Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
    337 research outputs found

    PENGARUH PUPUK FERMENTASI KARAGENAN TERHADAP DIAMETER SEL DAN KANDUNGAN LIPID Chlorella vulgaris SKALA SEMI MASSAL

    Full text link
    Chlorella vulgaris merupakan salah satu mikroalga yang berpotensi digunakan sebagai bahan baku biodiesel. Selain itu juga digunakan sebagai food additive serta sumber pakan alami sehingga perlu dilakukan upaya kultur untuk memenuhi ketersediaan stok C. vulgaris. Kondisi lingkungan serta nutrien merupakan kondisi yang perlu diperhatikan. Salah satu sumber nutrien dapat diperoleh dari hasil fermentasi karagenan. Sedangkan kondisi lingkungan berkaitan dengan sistem kultur yang digunakan. Kultur skala semi massal digunakan untuk meningkatkan biomassa mikroalga. Penelitian tersebut menggunakan uji ANOVA dan uji jarak berganda Duncan dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan yaitu P1 (Kontrol): menggunakan pupuk campuran Urea 70 ppm, ZA 40 ppm, TSP 40 ppm, EDTA 5 ppm, FeCl3 1 ppm, dan NPK 5 ppm dengan takaran pemberian disamakan dengan dosis pupuk Walne yakni 1 mL/L, P2: menggunakan pupuk karagenan yang difermentasi dengan dosis 20 ppm, P3: menggunakan pupuk karagenan yang difermentasi dengan dosis 30 ppm, dan P4: menggunakan pupuk karagenan yang difermentasi dengan dosis 40 ppm. Hasil penelitian diperoleh bahwa penambahan pupuk karagenan yang difermentasi diperoleh dosis terbaik 20 ppm dengan hasil diameter sel 2,79 µm dan kandungan lipid 45,02%.Chlorella vulgaris is one of the microalgae that has the potential to be used as a raw material for biodiesel. Additionally, it is also used as a food additive and a natural feed source, so efforts to culture it are necessary to meet the availability of the C. vulgaris stock. Environmental conditions and nutrients are factors that need to be considered. One source of nutrients can be obtained from the fermentation of carrageenan. Meanwhile, environmental conditions are related to the culture system used. A semi-mass culture scale was used to increase the microalgae biomass. The study used ANOVA and Duncan’s multiple distance test with four treatments and five replications, namely: P1 (control): using a mixed fertilizer of Urea 70 ppm, ZA 40 ppm, TSP 40 ppm, EDTA 5 ppm, FeCl3 1 ppm, and NPK 5 ppm with a dosage equal to the Walne fertilizer dosage of 1 mL/L; P2: using carrageenan fertilizer fermented with a dosage of 20 ppm; P3: using carrageenan fertilizer fermented with a dosage of 30 ppm; and P4: using carrageenan fertilizer fermented with a dosage of 40 ppm. The results of the study showed that the addition of fermented carrageenan fertilizer obtained the best dosage of 20 ppm with a cell diameter of 2.79 µm and a lipid content of 45.02%

