Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
337 research outputs found
Sort by
IDENTIFIKASI SAMPAH LAUT (MARINE DEBRIS) DI PANTAI PINTU KOTA DAN PANTAI AIRLOUW, KOTA AMBON
Sampah laut terdiri dari bahan organik padat dan anorganik yang tidak mudah terurai, menumpuk, serta tersebar di laut dan pantai. Masalah sampah merupakan permasalahan mendasar yang hingga saat ini belum terselesaikan di berbagai belahan dunia, termasuk di Kota Ambon. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi langsung dan pengambilan sampel sampah. Penentuan lokasi penelitian disesuaikan dengan jadwal pasang surut perairan pada bulan Agustus 2023 di Pantai Pintu Kota dan Pantai Airlouw, Kota Ambon. Hasil penelitian menunjukkan jenis sampah yang diperoleh adalah botol plastik, gelas plastik, potongan plastik, kemasan plastik, sabut kelapa, daun kering, batang kayu, kaleng besi, potongan besi, sandal, pampers, kain, styrofoam, spons, kertas, dan lain-lain. Hasil pengukuran sampah di Pantai Pintu Kota dan Pantai Airlouw masuk dalam kategori mega-debris (>1 m) dan makro-debris (>2,5 cm - <1 m), namun yang terbanyak pada kategori makro-debris (>2,5 cm - <1 m), yaitu 2 cm – 1,74 m. Berat sampah dengan rata-rata hasil yang tinggi yaitu di Pantai Pintu Kota sebesar 121 g pada saat air pasang dan 100 g pada saat air surut, sedangkan rata-rata berat sampah di Pantai Airlouw tergolong rendah sebesar 58 g pada saat air pasang dan 61 g pada saat air surut. Sampah plastik maupun sampah non-plastik lebih banyak ditemukan pada saat air pasang, hal ini dimungkinkan karena pada musim timur di Kota Ambon curah hujan cukup tinggi sehingga arus dan gelombang dapat membawa sampah hingga ke pesisir pantai.Marine debris consists of solid organic and inorganic materials that do not easily decompose, accumulate, scattering across the sea and beaches. The waste problem remains a fundamental problem that has yet to be resolved in various parts of the world, including Ambon City. The data collection techniques were direct observation and waste sampling. Determination of the research location was adjusted to the tidal schedule in August 2023 at Pintu Kota Beach and Airlouw Beach, Ambon City. Results of the study showed that the types of waste obtained were plastic bottles, plastic cups, plastic pieces, plastic packaging, coconut fiber, dry leaves, logs, iron cans, iron scrap, sandals, pampers, cloth, styrofoam, sponges, paper, and others. The results of measuring rubbish at Pintu Kota Beach and Airlouw Beach fall into the mega-debris (>1 m) and macro-debris (>2.5 cm - <1 m) categories, but most of it is in the macro-debris category (>2.5 cm - <1 m), namely 2 cm - 1.74 m. The mass of waste with a high average yield was observed at Pintu Kota Beach, ranged from 100 g at low tide to 121 g at high tide. Meanwhile, the average mass of waste at Airlouw Beach was relatively low at 58 g at high tide and 61 g at low tide. Plastic waste and non-plastic waste were more commonly found during high flood tide. This is possibly due to high rainfall in the east monsoon in Ambon City, which causes currents and waves to carry garbage up to the coast
PENINGKATAN PERTUMBUHAN IKAN LELE (Clarias gariepinus) DAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) MELALUI BIOPELET
