Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
337 research outputs found
Sort by
PERUBAHAN GARIS PANTAI AKIBAT ADANYA BREAKWATER DI PULAU PRAMUKA, KEPULAUAN SERIBU, INDONESIA
Garis pantai pada umumnya mengalami perubahan posisi dari waktu ke waktu akibat adanya abrasi dan sedimentasi. Perubahan garis pantai dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya akibat adanya bangunan pantai. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perubahan garis pantai akibat adanya bangunan pantai breakwater di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Metode pengolahan dan analisis data dilakukan menggunakan teknologi penginderaan jauh. Dari hasil pengolahan dan analisis data citra satelit Landsat 7 dan 8 dari tahun 2010 sampai tahun 2017 terdapat endapan sedimen atau akresi di pantai Pulau Pramuka akibat adanya bangunan breakwater. Luas endapan sedimen yang terjadi pada tahun 2010 sebesar 7.731 ha, pada tahun 2015 sebesar 7.974 ha, sedangkan pada tahun 2016 sebesar 5.285 ha dan pada tahun 2017 sebesar 5.387 ha. Timbulnya endapan sedimen di pinggiran pantai akibat breakwater ini mengakibatkan terjadinya perubahan garis pantai di sekitar Pulau Pramuka.The coastline generally changes position timingly due to abrasion and sedimentation. Changes in the coastline are influenced by several factors, one of which is due to the existence of coastal buildings. This study aims to determine changes in the coastline due to the breakwater beach building on Pramuka Island of Seribu Islands. Data processing and analysis methods were carried out using remote sensing technology. From the results of the processing and analysis of Landsat 7 and 8 satellite image data from 2010 to 2017, there were sediment deposits or accretion on the coast of Pramuka Island due to the breakwater building. The area of sediment deposits that occurred in 2010 was 7,731 ha, in 2015 it was 7,974 ha, while in 2016 it was 5,285 ha and in 2017 it was 5,387 ha. The emergence of sediment deposits along the coast due to this breakwater had resulted in a change in the coastline around Pramuka Island
PENGARUH PENAMBAHAN SKEG TERHADAP OLAH GERAK DAN HAMBATAN KAPAL NELAYAN DI PELABUHAN PERIKANAN PUGER, JEMBER
Kapal ikan merupakan kapal yang digunakan melakukan aktivitas penangkapan ikan, pengangkutan ikan, dan lain-lain. Kapal penangkap ikan di Puger memiliki ciri khas tersendiri yang mana memiliki bentuk lambung gemuk dan lebar. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kapal dalam olah geraknya. Namun, akan berdampak pada besarnya resistance kapal. Sehingga diperlukan komponen sebagai peredam gerakan kapal tanpa membuat bentuk lambung kapal yang gemuk dan lebar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan kapal dalam kondisi perairan laut lepas terutama di Perairan Puger, sebagai landasan terkait uji karakteristik hidrodinamika pada kapal ikan di Perairan Puger dengan menambahkan komponen skeg guna meminimalisir terjadinya kecelakaan kapal oleng di masa yang akan datang. Obyek penelitian ini menggunakan model kapal yang sudah beroperasi dan kemudian dilakukan penggambaran ulang serta dimodifikasi dengan penambahan skeg yang selanjutnya dilakukan analisis hidrodinamika kapal diantaranya hambatan dan olah gerak kapal dengan menggunakan metode numerik. Sehingga diperoleh hasil hambatan dan olah gerak kapal dari pengembangan variasi lambung kapal ikan yang lebih baik 86-98% daripada tanpa menggunakan skeg. Penggunaan skeg terhadap karakteristik hambatan dan olah gerak kapal yang lebih baik yang sesuai dengan wilayah Perairan Puger.A fishing vessel is a type of ship used for fishing activities, fish transportation, and other purposes. Fishing vessels in Puger have their own distinctive characteristic of having a broad and rounded hull shape. This is intended to enhance the vessel’s maneuverability. However, it will impact the amount of resistance the ship experiences, thus necessitating