Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
    337 research outputs found

    TINGKAT KEMATANGAN GONAD IKAN KAKAP (Lutjanus vitta) YANG DIDARATKAN DI TPI TANJUNG PASIR, KABUPATEN TANGERANG

    Full text link
    Ikan kakap (Lutjanus vitta) termasuk famili Lutjanidae yang sebagian besar hidupnya di perairan karang. Ikan tersebut merupakan salah satu target utama dalam penangkapan di perairan Teluk Jakarta yang didaratkan di TPI Tanjung Pasir, Kabupaten Tangerang. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji tentang pola pertumbuhan, tingkat kematangan gonad, dan ukuran pertama kali matang gonad (Lm) ikan tersebut. Penelitian dilakukan pada bulan Februari 2022. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode survei dengan teknik pengambilan sampel yaitu purposive random sampling. Hasil penelitian diperoleh total tangkapan sebanyak 113 ekor yang terdiri dari ikan jantan berjumlah 53 ekor dan betina berjumlah 60 ekor. Pola pertumbuhan ikan kakap adalah isometrik. Tingkat kematangan gonad banyak terdapat pada TKG II dan III. Ikan kakap di perairan Teluk Jakarta memiliki ukuran pertama kali matang gonad adalah 213,5 mm. Maka, ukuran ikan yang lebih baik ditangkap adalah yang memiliki panjang lebih dari ukuran matang gonadnya.The snapper (Lutjanus vitta) is the Lutjanidae family mostly living in corals. The fish is one of the main fishing targets in Jakarta Bay landed at fish auction of Tanjung Pasir, Tangerang Regency. This study aims to examine the growth pattern, maturity stages of gonad, and the size of the first maturity gonads (Lm) of the fish. The study was conducted in February 2022. The method used in the study was a survey method with a sampling technique, namely Purposive Random Sampling. The results found a total catch of 113 individuals consisting of 60 male and 53 females fish obtained. The growth pattern of the snapper is isometric. Gonad maturity stages of the fish were found mostly in premature and maturing gonads. The fish in Jakarta Bay waters had a size of 213.5 mm at first maturity, which it is better to catch the fish with longer length than the size of the first mature gonads

    PENGUKURAN NILAI TARGET STRENGTH DAN ACOUSTIC FISH DENSITY DI PERAIRAN PULAU TIDUNG, KEPULAUAN SERIBU

    Full text link
    Informasi mengenai densitas ikan masih kurang akurat, dikarenakan data yang diperoleh tidak dilakukan pengukuran langsung pada kondisi nyata di perairan. Untuk mengatasi masalah ini, digunakan teknologi hidroakustik berupa echosounder yaitu Single Beam Echosounder (SBES) SIMRAD EK 15 dengan frekuensi 200 kHz. Penelitian ini bertujuan mengkaji dan menginterpretasi hasil pengukuran target strength dan acoustic fish density perairan Pulau Tidung Kepulauan Seribu sehingga diperoleh visualisasi densitas ikan dan mengetahui hubungan target strength, densitas ikan, suhu, dan salinitas. Pengolahan data menggunakan perangkat Sonar 5-Pro, Matlab 2016, dan Minitab 16. Nilai TS di perairan Pulau Tidung yaitu -59,4 dB sampai dengan -34,6 dB. Nilai densitas ikan tertinggi terdapat pada stasiun 3 di kedalaman 12-21 m sebesar 778,1 ind/m3 sedangkan densitas ikan terendah terdapat pada stasiun 6 di kedalaman 2-11 m sebesar 0,3 ind/m3. Suhu dan salinitas memiliki nilai yang bervariasi dengan kisaran nilai 29,6°C sampai 31,2°C dan 32,2 PSU sampai 33,3 PSU. Hasil analisis PCA nilai TS dan densitas ikan memiliki hubungan yang lebih kuat dengan suhu dibandingkan salinitas.Information on fish density is still not accurate, because the data obtained are not directly measured in real conditions of the waters. To overcome this problem, we used hydroacoustic technology of echosounder i.e., a Single Beam Echosounder (SBES) SIMRAD EK 15 with a frequency of 200 kHz. This study aimed to examine and interpret the measurement results of target strength and acoustic fish density in the waters of Tidung Island, Kepulauan Seribu in order to obtain a visualization of fish density and determine the relationship between target strength, fish density, temperature and salinity. Data processing used Sonar 5-Pro, Matlab 2016, and Minitab 16. TS in Tidung Island waters were -59,4 dB to -34,6 dB. The highest fish density value was found at station 3 at a depth of 12-21 m at 778,1 ind/m3 the lowest fish density was at station 6 at a depth of 2-11 m at 0,3 ind/m3. Temperature and salinity had various values with values ranging from 29,6°C to 31,2°C and 32,2 PSU to 33,3 PSU. The results of PCA analysis of TS and fish density had a stronger relationship with temperature than salinity

