43 research outputs found
Pendekatan Green Synthesis Zn2SnO4 Menggunakan Ekstrak Daun Pacar Air (Impatiens balsamina L.) dan Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) serta Aktifitas Fotokatalitiknya Terhadap Metilen Biru
Penelitian tentang sintesis Zn2SnO4 dengan metode hidrotermal telah dilakukan melalui pendekatan green synthesis menggunakan ekstrak daun pacar air (Impatiens balsamina L. (ekstrak PA)) dan ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L. (ekstrak MG)). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari peran kedua ekstrak terhadap karakteristik Zn2SnO4 yang diperoleh seperti struktur, morfologi, ukuran, dan sifat optik serta kinerja fotokatalitiknya dalam mendegradasi metilen biru (MB). Penelitian ini terdiri dari tiga tahapan utama, yakni pembuatan ekstrak PA dan MG, sintesis Zn2SnO4 tanpa dan dengan menggunakan kedua ekstrak, dan pengujian aktifitas fotokatalitik di bawah penyinaran lampu ultraviolet (UV). Sampel yang diperoleh, dianalisis dengan X-Ray Diffraction (XRD), Scanning Electron Microscope (SEM), Transmission Electron Microscope (TEM), dan Ultraviolet–Visible Spectrofotometer (Spektrofotometer UV-Vis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Zn2SnO4 yang diperoleh menggunakan kedua ekstrak mempunyai karakteristik yang khas dan dipengaruhi kuat oleh kedua ekstrak yang digunakan. Berdasarkan analisis XRD, fasa tunggal Zn2SnO4 dengan kristalinitas yang paling tinggi diperoleh dengan menggunakan ekstrak PA 8% dan ekstrak MG 4%. Hasil analisis SEM dan TEM menunjukkan bahwa Zn2SnO4 yang disintesis tanpa menggunakan ekstrak memiliki bentuk yang tidak beraturan dan teraglomerasi. Sedangkan, penggunaan ekstrak PA 8 dan 10% dan ekstrak MG 4% menghasilkan Zn2SnO4 berbentuk oktahedral, serta pada penggunaan ekstrak PA 12% menghasilkan bentuk hampir bulat. Hasil ini menunjukkan bahwa Zn2SnO4 oktahedral dapat diperoleh melalui sintesis dengan penggunaan ekstrak PA 8 dan 10% dan ekstrak MG 4%. Ukuran Zn2SnO4 oktahedral menggunakan ekstrak PA 8% dan ekstrak MG 4% masing-masing adalah 0,16 – 0,35 µm dan 0,56 – 0,86 µm. Nilai bandgap Zn2SnO4 yang disintesis tanpa ekstrak adalah sebesar 3,26 eV yang meningkat menjadi 3,53 eV pada penggunaan ekstrak PA 8% dan 3,38 eV pada penggunaan ekstrak MG 4%. Nilai persen degradasi oleh sampel Zn2SnO4 tanpa ekstrak adalah sebesar 78,93% dan meningkat pada penggunaan ekstrak PA 8% yakni menjadi 92,92% dan dengan ekstrak MG 4% menjadi 85,94%. Hasil ini menegaskan bahwa ekstrak PA dan ekstrak MG merupakan material alami yang menjanjikan untuk mengontrol karakteristik Zn2SnO4 karena mampu meningkatkan kristalinitas, memperbaiki morfologi dan ukuran, dan menaikkan nilai energi bandgap sehingga memberikan aktifitas fotokatalitik yang tinggi dalam mendegradasi zat warna MB
Improving the morphological, optical, and photocatalytic properties of octahedral Zn2SnO4 using Garcinia mangostana fruit peel extract
The effect of Impatiens balsamina L. extract on structural, morphological, optical, and photocatalytic properties of Zn2SnO4
Iron sand - ZnO based materials of natural origin for dye decolorization under sunlight irradiation
Pelatihan Pembuatan Instalasi Biogas Sistem Kontinu Pada Kelompok Tani Harapan Maju Desa Sukasari, Air Periukan, Kabupaten Seluma, Bengkulu
Kelangkaan dan kenaikan harga LPG menyebabkan masyarakat Desa Sukasari kembali beralih ke kayu bakar untuk keperluan memasak sehari-hari. Padahal Desa Sukasari mempunyai potensi yang besar berupa limbah kotoran sapi yang dapat digunakan sebagai penghasil gás. Melihat potensi ini maka penting dilakukan pelatihan pembuatan dan pengoperasian instalasi biogás sistem kontinu pada masyarakat Desa Sukasari dengan memanfaatkan kotoran sapi. Pelatihan dilaksanakan pada Kelompok Tani Harapan Maju sebagai contoh bagi masyarakat Desa Sukasari yang lainnya. Pelatihan dilakukan dengan metode ceramah dan pembuatan langsung instalasi biogas. Kegiatan pelatihan berhasil dilaksanakan yang ditandai dengan kemampuan mitra membuat instalasi biogas dan gas yang dihasilkan telah dimanfaatkan untuk memasak. Berdasarkan informasi mitra, gas yang terbentuk dengan kapasitas digester 500 L dengan pengisian feed ±15 L/hari dapat digunakan untuk memasak selama ±0.5 jam