the use of components to resistance the ship’s motion without altering the broad and rounded hull shape. This research aim to estimate the capabilities of the ship in conditions in the high seas, especially in Puger Waters, serve as a foundation for testing hydrodynamic characteristics of fishing vessels in the Puger Waters by incorporating a skeg component to minimize the occurrence of accidents involving ship instability in the future. The research object utilized an operational ship model, which was then re-drawn and modified by adding a skeg component. Subsequently, hydrodynamic analysis of the ship was conducted, including resistance and maneuverability, using numerical methods. As a result, the resistance and maneuverability of the modified fishing vessel hull variations were found to be 86-98% better than those without the skeg. The use of a skeg has a positive impact on the resistance and maneuverability characteristics of the ship, aligning well with the conditions in the Puger Waters
SIMPANAN KARBON DI VEGETASI MANGROVE DESA SUNGAI NIBUNG, KABUPATEN TULANG BAWANG, PROVINSI LAMPUNG
Peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer menimbulkan dampak efek gas rumah kaca dan mengakibatkan pemanasan global. Karbon biru (blue carbon) merupakan kemampuan ekosistem pesisir dan laut dalam menyerap CO2 secara efektif melalui fotosintesis yang disimpan dalam bentuk biomassa dan sedimen. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis simpanan karbon di vegetasi mangrove Desa Sungai Nibung. Penelitian dilakukan dari Juni sampai Agustus 2022. Lokasi penelitian di Desa Sungai Nibung, Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung. Pengukuran karbon mangrove pada tegakan mangrove, nekromassa, dan serasah yang dilakukan dengan metode non-destructive sampling. Hasil penelitian menunjukkan karbon tersimpan pada sedimen lebih besar dibandingkan dengan karbon tersimpan pada tegakan, nekromassa, dan serasah. Karbon tersimpan pada sedimen yang tertinggi berada pada sedimen yang memiliki ukuran liat kasar karena liat kasar dapat menyimpan unsur hara yang tinggi.Increasing the concentration of CO2 in the atmosphere produces the greenhouse gas effect and cause global warming. Blue carbon is the ability of coastal and marine ecosystems to absorb CO2 effectively through photosynthesis which is stored in the form of biomass and sediment. The purpose of this research is to analyze carbon storage in the mangrove vegetation of Sungai Nibung Village. The research was conducted from June to August 2022. The research location was in Sungai Nibung Village, Tulang Bawang Regency, Lampung Province. Measurements of mangrove carbon were conducted in mangrove stands, necromass, and litter using the non-destructive sampling method. The results showed that carbon stored in sediments was greater than carbon stored in the mangrove stands, necromass, and litter. The highest carbon stored in sediments was in coarse clay size sediment because coarse clay can store high nutrients
KALSIUM OKSIDA CANGKANG KERANG SEBAGAI MATERIAL REAKSI EKSOTERMIS KEMASAN PEMANAS SENDIRI UNTUK PANGAN DARURAT LOKAL
Konsep pangan darurat di Indonesia belum sepenuhnya memperhatikan aspek pemenuhan kecukupan gizi dan model pangan yang sesuai, termasuk potensi pangan lokal. Pengembangan kemasan pemanasan sendiri dengan reaksi eksotermik sebagai respons terhadap tuntutan modern akan kepraktisan dan higienitas masih belum dilakukan. Di sisi lain, terdapat potensi kalsium oksida cangkang kerang sebagai sumber material pemanas eksotermik yang menjanjikan. Penelitian bertujuan menentukan reaktan kalsium oksida yang diperoleh dari limbah cangkang kerang darah untuk digunakan sebagai kemasan pemanasan sendiri dengan reaksi eksotermik pada pangan darurat lokal bubbor paddas. Tahapan penelitian meliputi pembuatan dan penentuan karakteristik bubbor paddas sebagai pangan darurat lokal sesuai asupan harian, kalsinasi