Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
337 research outputs found
Sort by
KEMUNDURAN MUTU IKAN BARONANG (Siganus javus) PADA PENYIMPANAN SUHU CHILLING
Ikan baronang hidup di perairan mangrove hingga terumbu karang dengan kedalaman mencapai 6 meter. Biasanya ikan baronang dijual dalam kondisi yang segar. Teknik penanganan ikan yang paling umum dilakukan untuk menjaga kesegaran ikan adalah penggunaan suhu rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kemunduran mutu ikan baronang dari Kepulauan Seribu yang disimpan dengan menggunakan es. Perbandingan ikan dan es yang dipergunakan adalah 1:1 (b/b). Penentuan kesegaran ikan baronang pada penelitian ini dilakukan berdasarkan pengujian pH, TVB, dan TPC. Pengamatan dilakukan setiap 24 jam sekali selama 3 hari. Nilai pH mengalami penurunan yang tidak signifikan pada penyimpanan hari ke-2 dan hari ke-3. Nilai TVB ikan baronang pada hari pertama yaitu 10,57 mg N/100 g. Nilai tersebut menunjukkan ikan pada awal penyimpanan masih dalam keadaan segar. Jumlah total mikroba setelah penyimpanan 3 hari mengalami peningkatan menjadi 7,48 log CFU/g. Ikan baronang setelah penyimpanan 3 hari masih layak untuk dikonsumsi berdasarkan nilai pH dan TVB.Rabbitfish lives in waters of the mangrove to the reef at a depth of 6 meters. Rabbitfish usually is sold in a fresh condition. Generally, the low temperature has been used for fish handling technique to maintain its freshness. Thus, this study aimed to determine baronang fish quality deterioration from the Seribu Island using ice. The ratio of ice and fish was 1:1 (w/w). Determination of rabbitfish freshness was conducted by pH, TVB, and TPC measurements. Observation was every 24 hours for 3 days. The pH value decreased significantly at the 2nd day and the 3rd day. TVB value of rabbitfish on the first day was 10.57 mg N/100 g. This value indicated the fish was still fresh. However, the total number of microbes after 3 days of storage increased to 7.48 log CFU/g. Rabbitfish after 3 days storage was still suitable for consumption based on the pH and TVB values
LOGAM BERAT TIMBAL (Pb) PADA HATI IKAN PATIN (Pangasius djambal) DI WADUK SAGULING, JAWA BARAT
Waduk Saguling merupakan salah satu waduk yang dibangun di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum yang cukup tercemar, sehingga berpotensi mengandung logam berat (seperti Pb). Pb akan terkonsentrasi dalam tubuh ikan patin (Pangasius djambal) yang umum dibudidayakan di waduk tersebut dan dalam jangka waktu yang lama akan terakumulasi. Hati merupakan organ yang paling banyak mengakumulasi logam berat, sehingga berpotensi terjad kerusakan berupa nekrosis, fibrosis, dan cirrhosis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan Pb yang terakumulasi dalam hati dan pengaruhnya terhadap kerusakan jaringan hati. Penelitian dilakukan pada bulan Desember tahun 2012 dengan mengambil tiga stasiun yang mewakili inlet, tengah, dan outlet. Analisis kandungan Pb (pada air dan ikan) menggunakan AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer) dan didapatkan kandungan logam Pb (pada ikan) berkisar antara 7,5- 16,4 mg/kg. Kandungan Pb dalam ikan patin melebihi baku mutu berdasarkan SNI tahun 2009 (untuk ikan dan hasil olahannya). Kerusakan jaringan hati yang terjadi akibat akumulasi Pb di Waduk Saguling adalah pembengkakan dan nekrosis.Saguling Reservoir is one of the reservoirs built in the Citarum Watershed which is quite polluted, and has a potential to contain heavy metals (such as Pb). The Pb will be concentrated in the body of catfish (Pangasius djambal) which is commonly cultured in the reservoir and in the long term will accumulate. Liver is an organ that accumulates the most heavy metals so that it has the potential to cause damage in the form of necrosis, fibrosis, and