Sisa bioflok pada kultur akuaponik telah berhasil diproduksi menjadi biopelet. Namun, efikasi biopelet untuk meningkatkan pertumbuhan dan sintasan ikan lele dan nila perlu diuji. Tujuan penelitian adalah meningkatkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan lele (Clarias gariepinus) dan nila (Oreochromis niloticus) serta efisiensi sistem budidaya ikan melalui pakan biopelet berbahan baku bioflok. Penelitian dilakukan dengan metode rancangan faktorial dengan 3 kali ulangan dan dua jenis perlakuan yakni jenis ikan (lele sangkuriang dan nila merah), serta jenis pelet yakni pelet komersial, biopelet, dan kombinasi dari kedua pelet tersebut. Ikan berukuran 5 g dipelihara dalam akuarium berukuran 40 x 60 x 40 cm3, dengan kepadatan 0,4 ekor/L ikan per akuarium. Formulasi biopelet dilakukan menggunakan bioflok basah dan tepung tapioka dengan perbandingan 7:5. Ikan diberi pakan 2 kali sehari. Variabel yang diukur ialah sintasan dan pertumbuhan, baik berat maupun panjang. Interaksi yang nyata (p: 0,035) antara jenis ikan dan jenis pakan teramati pada minggu ke-empat, dimana pakan kombinasi menunjukkan pertumbuhan yang nyata (p: 0,042) lebih tinggi daripada biopelet. Hal ini menunjukkan bahwa biopelet dapat menghasilkan pertumbuhan yang baik dan sintasan yang tinggi apabila dikombinasikan dengan pakan komersial. Namun demikian, pakan kombinasi tidak menunjukkan efisiensi tertinggi untuk kedua ikan yang dicobakan.Biofloc material in aquaponics has been successfully produced into biopellets. However, the efficacy of these biopellets in enhancing fish growth and survival requires testing. This research aims to increase the survival and growth of catfish (Clarias gariepinus) and nile tilapia (Oreochromis niloticus), as well as the efficiency of the fish farming system, by utilizing biopellets made from biofloc as feed. The research was conducted using a factorial design method, with three repetitions and two types of treatment, namely fish species (sangkuriang catfish and red tilapia) and pellet types, namely commercial pellets, biopellets, and a combination of both pellets. Fish 5 g weight were kept in an aquarium size 40 x 60 x 40 cm3, with a density of 0.4 fish/L per aquarium. Biopellets formulation was carried out using biofloc and tapioca flour in a ratio of 7:5. Fish were fed 2 times a day. The variables measured were survival and growth rate, both in weight and length. A significant interaction (p: 0.035) between fish species and feed types was observed in the fourth week, where the combination feed was significantly higher (p: 0.042) than the biopellets for both types of fish. This shows that biopellet can produce good growth and survival rates when combined with commercial pellets. However, the combination feed did not perform the highest efficiency in both types of fish
KAJIAN VALUASI JASA EKOSISTEM MANGROVE DESA CITEUREUP, KABUPATEN PANDEGLANG
Wilayah pesisir dan laut Teluk Banten merupakan ekosistem unik yang menyimpan berbagai potensi dan permasalahan pemanfaatan sumberdaya alam. Disinilah pentingnya peranan hutan mangrove dan sebagai bagian dari upaya restorasi dan konservasi untuk mengatasi dari berbagai masalah yang teridentifikasi di wilayah pesisir dan laut Provinsi Banten. Kajian ini memperkirakan berapa besar nilai ekonomi yang akan hilang akibat aktivitas kontak di wilayah pesisir di lokasi penelitian. Harapannya, penilaian ini dapat memberikan gambaran tentang kesehatan ekosistem mangrove saat ini dan menjadi dasar bagi strategi pengelolaan mangrove di masa mendatang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode valuasi ekonomi guna memberikan gambaran tentang kondisi kesehatan ekosistem saat ini dan untuk menjadi dasar strategi pengelolaan mangrove di waktu yang akan datang di Desa Citeureup, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini meliputi valuasi ekonomi terhadap hutan mangrove, produktivitas perikanan, dan nilai ekonomi lahan pesisir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Total Economic Value (TEV) di Desa Citeureup Rp 20.290.350.289 per tahun dengan luas total lahan kajian sebesar 3 ha mangrove. Masyarakat Desa Citeureup telah memanfaatkan hutan mangrove sebagai bahan pangan, pelindung pantai, dan penunjang sektor rekreasi.The coastal and marine areas of Banten Bay are unique ecosystems that hold various potentials and problems in the utilization of