Physico-chemical characteristics of Composites material Based on Sulfonated Cyclone Fibre Cellulose and Benzotriazole
Composites material based on sulfonated cyclone fibre cellulose (SCFC) and benzotriazole (Btri) have been prepared. Cyclone fibre cellulose (CFC) was sulfonated with trimethylsilyl chlorosulfonate (TMSCS), with high degree of sulfonation (150%). The composites material, SCFC-Btri were prepared by doping of benzotriazole in various mole ratios (0.125, 0.25 and 0.5). FTIR spectrum has confirmed the ionic interaction between sulfonic acid from sulfonated cyclone fibre cellulose and benzotriazole units. Thermogravimetric analysis (TGA) showed that the composites material was thermally stable up to 150 C. The results showed that methanol permeability of the composite material was lower than pristine Nafion112. Activation energy obtained for the materials are 0. 106 eV, 0.144 eV and 0.137 eV for SCFC-Btri mole ratios 0.125, 0.25 and 0.5 respectively, composites material was expected to be used as raw material in the fuel cell
BIOSINTESIS NANOPARTIKEL PERAK MENGGUNAKAN EKSTRAK BUAH TANAMAN Brucea javanica (L) Merr
Ekstrak buah Tanaman Brucea javanica dapat dimanfaatkan sistem reduksi dalam
sintesis nanopartikel perak. Sampel biji, kulit buah basah, dan kulit buah kering (1
gram) tanaman Brucea javanica yang diekstraksi dengan pelarut ultrapure water
(100mL). Sintesis nanopartikel perak dilakukan dengan cara 4 mL ekstrak ditambahkan
1 mL larutan AgNO30,01N. Nanopartikel yang dihasilkan dikarakterisasi menggunakan
Spektrofotometer UV-Vis dan TEM. Hasil penelitian menunjukan ekstrak biji tidak
dapat digunakan sebagai sistem reduksi nanopartikel perak. Ekstrak kulit basah buah
dan ekstrak kulit kering buah Tanaman Brucea javanica dapat digunakan untuk
mensintesis nanopartikel perak. Hasil spektrum UV-Vis menunjukan adanya puncak
serapan pada daerah 400-460 nm. Absorbansi dari koloid nanopartikel perak terus
mengalami peningkatan selama waktu reaksi. Hasil analisa TEM menunjukan
nanopartikel perak berbentuk bulat dan rata-rata ukuran 37,8 ± 13,4 nm
PENGARUH PENAMBAHAN PATI JAGUNG (Zea mays L.) SEBAGAI CAPPING AGENT PADA SINTESIS KOMPOSIT SnO2/ZnO DENGAN METODE HIDROTERMAL
Sintesis komposit SnO2/ZnO melalui pendekatan green synthesis dengan
menggunakan pati jagung (Zea mays L.) telah berhasil dilakukan. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari penggunaan pati jagung (Zea mays L.)
sebagai capping agent dalam pembentukan kristalinitas dan morfologi dalam
sintesis komposit SnO2/ZnO. Sintesis dilakukan dengan variasi massa pati jagung
(Zea mays L.) 5, 10, dan 15 gram yang disintesis menggunakan metode hidrotermal
pada suhu 160 ºC selama 12 jam. Hasil karakterisasi menggunakan X-Ray
Diffraction (XRD) menunjukkan puncak spesifik material SnO2 pada penambahan
pati jagung yang mempunyai tingkat kristalinitas yang berbeda-beda. Karakterisasi
menggunakan Fourier Transform Infrared (FTIR) material SnO2 menunjukkan
puncak pada bilangan gelombang 607 cm-1
yang merupakan getaran regangan Sn�O-Sn dan bilangan gelombang 531 cm-1
yang merupakan getaran regangan Zn-O.
Serta hasil karakterisasi menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM)
menunjukkan bahwa penambahan pati jagung sebagai capping agent dapat
mengurangi terjadinya agregat pada komposit SnO2. Sehingga pada penelitian ini,
material SnO2 dan ZnO telah berhasil disintesis dan menghasilkan komposit
SnO2/ZnO dengan karakteristik yang berbeda-beda.