cirrhosis. This study aims to analyze the content of Pb that accumulates in the liver and its effect on liver tissue damage. This study was conducted in December 2012 through sampling carried out at three stations representing the inlet, middle, and outlet. Analysis of Pb content (in the water and fish) was conducted using AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer) and obtained Pb heavy metal content (in fish) ranging from 7.5 to 16.4 mg/kg. The Pb content in the catfish had exceeded the quality standard based on SNI 2009 (for fish and its processed products). Liver tissue damage caused by Pb accumulation in the Saguling Reservoir was swelling and necrosis
HUBUNGAN PARAMETER OSEANOGRAFI PERAIRAN TERHADAP POLA MUSIM IKAN PELAGIS DI PERAIRAN PALABUHANRATU
The fishing season and abundance of pelagic fish were influenced by the dynamics of chlorophyll-a and sea surface temperature values. Information on fishing seasons and their relationship to oceanographic parameters could assist fishermen in increasing fishing efficiency. Therefore, this study aimed to determine the pelagic fishing seasons in Palabuhanratu waters and identified the dynamics of chlorophyll-a and sea surface temperature and their relationship to fishing seasons. The data used were pelagic production at 2016-2020, chlorophyll-a, and sea surface temperature values. The data were analyzed using the moving average method and pearson-correlation. The results of this study indicated that the fishing season for skipjack, tuna mackerel, mackerel, and sailfish generally occurred in the east season. There was a close relationship between the production of skipjack and tuna mackerel on monthly fluctuations in sea surface temperature and chlorophyll-a values (p-value < 0.05). An increase in the concentration of chlorophyll-a, and a decrease of sea surface temperature values would be followed by an increase in the production of skipjack and tuna mackerel in Palabuhanratu waters. The correlation index of skipjack to chlorophyll-a was in the strong category (r = 0.697), while that of tuna mackerel was in the medium category (r = 0.485). The correlation index of skipjack and tuna mackerel to sea surface temperature was in the medium category (0.40 < r < 0.599).Pola musim penangkapan dan kelimpahan ikan pelagis dipengaruhi oleh dinamika nilai klorofil-a dan suhu permukaan laut. Informasi pola musim penangkapan ikan dan hubungannya terhadap parameter oseanografi dapat membantu nelayan dalam meningkatkan efisiensi penangkapan. Oleh karenanya penelitian ini bertujuan menentukan pola musim penangkapan ikan pelagis di Perairan Palabuhanratu dan mengindentifikasi dinamika klorofil-a dan suhu permukaan laut serta hubungannya terhadap produksi perikanan pelagis. Data yang digunakan berupa data produksi perikanan pelagis tahun 2016-2020, dan data citra klorofil-a serta suhu permukaan laut. Data dianalisis menggunakan metode rata-rata bergerak dan korelasi pearson. Hasil penelitian ini menunjukkan musim penangkapan ikan cakalang, tongkol, tenggiri, dan layaran secara umum terjadi di musim timur. Terdapat hubungan yang erat antara produksi perikanan tongkol dan cakalang terhadap fluktuasi bulanan nilai suhu permukaan laut dan klorofil-a (p-value < 0,05). Kenaikan konsentrasi klorofil-a dan penurunan nilai suhu permukaan laut akan diikuti peningkatan produksi perikanan tongkol dan cakalang di perairan Palabuhanratu. Indeks korelasi ikan cakalang terhadap klorofil-a masuk pada kategori kuat (r = 0,697), sedangkan pada ikan tongkol masuk pada kategori sedang (r = 0,485). Indeks korelasi ikan cakalang dan tongkol terhadap suhu permukaan laut masuk pada kategori sedang (0,40 < r < 0,599)
KONDISI LINGKUNGAN PERAIRAN LOKASI BUDIDAYA IKAN KERAPU DI PULAU SEMUJUR, KABUPATEN BANGKA TENGAH
