Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
    337 research outputs found

    PERBANDINGAN KOMPONEN PASANG SURUT YANG DIPEROLEH MELALUI PENGUKURAN TIDE GAUGE DAN SATELIT ALTIMETRI

    Full text link
    Pasang surut adalah fluktuasi muka air laut sebagai fungsi waktu karena adanya gaya tarik benda-benda di langit, terutama matahari dan bulan terhadap massa air laut di bumi. Selain dengan adanya pengamatan tradisional menggunakan tide gauge, komponen pasang surut dapat ditentukan menggunakan satelit altimetri. Penggunaan tide gauge, hasil ekstraksi komponen pasang surut hanya dapat dilakukan secara akurat karena memiliki resolusi temporal yang sangat baik meskipun hanya tersedia pada titik-titik stasiun tersebut didirikan saja. Hal ini berkebalikan dengan yang menggunakan satelit altimetri. Data yang didapatkan dari satelit altimetri perlu diolah agar mendapatkan nilai sea surface height yang selanjutnya digunakan untuk penentuan komponen pasang surut dengan analisis harmonik metode kuadrat terkecil pada banyak titik yang berada di permukaan bumi. Akan tetapi, resolusi temporal yang lebih rendah daripada tide gauge juga menjadi batasan dalam pengestraksian komponen pasut. Tujuan penelitian adalah mengekstraksi sea surface height data satelit altimetri Jason-3 dan membandingkan hasil ekstraksi tersebut dengan pengamatan manual. Hasil dari penelitian ini adalah nilai amplitudo dan fase dari tiap komponen pasang surut. Kemudian dilakukan perbandingan dengan hasil komponen dari data pengamatan stasiun pasang surut. Didapatkan bahwa perbedaan rata-rata (RMSE) terbesar sebesar 0,360 m pada komponen pasang surut K1 dan RMSE terkecil yaitu sebesar 0,003 m pada komponen pasang surut M4.Tidal variations, which result from the gravitational forces imposed by celestial bodies such as the sun and moon on the earth\u27s masses of water, exhibit recurring alterations in the levels of the oceans. The conventional approach for monitoring tides entails the use of tidal gauges, however, satellite altimetry offers an alternate means of measurement. Tide gauges provide accurate measurements, albeit their effectiveness is contingent upon their specific geographical placement. On the other hand, altimetry satellites provide worldwide coverage, but with less temporal resolution. A least squares harmonic analysis is employed to examine tidal components using altimetry satellites. Nevertheless, this approach has a diminished temporal resolution in comparison to tide gauges. The present work aims to extract sea surface height data of the Jason-3 altimetry satellites to estimate sea surface heights, and subsequently compares these estimates with human tidal gauge readings. The study centers on the measuring of amplitude and phase of individual tidal components. The findings of this study reveal that the K1 tidal component demonstrates the biggest average difference, as measured by the root mean square error (RMSE), with a value of 0.360 m

