120 research outputs found

    PERSEPSI MASYARAKAT LDII TERHADAP BRI SYARIAH KANTOR PELAYANAN KAS JATISRONO (Studi Kasus Desa Rejosari RT 04/RW 01, Kec. Jatisrono, Kab. Wonogiri)

    No full text
    ABSTRAK Indrawati, Dyah. 2021. Persepsi Masyarakat LDII Terhadap BRIS Kantor Pelayanan Kas Jatisrono (Studi Kasus Desa Rejosari, Kec. Jatisrono, Kab. Wonogiri). Skripsi. Jurusan Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Institut Agama Islam Negeri Ponorogo. Pembimbing Agung Eko Purwana, SE, MSI. Kata Kunci: penyaringan, interpretasi, reaksi Penelitian dalam skripsi ini dilatarbelakangi oleh fenomena masyarakat LDII di Desa Rejosari yang dipandang sebagai kelompok yang seharusnya memiliki minat tinggi menggunakan jasa perbankan syariah. Namun faktanya, mereka lebih menggunakan bank konvensional. Oleh karena itu, perlu diketahui sebab dan solusinya agar lembaga perbankan syariah dapat mengembangkan kegiatan ekonomi syariah disana. Oleh karena itu peneliti terdorong untk mengetahui persepsi masyarakat LDII di rejosari. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan (field research). Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif karena peneliti ingin menggali lebih dalam tentang persepsi masyarakat LDII terhadap BRIS Kantor Pelayanan Kas Jatisrono. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara kepada masyarakat LDII di Desa Rejosari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat LDII di Desa Rejosari RT 04/ RW 01 enggan menggunakan BRI Syariah Kantor Pelayanan Kas Jatisrono disebabkan kantor BRI Syariah sulit ditemukan, pelayanannya lama, menyamakan dengan bank konvensional, memiliki cara tersendiri dalam menyimpan uangnya, interpretasi ada kebijakan gaji PNS yang menggunakan bank konvensional, produk yang mahal, rasa nyaman menggunakan bank konvensional, memiliki penghasilan hanya cukup untuk kesehariannya, keinginan adanya sistem jemput uang. Akan tetapi ada yang sebelumnya tidak tau dengan adanya bank syariah di Jatisrono dan setelah mereka tau mereka mau menggunakan BRI Syariah Kantor Pelayanan Kas Jatisrono

    MODEL GI-GI (GROUP INVESTIGATION-GUIDED INQUIRY) DALAM PEMBELAJARAN GELOMBANG DI SMA/MA (Studi Pada Hasil Belajar dan Keterampilan Proses Sains Siswa)

    No full text
    Artikel ini melaporkan hasil mengujicobakan model GI-GI (Group Investigation-Guided Inquiry) dalam pembelajaran gelombang di SMA/MA. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji pengaruh model GI-GI  (Group Investigation-Guided Inquiry) terhadap hasil belajar siswa dalam pembelajaran gelombang dan mendeskripsikan keterampilan proses sains siswa selama menggunakan model GI-GI  (Group Investigation-Guided Inquiry) dalam pembelajaran gelombang. Jenis penelitian ini adalah eksperimen menggunakan desain post-test only control group design. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri Arjasa pada siswa kelas XI semester genap tahun ajaran 2015/2016 mulai tanggal 2 Mei 2016 sampai 12 Mei 2016. Teknik perolehan data hasil belajar siswa berupa tes tulis melalui post test dianalisis  pengujian hipotesis menggunakan Independent Sample T-Test dengan bantuan SPSS 22 dan keterampilan proses sains siswa melalui observasi dan portofolio. Analisis data hasil belajar siswa dalam pembelajaran gelombang tersebut diperoleh nilai sig (2-tailed) ≤ 0,05 yaitu 0,029 ≤ 0,05 maka hipotesis nihil (H0)ditolak dan hipotesis alternatif (H1) diterima. Jadi model GI-GI (Group Investigation-Guided Inquiry) berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa dalam pembelajaran gelombang. Persentase rata-rata keterampilan proses sains siswa secara keseluruhan yaitu sebesar 90,3, sehingga disimpulkan keterampilan proses sains siswa selama mengikuti pembelajaran gelombang menggunakan model GI-GI (Group Investigation-Guided Inquiry) termasuk dalam kriteria baik

