Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
337 research outputs found
Sort by
EFEKTIVITAS PEMANFAATAN SISTEM RESIRKULASI AKUAKULTUR (RAS) TERHADAP KUALITAS AIR DALAM BUDIDAYA IKAN KOI (Cyprinus rubrofuscus)
Ikan koi adalah salah satu jenis ikan hias yang banyak diminati oleh masyarakat. Budidaya ikan koi dipengaruhi oleh kualitas air yang berkualitas sebagai media hidup. Permasalahan dalam budidaya ikan koi adalah kualitas air yang cepat menurun yang disebabkan oleh pencemaran aktivitas lingkungan dan hasil metabolisme ikan koi. Metode kerja yang dilakukan adalah persiapan bak pemeliharaan ikan koi, pembuatan rangkaian RAS, penebaran benih ikan koi, dan pengukuran kualitas air. Rangkaian teknologi RAS terdiri dari pipa sebagai saluran air dari wadah pemeliharaan ke bak filter dan sebaliknya, pompa untuk mengalirkan air, dan bak filter yang terdiri dari susunan arang, bioball, zeolit, dan pasir. Selama satu bulan pemeliharaan ikan koi menggunakan teknologi RAS memberikan hasil yang baik terhadap pertumbuhan dan kualitas air budidaya. Benih ikan koi sebelum pemeliharaan berukuran 5-6 cm mengalami pertambahan panjang tubuh menjadi 8,5-10,5 cm. Hasil pengukuran suhu, pH, dan DO air rata-rata budidaya ikan koi sebelum resirkulasi masing-masing adalah 31,2°C; 7,6; dan 4,8 mg/L. Setelah dilakukan proses resirkulasi didapatkan hasil pengukuran rata-rata suhu, pH, dan DO adalah menjadi 29,7°C; 7,1; dan 6,0 mg/L. Hal ini menunjukkan teknologi RAS mampu membuat suhu, pH, dan DO air budidaya ikan koi menjadi optimal. Kualitas air yang optimal akan menyebabkan pertumbuhan ikan koi yang baik.Koi fish is part of ornamental fish that is liked by the public. Koi fish culture is influenced by good water quality as a life medium. The problem in koi fish farming is the decline of water quality caused by pollution and the results of koi fish metabolism. The experiment methods are koi fish rearing tanks preparation, making a series of recirculation aquaculture system (RAS), stocking koi fish seeds, and measuring water quality. The RAS technology range consists of a pipe, a pump, and a filter tank consisting of an arrangement of charcoal, bioball, zeolite, and sand. For one month the maintenance of koi fish using RAS technology gave good results on the growth and quality of the cultured water. Koi fish seeds before rearing measuring 5-6 cm experienced an increase in the body length to 8.5-10.5 cm. The results of measurements of temperature, pH, and DO of koi fish culture water before recirculation include 31.2°C; 7.6; and 4.8 mg/L, respectively. After the recirculation process, the results of temperature, pH, and DO measurements were found to be 29.7°C; 7.1; and 6.0 mg/L, respectively. This shows that RAS technology can to optimize the temperature, pH, and DO of koi fish cultured water. Optimal water quality will lead to good koi fish growth
PENGOLAHAN LIMBAH CAIR PROSES THAWING INDUSTRI PINDANG DENGAN TEKNIK ELEKTROKOAGULASI
Limbah industri perikanan mengandung komponen-komponen organik yaitu protein, lemak, dan komponen organik lainnya yang masih bisa dimanfaatkan dalam kadar yang berbeda-beda. Komponen organik tersebut berasal dari air proses pencucian, sisa pemasakan dan pengepresan ikan, termasuk air limbah thawing. Pengolahan limbah cair dari proses thawing perlu dilakukan untuk menyisihkan komponen-komponen beban polutan pada air limbah thawing. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tegangan listrik dan waktu kontak listrik terbaik dengan metode elektrokoagulasi. Bahan utama yang digunakan merupakan air thawing dari ikan salem yang digunakan untuk pembuatan pindang. Alat yang digunakan plat alumunium (10x2 cm2) sebagai elektroda dan adaptor DC untuk sumber listrik. Perlakuan menggunakan kombinasi variasi tegangan dan lama waktu kontak. Tegangan yang diberikan 6, 9, dan 12 volt, dan variasi waktu kontak (30, 60, dan 90 menit). Perbedaan variasi tegangan dan waktu kontak listrik pada metode elektrokoagulasi memengaruhi nilai kualitas air limbah. Semakin tinggi tegangan dan lama waktu kontak yang