    ESTIMASI RADIUS DEFORMASI UPWELLING DARI DATA SATELIT DAN ARGO FLOAT

    Full text link
    Upwelling adalah proses naiknya massa air laut dari lapisan bawah ke permukaan akibat perbedaan tekanan permukaan. Terjadi proses upwelling akan meningkatkan kesuburan perairan karena massa air di lapisan dalam naik ke permukaan yang kaya nutrisi yang dibutuhkan fitoplankton untuk berkembang. Luas sebaran daerah upwelling (radius deformasi) akan menentukan dampak proses upwelling di perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses upwelling dan radius deformasi dari data satelit sensor termal. Data yang digunakan adalah data satelit termal harian dan rata-rata bulanan selama tahun 2014-2018. Data dari buoy Argo digunakan untuk memvalidasi data satelit dan menghitung radius deformasi upwelling. Analisis statistik seperti korelasi, Root Mean Square Error (RMSE), bias, dan standar deviasi digunakan untuk menguji keakuratan perkiraan data Suhu Permukaan Laut (SPL) dari satelit. Data perhitungan radius deformasi dari Argo menunjukkan bahwa pada musim timur terjadi upwelling, SPL berkisaran antara 24-26ºC, normalnya berkisaran antara 27-29ºC. Korelasi antara SPL dari data satelit dan data SPL dari Argo adalah 0,92, nilai RMSE 0,0236, bias 0,017, dan standar deviasi 0,287. Koefisien korelasi antara radius deformasi dari data in situ dan data satelit yang dihitung tinggi (r=0,9) menunjukkan bahwa citra satelit dapat digunakan untuk menentukan radius deformasi.Upwelling is the process of seawater mass rising from the lower layers to the surface due to surface pressure differences. The upwelling process will increase the fertility of the waters because the water mass in the deep layer rises to the surface which is rich in nutrients needed by phytoplankton to grow. The extent of the upwelling area (deformation radius) will determine the impact of the upwelling process in the waters. This research aims to analyze the upwelling process and deformation radius from thermal sensor satellite data. The data used were daily thermal satellite data and monthly averages during 2014-2018. Data from the Argo buoy was used to validate the satellite data and calculate the upwelling deformation radius. Statistical analyses such as correlation, Root Mean Square Error (RMSE), bias, and standard deviation were applied to test the accuracy of the satellite estimation of the Sea Surface Temperature (SST) data. Deformation radius calculation data from Argo showed that in the eastern season of upwelling, the SST ranged between 24 to 26ºC, otherwise normally it ranged between 27 to 29ºC. The correlation between SPL from satellite data and SPL data from Argo is 0.92, the RMSE value was 0.0236, the bias was 0.017, and the standard deviation was 0.287. The correlation coefficient between the deformation radius from in situ data and satellite data was calculated to be high (r=0.9), indicating that satellite imagery can be used to determine the deformation radius

    PENDUGAAN POTENSI LESTARI IKAN LAYANG BIRU (Decapterus macarellus) DI PERAIRAN SEBELAH BARAT SUMATERA UTARA

    Full text link
    Penangkapan ikan layang biru yang dilakukan secara terus-menerus, tidak terkontrol, dan tidak adanya proses rekruitmen akan menyebabkan stok ikan mengalami degradasi. Sebagian besar stok ikan layang biru saat ini bergantung pada sumber daya alam, yang menyebabkan stok dan kelimpahan ikan tidak stabil, jika ditangkap tanpa adanya pengelolaan yang baik. Oleh karena itu perlu dilakukan kajian terkait dengan pendugaan potensi lestari ikan layang biru. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung Catch Per Unit Effort (CPUE), mengkaji nilai Maximum Sustainable Yield (MSY), dan Total Allowable Catch (TAC/JTB) ikan layang biru. Penelitian dilaksanakan di PPN Sibolga dengan metode pengumpulan data secara survei, sementara metode surplus produksi dianalisis dengan model Schaefer. Hasil penelitian diperoleh bahwa nilai CPUE standarisasi pada 2018 sebesar 0,639 ton/trip, pada 2019 mengalami peningkatan menjadi 0,764 ton/trip, pada 2020 menurun menjadi 0,527 ton/trip, pada 2021 menjadi 0,506 ton/trip, dan pada 2022 meningkat menjadi 0,639 ton/trip. Alat tangkap pukat cincin merupakan alat tangkap yang paling berperan dalam sumber daya ikan layang biru. Sementara itu, nilai CMSY dengan menggunakan model scheafer diperoleh 8.699,7 sehingga disimpulkan bahwa status penangkapannya sudah fully exploited. Sedangkan nilai FMSY diperoleh sebesar 5.447 trip, dimana statusnya sudah overfishing karena upaya penangkapan setiap tahunnya sudah berada di atas nilai FMSY. Jumlah tangkapan yang diperbolehkan (TAC/JTB) sebesar 6.959,7 ton.Uncontrolled, continuous fishing activities and the absence of recruitment processes are indicated to lead to the degradation of fish species. A significant portion of the mackerel scad stock currently relies on natural resources, resulting in unstable fish stocks and abundance when captured without proper management. This research aims to calculate the Catch Per Unit Effort (CPUE), and evaluate the Maximum Sustainable Yield (MSY), and Total Allowable Catch (TAC/JTB) of mackerel scad. The study was conducted at the Sibolga Fishing Port with data collection carried out through surveys and utilizing the surplus production method of the Schaefer model. The findings indicated that the CPUE value in 2018 was 0,639 tons per trip, which increased to 0,764 tons per trip in 2019, then decreased to 0,527 tons per trip in 2020, and further reduced to 0,506 tons per trip in 2021. However, in 2022 it increased, back to 0,639 tons per trip again. Purse seine gear emerged as the most influential fishing method for mackerel scad resources, experiencing fluctuations in effort levels every year. In the meantime, the CMSY value from the Schaefer model was 8,699.7, leading to the conclusion that the fishing status is already fully exploited. Meanwhile, the FMSY value was  5,447 trips, indicating an overfishing situation since the annual catch effort has exceeded the FMSY value. The allowable catch limit (TAC/JTB) was set at 6,959.7 tons

