UNDAGI: Jurnal Ilmiah Arsitektur
Not a member yet
201 research outputs found
Sort by
DESIGN OF A DIGITAL INTERACTIVE ART GALLERY IN SURABAYA WITH A MODERN ARCHITECTURAL APPROACH
Di era millenial ini banyak anak muda mengalami krisis identitas dikarenakan sosial media yang menjadikan mereka gemar teknologi (tech savvy), dari hal ini banyak membuat sektor ekonomi kreatif ikut mengimbangi apa yang diminati dari para anak muda zaman sekarang salah satunya galeri seni yang memunculkan seni dengan konsep interaktif dengan media digital yang banyak menarik minat pengunjung. maka dari itu dibutuhkannya galeri seni interaktif digital di kota Surabaya guna memenuhi kebutuhan para generasi muda (millenial).In this millennial era, many children want to experience an identity crisis due to social media that makes them In this millennial era, many children want to experience an identity crisis due to social media that makes them tech savvy, from this, many make the creative economy sector also offset what is in demand from young people today, one of which is the art gallery that raises art with interactive concepts with digital media that are many interesting visitor interest. From the conditions above, the creative economy sector is starting to develop its wings and innovate to follow trends for the needs of this social media event, such as making many contemporary products that are in demand and places to visit instagrammable , one of which is in the arts sector
PLANNING AND DESIGN COHOUSING FACILITIES WITH NATURE IN DENPASAR
Generasi Milenial di Bali menghadapi kesulitan memiliki rumah, dengan sekitar 30% penduduknya belum memiliki tempat tinggal. Untuk memenuhi kebutuhan akan hunian yang mendukung kehidupan sosial terbuka, pengembangan Co-housing di Denpasar menjadi penting. Co-housing didesain untuk menyediakan ruang bersama yang menjaga privasi penghuni sambil memfasilitasi interaksi sosial. Namun, perancangan Co-housing menghadapi masalah seperti keterbatasan ruang, privasi, dan integrasi budaya. Memastikan kepatuhan terhadap regulasi lingkungan juga menjadi tantangan. Proses perancangan menggunakan pendekatan gabungan Metode Penelitian dan Metode Perancangan, dengan fokus pada memaksimalkan ruang minimal dan memanfaatkan elemen penghubung. Penggunaan green concrete diharapkan dapat mengurangi emisi CO2 dan menciptakan lingkungan yang nyaman bagi penghuni. Co-housing diharapkan dapat menjadi solusi yang berkelanjutan untuk kebutuhan perumahan di Bali.Millennials in Bali are facing difficulties in home ownership, with around 30% of the population without a place to live. To meet the need for housing that supports open social life, the development of Co-housing in Denpasar is important. Co-housing is designed to provide shared spaces that maintain the privacy of residents while facilitating social interaction. However, co-housing designs face issues such as space constraints, privacy, and cultural integration. Ensuring compliance with environmental regulations is also a challenge. The design process uses a combined approach of Research Method and Design Method, focusing on maximizing minimal space and utilizing connecting elements. The use of green concrete is expected to reduce CO2 emissions and create a comfortable environment for residents. Co-housing is expected to be a sustainable solution to Bali's housing needs
Penerapan Arsitektur Biophilic pada Pusat Kecantikan di Canggu: Bahasa Indonesia
Gaya hidup yang dinamis serta beragam kegiatan rutinitas sehari-hari terutama di daerah perkotaan, lambat laun akan membawa masyarakatnya pada suatu titik jenuh seperti stress dan juga depresi. Oleh karena itu, setiap orang melakukan berbagai cara untuk mengatasi rasa titik jenuh yang mereka alami. Hal yang dapat dilakukan untuk mereduksi rasa titik jenuh tersebut yaitu dengan melakukan me time. Me time bisa dilakukan dengan berbagai macam kegiatan salah satunya yakni melakukan perawatan kecantikan secara menyeluruh. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menghasilkan konsep desain Pusat Kecantikan yang didalamnya terdapat berbagai perawatan kecantikan menyeluruh yang terintegrasi didalam satu lingkup site. Perencanaan Pusat kecantikan ini akan menerapkan konsep arsitektur biophilic sehingga dapat menciptakan suatu ruang yang harmoni dengan alam yang dapat membantu proses relaksasi. Metode yang digunakan yaitu dengan studi literatur, studi preseden, dan observasi lapangan. Hasil dari penelitian berupa penerapan arsitektur biophilic pada entrance, ruang luar, ruang dalam dan fasade bangunan.A dynamic lifestyle and various daily routine activities, especially in urban areas, will gradually bring people to