Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
337 research outputs found
Sort by
EVALUASI DAERAH PENANGKAPAN IKAN TONGKOL (Euthynnus affinis) DI SELAT SUNDA
Ikan tongkol merupakan spesies yang dominan tertangkap di Perairan Selat Sunda dan digemari oleh masyarakat. Daerah penangkapan ikan memiliki karakteristik yang sangat dipengaruhi kondisi oseanografi seperti suhu dan klorofil-a. Klorofil-a merupakan indikator kesuburan suatu perairan. Aspek ukuran panjang ikan menjadi fokus utama dalam menentukan daerah penangkapan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hasil tangkapan berdasarkan klorofil-a, dan ukuran panjang ikan yang menghasilkan pemetaan daerah penangkapan ikan tongkol di Perairan Selat Sunda. Penelitian ini dilakukan dengan metode kasus. Penelitian dilakukan pada bulan Juni sampai Juli tahun 2021. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu skoring terkait dengan klorofil-a, ukuran panjang ikan, dan Catch Per Unit Effort (CPUE). Ukuran panjang ikan merupakan aspek yang memiliki bobot terbesar. Kategori daerah penangkapan ikan terdiri dari kategori daerah penangkapan ikan potensial, potensial sedang, dan tidak potensial. Berdasarkan hasil penelitian, jumlah total hasil tangkapan ikan tongkol di Perairan Selat Sunda selama penelitian sebesar 2.134 kg. Kategori ukuran ikan layak tangkap terdapat di daerah penangkapan Pulau Peucang, Sumur, Pulau Mangir, dan Teluk Paraja. Kandungan klorofil-a di Perairan Selat Sunda secara keseluruhan termasuk kategori tinggi. Daerah penangkapan yang termasuk kategori potensial yaitu Pulau Peucang, Sumur, Pulau Mangir, dan Teluk Paraja sedangkan daerah penangkapan yang tidak potensial yaitu Tanjung Lesung, Sebesi, Ujung kulon, Pulau Panaitan, dan Tj Alang-Alang.Eastern little tuna is the dominant species caught in Sunda Strait and is favored by the local community. Fishing grounds characteristics are strongly influenced by oceanographic conditions such as temperature and chlorophyll-a. Chlorophyll-a is an indicator of a water column fertility. The length aspect of the fish becomes the main focus in determining the fishing grounds. This study aimed to analyze the catch based on chlorophyll-a, and the fish length that resulted in mapping the fishing grounds of eastern little tuna in Sunda Strait. This research was conducted with the case method from June to July 2021. The analysis used in this study was the scoring associated with chlorophyll-a, fish length, and Catch Per Unit Effort (CPUE). The length fish was the aspect that had the greatest weight. The category of fishing grounds consisted of category potential fishing grounds, medium potential and not potential. Based on the results of the study, the total number of eastern little tuna catches in Sunda Strait waters during the study was 2134 kg. The category of fish size suitable for catching was found in the fishing grounds of Peucang Island, Sumur, Mangir Island, and Paraja Bay. The content of chlorophyll-a in Sunda Strait waters as a whole was in the high category. The fishing ground included in the potential category were Peucang Island, Sumur, Mangir Island, and Paraja Bay, while the non-potential fishing grounds were Tanjung Lesung, Sebesi, Ujung Kulon, Panaitan Island, and Tj Alang-Alang
PENDUGAAN PERTUMBUHAN KEPITING BAKAU (Scylla serrata Forskal) DI PERAIRAN KARANGSONG, INDRAMAYU, PROVINSI JAWA BARAT