    KEMAMPUAN IKAN TAWAR MENCERNA MIKROPLASTIK SECARA IN VITRO

    Full text link
    Microplastics that pollute waters can accumulate and clog in the digestive tract of fish. It is still not well known whether microplastics can be digested by fish or not. Therefore, this research is important. The purpose of this study was to analyze the ability of digestive fluids in fish to digest microplastics in vitro. This research was conducted from January to April 2021 at the Laboratory of Aquatic Animal Physiology and Environmental Productivity (ProLing), Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University, Bogor. This research consisted of two stages, namely preliminary research (prelim test) and core research (core test). The parameters observed consisted of the digestive fluid performance (temperature, pH, turbidity) and microplastic conditions (size, color, and shape). The measurement results for each parameter of the digestive fluid performance of catfish (carnivore) and tilapia (omnivore) showed that there was no significant change in value for each treatment. Observation of the condition of microplastics after testing also showed no change in microplastics. This proved that in vitro fish digestive fluids were unable to digest microplastics.Mikroplastik yang mencemari perairan dapat terakumulasi dan menyumbat saluran pencernaan ikan. Mikroplastik ini belum diketahui secara pasti mampu dicerna ikan atau tidak sehingga diperlukan penelitian terkait hal tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kemampuan cairan digestif pada ikan dalam mencerna mikroplastik secara in vitro. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari hingga April 2021 di Laboratorium Fisiologi Hewan Air dan Produktivitas Lingkungan (ProLing), FPIK-IPB. Penelitian ini terdiri dari dua tahap, yaitu penelitian pendahuluan (uji prelim) dan penelitian inti (uji inti). Parameter yang diamati terdiri dari keragaan cairan digestif (suhu, pH, turbiditas) dan kondisi mikroplastik (ukuran, warna, dan bentuk). Hasil pengukuran pada setiap parameter keragaan cairan digestif (enzim) ikan lele (karnivor) dan ikan nila (omnivor) menunjukkan bahwa terjadi perubahan nilai yang tidak signifikan pada masing-masing perlakuan. Pengamatan kondisi mikroplastik setelah dilakukan pengujian juga menunjukkan tidak ada perubahan pada mikroplastik. Hal ini membuktikan bahwa secara in vitro cairan digestif ikan tidak mampu mencerna mikroplastik

    POSTUR KERJA PADA AKTIVITAS BONGKAR IKAN TUNA DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA NIZAM ZACHMAN JAKARTA

