10 research outputs found

    Integrasi Islam dan Budaya: Studi Budaya Bakar Batu Masyarakat Papua Pegunungan di Kota Jayapura

    Full text link
    This study aims to determine the process of stone-burning culture for the Papuan Muslim Mountain community in the city of Jayapura where the process is carried out by making pigs as game animals to be burned in stone-burning culture. This research is a qualitative descriptive study, which tries to describe objectively and accurately about the tradition of burning stones in the Muslim highlands of Papua. Conducting interviews with informants who have lived in high-rise areas in the city of Jayapura. The results of this study indicate that the culture of burning stones in the Muslim Papuan community is carried out as a form of gratitude for the gift from God for this gift. Burning stones is done by stacking chicken and meat as the main dishes on a stone that has been burned first, then sweet potatoes, cassava, and vegetables in the next section. At the last or the very top will be given a stone that has been burned. In the implementation of this stone burning is carried out by the people of Papua in the central mountains who are Muslim, especially those who live in the city of Jayapura. This activity has been carried out since the second generation of mountainous Papua converted to Islam where the meat that is burned is chicken as a substitute for pork which is an animal that will be burned in stone-burning cultural activities. Islam has brought about a change in the Papuan Muslim Mountain community living in Jayapura. However, the residents until now still maintain their ancestral customs. Traditions that are still valid and preserved in the Bakar Batu tradition

    Peranan Pendidikan Agama Islam dalam Meningkatkan Toleransi Beragama Siswa di SMA Negeri 4 Jayapura Provinsi Papua

    Full text link
    Hasil penelitian menunjukkan Pertama, pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 4 Jayapura telah berjalan sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan oleh sekolah. Sikap toleransi yang ditunjukkan oleh siswa muslim terhadap siswa muslim maupun non muslim adalah sikap saling mendukung, menghargai dan mempersilahkan siswa non muslim untuk menjalankan rutinitas ibadahnya. Kedua, pembelajaran materi sikap toleransi beragama, perpaduan antar standar kompetensi adalah bentuk pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan sikap toleransi beragama. Ketiga, guru profesional, pembelajaran materi Pendidikan Agama Islam, peraturan dan lingkungan sekolah dan masyarakat majemuk adalah faktor pendukung sikap toleransi beragama. Faktor penghambatnya adalah jumlah jam pelajaran, kelas yang gemuk, pengetahuan agama, jumlah guru Pendidikan Agama Islam dan pakaian sekolah. Solusi dalam meningkatkan sikap toleransi beragama adalah penambahan alokasi waktu Pendidikan Agama Islam melalui kegiatan ekstrakurikuler, pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang terpadu dan variatif, dialog dan musyawarah dan profesionalisme guru Pendidikan Agama Islam

    PENDIDIK DALAM PENDIDIKAN ISLAM PADA MASYARAKAT

    Full text link
    Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan fungsi seorang pendidik di masyarakat. Pada dasarnya pendidikan Islam merupakan suatu proses yang berlangsung secara terus menerus dan mengalir ke dalam kehidupan manusia dan berlangsung sepanjang hayat. Tugas dan fungsi pendidikan ditujukan kepada anak sekolah yang berkembang danberkembang secara dinamis dari isi sampai akhir hayat dan yang tidak dapat memisahkan keberhasilan pendidikan dari sisi pedagogis. Pendidik pada hakikatnya adalah orang yang diamanahkan yang bertanggung jawab atas dunia akhirat dengan mendidik, membimbing,membimbing dan menuntun peserta didik ke pintu gerbang kesuksesan baik dunia maupun akhirat. Untuk menjadi berkualitas dan profesional, kriteria dan persyaratan tertentu harus dipenuhi dalam konteks tujuan hidup dan juga kualitas yang harus dibawa oleh pendidik dalam melaksanakan tugasnya dan sebagai pendidik. Metode yang dipakai didalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan, atau dapat digunakan dalam bahan pustaka sebagai sumber informasi untuk menjawab permasalahan tentang pendidik dalam pendidikan. Sebagai seorang pendidik seorang guru memainkan peran yang sentral bagipeserta didik. Peran guru dalam membina siswa agar menjadi manusia yang berkarakter sangat dibutuhkan. Pertama sebagai pendidik dan pengajar. Kedua sebagai pemberi keteladanan dan menjadi teladan. Ketiga, menjadi solusi di tengah-tengah masyarakat.Kata Kunci: Pendidik; Pendidikan Islam