diberikan mampu menurunkan nilai BOD5 (92,31)%, COD (48,14)%, TSS (71,15)%, TDS (90,84)%, kekeruhan (99,13)%, protein (95,87)% serta menaikkan nilai pH.Fishery industry waste contains organic components, namely protein, fat, and other organic components that can still be used in different levels. The organic components come from washing process water, cooking residue and pressing fish, including wastewater from thawing process. Treatment of wastewater from thawing process needs to removing for components of the pollutant load in wastewater. This study aims to determine the best electrical voltage and electrical contact time with the electrocoagulation method. The main material used is thawing water of Salem fish which will be processed to pindang product. Aluminium plate (10x2 cm2) was used as an electrode, and DC adapter was used as a power source. The treatments used combination of voltage variation and contact time. The applied voltage is 6, 9, and 12 volt, and the variations of the contact time (30, 60, and 90 minutes). The factorial combination between the electrical contact time and voltage of electrocoagulation method affected the value of the wastewater quality. The higher the voltage and the length of time contact resulted effectively reduction of BOD5 (92.31)%, COD (48.14)%, TSS (71.15)%, TDS (90.84)%, turbidity (99.13)%, protein (95.87)% as well as the pH raising values
VARIABILITAS SUHU PERMUKAAN LAUT DAN KONSENTRASI KLOROFIL-A DI SAMUDERA HINDIA BAGIAN TIMUR LAUT, BARAT SUMATERA
Variabilitas suhu permukaan laut (SPL) dan konsentrasi klorofil-a (Chl-a) di Samudera Hindia bagian Timur Laut sebelah barat Sumatera diteliti menggunakan data satelit selama kurun waktu 22 tahun. Penelitian ini menggunakan gabungan data citra NOAA-AVHRR dan MODIS untuk SPL, data citra SeaWiFS dan MODIS untuk Chl-a, data angin permukaan bulanan diperoleh dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF). Data pendukung berupa indeks El Nino Southern Oscillation (ENSO) bulanan diperoleh dari laman https://www.ncdc.noaa.gov/teleconnections/enso/ indicators/soi/ dan Dipole Mode Index (DMI) bulanan diperoleh dari laman https://www.jamstec.go.jp/ virtualearth/general/en/index.html. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SPL di daerah penelitian selama 22 tahun (1997-2019) berada pada kisaran 27,57°C-34,41°C. Nilai SPL yang lebih tinggi terjadi saat Musim Barat sampai Musim Peralihan-1, sementara nilai yang lebih rendah pada Musim Timur sampai Musim Peralihan-2. Variabilitas nilai SPL dipengaruhi oleh pola angin musiman, intensitas radiasi matahari, dan Indian Ocean Dipole Mode (IODM). Saat IOD Negatif menyebabkan nilai SPL yang lebih tinggi dan konsentrasi Chl-a lebih rendah dari biasanya. Konsentrasi klorofil-a selama 22 tahun berkisar antara 0,0757 mg/m3-1,3006 mg/m3, konsentrasi klorofil-a yang lebih tinggi terjadi saat akhir Musim Timur (Agustus) dan awal Musim Barat (Desember), sementara nilai yang lebih rendah saat Musim Peralihan-1. Tingginya SPL pada Musim Peralihan-1 (Maret-Mei) bersamaan dengan rendahnya Chl-a pada musim yang sama diduga akibat terjadinya fenomena IOD negatif. Variabilitas Chl-a dipengaruhi oleh pola angin musiman, pergerakan massa air, dan IOD.The variability of sea surface temperature (SST) and concentration of chlorophyll-a (Chl-a) in the Northeastern Indian Ocean west off Sumatra was studied using satellite data over a period of 22 years. The study used a combination of NOAA-AVHRR and MODIS data for SST, SeaWiFS and MODIS data for Chl-a, and monthly surface wind data from the European Center for Medium Range Weather Forecasts (ECMWF). Supporting data such as the monthly El Nino Southern Oscillation (ENSO) index and the Dipole Mode Index (DMI) were obtained from the web page of https://www.ncdc.noaa.gov/teleconnections/ enso/indicators/soi/ and https://www. jamstec.go.jp/virtualearth/general/en/index.html, respectively. The results showed that the range of SST during 22 years (1997-2019) was 27,57°C-34,41°C where the higher SST occurred during the West Season and Transition