    Full text link
    Tingginya produksi ikan tuna di PPS Nizam Zachman Jakarta menyebabkan lama waktu bekerja dan beban kerja meningkat pada aktivitas bongkarnya. Aktivitas bongkar ikan tuna dilakukan secara manual dan melibatkan lebih dari 10 orang pekerja. Rata-rata pekerja bongkar ikan tuna dalam sehari mengalami satu kali kecelakaan kerja dan memiliki keluhan rasa sakit di bagian tubuh akibat sikap kerja (postur kerja) yang tidak ergonomis. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi postur kerja pada aktivitas bongkar ikan tuna dan risiko yang mungkin ditimbulkan serta mengidentifikasi keluhan-keluhan rasa sakit yang muncul akibat aktivitas bongkar ikan tuna di PPS Nizam Zachman Jakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rapid Entire Body Assessment (REBA) dan kuesioner Nordic Body Map. Hasil penelitian berdasarkan penilaian menggunakan metode REBA pada delapan tahapan aktivitas bongkar ikan tuna diperoleh level risiko tinggi sebesar 62,5%, yaitu tahapan dimana terdapat postur janggal dengan mengangkat beban berat. Adapun mayoritas dari 85 pekerja bongkar ikan tuna mengalami tingkat keluhan pertama dibagian punggung sebesar 94% dan pinggang sebesar 85%, hal tersebut merupakan bentuk cidera pada sistem muskuloskeletal yang diakibatkan oleh postur janggal. Rekomendasi postur kerja yang bisa diberikan untuk mengurangi risiko cedera dan mencegah terjadinya kecelakaan kerja yaitu menggunakan teknik mengangkat barang secara diagonal (diagonal lift).The high production of tuna at PPS Nizam Zachman Jakarta increases working time and workload in unloading activities. Tuna unloading activities are manual and involve more than ten workers. On an average day, tuna unloading workers suffer an accident at work and complain of pain in the body caused by non-ergonomic working posture. This study aims to identify work postures in tuna unloading activities and the risks that may arise and identify pain complaints that arise because of tuna unloading activities at PPS Nizam Zachman Jakarta. The method used in this study is the Rapid Entire Body Assessment (REBA) and the Nordic Body Map questionnaire. Based on an assessment using REBA method in the eight stages of the tuna unloading activity has a high-risk level of 62,5%, namely stages where there was an awkward posture while lifting heavy loads. Most of the 85 tuna unloading workers experienced a first complaint rate of 94% on the back and 85% on the waist, a form of musculoskeletal injury due to awkward posture. Recommendations for work postures that can be given to reduce the risk of injury and prevent work accidents use the diagonal lift technique

    PENGATURAN PEMANFAATAN PERDAGANGAN JENIS IKAN DILINDUNGI/APPENDIKS CITES DI WILAYAH KERJA LPSPL SERANG

    Full text link
    The Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) of Wild Fauna and Flora which has been ratified through Presidential Decree No. 43 of 1978, is the nation\u27s commitment to the conservation of endangered, endemic, and protected fish species. Trading traffic of protected fish species/CITES Appendix in of the Coastal Resources Management Regional Office (LPSPL) Serang working area is quite high, so it is necessary to control the utilization of protected fish species to maintain the sustainability of fish resources. The method of collecting data is through recording and direct interviews with service officers and treasurers of LPSPL Serang, as well as secondary data from service databases on traffic activities for protected fish species/CITES Appendix during Semester I (January-June) year 2022. Based on data collected, 53 domestic recommendation letters have been issued consisting of 30,909.80 kg of shark products, 104.50 kg of ray fins, 1,308 kg of sea cucumbers, and 12,009 pcs of soft coral and anemone; Foreign recommendation letters totaling 1,317 recommendations consisting of 2,335,464.01 kg of shark products and 283 live sharks, 468,387.55 kg of ray products and 21 live rays, 24,121.86 kg of sea cucumbers, and 295,408 pcs of soft coral and anemone; Documents for transport of fish species consisting of 28 documents consisting of 53,595 arowanas and 3,752.79 kg of shark and ray fins in the CITES Appendix; Letters of transport for tentengan fish types consisting of 228 documents of 359 arowanas. Total value of PNBP obtained is Rp 1,312,204,811.Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) of Wild Fauna and Flora yang sudah diratifikasi melalui Keputusan Presiden RI No. 43 Tahun 1978, merupakan salah satu bentuk komitmen bangsa terhadap konservasi jenis ikan yang terancam punah, endemik, dan dilindungi. Lalu lintas perdagangan jenis ikan dilindungi/Appendiks CITES di wilayah kerja Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir (LPSPL) Serang cukup tinggi, sehingga diperlukan pengendalian peredaran dan pemanfaatan jenis ikan dilindungi untuk menjaga keberlanjutan dan kelestarian sumberdaya ikan. Metode pengumpulan data melalui pencatatan dan wawancara langsung dengan petugas admin pelayanan dan bendahara LPSPL Serang, serta data sekunder dari database pelayanan pada kegiatan lalu lintas perdagangan jenis ikan dilindungi/Appendiks CITES di wilayah kerja LPSPL Serang pada kurun waktu Semester I (Januari-Juni) tahun 2022. Berdasarkan pendataan pemanfaatan jenis ikan telah terbit surat rekomendasi dalam negeri sebanyak 53 rekomendasi yang terdiri dari 30.909,80 kg produk hiu, 104,50 kg sirip pari, 1.308 kg teripang, serta 12.009 pcs soft coral dan anemon; Surat rekomendasi luar negeri sebanyak 1.317 rekomendasi yang terdiri dari 2.335.464,01 kg produk hiu dan 283 ekor hiu hidup, 468.387,55 kg produk pari dan 21 ekor pari hidup, 24.121,86 kg teripang, serta 295.408 pcs soft coral dan anemon; Surat angkut jenis ikan sebanyak 28 dokumen yang terdiri dari 53.595 ekor arwana dan 3.752,79 kg sirip hiu dan pari Appendiks CITES; Surat angkut jenis ikan tentengan sebanyak 228 dokumen yang terdiri dari 359 ekor arwana. Nilai total PNBP yang diperoleh dari kegiatan pemanfaatan perdagangan jenis ikan sebesar Rp 1.312.204.811