Kegiatan budidaya ikan kerapu (Epinephenus spp) dengan Keramba Jaring Apung (KJA) cukup banyak dilakukan oleh masyarakat di perairan Pulau Semujur, Kabupaten Bangka Tengah (Provinsi Kepulauan Bangka Belitung). Penelitian ini dilakukan sejak Februari-April 2014, yang bertujuan untuk mengevaluasi kondisi beberapa parameter lingkungan perairan yang mencakup kedalaman, kecerahan, kecepatan arus, suhu, salinitas, pH, dan DO di perairan Pulau Semujur. Parameter-parameter tersebut diberikan nilai dan bobot untuk menentukan tingkat kelayakannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedalaman, kecerahan, kecepatan arus, suhu, salinitas, pH, dan DO di perairan Pulau Semujur masing-masing adalah 7,5-12,2 m, 2,9-5,9 m, 0,11-0,27 m/detik, 29,7-31,2°C, 31,0-32,0 %o, 7,2-7,6, dan 5,5-7,8 ppm. Berdasarkan kondisi perairan tersebut, dapat diketahui bahwa lingkungan perairan di lokasi budidaya memenuhi persyaratan bagi kehidupan ikan kerapu, dan berdasarkan penilaian tergolong cukup layak.Aquaculture activities of grouper (Epinephenus spp) using floating cages net are mostly carried out by the community in the waters of Semujur Island, Central Bangka Regency (Bangka Belitung Islands Province). This study was conducted during February-April 2014, aims to evaluate condition of several aquatic environment parameters including water transparency, depth, current velocity, temperature, salinity, pH, and DO in the waters of Semujur Island. These parameters were given a value and weight to determine the level of feasibility. The results shows that the depth, transparency, current velocity, temperature, salinity, pH, and DO in the Semujur Island waters were 7.5-12.2 m, 2.9-5.9 m (secchi disk), 0.11-0.27 m/sec, 29.7-31.2°C, 31.0-32.0 %o, 7.2-7.6, 5.5-7.8 ppm, respectively. Based on these water conditions, it can be stated that the aquatic environment in the aquaculture location meets the requirements for the life of the grouper, and based on the assessment, it is classified as quite feasible-feasible
DIMENSI UTAMA DAN STABILITAS KAPAL PANCING TONDA DI WANGI-WANGI KABUPATEN WAKATOBI
Based on ship accident report data, during 2016-2020 there were 65 cases of ship accidents reported. The occurrence of a capsized ship is caused by poor ship stability or the main dimensions of the ship that are not in accordance with its designation. This study aims to identify the main dimensions and analyze the stability of the troll liner used by fishermen in Wangi-Wangi. The data collection technique used was accidental sampling. The results showed that the troll liner at Wangi-Wangi had the main dimension ratio values of L/B mostly (90,37%) in accordance with the reference values, the overall B/D ratio values (100%) were in accordance with the range of reference values, and the value of the L/D ratio is only a small portion (21,39%) within the reference range. The troll liner at Wangi-Wangi have a positive stability arm (GZ) value so that they have the ability to return to their original (stable) position after experiencing a tilt. The GZ value of the ship is directly proportional to the size and condition of the ship\u27s cargo, where the greater the size and condition of the ship\u27s cargo, the greater the GZ value of the ship.Berdasarkan data laporan kecelakaan kapal, sepanjang tahun 2016-2020 telah dilaporkan kasus kecelakaan kapal sebanyak 65 kasus, Berdasarkan laporan tersebut, jenis kapal yang mengalami kecelakaan didominasi kapal nelayan ukuran dibawah 5 GT dengan kasus kapal terbalik. Terjadinya kapal terbalik salah satunya disebabkan oleh stabilitas kapal yang buruk atau dimensi utama kapal yang tidak sesuai dengan peruntukkannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dimensi utama dan menganalisis stabilitas kapal pancing tonda yang digunakan