Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
337 research outputs found
Sort by
KARAKTERISTIK KIMIA DAN FISIK BUBUK RUMPUT LAUT Gracilaria sp DENGAN AGEN PEMUCAT NaOCl
Kabupaten Brebes merupakan salah satu wilayah penghasil rumput laut di provinsi Jawa Tengah dengan areal rumput laut sebesar 4.350 ha dari areal tambak seluas 12.748 ha yang menghasilkan 200 ton rumput laut kering per bulan. Rumput laut yang dibudidayakan di Kabupaten Brebes yaitu Gracilaria sp. Pengolahan rumput laut masih sangat terbatas hanya dikeringkan dan belum diketahui karaktersitik kimia/nilai gizi rumput laut Gracilaria sp dari Brebes. Tujuan penelitian ini yaitu menentukan pengaruh penggunaan agen pemucat NaOCl terhadap karakteritik kimia dan fisik bubuk rumput laut. Perlakuan yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu yaitu proses pemucatan menggunakan agen pemucat berupa NaOCl 1% selama 30 menit dan tanpa agen pemucat. Rancangan percobaan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 2 perlakuan dengan 3 kali ulangan. Ada perbedaan karakteristik kimia dan fisik dari bubuk rumput laut Gracilaria sp Brebes terhadap kadar air, kadar abu, kadar lemak, dan warna dengan penggunaan agen pemucat dan tanpa penggunaan agen pemucat.Brebes regency is one of the seaweed producing areas in Central Java province with seaweed area of 4,350 ha from a pond area of 12,748 ha that produces 200 tons of dried seaweed per month. Seaweed cultivated in Brebes Regency is Gracilaria sp. Seaweed processing is still very limited only dried and not yet known chemical characteristics/nutritional value of seaweed Gracilaria sp from Brebes. The purpose of this study was to determine the influence of NaOCl paint agent on the chemical and physical character of seaweed powder. The treatment carried out in this study is the process of painting using a painting agent in the form of NaOCl 1% for 30 minutes and without a painting agent. The experimental design in this study is a Complete RandomIzed Design (RAL) consisting of 2 treatments with 3 replays. There are differences in the chemical and physical characteristics of Gracilaria sp Brebes seaweed powder against moisture content, ash content, fat content, and color with the use of a painting agent and without the use of a painting agent
ANALISIS KESESUAIAN UKURAN KONSTRUKSI UTAMA KAPAL PERIKANAN DI BEBERAPA PELABUHAN PERIKANAN DI PULAU JAWA
Fishing vessels in Indonesia, are generally built by traditional shipyards. Ship building carried out by traditional shipyards is usually not equipped with technical planning. Technical planning in ship building includes general arrangement, lines plan, and construction plan. Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) is a national classification agency that has the authority to regulate the size of construction, connection methods, and determination of the type of wood on ships. Based on this, it is necessary to conduct a study on the suitability of the main construction size of the ship with BKI regulations. The purpose of this study is to analyze the suitability of the main construction size of fishing boats with the regulations of the BKI, and to describe the factors that can affect the suitability of the main construction size of fishing boats with the rules of the BKI in several fishing ports in Java. The method used in this research is survey research. The analysis used is comparative descriptive analysis and descriptive analysis. The size of ship construction in several fishing ports on the island of Java varies, depending on the main dimensions of the ship. The average construction size is 47,68% larger than BKI standards, 52,16% smaller than BKI standards, and 0,19% according to BKI standards. The average construction size difference was 9,25% greater than the BKI standard. The constructions whose average size is still below the BKI standard are galar beam, kim galar, and outer shell.Kapal perikanan di Indonesia khususnya kapal penangkap ikan dan kapal pengangkut ikan secara umum dibangun oleh galangan kapal tradisional. Pembangunan kapal yang dilakukan oleh galangan kapal tradisional biasanya tidak dilengkapi dengan perencanaan teknis. Perencanaan teknis dalam pembangunan kapal diantaranya adalah general arrangement, lines plan, construction plan, dan perhitungan hidrostatis dan stabilitas. Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) adalah badan klasifikasi nasional yang memiliki wewenang dalam mengatur ukuran konstruksi, cara penyambungan, dan penentuan jenis kayu pada kapal. Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan kajian terhadap kesesuaian ukuran konstruksi utama kapal dengan aturan BKI. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kesesuaian ukuran konstruksi utama kapal perikanan dengan aturan Biro Klasifikasi Indonesia, dan mendeskripsikan faktor-faktor yang dapat memengaruhi kesesuaian ukuran konstruksi utama kapal perikanan dengan aturan Biro Klasifikasi Indonesia di Beberapa Pelabuhan Perikanan di Pulau Jawa. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian survei. Ukuran konstruksi kapal dibandingkan dengan ukuran konstruksi berdasarkan aturan BKI. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif komparatif dan analisis deskriptif. Ukuran konstruksi kapal di beberapa pelabuhan perikanan di pulau Jawa beragam, tergantung pada dimensi utama kapal. Rata-rata ukuran konstruksi 47,68% lebih besar dari standar BKI, 52,16% lebih kecil dari standar BKI, dan 0,19% sesuai dengan standar BKI. Rata-rata tingkat selisih ukuran konstruksi sebesar 9,25% lebih besar dari standar BKI. Konstruksi yang rata-rata ukurannya masih di bawah standar BKI adalah galar balok, galar kim, dan kulit luar
ANALISIS FISIKO KIMIA KONSENTRAT PROTEIN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) YANG DIEKSTRAK MENGGUNAKAN PELARUT ETANOL
Ikan nila belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Sangihe dan menjadi pilihan terakhir untuk dikonsumsi. Pemanfaatan daging ikan nila sebagai bahan baku sediaan protein seperti konsentrat protein dirasa sangat tepat sehingga dapat mengoptimalkan potensi ikan nila di Sangihe. Konsentrat protein dapat diekstrak dengan menggunakan pelarut organik seperti etanol. Tujuan penelitian ini adalah ekstraksi konsentrat protein dari ikan nila dengan menggunakan pelarut etanol dan menganalisis sifat fisiko-kimianya. Tahapan penelitian terdiri dari ekstraksi dengan pelarut etanol dan analisis sifat fisiko-kimianya. Data-data dibahas secara deskriptif. Rendemen KPI yang diperoleh berkisar 16,53% dengan kadar protein 61,13%, kadar lemak 7,11%, derajat putih 74,77%, dan nilai bau 2. Hasil ini menunjukkan KPI nila yang diekstrak menggunakan pelarut etanol masih tergolong KPI tipe C. Walaupun demikian, hasil pengujian asam amino menunjukkan KPI nila mengandung 20 jenis asam amino dengan lysine sebagai asam amino terbanyak (55,70 mg/g), sedangkan pengujian asam lemak menunjukkan KPI nila mengandung 27 jenis asam lemak dengan jumlah asam lemak omega-3 sebanyak 5 jenis (C18:4 n-3, C18:3 n-3, C20;4 n-3, C20:5 n-3, C22:6 n-3), omega-6 sebanyak 7 jenis (C18:2 n-6, C18:2 n-6, C18:3 n-6, C20:2 n-6, C20:3 n-6, C20:4 n-6, C22:5 n-6), dan omega-9 sebanyak 4 jenis (C18:1 n-9, C18:1 n-9, C20:1 n-9, C22:1 n-9). Jumlah asam lemak tertinggi adalah asam lemak oleic acid (14,31 mg/g). Hasil penelitian ini dirasa belum optimal sehingga perlu dilakukan modifikasi metode ekstraksi untuk memperoleh kualitas KPI yang lebih baik.Nile tilapia have not yet been widely used by the people Sangihe and be the last resort to be consumed. Utilization of meat tilapia as a raw material for protein concentrate felt to be very precisely so as to optimize the potential tilapia in Sangihe. Protein concentrates can be extracted using organic solvents such as ethanol. The purpose of this research is extracted of tilapia fish protein concentrates using a solvent ethanol and analyzes of physical-chemical. The data