    PERBANDINGAN KEDALAMAN DAN MATERIAL PERANGKAP POST LARVA LOBSTER DI TELUK AWANG, LOMBOK

    Full text link
    Kegiatan pembesaran post larva lobster masih bergantung pada benih dari alam, sedangkan post larva yang tertangkap sedikit dan ukurannya tidak seragam. Oleh karena itu dibutuhkan alat tangkap yang efektif dan efisien. Keefektifan alat tangkap dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya kedalaman pengoperasianya dan bahan pembentuk. Bahan pembentuk yang digunakan yaitu kantong semen dan kantong pakan udang. Pada kedalaman pengoperasianya dengan kedalaman 2, 4, 6, 8, 10, 12, dan 14 m. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan bahan perangkap yang efektif untuk menangkap post larva lobster dan mengidentifikasi kedalaman peletakan perangkap yang sesuai dengan swimming layer post larva lobster. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada perbandingan kedalaman perangkap pada kedalaman 14 m memberikan hasil tangkapan tertinggi yaitu 47 ekor dan terendah pada kedalaman 2 dan 4 m dengan hasil tangkapan 3 ekor, sedangkan pada perbandingan bahan pembentuk hasil tanggkapan tertinggi pada bahan kantong semen yaitu 191 ekor, sedangkan pada kantong pakan udang yaitu 188 ekor. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan kedalaman 14 m dan bahan kantong semen memberikan hasil tangkapan tertinggi.The rearing activities of lobster post-larvae still depend on seeds from nature, while the post-larvae caught are few and the size is not uniform. Therefore, effective and efficient fishing gear is needed. Regarding the effectiveness of fishing gear, it is influenced by various factors including the depth of operation and the forming material to obtain an effective and efficient trap, it was tested based on the constituent materials, namely cement sacks and shrimp feed sacks. At the depth of operation with a depth of 2, 4, 6, 8, 10, 12, and 14 m. This study aims to compare the effective trap materials for catching lobster post larvae and identify the appropriate depth of trap placement with the lobster post-larva swimming layer. The results showed that the comparison of the depth of the trap at a depth of 14 m gave the highest catch of 47 fish and the lowest at a depth of 2 and 4 m with a catch of 3 fish, while in the comparison of forming materials the highest catch was in the sack material, which was 191 individuals, while in the feed sack shrimp is 188 individuals. Based on the results of the study showed a depth of 14 m and cement sack material gave the highest catch

    DINAMIKA POPULASI DAN STATUS PEMANFAATAN TONGKOL ABU-ABU Thunnus tonggol DI PERAIRAN TELUK SEMANGKA

    Full text link
    Longtail tuna (Thunnus tonggol) is one of the economic fish that has been regulated in Indonesia and also caught in the waters of Semangka Bay, Lampung. In order to be managed properly, scientific data due to utilization are needed. The purpose of this study was to analyzed population dynamic and utilization of longtail tuna resources in the Bay Semangka waters, through assessment growth patterns, growth parameters, condition factors, utilization rates, and the spawning potential ratio (SPR). Data were based on distributions of Total Length (TL) from 515 samples of longtail tuna landed at Kota Agung Coastal Fishing Port during March-April 2022. Data were analyzed using FISAT II ver 1.2.2 and web.barefootecologist.com.au software. The results showed that longtail tuna had a negative allometric growth (b=2.2251), condition factor was approach value of 1.0, asymptotic length (L∞) of 813.33 mm, exploitation rate (E) of 0.84 year-1, and spawning potential ratio (LB-SPR) of 13%. These conditions showed that longtail tuna in the Semangka Bay had overfishing and the exploitation was feared to be unsustainable, therefore it needs to be managed properly.Tongkol abu-abu (Thunnus tonggol) merupakan salah satu ikan ekonomis yang telah diatur di Indonesia dan juga ditangkap di perairan Teluk Semangka, Lampung. Agar dapat dikelola dengan baik, diperlukan data ilmiah terkait pemanfaatannya. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis dinamika populasi dan pemanfaatan sumber daya ikan tongkol abu-abu di perairan Teluk Semangka, melalui pengkajian pola pertumbuhan, parameter pertumbuhan, faktor kondisi, tingkat pemanfaatan, dan rasio potensi pemijahan (SPR). Data diperoleh berdasarkan distribusi panjang total (TL) dari 515 sampel tongkol abu-abu yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Pantai Kota Agung selama Maret-April 2022. Data dianalisis menggunakan software FISAT II ver 1.2.2 dan web.barefootecologist.com.au. Hasil penelitian menunjukkan tongkol abu-abu memiliki pertumbuhan alometrik negatif (b=2.230), faktor kondisi mendekati angka 1,0, panjang asimtotik (L∞) 813,33 mm, laju eksploitasi (E) 0,84 tahun-1, dan rasio potensi pemijahan (LB-SPR) sebesar 13%. Kondisi inilah yang menyebabkan tongkol abu-abu di Teluk Semangka mengalami overfishing dan eksploitasinya dikhawatirkan tidak berkelanjutan, sehingga perlu dikelola dengan baik

