. The results indicated the combination of an angle of 20° and a mesh size of 0.125" was the best configuration, because 26 individual of crabs could pass through the entry gap. The following combination, 20° (0.35") and 30° (0.125"), each passed through 25 crabs. A total of 369 individual of crabs (63.6%) could pass through the rectangular gap, while 211 individuals (36.4%) passed through the elliptical gap. The combination of a 20° angle and a mesh size of 0.125" with a rectangular entry gap is easier for crabs to pass through compared to other combinations
ENVIRONMENTAL PARAMETERS AND COASTAL ECOTOURISM POTENTIAL OF AMBON BAY: PARAMETER LINGKUNGAN DAN POTENSI EKOWISATA PANTAI TELUK AMBON
Ambon Bay is one of the waters in Maluku Province that has the potential for ecotourism, but the quality of the waters needs to be considered because over time it changes and experiences changes to the point of coastal damage from various natural events and human activities, especially on Wayame Village Beach, Galala Village Beach, and Passo Village Beach. This study aimed to determine the environmental parameters of Ambon Bay waters as an ecotourism area. This study measured salinity, pH, dissolved oxygen, temperature, and changes in the coastline using Sentinel 2 Imagery. The results of the study showed that the three locations had DO values of 2.8 mg/L, 3.1 mg/L, and 1.4 mg/L; salinity at 32 ppt, 34 ppt, and 33 ppt; pH ranging from 7.6 to 8.6; and temperatures ranging from 27°C to 29°C, and within a period of 4 years (2018-2022) there have been changes in the coastline. The results of the inventory found several tourist areas that can be revitalized and developed to help the economy of coastal communities. This research can be a reference for village communities and the government in making regulations and activities to prevent damage and handle it appropriately.Teluk Ambon adalah salah satu perairan di Provinsi Maluku yang berpotensi sebagai kawasan ekowisata, namun perlu diperhatikan kualitas perairannya karena seiring berjalannya waktu berubah dan mengalami perubahan sampai pada kerusakan pantai dari berbagai kejadian alam dan aktivitas manusia khususnya pada Pantai Desa Wayame, Pantai Desa Galala, dan Pantai Desa Passo Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui parameter lingkungan perairan Teluk Ambon sebagai kawasan ekowisata. Penelitian ini dilakukan dengan mengukur salinitas, pH, oksigen terlarut, suhu dan perubahan garis pantai menggunakan Citra Sentinel 2. Hasil penelitian menunjukan pada ketiga lokasi memiliki nilai DO yaitu 2,8 mg/L, 3,1 mg/L dan 1,4 mg/L, salinitas pada 32 ppt, 34 ppt, dan 33 ppt pH berkisar 7,6-8,6, dan suhu berkisar 27°C-29°C dan dalam kurun waktu 4 tahun (2018-2022) sudah mengalami perubahan garis pantai. Hasil inventarisasi ditemukan beberapa kawasan wisata yang dapat diperbaharui serta dikembangkan untuk membantu ekonomi masyarakat pesisir pantai. Penelitian ini dapat menjadi acuan bagi masyarakat desa, pemerintah dalam membuat regulasi, dan kegiatan pencegahan kerusakan maupun penanggulangan secara tepat
OCCURRENCE STUDY OF BLACKTIP REEF SHARK (Carcharhinus melanopterus) IN THE WATERS OF GILI PETELU, EAST LOMBOK DISTRICT: STUDI KEMUNCULAN HIU KARANG SIRIP HITAM (Carcharhinus melanopterus) DI PERAIRAN GILI PETELU, KABUPATEN LOMBOK TIMUR