Season-1, while the lower values were found during the East Season and Transition Season-2. The negative IOD caused higher SST and lower Chl-a concentration than normal. Chl-a for 22 years ranged from 0,0757 mg/m3-1,3006 mg/m3 where higher Chl-a occurred start from the end of East Season (August) to early West Season (December), while lower values were found during Transition Season 1. The evidence of higher SST around Transition Season 1 (March-May) coincided with the evidence of lower Chl-a in the same seasons was due to negative IOD phenomenon. The variability of SST and Chl-a was influenced by the patterns of the seasonal wind, the water mass circulation, and IODM
TATA LAKSANA PENDARATAN IKAN DAN ANTRIAN KAPAL DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI MAYANGAN
Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Mayangan merupakan salah satu tempat kegiatan perikanan tangkap di Kota Probolinggo yang dilengkapi dengan fasilitas pasar ikan, pabrik es, akses jalan mudah, dan lain-lain. Fasilitas-fasilitas tersebut harus mampu melayani atau mendukung aktivitas kegiatan kapal penangkap ikan. Oleh karena itu, tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui tata laksana pendaratan ikan di PPP mayangan serta untuk melihat penanganan antrian kapal yang ada di PPP Mayangan. Penelitian bersifat deskriptif dan metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Data primer yang dikumpulkan adalah fungsi dan fasilitas di PPP Mayangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PPP Mayangan memiliki 3 dermaga (jetty, landing, dan sheet pile). Dermaga jetty digunakan untuk kapal sandar. Proses pendaratan ikan di dermaga landing, kapal datang melakukan tambat labuh di dermaga. Bongkar muat hasil tangkapan dengan menggunakan keranjang dari bambu dan dibawa ke TPI dengan cara dipanggul oleh para ABK serta juru pikul ikan. Dermaga sheet pile, proses bongkar muat hasil tangkapan dibantu dengan seluncuran yang terbuat dari kayu. Ikan diturunkan dari kapal dengan seluncuran kemudian dimasukkan ke dalam keranjang plastik, kemudian dibawa ke TPI atau diangkut langsung dengan mobil box untuk segera dijual. Kondisi ikan yang pada saat proses bongkar muat sangat diperhatikan untuk menjaga kualitas ikan. Sistem antrian kapal pada PPP Mayangan menggunakan sistem antrian jalur tunggal tahapan berganda (single channel multi server).Mayangan costal fishing port is one of the fishing port for fisheries activities in Probolinggo. This port has many facilities such as fish market, ice factory, easy road access, and other facilities. Those facilities are able to serve or support fishing vessels activities. The purpose of this study were to find the fish landing process and ship queue handling in Mayangan fishing port. This study was a descriptive and used a case study method. Primary data gathered were function and facilities in Mayangan fisihing port. The result showed that Mayangan fishing port had 3 docks (jetty, landing, and sheet pile). Jetty was only use for anchored only. The process of unloading fish on landing dock was when the ship came to the port and anchored. After anchored, the process of unloading catches begin using baskets from bamboo then brought to fish auction by the crews or fish pickers. On sheet pile the unloading fish assisted by a slide made of wood. The fish unloaded from the ship with a slide and then it put into a plastic basket, then brought to fish auction or directly transported by car for sale immediately. During the loading and unloading process, the fish confdition was always to be kept in the fish fresh condition. The ship queuing system at Mayangan fishing port used a single line multiple stage queuing system (single channel multi server)
FORMULASI PANGAN DARURAT COOKIES DENGAN PENGKAYAAN TEPUNG IKAN LELE DAN MINYAK IKAN MATA TUNA
