5 research outputs found

    PENDAMPINGAN PROGRAM POS PEMBERDAYAAN KELUARGA (POSDAYA) DALAM UPAYA PENGENTASAN KEMISKINAN MELALUI PEMBANGUNAN BERBASIS SUMBERDAYA MANUSIA, DI KECAMATAN SAMBI, KABUPATEN BOYOLALI.

    No full text
    Program POSDAYA merupakan program strategis dan bersinergi dalam penanggulangan kemiskinan. Penanggulangan kemiskinan prioritas utama yang tertuang dalam RPJMD Kabupaten Boyolali tahun 2012-2015. Oleh sebab itu Pemerintah Kabupaten Boyolali berkomitmen untuk membentuk POSDAYA di seluruh desa di wilayah Kabupaten Boyolali, salah satunya desa-desa di kecamatan Sambi. Tujuan KKN POSDAYA adalah; meningkatkan kepedulian untuk mengembangkan POSDAYA khususnya 5 bidang (kesehatan, pendidikan, ekonomi, lingkungan, agama&budaya), mengatasi permasalahan di masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat di 5 bidang garapan POSDAYA, membantu menyusun program kerja dan menetapkan prioritas program yang hendak dilaksanakan dalam waktu dekat, melaksanakan pemetaan potensi SDM dan SDA, pemberdayaan potensi SDM dan SDA untuk mendukung program POSDAYA. KKN POSDAYA, dilaksanakan di 3 (tiga) desa, yaitu desa Sambi (POSDAYA Ngudi Rahayu) desa Demangan (POSDAYA Lestari), desa Canden (POSDAYA Sukamaju). Waktu pelaksanaan selama 1 bulan, dengan 10 orang mahasiswa sebagai pendamping masyarakat dan 1 orang dosen sebagai pendamping mahasiswa. Hasil pendampingan; untuk POSDAYA Ngudi Rahayu di desa Sambi prioritas program adalah bidang kewirausahaan, yaitu mengolah enthik menjadi keripik, karena hasil pertanian ini melimpah, serta mudah dilakukan oleh warga desa. Untuk POSDAYA Lestari di desa Demangan, prioritas program adalah bidang Pendidikan, yaitu program pengembangan lingkungan PAUD agar layak dan nyaman untuk kegiatan belajar mengajarbersama guru PAUD. Untuk desa Canden lebih memprioritaskan pembentukan POSDAYA baru di dukuh Kiringan dengan nama POSDAYA Sukamaju. Alasannya adalah POSDAYA di desa Canden terlalu luas wilayahnya dan tidak efektif sebagai forum silaturahmi. Disetiap POSDAYA didampingi membuat program kerja untuk 5 bidang garapan POSDAYA berdasarkan identifikasi masalah, identifikasi SDA, SDM. Pemetaan warga tak mampu. Terlaksananya pelatihan bersama untuk pengurus POSDAYA tentang pendalaman ke POSDAYA an. Kesimpulan kegiatan KKN POSDAYA; Pendampingan sangat dibutuhkan, karena sejak pembentukannya tahun 2011belum ada pelaksanaannya, meskipun telah mendapat pelatihan cara melaksanakan POSDAYA, karena pengurus POSDAYA belum benar-benar memahaminya. Sebagai forum silaturahmi, warga POSDAYA belum menggunakan forum ini untuk menumbuhkan saling peduli sehingga yang mampu dapat membantu yang tidak mampu sebagai upaya untuk mengentaskan kemiskinan. Luaran POSDAYA; POSDAYA tertib secara administrasi, mampu mensinergikan unsur-unsur POSDAYA yang berupa lembaga-lembaga yang telah ada dalam masyarakat, dan menjadikan POSDAYA sebagai tempat bermusyawarah karena POSDAYA adalah forum silaturahmi warga. Rencana tindak lanjut dari kegiatan KKN POSDAYA adalah; melakukan pendampingan POSDAYA, berdasarkan program kerja yang dibuat, serta memprioritaskan program yang mampu dilakukan warga dengan mudah murah cepat dan hasilnya dapat segera dinikmati

    Upaya Program Pos Pemberdayaan Keluarga (POSDAYA) dalam Pengentasan Kemiskinan: Efforts of the Family Empowerment Post Program (POSDAYA) in Poverty Alleviation

