9 research outputs found

    Upaya Rehabilitasi Korban Penyalahgunaan Narkotika dan Obat Adiktif (Narkoba) (Studi deskripif di Badan Narkotika Nasional Kabupaten Lumajang)

    No full text
    Penyalahgunaan narkoba merupakan masalah yang sudah tidak awam lagi. Penyalahgunaan narkoba terjadi karena beberapa faktor, seperti faktor kepribadian, keluarga, lingkungan, pendidikan, dan komunitas sosial. Penyalahgunaan narkoba tersebut menimbulkan dampak fisik dan psikososial yang sangat merugikan. Kabupaten Lumajang merupakan salah satu daerah yang masih rawan penyalahgunaan narkoba. Penyalahgunaan narkoba di Kabupaten Lumajang menempati peringkat ke-9 se-Jawa Timur. Berdasarkan tahun 2015 jumlah penyalahguna narkoba di Kabupaten Lumajang sebanyak 566 orang. Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Lumajang merupakan lembaga yang memberikan pelayanan rehabilitasi bagi korban penyalahgunaan narkoba. Pada tahun 2016 BNN Kabupaten Lumajang menangani 80 pasien, tahun 2017 sebanyak 57 pasien dan tahun 2018 sebanyak 23 pasien. Pelayanan rehabilitasi ini dapat memulihkan korban penyalahgunaan narkoba. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui, mendeskripsikan, dan menganalisis bagaimana upaya rehabilitasi korban penyalahgunaan narkotika dan obat adiktif (narkoba) dan perubahan klien setelah mejalani rehabilitasi

    Upaya Rehabilitasi Korban Penyalahgunaan Narkotika Dan Obat Adiktif (Narkoba) (Studi Deskriptif DI Badan Narkotika Nasional Kabupaten Lumajang)

    No full text
    Penyalahgunaan narkoba merupakan masalah yang sudah tidak awam lagi. Penyalahgunaan narkoba terjadi karena beberapa faktor, seperti faktor kepribadian, keluarga, lingkungan, pendidikan, dan komunitas sosial. Penyalahgunaan narkoba tersebut menimbulkan dampak fisik dan psikososial yang sangat merugikan. Kabupaten Lumajang merupakan salah satu daerah yang masih rawan penyalahgunaan narkoba. Penyalahgunaan narkoba di Kabupaten Lumajang menempati peringkat ke-9 se-Jawa Timur. Berdasarkan tahun 2015 jumlah penyalahguna narkoba di Kabupaten Lumajang sebanyak 566 orang. Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Lumajang merupakan lembaga yang memberikan pelayanan rehabilitasi bagi korban penyalahgunaan narkoba. Pada tahun 2016 BNN Kabupaten Lumajang menangani 80 pasien, tahun 2017 sebanyak 57 pasien dan tahun 2018 sebanyak 23 pasien. Pelayanan rehabilitasi ini dapat memulihkan korban penyalahgunaan narkoba. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui, mendeskripsikan, dan menganalisis bagaimana upaya rehabilitasi korban penyalahgunaan narkotika dan obat adiktif (narkoba) dan perubahan klien setelah mejalani rehabilitasi

    Upaya Rehabilitasi Korban Penyalahgunaan Narkotika dan Obat Adiktif (Narkoba)

    No full text
    Abstract Drug abuse is a problem that is no longer public. Drug abuse in Lumajang District ranked 9th in East Java. Based on the year 2015 the number of drug abuse victims in the district was 566 people. National Narcotics Agency (BNNK) Lumajang is an institution that provides rehabilitation services for victims of drug abuse. In 2016 BNNK handled 80 patients, in 2017 there was 57 patients, and 23 patients in 2018. The efforts that were carried out to restore victims of narcotic abuse and addictive drugs (drugs). The problem of this study was how to attempt the rehabilitation of drug victims and addictive drugs (drugs) in the BNN of Lumajang district. The study used a qualitative approach with descriptive type. Determination of informant with Purposive technique. Data collection techniques using non-participant observation, semi-structured interviews, and documentation. Data analysis techniques using data reduction, data display, and verification. The validity technique of data uses the source and method triangulation. The result of research on rehabilitation efforts is to build relationships with clients, conduct assessment, intervene by determining the plan of therapy and counseling, monitoring and termination

