1,720,964 research outputs found
UPAYA MEMBANGUN EPISTEMOLOGI ISLAM (Studi Pada Pembelajaran Buku “Our Philosophy” di RausyanFikr Yogyakarta)
RausyanFikr Institute is an agency of the study and publication of the book lies in Kaliurang Yogyakarta. The institute focuses on the study of philosophy and Islamic thought. Study participants were students from various regions in Indonesia. In this study, the authors focused on building the Islamic epistemology through the book “Our Philosophy” by Baqir Sadr, an Iraqi cleric concerned about world issues and an architect revolutionary thinking. This book thoroughly dissected in RausyanFikr Institute and has been a curriculum epistemology at the agency. The author will show the opinion epistemology Baqir Sadr to view some Western thinkers such as Plato, Descartes, Immanuel Kant, and John Locke. He himself offered his thoughts as he constructions as “disposesion” (nazhariyah intiz’ā)
Implementasi Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka pada Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare, Provinsi Sulawesi Selatan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (a) Program merdeka belajar kampus merdeka (MBKM) dalam konteks fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare belum dapat dipostulasikan telah diimplementasikan dengan baik, sebagaimana kerangka teoritis dari implementasi itu sendiri yang dikemukakan oleh George C Edward yang memenuhi empat kriteria yaitu aspek komunikasi hanya menyasar pada beberapa aspek entitas saja dan terbatas pada Dekan, Wakil Dekan dan ketua program studi, aspek lainnya adalah maksimalisasi sumber daya, aspek ketiga adalah disposisi yaitu aspek yang terkait dengan watak dan karakter yang
dimiliki oleh implementator seperti komitmen, kejujuran dan sifat demokratis dan selanjutnya adalah struktur birokrasi yaitu birokratisasi penyelenggara program yang tidak merefleksikan semangat merdeka belajar kampus merdeka yang sesungguhnya. Sungguhpun demikian, program
merdeka belajar kampus merdeka, tidak dapat dikatakan gagal, sebab telah dilaksanakan beberapa aspek penting dari sebuah program diantaranya terdapat regulasi, dosen pembimbing lapangan, bentuk kegiatan pembelajaran program merdeka belajar kampus merdeka (MBKM) berupa
pertukaran pelajar, magang/praktek kerja, asistensi mengajar, penelitian atau riset, sosialisasi program, pembimbingan mahasiswa, lembaga atau institusi mitra kolaboratif, aspek pembiayaan, ketersediaan sarana dan prasarana dan
terdapat laporan kegiatan. (b) Faktor-Faktor pendukung dapat dilihat dari perspektif ketersediaan sumber daya manusia (SDM), ketersediaan sarana dan prasarana dan lembaga mitra kolaboratif program merdeka belajar kampus merdeka (MBKM). Sementara faktor penghambatnya terletak pada
antusiasme mahasiswa yang masih rendah dalam mengikuti program, pemahaman dosen yang belum utuh terkait dengan program merdeka belajar kampus merdeka, dan pemahaman mahasiswa terkait dengan program merdeka belajar kampus merdeka. (c) Dampak program merdeka belajar kampus merdeka (MBKM) bagi mahasiswa fakultas Tarbiyah institut agama Islam negeri (IAIN) Parepare adalah: (1) Peningkatan kompetensi praktis dan pengalaman langsung yang dibuktikan dengan program merdeka belajar kampus merdeka (MBKM) menambah kemampuan mahasiswa dalam peningkatan kompetensi sesuai dengan program yang diikuti seperti kemampuan riset dan menulis artikel serta kemampuan presentase dan diskusi, (2) Peluang belajar di luar kampus yang dibuktikan dengan interaksi dengan mahasiswa dari berbagai daerah dan latar belakang daerah yang
berbeda dan didukung oleh empat puluh tujuh mitra perguruan tinggi keagamaan Islam negeri, (3) Peluang membangun jejaring dibuktikan dengan keberhasilan mahasiswa membangun kepercayaan dari mitra atau instansi
yang dijadikan lokus kegiatan serta tawaran kerja yang diajukan oleh pimpinan instansi atau lembaga dan (4) Penguatan kemandirian mahasiswa dibuktikan dengan model pembelajaran yang diterapkan oleh mentor atau
pembimbing program yang mengarahkan mahasiswa untuk belajar secara mandiri, menyelesaikan masalah (problem solving), berpikir kritis (critical thinking), kreatif dan solutif.