Kepiting bakau (Scylla serrata) merupakan salah satu dari beberapa jenis produksi ikan dominan dari perairan pantai Karangsong, Kabupaten Indramayu. Namun demikian, upaya pengelolaan kepiting bakau di perairan tersebut belum dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menduga pertumbuhan kepiting bakau sebagai dasar dalam pengelolaan biota tersebut di perairan Karangsong. Pengambilan contoh dilakukan tiap bulan berdasarkan hasil tangkapan nelayan dengan manggunakan bubu, selama 4 bulan di perairan tersebut (Juni-September 2013). Lebar karapas dan bobot tubuh diamati, sebagai dasar penentukan sebaran frekuensi, pola pertumbuhan dan pertumbuhan. Pendugaan pertumbuhan kepiting dihitung dengan menggunakan persamaan Von Bertalanffy. Pada pengamatan ini menunjukkan abhwa lebar karapas kepiting bakau berkisar 60-138 mm (jantan), dan 74-139 mm (betina). Pola pertumbuhan kepiting bakau di perairan Karangsong bersifat allometrik negatif, yaitu: W = 0.0003L2.8793 (jantan) dan W = 0.003L2.3210 (betina). Melalui analisis pendugaan parameter pertumbuhan, didapatkan persamaan sebagai berikut: Lt = 157.35 [1-e(-0.39(t+0.26)] (jantan), dan Lt = 147.99 [1-e(-0.42(t+0.24)] (betina).Mudcrab (Scylla serrata Forskal) is one of several dominant species in the fish production from Karangsong coastal waters, Indramayu Regency. However, effort to manage the mudcrab in the waters is still limited. This study aimed to estimate a growth of the mudcrab as a base for crab management at the waters. Monthly sampling of the crab in the study area was conducted according to fisherman catch using bamboo trap for 4 months (Juni-September 2013). Carapace width and weight were employed for calculating frequency distribution, growth pattern, and growth. Growth estimation of the crab was calculated using Von Bertalanffy equation. This study revealed that the carapace width of the mudcrab ranged of 60-138 mm (male), and 74-139 mm (females). Crab’s growth patterns of the mud crab was negative allometric, W = 0.0003L2.8793 (male) dan W = 0.003L2.3210 (female). Through analysis of growth parameter estimation, it was obtained the following equatiosn: Lt = 157.35 [1-e(-0.39(t+0.26)] (male), and Lt = 147.99 [1-e(-0.42(t+0.24)] (female)
ANALISIS PERUBAHAN LUASAN TERUMBU KARANG MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT 8 DI PULAU MATAHORA, WAKATOBI
Indonesia merupakan sebuah negara maritim yang dianugerahi keanekaragaman dan kekayaan alam yang beragam dan indah, sehingga Indonesia dijuluki sebagai marine mega biodiversity. Terumbu karang sebagai salah satu dari keanekaragaman hayati yang berada di perairan Indonesia merupakan salah satu ekosistem pesisir yang mempunyai peran penting dalam sektor perikanan dan kelautan. Pulau Matahora merupakan salah satu pulau yang terletak pada bagian Timur Pulau Wanci, Kecamatan Wangi-wangi selatan, Kabupaten Wakatobi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis habitat dan perubahan luasan terumbu karang menggunakan algoritma Lyzenga dan unsupervised classification untuk memetakan dan mengidentifikasi objek perairan laut dangkal di pulau matahora, kabupaten Wakatobi dengan memanfaatkan pengindraan jarak jauh dalam rentang waktu yaitu Tahun 2015, 2018, hingga Tahun 2021. Nilai hasil uji akurasi yang diperoleh dari ketiga tahun tersebut berada diantara 90-99%. Berdasarkan nilai akurasi tersebut maka dapat dikategorikan sebagai almost perfect agreement pada kesesuaian akurasi kappa. Hasil identifikasi yang dilakukan menggunakan algoritma Lyzenga dan unsupervised classification pada Pulau Matahora, Kabupaten Wakatobi diperoleh 5 kelas yaitu laut dalam, terumbu karang hidup, karang mati, lamun, dan pasir.Indonesia is a maritime country blessed with diversity and natural wealth that diverse and beautiful that Indonesia is dubbed as marine mega biodiversity. Coral reefs as one of the biodiversity in Indonesian waters. Coral reefs are one of the coastal ecosystems that have an important role in the fisheries and marine resources. Matahora Island is one of the islands located in the eastern part of Wanci Island, South Wangi-wangi District, Wakatobi Regency. This study aims to analyze the habitat and changes of coral reef area using the Lyzenga algorithm and unsupervised classification to map and identify shallow marine water objects on Matahora Island, Wakatobi Regency by utilizing remote sensing in the period from 2015, 2018, to 2021. The value of the results the accuracy test obtained from the three years is between 90-99%. Based on the accuracy value, it can be categorized as an almost perfect agreement on the suitability of kappa accuracy. The results of the identification carried out using the Lyzenga algorithm and unsupervised classification on Matahora Island, Wakatobi Regency, obtained 5 classes, namely deep sea, live coral reef, dead coral, seagrass, and sand