kalsium oksida dari cangkang kerang darah, serta perancangan dan penentuan karakteristik kemasan pemanasan sendiri dengan reaksi eksotermik untuk pangan darurat lokal. Bubbor paddas sebagai model pangan darurat lokal yang dihasilkan, memiliki takaran saji 380 g dengan asupan harian 510 kilokalori energi. Kalsium oksida yang diperoleh dari kalsinasi cangkang kerang darah pada suhu 900°C selama 4 jam memiliki kristalisasi yang menghasilkan perubahan energi (entalpi) sebesar -312,20 J/g dan -21,30 J/g, dengan pelepasan panas yang bersifat eksotermik. Melalui perbandingan 1:2 dengan air dan nilai pH 11,68±0,49, kemasan pemanasan sendiri dengan reaksi eksotermik ini mampu menghasilkan panas 6,72 kilojoule atau dapat memanaskan bubbor paddas hingga suhu 28°C setelah menjalani waktu 40 menit untuk mencapai kestabilan suhu.The concept of emergency food in Indonesia has not fully addressed nutritional adequacy and suitable food models, including the potential of local food. The development of self-heating packaging with an exothermic reaction in response to modern demands for convenience and hygiene has not been implemented yet. However, there is potential in using calcium oxide from shells as a promising source of exothermic heating material. This research aims to investigate the use of calcium oxide obtained from waste cockle shells as a reactant in self-heating packaging with an exothermic reaction for local emergency food, specifically bubbor paddas. The research involved several stages, including producing and determining the characteristics of bubbor paddas as a local emergency food based on daily intake, calcination calcium oxide from cockle shells, and designing and determining the characteristics of self-heating packaging with an exothermic reaction for local emergency food. Bubbor paddas, as a local emergency food model, has a serving size of 380 g and provides a daily intake of 510 kilocalories of energy. The calcium oxide obtained from cockle shells, through calcination at 900°C for 4 hours, exhibits crystallization with an energy change (enthalpy) of -312.20 J/g and -21.30 J/g, indicating heat release of an exothermic nature. Using a 1:2 ratio with water and with a pH value of 11.68±0.49, this self-heating packaging with an exothermic reaction was capable of producing 6.72 kilojoules of heat or heating bubbor paddas to a temperature of 28°C within a duration of 40 minutes to achieve temperature stability
PENILAIAN KONDISI TERUMBU KARANG DI PULAU GENTENG BESAR DAN KAYU ANGIN GENTENG, KEPULAUAN SERIBU
Coral reef resources in the Seribu Islands National Park reached 40% live coral cover since 2011 to 2017, and are classified as damage condition. The condition of coral reef cover on Kayu Angin Genteng Island has a percentage of 49% since 2018 to 2019 and is classified in the moderately damaged category. This study aims to evaluate the condition of coral reefs on Pulau Genteng Besar and Kayu Angin Genteng using the Underwater Photo Transect method and analysis used CPCe (Coral Point Count with Excel Extensions) software. The location of data collection was carried out using by purposive sampling. The results of observations on Genteng Besar Island showed that the highest hard coral cover was at the north point (57.25%). The highest category of lifeform species found at the western point was the Massive Coral (CM) type (13.31%), and the lowest was found in the Acropora Digitate (ACD) category (0.27%). The results of observations made on Kayu Angin Genteng Island showed that the percentage of hard coral cover was 32.30%, 10 species with the highest lifeform category found at the north point was Coral Foliose (CF) (24.06%) and the lowest in the category of Massive Coral (CM).Sumber daya terumbu karang di Taman Nasional Kepulauan Seribu memiliki persentase sebesar 40% tutupan terumbu karang hidup sejak tahun 2011 hingga 2017, dan sudah tergolong dalam kategori rusak. Kondisi tutupan