natural resources as well as, the role of mangrove forests become important to mitigate and control the various problems identified in the coastal and marine areas of the Banten Province. This study aims to estimate how much economic value will be lost from contact activities within the coastal areas in the research location. This valuation could provide an overview of the current health of the ecosystem and become the basis for mangrove management in the future. The research method used was the economic valuation method to provide an overview of the current condition of ecosystem health and to become the basis for future mangrove management strategies in the Citeureup Village, Panimbang District, Pandeglang Regency, Banten Province. The analytical method used in this study included the economic valuation of mangrove forests, fisheries productivity, and the economic value of coastal lands. The results showed that the Total Economic Value (TEV) of the Citeureup Village was IDR 20,290,350,289 per year with a total study area of 3 ha of mangroves. The Citeureup Village community had utilized the mangrove forests for food sources, coastal protection, and support the recreation sector
ANALISIS PENANGANAN IKAN YANG BAIK DI PPS NIZAM ZACHMAN JAKARTA DENGAN METODE DESIGN THINKING
The quality and safety of fishery products is an important thing to ensure the quality of fishery commodities. One form of concern for the quality of capture fishery products is the issuance of Good Fish Handling Practices (CPIB) certificates for fishing vessels. Nizam Zachman Ocean Fishing Port (PPS) of Jakarta is one of the largest fishing ports in Indonesia. However, fish demolition activities carried out at the Nizam Zachman Fishing Port are still manual and not hygienic. It is proven that a small number of ships based at the ocean fishery port have CPIB certificates. Of the approximately 1,700 vessels based on the ocean fishery port, only about 500 vessels have CPIB certificates. This activity aims to find problems faced in the process of handling fish properly so the quality of fish is maintained. The design thinking method was used in this research. Data analysis was carried out using the cumulative frequency analysis method presented in the form of Tables and Paretto Diagrams. In 2022, out of 34 vessels applying for CPIB certificates, 25 vessels did not fulfill the parameter of automatic temperature recorder. An automatic temperature recorder is one of the requirements to carry out export activities to the European Union. The design thinking method was used to solve the problem through an automatic temperature recording device innovation with an Internet of Things (IoT) approach.Mutu dan keamanan hasil perikanan merupakan suatu hal yang penting dalam rangka menjamin kualitas komoditas perikanan. Salah satu bentuk kepedulian terhadap kualitas produk perikanan tangkap yaitu dengan penerbitan sertifikat Cara Penanganan Ikan yang Baik (CPIB) untuk kapal perikanan. Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Nizam Zachman Jakarta merupakan salah satu pelabuhan perikanan terbesar di Indonesia. Namun demikian, kegiatan pembongkaran ikan yang dilakukan di PPS Nizam Zachman Jakarta masih manual dan belum higienis. Hal ini terbukti sedikitnya kapal yang berpangkalan di pelabuhan perikanan samudera tersebut memiliki sertifikat CPIB. Dari sekitar 1.700 kapal yang berpangkalan di pelabuhan perikanan samudera tersebut hanya sekitar 500 kapal yang memiliki sertifikat CPIB. Kegiatan ini bertujuan untuk menemukan masalah yang dihadapi dalam proses penanganan ikan yang baik sehingga mutu ikan tetap terjaga. Metode design thinking digunakan dalam kegiatan ini. Sedangkan analisis data dilakukan dengan metode analisis frekuensi kumulatif yang disajikan dalam bentuk tabel dan Diagram Paretto. Pemenuhan parameter penerbitan sertifikat CPIB pada tahun 2022 parameter “tidak terdapat alat pencatat/perekam suhu otomatis” sebanyak 25 temuan dari 34 kapal yang mengajukan permohonan sertifikat CPIB. Alat pencatat/perekam suhu otomatis merupakan salah satu syarat dalam rangka melakukan kegiatan ekspor ke Uni Eropa. Metode design thinking dipergunakan dalam rangka pemecahan masalah tersebut melalui penciptaan inovasi alat perekam suhu otomatis dengan pendekatan Internet of Thing (IoT)