KEPATUHAN PEMASANGAN RUMPON TERHADAP PERATURAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DI PELABUHANRATU
Penggunaan rumpon dapat membantu nelayan mengurangi konsumsi bahan bakar, mempercepat penentuan daerah tangkapan, mempersingkat jumlah hari operasi keseluruhan, dan mengurangi biaya operasional. Namun dampak negatif juga timbul seperti konflik dengan nelayan lain dan potensi terjadinya penangkapan yang berlebih. Kementerian Kelautan dan Perikanan telah mengeluarkan peraturan terkait penggunaan rumpon untuk mencegah timbulnya dampak negatif. Peraturan tersebut akan berhasil bila berjalan dan dipatuhi oleh nelayan yang menjadi tujuan peraturan tersebut. Namun saat ini tidak diketahui apakah nelayan di Pelabuhanratu mengetahui, memahami, dan menaati peraturan tersebut. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk menemukan tingkat kepatuhan nelayan Pelabuhanratu terhadap aturan formal dari pemerintah maupun aturan informal di kalangan mereka sendiri. Penelitian dilakukan melalui wawancara dengan pemilik modal, nakhoda, dan anak buah kapal. Waktu penelitian adalah Agustus-Oktober 2017. Analisis terhadap hasil wawancara dilakukan secara deskriptif dan dilengkapi dengan analisis Likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemilik modal mengetahui dan memahami peraturan yang ada tetapi tidak mematuhinya. Nakhoda dan anak buah kapal menjalankan sendiri etika sosial diantara mereka untuk saling menghormati rumpon milik orang lain, sanksi pencurian dan tanggungjawab terhadap rumpon, namun tidak memperhatikan adanya peraturan formal dari pemerintah.The use of FADs can help fishermen reduce fuel consumption, speed up fishing location, shorten days of operation, and reduce operating costs. However, negative impacts also arise such as conflicts with other fishermen and the potential for overfishing. The Ministry of Maritime Affairs and Fisheries has issued regulations regarding the use of FADs to prevent those negative impacts. The regulation will be successful if it is implemented and obeyed by the fishermen who are the purpose of the regulation. However, it is currently unknown whether the fishermen in Pelabuhanratu know, understand and comply with these regulations. Therefore, this study aims to find out the level of compliance of Pelabuhanratu fishermen with formal rules from the government and informal rules among themselves. The research was conducted through interviews with capital owners, captains, and crew members. It was conducted from August to October 2017. Analysis of the results of the interviews was carried out descriptively and equipped with Likert analysis. The results show that the capital owners know and understand the existing regulations but do not comply with them. The captain and crew carry out their own social ethics among themselves to respect each other\u27s FADs, sanctions for transgression/theft and responsibilities towards their FADs, but do not pay attention to any formal regulations from the government
STRATEGI REHABILITASI EKOSISTEM MANGROVE BERDASARKAN ANALISIS KESESUAIAN HABITAT DI KAWASAN PLTU BANTEN 3, LONTAR