    PENGARUH PENAMBAHAN PAKAN CACING SUTRA (Tubifex sp.) TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN TOMAN (Channa micropeltes)

    Full text link
    Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2023 sampai bulan Februari 2023 bertempat di Sumber Belajar Ilmu Hayati (SBIH) Ruyani, bertujuan untuk mengetahui frekuensi dan efisiensi yang terbaik dalam pemberian pakan, sehingga diketahui pertumbuhan yang optimal terhadap benih ikan toman (Channa micropeltes). Penelitian ini menggunakan sebanyak empat unit box plastik dengan ukuran (40x30x30 cm3), dengan ketinggian air 30 cm dari dasar. Pakan yang digunakan berupa cacing Tubifex sp., diberikan dengan dosis P1 (pelet 100%), P2 (pelet 75% + cacing sutra 25%), P3 (pelet 50% + cacing sutra 50%), dan P4 (pelet 25% + cacing sutra 75%). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen yakni Rancangan Acak Lengkap (RAL), dan dilanjutkan dengan uji LSD. Dari perlakuan, hasil yang terbaik adalah pemberian pakan pada perlakuan P4 (pelet 25% + cacing sutra 75%), pertumbuhan berat ikan toman selama penelitian mencapai 18,18 g, pertumbuhan panjang ikan toman 2,95 mm, pertumbuhan lebar ikan toman 3,18 mm. Kualitas air selama penelitian diperoleh pH 4,1-6,6, suhu 27,0-29,8°C, TDS 5,1-8,8, dan DO 4,6-7,9. Dari hasil penelitian yang diuji dengan uji BNT, didapatkan bahwa perlakuan P4 berbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan yang lainya. Hasil uji Test-independent lanjut pada semua perlakuan, didapatkan hasil yang signifikan terhadap pertumbuhan ikan toman.Research was conducted from January 2023 to February 2023 at the Ruyani Life Sciences Learning Resources (SBIH), aiming to determine the best frequency and efficiency in feeding to estimate the optimal growth of snakehead fish (Channa micropeltes) seeds. This study used four unit plastic boxes (with a size 40x30x30 cm3), with a water level of 30 cm depth from the bottom. The feed used was worms Tubifex sp., feed at a dose of P1 (100% pellets), P2 (75% pellets + 25% sewage worm), P3 (50% pellets + 50% sewage worm), and P4 (25% pellets + 75% sewage worm). The method used in this study was experimental, namely Completely Randomized Design (CRD), and continued with the LSD test. From the results of the experiment, turns out the best treatment was feeding the treatment of P4 (pellets 25% + sewage worm 75%), the weight growth of the fish during the study reached 18.18 g, the growth in the length of the fish 2.95 mm, the growth in the width of the fish 3.18 mm. Water quality during the study were pH 4.1-6.6, temperature 27.0-29.8°C, TDS 5.1-8.8, and DO 4.6-7.9. From the results of the study analyzed using the BNT test, it was found that the P4 treatment was significantly different compared to other treatments. Result of a further T-test in all treatments, were obtained significantly results for the growth of the snakehead fish