    Analisis Kredit Macet pada PT BPR Bina Reksa Karyaartha Cabang Wates Kediri

    No full text
    ABSTRAK   Indrawati, Dyah. 2018. Analisis Kredit Macet Pada PT BPR Bina Reksa Karyaartha Cabang Wates Kediri. Tugas Akhir. Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Sriyani Mentari, S. Pd., M.M.   Kata Kunci: Faktor Penyebab, Pengendalian Internal, Upaya Menangani, dan Kredit Macet.   Kredit macet merupakan kredit yang disalurkan oleh bank yang dimana nasabah sudah tidak sanggup untuk membayar sesuai dengan perjanjian. Kredit macet terjadi karena adanya faktor-faktor yang menyebabkan maka dari itu diperlukan pengendalian internal untuk mengurangi faktor-foktor tersebut. Kredit macet yang timbul dapat mempengaruhi pendapatan yang diperoleh oleh pihak bank bahkan apabila kredit macet terus berkelanjutan maka dapat menyebabkan bank tersebut bankrut , sehingga perlu adanya upaya untuk menangani kredit macet untuk terhindar dari kebangkrutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang menyebabkan kredit macet, pengendalian yang diterapkan dan upaya yang dilakukan untuk menangani kredit macet pada PT BPR Bina Reksa Karyaartha Cabang Wates Kediri. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Metode pemecahan masalah menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh kesimpulan bahwa faktor yang menyebabkan terjadinya kredit macet adalah kesalahan nasabah dalam menganalisa calon nasabah, karakter nasabah yang tidak baik dan penyalahgunaan fasilitas kredit oleh nasabah. Selain itu, pengendalian internalnya kurang efektif karena masih terdapat perangkapan fungsi antara account officer dan administrasi kredit, belum dilakukan pengawasan terhadap kinerja karyawan dan belum terdapat alat pendeteksi uang palsu. Upaya yang dilakukan untuk menangani kredit macet menerapkan prinsip kekeluargaan dengan cara menghubungi nasabah, mengirimi surat teguran dan mendatangi rumah nasabah. Peneliti memberikan beberapa saran, yaitu (1) mengoptimalkan fungsi administasi dan account officer, (2) menerapkan pengecekan independen terhadap kinerja, (3) menyediakan alat pendeteksi uang palsu, (4) penilaian karakter  dilakukan dengan  bertanya kepada tetangga sekitar rumah nasabah, (5) account officer bertanya langsung kepada kepala kredit dalam menentukan taksaksi.  

    PENGGUNAAN ALAT BANTU AUDIO VISUAL UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SHOOTING BOLA BASKET PADA SISWA KELAS XI IPS III SMA WIDYA WACANA SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2016/2017