terumbu karang pada Pulau Kayu Angin Genteng memiliki persentase sebesar 49% sejak tahun 2018 hingga 2019 dan masuk ke dalam kategori rusak sedang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi terumbu karang di Pulau Genteng Besar dan Kayu Angin Genteng. menggunakan metode Underwater Photo Transect dan dianalisis menggunakan software CPCe (Coral Point Count with Excel Extensions). Lokasi pengambilan data dilakukan dengan cara purposive sampling. Hasil pengamatan yang di Pulau Genteng Besar menunjukkan hasil tutupan karang keras tertinggi yaitu berada pada titik utara (57,25%). Kategori jenis lifeform tertinggi yang ditemukan di titik barat adalah jenis Coral Massive (CM) (13,31%) dan terendah terdapat pada kategori Acropora Digitate (ACD) (0,27%). Hasil pengamatan yang dilakukan di Pulau Kayu Angin Genteng menunjukkan persentase hasil tutupan karang keras sebesar 32,30%, 10 jenis kategori lifeform tertinggi yang ditemukan di titik utara adalah Coral Foliose (CF) (24,06%) dan terendah pada kategori Coral Massive (CM)
PERSEPSI NELAYAN TERHADAP RUMPON PORTABLE DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI LARANGAN, KABUPATEN TEGAL
Perairan Karang Jeruk merupakan kawasan konservasi ekosistem terumbu karang yang terletak di Dukuh Larangan (Desa Munjungagung, Kabupaten Tegal, di Provinsi Jawa Tengah) yang memiliki kekayaan sumber daya perikanan yang baik. Alat tangkap yang banyak terdapat di perairan Karang Jeruk adalah payang gemplo dan mini purse seine. Penggunaan teknologi rumpon portable diharapkan dapat menciptakan daerah penangkapan ikan dan mengantisipasi timbulnya degradasi daerah penangkapan ikan. Tujuan dari kegiatan ini adalah menganalisis persepsi nelayan terhadap penggunaan inovasi rumpon portable di perairan Karang Jeruk, Kabupaten Tegal. Penelitian ini menggunakan metode wawancara dan experimental fishing. Data persepsi nelayan dilakukan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner kepada 50 nelayan payang gemplo dan mini purse seine, dengan penentuan responden secara accidental sampling. Seluruh nilai persepsi nelayan terhadap rumpon portable dikelompokkan menjadi 3 kategori, sebagian besar nelayan memiliki persepsi pada tingkat tinggi sebanyak 38 orang (76%), tingkat sedang sebanyak 11 orang (22%), dan tingkat rendah hanya 1 orang (2%). Penggunaan rumpon portable memiliki keunggulan diantaranya: produktivitas tangkapan yang banyak, jenis tangkapan beragam, dan komposisi ikan kategori layak tangkap yang banyak.Karang Jeruk waters is a coral reef ecosystem conservation area located in Larangan Hamlet (Munjungagung Village, Tegal Regency in Central Java Province) which has good fishery resources. The most common fishing gear in Karang Jeruk waters are anchovy seine net and mini purse seine. The use of portable FAD technology is expected to create fishing areas and anticipate the occurrence of degradation of fishing areas. The purpose of this activity was to determine fishermen\u27s perceptions of the use of portable FAD innovations in Karang Jeruk waters, Tegal Regency. The research method was carried out using interview methods and experimental fishing activities. Fishermen\u27s perception data was conducted by interview using a questionnaire to 50 fishermen in anchovy seine net and mini purse seine, with accidental sampling of respondents. All fisherman perceptions of portable FADs were grouped into 3 categories, most fishermen have a high level perception of 38 people (76%), a medium level of 11 people (22%), and a low level of only 1 person (2%). The use of portable FADs hads advantages including: high catch productivity, various types of catch, and a large number of fish fit for catching categories
KESELAMATAN KERJA PADA BONGKAR MUAT KAPAL MINI PURSE SEINE 10 GT DI PELABUHAN PERIKANAN LEMPASING
Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Lempasing merupakan pelabuhan perikanan terbesar di Lampung. Salah satu kapal yang paling banyak dioperasikan di Pelabuhan Lempasing yaitu mini purse seine. Terdapat berbagai aktivitas di Pelabuhan Lempasing, yaitu pendaratan (bongkar muat) dan pemasaran ikan. Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Perikanan Lempasing merupakan aktivitas utama setelah kapal berlabuh di dermaga. Kecelakaan yang terjadi pada aktivitas bongkar muat dapat menyebabkan kerugian berupa terhambatnya kegiatan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi kegiatan dan potensi bahaya aktivitas bongkar muat kapal mini purse seine, menganalisis tingkat kecelakaan dan peluang risiko yang mungkin dapat terjadi, memberikan rekomendasi/alternatif solusi, serta menentukan tindak pengendalian kecelakaan kerja. Metode survei deskriptif HTA (Hierachy Task Analysis) digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 47 risiko kecelakaan pada aktivitas bongkar muat, kegiatan berisiko ringan 36 (77%), menengah terdapat 5 (11%) kegiatan, 2 (4%) kegiatan berisiko berat, dan 4 (9%) kegiatan berisiko fatal. Risiko kecelakaan kerja terbesar terjadi pada kegiatan bongkar, hal ini disebabkan karena individu yang terlibat cukup banyak (sekitar 20 orang) dan aktivitas yang dilakukan cukup berat.Lempasing Coastal Fishing Port (PPP) is the largest fishing port in Lampung. One of the most widely operated vessels in Lempasing Port is the mini purse seine. There are various activities at Lempasing fishing Port, namely landing (unloading) and marketing of fish. Loading and unloading activities at the Lempasing Fishing Port are the main activities, after the ship docks at the dock. Accidents that occur in loading and unloading activities can cause losses in the form of delays in activities. The purposes of this research were to identify activities and potential hazards of loading and unloading activities for mini purse seine vessels, analyze the accident rate and risk opportunities that may occur, provide recommendations/alternative solutions, and determine work accident control measures. The survey method descriptive HTA (Hierachy Task Analysis) was used in this research. The results showed that there were 47 accident risks in loading and unloading activities, 36 (77%) moderate risk activities, 5 (11%) two activities (4%) severe risk, and 4 (9%) fatal risk activities. The greatest risk of work accidents occurred in unloading activities. This was because there were around 20 individuals involved, and the activities carried out were quite heavy
PENGEMBANGAN DESAIN DAN KONSTRUKSI LAMPU ATRAKTOR PADA BAGAN
Lampu atraktor adalah salah satu alat bantu penangkapan ikan untuk memikat ikan ke area penangkapan (catchable area). Berbagai jenis lampu dapat dipakai sebagai lampu atraktor seperti lampu petromaks, bohlam, lampu merkuri, TL (tubular lamps), dan LED (light emitting diodes). Efisiensi konsumsi energi, efektivitas penangkapan ikan, dan kemudahan penggunaan menjadi pertimbangan nelayan dalam memilih lampu atraktor. Penelitian sebelumnya mengenai HPL (high power LED) sebagai lampu atraktor pada perikanan bagan berhasil menangkap 97,363 kg ikan (3,6 kali lebih banyak daripada nelayan yang menggunakan lampu TL). Penelitian ini kemudian diulang di perairan yang berbeda dan menangkap 433 kg ikan (1,9 kali lebih banyak). Namun demikian, lampu atraktor tidak mudah digunakan karena konstruksinya tidak kompak dan pengaturan area proyeksi cahaya dioperasikan secara manual. Penelitian bertujuan untuk mengembangkan lampu atraktor penelitian sebelumnya agar dapat digunakan oleh nelayan dalam melakukan aktivitas penangkapan ikan sehari-hari. Hasilnya, lampu atraktor pengembangan dilengkapi dengan kawat gantung dan servo motor yang dikendalikan oleh microcontroller untuk mengatur luas area proyeksi cahaya, agar mudah digunakan. Uji lapang dilakukan pada bulan Juni-Juli 2022 di perairan Sangrawayang, Jawa Barat. Survei yang dilakukan menunjukkan bahwa para nelayan mengkonfirmasi lampu atraktor