    No full text
    The HDI of Indonesian society is still low. The establishment of Presidential Instruction No. 3 of 2010 has opened up new horizons that poverty reduction is prioritized by family empowerment. Field of the action is designed to touch the whole family, whether they still have a toddler, teenager, or an adult, elderly, or have a disabled family. Mentoring is done to move these families. These assistance functions are expected to someday make these families independent. The trick is to lift the mutual help and care for others by family empowerment, namely the family that is able to help other families who are poor. It is a main program in improving the welfare of society. Similarly, what are done by students who follow KKN-PPM as Posdaya mentors are intended to arouse public awareness of mutual caring. Although still seen limping but it seems people have started to be able to do. They participate in planning, implementing, evaluating, and then learning again, and it seems attractive to people who are in 3 Posdaya assisted by students. The three Posdaya are Ngudi Rahayu, Lestari and Sukamaju, all of which located in the Sambi village, Samba district, Boyolali regency

    ARCHITECTURE BRANDING IN A LOCAL WISDOM BASED ON TOURISM DEVELOPMENT 4.0 IN BALI

    No full text
    At present, the villages that have local wisdom in architecture Bali have undergone several changes. The change in the shape of the building caused because local people began to migrate to urban areas so that they had a changing lifestyle, and the difficulty of finding traditional materials. This problem generalizes the building style. However, tourism development in Bali is needed; therefore, branding can be carried out in architectural buildings which have local wisdom. Bali needs for the branding of architectural buildings containing speakable and writeable elements, a spirit of the brand, internal back-up, personality, and the story of glory with the power of local wisdom. Development of tourism based on the essence Hinduism, which was developed through the customer in the era of connectivity based on the principle of marketing 4.0. Marketing 4.0 is used to recognize the transitional role of traditional marketing and digital marketing in building customer involvement and advocacy. This study raises the question of architectural branding that has local wisdom in developing tourism 4.0. This study uses qualitative methods to look at comparison methods and marketing mixes. The output of this research is the traditional architecture of the Panglipuran and Tenganan traditional villages is a unique attraction for the village's tourism. It can increase tourist interest by adding an understanding of the local wisdom that underlies the building. So tourists will encourage other tourists to visit the traditional villages of Panglipuran and Tenganan

    Pola Pengembangan Pasar Tradisional dengan Pendekatan Manajemen Komunitas untuk Meningkatkan Ketahanan Usaha Pedagang di Kota Surakarta