oleh nelayan di Wangi-Wangi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapal pancing tonda di Wangi-Wangi memiliki nilai rasio dimensi utama L/B sebagian besar (90,37%) telah sesuai dengan nilai acuan, nilai rasio B/D seluruhnya (100%) telah sesuai dengan kisaran nilai acuan, dan nilai rasio L/D hanya sebagian kecil (21,39%) berada dalam nilai kisaran acuan. Kapal pancing tonda di Wangi-Wangi memiliki nilai lengan stabilitas (GZ) yang positif sehingga memiliki kemampuan untuk kembali ke posisi semula (stabil) setelah mengalami kemiringan. Nilai GZ kapal berbanding lurus dengan ukuran dan kondisi muatan kapal, dimana semakin besar ukuran dan kondisi muatan kapal, semakin besar pula nilai GZ kapal
KARAKTERISTIK DAYA APUNG DAN DAYA TAHAN PELET DARI LIMBAH BIOFLOK AKUAPONIK
Sistem akuaponik menggabungkan sistem akuakultur dan hidroponik dalam suatu sistem tertutup yang mengarah pada zero waste. Untuk menunjang proses sirkulasi nutrien digunakan sistem flok dimana sisa pakan diolah oleh konsorsium mikroorganisme menjadi bioflok yang dapat digunakan ikan sebagai pakan tambahan dan sisanya dialirkan ke tanaman. Namun produksi bioflok umumnya berlebih. Sisa bioflok tersebut potensial digunakan untuk bahan dasar biopelet dengan menggunakan perekat yang tepat. Tujuan penelitian adalah untuk memanfaatkan sisa bioflok sebagai bahan dasar biopelet dengan menggunakan perekat yang tepat pada kadar air yang sesuai. Produksi biopelet diujicoba dengan menggunakan berbagai metode dan berbagai perekat, yakni tepung kanji, tepung terigu, gelatin, alginat, dedak, dan tepung tapioka. Rancangan faktorial digunakan untuk menguji perlakuan jenis perekat, komposisi bioflok/perekat, dan kadar air. Kualitas biopelet diuji melalui daya apung dan daya tahan. Sisa bioflok berhasil digunakan sebagai bahan dasar untuk pembuatan biopelet. Tepung tapioka dan dedak merupakan perekat terbaik dengan penggunaan mesin penggiling yang dimodifikasi dengan pisau baling-baling di bagian depannya agar mempermudah proses pemotongan. Untuk daya apung, komposisi antara bioflok/perekat 5:5 pada kadar air 13% menunjukkan hasil tertinggi, baik dengan menggunakan tepung tapioka maupun dedak. Untuk daya tahan, nilai tertinggi juga dihasilkan oleh komposisi bioflok/perekat 5:5, dengan syarat menggunakan perekat tepung tapioka dan kadar air 16%.Aquaponics combines aquaculture and hydroponic systems in a closed system leading to zero waste. To accelerate the nutrient cycling process, floc system is generally used where the remaining feed is processed by a consortium of microorganisms into biofloc which can be used by fish as additional feed and the rest is circulated to plants as nutrient. However, biofloc production is generally excessive. The remaining biofloc has the potential to be used as a base for biopellets. The aim of the study was to utilize biofloc as a base material for biopellets by using the right adhesive at the appropriate moisture content. Biopellet production was tested using various methods and adhesives. The factorial design was applied to test adhesive type, biofloc/adhesive composition, and moisture content treatments. Biopellet quality was tested through buoyancy and durability. Biofloc was successfully used as a basic material for biopellets production. Tapioca flour and bran were the best adhesives by using a modified grinding machine with a propeller blade to make the cutting process easier. For buoyancy, the composition of biofloc/adhesive of 5:5 at 13% water content showed the highest yield, using either tapioca flour or bran. For durability, the highest value was also obtained by the biofloc/adhesive composition of 5:5, for tapioca flour adhesive at a moisture content of 16%
PENGARUH PERBEDAAN UMPAN PADA PANCING RAWAI TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN SENANGIN (Eleutheronema tetradactylum), MENDAHARA ILIR