Implikasi penelitian ini adalah: (1) Penelitian ini dapat menjadi bahan kajian akademik bagi fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare secara khusus dan secara umum kepada lembaga atau Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare untuk lebih fokus pada upaya-upaya
maksimalisasi untuk memastikan bahwa program merdeka belajar kampus merdeka benar-benar telah terimplementasikan sebagaimana ide dasar dari
merdeka belajar itu sendiri, (2) Dekonstruksi pemahaman paradigmatik dari sivitas akademika baik dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan dan para penentu kebijakan di tingkat fakultas perlu dilakukan, sebagai ide filosofis dari merdeka belajar sesungguhnya adalah perubahan mindset yang akan
berimplikasi pada praktek tri dharma perguruan tinggi.
Kebaruan (novelty) dari penelitian ini terletak pada aspek
konsientisasi dalam implementasi program MBKM. Temuan ini menunjukkan bahwa kesadaran kolektif di antara pelaksana program (dosen, mahasiswa, dan pengambil kebijakan) menjadi peran kunci dalam keberhasilan implementasi kebijakan oleh George C. Edwards yang hanya berfokus pada faktor-faktor struktural dan prosedural, sementara aspek sosial, budaya, dan politik khususnya pengaruh kultur organisasi, nilai akademik, serta kepemimpinan informal sejatinya turut menentukan bagaimana kebijakan
diterjemahkan dan dioperasikan pada tingkat institusi dan individu, khususnya pada program MBKM. Karenanya, unsur konsientisasi ini menambah dimensi baru pada teori implementasi kebijakan George C. Edwards, dimana keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh faktor struktural
dan sumber daya, tetapi juga oleh tingkat kesadaran dan pemahaman filosofis dari para pelaksana terhadap tujuan dasar program
HEGEMONI EPISTEMOLOGI RASIONAL BARAT DALAM KONSTRUKSI KURIKULUM PAI DI INDONESIA
Construction of Curriculum 2013 islamic religious education subjects can not be separated from the influence of the world in terms of epistemology is the epistemology of the West, the indicator is the ratio of the dominant use in the learning process, where the ratio is a key tool in the philosophy of rational epistemology West. This paper discusses the West's hegemony rationalism construction PAI Curriculum 2013 subjects who dissect the influence of Western rationalism epistemology in Curriculum 2013 subjects PAI. Analysis of the data used in this paper is the analysis of documents that a thorough analysis of curriculum documents in 2013 subjects PAI. Findings is that the curriculum in 2013 on the subjects of PAI greatly affected even hegemony by Western rationalism
KESETARAAN GENDER DALAM PENDIDIKAN
Essentially education includes the pricples of gender equity biased gender in education results on unobtionable of educational goals. For that reason it is required an equal education where the curriculum of the institution integrates gender within its subject and lectures. One of education goal is how to realize fair society, by not discriminate one sex. But the reality exist discrimination at education that necessitate several effort to solve it, on of it is by formulating curriculum that have gender perspective. Curriculum is a development of vision and mission of educational institution that want to realize education goal. Gender curriculum is based on an assumption that woman and man are equal in education, and have equal opportunity to get education. In its application, gender curriculum can be formulated implicitly (hidden curriculum), or explicitly (overt curriculum). However, to explain gender problems we recommend explicit way
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
REKONSTRUKSI MAKNA BELAJAR DALAM UPAYA MERESPON PERUBAHAN PARADIGMA PEMBELAJARAN ERA MILENIAL: Studi pada Madrasah di Kabupaten Maros