a point of saturation such as stress and depression. Therefore, everyone does various things to overcome the feeling of saturation point that they experience. What can be done to reduce the feeling of saturation point is to do me time. Me time can be done with various activities, one of which is carrying out comprehensive beauty treatments. The purpose of this research is to produce a design concept for a Beauty Center in which there are various comprehensive beauty treatments integrated within one site. The planning of this beauty center will apply the concept of biophilic architecture so that it can create a space in harmony with nature which can help the relaxation process. The methods used are literature studies, precedent studies, and field observations. The results of the research are the application of biophilic architecture to entrances, outdoor spaces, interior spaces and building facade
Perencanaan dan Perancangan Pusat Agroindustri Cokelat Desa Ekasari Kecamatan Melaya Kabupaten Jembrana: Bahasa Indonesia
Pusat Agroindustri Cokelat Desa Ekasari memiliki peran dalam meningkatkan ekonomi lokal dan memperkenalkan hasil budidaya cokelat yang melimpah melalui pengembangan industri kakao. Penelitian ini bertujuan untuk penyediaan wadah bagi aktivitas pertani perkebunan, memperkenalkan budidaya cokelat yang baik serta memenuhi kebutuhan pangan dari hasil olahan Pusat Agroindustri. Tahap analisis mencakup studi situs, analisis fungsi, pengguna, dan kegiatan, serta evaluasi keselarasan dengan lingkungan. Metode perancangan menggunakan sintesa dan evaluasi untuk memperoleh alternatif terbaik. Tampilan bangunan menggambarkan konsep biomimikri dan tema ekologis melalui penggunaan struktur kayu dan baja. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan kayu ulin sebagai material konstruksi yang tahan terhadap iklim lembab. Implementasi tata ruang luar dan dalam mengacu pada kebutuhan fungsi dan kenyamanan, dengan pemilihan material yang sesuai dengan tema dan konsep. Diharapkan, Pusat Agroindustri ini akan menjadi pusat perhatian bagi petani kakao dan masyarakat umum, serta mendorong pengembangan industri kakao lokal.
The Ekasari Village Chocolate Agro-Industry Center has a role in improving the local economy and introducing abundant chocolate cultivation through the development of the cocoa industry. This research aims to provide a place for plantation farming activities, introduce good chocolate cultivation and meet food needs from the processed products of the Agroindustry Center. The analysis phase includes a site study, analysis of functions, users, and activities, and evaluation of harmony with the environment. The design method uses synthesis and evaluation to obtain the best alternative. The appearance of the building illustrates the concept of biomimicry and ecological themes through the use of wood and steel structures. The results show the use of ironwood as a construction material that is resistant to humid climates. The implementation of the external and internal layout refers to the needs of function and comfort, with the selection of materials that are in accordance with the theme and concept. It is expected that the Agroindustry Center will become a center of attention for cocoa farmers and the general public, and encourage the development of the local cocoa industry
Perencanaan dan Perancangan Pusat Pelatihan Sepak Bola di Kabupaten Badung: Bahasa Indonesia
Sepak bola merupakan olahraga yang populer di Indonesia, namun mengalami stagnasi pasca penjajahan Belanda akibat kurangnya fasilitas dan dukungan orang tua. Di Kabupaten Badung, Provinsi Bali, terjadi peningkatan dalam perkembangan sepak bola, meski sebagian klub belum memenuhi standar FIFA/PSSI. Dari 22 klub, 18 memiliki lapangan sendiri, namun 4 klub harus menyewa. Ini memengaruhi konsistensi pemain dan penggunaan sumber daya. Oleh karena itu, pembangunan pusat pelatihan sepak bola di Kabupaten Badung diusulkan untuk meningkatkan fasilitas dan kualitas sepak bola di daerah tersebut. Pusat ini akan menyediakan lapangan outdoor, indoor, ruang ganti, pusat kebugaran, kolam renang, cafetaria, dan ruang kelas dengan desain modern yang memperhatikan aspek fungsional dan ramah lingkungan. Diharapkan pusat ini menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia dan memenuhi kebutuhan masyarakat dalam menonton serta mengembangkan sepak bola.Football is a popular sport in Indonesia, but experienced stagnation after Dutch colonialism due to lack of facilities and parental support. In Badung Regency, Bali Province, there has been an increase in the development of football, even though some clubs do not yet meet FIFA/PSSI standards. Of the 22 clubs, 18 have their own fields, but 4 clubs have to rent them. This affects player consistency and resource usage. Therefore, the construction of a football training center in Badung Regency is proposed to improve the facilities and quality of football in the area. This center will provide outdoor, indoor fields, changing rooms, fitness center, swimming pool, cafeteria and classrooms with modern designs that pay attention to functional and environmentally friendly aspects. It is hoped that this center will become an example for other regions in Indonesia and fulfill the community's needs in watching and developing football