pengembangan lebih mudah digunakan dibandingkan dengan lampu atraktor penelitian sebelumnya. Chi-square goodness of fit test survei menunjukkan nilai hitung X2 (8,533) yang lebih besar dari c2 (3,841) pada selang kepercayaan 95%. Selanjutnya, lampu atraktor pengembangan berhasil menangkap ikan 3,25 kali lebih banyak dibandingkan dengan lampu atraktor milik nelayan.Light attractor is one of fish aggregating devices to attract fish coming to a catchable area. Various types of lamps can be applied as light attractors such as petromax lamps, bulbs, mercury lamps, TL (tubular lamps), as well as LED (light emitting diodes). Efficiency of energy consumed, fishing effectiveness, and ease of use to be considered by fishermen in choosing a light attractor. Previous research of HPL (high power LED) light attractor in a stationary lift net succeeded caught 97.363 kg fish (3.6 fold than the TL attractor). The study was then repeated in a different water and caught 433 kg fish (1.9 fold). However, the attractor was not easy to use as the construction wasn’t compact and the light projection area setting was manually operated. This study aimed to improve the attractor so that it can be used by fishermen in daily fishing. As a result, the improved attractor was equipped with a hanging wire and a servo motor controlled by a microcontroller to manage light projection area, to make it easy to use. The research was conducted during June-July 2022 at Sangrawayang water, West Java. The conducted survey showed that the fishermen confirmed that the improved attractor was easier to use than the previous study’s attractor. Chi-square goodness of fit test of the survey showed that the calculated value of X2 (8.533) was greater than c2 (3.841), at 95% confidence interval. Besides, the improved attractor succeeded in catching 3.25 fold fishes than the fisherman’s attractor
PENGELOLAAN PERIKANAN HIU DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI TEGALSARI TEGAL
Ikan hiu adalah jenis ikan bertulang rawan (Elasmobranchii) yang berperan sebagai predator puncak dalam rantai makanan dan juga memiliki peranan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem di lautan. Saat ini, keberadaan hiu terancam punah akibat aktivitas penangkapan berlebih yang disebabkan meningkatnya permintaan komoditas sirip di pasar internasional. Salah satu basis pendaratan hasil tangkapan hiu di Indonesia terletak di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tegalsari Kota Tegal, Provinsi Jawa Tengah. Tekanan terhadap populasi hiu di kawasan ini tidak hanya berasal dari peningkatan usaha tangkapan, namun juga dari kondisi perairan dan habitat yang terus mengalami degradasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja pengelolaan perikanan hiu di PPP Tegalsari dengan pendekatan Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) serta menyusun rekomendasi untuk tindakan pengelolaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja pengelolaan perikanan hiu di PPP Tegalsari berada pada kondisi baik dengan nilai rata-rata keseluruhan domain sebesar 73,39. Tindakan pengelolaan diprioritaskan pada domain ekonomi dan sumber daya ikan yaitu diversifikasi usaha dan kemudahan penyediaan akses permodalan bagi rumah tangga perikanan, membuat regulasi pembatasan upaya penangkapan dan ukuran minimal ikan hiu yang boleh ditangkap; serta peningkatan pengawasan terkait selektivitas alat tangkap dan metode penangkapan.A Sharks is a type of cartilaginous fish (Elasmobranchii) that act as a top predator in the food chain and also has an important role in maintaining the balance of oceanic ecosystems. Currently, sharks are threatened with extinction due to overfishing activities caused by the increasing demand for fin commodities on the international market. One of the landing bases for shark catches in Indonesia is located at Tegalsari Beach Fishing Port (PPP) in Tegal City, Central Java Province. The pressure on