    No full text
    Kondisi pasar setelah mengalami renovasi ternyata membawa dampak dimana minat para pedagang maupun pembeli sangat kecil. Penelitian ini secara khusus akan (1) mendiskripsikan tentang bentuk jejaring para pelaku pasar dan institusi yang terkait, (2) mendiskripsikan tentang kualitas manajemen komunitas dalam pengelolaan pasar tradisional (3) mendiskripsikan mengenai ketahanan usaha pedagang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang akan dilakukan di pasar tradisional klas I dan II yang telah dilakukan direnovasi. Subyek penelitian adalah pedagang kios, los dan oprokan. Disamping itu juga akan digali informasi secara mendalam dari Dinas Pengelola Pasar, Dinas Perhubungan, Dinas Kebersihan Pasar, Dinas Pembangunan Umum, Dinas Tata Ruang Kota, dan BAPPEDA. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah maximum variation sampling untuk melihat variasi informasi secara maksimal dan purposive sampling didasarkan pada orang yang paling paham terhadap permasalahan pasar tradisional. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam dan FGD. Sedangkan teknik triangulasi menggunakan trianggulasi sumber dan informan sedangkan validasi, yaitu dengan cara mengecek ulang beberapa orang subyek penelitian untuk membuktikan kebenaran jawaban yang diberikan sebelumnya. Analisis data menggunakan interactif model of analysis. Setelah dilakukan analisis diperoleh kesimpulan bahwa berdasarkan teori people centered development oleh David C. Korten dengan pendekatan manajemen komunitas yang di dalamnya terdapat unsur partisipasi, demokrasi dan transparansi memandang inisiatif kreatif dari rakyat sebagai sumber daya pembangunan yang utama dan memandang kesejahteraan material spiritual mereka sebagai tujuan yang ingin dicapai oleh proses pembangunan. Jejaring yang terbangun antar stakeholder pasar dengan pelaku pasar dianalisis melalui tupoksi masing-masing dinas yang berkaitan dengan pengembangan pasar, sehingga diperoleh suatu diagram yang menunjukkan jauh dekatnya hubungan baik diantara dinas maupun dengan pelaku pasar. Jejaring ini dianalisis dengan diagram venn. Bentuk jejaring disimpulkan bahwa dinas-dinas selain Dinas Pengelola Pasar, meskipun memiliki kepentingan dengan pasar, tetapi tetap harus berhubungan terlebih dahulu dengan Dinas Pengelola Pasar. Di dalam tupoksi-tupoksi yang berhubungan dengan pengembangan pasar tradisional tersebut, terkandung partisipasi, demokrasi dan transparansi pedagang terhadap kegiatan-kegiatan pasar baik untuk merawat maupun memelihara pasar. Dengan demikian temuan jejaringdapat digunakan untuk melihat besaran partisipasi, demokrasi dan transparansi yang ada pada setiap tupoksi dinas yang berkaitan dengan pengembangan pasar tradisional. Adapun kesimpulan dari manajemen komunitas yang ada di pasar tradisional adalah sebagai berikut : (1) Kualitas partisipasi pasar tradisional dalam kegiatan perawatan pasar yang difokuskan pada revitalisasi total pasar pada kegiatan sosialisasi, perencanaan dan pembangunan pasar darurat, pelaksanaan pembangunan, penempatan di pasar yang sudah dibangun, dan peresmian pasar, cenderung baik. Adapun untuk kegiatan studi kelayakan, sosialisasi studi kelayakan, perencanaan pembangunan pasar yang akan dibangun, DED dan penetapan tempat dagangan cenderung kurang baik. Sedangkan untuk pemeliharaan pasar setelah dibangun cenderung kurang baik. (2) Kualitas demokrasi pasar tradisional dalam kegiatan perawatan pasar yang difokuskan pada revitalisasi total pasar pada kegiatan perencanaan pembangunan pasar darurat, pelaksanaan pembangunan, penempatan di pasar yang sudah dibangun, peresmian cenderung maksimal. Adapun untuk kegiatan sosialisasi, studi kelayakan, sosialisasi studi kelayakan, perencanaan pembangunan pasar yang akan dibangun, DED, penetapan tempat dagangan cenderung tidak maksimal. Sedangkan untuk pemeliharan pasar setelah dibangun cenderung tidak ada demokrasi. (3) Kualitas transparansi pasar tradisional dalam kegiatan perawatan pasar yang difokuskan pada revitalisasi total pasar pada kegiatan sosialisasi, perencanaan pembangunan pasar yang akan dibangun, perencanaan dan pembangunan pasar darurat, lelang, DED, pelaksanaan pembangunan, penempatan di pasar yang sudah dibangun, peresmian, cenderung terbuka. Adapun untuk kegiatan studi kelayakan, sosialisasi studi kelayakan, penetapan tempat dagangan, cenderung kurang terbuka. Sedangkan untuk pemeliharaan pasar setelah dibangun cenderung terbuka. (4) Ketahanan usaha pada pasar tradisional dalam pengelolaan masalah yang ada di komunitas cenderung belum mampu mengelola. Sedangkan untuk kesempatan meningkatkan taraf hidup, keberlangsungan usahanya cenderung lambat, memperluas jaringannya belum maksimal, kemampuan menabung masih rendah, tetapi kecenderungan pemenuhan kebutuhan subsistensi telah mampu walaupun ada kelompok-kelompok pedagang di pasar tertentu yang ternyata sudah tidak mampu

    PENDEKATAN MANAJEMEN KOMUNITAS UNTUKMENINGKATKAN KETAHANAN USAHA PEDAGANG PASAR TRADISIONALDIKOTA SURAKARTA

    No full text
    Revitalisasi total pasar tradisional bukti keberpihakan Pemkot terhadap nasib pasar tradisional. Ironisnya pembenahan fisik belum menuai hasil maksimal, artinya belum mampu mensejahterakan pedagangnya.Pasar cenderung sepi, pedagang harus memulai dari “nol” untuk meraih keberhasilan seperti saat pasar belum dibangun.Kondisi krisis saat terjadi pemindahan di pasar darurat dan ke pasar baru pasca revitalisasi menyebabkan pelanggan menghilang, ketahanan usaha melemah.Hal ini disebabkan ada aspek non fisik yang belum diperhatikan oleh Pemkot.Aspek tersebut adalah manajemen komunitas yang didalamnya terkandung unsur partsipasi, demokrasi, transparansi.Manajemen komunitas adalah implementasi konsep pemberdayaan berbasis rakyat/komunitas.Pembangunan yang dilakukan sudah bukan pembangunan berorienrasi pada rakyat, tetapi harus membangun bersama rakyat.Ini untuk menanggulangi ketidakpuasan, keraguan, kecurigaan, keapatisan komunitas terhadap pembangunan yang dilakukan Pemkot.Apabila pendekatan manajemen komunitas ini digunakan, maka pengembangan pasar tradisonal kedepan menjadi lebih tertatadan ketahanan usaha pedagang meningkat. Kata Kunci : manajemen, komunitas, ketahanan, usaha, pedagan
    corecore