    VARIABILITAS SUHU PERMUKAAN LAUT DAN KONSENTRASI KLOROFIL-A DI PERAIRAN PALABUHANRATU DAN SEKITARNYA

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variabilitas Suhu Permukaan Laut (SPL) dan konsentrasi klorofil-a (Chl-a) di perairan Palabuhanratu dan sekitarnya. Penelitian ini menggunakan gabungan data citra satelit NOAA-AVHRR dan MODIS untuk SPL, SeaWiFS dan MODIS untuk Chl-a, data angin permukaan bulanan dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF). Data pendukung berupa indeks El Nino Southern Oscillation (ENSO) dan indeks dipole mode (DMI) bulanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SPL di daerah penelitian selama 21 tahun (1997-2018) berada pada kisaran 23,14-33,45°C dimana SPL tertinggi terjadi saat akhir Musim Peralihan-1 (Mei), sementara nilai paling rendah ditemui pada saat awal Musim Peralihan-2 (September). Konsentrasi klorofil-a selama 21 tahun berkisar 0,063-13,363 mg/m3 dimana nilai Chl-a paling tinggi terjadi saat awal Musim Peralihan-2 (September), sementara nilai yang paing redah ditemui pada saat akhir Musim Peralihan-1 (Mei). Saat ENSO dan IOD positif terjadi bersamaan menyebabkan kecepatan angin Tengara meningkat sehinga mengakibatkan peningkatan intensitas upwelling di Perairan Palabuhanratu dan sekitarnya yang mengakibatkan nilai SPL yang lebih rendah dan konsentrasi Chl-a yang lebih tinggi dari biasanya. Variabilitas nilai SPL dan Chl-a dipengaruhi oleh pola angin musiman, intensitas radiasi matahari, fenomena anomali iklim ENSO, dan Indian Ocean Dipole Mode (IODM). Tingginya konsentrasi klorofil-a pada sekitar bulan Agustus-Oktober bersamaan dengan rendahnya SPL pada bulan yang sama diduga akibat terjadinya fenomena upwelling.The purpose of this study was to determine the variability of Sea Surface Temperature (SST) and chlorophyll-a concentration (Chl-a) in the waters of Palabuhanratu and its surroundings. This study used a combination of NOAA-AVHRR and MODIS images data for monthly SST, SeaWiFS and MODIS images for monthly Chl-a, and monthly surface wind data from the European Center for Medium Range Weather Forecasts (ECMWF). Monthly data of El Nino Southern Oscillation (ENSO) index and the Dipole Mode Index (DMI) were also used. The results showed that the range of SST for 21 years (1997-2018) was 23.14-33.45°C where the maximum SST value occurred at the end of Transition Season 1 (May), while the minimum low value was found at the beginning of Transition Season 2 (September). Chl-a for 21 years ranged from 0.063-3.363 mg/m3 where the maximum Chl-a occurred during the beginning of Transition Season 2 (September), while the minimum value was found at the end of Transition Season 1 (May). During ENSO and positive IOD occurred together, it triggered stronger Southeast wind speed and intensified upwelling event along the Palabuhanratu and its surrounding waters and caused lower SST and higher Chl-a than normal. Variabilities of the SST and Chl-a values were related to the seasonal winds, the intensity of solar radiation, the phenomenon of climate anomalies of ENSO, and Indian Ocean Dipole Mode (IODM). The evidence of higher concentration of chlorophyll-a around August-October coincided with the evidence of lower SST in the same seasons was due to the upwelling phenomenon

    PENGARUH PENGGUNAAN RAM KOTAK TERHADAP PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT (Caulerpa lentillifera)