    KARAKTER MORFOLOGIS DAN KOMPOSISI UKURAN UDANG GALAH HASIL TANGKAPAN BUBU DI SUNGAI KAYAN, KABUPATEN BULUNGAN

    Full text link
    Karakter morfologis merupakan informasi penting dalam pengkayaan data ilmiah spesies pada pengetahuan taksonomi dan pemahaman variasi ukuran yang terkait dengan aktivitas penangkapan dan lingkungannya. Sumberdaya udang galah di Sungai Kayan memiliki ragam ukuran dan karakteristik morfologis yang belum terlaporkan secara ilmiah, termasuk komposisi ukurannya. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis karakter morfologis dan komposisi ukuran udang galah (Macrobrachium spp.) di Sungai Kayan, Kabupaten Bulungan. Penelitian dilaksanakan dari Januari-Maret 2023 di Perairan Sungai Kayan Kabupaten Bulungan. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 12 kali, dengan jumlah sampel sebanyak 30 ekor per sampling (total 360 data). Data yang diambil meliputi: jenis kelamin, kondisi galah, warna, abdomen, karapas, rostum, uropoda, kaki jalan, kaki renang, dan alat kelamin. Hasil penelitian didapatkan karakteristik corak udang yaitu warna hijau kebiruan, hijau kecoklatan, hijau kekuningan, dan hijau putih. Udang galah jantan dan betina memiliki kesamaan berupa 5 ruas galah berwarna biru kehijauan dan ujung capitnya warna coklat yang bentuknya seperti lumpur dengan tekstur kasar, terdapat 5 kaki jalan dan 5 kaki renang, namun perbedaannya dari capit dan duri lebih besar udang galah jantan. Komposisi ukuran panjang total terbentuk 9 kelas dengan kisaran ukuran 8,4-26,2 cm, panjang karapas kisaran 2,9-9,9 cm, panjang abdomen 5,4-14,5 cm, dan komposisi berat 5,0-245 g.The morphological characters are important information in the enrichment of scientific data of species in taxonomy knowledge and understanding the size variations associated with fishing activity aspect and its environment. The utilization of giant prawns in Kayan River produces many kinds of sizes and morphologic characters with have not been scientifically reported. The research aims to analyze the morphological characters and size composition of giant prawns (Macrobrachium spp.) in Kayan River, Bulungan Regency. The research was carried out from January to March 2023. Sampling was conducted 12 times with 30 individuals per sampling (a total of 360 individuals). Data collected include sex, chela pereiopods, color, abdomen, carapace, rostrum, uropods, walking legs, swimming legs, and genitals. The research results showed that the characteristics of shrimp patterns were bluish-green, brownish-green, yellowish-green, and white-green. Male and female prawns had similarities in the 5 greenish blue pole segments and brown claw tips a mud-like shape with a rough texture, and leg spines with 5 walking legs, and 5 swimming legs, but the difference between the claws and spines was that the male has bigger. The total length composition was formed into 9 classes with a size range of 8.4-26.2 cm, carapace length range of 2.9-9.9 cm, abdomen length of 5.4-14.5 cm, and weight composition of 5.0-245 g