Rehabilitasi diperlukan untuk pemulihan dan penciptaan ekosistem mangrove di kawasan PLTU Banten 3 Lontar yang telah rusak dan menurun fungsinya menjadi stabil kembali. Keberhasilan program rehabilitasi dipengaruhi oleh strategi perencanaan rehabilitasi yang matang dengan memperhatikan parameter-parameter ekologi. Penelitian ini bertujuan menentukan tingkat kerusakan dan kesesuaian habitat untuk pembuatan rekomendasi strategi rehabilitasi ekosistem mangrove di kawasan PLTU Banten 3 Lontar. Penelitian ini dilakukan di kawasan rehabilitasi mangrove PLTU Banten 3 Lontar pada bulan Januari 2020. Pengambilan data primer melalui observasi lapangan menggunakan pendekatan ekologi dan spasial diantaranya yaitu metode transek kuadran pada ekosistem mangrove, aspek kualitas air dengan sampling insitu dan analisis spasial untuk mengetahui kesesuaian habitat berbasis sistem informasi geografis. Mangrove di kawasan PLTU Banten 3 Lontar mengalami kerusakan pada tingkat rusak sedang dan rusak berat. Jenis mangrove yang ditemukan ada dua jenis yaitu Avicennia marina dan Rhizophora mucronata. Kawasan rehabilitasi mangrove di PLTU Banten 3 Lontar memiliki tipe pasut diurnal, substrat liat berpasir, kandungan C-organik berkisar 2-5 %, sebaran salinitas berkisar 30-32 ‰, dan sebaran pH berkisar 7,3-7,4. Kawasan PLTU Banten 3 Lontar memiliki habitat seluas 14.874 m2. Rehabilitasi ekosistem mangrove di kawasan PLTU Banten 3 Lontar dapat dilakukan melalui empat strategi rehabilitasi diantaranya penyesuaian dan penyiapan kondisi habitat, pengoptimalan aliran air, dan penanaman ulang (peremajaan) mengrove.Mangroves rehabilitation is needed for the recovery and development of mangrove ecosystems in area of coal power plant (PLTU) 3 of Banten, Lontar area that has been damaged and decreased its function. The success of a rehabilitation program is influenced by a mature rehabilitation planning strategy that takes into account ecological parameters. This study aimed to determine the suitability of habitat, the level of damage, and make recommendations for the rehabilitation of mangrove ecosystem in the Banten PLTU 3 Lontar area. This study was conducted in the mangrove rehabilitation area of coal power plant (PLTU) 3, Lontar, in January 2020. Retrieval of primary data through field observations using a spatial approach including quadrant transect methods in mangrove ecosystems, water quality aspects with insitu sampling and spatial analysis to determine habitat suitability based on geographic information systems. Mangroves conditions in coal power plant area Banten 3 Lontar area were at moderate and severely damaged levels. We found two types of mangrove i.e., Avicennia marina and Rhizophora mucronata. Mangrove rehabilitation area in area of coal power plant (PLTU) 3 had diurnal tidal type, sandy clay substrate, 2-5% C-organic content, 30-32 salinity ranges, and 7.3-7.5 pH distribution ranges. Mangrove ecosystem area in Banten PLTU 3 Lontar was 14.874 m2. Mangrove ecosystem rehabilitation in the area of coal power plant (PLTU) 3 of Banten can be conducted with four rehabilitation strategies such as adjusting and preparing habitat conditions, optimizing water flow, and replanting mangroves
KONDISI PERAIRAN DAN GARAM PADA TAMBAK GARAM DI KECAMATAN BANGKALA, KABUPATEN JENEPONTO
Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto di Sulawesi, memiliki potensi untuk lebih dikembangkan sebagai sentra penghasil garam. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan kondisi kualitas air dan garam (dengan Artemia dan tanpa Artemia), yang dilakukan melalui pengamatan pada Desember 2015 sampai Maret 2016. Pengumpulan data primer dilakukan untuk mengetahui kondisi kualitas air (suhu, pH, salinitas, DO), dan kualitas garam (NaCl, Ca, Mg) dan kondisi garam. Berdasarkan pengamatan diketahui bahwa kualitas air yang terdiri atas suhu, pH, salinitas, dan DO di tambak garam masing-masing adalah 30-36°C, 88-92‰, 7,1-7,9, dan 3,7-4,7 ppm. Kualitas garam di wilayah pengamatan memiliki kandungan rata-rata NaCl (83,30-95,6‰), Kalsium (Ca) (0,16-0,32‰), dan Magnesium (Mg) (0,12-0,28‰) yang secara umum tergolong sedang-baik.Bangkala District of Jeneponto Regency of South Sulawesi has potential for a center of salt production development. This study aims to describe water quality and salt conditions