Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
337 research outputs found
Sort by
PERBEKALAN MELAUT PADA UNIT PENANGKAPAN BOUKE AMI DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA MUARA ANGKE JAKARTA
Penyediaan perbekalan melaut merupakan salah satu aktivitas ekonomi yang penting dalam menentukan usaha penangkapan ikan dan pengolahan hasil tangkapan terutama pada kapal yang melaut dalam waktu yang relatif lama. Kapal yang melaut pada waktu yang lama sering mengalami kekurangan perbekalan, sehingga mempengaruhi kegiatan penangkapan bahkan hasil tangkapan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari-Maret 2020 yang bertempat di Pelabuhan Perikanan Nusantara Muara Angke, Kota Jakarta, Provinsi DKI Jakarta yang bertujuan untuk mengidentifikasi jenis kebutuhan perbekalan pada unit penangkapan bouke ami, menghitung jumlah aktual kebutuhan perbekalan pada unit penangkapan bouke ami dan menentukan sistem penanganan perbekalan pada unit penangkapan bouke ami. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode survei dengan teknik wawancara dan kuesioner. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Data yang didapatkan dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kebutuhan perbekalan pada unit penangkapan bouke ami yaitu, solar, oli, minyak, air bersih, beras, gula pasir, wortel, kol, labu, teh, kopi, mie instant, obat-obatan, gas, dan rokok. Jumlah aktual kebutuhan perbekalan unit penangkapan bouke ami disebabkan oleh faktor jumlah ABK, ukuran GT kapal, daerah penangkapan ikan, dan lama melaut. Sistem penanganan masing-masing perbekalan beras, sayuran, mie instan disimpan di palka berpendingin agar tidak mudah busuk, sedangkan oli, solar diletakkan di belakang kapal, dan obat-obatan, gula, kopi, dan rokok diletakkan di kamar nakhoda.Provision of fishing supplies is ones of the important economic activity that determining fishing and processing on fishing catches business, especially on ships that sail for a relatively long time. This research was conducted in February-March 2020 at the Muara Angke Archipelago Fishery Port, Jakarta Province which aims to identify the type of supply needs at the Bouke ami Fishing Unit, calculate the actual number of supplies at the Bouke ami Fishing Unit, and determine the supply handling system at the Bouke ami Fishing Unit. Data collection method uses a survey method with interview and questionnaire techniques. The sampling technique was purposive sampling. The data obtained were analyzed descriptively qualitative and quantitative. The types of supplies needed at the Bouke ami Fishing Unit are diesel, lubricant, oil, clean water, rice, granulated sugar, carrots, cabbage, pumpkin, tea, coffee, instant noodles, medicine, gas, and cigarettes. The actual number of supplies needed for the Bouke ami Fishing unit depends on the number of crew members, the GT size of the ship, the fishing area, and the fishing time length. The handling system of each supply of rice, vegetables, instant noodles is stored in a refrigerated hatch so it does not rot easily, while oil, diesel are placed behind the ship, and medicines, sugar, coffee, cigarettes are placed in the ship captain’s room
PENILAIAN PARAMETER ECOFISHINGPORT PADA PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA NIZAM ZACHMAN JAKARTA
Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta (PPSNZJ) merupakan pelabuhan perikanan terbesar di Indonesia, sebagai pusat industri dan ekspor hasil perikanan. Namun di sisi lain, PPSNZJ menghadapi berbagai permasalahan lingkungan seperti penurunan kualitas air dan pengolahan limbah cair. Permasalahan lingkungan pelabuhan dapat diatasi melalui penerapan konsep ecofishingport (pelabuhan perikanan berwawasan lingkungan). Tujuan penelitian adalah melakukan penilaian terhadap kondisi eksisting PPSNZJ berdasarkan parameter ecofishingport. Penelitian lapang dilaksanakan pada bulan Januari-Maret 2017. Metode pengumpulan data menggunakan pendekatan purposive dan accidental sampling. Metode analisis data menggunakan standar parameter ecofishingport yang terdiri dari aspek lingkungan fisik, sosial ekonomi, hasil tangkapan, kelembagaan dan pengawasan. Hasil penelitian menunjukkan skor aspek lingkungan 0,63, skor aspek sosial ekonomi 0,27, skor aspek hasil tangkapan 0,40, skor aspek kelembagaan dan pengawasan 0,50. Analisis indeks ecofishingport menunjukkan PPSNZJ mendapat skor 1,77 (PPSNZJ perlu peningkatan menuju kriteria ecofishingport).Nizam Zachman Oceanic Fishing Port of Jakarta (PPSNZJ) is the largest fishing port in Indonesia, as the center of industry and fishery product exports. On the other hand, PPSNZJ has various environmental problems such as water quality degradation and waste handling. The problem solved by the ecofishingport parameter approach (environmentally friendly port). The objective of the research is to assess the existing conditions of the PPSNZJ based on the ecofishingport parameters by determining the ecofishingport index. The research was carried out from January to March 2017. The data collection used a purposive and accidental sampling method. Data analysis using standard ecofishingport parameters which consisting of the physical environment aspects, socio-economy, fisheries catch, institutional and monitoring. The results showed that score was 0,63 for the environmental aspect, 0,27 for the socio-economic aspect, 0,40 for the fisheries catch aspect, and 0,50 for the institutional and monioring aspect. The analysis of ecofishingport index showed that PPSNZJ obtained an index value of 1.77 (toward ecofishingport)
PERANCANGAN LAMPU PEMIKAT CUMI-CUMI MENGGUNAKAN LIGHT EMITTING DIODE (LED)
Perikanan tangkap cumi-cumi telah mengalami peningkatan sangat pesat di Indonesia. Kapal pancing cumi-cumi memiliki alat bantu penangkapan lampu dengan daya relatif besar. Biasanya kapal memakai lampu Metal Halide (MH) yang berjumlah 16-20 unit (dengan daya 24-30 kW). Lampu MH membutuhkan energi yang cukup besar dan berpengaruh terhadap kebutuhan bahan bakar minyak yang tinggi. Untuk itu diperlukan altenatif lampu yang lebih hemat energi yaitu Light Emitting Diode (LED). Penelitian ini dilakukan dengan membuat rancangan lampu LED cumi-cumi yang aplikatif untuk diterapkan di kapal pancing cumi-cumi. Pendekatan yang dilakukan adalah dengan merancang bangun lampu LED cumi-cumi yang mampu mendekati sifat dan karakteristik utama lampu MH yang saat ini digunakan. Rancangan konseptual rangkaian lampu LED cumi-cumi dilakukan dengan mengumpulkan semua materi yang terkait dengan sifat cahaya lampu LED dan ketertarikan dari cumi-cumi pada lampu LED warna biru. Kemudian, dilakukan penentuan sebaran cahaya lampu MH dan LED cumi-cumi, serta pemilihan jenis bahan material yang sesuai agar lampu LED bisa stabil. Berdasarkan hasil penelitian berupa pengukuran suhu dan iluminasi cahaya pada tiap chips LED terlihat stabil hingga akhir pengamatan. Sebaran intensitas cahaya lampu LED cumi-cumi hanya berkurang 10,57%. Hasil rancang bangun LED dapat diterapkan pada perikanan cumi-cumi sebagai alternatif pengganti lampu MH.Squid jigging fisheries have increased very rapidly in Indonesia. The squid jigging fishing has a lamp as a fishing auxiliary with relatively large power. Squid jigging boat is usually using Metal Halide (MH) lamps of 6-20 units with an power of 24-30 kW. MH lamps consume a lot of energy which affects the high fuel loss. For this purpose, an alternative lamp that is more energy efficient is needed, namely the Light Emitting Diode (LED) lamp. The research was conducted by designing the squid LED lamp to be applied in squid