1,720,956 research outputs found
Efektifitas Endorsement Non-Selebrity dalam Membangun Citra Merek Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kota Makassar
Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah di Kota Makassar menggunakan metode pemasaran secara online dan offline. Endorsement merupakan konsep pemasaran secara Online. Pemasaran menggunakan Endorsement efektif dilakukan untuk membangun citra merek produk Usaha Mikro Kecil Menengah di Kota Makassar
Potensi Plantarisin F Rekombinan Dengan Penambahan Edta Dalam Menghambat Salmonella Sp. 38
Salmonella sp. 38 tergolong dalam bakteri gram negatif, yang diisolasi dari feses anak-anak penderita diare. Penggunaan antibiotik untuk pengobatan diare dapat menimbulkan resistensi bakteri, sehingga diperlukan alternatif pengobatan lain. Plantarisin F rekombinan yang dihasilkan Lactococcus lactis pNZ8148 Pln F dapat menjadi alternatif antibakteri alami. Aktivitas antibakteri plantarisin F terhadap bakteri gram negatif dapat ditingkatkan dengan penambahan EDTA. Penelitian ini bertujuan menguji potensi antibakteri plantarisin F rekombinan dengan penambahan EDTA terhadap Salmonella sp. 38. Metode awal adalah memproduksi plantarisin dengan menumbuhkan L. lactis pNZ8148 rekombinan F pada media M17 glukosa. Uji aktivitas antimikroba plantarisin dilakukan secara kualitatif menggunakan metode difusi agar. Purifikasi plantarisin menggunakan amonium sulfat 80% dan kolom filtrasi Sephadex G50. Sampel hasil purifikasi diukur bobot molekul proteinnya menggunakan elektroforesis SDS-PAGE. Plantarisin hasil produksi dan purifikasi diukur konsentrasi proteinnya menggunakan BCA kit. Sampel hasil purifikasi ditambahkan EDTA dengan konsentrasi 1 mM, 5 mM 10 mM dan 20 mM. Hasil produksi diperoleh 200 mL supernatan bebas sel. Hasil purifikasi dengan amonium sulfat 80% menunjukkan aktivitas plantarisin sebesar 14,78 AU/mg dengan kandungan protein sebanyak 13,54 mg. Hasil purifikasi dengan kolom filtrasi Sephadex G-50 menunjukkan aktivitas plantarisin sebesar 22,01 Au/mg dengan kandungan protein sebanyak 5,77 mg. Hasil pengukuran menggunakan elektroforesis SDS-PAGE 16% menunjukan bobot molekul plantarisin F adalah 3,85 kDa. Penambahan 20 mM EDTA pada plantarisin F rekombinan memperlihatkan peningkatan aktivitas antibakteri paling tinggi
Analisis Yuridis Terhadap Ketentuan Perubahan Tindak Pidana Perzinaan Dari Delik Aduan Menjadi Delik Biasa
Pada skripsi ini, penulis mengangkat permasalahan Analisis Yuridis Terhadap Ketentuan Perubahan Tindak Pidana Perzinaan Dari Delik Aduan Menjadi Delik Biasa Demi Mewujudkan Indonesia Bebas seks bebas. Pilihan tema tersebut dilatar belakangi oleh ketentuan perzinaan dalam KUHP yang berlaku saat ini bertujuan untuk mengkriminalisasi pelaku perselingkuhan di mana salah seorang atau kedua pelaku persetubuhan itu merupakan orang yang sudah terikat dengan ikatan perkawinan sebelumnya. Selain itu Pasal 284 KUHP adalah merupakan delik aduan absolut yang tidak memungkinkan perbuatan itu dipidana Jika tidak ada yang mengadukan dari pihak yang dirugikan (suami atau istri yang dikhianati pasangannya) dan, selama perkara itu belum diperiksa dimukan pengadilan. maka senantiasa pengaduan itu dapat ditarik kembali.
Berdasarkan hal tersebut diatas, karya tulis ini mengangkat rumusan masalah : (1) Apa urgensi perubahan tindak pidana perzinaan dari delik aduan menjadi delik biasa? (2) Bagaimana reformulasi dalam hukum pidana terkait tindak pidana perzinaan di masa yang akan datang?
