1,720,959 research outputs found
Ritual Sebagai Sumber Penciptaan Film Basafa Di Ulakan
Basafa merupakan sebuah ritual keagamaan yang dilaksanakan oleh para pengikut tarekat Syatariyah bersifat Sufisme, sehingga ritual keagamaan yang dilaksanakan, mempunyai alasan-alasan tertentu yang sulit dipahami.Alasan-alasan pembenaran tersebut terkadang tidak dapat dipahami secara rasional, diperlukan kepekaan inderawi dalam membahasnya. Ritual ini mengingatkan pada tata cara dalam memahami keberadaan-Nya walaupun jalan yang ditempuh berbeda tetapi tetap pada satu tujuan dan mengagungkan-Nya. Interpretasi yang hadir dalam film dokumenter “Basafa Di Ulakan” bukanlah pembelaan terhadap apa yang dilakukan oleh tarekat Syatariyah melainkan mencari pembenaran yang terkandung dalam nilai- nilai religius Basafa. Metode penciptaan dalam film dokumenter melalui metode film dokumenter observational, dengan merekam seluruh aktifitas Basafa dan melakukan wawancara terhadap pihak- pihak terkait dengan acara Basafa ini. Visual yang ditampilkan merupakan bukti otentik tentang arti Basafa, fenomena yang terjadi, merupakan rekaman latar belakang yang nyata, sehingga apa yang terkandung dalam film adalah ungkapan dari realitas kehidupan yang ada dengan pemberian sentuhan estetika dalam penggarapannya.</jats:p
PERKEMBANGAN NILAI BUDAYA KESENIAN RANTAK KUDO SEBAGAI WARISAN BUDAYA KERINCI
Perkembangan Kesenian Rantak Kudo merupakan sebuah fenomena kesenian pertunjukan yang terjadi di daerah Kerinci, dalam penampilan tarian ini tidak dilakukan secara khusus oleh para penari, tetapi ditarikan masyarakat setempat yang saling berbaur sambil mengiringi musik yang dihasilkan dari orgen tunggal dan alat musik tradisional seperti seruling dan gendang, keunikan lainnya adalah tarian ini dilakukan semalaman, artinya para peserta tari ini sanggup menari lebih dari 6 jam secara terus menerus, sehingga masyarakat beranggapan bahwa menari Rantak Kudo disertai dengan unsur- unsur magis didalam pertunjukannya. Pada masa ini kesenian yang berbentuk tarian massal ini hadir di setiap kegiatan dan acara adat kesenian, walaupun disinyalir bahwa kesenian Rantak Kudo ini dipengaruhi dari tari Rantak Kudo yang berkembang di Pesisir Selatan dan juga tari Rantak Kudo dari daerah Rawang. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan bentuk dan nilai-nilai budaya kesenian Rantak Kudo di daerah Kerinci. Adapun metodologi penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah penelitian kualitatif post-positivisme, yaitu sebuah metode yang tidak hanya menganalisis yang tanpak, tetapi juga menggunakan, metode, dan dokumen statistik sebagai sarana untuk menempatkan kelompok subjek kedalam populasi yang lebih besar. Adapun hasil kajian dari penelitian ini dapat dikelompokkan menjadi beberapa poin, diantaranya adalah bentuk budaya kesenian Rantak Kudo, nilai budaya yang terandung dalam kesenian Rantak Kudo, nilai ekonomi, nilai seni dan kreativitas, dan nilai interpretasi ide
Kwamentara: Kwartet Ornamen Nusantara Sebagai Media Apresiasi
Values education through art education is an activity that specifically aims to instill certain values, such as religious values, moral values, and aesthetic values in the form of learning to appreciate and create art. In its application in formal schools, planting local cultural values can be done explicitly by providing interesting and fun media for art appreciation for students. One of them is kwementara, a quartet card containing ornaments in the archipelago, students are expected to appreciate ornamental objects in which there are noble cultural values of the nation. The method used in this research is research and development (R&D) which is a research method used to produce certain products and test the effectiveness of products by going through the stages of product development. In this section the use of cards as media can provide interesting information in the process of developing creativity, so that the learning process will be in demand and liked by students both formally and non-formally, in making this learning media attention and ability are needed in creating new motifs in a visual element, so that every composition and layout when carrying out the design process needs to be considered, so that the feasibility of this learning media work must pass several trials and validations so that it can be used. In its application, the kamentara card is used in formal, non-formal and informal learning activities, so that in daily activities students can use it as a medium for playing and learning in appreciating the ornaments of the archipelago