Kata Kunci : Capping agent, Hidrotermal, Komposit SnO2/ZnO, Pati Jagung,
SnO2
GREEN SYNTHESIS KOMPOSIT Ag/Zn2SnO4 DENGAN EKSTRAK AIR BUAH LERAK (Sapindus rarak) MENGGUNAKAN METODE HIDROTERMAL
Sintesis komposit Ag/Zn2SnO4 telah berhasil dilakukan melalui pendekatan green
synthesis dengan menggunakan ekstrak buah lerak (Sapindus rarak). Penelitian ini
bertujuan mengetahui pengaruh penggunaan ekstrak buah lerak (Sapindus rarak)
sebagai medium reaksi dalam sintesis material komposit Ag/Zn2SnO4 dengan
berbagai karakterisasi sifat material berupa kristalinilitas, ukuran partikel, dan
bentuk partikel yang dihasilkan. Variasi massa ekstrak buah lerak (Sapindus rarak)
yang digunakan yaitu (0,5 g) 1%, (1 g) 2%, dan (1,5 g) 3% yang di sintesis
menggunakan metode hidrotermal pada suhu 180 °C selama 3 jam. Hasil
karakterisasi menggunakan X-Ray Diffaction (XRD) menunjukkan bahwa komposit
Ag/Zn2SnO4 yang disintesis dengan penambahan ekstrak buah lerak (Sapindus
rarak) berhasil dilakukan dengan puncak-puncak diidentifikasi sebagai puncak Ag
berstuktur kubik dengan indeks bidang (111), (200), (220), (311), (222) dan
Zn2SnO4 pada puncak indeks bidang (111), (220), (311), (222), (400), (422), (511),
(440), (531), (620), (533), (622), (444), (731) sesuai standar Inorganic Crystal
Structure Database ICSD. Melalui persamaan Debye-Scherrer ukuran rata-rata
kristal material Ag/Zn2SnO4 dengan variasi ekstrak 0,5 ;1 ;1,5gram berturut-turut
adalah 33,33 nm, 29,72 nm, dan 28,63 nm. Karakterisasi menggunakan Scanning
Electron Microscopy dengan perbesaran 50.000x dan 100.000x dapat dilihat
partikel berbentuk bulat tidak beraturan dengan ukuran nano hingga sub-nano.
Partikel tersebar merata dan tidak mengalami aglomerasi yang berlebih.
Karakterisasi menggunakan Spektrofotometer UV-Vis Diffuse Reflectance (DRS)
mengidentifikasi material Zn2SnO4 memiliki energi bandgap 3,75 eV dan komposit
Ag/ Zn2SnO4 memiliki energi bandgap sebesar 3,4 eV sehingga terjadi penurunan
nilai energi bandgap.
Kata Kunci: Komposit Ag/Zn2SnO4, Hidrotermal, Sapindus rarak
Pemanfaatan Abu Cangkang Bekicot (Achantina fullica) dan Abu Daun Bambu Petung (Dendrocalamus asper) Sebagai Bahan Pengganti Sebagian Semen Terhadap Uji Kuat Tekan Mortar
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pemanfaatan abu cangkang bekicot
(ACB) yang mengandung kalsium oksida (CaO) dan abu daun bambu petung
(ADBP) yang mengandung silikon dioksida (SiO2) sebagai bahan pengganti
sebagian semen terhadap uji kuat tekan mortar. Cangkang bekicot dipanaskan
pada suhu 900ºC selama 3,5 jam sedangkan daun bambu petung dipanaskan pada
suhu 900ºC selama 2 jam. Untuk mengetahui kadar CaO dari abu cangkang
bekicot (ACB) dan SiO2 dari abu daun bambu petung (ADBP) dianalisis dengan
menggunakan instrumen X-Ray Fluorescence Spectrometer (XRF) dan diperoleh
kadar kalsium oksida (CaO) yang terdapat didalam ACB sebesar 97,251% dan
kadar silikon dioksida (SiO2) yang terkandung didalam ADBP sebesar 73,937.
ACB dan ADBP ditambahkan pada campuran mortar sebagai bahan pengganti
sebagian semen dengan persentase 0%, 12%, 15%, dan 18% dari total semen yang
digunakan, dengan umur pengujian mortar yaitu 14 hari, 21 hari, dan 28 hari.
Kemudian dilakukan penambahan waktu perendaman selama 5 hari kedalam
larutan HNO3 pH= 4 (lingkungan asam), NaOH pH= 11 (lingkungan basa), dan air
laut 3,10% (lingkungan garam). Hasil penelitian ini didapatkan uji kuat tekan
mortar yang paling baik yaitu pada persentasi 15% pada umur 28 hari sebesar
24,36 MPa.
Kata kunci: ACB, ADBP, CaO, kalsium oksida, mortar, silikon dioksida, SiO2