Gili Petelu merupakan salah satu lokasi agregasi spesies laut seperti hiu karang sirip hitam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik habitat ikan hiu karang sirip hitam di perairan Gili Petelu, Kabupaten Lombok Timur. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November-Desember 2023. Pengamatan hiu karang sirip hitam dilakukan dengan dua metode yakni UVC (underwater visual census) dan accidental sampling. Metode UVC (underwater visual census) dilakukan dengan cara berenang pada sisi timur pulau sejauh kurang lebih 170 m dengan lebar pengamatn 10 m ke kiri dan ke kanan. Penggunaan metode accidental sampling dilakukan untuk mengetahui atau mengamati kemunculan hiu karang sirip hitam yang berada di luar transek. Pengambilan data tutupan terumbu karang dilakukan dengan metode UPT (underwater photo transect) yang kemudian dianalisis menggunakan software CPCe. Selain itu, kondisi perairan yang diamati selama penelitian yakni salinitas, suhu, pH, dan kecepatan arus. Berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan bahwa sebanyak 87 kali perjumpaan dengan spesies hiu Carcharhinus melanopterus pada area perairan tersebut. Pada area perjumpaan hiu karang sirip hitam tersebut diketahui terdapat lokasi yang didominasi oleh soft coral, pasir, patahan karang, dan area yang terdapat karang keras. Berdasarkan kondisi perairan, paling banyak individu hiu tersebut ditemukan pada kondisi perairan dengan pH 8, kecepatan arus 0,27-0,35 m/s, salinitas 30 dan pada kisaran suhu 28-29°C dengan total individu yang ditemukan sebanyak 24.Gili Petelu is one of the aggregation sites for marine species such as blacktip reef sharks. This study aims to determine the habitat characteristics of blacktip reef sharks in the waters of Gili Petelu, East Lombok Regency. This research was conducted from November to December 2023. Observations of blacktip reef sharks were carried out using two methods, namely UVC (underwater visual census) and accidental sampling. The UVC (underwater visual census) method was carried out by swimming on the east side of the island for approximately 170 m with a width of 10 m to the left and right. The use of the accidental sampling method is done to find out or observe the appearance of blacktip reef sharks that are outside the transect. Data collection of coral reef cover was carried out using the UPT (underwater photo transect) method, which was then analyzed using CPCe software. In addition, water conditions observed during the study were salinity, temperature, pH, and current speed. Based on the observation results, there were 87 encounters with the Carcharhinus melanopterus shark species in the water area. In the blacktip reef shark encounter area, it is known that there are locations dominated by soft coral, sand, coral breaks, and areas with hard coral. Based on water conditions, most shark individuals were found in water conditions with a pH of 8, current speed 0.27-0.35 m/s, salinity 30, and a temperature range of 28-29°C, with a total of 24 individuals found
ACCUMULATION OF LEAD AND COPPER IN THE SEDIMENTS IN SOUTH KALIH AND PANJANG ISLAND, BANTEN: AKUMULASI TIMBAL DAN TEMBAGA PADA SEDIMEN DI PERAIRAN PULAU KALIH SELATAN DAN PULAU PANJANG, BANTEN
South Kalih and Panjang Islands are located in Banten Bay, small island with environmental conditions adjacent to the center of industrial activities. Industrial activities near the waters can increase the risk of heavy metal pollution, thereby affecting the quality of the aquatic environment. This study aims to evaluate the condition of aquatic environmental quality based on heavy metal content in sediments. Sediment sampling was conducted at ten observation stations using a purposive random sampling method. Heavy metal analysis was performed using the Flame Atomic Absorption Spectrometry (FAAS). The results indicate that South Kalih Island accumulated more Pb heavy metals with an average of 2.7922 mg kg⁻¹, while the highest accumulation of Cu heavy metals was on Panjang Island with an average of 5.7188 mg kg⁻¹. The accumulation of heavy metals Pb and Cu in the sediments in South Kalih and Panjang Island was below the standard threshold, except at PPS5P1 of Panjang Island, where Cu concentrations exceeded the CCME (2002) quality guideline. Areas with dense anthropogenic activities are more likely to increase the accumulation of heavy metals in the waters.Pulau Kalih Selatan dan Pulau Panjang terletak di Teluk Banten yang merupakan pulau kecil dengan kondisi lingkungan yang dekat dengan pusat aktivitas industri. Aktivitas industri di sekitar perairan dapat meningkatkan risiko pencemaran logam berat yang dapat memengaruhi kualitas lingkungan perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi kualitas lingkungan perairan berdasarkan kandungan logam berat pada sedimen. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive random sampling pada sepuluh stasiun pengamatan. Analisis logam berat dilakukan menggunakan metode Flame Atomic Absorption Spectrometry (FAAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pulau Kalih Selatan terakumulasi logam berat Pb lebih banyak dengan rata-rata 2,7922 mg kg⁻¹, sedangkan akumulasi logam berat Cu terbanyak ada pada Pulau Panjang dengan rata-rata 5,7188 mg kg⁻¹. Akumulasi logam berat Pb dan Cu dalam sedimen di perairan Pulau Kalih Selatan dan Pulau Panjang berada di bawah nilai baku mutu, kecuali pada stasiun PPS5P1 Pulau Panjang, di mana konsentrasi Cu melebihi nilai baku mutu CCME (2002). Wilayah dengan aktivitas antropogenik yang padat lebih berpotensi dalam meningkatkan akumulasi logam berat di perairan
CONNECTIVITY OF BIVALVES BETWEEN MANGROVE AND SEAGRASS ECOSYSTEMS IN KELAPA DUA ISLANDS: KONEKTIVITAS BIVALVIA ANTARA EKOSISTEM MANGROVE DAN LAMUN DI PULAU KELAPA DUA
Pulau Kelapa Dua, bagian dari Kepulauan Seribu, kaya akan keanekaragaman hayati dalam ekosistem mangrove dan lamun. Bivalvia berfungsi sebagai bioindikator yang penting untuk menilai kesehatan ekosistem ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan keanekaragaman bivalvia antara lingkungan mangrove dan lamun dan mempelajari hubungan bivalvia pada kedua habitat ini. Data dikumpulkan melalui survei kepadatan mangrove dan lamun, pengukuran kualitas air, dan analisis sedimen. Metode transek garis dan plot digunakan untuk pengamatan mangrove, sedangkan metode Seagrass Watch diterapkan untuk pengamatan lamun. Sampel bivalvia dikumpulkan menggunakan pipa PVC (hingga kedalaman 10 cm) untuk individu di bawah permukaan dan survei visual untuk spesies yang terlihat di permukaan. Substrat berpasir di pulau ini mendukung berbagai spesies bivalvia. Sebanyak lima belas spesies bivalvia dari enam famili teridentifikasi: Tellinidae, Cardiidae, Veneridae, Lucinidae, Donacidae, dan Pinnidae. Kepadatan bivalvia secara signifikan lebih tinggi di ekosistem lamun (1.029 ind./100 m²) dibandingkan dengan ekosistem mangrove (366 ind./100 m²), dengan famili Tellinidae menunjukkan kepadatan tertinggi (664 ind./100 m²). Indeks ekologi menunjukkan kondisi yang stabil, dengan komunitas bivalvia yang beragam dan tersebar merata, mencerminkan lingkungan yang sehat. Analisis korespondensi mengungkapkan bahwa spesies bivalvia lebih terkonsentrasi di stasiun yang merepresentasikan ekosistem lamun, menegaskan hubungan yang lebih erat dengan habitat lamun.Kelapa Dua Island, part of the Seribu Islands, is rich in biodiversity within the mangrove and seagrass ecosystems. Bivalves serve as bioindicators, crucial for assessing the health of these ecosystems. This study aimed to analyze differences in bivalve diversity between mangrove and seagrass environments and examine their associations between and within these habitats. Data were collected through mangrove and seagrass density surveys, water quality measurements, and sediment analysis. Line transect and plot methods were used for mangrove observation, while the Seagrass Watch method was applied for seagrass observation. Bivalve samples were collected using PVC pipes (up to a depth of 10 cm) for subsurface individuals and visual surveys for exposed species. The island’s sandy substrate supported a variety of bivalve species. Fifteen bivalve species from six families were identified: Tellinidae, Cardiidae, Veneridae, Lucinidae, Donacidae, and Pinnidae. Bivalve density was significantly higher in the seagrass ecosystem (1,029 ind./100 m²) compared to the mangrove ecosystem (366 ind./100 m²), with the family Tellinidae showing the highest density (664 ind./100 m²). Ecological indices indicated stable conditions, with a diverse and evenly distributed bivalve community, reflecting a healthy environment. Correspondence analysis revealed that bivalve species were more concentrated in stations representing seagrass ecosystems, highlighting a stronger association with seagrass habitats