    Peranan Pendidikan Agama Islam Dalam Meningkatkan Toleransi Beragama Siswa Di SMA Negeri 4 Jayapura

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Bagaimana gambaran pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 4 Jayapura; (2) Bagaimana gambaran toleransi beragama siswa di SMA Negeri 4 Jayapura; (3) Bagaimana bentuk pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan toleransi beragama siswa di SMA Negeri 4 Jayapura. Jenis penelitian ini deskriptif kualitatif dan pendekatan penelitian meliputi pendekatan pedagogis, sosio-kultural, dan teologis normatif. Sumber data adalah warga sekolah dan masyarakat sekitar sekolah. Sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan melalui: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pengolahan dan analisis data dilakukan dalam bentuk reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data atau pengambilan kesimpulan.Hasil penelitian menunjukkan: Pertama, pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 4 Jayapura telah berjalan sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan oleh sekolah walau demikian masih ada kekurangan yang terjadi diantaranya kelas yang gemuk, kurangnya jam pelajaran, terbatasnya guru PAI. Kedua, sikap toleransi yang ditunjukkan oleh siswa muslim terhadap siswa lain di sekolah tidak lepas dari pemahaman terhadap agamanya dan juga lingkungan sekolah yang mendukung sikap toleransi beragama. Ketiga, pembelajaran materi sikap toleransi beragama, integrasi antar standar kompetensi adalah bentuk pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan sikap toleransi beragama. Solusi dalam meningkatkan sikap toleransi beragama adalah penambahan alokasi waktu Pendidikan Agama Islam dengan kegiatan ekstrakurikuler, pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang integratif dan variatif, dialog dan musyarawarah dan profesionalisme guru Pendidikan Agama Islam.  Kata kunci: Toleransi Beragama Siswa melalui pemberian pelajaran Pendidikan Agama Islam

    HAK ASASI MANUSIA DI DUNIA ISLAM

    No full text
    Tulisan dari penelitian ini adalah Hak Asasi Manusia di Dunia Islam yang bertujuan untuk mengetahui (1). Hak manusia di dalam Deklarasi Human Right di kota Paris. (2) Hak Asasi Manusia di dalam Islam dan (3) dan Penerapan Hak Asasi Manusia di Dunia Islam pada abad 21. Penelitian ini adalah penelitian pustaka dengan pendekatan deskriptif sosiologis.  Hasil penelitian ini ialah pertama di dalam deklarasi HAM PBB itu terjadi setelah perang dunia kedua untuk memberikan hak hidup, hak bekerja dan mendapatkan keamanan dan kenyamanan. Hak ini bersifat universal dan egaliter (berlaku untuk semua orang) baik yang pribumi maupun non pribumi. Kedua, Hak Asasi Manusia di dalam Islam termuat di dalam tiga dokumen penting yaitu Piagam Madinah, Deklarasi Universal HAM dalam Islam (tahun 1981), dan Deklarasi Kairo (1991). yang mendasar bahwa Islam mempunyai konsep yang kuat dan mendasar di dalam HAM. Dan yang ketiga adalah bersama-sama untuk kembali ke konsep dan deklarasi, demi tercapainya kedamaian di dunia. Agar tujuan hak asasi manusia tercapai maka bersama membangun sumber daya manusia di abad 21 melalui pendidikan.   Kata Kunci: Hak Asasi Manusia di Dunia Islam dan Pendidika

    PENERAPAN KURIKULUM MERDEKA PADA PEMBELAJARAN PAI DI YAPIS KOTA JAYAPURA: Implementation of Independent Curriculum in Islamic Religious Education Learning at Yapis Jayapura City

    Full text link
      This research is related to the implementation of the independent curriculum in high schools that teach PAI subjects, especially in Yapis Jayapura. The research method is descriptive qualitative. The research object chosen was teachers teaching PAI subjects. Observations, documentation and interviews were carried out to collect data. The results obtained show that PAI has become a subject taught in schools under the Jayapura City Islamic Education Foundation in accordance with Law 20/2003 and PP/55 of 2007. The findings of this research show that the implementation of PAI learning in the independent curriculum is carried out by teachers in schools. have been done. Considering that the independent curriculum is the curriculum followed by schools under Yapis Jayapura where PAI subjects are included in the independent curriculum. The obstacles faced in implementing this subject are limited time, diverse understanding, complex material, and work evaluation. The obstacles encountered by the teacher were caused by two things. Learning is carried out by grouping children to discuss sub-sub-material, so that discussion of the material is more efficient and learning objectives can be achieved according to time. Apart from learning, by adding religious activities other than classroom learning time, involving students in competition activities that can increase religious knowledge such as MTQ, making PHBI at school