Mendahara Ilir merupakan kelurahan yang terletak di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, dimana sebagian besar nelayan menggunakan alat tangkap rawai. Nelayan yang berada di Mendahara Ilir biasa menggunakan keong mas (Pomacea speciosa), namun keberadaan keong mas saat ini sulit dijumpai sehingga perlunya umpan alternatif, dikarenakan makanan utama dari ikan Senangin berupa crustacea maka umpan alternatif yang digunakan yaitu udang kapur (Metapenaeus dopsoni) dan udang loreng (Penaeus japonicus). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan jenis umpan pada alat tangkap rawai (longline) terhadap hasil tangkapan ikan Senangin (Eleutheronema tetradactylum) di Mendahara Ilir. Penelitian ini dilaksanakan di perairan Mendahara Ilir pada 5 Desember 2021 sampai 5 Januari 2022. Metode penelitian yaitu eksperimental fishing menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari 3 perlakuan dan 15 pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan Senangin banyak tertangkap pada umpan udang loreng sebanyak 61 ekor, kemudian pada umpan udang kapur 51 ekor, dan terakhir pada umpan keong mas 46 ekor. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan hasil tangkapan menggunakan umpan keong mas berbeda tidak nyata (P>0,05) dengan umpan udang kapur dan udang loreng. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu umpan udang kapur dan udang loreng dapat dijadikan sebagai umpan alternatif pengganti keong mas.East Tanjung Jabung Regency, Mendahara Ilir hamlet is a fishing base to the majority of longline fishing operations. The primary bait that used by fishermen in Mendahara Ilir is golden snails, but the golden snails are currently scarce, therefore is a need for alternative baits. Crustaceans are the primary food source for Senangin fish, the alternative baits utilized in this study were kapur shrimp and loreng shrimp. This study aimed to determine the effect of different types of bait on long line fishing gear on the catch of Senangin fish (Eleutheronema tetradactylum) in Mendahara Ilir. This study was carried out from December 5 to January 5, 2021, in the Mendahara Ilir waters. Experimental fishing was used as the research method, with a completely randomized design, 3 treatments, and 15 repetitions. The results showed that a lot of Senangin fish were caught on loreng shrimp bait of 61 fishes, kapur shrimp bait of 51 fishes, and golden Snail bait of 46 fishes. According to the findings of the analysis of variance, the capture with the golden snail bait was not statistically different from the catch with the kapur shrimp and loreng shrimp bait (P>0,05). The study\u27s findings suggested that kapur shrimp and loreng shrimp bait can be employed as golden snail replacement baits
PENGEMBANGAN PRODUK OLAHAN IKAN KADORU DI KECAMATAN KATIKUTANA KABUPATEN SUMBA TENGAH, NUSA TENGGARA TIMUR
Kecamatan Katikutana adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur yang memiliki potensi perikanan air tawar sebesar 40%, yang hasil perikanannya masih diolah dalam bentuk olahan tradisional dengan melalui pengasapan selama 1-3 hari dan dimasukkan kedalam buis bambu. Produk ini sering disebut dengan olahan ikan kadoru, dapat disimpan dan bisa bertahan selama satu tahun. Pemasaran produk ini masih bersifat tradisional yaitu barter dan masih tergolong murah. Dengan cara pengolahannya yang masih sederhana dan unik yang juga belum ada informasi untuk mengembangkan produk tersebut. Dengan demikian,kajian ini bertujuan untuk mengetahui strategi pengembangan produk olahan ikan kadoru dan menentukan strategi pengembangan produk olahan ikan kadoru di Kecamatan Katikutana Kabupaten Sumba Tengah. Metode pengumpulan data menggunakan metode deskriptif