Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
337 research outputs found
Sort by
POLA MUSIM DAN KELAYAKAN USAHA PENANGKAPAN PANCING ULUR DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI PONDOKDADAP KABUPATEN MALANG
Perubahan pola musim penangkapan ikan hasil tangkapan utama dan peningkatan armada dapat mengakibatkan kerugian bagi nelayan pancing ulur, sehingga diperlukan analisis pola musim dan kelayakan usaha penangkapan pancing ulur. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola musim penangkapan dan kelayakan usaha pancing ulur. Data primer berupa nilai investasi, biaya operasional, dan nilai pendapatan diambil dari kapal berukuran 10-19 GT dan 20-29 GT untuk mewakili ukuran kapal yang mendominasi, sedangkan data sekunder berupa data logbook kapal pancing ulur diambil dengan melakukan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat enam jenis ikan hasil tangkapan utama yang didominasi dari spesies TCT, yaitu ikan tuna dengan musim puncak pada bulan Mei-Agustus, cakalang pada bulan Juni, dan tongkol pada bulan Oktober. Armada pancing ulur 10-19 GT dan 20-29 GT berturut-turut memiliki nilai keuntungan bersih Rp 132.849.798,00 dan Rp 211.122.924,00; nilai R/C ratio 1,77 dan 1,83; nilai PP 2,35 dan 2,85; nilai BEP penjualan Rp 72.868.128,00 dan Rp 98.133.162,00; BEP unit 3234 kg dan 5205 kg; serta nilai ROI 43% dan 35%.Changes in fishing season patterns, main catches, and the increase in fishing boat can result in losses for handline fishermen. Therefore, an analysis of seasonal patterns and the feasibility of handline fishing operations is necessary. This research aims to analyze the seasonal fishing patterns and the feasibility of handline fishing. Primary data including investment values, operational costs, and income values, were collected from fishing vessels sized 10-19 GT and 20-29 GT, representing the predominant vessel sizes. Additionally, secondary data, such as handline fishing vessel logbook data, were obtained through literature studies. The results reveal six main catch species, with tuna being the most dominant. The peak season for tuna occurs from May to August, while skipjack tuna peaking in June and mackerel tuna in October. Handline fishing boats with the size of 10-19 GT and 20-29 GT yielded net profits of IDR 132,849,798.00 and IDR 211,122,924.00, respectively. The R/C ratio were 1.77 and 1.83, with payback periods of 2.35 and 2.85 years. The sales break-even point (BEP) were IDR 72,868,128.00 and IDR 98,133,162.00, corresponding to unit BEP values of 3,234 kg and 5,205 kg. The return of investment (ROI) was 43% for 10-19 GT vessels and 35% for the 20-29 GT vessel
PENGUKURAN NILAI TARGET STRENGTH ANAKAN IKAN GABUS (Channa striata) KONDISI TERKONTROL DENGAN SIMRAD EK-15 ECHOSOUNDER
Ikan gabus (Channa striata) merupakan ikan karnivora yang banyak ditangkap karena rasa dagingnya yang gurih. Keberadaan ikan gabus di Indonesia menyebar dengan sangat luas, namun ancaman terhadap anakan gabus secara terus menerus dapat berakhir dengan kepunahan. Hal ini menjadi penting untuk menganalisis hubungan antara Target Strength (TS) dengan panjang total anakan ikan Gabus (Channa striata), dengan menggunakan instrumen echosounder SIMRAD EK15 untuk manajemen sumber daya, serta mengevaluasi kesehatan populasi ikan gabus. Penelitian dilakukan menggunakan 15 ekor ikan gabus dengan rentang panjang badan ikan 10-15 cm, memiliki rentang nilai TS rata-rata -46,80 dB sampai -45,01 dB. Hubungan antara panjang total ikan gabus dan nilai target strength mempunyai hubungan yang kuat dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,8531 dan koefisien determinasi (R2) sebesar 0,7279, dengan persamaan TS= 64,439ln(L) -215,66.Snakehead (Channa striata) is a carnivorous fish widely caught because of its savory meat taste. The existence of the snakehead in Indonesia is widely spread, but threats that continuously run over the snakehead juveniles might make them end up in extinction. It’s become important to analyze the relationship between Target Strength (TS), and total length of snakehead juveniles using SIMRAD EK15 echosounder for resource management, as well as evaluating the health of the fish populations. The study was conducted using 15 individuals with a body length ranged 10-15 cm, and the average TS value ranged from -46.80 dB to -45.01 dB. The relationship between the total length of snakehead fish and the value of the target strength has a strong relationship (r-value of 0,8531 and a coefficient of determination (R2) of 0,7279), with the equation TS= 64,439ln(L) -215,66