obtained by discussed a sort of descriptive method. The yield obtained range 16,53 % with content of protein 61,13 %, content of lipid 7,11%, whiteness 74,77%, and odor in 2. The results showed that tilapia Fish Protein Concentrate extracted using ethanol solvent is still classified as FPC type C. However, the amino acid test results showed that tilapia FPC contained 20 types of amino acids with lysine as the most amino acid (55,70 mg/g), while the fatty acid test showed that tilapia FPC contained 27 types of fatty acids with 5 types of omega-3 fatty acids (C18:4 n-3, C18:3 n-3, C20;4 n-3, C20:5 n-3, C22:6 n-3), 7 types of omega-6 fatty acid (C18:2 n-6, C18:2 n-6, C18:3 n-6, C20:2 n-6, C20:3 n-6, C20:4 n-6, C22:5 n-6), and types of omega-9 fatty acid (C18:1 n-9, C18:1 n-9, C20:1 n-9, C22:1 n-9). The highest amount of fatty acids is oleic acid (14,31 mg/g). The results of this study are not optimal, so it needs to be modified of the extraction method to obtain better FPC quality
DISTRIBUSI UKURAN IKAN HASIL TANGKAPAN PURSE SEINE KM. BINTANG SAMPURNA-B DI WPP 572 DAN 573
Sektor perikanan memiliki peranan strategis dalam pembangunan nasional. WPP 572 dan 573 merupakan perairan luas dan berada di Samudera Hindia. Wilayah perairan ini memiliki potensi ikan yang cukup besar, utamanya dari kelompok ikan pelagis seperti cakalang, tuna mata besar, layang, madidihang, kembung, dan tongkol. Namun dalam segi pemanfaaatan sumberdaya ikan, WPP 572 dan 573 saat ini sudah mengalami masa fully-exploited khususnya untuk ikan pelagis kecil dan besar (KEPMEN KP 2017). Salah satu cara dalam mengatasi kondisi fully-exploited yaitu dengan pengelolaan pembatasan ukuran ikan yang layak tangkap. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Sampel yang diambil berdasarkan metode purposive sampling yakni dengan mengambil beberapa jenis ikan hasil tangkapan sesuai jenisnya masing-masing yang dianggap dapat mewakili keseluruhan ikan yang sudah ditangkap pada setiap setting. Jumlah sampel ikan menyesuaikan dengan kapasitas loyang besar tersebut yang berisikan 18-20 ekor untuk ikan besar, dan 50-100 ekor ikan kecil. Jumlah keseluruhan hasil tangkapan yang telah dilakukan mendapat hasil sebanyak 75.878 kg. Hasil tangkapan utama sebanyak 57.435 kg dan hasil tangkapan sampingan sebanyak 18.443 kg. Persentase hasil tangkapan cakalang (72% layak, 28% tidak layak), baby tuna (100% tidak layak), yellow fin tuna (51% layak, 49% tidak layak), layang, tongkol, lemadang, dan ikan lainnya (100% layak). Keseluruhan ikan hasil tangkapan di KM Bintang Sampurna-B sesuai dengan jumlah sampel yang diukur, menunjukkan angka sebanyak 74% layak tangkap dan 26% tidak layak tangkap.The fisheries sector has a strategic role in national development. WPP 572 and 573 are the broad waters and located in the Indian ocean. This area has a quiet fish potential, especially from group of pelagic fishes as skipjack tuna, bigeye tuna, mackerel scad, yellowfin tuna, Indian mackerel, and mackerel tuna. However, in terms of utilization of fish resources, WPP 572 and 573 are currently experiencing a fully exploited period, especially for small and large pelagic fish. One of the methods to overcome fully exploited conditions is by managing the limitation on the size of fish that are fit to be caught. The method used in this research was a descriptive method. The sample was taken based on the purposive sampling method, by taking several types of fish caught according to their respective types which were considered to represent all the fish that had been caught. The number of fish samples adjusts to the capacity of the large pan which contains 18-20 large fish, and 50-100 small fish. The total number of catches was 75,878 kg. The main catch was 57,435 kg and bycatch was 18,443 kg. Percentage of catches were skipjack tuna (72% feasible, 28% unfit), baby tuna (100% unfit), yellowfin tuna (51% feasible, 49% unfit), mackerel scad, mackerel tuns, dolphinfish, and other fish (100% feasible). The whole fish caught in KM Bintang Sampurna-B according to the number of samples measured shows that 74% are fit to catch and 26% are not fit to be caught
