884 research outputs found
Failure of science-based win-win solution in fishery management: Learnings from Segara Anakan waters, Central Java, Indonesia
Indonesian Government fund (DIKTI scholarship
Endangered Mangroves in Segara Anakan, Indonesia: Effective and Failed Problem-Solving Policy Advice
The failure of the mangrove conservation plan in Indonesia: Weak research and an ignorance of grassroots politics
Successful scientific knowledge transfer in conservation projects depends on how the science integrates with local grassroots knowledge bases. Weak research comes about through a lack of adept research units. Science-based grassroots knowledge is based on assumption and experience. A new model of the science-policy interface, RIU (Research-Integration-Utilisation) model is used in this case study. This study identifies two phases of knowledge transfer in mangrove conservation plan in Segara Anakan area, Indonesia. The first phase is started by initial research in order to form a basis from which to develop the conservation's programmes. The integration of research findings faced strong challenges from grassroots communities resulted from involving the elite as the allies of ADB (Asia Development Bank). Grassroots communities were successful in delivering their message, whereas the scientific sector did not produce good problem solving research, as it was oriented towards the wishes of established elite communities. The second phase is started by review study by which the elites were defining the results from the study as reflecting the public's interests. Therefore, they planned to use the research finding as a basis from which to implement the diversion plan. Nevertheless, they changed their decision due to the tension created by the increasing resistance from grassroots communities. Grassroots politics, in this instance, was more successful in the decision making process. The subsequent elite were more sensitive to grassroots politics than the ADB and their allies. (C) 2016 Elsevier Ltd. All rights reserved.Indonesian Government fund (DIKTI scholarship
Analisis Kompetisi Ruang Pada Budi Daya Ikan Lele Sangkuriang (Clarias sp.)
ABSTRACT Budi, Isak Krestian. 2016. Analisis Kompetisi Ruang pada Budi Daya Ikan Lele Sangkuriang (Clarias sp.). Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Agus Dharmawan, M.Si (II) Agung Witjoro, S.Pd., M.Kes Kata kunci: Lele Sangkuriang, Kompetisi Ruang, Budi Daya Ikan Lele Sangkuriang (Clarias sp.) merupakan salah satu sumber protein hewani yang memiliki banyak kelebihan untuk dibudidayakan. Salah satu kelebihan ikan Lele Sangkuriang adalah dapat dibudidayakan pada lahan yang terbatas dengan kepadatan yang tinggi, yaitu mencapai 1000 ekor/m3. Budi daya ikan Lele Sangkuriang dengan kepadatan tinggi merupakan upaya untuk meningkatkan efisiensi penggunaan ruang yang terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kompetisi ruang berdasarkan parameter keragaman massa ikan Lele Sangkuriang dan efek kepadatan terhadap pertumbuhan mutlak ikan Lele Sangkuriang dalam skala laboratorium. Penelitian ini dilaksanakan di Kelompok Tani ‘Ngudi Rahayu’ Kabupaten Trenggalek pada bulan Desember 2015 hingga Maret 2016 dan merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dengan 6 ulangan. Kelompok hewan uji yang digunakan adalah 240 benih ikan Lele Sangkuriang umur 11 minggu dengan massa awal pemeliharaan sebesar 3,54 ± 0,23 g. Macam perlakuan yang diberikan yaitu: kepadatan ikan 10 ekor per 16,7 liter; 10 ekor per 12,5 liter; 10 ekor per 10 liter; dan 10 ekor per 8,3 liter dengan lama pemeliharaan 6 minggu. Variabel yang diamati adalah keragaman massa dan pertumbuhan mutlak. Keragaman massa dilihat dari nilai koefisien variansi (CV), sedangkan pertumbuhan mutlak dilihat dari selisish rata-rata massa akhir pemeliharaan dengan rata-rata massa awal pemeliharaan. Untuk mengetahui perbedaan keragaman dilakukan analisis kovarian (anakova) dengan signifikansi (P) 0,05, kompetisi ruang ditinjau dari keragaman massa tidak menunjukkan perbedaan secara signifikan. Hasil uji anava tunggal terhadap pertumbuhan mutlak Ikan Lele Sangkuriang menunjukkan nilai signifikasi P > 0,05, tidak terdapat perbedaan pertumbuhan mutlak Ikan Lele Sangkuriang secara signifika