    KONDISI OSEANOGRAFI DAN KESESUAIAN LOKASI BUDIDAYA LOBSTER DI PERAIRAN TELUK PIDADA, LAMPUNG

    Full text link
    Kondisi oseanografi dan pemilihan lokasi adalah faktor penting dalam keberhasilan dan keberlanjutan kegiatan budidaya lobster laut menggunakan sistem keramba jaring apung. Salah satu kendala budidaya lobster adalah belum adanya aturan khusus mengenai kriteria kesesuaian lokasi budidaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kriteria dan lokasi yang sesuai untuk budidaya lobster di sekitar perairan Teluk Pidada. Dasar kriteria yang digunakan adalah kesesuaian kondisi oseanografi dan kualitas air laut terhadap konstruksi keramba jaring apung dan habitat alamiah lobster. Metode analisis spasial menggunakan sistem informasi geografi dengan sistem pembobotan digunakan dalam penentuan lokasi yang sesuai untuk budidaya, yang mencakup kecerahan, kekeruhan, TSS, klorofil-a, DO, nitrat, fosfat, amonia, pH, TOM, dan salinitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 9 dari 15 parameter memiliki kondisi yang sangat sesuai. Hasil studi analisis kesesuaian wilayah memperlihatkan bahwa 78,8% perairan atau seluas 2.890,8 ha dalam kategori sangat sesuai, kemudian hanya 21,2% perairan atau seluas 755,2 ha yang tergolong sesuai, dan tidak ditemukan kategori tidak sesuai di perairan Teluk Pidada. Hampir sebagian besar wilayah teluk sesuai untuk budidaya lobster, namun sebagian titik berlokasi agak menjauh dari daratan karena tingginya nutrien dan run-off kurang sesuai untuk kegiatan budidaya.Oceanographic conditions and site selection are important factors in the success and sustainability of lobster culture using a floating net cage system. One of the obstacles to lobster cultivation is that there are no specific criteria yet regarding the suitability criteria for the aquaculture locations. This research aims to determine the requirements and appropriate locations for lobster aquaculture around Pidada Bay. The basic criteria used were the suitability of oceanographic conditions and seawater quality for the construction of floating net cages and the natural habitat of lobsters. Spatial analysis methods used a geographic information system, based on a weighted system to assess the suitability of oceanographic conditions for aquaculture, including transparency, turbidity, TSS, chlorophyll-a, dissolved oxygen, nitrate, phosphate, ammonia, pH, total organic matter, and salinity. The results showed that 9 of 15 criteria were classified as very suitable for lobster cultivation. The area suitability analysis study showed that 78.8% of the waters, or 2.890,8 ha, were categorized as suitable areas; only 21.2%, or 755.2 ha, are classified as suitable, and no unsuitable category was found in the waters of Pidada Bay. The majority of the bay area is suitable for lobster cultivation, some areas located quite far from land are unsuitable for cultivation activities due to high levels of nutrients runoff

    ASOSIASI KUDA LAUT (Hippocampus sp.) PADA EKOSISTEM LAMUN DI PESISIR UTARA PULAU BINTAN

    Full text link
    Pulau Bintan merupakan salah satu wilayah persebaran ekosistem lamun di wilayah Perairan Indonesia. Ekosistem lamun memiliki peran sebagai tempat asuhan dan memijah bagi beberpa organisme laut termasuk diantaranya kuda laut. Setidaknya terdapat tujuh jenis kuda laut yang dilaporkan yang hidup di perairan Pulau Bintan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis dan tutupan lamun, mengidentifikasi jenis serta menentukan kepadatan kuda laut yang berada di ekosistem lamun dan menentukan keterkaitan kondisi ekosistem lamun dengan kehadiran kuda laut di Perairan Bintan Utara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2023 di pesisir utara Pulau Bintan meliputi perairan Sebong Pereh, Sebong Lagoi, dan Sakera. Tutupan lamun diambil dengan metode transek kuadrat serta pengambilan data kuda laut dilakukan pada area pengamatan ekosistem lamun menggunakan metode visual sensus pada transek dengan ukuran 100x100 m. Ditemukan sebanyak tujuh jenis lamun pada penelitian ini, yang didominasi jenis Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii. Tutupan lamun tertinggi ditemukan di Perairan Sebong Lagoi yaitu sebesar 60,61%. Terdapat dua jenis kuda laut yang ditemukan di dalam penelitian ini yaitu jenis Hippocampus kuda dan Hippocampus comes. Jenis Hippocampus kuda lebih dominan ditemukan. Berdasarkan analisis PCA terdapat keterkaitan antara kepadatan kuda laut dengan tutupan lamun. Tingginya tutupan lamun berdampak kepada tingginya kepadatan kuda laut.Bintan Island is one of the areas in Indonesian waters where the seagrass ecosystem is distributed. The seagrass ecosystem serves as habitat for maintenance and spawning for various marine biota, including seahorses. At least seven types of seahorses are reported to live in the waters of Bintan Island. This research aims to determine the type and cover of seagrass, identify the type and the density of seahorses in the seagrass ecosystem, and determine the relationship between the condition of the seagrass ecosystem and the presence of seahorses in North Bintan waters. This research was carried out on May-June 2023 the north coast of Bintan Island. There are three stations in this research: Sebong Pereh, Sebong Lagoi, and Sakera. Seagrass cover was taken using the quadrat transect method, and seahorse data collection was carried out in the seagrass ecosystem observation area using the visual census method on transects measuring 100x100 m. Seven types of seagrass were found in this study, dominated by Enhalus acoroides and Thalassia hemprichii. The highest seagrass coverage was found in Sebong Lagoi Waters (60.61%). Two species of the seahorses are found in this study, namely Hippocampus kuda and Hippocampus comes. Hippocampus kuda was more dominant than Hippocampus comes. Based on PCA analysis, there was a relationship between seahorse density and seagrass coverage. The high seagrass coverage has an impact on the high density of seahorse