Penerapan Konsep Metafora Pada Pusat Wisata Edukasi Geopark Batur Di Kintamani : bahasa indonesia
Geopark Batur merupakan salah satu Geopark yang telah terdaftar sebagai UNESCO Global Geopark. Namun minat masyarakat terhadap pengetahuan terkait dengan geopark masih lah rendah, terutama dalam hal edukasi, oleh karena itu dibutuhkan pengembangan pusat wisata edukasi geopark batur yang lebih modern dan menarik untuk meningkatkan minat dan pengetahuan masyarakat terait geopark, sehingga dipilih lah penerapan konsep metafora dan tema arsitektur kontemporer, sehingga dalam proses tersebut menggunakan beberapa konsep diantaranya konsep zoning, konsep entrance, konsep massa, konsep sirkulasi, konsep ruang luar, konsep ruang dalam,konsep fasade, konsep struktur dan konsep utilitas, tujuan dari pengembangan ini adalah untuk memberikan wadah yang menyenangkan dan edukasif bagi orang yang akan datang kefasilitas untuk mengenal kekayaan alam dan budaya yang ada di geopark.Batur Geopark is one of the Geoparks that has been registered as a UNESCO Global Geopark. However, public interest in knowledge related to geoparks is still low, especially in terms of education, therefore it is necessary to develop a more modern and attractive batur geopark educational tourism center to increase public interest and knowledge related to geoparks, so the application of the concept of metaphor and contemporary architectural themes was chosen. so that in the process using several concepts including zoning concepts, entrance concepts, mass concepts, circulation concepts, outdoor space concepts, contemporary architectural themes, so that in the process using several concepts including zoning concepts, entrance concepts, mass concepts, circulation concepts, outdoor space concepts, indoor space concepts, facade concepts, structural concepts and utility concepts, the purpose of this development is to provide a fun and educational place for people who will come to the facility to get to know the natural and cultural wealth that exists in the geopark.  
RIVERSIDE GLAMPING BERARSITEKTUR TROPIS DI TEPI SUNGAI TELAGA WAJA, KARANGASEM : bahasa indonesia
Pada saat ini glamping menjadi tren untuk berekreasi ke alam, salah satu jenis glamping yang mulai berkembang yaitu riverside glamping. Riverside Glamping merupakan sebuah akomodasi wisata yang menghadirkan pengalaman berkemah sambil menikmati suasana alam, namun tetap dapat beristirahat dengan nyaman yang terletak di tepi sungai. Salah satu daerah yang memiliki potensi alam yang menarik untuk dijadikan suatu lokasi glamping yatu di daerah Karangasem, tepatnya di sepanjang aliran Sungai Telaga Waja. Perancangan glamping ini menerapkan tema tropis dengan menggunakan material alami sehingga dapat merespon iklim di daerah tersebut. Tujuan dari perancangan glamping ini yaitu untuk mewadahi pengunjung sebagai akomodasi yang sebelumnya masih kurang maksimal dari segi arsitektural dan kenyamanan. Dalam menysun jurnal ini menggunakan metode pengumpulan data seperti wawancara dengan wisatwan dan pihak pengelola obyek wisata di sekitar sungai Telaga Waja, melakukan pengamatan langsung ke lokasi untuk mencari informasi yang diperlukan, dan melakukan studi literatur untuk mendapatkan informasi yang masih terbatas di lapangan. Dengan perancangan glamping ini diharapkan dapat memberikan dampak positif menjadi ikon obyek wisata di lokasi tersebut sehingga menjadi daya tarik wisatawan sehingga dapat meningkatkan sektor perekonomian masyarakat setempat.Currently, glamping has become a trend for recreation in nature, one type of glamping that is starting to develop is riverside glamping. Riverside Glamping is a tourist accommodation that provides a camping experience while enjoying the natural atmosphere, but can still rest comfortably located on the river bank. One of the areas that has interesting natural potential to be used as a glamping location is in the Karangasem area, precisely along the Telaga Waja river. This glamping design applies a tropical theme using natural