    KECERAHAN IKAN GUPPY (Poecilia reticulata) DENGAN PEMBERIAN TEPUNG BUNGA MARIGOLD (Tagetas erecta) PADA PAKAN KOMERSIL

    Full text link
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung bunga marigold pada pakan komersil terhadap kecerahan warna ikan guppy. Penelitian ini dilaksanakan selama 50 hari, dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, yaitu: P1 (kontrol), P2 (tepung bunga marigold 0,5%), P3 (tepung bunga marigold 1%), dan P4 (Tepung bunga marigold 1,5%). Penelitian diawali dengan pembuatan tepung bunga marigold, dicampurkan pada pakan pelet sesuai perlakuannya. Pakan selanjutnya diuji secara biologis pada ikan guppy yang dibudidayakan. Parameter yang diukur adalah berat mutlak, panjang mutlak, laju pertumbuhan spesifik, rasio konversi pakan, kelangsungan hidup, kandungan karotenoid, dan kecerahan warna. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung bunga marigold pada pakan komersil dapat meningkatkan kecerahan warna pada ikan guppy dan mempengaruhi kelangsungan hidup (SR) (P<0,05), namun tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan rasio konversi pakan (FCR) (P>0,05). Penambahan tepung bunga marigold pada pakan komersil sebesar 1,5% (P4) dapat meningkatkan karotenoid ikan guppy sebesar 13,80 µmol/g, didukung oleh nilai redness (a*) sebesar 31,37, yellowness (b*) sebesar 37,68, lighteness (L*) sebesar 28,25, hue sebesar 58,15, dan tingkat kelangsungan hidup 93%±0,06.The purpose of this study is to determine the effect of giving marigold powder on commercial feed on the brightness of the color of guppies. This research was conducted for 50 days, with an experimental method using a Completely Randomized Design (CRD) consisting of 4 treatments and 3 replications, namely: P1 (control), P2 (0.5% marigold flower flour), P3 (marigold flower flour 1%), dan P4 (marigold powder 1.5%). The research began with the manufacture of marigold flower flour, mixed it with pelleted feed according to the treatment. The feed was further biologically tested on cultured guppies. Parameters measured were absolute weight, absolute length, specific growth rate, feed conversion ratio, survival, carotenoid content, and color brightness. Data were analyzed using ANOVA and continued with Duncan\u27s test. The results showed that the addition of marigold powder to commercial feed increased the brightness of the color of guppies and affected survival (SR) (P<0.05), but had no effect on growth and feed conversion ratio (FCR) (P>0.05). The addition of marigold powder to commercial feed of 1.5% (P4) can increase guppy carotenoids by 13.80 µmol/g, supported by a value of redness (a*) of 31.37, yellowness (b*) of 37.68, lightness (L*) of 28.25, hue of 58.15, and a survival rate of 93%±0.06