jigging boats. The design of a squid LED lamp can be equal to the main properties and characteristics of the MH lamps. The conceptual design of the lamp circuit was carried out by gathering all the materials related to the light properties of the LED lamp and the attraction of the squid to the blue LED lamp. Then, determine the light distribution of MH and squid LED lamps, as well as selecting the appropriate material so that the LED lights can be stable. Based on the results, the temperature measurements and light illumination on each LED chip, were stable until the end of the observation. The light intensity distribution of the Squid LED lamps was only reduced by 10,57%. The LED design can be applied to squid jigging boats as a substitute alternative to MH lamps
TINGKAT KERENTANAN PESISIR DI UTARA DAN TIMUR PULAU BINTAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU TAHUN 2020
Wilayah pesisir sangat unik, dinamis, dan kompleks karena merupakan zona interaksi antara daratan, lautan, dan atmosfer. Hal ini menjadikan wilayah pesisir sebagai wilayah yang paling rentan di Bumi. Untuk mengetahui seberapa besar kerentanan di suatu wilayah pesisir, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui tingkat kerentanan wilayah pesisir dan faktor yang mempengaruhi. Penelitian mengenai tingkat kerentanan pesisir di lokasi ini pernah dilakukan pada tahun 2016 dan diperoleh simpulan bahwa tingkat kerentanan pesisir berada pada kategori sedang. Dengan semakin berkembangnya pemanfaatan potensi di daerah tersebut maka dirasa perlu dilakukan penelitian serupa dengan tahun 2016 untuk mengetahui apakah terdapat perubahan tingkat kerentanan antara tahun 2016 dengan tahun 2020. Data-data yang digunakan terdiri dari Data-data yang digunakan terdiri dari geomorfologi pantai, pasang surut, citra satelit Landsat 7 ETM+ dan 8 OLI, kenaikan muka laut dan DEM. Analisis data menggunakan metode Coastal Vulnerability Index (CVI). Hasil penelitian menunjukkan tingkat kerentanan pesisir di lokasi penelitian berada pada kategori rendah-sedang, dengan kisaran skor CVI 9,93-25,86. Topografi, geomorfologi, intensitas perubahan garis pantai, dan kemiringan pantai merupakan faktor yang dapat menyebabkan tingkat kerentanan di lokasi penelitian menjadi sangat tinggi. Namun, keterhubungan antara parameter lain yang dapat menjadi faktor penghambat tingginya tingkat kerentanan, menyebabkan tingkat kerentanan pesisir di lokasi penelitian hanya berada dalam kategori rendah-sedang. Terdapat perubahan kondisi tingkat kerentanan antara tahun 2016 dengan tahun 2020 dimana pada tahun 2020 tingkat kerentanan di pantai timur mengalami penurunan menjadi kategori rendah.Coastal areas are unique, dynamic, and complex because they are zones of interaction between land, oceans, and atmosphere. This makes coastal areas the most vulnerable areas on Earth. To find out how big the vulnerability is in a coastal area, a study is needed to determine the vulnerability level of coastal areas and the influencing factors. Research on the coastal vulnerability level at this location was conducted in 2016 and it was concluded that the coastal vulnerability level is in the medium category. With the development of potential utilization in the area, it is necessary to conduct similar research in 2016 to find out if there is a change in vulnerability level between 2016 and 2020. The data used consisted of coastal geomorphology, tidal, Landsat 7 ETM+ and 8 OLI, sea level rise and DEM satellite imagery. Data analysis using Coastal Vulnerability Index (CVI) method. The results showed the coastal vulnerability level at the research site was in the low-medium category, with a CVI score range of 9,93-25,86. Topography, geomorphology, intensity of shoreline changes, and coastal slope are factors that can cause the vulnerability level at the research site can be very high. However, the interconnectedness between other parameters can inhibit the high level of vulnerability, making the level of coastal vulnerability at the research site to be only in the low-medium category. There was a change in vulnerability level conditions between 2016 and 2020 the level of vulnerability at the east coast decreased to a low category