in salt ponds (added Artemia and without Artemia), which was carried out through study conducted from December 2015 to March 2016. Primary data collection was carried out to determine the condition of water quality (temperature, pH, salinity, DO), and salt quality (NaCl, Ca, Mg), and salt condition. Based on the study, it was known that the water quality consisting of temperature, pH, salinity, and DO of the salt ponds were 30-36°C, 88-92‰, 7.1-7.9, and 3.7-4.7 ppm, respectively. The quality of salt in the study area had an average content of NaCl (83.30-95.6‰), Calcium (Ca) (0.16-0.32‰), and Magnesium (Mg) (0.12-0.28‰) which was generally classified as moderate-good quality
PENJADWALAN ULANG KAPAL REPARASI TB. PATRA TUNDA 3001 DENGAN METODE JALUR KRITIS
Penjadwalan dalam proses reparasi sering kali tidak sesuai dengan perencanaan awal di main schedule dari kapal tersebut. Keterlambatan dari suatu proyek pengerjaan bangunan kapal baru atau reparasi kapal akan menimbulkan kerugian yang berdampak kepada banyak pihak; baik pihak galangan, owner, dan pihak ketiga. Salah satu cara yang efektif untuk meminimalisir terjadinya keterlambatan adalah melakukan percepatan dengan Critical Path Method (CPM). Objek penelitian yang dipilih adalah reparasi kapal TB. Patra Tunda 3001. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan durasi baru setelah dilakukan reschedule reparasi kapal, menemukan aktivitas pekerjaan pada lintasan kritis, mendapatkan nilai produktivitas tenaga kerja, mencari waktu dan biaya paling optimal untuk mempercepat durasi proyek dengan adanya crashing melalui opsi perbandingan dua alternatif yaitu penambahan jam kerja (jam lembur) dan penambahan tenaga kerja. Total biaya normal sebesar Rp 9.360.000. Dari analisa pengolahan data didapatkan kesimpulan bahwa penambahan jam kerja (jam lembur) dan penambahan tenaga kerja menunjukkan percepatan yang sama optimalnya dengan hasil 25% yaitu 4 hari lebih awal dari total durasi nomal proyek 16 hari. Terdapat selisih biaya 39,31% lebih besar dari durasi normal dengan alternatif penambahan jam kerja (jam lembur) dan selisih pengurangan biaya 27,35% lebih kecil dari durasi normal dengan alternatif penambahan tenaga kerja. Reschedule Repari Kapal TB. Patra Tunda 3001 dengan penambahan kerja lebih efisien dan optimal pengerjaannya.Scheduling in the repair process is often not according to the initial planning in the main schedule of the ship. Delays in a new shipbuilding project or ship repair will cause losses that have an impact on many parties; both the shipyard, the owner and third parties. To minimize the occurrence of delays, one effective way is to accelerate with a Critical Path Method. The research object selected is ship repair TB. Patra Tunda 3001. The purpose of this research is to get a new duration after rescheduling ship repair, find work activities on the critical path, get the value of labor productivity, and find the most optimal time and cost to speed up the duration of the project with crashing through the comparison of two alternatives, namely the addition of working hours (overtime) and additional human resources. The total normal cost is Rp 9,360,000. From the data processing analysis, it was concluded that the addition of working hours (overtime hours) and the addition of labor showed the same optimal acceleration with a 25% result, which was 4 days earlier than the total project normal duration of 16 days. There is a cost difference of 39.31% greater than the normal duration with the alternative of additional working hours (overtime hours) and the difference in cost reduction of 27.35% which is smaller than the normal duration with the alternative of additional manpower. Reschedule for ship repair TB. Patra Tunda 3001 with the addition of labor is more efficient and optimal work
KAJIAN PERIKANAN PAYANG DAN PURSE SEINE DI PPP LARANGAN TEGAL