PENGARUH PEMBERIAN PAKAN TAMBAHAN CACING SUTRA TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN GABUS (Channa striata)
The snakehead (C. striata) is a freshwater fish species that inhabits swampy areas and rivers. It has high economic value, with its selling price determined per centimeter of its body length and is very useful in the medical and industrial sectors. Snakehead fish has good nutritional content, especially albumin. The growth of snakehead fryis largely determined by the quality of feed provided. This study aims to analyze the growth rate of snakehead fry by providing additional feed in the form of Tubifex sp. The experiment utilized four plastic aquariums measuring 40 x 30 x 30 cm, calipers, digital scales, a dissolved oxygen (DO) meter, a total dissolved solids (TDS) meter, and a pH meter. The materials used in the experiment included freshwater, fish pellets (PF 1000) produced by Prima Feed, snakehead fish, and silkworms. The research method used a Completely Randomized Design (CRD) with four treatments: P1 (100% pellets), P2 (75% pellets + 25% silkworms), P3 (50% pellets + 50% silkworms), and P4 (25% pellets + 75% silk worms). Results indicated that the addition of silkworms significantly affected in the growth in weight, length, and width of snakehead fry. The best growth was observed in treatment P4 (25% pellets + 75% silk worms), with an average absolute length of 24.31±9.89 mm, an average absolute width of 3.41±1.66 mm, and an average absolute weight of 18.28±6.40 g.Ikan gabus (C. striata) merupakan salah satu komoditas jenis ikan air tawar yang hidup di daerah rawa-rawa maupun sungai yang memiliki nilai ekonomis tinggi dengan harga jual per centimeter dari panjang tubuhnya dan sangat bermanfaat dalam dunia medis dan industri. Ikan gabus memiliki kandungan nutrisi yang baik terutama albumin. Pertumbuhan ikan gabus sangat ditentukan oleh pakan agar dapat memaksimalkan pertumbuhan benih ikan gabus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pertumbuhan C. striata dengan pemberian pakan tambahan berupa Tubifex sp. Alat yang digunakan yaitu empat akuarium plastik dengan ukuran 40 x 30 x 30 cm, jangka sorong, timbangan digital, DO meter, TDS, dan pH meter. Bahan yang digunakan pada eksperimen yaitu air tawar, pelet ikan (PF 1000) diproduksi oleh prima feed, serta ikan gabus dan cacing sutra. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yaitu dosis P1 (pelet 100%), P2 (pelet 75% + cacing sutra 25%), P3 (pelet 50% + cacing sutra 50%), dan P4 (pelet 25% + cacing sutra 75%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan cacing sutra memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan berat, panjang, dan lebar benih ikan gabus. Pertumbuhan terbaik diperoleh pada perlakuan P4 (pelet 25% + cacing sutra 75%) dengan panjang mutlak rata-rata 24,31±9,89 mm, lebar mutlak rata-rata 3,41±1,66 mm, dan berat mutlak rata-rata 18,28±6,40 g
POTENSI BAHAYA AKTIVITAS BONGKAR MUAT KAPAL JALA JATUH DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA MUARA ANGKE JAKARTA