kualitatif serta Analisis yang digunakan adalah analisis SWOT serta analisis matriks QSP. Dimana, analisis matriks Perencanaan Strategi Kuantitatif (QSP) selalu memperhatikan data yang dianalisis berdasarkan matriks IFE dan EFE yang akan menghasilkan strategi sesuai urutan skor tertinggi ke urutan skor terendah. Strategi pengembangan produk olahan ikan kadoru di Kecamatan Katikutana Kabupaten Sumba Tengah adalah strategi progresif, menggunakan kekuatan internal (1,6) serta peluang eksternal (1,1).Peningkatan kualitas produk olahan kadoru tradisional menjadi produk olahan bernilai tambah tinggi dan kompetitif. Oleh karena itu, Strategi pengembangan produk olahan ikan tradisional di Kecamatan Katikutana Kabupaten Sumba Tengah adalah strategi progresif, tetapi masih dalam posisi yang cukup sehingga jika aspek ekologi dari tersedianya ikan secara alami maka perlu ada produk alternatif yang dapat dikembangkan.Ikan olahan kadoru merupakan produk olahan ikan tradisional di Kecamatan Katikutana, Kabupaten Sumba Tengah yang diproses melalui proses pengasapan selama 1-3 hari, dimasukkan kedalam bambu yang telah dipotong. Produk ini bisa bertahan selama 1 tahun. Pemasaran produk ini masih bersifat tradisional yaitu barter dan masih tergolong murah. Dengan cara pengolahannya yang masih sederhana dan unik yang juga belum adanya informasi untuk mengembangkan produk tersebut. Kajian ini bertujuan untuk menentukan strategi pengembangan produk olahan ikan kadoru di Kecamatan Katikutana, Kabupaten Sumba Tengah. Metode pengumpulan data menggunakan metode deskriptif kualitatif, dan analisis yang digunakan adalah analisis SWOT dan analisis matriks QSP. Analisis matriks Quantitative Strategic Planning (QSP) memperhatikan data yang dianalisis berdasarkan matriks IFE dan EFE untuk menghasilkan strategi sesuai urutan skor tertinggi ke urutan terendah. Strategi pengembangan produk olahan ikan kadoru di Kecamatan Katikutana Sumba Tengah adalah strategi progresif, menggunakan kekuatan internal (1,6) serta peluang eksternal (1,1). Peningkatan kualitas produk olahan tradisional kadoru menjadi produk olahan bernilai tambah tinggi dan kompetitif. Strategi pengembangan produk olahan tradisional ikan kadoru di Kecamatan Katikutana (Kabupaten Sumba Tengah) adalah strategi progresif, tetapi masih dalam posisi cukup sehingga jika dihubungkan dengan aspek ekologi dari tersedianya ikan secara alami maka perlu ada produk alternatif yang dapat dikembangkan
PENGARUH PERBEDAAN JENIS UMPAN TERHADAP HASIL TANGKAPAN SIDAT (Anguilla sp) DI SUNGAI SIKUCING, KABUPATEN PURWOREJO
Salah satu ikan yang bernilai ekonomis tinggi di Sungai Sikucing adalah sidat. Sungai Sikucing merupakan sungai di bagian hulu yang berada di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Sidat di Sungai Sikucing biasa ditangkap dengan menggunakan pancing ulur dengan umpan yang masih beragam. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis umpan yang disukai oleh ikan sidat. Umpan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu cacing, udang, keong mas, dan ulat kelapa. Penelitian menggunakan keempat jenis umpan karena ketersediaan umpan tersebut masih banyak dan terjangkau. Penelitian dilakukan selama 36 hari dan dalam satu hari ada dua kali pemasangan umpan (yaitu sore dan malam hari). Pemasangan umpan dilakukan di delapan titik lokasi sepanjang Sungai Sikucing. Berdasarkan penelitian, terdapat lima jenis ikan yang tertangkap pada pancing sidat yaitu ikan sidat, ikan mas, ikan gabus, ikan lempon, dan labi-labi. Hasil tangkapan dominan dari penelitian ini adalah ikan sidat dengan jumlah hasil tangkapan sebanyak 40 ekor (atau seberat 30,173 kg). Sidat tertangkap pada keempat jenis umpan, namun hasil tangkapan tertinggi diperoleh dari jenis umpan ulat kelapa. Umpan udang dan keong merupakan