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan ram kotak terhadap pertumbuhan rumput laut (Caulerpa lentillifera). Penelitian ini dilakukan di Perairan Dato Rangas, Majene. Penelitian ini terdiri atas 4 (empat) titik yakni 3 (tiga) titik menggunakan ram kotak dan 1 (satu) titik tidak menggunakan ram kotak yang dijadikan sebagai kontrol. Jumlah Caulerpa lentillifera yang ditebar pada saat penanaman untuk semua titik sebanyak 500 g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan Caulerpa lentillifera selama penelitian tidak mengalami pertumbuhan dikarenakan cuaca ditempat penelitian cukup panas yakni berkisar antara 26,8-38,1°C sehingga kisaran tersebut kurang optimum dan dapat mempengaruhi suhu media budidaya dan mempengaruhi keseluruhan parameter kualitas air media pemeliharaan. Adapun kisaran parameter kualitas air selama penelitian yaitu suhu (26,8-38,1°C), pH (6,9-7,9), salinitas (31-35), nitrat (0,0110 ppm), fosfat (0,0163 ppm), dan amoniak (0,0021ppm).This study aimed to determine the effect of using box ram on the growth of seaweed (Caulerpa lentillifera). This research is located in Dato Rangas Waters, Majene. This study consisted of 4 (four) points, namely 3 (three) points using ram boxes and 1 (one) point without ram boxes for control. The amount of Caulerpa lentillifera that was spread at the time of planting for all points was 500 g. The results showed that the growth of Caulerpa lentillifera during the study did not experience growth because the weather at the research site was relatively hot, which ranged from 26.8-38.1°C. Therefore, this range was not optimal for Caulerpa lentillifera growth, could affect the temperature of the culture medium, and affected the overall water quality parameters of the rearing medium. The range of water quality parameters during the study were temperature (26.8-38.1°C), pH (6.9-7.9), salinity (31-35), nitrate (0.0110 ppm), phosphate (0.0163 ppm), and ammonia (0.0021 ppm)

    TEKNIK MIKROENKAPSULASI PEPTON IKAN MULTISPESIES BUSUK MENGGUNAKAN PERBEDAAN KECEPATAN HOMOGENISASI

    Full text link
    Pepton bersifat higroskopis sehingga perlu dilindungi dengan teknik mikroenkapsulasi. Tujuan penelitian ini adalah menentukan pengaruh perbedaan kecepatan homogenisasi terhadap mikroenkapsulasi pepton ikan menggunakan tingkatan kecepatan 16.000 rpm, 22.000 rpm, dan 28.000 rpm serta aplikasinya sebagai media bakteri. Stabilitas ukuran globula terbaik diperoleh menggunakan kecepatan homogenisasi 22.000 rpm. Nilai rendemen sebesar 41,76%. Mikroenkapsulat pepton memiliki kadar air sebesar 8,21%, kadar abu 1,69%, kadar lemak 0,64%, dan kadar protein 15,5%. Nilai hasil uji kelarutan sebesar 75,5%, total nitrogen 1,656%, kadar garam 1,53%, gula pereduksi 23,78%, dan pH sebesar 6,013. Nilai derajat putih sebesar 95,91%. Asam amino mikroenkapsulat pepton ikan mengandung 15 jenis asam amino. Asam amino terbaik pada mikroenkapsulat pepton ikan yaitu alanina dan asam glutamat.Peptone is hygroscopic so it needs to be protected by microencapsulation technique. The research aimed to determine the effect of different homogenization speeds on fish peptone microencapsulation using speed levels of 16,000 rpm, 22,000 rpm, 28,000 rpm, and their application as a bacterial medium. The best globule size stability was made by using homogenization speed of 22,000 rpm. The result analysis of rendement was 41.76%. Peptone microencapsulate had contents of 8.21% moisture, 1.69% ash, 0.64% fat, and 15.5% protein, respectively. The value of solubility test was 75.5%, the nitrogen total 1.656%, salt content 1.53%, reduction sugar 23.78%, and pH 6.013. The value of white degree was 95.91%. Amino acids of fish peptone microencapsulate contained 15 kinds of amino acids. The dominant amino acids on the fish peptone microencapsulate were alanine and glutamic acid