    BIOLOGI REPRODUKSI IKAN PEPETEK (Leiognathus equula) DI PESISIR PERAIRAN CILINCING, JAKARTA UTARA

    Full text link
    Ikan pepetek (Leiognathus equula) merupakan salah satu ikan demersal yang banyak ditangkap di perairan pesisir Cilincing dan memiliki nilai yang cukup penting karena dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat Cilincing baik dalam bentuk segar maupun kering. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek reproduksi ikan tersebut. Data sampel yang dikumpulkan meliputi panjang total, berat, dan aspek reproduksi. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret-Juli 2023. Sampel ikan ditangkap menggunakan alat tangkap jaring insang (ukuran mata jarring 1-2 inci). Hasil penelitian diperoleh total 150 ekor ikan pepetek (52 ekor jantan dan 98 ekor betina), hubungan panjang-berat ikan adalah W = 0.1682L2.0979 (jantan) dan W = 0.0169L2.9941 (betina). Tingkat kematangan gonad ikan pepetek betina menyebar dari TKG III sampai TKG IV, dan TKG ikan pepetek jantan menyebar dari TKG I sampai TKG IV. Berdasarkan tingkat kematangan gonad dan indeks somatik gonad, pemijahan terjadi sekitar bulan Juni dan Juli. Fekunditas ikan pepetek berkisar antara 108.287-362.667 telur. Diameter telur berkisar antara 0,18-0,514 mm, berdasarkan sebaran telur, ikan pepetek diperkirakan memiliki tipe pemijahan total.Ponyfish (Leiognathus equula) is one of the demersal fish that is widely caught in the coastal waters of Cilincing and has quite significant value because it is consumed by most of the Cilincing community both in fresh and dried form. This study aims to analyze the reproductive aspects of the fish. Sample data collected include total length, weight, and reproductive aspects. This research was conducted in March-July 2023. Fish samples were collected using gill net (mesh size 1-2 inches). The results obtained a total of 150 ponyfish (52 males and 98 females), the length-weight relationship of the fish was W = 0.1682L2.0979 (males) and W = 0.0169L2.9941 (females). The gonad maturity of female ponyfish spread from maturing to mature gonads, and gonad maturity stage of male ponyfish spread from immature to mature gonads. Based on gonad maturity and gonad somatic index, spawning occured around June and July. Fecundity of ponyfish ranged 108,287-362,667 oocytes. Oocytes diameter ranged 0.18-0.514 mm, based on the distribution of oocytes, ponyfish is thought to have a total spawner type