PERBANDINGAN NILAI TARGET STRENGTH IKAN GABUS (Channa striata) DAN IKAN LELE (Clarias gariepinus)
Ikan lele memiliki bentuk tubuh yang lonjong dan ramping, dengan kepala yang relatif besar dan mulut yang lebar dengan kulit halus dan berwarna gelap, cenderung kehitaman atau kebiruan dengan bintik-bintik kecil berwarna putih. Ikan gabus memiliki sisik yang halus dan berwarna abu-abu kehijauan dengan bercak-bercak hitam kecil di bagian punggung dan sisi tubuhnya. Ikan gabus memiliki gelembung renang yang berkembang dengan baik namun ikan lele memiliki gelembung renang yang tidak berkembang. Penelitian bertujuan untuk mengukur nilai Target Strength (TS) ikan lele dan juga ikan gabus berdasarkan panjang dan bobotnya serta membandingkan nilai TS ikan gabus dan ikan lele berdasarkan gelembung renang yang dimiliki menggunakan splitbeam echosounder. Pengukuran dilakukan secara ex-situ pada atau pada watertank. Ikan diikat dengan tali monofilamen, jarak antara permukaan transducer dengan ikan ± 1 m. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa nilai target strength rata-rata ikan lele yaitu -55,79 dB dan ikan gabus dengan nilai TS rata-rata yaitu -50,89 dB. Ikan gabus memiliki nilai TS yang lebih besar dikarenakan memiliki ukuran panjang dan bobot yang lebih besar. Ikan gabus juga memiliki organ gelembung renang, sedangkan ikan lele memiliki gelembung renang tetapi tidak berkembang dan memiliki panjang bobot yang lebih kecil.Catfish has an elongated and slender body, with a relatively large head and a wide mouth. Its skin is smooth and dark, often leaning towards black or bluish-gray, adorned with small white spots. On the other hand, snakehead boasts fine, greenish-gray scales with small black spots on its dorsal and lateral sides. Snakehead possesses well-developed swim bladders, whereas catfish has underdeveloped ones. The objective of this research is to measure the Target Strength (TS) values of catfish and snakehead based on their length and weight, as well as to compare the TS values between the catfish and snakehead concerning their swim bladders using a splitbeam echosounder. The measurements were conducted ex-situ in a water tank, with the fish tethered using monofilament lines, maintaining a distance of approximately 1 m between the transducer surface and the fish. The results of this study revealed that the average TS value for catfish was -55.79 dB, while snakehead fish exhibited an average TS value of -50.89 dB. The higher TS value of snakehead could be attributed to their larger size in terms of length and weight. Additionally, snakehead is well-developed swim bladders played a role in this discrepancy, whereas catfish, despite having swim bladders, had them in an underdeveloped state and exhibited smaller dimensions in both length and weight
BIOLOGI REPRODUKSI IKAN BELANAK (Planiliza subviridis) DI PERAIRAN PANTAI CILINCING, TELUK JAKARTA
Kegiatan antropogenik memicu pencemaran air di pantai Teluk Jakarta, yang dapat mengancam keberadaan stok ikan belanak (Planiliza subviridis) di perairan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji biologi reproduksi ikan tersebut di perairan Pantai Cilincing. Pengambilan sampel dilakukan selama 6 bulan (Februari-Juli 2023) di perairan tersebut menggunakan alat tangkap jaring insang berukuran mata jaring 0,5-1,5 inchi. Total sampel ikan belanak yang terkumpul sebanyak 204 ekor (jantan 123 ekor dan betina 81 ekor), dengan distribusi ukuran panjang 15,50-26,25 mm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai nisbah kelamin (J/B) adalah 1,5:1. Berdasarkan tingkat kematangan gonad, ikan belanak cukup banyak ditemukan dalam