    Full text link
    Monica Dyah Indrawati Dewi. K4613091. PENGGUNAAN ALAT BANTU AUDIO VISUAL UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SHOOTING BOLA BASKET PADA SISWA KELAS XI IPS III SMA WIDYA WACANA SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2016/2017. Skripsi, Surakarta : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Juli 2017. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar shooting bola basket pada siswa kelas XI IPS III SMA Widya Wacana Surakarta tahun pelajaran 2016/2017. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilakukan dalm dua siklus, dan setiap siklusnya terdiri dari 2 kali pertemuan. Subjek dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah siswa kelas XI IPS III SMA Widya Wacana Surakarta yang berjumlah 20 siswa terdiri dari 8 siswa putra dan 12 siswa putri. Sumber data dari penelitian ini berasal dari siswa, peneliti dan guru yang bertindak sebagai kolabolator. Teknik pengumpulan data menggunakan tes dan observasi. Validitas data menggunakan teknik triangulasi data. Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan teknik analisis deskripsi kualitatif dengan menggunakan teknik persentase. Hasil analisis data dapat dirangkum sebagai berikut: peneliti memperoleh data pra siklus dari jumlah keseluruhan sebanyak 20 siswa terdapat 7 siswa (35%) tuntas dan 13 siswa (65%) yang belum tuntas. Setelah pelaksanaan siklus I diperoleh peningkatan hasil belajar shooting bola basket sebesar 70%. Dalam hal ini sebanyak 14 siswa dinyatakan masuk dalam keriteria tuntas. Pada siklus II pencapaiaan ketuntasan hasil belajar sebesar 85%. Sebanyak 17 siswa masuk dalam kriteria tuntas dengan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) 75. Berdasarkan hasil analisis data diatas dapat disimpulkan bahwa: penerapan alat bantu pembelajaran audio visual dapat meningkatkan hasil belajar shooting bola basket pada siswa kelas XI IPS III SMA Widya Wacana Surakarta tahun pelajaran 2016/2017. Kata Kunci: Alat Bantu Pembelajaran Audio Visual, Hasil Belajar, Shooting Bola Basket

    MAKNA SIMBOLIS GERAK TARI TOPENG SASIKIRANA STUDIO TARI INDRAWATI LUKMAN BANDUNG (Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce)

    Full text link
    Sasikirana merupakan pengembagan dari karya tari topeng pamindo. Hal yang menarik dalam karya sasikirana ini, banyaknya eksplorasi dan inovasi yang dilakukan baik dalam hal gerak, struktur gerak, iringan dan kostum. Sasikirana terkesan lebih modern dari segi penyajian. Penulis akan menggali maknadari tanda-tanda yang terdapat pada gerak tari sasikirana karya Indrawati Lukman menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan semiotika. Kajian terpusat pada tanda – tanda gerak dalamkarya tari topeng sasikirana, dikaji secara mendalam sehingga mampu membongkar realitas makna dibalik karya tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna simbolis dari gerak tari Sasikirana karya Indrawati Lukman melalui pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce. Tari Sasikirana dipilih sebagai objek penelitian karena memiliki kekayaan simbolis yang merefleksikan nilai budaya dan kearifan lokal yang unik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif, yang melibatkan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teori semiotika Peirce, yang membagi tanda menjadi tiga komponen: representament, Objek, dan Interpretan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerak-gerak dalam tari Sasikirana memiliki makna simbolis yang mendalam, yang merepresentasikan feminitas, keagungan perempuan, serta filosofi hidup masyarakat yang dihormati dalam budaya setempat. Kata Kunci: Gerak Tari Sasikirana, Indrawati Lukman, Semiotika, Charles Sanders Peirce, Makna Simbolis. ABSTRACTTHE SYMBOLIC MEANING OF SASIKIRANA MASK DANCE MOVEMENTS OF INDRAWATI LUKMAN DANCE STUDIO BANDUNG: SEMIOTIC (ANALYSIS OF CHARLES SANDERS PEIRCE), DECEMBER 2014. Sasikirana is a development of Pamindo mask dance. The interesting things in Sasikirana dance work are the extensive exploration and innovation applied to movements, movement structure, accompaniment, and costumes. Sasikirana appears to be more modern in its presentation style. The author would examine the meaning of the symbols in Sasikirana dance movements by Indrawati Lukman, using a qualitative method with a semiotic approach. This study focuses on the symbolic movements in Sasikirana mask dance, with deep analyzing process to uncover the underlying meanings. The purpose of this research is to reveal the symbolic meanings of the movements in Sasikirana dance by Indrawati Lukman through the semiotic approach of Charles Sanders Peirce. Sasikirana dance has been selected as the research subject because of its symbolic richness reflecting unique cultural values and local wisdom. The research method used is descriptive qualitative, involving data collection through observation, interviews, and documentation. Data analysis is conducted using Peirce\u27s semiotic theory, which divides signs into three components: representament, Object, and Interpretant. The findings show that the movements in Sasikirana dance owes deep symbolic meanings, representing femininity, the majesty of women, and the community life Naskahditerimapada,7Septemberrevisiakhir3Oktober2024 |157 philosophy respected within the local culture. Keywords: Sasikirana Dance Movements, Indrawati Lukman, Semiotics, Charles Sanders Peirce, Symbolic Meaning