PELATIHAN TEKNIK MEMBUAT RIAS EFEK UNTUK FILM FIKSI PADA SMK 2 PADANGPANJANG
Pengabdian yang berjudul “Pelatihan Teknik Membuat Rias Efek untuk Film Fiksi pada SMK 2 Padangpanjang”, merupakan salah satu cara dalam mengembangkan ilmu pengetahuan terutama bidang rias spesial efek ke dunia pendidikan seperti di SMK 2 Padangpanjang. Pengabdian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode penyuluhan, demonstrasi, dan praktik bersama dengan peserta pelatihan. Dengan menggunakan metode tersebut di atas diharapkan peserta pelatihan dapat mendengarkan, mencatat, bertanya dan mempraktikkan materi yang diberikan oleh pemateri. Selain itu, di dalam menyajikan materi demonstrasi, pemateri memberdayakan mahasiswa televisi dan film yang telah mengambil mata kuliah tata rias spesial efek. Target akhir dari pelatihan teknik membuat rias efek untuk film fiksi pada SMK 2 Padangpanjang,diharapkan peserta pelatihan memiliki kemampuan mempraktikkan tata rias spesial efek dalam film fiksi yang bergenre action, thriller, horor atau fantasi, yang dapat mendukung penampilan si aktor. Kata kunci: pelatihan, rias efek, SMK 2 Padangpanjang</jats:p
FILSAFAT PENDIDIKAN SEBAGAI KONSEP PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN SENI DI INDONESIA
Educational philosophy is an important idea in the development of learning, especially the educational curriculum. This is an important bridge so that the direction of education becomes clearer to make an achievement. One of the most important parts is the development of the concept of an arts education curriculum which refers to several understandings in an educational philosophy. The development of an arts education curriculum includes several important streams such as philosophical, juridical, empirical foundations, with perennialism, essentialism, progressiveism, and reconstructiveism. The development of the art education curriculum aims to respond to the journey of art education in Indonesia. This is related to the function of the curriculum, its objectives, meaningfulness, benefits, parameters, achievements, and further development of art learning in Indonesia. In this study using a qualitative description method, by collecting data including interviews, literature studies, and observations, important sources in this study include the thoughts of art education developers, schools and communities, which are then matched with understandings of the arts education curriculum. The results of this study reveal the school of educational philosophy in looking at the development of the arts curriculum, both in its development, application, evaluation and subsequent development processes. Another thing is that the aspect of art education is an important part when viewed from the approach and understanding of educational philosophy in Indonesia. This reveals the achievements of each era and period of educational curriculum development as a basis for shaping art learning in formal schools in Indonesia
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
PELATIHAN MEMBUAT TAS MAKRAME BAGI REMAJA PUTUS SEKOLAH DI UPTD BINA HARAPAN REMAJA KOTA PADANG PANJANG
Makrame adalah kerajinan dalam bentuk simpul tali. Simpul tali ini bermacam-macam seperti simpul pipih, kordon, kordon berganda dan simpul rantai. Kerajinan tangan yang dapat dibuat menggunakan teknik makrame berupa; tas, dompet, asesoris, fashion, dan penghias interior tekstil. Di Sumatera Barat khususnya di Padangpanjang, teknik makrame ini belum banyak dikenal. Untuk memperkenalkan teknik makrame kepada masyarakat dilakukan pelatihan bagi remaja putri putus sekolah di UPTD Dinas Sosial Bina Remaja Harapan Kota Padangpanjang. Pelatihan ini bertujuan untuk menumbuhkan semangat jiwa usaha bagi remaja putri dengan kemampuan atau skill yang mereka dapatkan setelah dilakukan pelatihan ini. Pelatihan ini dilakukan dengan beberapa metode antara lain; penyampaian materi dasar tentang kerajinan makrame dengan cara persentasi dan diskus dilanjutkan dengan praktek berbagai macam simpul makrame sebagai dasar untuk membuat produk dengan teknik makram
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
- …