MARGIN DAN TINGKAT EFISIENSI PEMASARAN IKAN TENGGIRI (Scomberomorus commerson) DI PPI TANJUNGSARI KABUPATEN PEMALANG
Ikan Tenggiri menjadi salah satu target tangkapan utama bagi nelayan gill net multifilament di PPI Tanjungsari dikarenakan harganya yang tinggi dan juga permintaan pasar dari dalam maupun luar Kabupaten Pemalang yang banyak. Usaha pemasaran ikan Tenggiri dilakukan dan dikembangkan oleh berbagai pihak, diantaranya adalah nelayan, pedagang besar, pedagang pengecer, dan pedagang luar kota. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk saluran pemasaran serta menganalisis nilai marjin pemasaran dan efisiensi pemasaran ikan Tenggiri di PPI Tanjungsari. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif, dan metode pengambilan sampel adalah metode purposive sampling. Analisis data yang dilakukan berupa analisis marjin pemasaran, fisherman’s share, dan analisis efisiensi pemasaran. Terdapat dua bentuk saluran pemasaran ikan tenggiri, yaitu dari nelayan-pedagang sedang-pedagang kecil-konsumen akhir dan dari nelayan-pedagang besar-pedagang luar kota-konsumen. Total marjin pemasaran pada saluran kedua lebih besar dibandingkan saluran pertama, yaitu sebesar Rp 33.243,-/kg dikarenakan biaya pemasaran yang lebih besar. Analisis efisiensi pemasaran yang didapatkan pada kedua saluran termasuk dalam kategori tidak efisien dengan nilai 20% pada saluran 1 dan 33% pada saluran 2.Mackerel is one of the main catch targets for gill net multifilament fishermen in PPI Tanjungsari due to its high price and also the demand of the market from inside and outside the Pemalang Regency. Mackerel’s marketing business is carried out and developed by various parties, including fishermen, large traders, retailers, and out-of-town merchants. The purposes of this research were to find out the form of marketing channels and analyze the value of marketing margins, and marketing efficiency of mackerel in PPI Tanjungsari. The method used in this research was descriptive. The sampling method used in this study was the purposive sampling method. Data analysis was marketing margin analysis and marketing efficiency analysis. The result is that there are two forms of marketing channels for mackerel. The first marketing channel is from fishermen-medium traders-retailer-end consumers, and the second marketing channel is from fishermen-large traders-traders outside the city-consumers. The total marketing margin on the second channel is greater than the first channel, which is Rp 33.243,-/kg due to greater marketing costs. The marketing efficiency analysis obtained on both channels falls into the inefficient category with values of 20% on the first channel and 33% on the second channel
ADAPTASI MUSIMAN NELAYAN TRAMMEL NET DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA CILACAP
Fishers, including trammel net fishers, have different respond due to seasonal changes. The research aims to calculate shrimp season index, to identify the impact of seasonal changes related to income of trammel net fishers, and to identify the adaptation pattern of trammel net fishers related to shrimp season changes. The data collected were trammel net fishing unit performance, trammel net fisherman adaptation methods, investment data, income, and fishermen\u27s capital as well as trip data and trammel net shrimp production data for five years (2012-2016). Data analysis used fishing season index, fishing season impact related to income of fishers, and fishers adaptation to seasonal changes. The results showed that there are five months were identified as peak season of shrimp i.e. June, September, October, November, and December. Other results showed that seasonal changes have impacted to trammel net fishers income amounted Rp 6.185.800/vessel/trip. At the peak season fishing, fisher