A EFEKTIVITAS PENGAJARAN MENULIS TEKS RECOUNT DENGAN MENGGUNAKAN TIKTOK UNTUK SISWA KELAS SEPULUH SMA HASANUDDIN WAJAK
EFEKTIVITAS PENGAJARAN MENULIS TEKS RECOUNT DENGAN MENGGUNAKAN TIKTOK UNTUK SISWA KELAS SEPULUH SMA HASANUDDIN WAJAK
Ulfatul Khasanah1, Enis Fitriani2, Jasuli3
1Pendidikan Bahasa Inggris, IKIP Budi Utomo Malang
e-mail : [email protected]
2 Pendidikan Bahasa Inggris, IKIP Budi Utomo Malang
e-mail : [email protected]
3 Pendidikan Bahasa Inggris, IKIP Budi Utomo Malang
e-mail : [email protected]
Informasi Artikel
ABSTRACT
Submit : 06-08-2022
Diterima : xx-xx-2022
Dipublikasikan : xx-xx-2022
This research is aimed to determine whether classes taught using Tiktok have better results than classes taught without using Tiktok. Students today are familiar with Tiktok because of its easy and flexible access. By using Tiktok students can create their writings so that they are more interesting to read and can be seen by many people. This is a quasi-experimental research. The experimental group was taught using Tiktok and the control group was taught without using Tiktok. The author used a pre-test to find out that both groups had relatively the same background knowledge in the research variables and a post-test to find an increase in scores as a measure of achievement. The author uses tests to calculate and hypothesize.
Keywords : Writing, Recount Text, Tiktok
Penerbit
ABSTRAK
IKIP Budi Utomo
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kelas yang diajarkan menggunakan Tiktok memiliki hasil yang lebih baik dibandingkan dengan kelas yang diajar tanpa menggunakan Tiktok. Siswa pada era sekarang banyak mengenal Tiktok karena aksesnya yang mudah dan fleksibel. Dengan menggunakan Tiktok siswa dapat mengreasikan hasil tulisannya agar lebih menarik untuk dibaca dan dapat dilihat banyak orang. Ini adalah penilitian quasi eksperimen. Kelompok eksperimen diajar dengan menggunakan Tiktok dan kelompok kontrol diajar tanpa menggunakan Tiktok. Penulis menggunakan pre-test untuk mengetahui bahwa kedua kelompok mempunyai latar belakang pengetahuan yang relatif sama dalam variable penelitian dan post-test untuk menemukan peningkatan nilai sebagai ukuran prestasi. Penulis menggunakan test untuk menghitung dan menghipotesis.
Kata Kunci : Menulis, Teks Recount, Tiktok
 
Analisis Forest Reference Emission Level (FREL) Berdasarkan Deforestasi Tidak Terencana di Taman Hutan Raya Sekitar Tanjung
Perubahan iklim merupakan isu lingkungan yang telah banyak diperbincangkan. Perubahan iklim telah terjadi sejak abad ke-19 yang ditandai dengan meningkatnya rata-rata suhu bumi. Perubahan iklim terjadi karena meningkatnya gas rumah kaca (CO2, CH4, N2O dan gas lainnya) di atmosfer. Sektor kehutanan melalui deforestasi menyumbang gas CO2 dan berperan terhadap perubahan iklim. Deforestasi di Tahura termasuk ke dalam deforestasi tidak terencana. Hal ini dikarenakan deforestasi terjadi melalui illegal logging dan kebakaran hutan. Untuk mengurangi emisi CO2 dan mengurangi deforestasi, Tahura dapat berpartisipasi dalam skema REDD+. Salah satu elemen yang perlu dipersiapkan dalam skema REDD+ adalah FREL (Forest Reference Emission Level). FREL menggambarkan perubahan kandungan karbon di suatu kawasan jika tidak ada kegiatan REDD+.