    Dinamika Pendidikan Islam Minoritas: Eksistensi, Kontestasi dan Konvergensi

    No full text
    Penelitian ini mengungkap adanya perkembangan dan kemajuan pendidikan Islam yang signifikan di suatu daerah yang notabene mayoritas Kristiani. Tujuan penelitian ini adalah untuk membahas tentang dinamika pendidikan Islam minoritas di Nusa Tenggara Timur yang fokus pada analisis eksistensi, kontestasi dan konvergensi pada pergerakan Universitas Muhammadiyah Kupang (UMK) yang telah berdiri sejak tahun 1987. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan sosiologi pendidikan, penelitian ini menunjukkan bahwa dinamika pendidikan Islam Universitas Muhammadiyah Kupang (UMK) sebagai minoritas telah mampu mempertahankan eksistensi, berkontestasi, dan mencari titik konvergensi dengan penduduk mayoritas yang notabene Kristiani di Nusa Tenggara Timur. Hal itu disebabkan karena ia memiliki sikap terbuka dalam mendefinisikan pemikiran yang inklusif, toleran, dan fairness dalam konteks kehidupan sosial yang plural. Realitas empirik itu selaras dengan pendapat Gry Hvass Pedersen (2016) dan Brooks (2018) bahwa komunitas muslim sangat mampu mempertahankan eksistensi bahkan lebih dari itu sebagai kaum minoritas bila memiliki sifat terbuka dan mampu mendefinisikan ideologinya, mengekspresikan agama secara adaptif, selektif menggunakan simbol identitas, dan terpenting adalah bisa menyajikan kebutuhan masyarakat. Secara otomatis temuan ini membantah pendapat Kinloch (1979) yang menurunkan optimisme kelompok dengan mendefinisikan kaum minoritas sebagai kaum lebih rendah yang sudah pasti memiliki cacat secara fisik maupun mental sehingga dengan mudah tereksploitasi dan didiskriminasi, yang pada akhirnya tidak dapat bertahan apalagi memiliki kekuasaan. &nbsp

    Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam Masyarakat Pluralistik

    No full text
    Buku ini mengungkapkan bahwa semakin mengadopsi materi agama nonmuslim maka pembelajaran PAI pada peserta didik plural agama dapat diterima. Hal ini terus terlaksana karena tidak dijumpai peserta didik pluralistik mengkonversi agamanya menjadi agama Islam. Pembelajaran PAI pada peserta didik plural agama tersebut dilakukan hanya pada aspek pengetahuan. Pelaksanaan ini dapat terus berlangsung dan dapat diketahui melalui beberapa hal.  Kebijakan Yapis Papua dalam Pembelajaran PAI pada masyarakat pluralistik tidak memperhatikan keagamaan yang dianut para siswa melainkan hanya mengajarkan agama tertentu terhadap para siswa yang beragam keagamaannya. Namun demikian, cara pembelajaran PAI yang demikian itu dapat berjalan secara efektif atau tidak menimbulkan resistensi. Hal ini terjadi disebabkan pembelajaran di Yapis Papua tidak bertujuan mengganti keagamaan para siswa, tidak memaksa peserta didik menkonversi agamanya ke dalam agama Islam, tidak mewajibkan penghayatan dan pengamalan pengetahuan agama Islam. Penerapan pembelajaran ini dilakukan tidak sepenuhnya misi ideologi tetapi lebih didasari pada pertimbangan misi sosial terutama pengenalan Islam, karena pembelajaran pendidikan agama Islam diberikan kepada siswa nonmuslim tidak menjadikan mereka keluar dari agamanya justru menjadikan pelajaran pendidikan agama sebagai sarana memperkenalkan agama Islam.  Penerapan pembelajaran PAI pada 3 satuan pendidikan Yapis Papua yaitu Universitas Yapis Papua, SMK Hikmah Yapis, dan SMA Hikmah Yapis dengan menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru sebagai ahli yang memegang kontrol selama proses pembelajaran, model teacher centris, strategi pembelajaran ekspositori. Guru/Dosen sebagai subyek dalam pembelajaran PAI dimana pendidik tidak mengharuskan peserta didik pluralis mengamalkan ajaran agama Islam, memasukkan unsur nilai dan ajaran agama non muslim di dalam materi pembelajaran PAI, guru menurunkan nilai standar kriteria ketuntasan minimal bagi peserta didik nonmuslim. Pada sisi kognitif, guru menyadur ajaran agama peserta didik pluralistik. Pada sisi psikomotorik mereka hanya mengetahui praktik keagamaan namun tidak dilaksanakan. Pada sisi afektif, guru mengambil nilai-nilai yang sama dengan ajaran agama lain yang sesuai dengan afektif dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam

    DEGRADASI NILAI-NILAI PANCASILA DALAM MATERI MUATAN SERTA PEMBENTUKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 2023 ATAS PERUBAHAN UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 2022 TENTANG IBU KOTA NEGARA (PERSPEKTIF SIYASAH DUSTURIYAH)

    Full text link
    Problematics regarding the relocation of the national capital or IKN is one of the hot discussions at this time, due to the many problematics that surround the issue of moving the national capital. One of them is the formation and ratification of the Law of the Republic of Indonesia Number 3 of 2022 concerning the National Capital, which according to some opinions that Law No. 3 of 2022 concerning the National Capital is considered too hasty in its ratification and formation. This can be seen from the various articles contained in the Law which are considered irrelevant, so that it seems as if it is only a complement in Law No. 3 of 2022 concerning the National Capital and does not take into account the philosophical basis, where the philosophical basis is Pancasila. The type of research used by the author in this research is library research, which is research conducted by reading books, literature, and reviewing various kinds of theories and opinions that have a relevant relationship with the problem under study. This research is descriptive-analytical, which is a research aimed at obtaining suggestions in overcoming certain problems The approach used in this research is a juridical-normative approach to the IKN Law in its formation there is a degradation or decrease in the values contained in Pancasila as the state philosophy and one of the important aspects in the formation of a legal product in Indonesia that the principles contained in Siyasah Dusturiyah and the values contained in Pancasila are not fully reflected in the formation of the IKN Law. The results of this research are the need for further studies and research related to the problems that occurred during the process of forming the IKN Law, especially in terms of legal material or substance contained in the IKN Law based on Pancasila and the aspirations of the general public and especially the people affected by the IKN project. The need for a more in-depth study related to meaningful participation so that problems related to the lack of public participation are expected to be resolved so that the IKN Law is able to guarantee justice and the benefit of the community

    PEMBELAJARAN PAI PADA MAHASISWA MULTIKULTURAL

    Full text link
    Penelitian ini mengungkapkan tentang penerapan pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada mahasiswa multkultural di Universitas Yapis Papua, sikap mahasiswa multicultural dalam mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Universitas Yapis Papua. Landasan teorinya adalah Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Agama di Perguruan Tinggi Umum dan Pendidikan Kemajemukan dalam Beragama yang didalamnya terdiri atas Pengertian Pendidikan, Pendidikan Agama Islam, Pengertian Kemajemukan, dan Pengertian Toleransi Beragama. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penelitian ini dimulai dari bulan Juli sampai Desember 2019, dan bertempatkan di Universitas Yapis Papua. Jenis dan sumber data yang diperoleh dari data primer: para informan yang berasal dari staf Universitas Yapis Papua, mahasiswa Universitas Yapis Papua, pengajar mata kuliah PAI, dan data sekunder: Satuan Acara Pembelajaran mata kuliah Pendidikan Agama Islam, Buku wisuda UNIYAP tahun 2018/2019, dan lembar wawancara. Teknik Pengumpulan Data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik Analisis Data memakai reduksi, display dan ferivikasi data. dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah bahwa penerapan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Universitas Yapis Papua dapat dilihat dalam penerapan Satuan Acara Pembelajaran oleh Dosen Pendidikan Agama Islam yang mencakup identitas, tujuan, strategi, evaluasi hasil perkuliahan, instrument aktivitas dan partisipasi, (2) Sikap mahasiswa Universitas Yapis Papua dalam mata kuliah Pendidikan Agama Islam, sikap mahasiswa dapat menerima dengan baik.Kata Kunci: Pembelajaran PAI dan Mahasiswa Multikultura
    corecore