Usaha perikanan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Larangan Kabupaten Tegal merupakan salah satu penunjang utama perekonomian masyarakat pesisir Tegal dan menjadi penyuplai bahan baku pengolahan ikan teri (Stolephorus sp.) nasi di daerah Pemalang dan Kendal. Hasil tangkapan utama kegiatan penangkapan ikan di PPP Larangan adalah komoditas ikan teri. Alat tangkap yang digunakan nelayan di PPP Larangan adalah payang dan purse seine. Kajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perikanan payang dan purse seine di PPP Larangan, menghitung nilai produktivitas hasil tangkapan payang dan purse seine pada penangkapan pagi dan malam, serta membandingkan tingkat efektivitas hasil tangkapan purse seine pada penangkapan pagi dan malam. Alat tangkap payang dan purse seine yang dioperasikan di PPP Larangan bersifat one day fishing serta terdapat dua waktu penangkapan yaitu penangkapan pagi dan penangkapan malam. Nilai produktivitas payang dan purse seine pada penangkapan pagi lebih besar dibandingkan dengan penangkapan malam. Tingkat efektivitasnya penangkapan pagi lebih efektif berdasarkan nilai produktivitas dibandingkan dengan penangkapan malam baik untuk alat tangkap payang maupun purse seine.The fishing business in Coastal Fishing Port (PPP) of Larangan, Tegal Regency is one of the main economic supports for the coastal community of the Tegal regency and it is a supplier of raw material for anchovies (Stolephorus sp.) processing in Pemalang and Kendal areas. The main catch of fishing activities in the area of PPP Larangan is anchovy. The fishing gear used by fishermen in PPP Larangan are boat seine and purse seine. This study aimed to describe the boat and purse seines fishery in the area of PPP Larangan, calculated the productivity value of boat and purse seines catches in the morning and evening catches, and compared the effectiveness of the boat and purse seines catches in the morning and evening catches. The boat and purse seines fishing gear operated at the area of Larangan Coastal Fishing Port were one day fishing time i.e., morning and evening fishing. The productivity value of boat and purse seines in the morning catch was greater than in the evening catch. The effectiveness level of morning catching was more effective based on productivity value compared to night catching for both boat and purse seines fishing gear
BIOLOGI REPRODUKSI IKAN BELANAK (Planiliza subviridis) YANG TERTANGKAP DI PERAIRAN PANTAI KARANGSONG, INDRAMAYU, JAWA BARAT
Ikan belanak (Planiliza subviridis) merupakan salah satu dari beberapa jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi di Perairan pantai Karangsong. Penelitian ini dilakukan selama 6 bulan (Desember 2012-Mei 2013), bertujuan untuk mengetahui biologi reproduksi ikan tersebut yang tertangkap di perairan pantai Karangsong. Ikan contoh diambil dari hasil tangkapan nelayan dengan menggunakan gill net ukuran mata jaring 0,5-1,5 inchi (n=336 ekor). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa rasio ikan belanak jantan dan betina tidak seimbang yaitu 1:2,0. Ikan belanak betina lebih kecil mengalami matang gonad dibandingkan dengan ikan jantan, dengan ukuran pertama kali matang gonad sebesar 114 mm (ikan jantan) dan 102 mm (ikan betina). Puncak musim pemijahan ikan belanak di Perairan pantai Karangsong diduga terjadi pada bulan Februari. Jumlah telur ikan belanak cukup besar yaitu sebesar 9.691-173.335 butir telur. Diameter telur ikan tersebut berkisar antara 0,18-0,75 mm dengan modus penyebaran dua puncak yang mengindikasikan pemijahan secara parsial.Greenback mullet (Planiliza suviridis) is ones of several fish that has a high economic value in Karangsong coastal water of Indramayu. The study was conducted for 6 months (December 2012-May 2013), aims to reveal a reproductive biology of the fish caught in Karangsong coastal waters. Fish samples were taken from the catch of fishermen using a gill net with a mesh size of 0.5-1.5 inches (n=336 individuals). The results shows that the sex ratio between males and females was 1:2,0. Greenback mullet females mature was smaller than females with mature gonad size was 114 mm (for male) and 102 mm (for female). Peak spawning season of the fish in the Karangsong coastal waters was thought to occur in early February. Fecundity of greenback mullet was quite large in the amount of 9.691 to 173.335 eggs. Eggs diameter distribution of the fish ranged from 0,18 to 0,75 mm with two modes indicating a partial spawner