    AKUMULASI LOGAM BERAT TEMBAGA DAN TIMBAL PADA MANGROVE Rhizopora mucronata DI KARANGSONG, INDRAMAYU

    Full text link
    Mangrove memiliki banyak fungsi ekologis salah satunya dapat menyerap, mengangkut, dan menimbun materi termasuk zat-zat toksik. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis kandungan logam berat Cu dan Pb dalam sedimen, akar, dan daun pohon mangrove Rhizopora mucronata. Konsentrasi Cu di sedimen telah melebihi baku mutu menurut Reseau National d’Observation (RNO). Kandungan Cu dan Pb pada akar lebih besar dibandingkan pada daun, begitu pula dengan nilai faktor biokonsentrasinya, BCF tertinggi yaitu BCF Pb pada akar sebesar 1,3116, sementara BCF Cu pada akar sebesar 0,5609. Hal tersebut mengindikasikan daya akumulasi akar jauh lebih tinggi daripada daun. Nilai Faktor Translokasi (TF) tertinggi dicapai oleh Pb yaitu sebesar 0,4075 sedangkan terendah pada Cu sebesar 0,3341. Translokasi logam dari akar ke daun untuk logam esensial (Cu) lebih rendah dibandingkan pada logam non esensial (Pb), hal tersebut menunjukkan bahwa mangrove menggunakan logam tersebut untuk aktivitas metabolisme dan pertumbuhan. Kemampuan mangrove dalam mengakumulasi logam berat ini masuk ke dalam kategori rendah menurut indeks faktor konsentrasi.Mangrove has many ecological functions, one of them is to absorb, transport and store substances including toxic materials. This research aim is to analyze the concentration of Cu and Pb in root, leave, and substrat of mangrove Rhizopora mucronata and its bioaccumulation level. The concentration of Cu found in sediment exceed standar quality by Reseau National d’Observation (RNO), which means the sediment has been contaminated by Cu. The content of Cu in the rootsand leaves of mangrove is greater than Pb, so does the highest level of bioconcentration factor (BCF) was reached by BCF Pb in root at 1.3116 while BCF Cu in roots at 0.5609. This indicates that the potency of accumulation of roots is much higher than the leaves. The highest Translocation Factor (TF) was attained by Pb which is 0.4075 and the lowest is 0.3341 in Cu. Metal translocation from roots to leaves for essential metals (Cu) is lower than in non-essential metals (Pb), it shows that the mangrove use Cu for metabolic activity and growth. The ability of mangrove in accumulating this metals are still low in category according to concentration factor index

    IDENTIFIKASI TUTUPAN DAN KONDISI PERAIRAN PADA EKOSISTEM LAMUN DI PULAU TIDUNG KECIL

    Full text link
    Salah satu tumbuhan berbunga yang hidup di bawah air dan tumbuh subur di perairan laut dangkal dan muara adalah lamun. Ekosistem padang lamun sangat penting karena berperan sebagai pendukung dalam bidang perikanan dan ada kaitannya dengan ekosistem pesisir lainnya seperti terumbu karang dan mangrove. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan lamun antara lain suhu, salinitas, kedalaman, dan arus. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tutupan dan kondisi perairan pada ekosistem lamun di Pulau Tidung Kecil. Metode yang digunakan dalam mengetahui persentase tutupan lamun ini adalah metode transek kuadran yaitu, penarikan garis yang ditarik lurus di atas padang lamun. Kuadran sendiri merupakan bagian bingkai/frame yang mempunyai bentuk segi empat sama sisi yang kemudian ditaruh pada garis tersebut. Berdasarkan hasil penelitian di Pulau Tidung Kecil yang terdapat di 3 stasiun dan 5 plot, menunjukkan rata-rata tutupan lamun secara keseluruhan sebesar 30,4%. dan kondisi kualitas suhu, salinitas, kedalaman, dan arus di sana cukup baik untuk kehidupan lamun.One of the flowering plants that live underwater and grow in shallow marine waters and estuaries is seagrass. Seagrass ecosystems are very important because they play a supporting role in fisheries and are related to other coastal ecosystems such as coral reefs and mangroves. There are several factors that can affect seagrass growth such as temperature, salinity, depth, and current. This research aimed to identify the cover and water conditions in seagrass ecosystems on Small Tidung Island. The method used in determining the percentage of seagrass cover was the quadrant transect method, namely, drawing a line drawn straight over the seagrass field. The quadrant itself was part of the frame which had the shape of an equilateral rectangle which was then placed on the line. Based on the results of research on the island of Small Tidung Island in 3 stations and 5 plots, showed an overall average seagrass cover of 30.4%, and the quality conditions of temperature, salinity, depth, and current there were good for seagrass growth