    The Philosophical Values of Siger in Saibatin and Papadun Society

    Full text link
    This research focuses on the philosophical values of Siger or the women bride`scrown of the Saibatin and Papadun society in Lampung. The qualitative descriptive was used as the research approach. The data were collected from the literature review. The data analysis consists of three stages: data reduction, display data, and verification. The results of the research show the values of Siger consists of courteousness, openness, toleration (nemui nyimah), the dignity and responsibilities (juluk adok), the ability to assimilate (nengah nyappor), and cooperation (sakai sambayan). Those values are the socio-cultural identity of Lampung society and representing the social interaction among the society. The values of Siger could be posited as a social capital and cultural capital in the practice of social interaction in the daily life

    Pengembangan Media Video Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal Pada Materi Lingkungan Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Di Smp

    Full text link
    Permasalahan yang terdapat didalam pembelajaran IPA salah satunya siswa cenderung pasif dan kurang mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya, sehingga sangat penting kemampuan berpikir kritis siwa dilatihkan pada siswa SMP salah satunya pembelajaran IPA. Berdasarkan permasalahan yang dihadapi menuntut guru agar lebih profesional dalam mengajar karena kunci kesuksesan dalam proses pembelajaran sangat ditentukan oleh guru yang profesional. Guru dapat menggunakan media video untuk mengatasi permasalahan tersebut, karena media video dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan atau dikenal dengan istilah Research & Development (R&D). Pada penelitian ini akan dikembangkan media video berbasis kearifan lokal pada materi lingkungan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa SMP. Subyek penelitian pada uji coba I (uji terbatas) sebanyak 10 siswa kelas VII SMPN 1 Jember. Uji coba II (uji kelas) pada siswa kelas VII SMPN 1 Jember sebanyak 36 siswa semester genap tahun pelajaran 2017/2018. Dan disebarkan ke berbagai sekolah pada tingkatan yang sama dengan karakteristik yang berbeda. Uji coba 1 dilaksanakan pada 10 siswa kelas VII SMP Negeri 1 Jember. Berdasarkan hasil uji coba 1 didapatkan bahwa video berbasis kearifan lokal materi lingkungan masih memerlukan revisi/perbaikan. Secara umum siswa memberikan respon positif terhadap media video berbasis kearifan lokal materi lingkungan, namun ada siswa yang mengeluhkan kurang jelasnya audio dalam video. Selanjutnya dilakukan perbaikan untuk kemudian menjadi sebuah produk video yang sesuai, dan bisa diuji coba selanjutnya. Media video berbasis kearifan lokal materi lingkungan yang efektif dianalisis menggunakan N-Gain berdasarkan data hasil pretest dan postest pada ujicoba 2, dikelas VII C SMPN I Jember tahun pelajaran 2017-2018 sebanyak 36 siswa. Pembelajaran pada ujicoba 2 dilaksanakan sebanyak tiga pertemuan (6JP) yang dibimbing oleh guru IPA pengajar kelas VII dan diamati oleh observer. Hasil pretest dan postest Uji coba 2 pada skala kelas untuk 5 indikator berpikir kritis secara rinci menunjukkan angka peningkatan yang signifikan. Pada indikator memberikan penjelasan sederhana hasil pretest memiliki skor 133 sedangkan postestnya 283. Dari jumlah skor tersebut, dianalisis dengan N-Gain terjadi peningkatan sebesar 0,79 yang dapat dikategorikan tinggi. Hal serupa juga terjadi pada indikator membangun keterampilan dasar, hasil pretest memiliki skor 84 sedangkan postestnya 265. Dari jumlah skor tersebut, dianalisis dengan N-Gain terjadi peningkatan sebesar 0,75 yang dapat dikategorikan tinggi. Pada indikator kesimpulan, hasil pretest memiliki skor 128 sedangkan postestnya 277. Dari jumlah skor tersebut, dianalisis dengan N-Gain terjadi peningkatan sebesar 0,76 yang dapat dikategorikan tinggi. Pada indikator membuat penjelasan lebih lanjut, hasil pretest memiliki skor 78 sedangkan postestnya 254. Dari jumlah skor tersebut, dianalisis dengan N-Gain terjadi peningkatan sebesar 0,72 yang dapat dikategorikan tinggi. Terakhir, pada indikator strategi dan taktik, hasil pretest memiliki skor 146 sedangkan postestnya 298. Dari jumlah skor tersebut, dianalisis dengan N-Gain terjadi peningkatan sebesar 0,85 yang dapat dikategorikan tinggi. Dari hasil tersebut, maka media video berbasis kearifan lokal materi lingkungan terbukti efektif untuk digunakan dalam skala kelas atau skala besar