VARIABILITAS KONSENTRASI KLOROFIL-a DI BAGIAN BARAT PERAIRAN ACEH, INDONESIA BERDASARKAN PERGERAKAN ANGIN MONSUN
Perairan Aceh bagian Barat terletak di bagian Timur Samudera Indonesia. Kawasan ini merupakan perairan yang dinamis karena merupakan bagian dari perairan Indonesia yang terletak di antara dua benua dan dua samudera. Konsentrasi klorofil-a bervariasi secara bulanan di perairan ini. Penelitian ini mengamati variasi konsentrasi klorofil-a berdasarkan sirkulasi angin muson. Analisis konsentrasi klorofil-a dapat digunakan untuk membantu perkiraan produktivitas sebuah perairan. Kami menemukan bahwa konsentrasi klorofil-a di Monsun Barat lebih tinggi daripada di Monsun Timur. Sebaliknya, konsentrasi klorofil-a di Monsun Timur lebih rendah dibandingkan di Monsun Barat.The waters of the western part of Aceh are located in the eastern part of the Indonesian Ocean. This area is a dynamic waters because it is part of Indonesian waters which is located between two continents and two oceans. The concentration of chlorophyll-a varies monthly basis in these waters. This study observed variability of chlorophyll-a concentration based on monsoon circulation. Analysis of chlorophyll-a concentration can be used to estimate the productivity of a waters. We found that the concentration of chlorophyll-a in the West Monsoon was higher than in the East Monsoon. In contrast, the concentration of chlorophyll-a in the East Monsoon was lower than in the West Monsoon
DAERAH PENANGKAPAN IKAN KEMBUNG (Rastrelligger sp) DI SELAT SUNDA PADA MUSIM PERALIHAN
Ikan kembung merupakan spesies yang dominan tertangkap di Perairan Selat Sunda. Daerah penangkapan ikan memiliki karakteristik yang sangat dipengaruhi kondisi oseanografi seperti suhu dan klorofil-a. Suhu permukaan laut merupakan indikator untuk mengukur fenomena-fenomena yang terjadi di lautan seperti fenomena arus, upwelling, front sedangkan klorofil-a yang merupakan indikator kesuburan suatu perairan. Aspek ukuran panjang ikan menjadi fokus utama dalam menentukan daerah penangkapan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hasil tangkapan berdasarkan klorofil-a, suhu permukaan laut, dan ukuran panjang ikan yang menghasilkan pemetaan daerah penangkapan ikan kembung di Perairan Selat Sunda. Penelitian ini dilakukan dengan metode kasus. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu skoring terkait dengan klorofil-a, suhu permukaan laut, ukuran panjang ikan, dan CPUE. Ukuran panjang ikan merupakan aspek yang memiliki bobot terbesar. Kategori daerah penangkapan ikan terdiri dari kategori daerah penangkapan ikan potensial, potensial sedang, dan tidak potensial. Berdasarkan hasil penelitian, jumlah hasil tangkapan ikan kembung di Perairan Selat Sunda selama penelitian yaitu 741 kg. Kategori ukuran ikan layak tangkap terdapat di daerah penangkapan Pulau Peucang, Pulau Panaitan, Teluk Paraja, dan Tanjung Alang-Alang. Kandungan klorofil-a secara keseluruhan termasuk kategori tinggi. Daerah penangkapan yang termasuk kategori potensial yaitu Pulau Peucang, Pulau Panaitan, Tanjung Alang-Alang, dan Teluk Paraja sedangkan daerah penangkapan yang tidak potensial yaitu Tanjung Lesung, Sumur, Sebesi, Tanjung Ketapang, dan Rakata.Mackerel is the dominant species caught in the waters of the Sunda Strait. The fishing grounds has a very strong influence on oceanographic conditions such as temperature