Dalam membangun baseline FREL membutuhkan data aktivitas dan faktor emisi. Data aktivitas yaitu analisis historis perubahan hutan (deforestasi). Dalam memprediksi deforestasi di masa depan dan juga untuk menguji faktor yang berpengaruh terhadap deforestasi menggunakan regresi logistik. Tujuan dari penelitian ini adalah, 1) analisis perubahan tutupan hutan, 2) identifikasi faktor yang menyebabkan terjadinya deforestasi, 3) Prediksi terjadinya deforestasi di masa yang akan datang, 4) membangun baseline FREL berdasarkan deforestasi tidak terencana, 5) membuat skema pengembangan hutan berbasis masyarakat, 6) membuat skenario insentif karbon untuk mengurangi deforestasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi tutupan lahan pada tahun 2000, 2009, dan 2015 pada umumnya didominasi oleh hutan, semak dan rumput serta perkebunan. Pada periode 2000-2009 telah terjadi deforestasi yang ditunjukkan dengan adanya penurunan luas hutan sebesar 5.907,51 ha yang diakibatkan karena perubahan hutan menjadi semak dengan presentase 90,74%. Pada periode 2009-2015, deforestasi terjadi karena perubahan hutan menjadi semak dan rumput sebesar 48,08% dan perubahan hutan menjadi perkebunan dengan presentase 42,58%. Faktor yang menyebabkan terjadinya deforestasi di Tahura antara lain jarak dari jalan, jarak dari sungai, jarak dari kebun dan jumlah penduduk. Prediksi model deforestasi di tahun 2030 total luas hutan yang terdeforestasi sebesar 102.96 ha.
Perubahan dan prediksi kandungan karbon (FREL) di Tahura menunjukkan terjadi penurunan kandungan karbon selama periode 2000-2015. Pada tahun 2000 kandungan karbon Tahura sebesar 7.883.489,85CO2e dan pada tahun 2015 sebesar 6.263.729,26 CO2e . Pada periode 2000-2009 Tahura telah melepaskan emisi sebesar 1.189.841,37 ton CO2e dan pada periode 2009-2015 melepas emisi sebesar 429.919,22 ton CO2e. Pada tahun 2030 diprediksi Tahura akan melepas emisi sebesar 1.271.576,23 CO2e. Jika tidak ada campur tangan pemerintah.
Terdapat tiga skema untuk mengurangi deforestasi dengan pelibatan masyarakat yaitu 1) skema agroforestri dan 2) skema reforestasi dan 3) skema pemanfaatan HHBK. Perlu membangun kelembagaan di Tahura antara lain kelompok tani, pendamping penyuluh kehutanan, koperasi, polisi hutan dan program keluarga berencana. Terkait dengan tambahan karbon, terdapat dua skenario yang dapat dilakukan di Tahura. Pertama, skenario 1 dengan pemanfaatan HHBK dan menjaga luasan hutan Tahura, maka pada tahun 2030 akan memperoleh tambahan karbon sebesar 2.312.476 ton CO₂e dan manfaat ekonomi karbon yang akan diperoleh masyarakat berkisar antara Rp 356.589 sampai Rp 1.935.127 per rumah tangga. Kedua, skenario 2 dengan program reforestasi menggunakan tanaman jelutung, maka pada tahun 2030 akan memperoleh tambahan karbon sebesar 3.034.709 ton CO₂e dan manfaat ekonomi karbon yang akan diperoleh masyarakat berkisar antara Rp 467.958 sampai Rp 2.539.506 per rumah tangga
Pemodelan Simulasi Pengaturan Hasil Hutan Kayu di IUPHHK-HA PT Wijaya Sentosa Papua Barat.