keadaan matang gonad dan spent pada bulan Juni-Juli. Nilai rataan Indeks Kematangan Gonad (IKG) ikan belanak terendah dan tertinggi adalah pada bulan Mei dan Juli (jantan), dan pada bulan April dan Juli (betina). Indeks kematangan gonad ikan belanak pada betina lebih tinggi daripada jantan. Ukuran pertama kali matang gonad pada ikan belanak mulai dari TKG IV pada ukuran 163-175 mm (jantan) dan 150-162 mm (betina). Musim pemijahan terjadi pada bulan Juli dengan potensi reproduksi cukup tinggi. Fekunditas ikan belanak berkisar 267.333-956.676 butir telur. Berdasarkan distribusi telurnya ikan belanak diduga memiliki tipe pemijahan total spawner.Anthropogenic activities trigger water pollution on the coast of Jakarta Bay, which can threaten the existence of mullet (Planiliza subviridis) stocks. This research aims to examine the reproductive biology of the fish in the Cilincing coastal waters. Sampling was carried out for 6 months (February-July 2023) in the waters using a gill net with a mesh size of 0,5-1,5 inches. The total samples of the fish collected were 204 individuals (123 males and 81 females), with a total length distribution of 15.50-26.25 mm. The results show that sex ratio (M/F) of the fish was 1.5:1. Based on the gonad maturity stages, quite a lot of fish were found in the mature and spent conditions in June-July. The highest mean values of the gonad maturity index (GSI) of the fish were in May and July (male), and April and July (female). The gonad maturity index of the female mullet was higher than the male one. The size of the first mature gonads of the fish were 163-175 mm (males), and 150-162 mm (females). The spawning season occurs in July with quite high reproductive potential. The fecundity of the fish ranged from 267,333 to 956,676 oocytes. Based on the distribution of the oocytes, mullets are thought to have a total spawner type of spawning
KLASTERISASI PERIKANAN TANGKAP SKALA KECIL UNTUK MENGETAHUI DINAMIKA KOMPETISI PENANGKAPAN DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA PRIGI
Perikanan tangkap skala kecil dicirikan oleh multigear dan multispecies. Kondisi perikanan multigear dan multispecies dapat menyebabkan tekanan terhadap stok sumberdaya perikanan akibat dari meningkatnya jumlah alat tangkap. Jumlah armada perikanan tangkap di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi mengalami peningkatan. Meningkatnya jumlah armada penangkapan ikan di PPN Prigi mengakibatkan terjadinya kompetisi dalam memperoleh hasil tangkapan. Oleh karena itu, kegiatan perikanan tangkap skala kecil yang dinamis perlu diklasterisasikan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis klasterisasi perikanan tangkap skala kecil di PPN Prigi dan menganalisis terjadinya dinamika kompetisi perikanan tangkap skala kecil di PPN Prigi dengan mengetahui sebaran daerah penangkapan dan jenis ikan yang ditangkap. Penelitian ini menggunakan metode analisis klasterisasi Hierarchical Cluster Analysis (HCA) dengan menggunakan data hasil enumerasi tahun 2010-2021, dan melakukan analisis spasial menggunakan data titik koordinat daerah penangkapan yang diperoleh melalui pemetaan partisipatif. Hasil penelitian menunjukkan terjadi pengelompokan alat tangkap dengan posisi klaster yang berubah setiap tahun. Perubahan dipengaruhi oleh keanekaragaman hasil tangkapan dari setiap alat tangkap. Jaring insang selalu berada pada klaster yang sama dengan alat tangkap lain, kecuali pada tahun 2015, 2017, dan 2019. Hasil analisis CPUE menunjukkan nilai produktivitas alat tangkap payang dan pancing tonda stabil. Hasil analisis spasial berupa peta daerah penangkapan yang menunjukkan lokasi penangkapan saling berdekatan pada alat tangkap pancing ulur, pancing tonda, dan jaring insang diikuti dengan keanekaragaman spesies hasil tangkapan yang tinggi.Small-scale capture fisheries are characterized by multigear and multispecies. The condition of multigear and multispecies fisheries can cause pressure on fisheries resource stocks due to the increase in the number of fishing gears. The increase in the number of fishing gear has caused competition among fishermen to