materials so that it can respond to the climate in the area. The aim of this glamping design is to accommodate visitors as accommodation which previously was still less than optimal in terms of architecture and comfort. In compiling this journal, data collection methods were used, such as interviews with tourists and tourism object managers around the Telaga Waja river, making direct observations at locations to find the necessary information, and conducting literature studies to obtain information that is still limited in the field. With this glamping design, it is hoped that it can have a positive impact on becoming an icon of a tourist attraction in that location so that it becomes an attraction for tourists so that it can improve the economic sector of the local communit
Perancangan Eco-Park Mangrove di Taman Hutan Raya Ngurah Rai: Bahasa Indonesia
Bali memiliki hutan mangrove dengan luas 1.353 Ha, telah ditetapkan sebagai Taman Hutan Raya sejak 1993. Potensi ekonomi dan lingkungan mangrove ini mencakup rekreasi alam, produk olahan, dan keberlanjutan ekosistem. Pemanfaatan tidak bertanggung jawab dapat merusak ekosistem, mempengaruhi keberlanjutan, dan mengancam ekowisata. Konsep ekowisata yang memperhatikan keberlanjutan ekologis diusulkan sebagai solusi, dengan penerapan material terbarukan seperti bambu dan kayu dalam perencanaan dan perancangan fasilitas wisata. Pendekatan ini bertujuan untuk minimalisir kerusakan pada ekosistem mangrove. Perancangan Ecopark Mangrove di Tahura Ngurah Rai diharapkan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat lokal dan mendukung pembangunan destinasi wisata alam berkelanjutan di Bali.Bali has a mangrove forest with an area of 1,353 ha, which has been designated as a Grand Forest Park since 1993. The economic and environmental potential of this mangrove includes natural recreation, processed products, and ecosystem sustainability. Irresponsible use can damage ecosystems, affect sustainability, and threaten ecotourism. An ecotourism concept that pays attention to ecological sustainability is proposed as a solution, with the application of renewable materials such as bamboo and wood in the planning and design of tourist facilities. This approach aims to minimize damage to the mangrove ecosystem. The design of the Mangrove Ecopark in Tahura Ngurah Rai is expected to improve the local community's economy and support the development of sustainable natural tourism destinations in Bali
Implementing the Polaris Constellation Concept in the Redesign of Seaport Mentigi
Nusa Penida adalah sebuah pulau kecil yang terletak di sebelah tenggara Bali dan merupakan bagian dari Kabupaten Klungkung. Keindahan alam Nusa Penida menjadi daya tarik utama bagi wisatawan. Meskipun Nusa Penida memiliki potensi pariwisata yang besar, akses transportasi menuju Nusa Penida adalah salah satu tantangannya. Seperti kurangnya fasilitas penunjang pada Terminal Pelabuhan yang ukurannya tergolong masih kecil sedangkan Nusa Penida mengalami peningkatan pesat dalam jumlah wisatawan dari tahun ke tahun. Salah satunya kondisi Terminal Pelabuhan Mentigi, kondisi infrastruktur yang tidak terurus dan tidak memadai sangat tidak efisien untuk menangani jumlah kapal dan penumpang wisatawan yang semakin meningkat, sehingga dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan pariwisata. Observasi merupakan penggunaan metode dengan cara mengamati dan mencatat data terhadap hal-hal yang dianalisis berupa dan dilakukan untuk menambah wawasan. Pengumpulan data dengan komunikasi dua arah (wawancara) untuk mengumpulkan informasi dari responden yang relevan dimana pewawancara langsung mengajukan pertanyaan tentang suatu objek yang diteliti dan rancangan sebelumnya untuk pengumpulan data yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian. Studi Kepustakaan berupa studi dengan mengumpulkan dan mencatat data yang bersumber dari literatur, jurnal, dokumen, dan lain-lain untuk memperoleh data yang diteliti. Saat ini tidak terdapat pusat transportasi yang layak untuk wisatawan di Nusa Penida terutama pelabuhan dari segi fasilitasnya yang tidak mengikuti perkembangan masa sekarang sebagai sarana pusat transportasi di pulau Nusa Penida. Maka dari itu Redesainbterminal Pelabuhan Mentigi sangatlah penting karena dari tahun ke tahunnya wisatawan sangat aktif dan meningkat berkunjung ke Nusa Penida sehingga diperlukan terminal dan fasilitas penunjang Pelabuhan untuk memfasilitasi wisatawan yang terus meningkat agar mereka merasa aman dan nyaman dalam kesan pertama mereka menginjakan kaki ke Nusa penida.Nusa Penida is a small island located southeast of Bali and is part of Klungkung Regency. The natural