    STATUS KEBERLANJUTAN EKOWISATA HUTAN MANGROVE DI DESA PURWOREJO, KECAMATAN PASIR SAKTI, LAMPUNG TIMUR

    Full text link
    Masyarakat Purworejo mulai menanam mangrove untuk mencegah abrasi dan pasang naik sampai ke pemukiman masyarakat. Pengelolaan sumberdaya hutan mangrove dilakukan sejak tahun 2011 dan membuka ekowisata pada tahun 2018. Pengelolaan ekowisata di Desa Purworejo tidak berjalan dengan baik, oleh karena itu diperlukan upaya untuk meningkatkan keberlanjutan dalam pengelolaan ekowisata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status keberlanjutan ekowisata hutan mangrove di Desa Purworejo berdasarkan dimensi keberlanjutan (ekologi, ekonomi, dan kelembagaan) dan menganalisis faktor yang memengaruhi indeks keberlanjutan ekowisata hutan mangrove di Desa Purworejo. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juni hingga Agustus 2022, di kawasan wisata mangrove Register 15, Desa Purworejo, Kecamatan Pasir Sakti, Kabupaten Lampung Timur. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Analisis data yang digunakan adalah Multidimensional Scaling (MDS) dengan bantuan aplikasi Rapfish dan analisis Leverage. Hasil penelitian menunjukkan nilai status keberlanjutan ekowisata yaitu 51,82 dalam ketegori indeks 50,01-75,00 atau cukup berkelanjutan. Atribut yang memengaruhi nilai indeksi keberlanjutan yaitu tipe substrat, potensi penjualan bibit mangrove, dan ketersediaan peraturan perencanaan. Hasil tersebut membuktikan bahwa ekowisata dapat beroperasi dengan baik melalui peningkatan beberapa faktor pendukung untuk ekowisata yang berkelanjutan.The Community of Purworejo has started planting mangroves to prevent abrasion and high tides from reaching community settlements. Mangrove forest resource management has been carried out since 2011 and opened ecotourism in 2018. Ecotourism management in Purworejo Village was not going well, therefore efforts were needed to increase sustainability in ecotourism management. This research aims to analyze the sustainability status of mangrove forest ecotourism in Purworejo Village based on sustainability dimensions (ecological, economic, and institutional) and analyze the factors that influence the sustainability index of mangrove forest ecotourism in Purworejo Village. This research was carried out from June to August 2022, in the Register 15 mangrove area, Purworejo Village, Pasir Sakti District, East Lampung Regency. The method used was qualitative with descriptive research type. The data analysis used was Multidimensional Scaling (MDS) using the Rapfish application and Leverage analysis. The results of this research show that the ecotourism sustainability status value was 51.82 in the category index 50.01-75.00 or quite sustainable. The most influential attributes for the sustainability index value were substrate type, sales potential for mangrove seeds, and availability of planning regulations. These results prove that ecotourism can operate well by improving several supporting factors for sustainable ecotourism

    KOMPOSISI DAN PRODUKSI HASIL TANGKAPAN DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI LARANGAN, KABUPATEN TEGAL

    Full text link
    Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Larangan menjadi pusat kegiatan perikanan tangkap di Kabupaten Tegal, yang didominasi nelayan skala kecil. Alat tangkap utama di PPP Larangan adalah mini purse seine dan payang gemplo. Pelaksanaan metode penangkapan ikan yang tidak dilakukan dengan pengelolaan yang tepat akan berakibat pada menurunnya stok ikan dan terganggunya ekosistem laut. Perhitungan produktivitas dilakukan untuk mengetahui kapasitas produksi armada dengan membandingkan jumlah produksi dan lama waktu operasi penangkapan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai produksi hasil tangkapan dan komposisi hasil tangkapan utama dan hasil tangkapan sampingan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam mengenai efisiensi operasional dalam penggunaan alat tangkap mini purse seine dan payang gemplo. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 5 spesies hasil tangkapan utama yaitu: teri/teri gelagah (Stolephorus commersonnii), teri nasi (Stolephorus indicus), tembang (Sardinella fimbriata), kembung (Rastrellinger sp.), dan peperek (Leiognathidae), serta 7 hasil tangkapan sampingan yaitu: beloso (Glossogobius giuris), serinding (Ambassis naula), japuh (Dussumieria acuta), cumi-cumi (Loligo sp.), udang (Metapenaeus monoceros), golok-golok (Chirocentrus dorab), dan ikan layur (Trichiurus lepturus). Nilai produksi hasil tangkapan yang didaratkan di PPP Larangan tertinggi terjadi pada tahun 2022 dengan nilai mencapai Rp 19.665.602.500, sementara paling rendah pada tahun 2019 senilai Rp 10.355.377.50.The Larangan Coastal Fisheries Port is a center of capture fisheries activities in Tegal Regency, dominated by small-scale fishermen. The main fishing gear utilized in the Larangan fishery port includes mini purse seines and seine nets. Improper management of these fishing methods can lead to a decline in fish stocks and disruption of the marine ecosystem. Productivity calculations were carried out to determine the production capacity of fishing boats by comparing the number of production with the duration of fishing operations. This study aims to analyze the economic value derived from the number of catches, as well as the composition of the main catch and bycatch. The results of this study are expected to provide deeper insights into the operational efficiency of mini purse seine and seine net fishing gear. Based on the results of the study, there are five main species of catch: Commerson’s anchovies (Stolephorus commersonnii), Indian anchovies (Stolephorus indicus), fringescale sardinella (Sardinella fimbriata), mackerel (Rastrelliger sp.), and ponyfish (Leiognathidae). Additionally, seven bycatch species were identified: tank goby (Glossogobius giuris), Asiatic glassfish (Ambassis naula), rainbow sardine (Dussumieria acuta), squid (Loligo sp.), shrimp (Metapenaeus monoceros), wolf-herring (Chirocentrus dorab), and largehead hairtail (Trichiurus lepturus). The highest production value of catches landed at PPP Larangan occurred in 2022, with a value of IDR 19,665,602,500, while the lowest production value in 2019 was IDR 10,355,377,500