income were Rp 6.591.495/vssel/trip, however at the low season fishers income were Rp 405.695/vessel/trip. In addition there were five adaptation pattern related to seasonal changes of trammel net fishers which were 37% lending money and selling stuffs, 33% repairing fishing gear, 13% fishing gear diversification, 10% changing the fishing ground, and 7% income diversification. In conclution that fishers who choose adaptation pattern of fishing gear diversification have the highest income compared to fishers who choose other types of adaptation.Nelayan memiliki respon yang berbeda dalam menghadapi perubahan musim, termasuk nelayan trammel net di PPS Cilacap. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung indeks musim penangkapan udang yang ditangkap menggunakan alat tangkap trammel net, mengindentifikasi dampak perubahan musim terhadap pendapatan nelayan trammel net, dan mengindentifikasi pola adaptasi nelayan trammel net terhadap perubahan musim udang. Data yang dikumpulkan yaitu keragaan unit penangkapan trammel net, cara adaptasi nelayan trammel net, data investasi, penghasilan, dan modal nelayan serta data trip dan data produksi udang hasil tangkapan trammel net selama 5 tahun (2012-2016). Indeks musim penangkapan ikan dihitung menggunakan rata-rata bergerak, analisis pendapatan digunakan untuk menghitung dampak musim penangkapan ikan terhadap pendapatan nelayan, dan analisis deskriptif digunakan untuk melihat adaptasi nelayan terhadap perubahan musim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musim penangkapan udang di PPS Cilacap terjadi selama lima bulan yaitu bulan Juni, September, Oktober, November, dan Desember. Perubahan musim berdampak terhadap penurunan pendapatan nelayan trammel net sebesar Rp 6.185.800/kapal/trip. Rata-rata pendapatan ketika musim penangkapan udang sebesar Rp 6.591.495/kapal/trip, sedangkan rata-rata pendapatan nelayan ketika tidak musim penangkapan udang sebesar Rp 405.695/kapal/trip. Pola adaptasi nelayan trammel net terhadap perubahan musim penangkapan udang yaitu meminjam uang dan menjual barang-barang sebanyak 37%, memperbaiki alat tangkap sebanyak 33%, penganekaragaman alat tangkap sebanyak 13%, perubahan lokasi DPI sebanyak 10%, dan penganekaragaman pendapatan sebanyak 7%. Nelayan yang memilih pola adaptasi penganekaragaman alat tangkap diidentifikasi memiliki pendapatan tertinggi dibandingkan dengan nelayan yang memilih opsi adaptasi lainnya
STRATEGI PENINGKATAN FASILITAS PANGKALAN PENDARATAN IKAN (PPI) KUALA TUHA, KABUPATEN NAGAN RAYA, ACEH
Aktivitas di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Kuala Tuha tidak berjalan dengan baik dan optimal dikarenakan fasilitas yang ada sangat tidak memadai, sehingga perlu ditingkatkan kembali. Tujuan penelitian ini untuk menentukkan strategi peningkatan fasilitas PPI Kuala Tuha. Penelitian dilaksanakan di PPI Kuala Tuha pada Februari-Maret 2020 dengan metode studi kasus. Analisis yang digunakan adalah analisis tingkat pemanfaatan dan SWOT. Hasil penelitian terdapat 2 fasilitas pokok dan 3 fasilitas fungsional yang diteliti, dimana semua fasilitas masih tidak memadai. Hasil perhitungan tingkat pemanfaatan terhadap fasilitas pokok dan fungsional yang diperoleh belum mencapai optimal. Analisis SWOT menghasilkan 8 strategi alternatif yang dapat digunakan untuk meningkatkan fasilitas pokok dan fungsional di PPI Kuala Tuha.Activities at the Kuala Tuha Fish Landing Base (PPI) are not optimal because the existing facilities are inadequate, so it needs to be improved again. The purpose of this study was to determine the strategy to improve the PPI Kuala Tuha facility. The research was conducted at PPI Kuala Tuha in February-March 2020 using the case study method. The analysis used is the utilization level and SWOT analysis. The results of the study there are 2 main facilities and 3 functional facilities studied, where all facilities are still inadequate. The results of the calculation of the level of utilization of basic and functional facilities have not been reached optimally. The SWOT analysis produced 8 alternative strategies that could be used to improve basic and functional facilities at PPI Kuala Tuha