    KELIMPAHAN KEPITING BAKAU (Scylla sp.) DI TAMAN WISATA MANGROVE PANDAN ALAS, DESA SRIMINOSARI, LAMPUNG TIMUR

    Full text link
    Kepiting bakau (Scylla sp.) memiliki keterkaitan dengan ekosistem sekitarnya, khususnya dalam ekosistem mangrove. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi jenis-jenis kepiting bakau (Scylla sp.) yang terdapat di Taman Wisata Mangrove Pandan Alas, Desa Sriminosari, Lampung Timur dan mengkaji hubungan kelimpahan kepiting bakau dengan parameter lingkungan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober-November 2022 di Taman Wisata Mangrove Pandan Alas, Lampung Timur. Data analisis menggunakan PCA (Principal Component Analysis). Spesies kepiting bakau yang ditemukan pada Taman Wisata Mangrove Pandan Alas yaitu kepiting bakau jenis Scylla serrata dan Scylla olivacea. Berdasarkan hasil PCA, parameter yang memengaruhi kelimpahan kepiting bakau di Taman Wisata mangrove Pandan Alas adalah BOT (Bahan Organik Total), substrat, dan pH tanah.Mangrove crabs (Scylla sp.) are related to the surrounding ecosystem, especially in the mangrove ecosystem. The purpose of this study is to identify the species of mangrove crabs (Scylla sp.) found in the Pandan Alas Mangrove Tourism Park, Sriminosari Village, East Lampung, and examine the relationship between the abundance of the crab and environmental parameters. This research was conducted in October-November 2022 at the Pandan Alas Mangrove Tourism Park, East Lampung. Data analysis used was PCA (Principal Component Analysis). Mud crabs found in the Pandan Alas Mangrove Tourism Park was Scylla serrata and Scylla olivacea. Based on PCA results, parameter which affect mangroves crab abundance in Pandan Alas Mangrove Tourism Park was BOT (Total Organic Matter), substrate, and soil pH

    PENILAIAN KESEHATAN MANGROVE DI DESA JAGO JAGO, KABUPATEN TAPANULI TENGAH, SUMATERA UTARA

    Full text link
    Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis persentase tutupan mangrove di Desa Jago Jago Sumatera Utara. Metode hemispherical photography digunakan untuk menentukan tajuk mangrove. Metode ini memberikan informasi yang lebih akurat karena area yang ditangkap oleh kamera lebih presisi, sehingga dapat menggambarkan tutupan tajuk mangrove yang sebenarnya. Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2022 di 6 stasiun. Lokasi stasiun penelitian ditentukan dengan menggunakan purposive sampling. Pengambilan data tajuk mangrove menggunakan kamera 12-megapiksel. Teknik ini diterapkan pada plot berukuran 10x10 m2 dan dianalisis menggunakan perangkat lunak ImageJ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 8 spesies mangrove yang ditemukan di Desa Jago Jago yaitu Rhizophora stylosa, Rhizophora apiculata, Xylocarpus granatum, Bruguiera sexangula, Bruguiera gymnorrhiza, Ceriops tagal, Lumnitzera littorea, dan Nypa fruticans. Nilai kerapatan yang didapatkan berkisar 1.400 sampai 1.708,67 ind/ha, dan rata-rata nilai tajuk mangrove sebesar 76,15 %, tergolong rapat.The aim of the study is to analyze the percentage of mangrove canopy in Jago Jago Village of North Sumatra. The hemispherical photographic method was used to determine the mangrove canopy. This method provides more accurate information because the area captured by the camera is more precise, thus depicting the actual tree canopy cover. This study was conducted in September 2022 at 6 stations. Location station of the study was determined using purposive sampling. Data collection of the mangrove canopy used a 12-megapixel camera resolution. This technique was applied on a measuring 10x10 m2 and analyzed using by ImageJ software. The results of the study showed that there were 8 species of mangrove found in the Jago Jago Village namely Rhizophora stylosa, Rhizophora apiculata, Xylocarpus granatum, Bruguiera sexangula, Bruguiera gymnorrhiza, Ceriops tagal, Lumnitzera littorea, and Nypa fruticans. The density value ranged from 1,400 to 1,708.67 ind/ha, and the average mangrove canopy cover value was 76,15%, which is classified as dense

    329

    full texts

    337

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