    PENILAIAN DOMAIN SOSIAL EKONOMI DARI PENDEKATAN EAFM PADA PERIKANAN LEMURU DI PERAIRAN SELAT BALI

    Full text link
    Bali Sardinella (Sardinella lemuru) is a small pelagic species that is the focus of commercial fisheries and the primary target catch for fishermen at the fishery port of Pengambengan. This research aims to assess the management status of the Bali Sardinella fisheries at the fishery port of Pengambengan based on social and economic domains using the Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM). This study is a survey research with a quantitative descriptive approach, using interviews and observations as data collection instruments. The data are obtained from interviews and observations of fishermen at the fishery port of Pengambengan. Fishermen respondents were randomly selected and considered representative, focusing on the lemuru species caught using purse seine fishing gear. Data analysis uses the EAFM analysis on social and economic domains, the flag model technique, and management actions for Bali Sardinella in the Bali Strait Waters. In terms of the social domain, fishermen at the fishery port of Pengambengan had a high category and were given a green flag, while in the economic domain, fishermen in the fishery port of Pengambengan fell into the low category, thus being given a red flag. The management actions for Bali Sardinella fisheries in the Bali Strait Waters, particularly those landed at PPN Pengambengan, are prioritized in the economic domain by increasing household income and savings ratio to improve the future economic condition of the fishermen at PPN Pengambengan.Lemuru (Sardinella lemuru) merupakan salah satu spesies pelagis kecil yang menjadi fokus perikanan komersial, serta menjadi target hasil tangkapan utama nelayan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai status pengelolaan perikanan lemuru di PPN Pengambengan berdasarkan domain sosial dan ekonomi melalui pendekatan EAFM (Ecosystem Approach to Fisheries Management). Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan observasi. Data diperoleh dari hasil wawancara dan observasi terhadap nelayan yang ada di PPN Pengambengan. Responden nelayan yang dipilih secara acak dan memiliki jumlah yang dianggap representatif, serta difokuskan pada jenis ikan lemuru yang diperoleh dari alat tangkap purse seine. Analisis data yang digunakan adalah analisis EAFM pada domain sosial dan ekonomi, teknik flag model, dan tindakan pengelolaan perikanan lemuru (Sardinella lemuru) di Perairan Selat Bali. Ditinjau dari domain sosial nelayan di PPN Pengambengan memiliki kategori tinggi dan diberikan bendera berwarna hijau, sedangkan untuk domain ekonomi nelayan di PPN Pengambengan memiliki kategori rendah, sehingga diberikan bendera berwarna merah. Adapun tindakan pengelolaan perikanan lemuru di Perairan Selat Bali, khususnya yang didaratkan di PPN Pengambengan diprioritaskan pada domain ekonomi yaitu dengan cara meningkatkan pendapatan Rumah Tangga Perikanan (RTP) dan rasio tabungan (saving ratio) agar kedepannya perekonomian nelayan yang berada di PPN Pengambengan mengalami peningkatan

    329

    full texts

    337

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