Pangan lokal berbasis ikan, secara mandiri dikembangkan masyarakat untuk meningkatkan pemenuhan gizi pada lokasi pengungsian. Inovasi tersebut menjadi kearifan lokal akan pangan darurat dan kekayaan asli pangan rakyat. Ikan digunakan karena makanan utama masyarakat, selain kemudahan dalam memperoleh dan juga kandungan proteinnya yang tinggi. Penelitian bertujuan untuk menghasilkan formula terbaik pangan darurat cookies kaya gizi dengan pengkayaan tepung ikan lele dan minyak ikan mata tuna. Penelitian meliputi pembuatan dan karakterisasi tepung ikan lele, ekstraksi dan karakterisasi minyak ikan mata tuna, serta formulasi, pembuatan dan karakterisasi pangan darurat cookies kaya gizi serta kontribusi gizi pangan darurat cookies kaya gizi yang dihasilkan. Formula terbaik dengan konsentrasi tepung ikan lele 25%. Komposisi kimia pangan darurat cookies kaya gizi terpilih meliputi kadar karbohidrat 67,51±0,05%, kadar lemak 24,72±0,30%, kadar protein 6,11±0,05%, kadar air 1,18±0,22%, dan kadar abu 0,48±0,02%. Kontribusi gizi protein pangan darurat cookies kaya gizi dengan energi 1.805 kkal adalah 12,12% dari total angka kecukupan gizi harian.Etnic food based on fish, independently developed by the community to improve nutritional fulfillment at the refugee camps. This innovation becomes local wisdom about emergency food and the original wealth of people\u27s food. Fish is used because the people\u27s main food, in addition to the ease of obtaining and also high protein content. The research aims to produce the best formula for nutritionally rich cookies as an emergency food preparation for Sulawesi by utilizing local potential. The research included making catfish meal, extracting fish oil from Tuan\u27s eye, making cookies with different concentrations of catfish 15%, 20%, and 25%, sensory assessment and product analysis with the best formula. The results obtained the best formula with a concentration of 25% catfish meal. The chemical composition of the selected cookie products includes carbohydrate content of 67.51±0.05%, fat content of 24.72±0.30%, protein content of 6.11±0.05%, water content of 1.18±0.22%, and ash content of 0.48±0.02%. The nutritional contribution of protein cookies with 1,805 kcal energy is 12.12% of the total daily nutritional adequacy rate
The RANCANG BANGUN ALAT KEJUT LISTRIK UNTUK PERIKANAN TUNA HANDLINE SKALA KECIL
Pancing ulur tuna di Indonesia merupakan perikanan skala kecil dan umumnya tidak dilengkapi dengan alat untuk menarik pancing. Hal ini seringkali menyebabkan nelayan menghadapi berbagai permasalahan seperti beban kerja yang berlebihan dan penurunan kualitas hasil tangkapan saat pancing dimakan oleh ikan tuna yang relatif besar (>10 kg). Penelitian ini memiliki tujuan akhir yaitu untuk membuat suatu alat kejut listrik yang siap digunakan oleh nelayan pancing ulur ikan tuna. Penelitian ini merupakan penelitian awal yang bertujuan menentukan daftar kebutuhan komponen dan membuat sebuah rancang bangun alat kejut listrik. Metode yang digunakan adalah studi literatur dan eksperimen. Hasil penelitian penentuan daftar kebutuhan komponen menunjukkan bahwa jenis kejut listrik DC digunakan sebagai penyetrum ikan. Sementara itu untuk sistem saklar menggunakan timer delay relay. Selanjutnya berdasarkan hasil perhitungan pemilihan bahan menunjukkan bahwa stainless steel menjadi prioritas pertama dengan nilai C sebesar 1. Bentuk tabung dipilih sebagai desain bentuk utama karena memiliki kecepatan dan waktu tempuh tercepat dibandingkan bentuk lainnya, yaitu 2,84 m/detik dan 35,27 detik. Konstruksi untuk merakit satu unit alat kejut listrik membutuhkan setidaknya 26 komponen. Hasil penelitian pembuatan prototipe yang telah dibuat memiliki dimensi berdiameter 6 cm dan tinggi total 40 cm serta berat prototipe 2,67 kg.Tuna handline in Indonesia is a small-scale fishery and is generally not equipped with a fishing rod. This often causes fishermen to face various problems such as excessive workloads and a decrease in the quality of the catch when the fishing line is eaten by relatively large tuna (>10 kg). This is research has a final goal, namely to make an electric shock device that is ready to be used by tuna fishing line fishermen. This is a preliminary research aiming to determining a list of component requirements and making a design