jenis umpan yang memiliki hasil tangkapan sidat terendah (yaitu sebanyak 3 ekor).One of the economically valuable fish in the Sikucing River is an eel. Sikucing River is an upstream river located in Purworejo Regency, Central Java. The eel in Sikucing River is usually captured using a handline with diverse baits. The research aims to determine the type of bait favored by the eel. The baits used in this research were worms, shrimp, golden snails, and coconut caterpillars. The research uses four types of bait because the availability of these baits is still a lot and affordable. The research was conducted for 36 days and in one day there were two bait installments (namely the afternoon and evening). Bait installments were carried out at eight locations along the Sikucing River. Based on the research there are five types of fish caught on handline, namely eels, carps, snakehead fishs, lempon fishs, and turtles. The dominant catch from this research was eel with 40 individuals (or 30,173 kg). The eels were caught on all four types of bait, but the highest catch was obtained from the type of coconut caterpillar bait. Shrimp and snail were a type of bait that has the lowest eel catch (as many as 3 individuals)
FORMULASI FOOT SPRAY ANTI BAU KAKI BERBASIS NANO CHITOSAN DARI LIMBAH INDUSTRI UDANG
Solusi masalah antibau kaki salah satunya yaitu penggunaan produk anti bau kaki. Salah satu bahan alami yang berpotensi sebagai agen anti bau kaki adalah kitosan. Kitosan apabila dalam bentuk nanopartikel lebih reaktif dan memiliki aktivitas antibakteri lebih tinggi. Limbah industri udang sampai saat ini belum banyak dieksplor, sehingga pemanfaatan limbah industri udang menjadi nano kitosan dapat meningkatkan nilai tambah limbah udang. Penelitian ini bertujuan menemukan formulasi foot spray terbaik dalam menghambat bakteri penyebab bau kaki. Tahapan penelitian ini yaitu pembuatan kitosan, nano kitosan, formulasi foot spray, uji sifat fisik, uji aktivitas antibakteri, uji stabilitas fisik, dan uji iritasi. Pembuatan nanokitosan menggunakan metode gelasi ionik. Kitosan dilarutkan dengan akuades, TPP 0,1%, dan Tween 80 serta disizing dengan kecepatan 23.000 rpm akan membentuk nanopartikel stabil. Konsentrasi nano kitosan 3.000 ppm memberi daya hambat tertinggi yakni 5,20 mm terhadap S. epidermidis dan 3,15 terhadap Micrococcus sp. Derajat keasaman, ukuran partikel, dan nilai sensori foot spray nano kitosan stabil selama penyimpanan 8 minggu, namun viskositasnya mengalami penurunan besar.One of the solutions to the problem of anti-odorous feet is the use of anti-odor products. One of the natural ingredients that have the potential as an anti-odor agent is chitosan. Chitosan in the form of nanoparticles is more reactive and has higher antibacterial activity. Until now, shrimp industrial waste has not been explored much, so that the utilization of shrimp industrial waste into nano chitosan can increase the added value of shrimp waste. This study aims to find the most effective foot spray formulation in inhibiting bacteria that cause foot odor. The stages of this research were the manufacture of chitosan, nano chitosan, foot spray formulation, physical properties test, antibacterial activity test, physical stability test, and irritation test. The manufacture of nanochitosan was done using the ionic gelation method. Chitosan was dissolved with distilled water, 0.1% TPP, and Tween 80 and disizing at a speed of 23,000 rpm to form stable nanoparticles. The nano chitosan concentration of 3,000 ppm gave the highest inhibitory power of 5.20 mm against S. epidermidis and 3.15 against Micrococcus sp. The degree of acidity, particle size, and sensory value of foot spray nano chitosan was stable during 8 weeks of storage, but the viscosity decreased significantly