shark populations in this area comes not only from an increase in fishing effort, but also from water and habitat degradations. This study aimed to analyze the performance of shark fisheries management in Tegalsari PPP using the Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) approach and develop recommendations for management actions. The results showed that the performance of shark fisheries management at PPP Tegalsari was in a good condition with an overall average domain score of 73.39. Management actions were prioritized in the economic and fish resource domains, namely business diversification and simplification access to capital for household fishery, making regulations limiting fishing effort and the minimum size of sharks that can be caught; and increasing supervision related to selectivity of fishing gear and fishing methods
PERFORMA PERTUMBUHAN DAN KETAHANAN STRES STADIA AWAL UDANG GALAH Macrobrachium rosenbergii YANG DIBERI Bacillus sp.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek aplikasi probiotik Bacillus sp. DMP13 melalui air terhadap respons kinerja pertumbuhan dan ketahanan larva udang galah Macrobrachium rosenbergii. Larva yang digunakan dalam penelitian ini berumur 1 hari pasca menetas dengan bobot tubuh rata-rata 2,7±0,6 mg dan panjang rata-rata 2,1±0,1 mm. Larva dipelihara dalam bak plastik bervolume 2 L dengan kepadatan 100 L-1 selama 21 hari. Penelitian dilakukan dengan 4 perlakuan dengan masing-masing tiga ulangan yaitu A (kontrol tanpa probiotik), B (Bacillus sp. DMP13 dengan konsentrasi sel 102 CFU (Colony Forming Unit)/ mL-1), C (Bacillus sp. DMP13 dengan 104 CFU mL-1) dan D (Bacillus sp. DMP13 dengan 106 CFU mL-1). Pemberian probiotik melalui media pemeliharaan dilakukan pada hari ke-9 sampai ke-18 dengan selang waktu setiap 3 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi probiotik Bacillus sp. DMP13 dengan kepadatan sel 102 CFU mL-1 secara signifikan mampu meningkatkan bobot mutlak larva (29,67±1,88 mg), meningkatkan daya tahan larva dalam cekaman konsentrasi 1,250 μL L-1 larutan formalin (tingkat kelangsungan hidup larva tertinggi 98,3±2,9 %). Perlakuan dengan penambahan sel probiotik 102 CFU mL-1 juga meningkatkan jumlah total bakteri yang hidup dalam media (kepadatan sel mencapai 5,99±0,28 log CFU mL-1). Namun parameter lain seperti indeks stadium larva, tingkat kelangsungan hidup, dan panjang absolut larva udang galah pasca pemberian perlakuan probiotik tidak berbeda nyata dengan kontrol.The study aimed to evaluate the effect of the water application of probiotic Bacillus sp. DMP13 on the growth and stress response of giant freshwater prawn larvae Macrobrachium rosenbergii. The larvae used in this experiment were 1-day-old larvae post-hatching with an average body weight of 2.7±0.6 mg and an average length of 2.1±0.1 mm. The larvae were reared in 2 L plastic tanks with a density of 100 L-1 for 21 days. The study was conducted using 4 treatments with three replications of each, namely A (control without probiotic), B (Bacillus sp. DMP13 with cell concentration of 102 CFU (colony forming unit) mL-1), C (Bacillus sp. DMP13 with 104 CFU mL-1) and D (Bacillus sp. DMP13 with 106 CFU mL-1). Probiotic was applied in the rearing media on days 9th up to 18th with 3 days intervals. The results showed that application of Bacillus sp. DMP13 with a cell density of 102 CFU mL-1 was able significantly increased the absolute larvae weight (29.67±1.88 mg), increased larval survival in stress concentrations of 1,250 μL L-1 of formalin solution (the highest larval survival rate 98.3±2.9%). Treatment with 102 CFU mL-1 probiotic cell addition also increasing the total bacterial viable count in the media (the cell density reached 5.99±0.28 log CFU mL-1). However, other parameters such as the larvae stage index, survival rate, and absolute length of the larvae with probiotic treatments were not significantly different from those of control