for an electric shock device. The method used is literature study and experiment. The results of the research on determining the list of component requirements showed that the type of DC electric shock was used as an electric shock for fish. Meanwhile, the switch system uses a timer delay relay. Furthermore, based on the results of the calculation of material selection, it shows that stainless steel is the first priority with a C value of 1. The tube shape is chosen as the main shape design because it has the fastest speed and travel time compared to other forms, namely 2.84 m/sec and 35.27 seconds. The construction for assembling a single electric shock device requires at least 26 components. The results of the research on making prototypes that have been made have dimensions of 6 cm in diameter and a total height of 40 cm and a prototype weight of 2.67 kg
STATUS KONSERVASI DAN PERTUMBUHAN IKAN HIU DAN PARI YANG DIDARATKAN DI LABUHAN MARINGGAI, LAMPUNG TIMUR
Ikan hiu dan pari merupakan jenis ikan yang mengalami penurunan populasi cukup tinggi di alam akibat penangkapan berlebihan dan diperparah dengan kapasitas reproduksinya yang relatif rendah sehingga dikhawatirkan dapat mengalami kepunahan. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisir dan menentukan status konservasi jenis-jenis ikan hiu dan pari yang didaratkan di PPP Labuhan Maringai, Lampung Timur, serta mengkaji kondisi pertumbuhan ikan tersebut. Status konservasi yang digunakan mengacu pada regulasi nasional, IUCN dan CITES, sedangkan kajian pertumbuhan meliputi distribusi panjang, hubungan panjang bobot, pola pertumbuhan, dan faktor kondisi. Jumlah sampel yang dianalisis sebanyak 511, yang terdiri atas 157 ikan hiu dan 354 ikan pari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setidaknya terdapat 6 jenis ikan hiu dan 13 jenis ikan pari yang didaratkan di PPP Labuhan Maringgai dan ikan pari lebih dominan tertangkap dibandingkan dengan ikan hiu. Seluruh jenis ikan hiu dan pari yang tertangkap tidak termasuk spesies yang dilindungi berdasarkan regulasi nasional, tetapi beberapa di antaranya sudah berstatus kritis (CR), dalam bahaya (EN), dan rentan punah (VU) berdasarkan IUCN Red List. Pola pertumbuhan ikan hiu bervariasi antara isometrik dan allometrik, sedangkan ikan pari cenderung memiliki pertumbuhan allometrik negatif.Shark and ray populations have declined in the wild due to overfishing and were exacerbated by low capacity of reproduction relatively, which is feared may extinction. This study aims to inventory and determine the conservation status of sharks and rays species landed at Labuhan Maringgai Fishing Port, East Lampung, and to assess the growth parameter of these fishes. The conservation status used referred to national regulations, IUCN, and CITES, while the growth study included length distribution, length-weight relationship, growth pattern, and condition factor. The number of samples analyzed 511, consisting of 157 sharks and 354 rays. The results showed that there were at least 6 species of sharks and 13 species of rays. All species of the sharks and rays were not protected under national regulations, but some of them had already listed as critically (CR), endangered (EN), and vulnerable (VU) according to the IUCN Red List. The growth pattern of the sharks varied between isometric and allometric, while most rays had negatively allometric growth pattern
PENGARUH PENGGUNAAN LAMPU ATRAKTOR CELUP TERHADAP HASIL TANGKAPAN JARING INSANG PERMUKAAN DI PERAIRAN SELAYAR