and chlorophyll-a. Sea surface temperature is an indicator for measuring phenomena that occur in the oceans such as currents, upwelling, fronts, while chlorophyll-a is an indicator of the fertility of a waters. The aspect of fish length is the main focus in determining fishing grounds. This study aims to analyze the catch based on chlorophyll-a, sea surface temperature, and fish length which results in mapping the fishing grounds for mackerel in the Sunda Strait waters. This research was conducted by using the case method. The analysis used in this study is the scoring associated with chlorophyll-a, sea surface temperature, fish length, and CPUE. The length of the fish is the aspect that has the greatest weight. The fishing grounds category consists of potential, medium potential and non-potential fishing categories. Based on the research results, the total catch of mackerel in the waters of the Sunda Strait during the study was 741 kg. The catch size category of fish is in the fishing grounds of Peucang Island, Panaitan Island, Paraja Bay, and Tanjung Alang-Alang. The overall chlorophyll-a content is in the high category. The fishing grounds that are included in the potential category are Peucang Island, Panaitan Island, Tanjung Alang-Alang, and Paraja Bay, while the fishing grounds that do not have the potential are Tanjung Lesung, Sumur, Sebesi, Tanjung Ketapang, dan Rakata
STRUKTUR KOMUNITAS IKAN KARANG PADA TEKNOLOGI ATRAKTOR MULTIFUNGSI DI PERAIRAN KAHYAPU, ENGGANO, BENGKULU
Teknologi Atraktor Multifungsi (TAM) merupakan teknologi pengkayaan stok sumberdaya ikan pada suatu perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung dan menganalisis struktur komunitas ikan karang yang berasosiasi dengan TAM di Perairan Desa Kahyapu, Pulau Enggano, Bengkulu. Penelitian dilakukan pada bulan Maret-April 2020. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Data dihimpun dengan menggunakan teknik Underwater Visual Census (UVC) dan kamera bawah air menggunakan peralatan SCUBA. Hubungan kelimpahan ikan karang dan lama penenggelaman TAM dianalisis dengan regresi linier sederhana. Ditemukan 1.041 individu dari 43 spesies dalam 15 famili ikan karang yang berasosiasi dengan TAM, terdiri dari 13 spesies ikan target, 5 spesies ikan indikator, dan 25 spesies kelompok ikan mayor. Komposisi Jenis (KJ) ditemukan spesies dengan jumlah individu terbanyak dari Dascyllus trimaculatus yaitu 11,82%. Kelimpahan ikan karang (X) sebesar 1,19 individu/m3. Nilai indeks keanekaragaman (H’) 3,25. Nilai indeks keseragaman (E) 0,863. Nilai indeks dominansi (C) kisaran 0,0019-0,2363. Dari nilai ketiga indeks menunjukkan keanekaragaman dan keseragaman yang tinggi tetapi tidak ada spesies ikan yang mendominasi. Hasil analisis regresi linier sederhana yaitu Y=1,3639x+130,89, R2=0,0807, r=0,284, Fhitung=0,349, dan Ftabel=6,61. Parameter perairan pada lokasi penelitian sangat cocok dengan kehidupan biota karang.Multifunctional attractor technology is a technology of enriching fish resource stock in a water. This research aims to calculate and analyze the structure of coral fish communities associated in the waters of Kahyapu Village, Enggano Island, Bengkulu. The research was conducted in March-April 2020. The data was collected using Underwater Visual Census (UVC) techniques and underwater camera using SCUBA equipment. The method used in this study was a survey method. The relationship between reef fish abudance and immersiontime in multifunction attractor technology was analyzed by simple linier regression. It found 1.041 individuals from 43 species of 15 coral fish families associated with, consisting of 13 target fish species, 5 species of indicator fish, and 25 species of major fish groups. The composition of the species was found species with highest number of individuals from Dascyllus trimaculatus of 11,82%. Abundance of coral fish (X) amounts to 1,19 individuals/m3. The value of the diversity index was (H’) 3,25. The evenness index (E) value was 0,863. Meanwhile, the dominant index value (C) was in the range of 0,0019-0,2363. The value of the three indexes are high diversity and evenness but no fish dominates. The result of a simple linear regression analysis was Y=1,3639x+130,89 (R2=0,0807, r=0,284, F=0,439, and Ftable=6,61). Water parameters at the research location are very suitable for the life of coral biota