Kapal Jala Jatuh merupakan kapal cumi terbanyak kedua yang ada di PPN Muara Angke. Aktivitas bongkar merupakan aktivitas utama yang dilakukan setelah kapal berlabuh di dermaga. Aktivitas ini terindikasi memiliki potensi kecelakaan kerja, sehingga perlu adanya identifikasi potensi bahaya pada aktivitas bongkar muat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi aktivitas bongkar muat pada Kapal Jala Jatuh, menghitung persentase konsekuensi bahaya pada setiap aktivitas bongkar muat pada Kapal Jala Jatuh, dan memberikan rekomendasi untuk menjaga keselamatan dan mecegah kecelakaan yang dapat terjadi pada pekerja yang terlibat dalam proses tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan wawancara kepada kapten, ABK, dan buruh angkut. Analisis yang digunakan berupa analisis deskriptif, dengan mengelompokkan konsekuensi bahaya masing-masing aktivitas berdasarkan AS/NZS 4360: 1999 dimana terdapat lima jenis konsekuensi bahaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 71 aktivitas pada kegiatan bongkar muat. Terdapat 8 (11%) aktivitas dikategorikan tidak berbahaya, 40 (56%) aktivitas dikategorikan bahaya ringan, 19 (27%) aktivitas dikategorikan bahaya menengah, 0 (0%) aktivitas dikategorikan bahaya berat, dan 4 (6%) aktivitas dikategorikan bahaya fatal. Perlu adanya perhatian mengenai keselamatan kerja pada aktivitas bongkar muat seperti kelengkapan Alat Pelindung Diri (APD) terutama pada saat aktivitas bongkar muat, dan juga pengemudi yang bersertifikat guna mencegah terjadinya kecelakaan yang bersifat fatal.Jala Jatuh Fishing Boat is the second most numerous squid fishing vessel at Muara Angke Fisheries Port. Unloading is the main activity conducted after the vessel docks at the pier. This activity is suspected to have the potential for work accidents, thus requiring the identification of potential hazards in this loading and unloading activity. This study aims to identify loading and unloading activities on Jala Jatuh Fishing Boat, calculate the hazard consequences for each loading and unloading activity on the ship, and provide recommendations to maintain safety and prevent accidents that can occur to workers involved in the process. The methods used in this research were observation and interviews with the captain, crew members, and cargo handlers. The analysis included descriptive analysis and grouping of the hazard consequences of each activity based on AS/NZS 4360: 1999 where there are five types of hazard consequences. The research findings indicated that there were 71 activities involved in the unloading process. Among these, 8 (11%) activities were categorized as non-hazardous, 40 (56%) activities as mild hazards, 19 (27%) activities as moderate hazards, 0 (0%) activities as severe hazards, and 4 (6%) activities as fatal hazards. Attention should be given to occupational safety during the unloading activities, such as ensuring the availability of personal protective equipment (PPE), especially during the unloading process, and having certified drivers to prevent fatal accidents
PENGUKURAN KEMAJUAN PELABUHAN PERIKANAN DI INDONESIA
Keberadaan pelabuhan perikanan diharapkan dapat mendukung sistem logistik ikan nasional yaitu mulai dari produksi, penyimpanan, dan distribusi sehingga dapat mengendalikan harga ikan dan memenuhi kebutuhan bahan baku industri pengolahan dan konsumsi ikan di dalam negeri. Namun dalam pengembangannya, keberadaan pelabuhan perikanan di Indonesia belum menjadi daya tarik sebagai tempat pendaratan ikan hasil tangkapan karena akses pasar yang terbatas, sehingga produksi ikan yang didaratkan dan dijual di pelabuhan perikanan lebih rendah dari yang di luar pelabuhan perikanan. Metode penelitian yang diterapkan adalah kuantitatif menggunakan indeks produksi dan nilai produksi ikan, konsentrasi produksi, pangsa ekspor dan shift share analisis, dan indeks produktivitas. Tujuan penelitian adalah mengukur kemajuan pelabuhan perikanan secara makro. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa jumlah produksi dan nilai produksi ikan yang didaratkan fuktuasi. Hal ini menunjukkan ketidakpastian jumlah produksi ikan yang didaratkan di pelabuhan perikanan di Indonesia. Indeks kenaikan produksi dan nilai produksi rata-rata per jenis ikan masing-masing sebesar 49,26 dan 96,52 persen. Volume produksi ikan yang didaratkan terkonsentrasi di pelabuhan perikanan tipe C dan D. Pangsa pasar ekspor untuk komoditas ikan segar dingin didominasi pasar negara Malaysia, Singapura, Jepang, dan Tiongkok. Dari sisi efisiensi teknis dan biaya diperoleh nilai kurang dari satu. Kesimpulan penelitian adalah pelabuhan perikanan di Indonesia tidak mengalami perkembangan atau stagnan, dan cenderung mengalami kemunduran.The existence of fishing ports are expected to support the national logistics system of fish, starting from production, storage, and distribution so that it can control prices and meet the raw material needs of the domestic fish processing and consumption industry. However, in its development, the existence of fishing ports in Indonesia has not become an attraction as a landing place for caught fish due to limited market access, so the production of fish landed and sold at fishing ports is lower than outside fishing ports. The research method applied was quantitative using production indices and fish production value, production concentration, export share and shift-share analysis, and productivity index. The aim of the research is to measure the progress of fishing ports at a macro level. The research results obtained show that the amount of production and production value of fish landed fluctuates. This shows the uncertainty a number of fish production landed at fishing ports in Indonesia. The production increase index and average production value per species of fish were 49.26 and 96.52 percent, respectively. The production volume of fish landed was concentrated in type C and D fishing ports. The export market share for fresh chilled fish commodities were dominated by markets in neighboring countries, namely Malaysia, Singapore, Japan, and China. In terms of technical efficiency and costs, the value obtained was less than one. The research conclusion is that fishing ports in Indonesia have not developed stagnantly and tend to experience setbacks
KOMBINASI BAHAN PENYALUT MIKROENKAPSULASI PEPTON DARI IKAN BUSUK MULTISPESIES HASIL TANGKAPAN SAMPINGAN (HTS)
Pepton merupakan salah satu produk yang bersifat higroskopis ketika terkena udara, mudah berikatan dengan air, dan mengalami penggumpalan selama penyimpanan, sehingga mudah mengalami kerusakan mutu secara fisik dan kimiawi. Penelitian ini bertujuan membuat mikroenkapsulat pepton ikan hasil tangkapan sampingan (HTS) multispesies busuk dengan rasio penyalut antara kombinasi bahan penyalut maltodekstrin dan natrium kaseinat yang terbaik. Penelitian ini dilakukan dalam empat tahapan yaitu pembuatan pepton cair dengan ikan HTS yang sudah dibusukkan selama 12 jam, lalu dimikroenkapsulasi dengan bahan penyalut maltodekstrin dan natrium kaseinat, dan kemudian mengujicobakan mikroenkapsulat pepton yang sudah dikarakterisasi untuk media pertumbuhan bakteri S. aureus dan E. coli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio penyalut antara kombinasi bahan penyalut maltodekstrin dan natrium kaseinat yang terbaik adalah 75:25. Mikroenkapsulat pepton ikan HTS multispesies busuk memiliki komposisi kimia yaitu kadar air 6,61%, kadar abu 1,67%, kadar protein 32,40%, dan kadar lemak 0,38%. Karakteristik kimia produk yang dihasilkan antara lain kelarutan 45,28%, total nitrogen 4,20%, α-amino nitrogen bebas 0,21 g/100 g, AN/TN 5%, kadar garam 0,40%, pH 5,66, dan gula pereduksi 16,22%. Karakteristik fisik yang diukur adalah derajat putih dengan nilai 95,37%. Nilai aktivitas air (aw) produk pada saat 4 jam pertama menunjukkan nilai lebih rendah daripada nilai aw standard yaitu ≤0,53. Hasil pengukuran Optical Density (OD) menunjukkan adanya pola