Prinsip pengoperasian jaring insang adalah menghadang arah ruaya ikan. Keberhasilannya sangat tergantung pada ketepatan pemasangan jaring. Salah satu solusi untuk memperbaiki metode penangkapan adalah menambahkan alat pengumpul ikan berupa lampu atraktor yang dicelupkan ke dalam perairan. Jenis lampu atraktor yang cocok adalah lampu light emitting diode (LED). Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian adalah menentukan komposisi jenis ikan hasil tangkapan dan membuktikan bahwa penggunaan lampu atraktor celup akan meningkatkan jumlah ikan hasil tangkapan. Jaring insang permukaan yang digunakan sebanyak dua unit. Salah satu unit dilengkapi dengan lampu atraktor celup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan lampu atraktor celup tidak mempengaruhi keragaman jenis ikan tangkapan. Kedua jaring insang menangkap 20 jenis ikan yang sama, yaitu lencam (Lethrinus obsoletus), tambak moncong (Lethrinus microdon), tambak belah (Lethrinus harak), ketambak (Lethrinus atkinsoni), jangki (Lethrinus ornatus), petek (Secutor indicius), cotek (Secutor insidiator), kakap ekor pelana (Lutjanus gibbus), kakap emas (Lutjanus johnii), belanak (Moolgarda perusii), gereh (Moolgarda seheli), baronang susu (Siganus canaliculatus), baronang kalung (Siganus virgatus), baronang angin (Siganus javus), baronang kunyit (Siganus puellus), baronang tompel (Siganus punctatus), kwee (Caranx tille), botana biru palsu (Acanthurus nigricauda), elak (Kyphosus vaigiensis), dan bandeng (Chanos chanos). Namun demikian, pemakaian lampu atraktor celup terbukti meningkatkan jumlah ikan hasil tangkapan jaring insang sebanyak 1.924 ekor, atau 74% lebih banyak dibandingkan dengan jaring insang tanpa lampu (1.108 ekor).The principle operation of gill nets is by blocking movement of the fish. Its success rate depends on the precision fixing of the net. One solution to improve fishing methods is to add a fish net of underwater attractor lamp. The type lamp that suitable is a light emitting diode (LED) lamp. The purpose of research was determine the composition of the type fish caught and prove that the use of underwater attractor lamp increased the diversity of species and number of fish produced. Gill nets surface used in this study contained of two units. One unit was equipped with an underwater attractor lamp. The results showed that the use underwater attractor lamp did not affect the diversity of fish caught. Two gill nets catch the same 20 kinds of fish, specifically orangestriped emperor (Lethrinus obsoletus), smalltooth emperor (Lethrinus microdon), thumbprint emperor (Lethrinus harak), yellowtail emperor (Lethrinus atkinsoni), ornate emperor (Lethrinus ornatus), dots and dashes ponyfish (Secutor indicius), pugnose ponyfish (Secutor insidiator), Paddletail Snapper (Lutjanus gibbus), Golden Snapper (Lutjanus johnii), longfin Mullet (Moolgarda perusii), bluespot mullet (Moolgarda seheli), whitespotted rabbitfish (Siganus canaliculatus), doublebar rabbitfish (Siganus virgatus), javan rabbitfish (Siganus javus), masked rabbitfish (Siganus puellus), goldspotted rabbitfish (Siganus punctatus), tille trevally (Caranx tille), blackstreak surgeonfish (Acanthurus nigricauda), lowfin chub (Kyphosus vaigiensis), and milkfish (Chanos chanos). However, the use of underwater attractor lamp was proven to increase the number of fish caught with gill nets by 1,924 fish, or 74% more than gill nets without lamp (1,108 fish)
REKAYASA ULANG DAN PEMBUATAN PROTOTIPE SLURRY ICE MACHINE BERKAPASITAS 0,7 TON DENGAN METODE SCRAPED-SURFACE
Rekayasa ulang dan pembuatan prototipe/purwarupa slurry ice machine yang selanjutnya disebut Mesin Pembuat Bubur Es (MPBE) metode scraped-surface telah dilakukan agar dapat beroperasi di wilayah laut tropis, khususnya Indonesia. Rekayasa ulang dan uji produksi slurry ice telah dilakukan terhadap unit contoh yang dibeli dari pasar komersial. Rekayasa ulang telah berhasil memproduksi slurry ice dengan fraksi kristal es antara 30-40% dan fraksi cairan 60-70%. Konstruksi prototipe MPBE telah didesain dan diproduksi berkapasitas 1 ton slurry ice/24 jam. Selanjutnya prototipe dites dan mampu memproduksi slurry ice sebesar 700 kg/24 jam, mesin cukup kokoh terhadap transportasi pick-up dari Depok, Jawa Barat ke Lampung, Tasikmalaya, Jawa Barat untuk mengolah air tambak di tambak udang, dan Tanjung Lesung, Banten untuk mengolah air laut di atas kapal nelayan 35 GT. Prototipe MPBE dapat mengolah air tambak insitu, air laut dan air laut tiruan 4% NaCl menjadi bubur es. Slurry ice yang diproduksi oleh prototipe MPBE efektif digunakan untuk mendinginkan dan mengawetkan kesegaran