JENIS-JENIS BINTANG LAUT, BULU BABI, DAN TERIPANG (ECHINODERMATA) DI PERAIRAN PULAU TUNDA KABUPATEN SERANG
Echinoderms are fundamentally good indicators of health and status of coralline communities in marine waters. Substrat of sandy, rububle, and coral reefs are good habitat for Asteroidea, Echinoidea, and Holothuroidea. This study aims to identify sea star (Asteroidea), sea urchin (Echinoidea), and sea cucumber (Holothuroidea) species from Tunda Island waters of Serang. Asteroidea and Echinoidea observed using the line transect method used, through subjects observation within the same distance between the transect and the transect square with observations of 2.5 m on the right and left of line transect. Observations of the habitat covered substrate and depth, while the total number of sea stars, sea urchins, and sea cucumbers at each station were recorded, which were then documented and identified based on their morphological characteristics. The waters on Tunda Island found 2 species of the Asteroidea class, namely Linckia laevigata and Culcita novaeguneae, 3 species of Echinoidea Diadema antilarum, Diadema setosum, Echinomerta mathaei, and 3 species of Holothuroidea Holothuria atra, Holothuria leucospilota, Bohadschia graeffei.Echinodermata pada dasarnya merupakan indikator kesehatan dan status dari terumbu karang di laut. Dasar perairan yang landai dengan substrat pasir, terumbu karang, dan pecahan karang merupakan habitat bagi hewan jenis Asteroidea, Echinoidea, dan Teripang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis bintang laut (Asteroidea), bulu babi (Echinoidea), dan teripang (Holothuroidea) dari perairan Pulau Tunda, Kabupaten Serang. Pengamatan Asteroidea, Echinoidea, dan Holothuroidea menggunakan metode line transek yang dimodifikasi, yaitu mengamati subjek dalam jarak yang sama sepanjang garis transek dan kuadrat transek dengan pengamatan 2,5 m di sebelah kanan dan kiri garis line transek. Observasi habitat yang meliputi substrat dan kedalaman, sedangkan jumlah total bintang laut, bulu babi, dan teripang di setiap stasiun dicatat yang selanjutnya sampel didokumentasikan dan diidentifikasi berdasarkan ciri-ciri morfologinya. Di perairan Pulau Tunda ditemukan 2 spesies dari kelas Asteroidea yaitu Linckia laevigata dan Culcita novaeguneae, 3 spesies dari Echinoidea yaitu Diadema antilarum, Diadema setosum, Echinomerta mathaei, dan 3 spesies dari Holothuroidea yaitu Holothuria atra, Holothuria leucospilota, Bohadschia graeffei
ANALISIS MORFOMETRIK DAN INDEKS KONDISI KERANG BATIK (Paphia undulate) DI PERAIRAN CIREBON
The Cirebon Regency water is ones of the shellfish production area which have high economic value and are widely consumed by the community. The purpose of this research is to analyze the growth and condition index of batik shells in Cirebon waters. This research used quantitative descriptive analysis. This research was conducted in Februari-April 2020 in the waters of Cirebon. Location of Cirebon waters are divided into three stations that are considered to represent each region, i.e. coastal Mundu Village, coastal Bondet Village, and coastal Playangan Village. The analytical method used was morphometric analysis and condition index of the shellfish. The results showed that the growth of batik clams was negative allometric and the condition index of mussels was small and medium.Perairan Kabupaten Cirebon merupakan salah satu wilayah yang banyak menghasilkan kekerangan, yang bernilai ekonomis tinggi dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pertumbuhan dan indeks kondisi kerang batik yang ada di Perairan Cirebon. Metode penelitian ini dilakukan secara deskriptif, melalui pengumpulan data dengan menggunakan metode survei. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari-April 2020 di perairan Cirebon. Lokasi diperairan Cirebon dibagi menjadi tiga yang dianggap mewakili masing-masing wilayah, perairan Mundu, perairan Bondet, dan perairan Playangan. Metode analisis yang digunakan adalah analisis morfometrik dan indeks kondisi kerang. Hasil penelitian menujukkan bahwa pertumbuhan kerang batik bersifat allometrik negatif dan indeks kondisi kerang dalam keadaan kecil dan sedang
INDEKS PERTUMBUHAN IKAN KAKAP MERAH DAN KERAPU LUMPUR PADA PERIKANAN BUBU DASAR DI PERAIRAN BUNYU
Pulau Bunyu di Propinsi Kalimantan Utara memiliki sumberdaya hayati ekosistem perairan laut yang berlimpah dan bernilai ekonomis yang tinggi, dimana masyarakat pulau Bunyu memanfaatkan potensi ekosistem perairan laut digunakan sebagai potensi perikanan dalam hal penangkapan dengan menggunakan alat tangkap bubu dasar (bottom fish pot). Hasil tangkapan yang bernilai ekonomis berupa ikan kakap merah dan ikan kerapu yang terdapat di perairan ekosistem laut pulau Bunyu. Tujuan penelitian adalah menganalisis pertumbuhan dan struktur ukuran ikan kakap merah (Lutjanus argentimaculatus) serta ikan kerapu lumpur (Epinephalus malabaricus) yang berasal dari perairan pulau Bunyu. Data yang diteliti berupa parameter pertumbuhan yaitu panjang total dan panjang standar, berat total, jenis kelamin, tingkat kematangan gonad, dan berat gonad. Hasil penelitian ikan kakap paling banyak tertangkap ukuran panjang 40,49-47,61 cm dan bobot 990,05-1.451,68 gram. Pada ikan kerapu lumpur dengan ukuran panjang 43,73-50,13 cm dan berat 800,94-1.308,70 gram. Sifat pertumbuhan pada ikan kakap merah adalah allometrik negatif. Nilai indeks kondisi berbentuk kurus pada sampel ikan kakap merah. Sifat pertumbuhan pada sampel ikan kerapu pada variabel panjang total dengan berat total bersifat allometrik positif dan pada variabel panjang standar dan panjang cagak dengan berat total bersifat allometrik negatif.Bunyu Island in the North Kalimantan province has abundant and economically valuable marine aquatic ecosystem resources, where Bunyu Island communities utilize the potential of marine aquatic ecosystems to be used as fishery potential in terms of fishing using bottom fish pots. Fishing catch is economically valuable in the form of red snapper and grouper fish found in the marine ecosystems of Bunyu Island. The research objective was to analyze the growth and size structure of the Red Snapper fish (Lutjanus argentimaculatus) and Grouper fish (Epinephalus malabaricus) originating from the waters of the island of Bunyu. Retrieval of data in the form of growth parameters are the total length and standard length, total weight, gender, gonad maturity level, and gonad weight. The results of the study of most snapper caught the length of 40,49-47,61 cm and a weight of 990,05-1.451,68 grams. While the results of the grouper study most caught were 43,73-50,13 cm in length and weights of 800,94-1.308,70 grams. The nature of growth of Red Snapper fish (Lutjanus argentimaculatus) are negative allometry. The condition index value is skinny of Red Snapper fish (Lutjanus argentimaculatus). Grouper fish (Epinephalus malabaricus) of total length and total weight is positive allometry and on the standart and fork length with total weight is negative allometri