This study aims to explore the deconstruction of the meaning of learning by using ascientific approach to learning Arabic in the State Islamic Middle School in MarosRegency. Data collection methods in this study were observation, indepthinterviews and document analysis by using the analytical techniques version ofMiles and Huberman. The results of the study indicate that; Deconstruction of themeaning of learning occurs in Arabic subjects or at least attempts to reconstruct themeaning of learning from the old paradigm to the new paradigm. The old paradigmin question is from students being told to find out, from teachers as the main sourceto multiple sources or various sources, from textual learning to scientificapproaches, from content-based learning to competency-based learning, frompartial learning to integrated learning, from learning a single answer to multidimensionalanswers, from verbalism learning to applicative learning, the use of ascientific approach in learning Arabic can be seen in the learning process using the5 M principle as a strategy or the way a teacher activates his students in thelearning process. 5 M stands for asking, trying, reasoning, communicating andcreating. Its implementation in learning Arabic, teachers stimulate students to ventthemselves by asking questions, trying new things, using reason in analyzing andconcluding learning, communicating ideas and ideas through coversation methodsand creating new paragraphs from a collection of vocabulary or vocabularypreviously mastered and there are technical constraints in order to maximize effortsto deconstruct the meaning of learning including: Arabic language teachers havenot comprehensively understood the meaning of learning and scientific approachesthat apply to all subjects, there is not sufficient training from Arabic teachers sothat their knowledge of the meaning of learning and scientific approaches areobtained from colleagues and information from social media and the internet,moral and material support from the Ministry of Religion, especially the Ministryof Religion of Maros district in the implementation of 2013 Curriculum for ArabicLanguage at State Islamic Middle School.Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dekonstruksi makna pembelajarandengan menggunakan pendekatan ilmiah untuk belajar bahasa Arab di SekolahMenengah Islam Negeri di Kabupaten Maros. Metode pengumpulan data dalampenelitian ini adalah observasi, wawancara mendalam dan analisis dokumendengan menggunakan teknik analitik versi Miles dan Huberman. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa; Dekonstruksi makna pembelajaran terjadi dalam matapelajaran bahasa Arab atau setidaknya upaya untuk merekonstruksi makna belajardari paradigma lama ke paradigma baru. Paradigma lama yang dimaksud adalahdari siswa diberitahu untuk mencari tahu, dari guru sebagai sumber utama keberbagai sumber atau berbagai sumber, dari pembelajaran tekstual hinggapendekatan ilmiah, dari pembelajaran berbasis konten hingga pembelajaranberbasis kompetensi, dari pembelajaran parsial hingga terintegrasi. belajar, darimempelajari jawaban tunggal hingga jawaban multi-dimensi, dari pembelajaranverbalisme hingga pembelajaran aplikatif, penggunaan pendekatan ilmiah dalampembelajaran bahasa Arab dapat dilihat dalam proses pembelajaran menggunakanprinsip 5 M sebagai strategi atau cara guru mengaktifkan murid-muridnya dalamproses pembelajaran. 5 M adalah singkatan untuk bertanya, mencoba, bernalar,berkomunikasi dan menciptakan. Implementasinya dalam belajar bahasa Arab, paraguru merangsang siswa untuk melampiaskan diri mereka dengan mengajukanpertanyaan, mencoba hal-hal baru, menggunakan alasan dalam menganalisis danmenyimpulkan pembelajaran, mengkomunikasikan ide dan ide melalui metodepeliputan dan membuat paragraf baru dari kumpulan kosakata atau kosakata yangsebelumnya dikuasai dan ada adalah kendala teknis untuk memaksimalkan upayamendekonstruksi makna pembelajaran termasuk: guru bahasa Arab belummemahami secara komprehensif makna pembelajaran dan pendekatan ilmiah yangberlaku untuk semua mata pelajaran, tidak ada pelatihan yang memadai dari gurubahasa Arab sehingga pengetahuan mereka tentang makna pembelajaran danpendekatan ilmiah diperoleh dari kolega dan informasi dari media sosial daninternet, dukungan moral dan materi dari Kementerian Agama, terutamaKementerian Agama Kabupaten Maros dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 untukSekola Bahasa Arab di State Islamic Middle
PERAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMBENTUK KARAKTER RELIGIUS SISWA
Pendidikan Agama Islam merupakan mata pelajaran yang dinilai efektif dalam membentuk karakter peserta didik, dalam spesifiknya adalah karakter religius. Dimana karakter religius ini memiliki pengaruh besar dalam kehidupan siswa baik dunia maupun di akhirat kelak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan agama Islam memiliki peran penting dalam pembentukan karakter, lebih spesifiknya adalah karakter religius yang berakar dari pembelajaran akidah
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
- …