STRATEGY FOR HANDLING THE QUALITY OF CAUGHT SKIPJACK TUNA TRAWLER SHIP AT PPS KUTARAJA: STRATEGI PENANGANAN DAN MUTU IKAN CAKALANG HASIL TANGKAPAN KAPAL PUKAT LINGKAR DI PPS KUTARAJA
Salah satu komoditas utama yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudra (PPS) Kutaraja adalah ikan cakalang (Katsuwonus pelamis), yang memiliki nilai ekonomis tinggi serta potensi ekspor yang besar. Namun, kualitas ikan cakalang yang didaratkan sering menurun akibat penanganan pasca-tangkap yang kurang optimal, seperti suhu penyimpanan yang tidak terkontrol dan minimnya penerapan rantai dingin. Penelitian ini bertujuan merumuskan model strategi pengendalian mutu hasil tangkapan cakalang dari kapal pukat lingkar di PPS Kutaraja. Metode yang digunakan adalah deskriptif dan analisis SWOT dengan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal secara sistematis. Data dikumpulkan melalui wawancara terhadap 14 orang nahkoda kapal dan dua orang ahli yang memahami kondisi pelabuhan. Responden nahkoda dipilih menggunakan metode accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan adanya peluang besar untuk meningkatkan mutu ikan cakalang di PPS Kutaraja. Strategi yang diusulkan meliputi: (1) perbaikan pengendalian mutu sejak proses penangkapan hingga Tempat Pelelangan Ikan (TPI), (2) penyuluhan dan pelatihan penanganan ikan yang baik kepada nelayan, (3) pengendalian suhu penyimpanan pada 0°C hingga proses pendaratan, (4) pendanaan untuk modernisasi armada penangkapan berpendingin, (5) fasilitasi sertifikasi penangkapan dan penanganan ikan, (6) kerja sama antara pengelola pelabuhan dan nelayan dalam menetapkan standar mutu, (7) peningkatan kapasitas SDM melalui sertifikasi, dan (8) kerja sama desain kapal berpendingin antara pengelola pelabuhan dan pengusaha kapal.One of the main commodities landed at the Oceanic Fishing Port (PPS) of Kutaraja is skipjack tuna (Katsuwonus pelamis), which has high economic value and strong export potential. However, the quality of skipjack tuna landed at PPS Kutaraja often declines due to poor post-harvest handling, such as uncontrolled storage temperatures and inadequate application of a proper cold chain. This study aims to formulate a quality control strategy model for skipjack tuna caught by purse seine vessels at PPS Kutaraja. The research employed descriptive methods and a SWOT analysis to identify internal and external factors systematically. Data were collected through interviews with 14 purse-seine captains and two experts familiar with the port\u27s conditions. Captains were selected using accidental sampling. The findings indicate significant opportunities to improve the quality of skipjack tuna landed at PPS Kutaraja. The proposed strategies include: (1) improving quality control from capture to fish auction sites (TPI), (2) providing training and education on good fish handling practices for fishers, (3) maintaining fish storage temperatures at 0°C until landing, (4) providing funding for the modernization of refrigerated fishing vessels, (5) facilitating certification for purse seine fishing and proper fish handling, (6) collaborating between port authorities and fishers to establish skipjack quality control standards at TPI, (7) enhancing human resources through certified fish handling training, and (8) cooperating between port authorities and vessel owners to design vessels equipped with freezer systems