beauty of Nusa Penida is the main attraction for tourists. Although Nusa Penida has great tourism potential, transportation access to Nusa Penida is one of the challenges. Such as the lack of supporting facilities at the Port Terminal, which is relatively small in size while Nusa Penida experiences rapid growth in the number of tourists from year to year. One of them is the condition of Mentigi Port Terminal, where the infrastructure is poorly maintained and inadequate, making it inefficient to handle the increasing number of tourist ships and passengers, thus potentially hindering economic and tourism growth. Observation is the use of a method by observing and recording data on analyzed matters to enhance insight. Data collection through two-way communication (interviews) to gather information from relevant respondents where the interviewer directly asks questions about a researched object and previously designed data collection for research data collection. Literature Study is a study by collecting and recording data sourced from literature, journals, documents, etc., to obtain researched data. Currently, there is no suitable transportation center for tourists on Nusa Penida, especially the port in terms of facilities that do not follow current developments as a transportation hub on Nusa Penida Island. Therefore, Redesign of Mentigi Port Terminal are crucial because from year to year, tourists are very active and increasing in visiting Nusa Penida, so it is necessary to have a terminal and supporting facilities at the port to facilitate the increasing number of tourists so that they feel safe and comfortable in their first impression stepping foot on Nusa Penida
Model Rancang Bangun Shopping Mall Di Kota Singaraja: Bahasa Indonesia
Kota Singaraja di Bali berkembang pesat, terutama karena munculnya pusat perbelanjaan kontemporer. Kota Singaraja memiliki pertumbuhan penduduk tercepat, menurut data sensus penduduk Bali. Pusat perbelanjaan kontemporer, juga dikenal sebagai mall, dimaksudkan untuk menawarkan kenyamanan dan pengalaman baru bagi semua orang, baik anak-anak maupun orang dewasa. Dalam hal pariwisata, tujuannya adalah untuk mengimbangi modernisasi dan pelestarian seni dan budaya Bali. Pusat perbelanjaan modern di Singaraja tidak hanya menjadi tempat perbelanjaan yang modern dan canggih, tetapi juga mempertahankan nilai-nilai budaya Bali. Metode yang dilaksanakan selama proses penyusunan artikel ini dimulai dari survey, observasi lapangan, dokumentasi dan wawancara. Selain itu, ada beberapa fungsi yang dihasilkan dari perancangan mall ini, yaitu: Fungsi Utama (Fungsi utama adalah fungsi yang berfokus pada kegiatan yang meningkatkan perekonomian perdagangan, barang dan jasa yang menarik wisatawan untuk berkunjung, seperti retail-retail, area exhibition), Fungsi Penunjang (Fungsi penunjang merupakan sebuah fasilitas pendukung seperti tempat rekreasi dari utama, fasilitas tersebut biasanya seperti Bioskop, Area Permainan, Area Makan), dan Fungsi Servis (Fungsi servis merupakan sebuah fungsi yang bersifat memberikan pelayanan, seperti R. Genset, R. CCTV, R. Security, Toilet, Parkir pengunjung, Parkir Loading Barang). Dilengkapi dengan konsep city walk dan tema arsitektur regionalisme yang akan diimplementasikan pada perancangan Shopping Mall ini.The city of Singaraja in Bali is experiencing rapid growth, primarily due to the emergence of contemporary shopping centers. Singaraja has the fastest population growth, according to census data from Bali. Contemporary shopping centers, also known as malls, are intended to offer convenience and new experiences for everyone, including children and adults. In terms of tourism, the goal is to balance modernization with the preservation of Balinese arts and culture. The modern shopping center in Singaraja aims not only to be a modern and sophisticated shopping destination but also to preserve Balinese cultural values. The methods used during the preparation of this article included surveys, field observations, documentation, and interviews. Additionally, there are several functions resulting from the design of this mall, namely: Primary Functions (focused on activities that enhance trade, goods, and services, attracting tourists to visit, such as retail outlets, exhibition areas), Supporting Functions (support facilities such as recreational areas, usually including cinemas, playgrounds, dining areas), and Service Functions (providing services such as generators, CCTV, security, toilets, visitor parking, goods loading parking). It is complemented by the concept of city walk and regionalism architecture theme to be implemented in the design of this Shopping Mall