ANALISIS ZONA POTENSI PENANGKAPAN IKAN BERDASARKAN SPL, KLOROFIL-A, DAN BOAT DETECTION SERTA MENGKAJI RZWP3K, LAMPUNG
Pada tahun 2021, Dinas Kelautan Provinsi (DKP) Lampung hanya mencatat data volume dan produksi ikan pada unit pelaksana tugas Kota Agung saja. Hal ini akan mempersulit nelayan diluar unit pelaksana tugas Kota Agung dalam menentukan lokasi penangkapan dan akan mempersulit peneliti untuk mengetahui potensi seluruh wilayah perairan. Tujuan penelitian adalah mendapatkan nilai distribusi suhu permukaan laut (SPL) dan klorofil-a, hasil zona potensi penangkapan ikan, serta menganalisis peraturan yang berkaitan dengan penangkapan ikan di perairan lampung. Penentuan lokasi berpotensi ikan pelagis dibuat berdasarkan parameter SPL, klorofil-a, dan boat detection. Data tersebut didapat dengan memanfaatkan citra satelit AQUA-MODIS dan SNPP-VIIRS Level 3. Metode yang digunakan adalah Interpolasi Invers Distance Weighting (IDW) dan Kernel Density Estimation (KDE). Di bulan Maret-April 2022, wilayah berpotensi tinggi ikan pelagis dengan SPL 27-28°C dan klorofil-a 1,1-1,9 mg/m³ berada di perairan Kabupaten Tanggamus, Lampung Selatan, Lampung Timur, dan Kota Bandar Lampung. Sedangkan pada wilayah perairan Kabupaten Lampung Barat memiliki potensi yang rendah dengan SPL 29-30°C dan klorofil-a 2,2-3,1 mg/m³. Hasil wawancara dengan nelayan dan DKP Provinsi Lampung didapatkan informasi bahwa masih terdapat pelanggaran penerapan RZWP3K pada Jumlah Tangkapan di Bolehkan (JTB) yang dilakukan nelayan, dengan jumlah tangkapan melebihi JTB (5-10 ton perhari). Penerapan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI) pada nelayan kecil 5-15 GT dan Surat Izin Usaha Penangkapan (SIUP) perlu ditegaskan lagi, khususnya pada wilayah yang berpotensi.In 2021, the Marine Affairs and Fisheries Office of Lampung Province only recorded fish volume and production data at the technical executive unit in Kota Agung. This will make a difficulty for fishermen outside the technical executive unit of Kota Agung to determine fishing locations and for researchers to determine the potential of all water areas. The study aimed to obtain the distribution value of Sea surface temperature (SST) and Chlorophyll-a, the results of potential fishing zones, and to analyze regulations related to fishing throughout Lampung waters. Determination of potential pelagic fish locations based on SST, Chlorophyll-a, and boat detection parameters. The data was obtained by utilizing AQUA-MODIS and SNPP-VIIRS Level 3 satellite imagery. The methods used are Inverse Distance Weighting (IDW) Interpolation and Kernel Density Estimation (KDE). In March-April 2022, areas of high potential for pelagic fish with SST 27-28°C and chlorophyll-a 1.1-1.9 mg/m³ are in the waters of Tanggamus Regency, South Lampung, East Lampung, and Bandar Lampung City. Whereas in the waters of West Lampung Regency, it has a low potential with SST 29-30°C and chlorophyll-a 2.2-3.1 mg/m³. The interviews with fishermen and the Marine Affairs and Fisheries Office of Lampung Province revealed that there were still violations of the application of RZWP3K in the Allowed Catches (JTB) by fishermen, with catches exceeding the allowed catches (5-10 tons per day). Therefore, the application of fishing permits (SIPI) for small fishermen 5-15 GT and fishing business permits (SIUP) need to be reaffirmed, especially in potential areas