catch the fish. Therefore, it is important to cluster the activities of small-scale capture fisheries to effectively manage and sustain these resources. The research aims to analyze the clustering of small-scale capture fisheries at the Prigi Nusantara Fishery Port and examine the dynamics of fishing competition by studying the distribution of fishing areas and the types of fish caught. The Hierarchical Cluster Analysis (HCA) method was used to cluster the data collected from 2010 to 2021 and spatial analysis was performed using fishing area coordinates obtained through participatory mapping. The research findings indicated that fishing gears tend to form clusters that vary annually, with the changes influenced by the diversity of catches obtained from each gear. Gill nets mostly belong to the same cluster as other fishing gear, although there were exceptions in 2015, 2017, and 2019. The analysis of Catch Per Unit Effort (CPUE) demonstrates stable productivity values for seine net and troll line fishing gear. Spatial analysis results in a fishing area map revealed closely located fishing spots where handline, troll line, and gill net fishing equipment were utilized, leading to a high diversity of caught species
PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN MANGROVE DAN GARIS PANTAI MENGGUNAKAN CITRA MULTI SPEKTRAL DI TALIBURA, KABUPATEN SIKKA
Degradasi lahan mangrove menyebabkan perubahan pada garis pantai. Wilayah pesisir Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka merupakan salah satu wilayah yang memiliki ekosistem mangrove. Keberadaan penduduk di wilayah ini, menyebabkan adanya interaksi antara penduduk dengan ekosistem mangrove sehingga terjadinya degradasi pada ekosistem mangrove. Pada wilayah pesisir Kecamatan Talibura, belum ada sama sekali penelitian yang menunjukkan perubahan tutupan lahan mangrove dan garis pantai selama 30 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan tutupan lahan mangrove dan garis pantai pada tahun 1990-2019 di Kecamatan Talibura. Tutupan lahan mangrove diperoleh menggunakan metode Supervised Classification dan untuk mengetahui perubahan garis pantai digunakan metode DSAS yang menghitung statistik laju perubahan garis pantai dari data citra landsat perekaman tahun 1990, 2004, dan 2019. Hasil penelitian menunjukkan adanya degradasi mangrove 60,84 ha periode waktu 1990-2004 dan mengalami penambahan 2,43 ha, yang dapat terlihat adanya abrasi di daerah degradasi mangrove dengan nilai tertinggi -487,54 m dan nilai akresi tertinggi 307,45 m di daerah yang masih terjaga ekosistem mangrovenya selama 30 tahun.Mangrove land degradation causes changes in the coastline. The coastal area of Talibura District (Sikka Regency) is one of the areas that has a mangrove ecosystem. The existence of residents in this area causes interaction with the mangrove ecosystem resulting in degradation of the mangrove ecosystem. In the coastal area of Talibura District there was no research had been done regarding changes in the mangrove land cover and coastlines for 30 years. This study aims to determine changes in mangrove land cover and coastlines from 1990-2019 in Talibura District. Mangrove land cover was obtained using the Supervised Classification method and change in the coastline was determined using the DSAS method by calculating the statistic rate of change in coastlines from Landsat image data recorded in 1990, 2004, and 2019. The results showed that there was mangrove degradation of 60.84 ha during the 1990-2004 period and mangrove expansion of 2.43 ha; it implied coastline abrasions in the degradation area with the highest value of -487.54 m and accretions with the highest value of 307.45 m in areas where the mangrove ecosystem has been maintained
PENAMBAHAN KANTONG DAN PENAJU: UPAYA MENINGKATKAN HASIL TANGKAPAN GOMBANG