udang budidaya tambak dan bekerja lebih baik dibandingkan dengan menggunakan es cacah. Udang yang disimpan menggunakan es cacah pada hari kelima sudah terlihat bercak hitam, sementara dengan slurry ice pada hari ke 14 masih terlihat segar. Diharapkan nelayan dan pengusaha perikanan Indonesia mulai mengetahui dan termotivasi untuk menggunakan slurry ice dalam usaha meningkatkan kualitas dan produktivitas industri perikanannya.Reengineering and prototype production of slurry ice machine using Scraped-surface methode of evaporator wich is called Ice Porridge Making Machine has been conducted to be operated in tropical area especially, Indonesia. Reengineering and slurry ice production was conducted toward the sampel acquired from commercial market. The reengineered machine could produce slurry ice with ice cristal fraction of 30-40% and liquid fraction of 60-70%. Furthermore, a 1 ton/24 hours prototype of slurry ice machine was designed and produced. The machine successfully produced slurry ice of 700 kg/24 hours capacity, then it was tested for durability transporting by a pick-up from Depok, West Java to Lampung, Tasikmalaya, West Java, operated using brackish water at shrimp farm; and Tanjung Lesung, Banten operated with sea water on 35 GT fishing vessel. The machine could produce slurry ice using sea water, brackish water, and solution of 4.0% NaCl. The slurry ice produced was effectively used to preserve the freshness of shrimps from South Lampung and Tasikmalaya compared of using crushed ice. Shrimp preserved by crushed ice showed blackened color at the fifth day storage, while shrimp preserved by slurry ice still looked fresh on 14th day of storage. All Indonesian fishermen and fishery industry should recognize and motivated applying slurry ice technology to improve their quality and productivity
INOVASI TUNNEL FISH DRYER BERBASIS KEARIFAN LOKAL “BAKAR BATU” SEBAGAI CADANGAN PANAS
Penerapan teknologi tepat guna yang murah dan mudah sangat diperlukan dalam proses penanganan lanjutan atas hasil-hasil tangkapan nelayan sehingga hasil produk tersebut dapat disimpan dalam waktu yang cukup lama dalam bentuk ikan kering/asap. Penelitian ini merupakan penerapan alat pengering ikan model kabinet (tunnel fish dryer) untuk meningkatkan kualitas ikan kering menggunakan batu andesit sebagai cadangan penyimpanan panas yang ditempatkan di atas api sebagai material pemanas. Hawa panas tersebut dialirkan menggunakan kipas melalui pipa menuju ruang pemanas ikan. Periode waktu pengeringan dapat menghasilkan ikan asap dengan kualitas terbaik berdasarkan uji laboratorium dengan menggunakan sampel Rancangan Acak Lengkap (RAL) sebagai rancangan dasar dengan lima (5) tingkatan dari durasi lamanya waktu pengeringan yang berbeda. Masing-masing durasi diulang sebanyak 3 kali, sehingga memberikan 15 hasil unit percobaan. Durasi-durasi tersebut adalah: A = lama pengeringan 3 jam; B = lama pengeringan 3,5 jam; C = lama pengeringan 4 jam; D = lama pengeringan 4,5 jam; E = lama pengeringan 5 jam. Hasil penelitian menunjukan bahwa waktu pengeringan untuk mendapatkan kualitas ikan kering terbaik adalah pada Durasi D yakni 4,5 jam.The implementation of a cheap and appropriate technology is needed for further handling process of fishermen products, in which the products can be stored for a longer time in the form of dried/smoked fish. The study objective was to implement a cabinet model fish dryer (Tunnel Fish Dryer) to improve the quality of dried fish by using andesite stone as a heat storage, which was placed on fire as a heating material. The heat was flowing into the fish heating room through the pipe using a fan. The five levels drying time frame period could produce the best quality smoked fish using a Completely Randomized Design (CRD). Each time frame had a different duration with three time repetitions, resulting in 15 experimental unit results. The drying times were as follows: A = 3 hours; B = 3.5 hours; C = 4 hours; D = 4.5 hours; and E = 5 hours. The results showed that the best drying time for dried fish was at 4.5 hours