    MODEL GI-GI (GROUP INVESTIGATION-GUIDED INQUIRY) DALAM PEMBELAJARAN GELOMBANG DI SMA/MA (Studi Pada Hasil Belajar dan Keterampilan Proses Sains Siswa

    No full text
    Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran fisika tidak terlepas dari permasalahan-permasalahan. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan belum mengajak siswa terlibat aktif dan memaksimalkan kemampuan siswa dalam menyelidiki penemuannya sendiri. Kondisi ini dapat menyebabkan siswa kurang memperoleh keterampilan-keterampilan dalam proses pembelajaran. Permasalahan lain pada pembelajaran fisika yang muncul adalah kurangnya kemampuan siswa dalam memahami konsep fisika sehingga mengakibatkan hasil belajar kurang maksimal salah satunya pada materi gelombang. Oleh karena itu, diperlukan suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa menjadi aktif dan pembelajaran lebih bermakna adalah model pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Salah satu pembelajaran alternatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah model GI-GI (Group Investigation-Guided Inquiry)

    Imaji (Kolonial) Atas Perempuan Pribumi: Potret Perempuan Jawa dan Bali dalam Arsip Foto, 1850-1912

    Full text link
    Fotografi pada masa kolonial merepresentasikan perempuan pribumi dalam berbagai citra. Arsip-arsip foto perempuan menyimpan citra yang dibangun oleh para operator pada masa kolonial, termasuk perempuan Jawa dan Bali. Melalui teori performativitas gender, saya memahami ada ketimpangan relasi kuasa dalam kaitan antara operator dan subjek dalam foto. Operator membentuk citra perempuan pribumi lebih pada apa yang diimajikan operator atas subjek, bukan bagaimana subjek “ingin tampil” seperti apa dan sebagai siapa. Subjek hanya “perform” sesuai arahan operator. Ia mem-“perform”-kan subjek yang bukan diri mereka hingga performativitas yang dihadirkan adalah performativitas yang “direkayasa”. Namun melalui teori ambivalensi Homi K. Bhabha dapat diketahui bahwa sesungguhnya baik dari pihak “colonizer” maupun “colonized”, pada masing-masing subjek terjadi tarik menarik sikap yang memunculkan kemampuan mimikri dan hibrid, termasuk dalam mem-“perform”-kan citra subjek sesuai dengan identitas yang hendak dibentuk oleh operator
    corecore