Gombang adalah alat tangkap ikan tradisional, memiliki kelemahan konstruksi berupa ketiadaan kantong perangkap dan sayap yang terbatas. Tujuan penelitian adalah 1. Menentukan perbedaan komposisi jenis dan berat ikan hasil tangkapan keempat perlakuan 2. Membuktikan bahwa penambahan kantong, penaju, dan kombinasi keduanya akan memengaruhi komposisi berat hasil tangkapan gombang tanpa mengurangi jenisnya. Metode yang digunakan adalah experimental fishing. Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Agustus 2023 di perairan Desa Prapat Tunggal Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau. Uji coba penangkapan dilakukan selama 17 trip. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gombang kontrol dan perlakuan menangkap 12 jenis ikan yang sama, yaitu udang rebon (Acetes sp.), udang merah (Solenocera depressa), udang harimau (Penaeus monodon), biang (Ilisha sp.), bulu ayam (Thryssa setiostris), tembang (Dussumieria acuta), tenggiri (Scomberomorus brasiliensis), parang-parang (Chirocentrus sp.), gulamah (Johnius trachycephalus), layur (Trichiurus lepturus), nomei (Horpodon neherus), dan sotong (Sepia sp.). Perbedaan perlakuan pada gombang ternyata memberikan pengaruh terhadap hasil tangkapan. Gombang yang dilengkapi kantong dan penaju (P3) mendapatkan berat ikan hasil tangkapan tertinggi mencapai 1.710,82 kg (40,16%), diikuti oleh gombang berkantong P1 seberat 1.158,90 kg (27,20%), gombang berpenaju P2 seberat 824,27 kg (19,35%), dan gombang kontrol P0 seberat 566,36 kg (13,29%).A tidal trap (gombang) is a traditional fishing gear with construction weaknesses, including the absence of a trap cod-end and limited wings. The purpose of the research is to determine the differences in the composition of fish species and their weights caught under four different treatments, and demonstrate that the addition of a cod-end, leader net, and a combination of both will affect the weight composition of the tidal trap catch without reducing the diversity of species. The method used for this study was experimental fishing, conducted from May to August 2023in the waters of Prapat Tunggal Village, Bengkalis Regency, Riau Province. Fishing trials were carried out over 17 trips. The results show that both the control and treatment tidal trap caught the same 12 fish species: acetes shrimp (Acetes sp.), red shrimp (Solenocera depressa), tiger shrimp (Penaeus monodon), shorthead hairfin anchovy (Ilisha sp.), longjaw thryssa (Thryssa setiostris), rainbow sardine (Dussumieria acuta), serra spanish mackerel (Scomberomorus brasiliensis), wolf-herring (Chirocentrus sp.), croaker (Johnius trachycephalus), largehead hairtail (Trichiurus lepturus), bombay duck fish (Horpodon neherus), and cuttlefish (Sepia sp.). Differences in the treatments of tidal traps impacted the catch results. The cod-end and leader net tidal trap (P3) yielded the highest total weight at 1,710.82 kg (40.16%), followed by the cod-end tidal trap P1 at 1,158.90 kg (27.20%), the leader net tidal trap P2 at 824.27 kg (19.35%), and the control tidal trap P0 at 566.36 kg (13.29%)
DETERMINASI STRUKTUR STOK IKAN KEMBUNG LELAKI MENGGUNAKAN METODE PCR-RFLP DI WPP-NRI 711, 572, DAN 573
Ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) memiliki nilai ekonomis penting bagi nelayan. Tekanan eksploitasi yang tinggi memengaruhi keberadaan stok dan keseimbangan ikan tersebut di alam. Efektivitas pengelolaan perikanan perlu dilakukan, diantaranya melalui kajian struktur stok. Kajian struktur stok dengan analisis genetik dapat menunjukkan status genetik stok dan aliran gen pada setiap stok dalam suatu populasi. Informasi ini dapat digunakan sebagai dasar pengelolaan sumberdaya perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keragaman dan struktur genetik, serta struktur stok ikan kembung lelaki di WPP-NRI 711, 572, dan 573 menggunakan pendekatan molekuler. Isolasi dan ekstraksi DNA menghasilkan 20 DNA total per-lokasi (enam lokasi), dan diamplifikasi dengan metode PCR. Terdapat 109 dari 120 sampel hasil PCR yang dilanjutkan ke tahap RFLP. Hasil dari proses pemotongan band tunggal oleh enzim restriksi (RFLP) diidentifikasi menggunakan program Popgene32. Enzim yang mampu menunjukkan polimorfisme yaitu AluI dan HaeIII. Stok ikan kembung lelaki di WPP-NRI 711, 572, dan 573 memiliki kedekatan secara genetik, sehingga mengindikasikan sebagai unit stok tunggal. Namun, jarak genetik