pertumbuhan pada bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.Pepton merupakan salah satu produk yang bersifat higroskopis ketika terkena udara, mudah berikatan dengan air, dan mengalami penggumpalan selama penyimpanan, sehingga mudah mengalami kerusakan mutu secara fisik dan kimiawi. Penelitian ini bertujuan membuat mikroenkapsulat pepton ikan hasil tangkapan sampingan (HTS) multispesies busuk dengan rasio penyalut antara kombinasi bahan penyalut maltodekstrin dan natrium kaseinat yang terbaik. Penelitian ini dilakukan dalam empat tahapan yaitu pembuatan pepton cair dengan ikan HTS yang sudah dibusukkan selama 12 jam, lalu dimikroenkapsulasi dengan bahan penyalut maltodekstrin dan natrium kaseinat, dan kemudian mengujicobakan mikroenkapsulat pepton yang sudah dikarakterisasi untuk media pertumbuhan bakteri S. aureus dan E. coli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio penyalut antara kombinasi bahan penyalut maltodekstrin dan natrium kaseinat yang terbaik adalah 75:25. Mikroenkapsulat pepton ikan HTS multispesies busuk memiliki komposisi kimia yaitu kadar air 6,61%, kadar abu 1,67%, kadar protein 32,40%, dan kadar lemak 0,38%. Karakteristik kimia produk yang dihasilkan antara lain kelarutan 45,28%, total nitrogen 4,20%, α-amino nitrogen bebas 0,21 g/100 g, AN/TN 5%, kadar garam 0,40%, pH 5,66, dan gula pereduksi 16,22%. Karakteristik fisik yang diukur adalah derajat putih dengan nilai 95,37%. Nilai aktivitas air (aw) produk pada saat 4 jam pertama menunjukkan nilai lebih rendah daripada nilai aw standard yaitu ≤0,53. Hasil pengukuran Optical Density (OD) menunjukkan adanya pola pertumbuhan pada bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK UREA DENGAN DOSIS BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT (Caulerpa lentillifera)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk urea dengan dosis berbeda terhadap pertumbuhan rumput laut (Caulerpa lentillifera). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan yaitu perlakuan A (kontrol tanpa pemberian pupuk urea 0 mg/L), perlakuan B (pemberian pupuk urea 27 mg/L), perlakuan C (pemberian pupuk urea 47 mg/L), dan perlakuan D (pemberian pupuk 67 mg/L). Parameter yang diuji adalah tingkat pertumbuhan mutlak dan tingkat pertumbuhan spesifik. Analisis data menggunakan ANOVA. Biota rumput laut (Caulerpa lentillifera) dengan berat rata-rata 200 g (total 2.400 g), masing-masing 200 g rumput laut (Caulerpa lentillifera) dimasukkan ke dalam akuarium berukuran 40x40x35 cm dengan lama pemeliharaan 35 hari. Pertumbuhan mutlak diperoleh pada perlakuan A (tanpa pemberian pupuk) yaitu sebesar -111 g, kedua perlakuan D sebesar -115 g, ketiga perlakuan C sebesar -129,3 g, dan terendah pada perlakuan B sebesar -135,7 g. Pertumbuhan spesifik diperoleh pada perlakuan A (tanpa pemberian pupuk) yaitu sebesar -2,68 g, kedua perlakuan D sebesar -2,74 g, ketiga perlakuan C sebesar -3,00 g, dan terendah adalah perlakuan B sebesar -3,28 g. Berdasarkan hasil uji ANOVA dapat disimpulkan bahwa penelitian yang dilakukan dengan penambahan pupuk urea dengan dosis yang berbeda tidak memiliki efek yang nyata (P>0,05) terhadap pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan spesifik rumput laut (Caulerpa lentillifera).This study aims to determine the effect of different doses of urea fertilizer on the growth of seaweed (Caulerpa lentillifera). The research utilized a Completely Randomized Design (CRD) with four treatments and three replications: treatment A (control without urea fertilizer application at 0 mg/L), treatment B (urea fertilizer application at 27 mg/L), treatment C (urea fertilizer application at 47 mg/L), and treatment D (urea fertilizer application at 67 mg/L). The parameters tested were absolute growth rate and specific growth rate. Data analysis was conducted using ANOVA. Seaweed (Caulerpa lentillifera) specimens, with an average weight of 200 g (totaling 2,400 g), each of 200 g samples were placed in aquariums sized 40x40x35 cm and maintained for 35 days. The absolute growth rate obtained for treatment A (without fertilizer application) was -111 g, for Treatment D was -115 g, for treatment C was -129.3 g, and the lowest was observed for treatment B at -135.7 g. The specific growth rate obtained for treatment A (without fertilizer application) was -2.68 g, for treatment D was -2.74 g, for treatment C was -3.00 g, and the lowest was observed for treatment B at -3.28 g. Based on the results of the ANOVA test, it can be concluded that the addition of urea fertilizer at different doses did not have a significant effect (P>0.05) on the absolute growth rate and specific growth rate of the seaweed (Caulerpa lentillifera)
ANALISIS KONDISI POPULASI DAN KEBERLANJUTAN PERIKANAN LEMURU (Sardinella lemuru) DI TELUK AWANG KABUPATEN LOMBOK TENGAH
Lemuru (Sardinella lemuru) merupakan salah satu ikan pelagis kecil yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat di Pulau Lombok, tidak hanya dalam pemenuhan kebutuhan pangan skala rumah tangga, namun juga dijadikan sebagai salah satu bahan baku pada skala industri. Keadaan tersebut menyebabkan tingginya tingkat pemanfaatan ikan lemuru di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Teluk Awang merupakan salah satu sentra penangkapan lemuru di provinsi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan kondisi populasi dan status keberlanjutan perikanan lemuru di Teluk Awang berdasarkan kondisi biologi perikanannya. Pengambilan sampel ikan lemuru dilakukan di Teluk Awang selama bulan Juli-Augustus tahun 2022. Sampel ikan (n=306 ekor) diukur panjang dan beratnya. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa populasi ikan lemuru memiliki pola pertumbuhan alometrik negatif yang artinya bentuk tubuhnya kurus. Populasi ikan tersebut didominasi lemuru muda dengan ukuran kisaran panjang cagak 6,40-16,20 cm dan berat 3,0-39,0 g. Lemuru yang layak maturasi sebanyak 30%, layak tangkap 30%, dan layak konsumsi 37%. Nilai parameter kelayakan yang berkisar di bawah 50% mengindikasikan bahwa kegiatan perikanan lemuru selama bulan Juli-Agustus dapat dikatakan kurang berkelanjutan. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu informasi dasar bagi pemerintah daerah setempat dalam menyusun kebijakan pengelolaan perikanan lemuru di Provinsi NTB.Bali Sardinella (Sardinella lemuru) is one of the small pelagic fish widely utilized by people in Lombok island. It serves not only to meet food needs on a household scale but also as a raw material on an industrial scale. This causes a high level of utilization of the Bali Sardinella in West Nusa Tenggara (WNT) Province. Awang Bay is one of the fishing ground centers in the province. This study aimed to determine and describe the population condition and sustainability status of the Bali Sardinella fishery in the Awang Bay based on the biological fisheries condition. The sampling was carried out in Awang Bay from July to August 2022. A total of 306 individuals of fish were sampled and measured for length and weight. This study found that the fish population had a negative allometric growth pattern, indicating a thin body shape. The population was dominated by young fish with 6,40-16,20 cm fork length and 3,0-39,0 g weight. The proportion of fish population that are suitable for maturation, catching, and consumption was 30%, 30%, and 37%, respectively. Feasibility parameter values ranging below 50% indicated that Bali Sardinella fishery activities from July until August were less sustainable. The results of this study can be used as one of the basic information for the local government in developing fisheries management policies in the WNT Province