Pengelolaan hutan lestari merupakan pengelolaan hutan sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dengan tujuan sosial, ekonomi dan lingkungan. Metode pengaturan hasil dan sruktur dinamika tegakan diperlukan untuk menduga potensi tegakan mendatang dan memilih metode pengaturan hasil hutan yang dapat diterapkan pada suatu areal hutan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh model pengaturan hasil yang lestari serta mengetahui besar pendapatan perusahaan dari berbagai skenario. Dinamika struktur tegakan diperoleh dengan menghitung ingrowth, upgrowth, mortality, dan luas bidang dasar. Penerapan metode pengaturan hasil memperhatikan jumalah pohon yang tersedia, rotasi serta intensitas tebangan. Simulasi menggunakan metode pengaturan hasil konvensional dengan membedakan rotasi, intensitas tebangan, dan kelas diameter tebang. Hasil simulasi menunjukan semakin besar intensitas tebang dan semakin panjang rotasi penebangan menyebabkan semakin besar jumlah pohon yang ditebang pada setiap tahunnya
Langkah cinta untuk keluarga: mengenang Ibu Sejati Ustadzah Hj. Yoyoh Yusroh
Buku ini mencoba untuk menampilkan bagaimana pasangan suami istri Budi Dharmawan dan Alm. Yoyoh Yusroh membangun keularga yang kokoh dengan banyak melakukan sinergi dari potensi yang mereka miliki. Bagaimana mereka mendidik dan mengarahkan anak-anak mereka sesuai dengan bakat yang dimiliki masing-masing namun tetap dengan bekal dasar pendidikan agama
Analisis Wacana Perilaku Cyberbullying Dalam Film Budi Pekerti
The phenomenon of cyberbullying, which is rampant on social media, has now extended into the film industry by incorporating elements of cyberbullying to enhance the film's appeal. One example of a film that integrates cyberbullying behavior into its scenes is "Budi Pekerti," directed by Wregas Bhanuteja. This study aims to examine the discourse of cyberbullying behavior in the film "Budi Pekerti" by Wregas Bhanuteja. The film "Budi Pekerti" becomes intriguing as cyberbullying is perceived negatively in society yet portrayed within its scenes, adding commercial value to the film. The reality of cyberbullying discourse, initially viewed negatively by society, is gradually normalizing within the community's current environment. This research utilizes a qualitative approach with a constructivist paradigm. The author employs discourse analysis using the concept of the categorization of cyberbullying proposed by Williard. Data collection involves documentary study of the film "Budi Pekerti" through non-participant observation and literature review from various sources such as books, internet, and mass media. From the findings, it is evident that in the film "Budi Pekerti" by Wregas Bhanuteja, cyberbullying discourse is conveyed through various behaviors such as harassment, defamation, provocative content, stalking, dissemination of personal information, and exclusion in several scenes. The filmmakers direct their discourse as a means of education but presented implicitly within the film. This discourse is motivated by the filmmakers' concern over the prevalent phenomenon of cyberbullying in today's social media landscape
Museum Dialogues: An Introduction
Photography permeates every aspect of contemporary life, serving as a tool for visual communication, personal expression, artistic creation, documentation, social engagement, and civic action. In the twentieth-first century, the traditional distinctions between high and low art, as well as between art and applied practices, and among different lens-based media have become blurred over time, rendering previous museum taxonomies obsolete and posing practical challenges for professionals.
This inaugural agenda-setting workshop seeks to foster dialogue among international scholars, curators, artists, photographers, museum professionals, and archivists regarding various definitions and understandings of “photography” and its cultural significance within and beyond museum settings. Featuring presentations by invited speakers, a roundtable discussion, and breakout sessions, the workshop aims to explore diverse institutional perspectives, policies, practices, and challenges related to the collection, exhibition, and interpretation of photographic images. Insights and feedback collected from participants will shape the framework and topics of subsequent workshops
- …