yang visualisasikan dengan dendrogram menunjukkan stok membentuk dua clade yang terpisah. Dalam pengelolaannya lebih baik menjadi unit manajemen terpisah untuk kepentingan statistik.The Indian mackerel (Rastrelliger kanagurta) has important economic value for fishers. High exploitation pressure affects the existence of stocks and balance of the fish in nature. The effectiveness of fisheries management needs to be done, namely by studying a stock structure. A study on the stock structure with genetic analysis can show the genetic status of the stock and gene flow in each stock in the population. This information can be used for the basis of fisheries resource management. The study aims to analyze diversity and genetic structure, as well as stock structure of Indian mackerel in IFMA 711, 572, and 573 using a molecular approach. DNA isolation and extraction yielded 20 total DNA per site (six locations), and it was amplified by PCR method. There were 109 of 120 samples of PCR result which continued to the RFLP stage. The results of the single band cutting process by restriction enzyme (RFLP) were identified using the Popgene32 program. Enzymes that can show polymorphism are AluI and HaeIII. The Indian mackerel stocks from IFMA 711, 572, and 573 are genetically close, indicating that they are a single stock unit. However, genetic distance visualized by dendrogram shows the stock forms two separate clades. It is more effective for statistical purposes to have a separate management unit
STRATEGI PENGEMBANGAN PEMBUATAN KAPAL PERIKANAN FIBER DI PT JELAJAH SAMUDERA INTERNASIONAL
Kapal perikanan merupakan modal utama dalam usaha penangkapan ikan. PT Jelajah Samudera Internasional, sebuah perusahaan galangan kapal pembangunan kapal fiberglass di Kabupaten Jepara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek kritis di galangan kapal PT Jelajah Samudera Internasional, termasuk sumber daya manusia, teknis pembangunan kapal fiberglass, dan kelayakan usaha melalui analisis deskriptif dan finansial, serta menyusun strategi pengembangan bisnis yang tepat. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif dan purposive sampling. Analisis penelitian mencakup analisis finansial dan SWOT. Perhitungan aspek finansial dilakukan dengan metode NPV, PI, R/C ratio, PP, dan IRR, sementara analisis SWOT digunakan untuk menentukan strategi pengembangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PT Jelajah Samudera Internasional memiliki sumber daya manusia yang terorganisir dengan baik, dengan struktur organisasi yang jelas dan terdiri dari tenaga kerja tetap dan tidak tetap. Aspek teknis pembangunan kapal sesuai dengan standar, dengan proses laminasi menggunakan metode hand-lay up sesuai SNI 8961:2021 dan desain rancang kapal yang lengkap, termasuk lines plan, construction profile, transverse construction, general arrangement, desain poros propeller, dan sistem kelistrikan. Aspek ekonomi perusahaan juga layak, dengan nilai NPV sebesar Rp 10.113.527.932, IRR 16%, payback period 1,49 tahun, R/C ratio 1,53, dan profitability index 1,89. Strategi pengembangan usaha yang efektif menggunakan strategi kuadran I, yaitu dengan meningkatkan jumlah produksi kapal melalui pemanfaatan fasilitas dan tenaga kerja secara optimal. PT Jelajah Samudera Internasional memiliki delapan strategi pengembangan yang dapat dijalankan.Fishing boat is the main capital of the fishing business. PT Jelajah Samudera Internasional, a shipyard company that builds fiberglass boats in Jepara Regency. This study aims to analyze critical aspects of the PT Jelajah Samudera Internasional shipyard, including human resources, fiberglass ship construction techniques, and business feasibility through descriptive and financial analysis, as well as to develop appropriate business development strategies. The research method used descriptive and purposive sampling methods. Research analysis included financial and SWOT analysis. Financial aspects were calculated using the NPV, PI, R/C Ratio, PP, and IRR methods, while SWOT analysis was used to determine development strategies. The research results show that