EFEKTIVITAS RUMPON PORTABLE PADA PERIKANAN PANCING ULUR DI BANTEN
Pancing ulur merupakan alat tangkap yang biasa digunakan nelayan di perairan Teluk Banten. Akan tetapi, hasil tangkapan yang didapatkan nelayan hanya sedikit. Hal ini disebabkan karena nelayan pancing tidak memiliki informasi yang pasti tentang lokasi daerah penangkapan ikan yang potensial. Salah satu cara untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi operasi penangkapan ikan adalah tersedianya informasi daerah penangkapan ikan. Penggunaan teknologi rumpon portable diharapkan dapat menciptakan daerah penangkapan ikan sehingga operasi penangkapan ikan menjadi lebih efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan komposisi dan produktivitas hasil tangkapan pancing ulur dengan menggunakan rumpon portable dan tanpa rumpon, serta menentukan efektivitas rumpon portable. Metode penelitian yang digunakan adalah experimental fishing dengan banyak ulangan, yaitu 20 trip. Penelitian menunjukkan bahwa hasil tangkapan dominan pancing ulur yang menggunakan rumpon portable adalah kuniran, kurisi, kerapu hitam, selar. Ikan kuniran, kurisi, dan kerapu hitam didominasi oleh ukuran besar atau layak tangkap. Jumlah total hasil tangkapan pancing ulur sebanyak 931 ekor. Komposisi hasil tangkapan yang menggunakan rumpon portable yaitu 504 ekor dan tanpa menggunakan rumpon portable yaitu 427 ekor. Produktivitas pancing ulur di sekitar rumpon portable sebesar 1,29 kg/trip, sedangkan produktivitas pancing ulur tanpa rumpon 0,99 kg/trip. Penggunaan alat bantu rumpon portable saat operasi penangkapan lebih efektif dibandingkan dengan operasi penangkapan tanpa menggunakan alat bantu rumpon.Handlines are a fishing gear that is commonly used by fishermen in Banten Bay. However, the catches obtained by fishermen are few. This is because of the lack of information about the potential fishing ground that fishermen have. One of the methods to increase the effectiveness and efficiency of fishing operation is the information about the availability of fishing ground. The used of portable FADs (Fish Aggregating Devices) technology is expected to create a fishing ground so that fishing operation become more effective and efficient. The research purpose is to compare the productivity and composition of handline catching by using and without portable FAD and to determine the effectiveness of portable FAD. The method used was an experimental fishing method with 20 trips. Research showed that the dominant catches of handline fishing with portable FADs were goatfish, bream, black grouper, mackerel. Goatfish, bream, and black grouper were dominated by large sizes. The total catch of handline was 931 fish. The composition of the catch with the portable FAD was 504 of fish, while without the portable FAD was 427 of fish. The productivity of handline with portable FAD was 1.29 kg/trip, while the productivity of handline without FAD was 0.99 kg/trip. Portable FAD use during fishing operations was more effective compare to fishing operations without portable FADs
IDENTIFIKASI PARASIT PADA IKAN LELE (Clarias sp.) DI KOLAM BUDIDAYA IKAN KABUPATEN BANGKA
Keberadaan parasit menimbulkan efek negatif terhadap ikan lele (Clarias sp.) berupa penyakit pada inangnya. Parasit berdasarkan lingkungan atau habitatnya dibedakan menjadi dua, yaitu ektoparasit (parasit yang hidup pada permukaan tubuh luar inang) dan endoparasit (parasit yang hidup di dalam tubuh inang). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan menganalisis tingkat prevalensi parasit yang menginfeksi ikan lele di tambak Budidaya Ikan Desa Balunijuk dan Desa Petaling Banjar. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober-November 2020. Metode yang digunakan adalah metode purposive sampling. Pengambilan sampel ikan dilakukan pada dua stasiun, dengan masing-masing stasiun dilakukan sebanyak dua kali pengambilan sampel. Sampel ikan diambil dua puluh ekor pada setiap stasiun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 4 filum parasit yang teridentifikasi, diantaranya Filum Ciliophora terdiri dari Vorticella sp. dan Stylonychia sp., Filum Protozoa terdiri dari Blastodiniidae. Filum Platyhelminthes terdiri dari Dactylogyrus sp., Gyrodactylus sp., dan Ligula intestinalis., dan Filum Nemathelminthes terdiri dari Camallanidae. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat prevalensi tertinggi terdapat pada Dactylogyrus sp., sedangkan untuk tingkat intensitas dan dominansi tertinggi terdapat pada Blastodiniidae.The presence of parasites has a negative effect on catfish (Clarias sp.) in the form of disease in its host. Parasites based on their environment or habitat can be divided into two, namely ectoparasites (parasites that live on the outer body surface of the host) and endoparasites (parasites that live inside the host’s body). This study aims to identify the type and analyze the prevalence level of parasites infecting catfish in the Fish Farms in Balunijuk Village and Petaling Banjar Village, Bangka Regency. This research was conducted in October-November 2020. The method used was a descriptive survey in the form of a purposive sampling method. Fish samples were taken from two stations, with each station taking two samples. Twenty fish samples were taken at each station. The results showed that there were 4 identified parasitic phyla, i.e. phylum Ciliophora consisted of Vorticella sp. and Stylonychia sp., Phylum Protozoa consisting of Blastodiniidae. Phylum Platyhelminthes consisting of Dactylogyrus sp., Gyrodactylus sp., and Ligula intestinalis., Phylum Nemathelminthes consisting of Camallanidae. The results showed that the highest prevalence level was found in Dactylogyrus sp., while the highest level of intensity and dominance was found in Blastodiniidae
BIOLOGI REPRODUKSI IKAN SEMBILANG (Plotosus canius) DI PERAIRAN PANTAI MAJAKERTA, INDRAMAYU, JAWA BARAT
Ikan sembilang (Plotosus canius) merupakan salah satu jenis ikan konsumsi yang cukup banyak digemari masyarakat pantai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek reproduksi ikan tersebut. Kegiatan pengambilan contoh ikan dilakukan tiap bulan di perairan Majakerta, Indramayu, Jawa Barat, mulai dari Februari–April 2015. Total ikan contoh yang diamati sebanyak 98 ekor ikan terdiri atas 65 ekor ikan jantan dan 33 ekor ikan betina. Pengamatan dilakukan pada rasio kelamin, tingkat kematangan gonad, indeks kematangan gonad, ukuran pertama kali matang gonad, fekunditas, dan diameter telur. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan, perbandingan ikan sembilang jantan dan betina yaitu 2:1. Ikan dengan tingkat kematangan gonad I–IV ditemukan pada setiap pengamatan. Ukuran pertama kali matang gonad ikan sembilang jantan dan betina adalah 281 mm dan 308,6 mm. Ikan ini memiliki fekunditas berkisar 564-864 butir, dan berdasarkan distribusi telur, ikan sembilang tergolong partial spawner.Grey eel-tailed catfish (Plotosus canius) is one species of consumption fish that is quite popular in coastal communities. This study aims to analyze reproduction of the fish. Sampling was conducted monthly in Majakerta coastal area, Indramayu, West Java from February to April 2015. The total of samples observed were 98 fish, consisting of 65 males and 33 females. The observation was employed for sex ratio, gonad maturity stage, gonado somatic index, the size at first maturity, fecundity, and egg diameter of the fish. The result of this research shows that sex ratio of the fish was 2:1. Immature-mature fishes were found in each month. The size of first gonad maturity of the fish was 281 and 308,6 mm for male and female, respectively. Fecundity was 564-864, and according to oocyte diameter distribution, the fish was a partial spawner