    PENGARUH KONSENTRASI RUMPUT LAUT DAN DAUN KELOR TERHADAP KUALITAS MASKER GEL

    Full text link
    Beberapa jenis rumput laut dan tumbuhan tertentu merupakan sumber antioksidan bagi industri kosmetik. Masker gel peel off merupakan salah satu kosmetik kecantikan perawatan kulit wajah. Bahan utama masker gel peel off adalah senyawa antioksidan yang berasal dari rumput laut T. conoides dan daun kelor M. oleifera L. Senyawa antioksidan dapat menghambat radikal bebas pada kulit serta mampu merawat dan meremajakan kulit wajah. Tujuan penelitian adalah untuk menentukan pengaruh penambahan rasio yang berbeda antara bubuk rumput laut T. conoides dan bubuk M. oleifera L terhadap kualitas fisik dan kimia masker gel peel off serta untuk mengetahui rasio terbaik. Penelitian ini bersifat experimental laboratories dengan model RAL satu faktor. Perlakuan penelitian ini menggunakan perbedaan rasio T. conoides: M. oleifera L yaitu R0 (0:0), R1 (1:3), R2 (1:1), dan R3 (3:1) dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian didapatkan uji iritasi 2,6-3,8 menunjukkan bahwa tidak menimbulkan iritasi terhadap kulit; nilai pH 5,28-6,09; nilai viskositas 8.193,33-29.416,66 cps; nilai lama waktu pengering 9-23,33 menit; nilai aktivitas antioksidan IC50 9.514,35-99.683,20 mg/L; dan hedonik 4,73-8,20.  Data tersebut menunjukkan bahwa penambahan perbedaan rasio antara T. conoides dan M. oleifera L mempunyai pengaruh terhadap penurunan pH, nilai viskositas, meningkatkan nilai aktivitas senyawa antioksidan masker gel peel off, nilai iritasi, hedonik, dan lama pengeringan. Rasio terbaik yaitu pada perlakuan R1 (T. conoides 5% dan M. oleifera L 15%).Many seaweed and herbal can be used as a source of antioxidant in cosmetic industries. Peel off gel mask is one of beauty cosmetics for facial skin care. The main ingredients of peel off gel mask are antioxidant compounds, namely T. conoides seaweed and M. oleifera L. Moringa leaves. Antioxidant compounds can inhibit free radicals on the skin and are able to treat and rejuvenate facial skin. The purpose of the study is to determine the effect of adding different ratios between T. conoides seaweed and M. oleifera L on the physical and chemical quality of peel off gel masks and to determine the best ratio. This study was an experimental laboratory with one factor. The treatments were used different ratios of T. conoides: M. oleifera L, i.e. R0 (0:0), R1 (1:3), R2 (1:1), and R3 (3:1) with three times test. The results showed that irritation test from 2.6 to 3.8 indicates that it did not cause irritation to the skin; pH value was ranged from 5.28-6.09; viscosity value were 8,193.33-29,416.66 cps; value of drying time were 9-23.33 minutes; antioxidant activity value IC50 were 9,514.35-99,683.20 mg/L; and hedonic test were 4.73-8.20. It can be concluded that the addition of a different ratio T. conoides and M. oleifera L has an effect on decreasing pH, viscosity value, increasing the value of antioxidant activity of peel off gel mask compounds, irritation value, hedonic, and drying time. The best ratio was in the R1 treatment (T. conoides 5% and M. oleifera L 15%)