PT Jelajah Samudera Internasional had well-organized human resources, a clear organizational structure, and consisted of permanent and temporary workers. The technical aspects of ship construction were in accordance with standards, with a lamination process using the hand-lay-up method according to SNI 8961:2021 and a complete ship design, including line plans, construction profiles, transverse construction, general arrangement, propeller shaft design, and electricity systems. The company\u27s economic aspects were also feasible, with an NPV value of IDR 10,113,527,932, IRR 16%, a payback period of 1.49 years, an R/C ratio of 1.53, and a profitability index of 1.89. An effective business development strategy uses a vessel quadrant I strategy, namely by increasing production through optimal use of facilities and workforce. PT Jelajah Samudera Internasional has eight development strategies that can be implemented
OBSERVASI DAERAH PENANGKAPAN IKAN DI PERAIRAN LAUT JAWA DAN SELAT MAKASSAR
Daerah penangkapan ikan di perairan Laut Jawa dan Selat Makassar merupakan daerah tangkapan yang penting bagi nelayan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis proses penentuan Daerah Penangkapan Ikan (DPI), menjelaskan hasil observasi suhu dan salinitas perairan di setiap DPI yang telah ditentukan, serta mengidentifikasi jenis hasil tangkapan, dengan menggunakan Kapal Motor (KM) Tirta Putra Kencana I (alat tangkap purse seine). Penelitian ini dilakukan di perairan Laut Jawa dan di Selat Makasar, mulai dari bulan Desember tahun 2022 hingga bulan April 2023. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi langsung dan dianalisis menggunakan analisis deskriptif. Data primer diperoleh melalui observasi langsung di lapangan, termasuk kegiatan penentuan DPI dan pengukuran suhu, serta salinitas di setiap lokasi DPI. Penentuan DPI dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa syarat, seperti wilayah perizinan penangkapan ikan, ketidakgangguan terhadap pelayaran niaga, kondisi perairan yang aman, dan minim pengaruh cuaca buruk pada daerah tersebut. Hasil pengukuran suhu dan salinitas menunjukkan bahwa rata-rata perairan Laut Jawa dan Selat Makassar memiliki karakteristik yang serupa. Namun, DPI yang berdekatan dengan daratan menunjukkan suhu yang lebih rendah dan kadar salinitas yang lebih tinggi. Jenis hasil tangkapan didominasi oleh ikan layang (Decapterus macrosoma dan Decapterus russelli) yang mendiami perairan laut lepas, diikuti oleh ikan siro (Sardinella sp.) yang ditemui di wilayah pantai. Komoditas ikan pelagis besar lebih cenderung tertangkap di wilayah penangkapan di sebelah barat.Fishing grounds in the Java Sea and Makassar Strait are important fishing areas for fishermen. The aim of this research is to analyze the process of determining fishing ground (DPI), explain the results of observations of water temperature and salinity in each DPI that has been determined, and identify the type of catch, using the Tirta Putra Kencana I Fishing Boat (fishing equipment purse seine). This research was conducted at Java Sea and Makassar Strait from December 2022 until April 2023. The research methodology employed was observation and the analysis used was descriptive analysis. Primary data were obtained through on-site observations, including the determination of FG and the measurement of temperature, and salinity at each FG location. The selection of FG is based on several criteria, including fishing license areas, non-interference with commercial shipping, safe water conditions, and minimal impact from adverse weather in the region. Temperature and salinity measured indicated that, on average, the Java Sea and the Makassar Strait waters exhibited similar characteristics. However, FG near the coastline showed lower temperatures and higher salinity levels. The predominant catch consists of shortfin scad (Decapterus macrosoma) dan Indian scad (Decapterus russelli) inhabiting offshore waters, followed by coastal species such as Indian oil sardine (Sardinella sp.). Large pelagic fish species were more commonly captured in the western fishing grounds