Kemudian penulisan karya tulis ini menggunakan metode yuridis normatif dengan metode pendekatan perundang-undangan (statute approach). Bahan hukum primer, sekunder, dan tersier yang diperoleh penulis akan dianalisis dengan menggunakan teknik analisis Interpretasi Sistematis yaitu yaitu dengan cara menghimpun semua peraturan perundang-undangan dan buku-buku yang berkaitan dengan permasalahan.
Dari hasil penelitian dengan metode diatas, maka analisis pembahasan yang pertama ini bisa menjawab permasalahan yaitu Perzinahan merupakan suatu perbuatan kendatipun undang-undang tidak mengaturnya tetap merupakan perbuatan tercela (recht delicten). Maka dari itu, segala proses hukum dan pemidanaannya pun harus berbanding lurus dengan pencelaannya. Sehingga dengan berubahnya perzinaan menjadi delik biasa, maka seiring lambat laun salah satu tujuan bangsa Indonesia bisa akan terwujudkan yaitu Bangsa Indonesia bangsa yang bersih serta bebas dari prostitusi. Adapun konsep alternatif reformulasi tindak pidana perzinaan yang ditawarkan oleh peneliti adalah sebagai berikut : Zina yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang
keduanya sama-sama terikat perkawinan dan dilakukan atas dasar suka sama suka diancam pidana penjara paling lama 15 tahun. Zina yang dilakukan oleh laki-laki beristri dengan perempuan bujang yang dilakukan atas dasar suka sama suka diancam pidana penjara paling lama 10 tahun. Zina yang dilakukan oleh laki-laki bujang dengan perempuan bersuami yang dilakukan atas dasar suka sama suka diancam pidana penjara paling lama 10 tahun. Zina yang dilakukan oleh laki-laki dengan perempua yang keduanya sama-sama belum terikat perkawinan yang dilakukan atas dasar suka sama suka diancam pidana penjara paling lama 7 tahun
ANALISIS YURIDIS TERHADAP KETENTUAN PERUBAHAN TINDAK PIDANA PERZINAAN DARI DELIK ADUAN MENJADI DELIK BIASA
Muhammad Agung DharmawanFakultas Hukum Universitas Brawijaya  ABSTRAK Perzinaan dalam KUHP yang berlaku saat ini bertujuan untuk mengkriminalisasi pelaku perselingkuhan di mana salah seorang atau kedua pelaku persetubuhan itu merupakan orang yang sudah terikat dengan ikatan perkawinan sebelumnya. Selain itu Pasal 284 KUHP adalah merupakan delik aduan absolut yang tidak memungkinkan perbuatan itu dipidana Jika tidak ada yang mengadukan dari pihak yang dirugikan (suami atau istri yang dikhianati pasangannya) dan, selama perkara itu belum diperiksa dimukan pengadilan. maka senantiasa pengaduan itu dapat ditarik kembali. Perzinahan merupakan suatu perbuatan kendatipun undang-undang tidak mengaturnya tetap merupakan perbuatan tercela (recht delicten). Maka dari itu, segala proses hukum dan pemidanaannya pun harus berbanding lurus dengan pencelaannya. Sehingga dengan berubahnya perzinaan menjadi delik biasa, maka seiring lambat laun salah satu tujuan bangsa Indonesia bisa akan terwujudkan yaitu Bangsa Indonesia bangsa yang bersih serta bebas dari seks bebas. Kata Kunci: Zina, Delik Biasa ABSTRACT Adultery regulated in Criminal Code is aimed to give legal consequence to those involved in an affair in which both or one of them in the affair were bound by marriage previously. Moreover, Article 284 of Criminal Code was categorised into an absolute complaint offense which does not allow the parties involved in the affair to be detained unless complaint is sent (by a betrayed husband or wife). As long as the case has never been brought to the court, allegation can be retracted. Although Law does not regulate it, adultery is still considered disgraceful (recht delicten). Therefore, the legal process taken and the detention given should be in line with the disgraceful act done. With any possibility for the complaint offense to change into normal offense, it is expected that Indonesia will be free from prostitution. Keywords: adultery, normal offens
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