    EFEKTIVITAS ATRAKTOR CUMI-CUMI DI LOMBOK TIMUR, NUSA TENGGARA BARAT

    Full text link
    Salah satu teknologi yang dapat mendukung peningkatan populasi cumi-cumi di alam adalah teknologi atraktor cumi-cumi. Atraktor cumi-cumi dapat berfungsi sebagai suatu ekosistem baru dan dapat mengumpulkan cumi-cumi. Tujuan penelitian ini adalah menentukan karakteristik perairan tempat pemasangan atraktor cumi-cumi, menentukan desain kontruksi atraktor cumi-cumi, dan menentukan efektivitas pemasangan atraktor terhadap hasil tangkapan cumi-cumi. Metode penelitian berupa eksperimental fishing dan studi literatur digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan suhu permukaan laut di periaran Labuhan Haji dan Tajung Luar secara berurutan berkisar 27,10-28,29°C dan 28,15-28,79°C, kondisi dasar perairan Labuhan Haji pasir berlumpur dan Tanjung Luar pasir berbatu. Desain atraktor berbentuk tabung dengan diameter 60 cm, panjang 120 cm, dan berwarna hitam. Pemasangan atraktor efektif mengumpulkan cumi-cumi.One of the technologies that can support an increase in the population of squid in nature is squid attractor technology. Squid attractors can function as a new ecosystem and can collect the squid. The purpose of this study is to determine a characteristics of the waters where the squid attractor was installed, to determine the construction design of the squid attractor, and to determine the effectiveness of the attractor installation on squid catches. Fishing experimental research methods and literature studies were used in this study. The results shows that the sea surface temperature in the waters of Labuhan Haji and Tajung Luar ranged from 27.10-28.29°C and 28.15-28.79°C, respectively, the bottom conditions of the Labuhan Haji waters were muddy sand and Tanjung Luar was rocky sand. Design of the attractor was in the form of a tube with a diameter of 60 cm, a length of 120 cm, and black in color. Installing an attractor effectively collected the squid

    POTRET PERIKANAN TANGKAP KOTA DUMAI SEJAK 2017 HINGGA 2021

    Full text link
    Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan kondisi produksi perikanan tangkap di Kota Dumai sejak 2017 hingga 2021, dan menganalisa karakteristik unit penangkapan ikan di kota tersebut. Penelitian menggunakan data sekunder tahunan (2017-2021) berupa jumlah nelayan, jumlah kapal, jumlah alat tangkap, produksi perikanan tangkap, dan nilai produksi perikanan tangkap diperoleh dari Badan Pusat Statistik Kota Dumai. Untuk memperoleh kajian yang lebih komprehensif, data primer diperoleh dengan cara wawancara dan observasi. Analisis data yang digunakan adalah metode analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa data produksi perikanan mengalami fluktuasi. Pada tahun 2017 data produksi sebesar 930.815 kg dan menurun signifikan pada tahun 2018 (564.766 kg), kemudian mengalami kenaikan setiap tahun secara perlahan. Kegiatan penangkapan ikan di Kota Dumai tersebar pada 5 kecamatan dari 7 kecamatan, yaitu Medang Kampai, Sungai Sembilan, Dumai Barat, Dumai Timur, dan Dumai Kota. Karakteristik perikanan tangkap Kota Dumai adalah Perikanan Tangkap Skala Kecil atau tradisional. Nelayan di Kota Dumai didominasi oleh nelayan utama. Kapal yang digunakan terdiri atas beberapa jenis, yaitu kapal motor (KM) ukuran 5-30 GT, motor tempel (MT) ukuran 5 GT, perahu tanpa motor (PTM), dan nelayan tanpa perahu (NTP). Alat tangkap yang digunakan terdiri atas alat tangkap aktif, pasif, dan statis.The purpose of this research is to describe a condition of capture fisheries production in the city of Dumai from 2017 to 2021 and to analyze the characteristics of fishing units in that city. This research used annual secondary data (2017-2021) number of fishermen, number of boats, number of fishing gear, capture fisheries production, and capture fisheries production value obtained from the Central Bureau of Statistics of the City of Dumai. To obtain a more comprehensive study, primary data was obtained through interviews and observations. Data analysis used was the method of content analysis. The results shows that fishery production data fluctuated. In 2017 the production data was 930,815 kg and decreased significantly in 2018 (564,766 kg), then it increases every year slowly. Fishing activities in Dumai City were spread over 5 districts out of 7 districts, namely Medang Kampai, Sungai Sembilan, West Dumai, East Dumai, and Dumai City. The characteristics of Dumai City’s capture fisheries are small-scale or traditional capture fisheries. Fishermen in the city of Dumai are dominated by a main fishermen. The vessels used consisted of several types, namely boat 5-30 GT, boat with outboard engine sized 5 GT, boat without engine and fisherman without boat. The fishing gear used consisted of active, passive and static fishing gear

    329

    full texts

    337

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