    KAJIAN YURIDIS TERHADAP HAK PENYANDANG DISABILITAS UNTUK MENJADI PEGAWAI NEGERI SIPIL SESUAI KETENTUAN UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA

    No full text
    Employ persons with disabilities according with the type and degree of disability, education, and ability is an obligation that must be carried out by the state company consisting of state-owned enterprises and private companies including Cooperatives. Not only the state and private enterprise shall employ persons with disabilities, but the government agencies are also required to employ persons with disabilities. Based on background above, the formulation of the problem is whether the Law Number 5 of 2014 on Civil Administrative State has given the decent employment opportunities for persons with disabilities? The purpose of this study is to determine and analyze whether the Law Number 5 of 2014 on Civil Administrative State has provided decent employment opportunities for persons with disabilities. The author chose normative law method, as a source of research is focused on the law material norms of positive law in the form of legislation relating to the Judicial Review of the rights of persons with disabilities civil employee to become under provisions of the Law Number 5 of 2014 of the Civil Administrative State so that it takes the reasoning of normative legal aspects, which are characteristic of normative law. It is undeniable that there are people with disabilities who want to become civil employees. This is because people with disabilities also have the rights to get a decent job. Persons with disabilities have the opportunity to be able to serve the nation and the State. One example is to become a civil employee (PNS)

    Experimental Method on “Pseudo Delights” Artwork

    No full text
    ABSTRACTIn 1975 Indonesian contemporary art was believed to be born and marked by the occurrence of the “Black December” event which then initiated the Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia. Arts academy also swiftly respond to this phenomenon by putting an art experimentation course as their subject in ITB and ASRI Yogyakarta. Another example was made in 1987, a successful experimental exhibition “Pasaraya Dunia Fantasi” which was held Taman Ismail Marzuki being a headline. It is now four decades the development of experimentation medium celebrated even to other non-art disciplines. Being consider of it the author seeks to bring back the methods of the past that have been adapted to the contexts of today's problems and technological advances. In this research will be a study to develop experimentation model by using some reference logic theory such as design thinking method to produce a work. The development of contemporary art and design has not been widely recognized as an interdisciplinary area that could potentially be developed into a sophisticated and cutting-edge work. In contrast, in some academic and art academic discourses, student’s views are narrowed by thickening the barriers between art and design under the pretext of need capitalization of education. Therefore, the author tries to create a method of designing an experimentation work entitled 'Pseudo Delights'. This work has been previously executed and exhibited at the National Gallery. Pseudo Delight is a performative event specially engineered to respond to today's hyper-reality phenomenon. Where the development of information and mass media is celebrated massively. The rise of many social media applications such as Instagram, the urban communities can celebrate the exclusivity of their lives in a virtual gallery freely. As to convince others about the image of their modern life that is considered successful often the image that appears then contain excessive payload or false sign. Something paradoxical to the advancement of information technology today is presenting a lot of fake images has become the era of the death of information itself.  ABSTRAK Pada tahun 1975 seni rupa kontemporer Indonesia diyakini lahir dengan tanda hadirnya peristiwa “Black December” yang kemudian mengawali Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia. Akademi seni juga dengan cepat merespon fenomena ini dengan menambahkan mata kuliah eksperimentas seni sebagai salah satu subjek pendidikan seni di ITB dan ASRI Yogyakarta. Contoh lain ada pada tahun 1987 ketika sebuah pameran eksperimental yang sukses "Pasaraya Dunia Fantasi" yang diadakan Taman Ismail Marzuki menjadi berita utama. Sekarang empat dekade lebih pengembangan media eksperimen telah dirayakan bahkan untuk kegiatan disiplin non-seni lainnya. Dengan mempertimbangkan hal itu penulis berusaha untuk mengembalikan metode masa lalu yang telah disesuaikan dengan konteks masalah saat ini dan kemajuan teknologi. Dalam penelitian ini akan dilakukan penelitian untuk mengembangkan model eksperimen dengan menggunakan beberapa teori logika referensi seperti merancang metode berpikir untuk menghasilkan suatu karya. Perkembangan seni dan desain kontemporer belum diakui secara luas sebagai bidang interdisipliner yang berpotensi dikembangkan menjadi karya canggih dan mutakhir. Sebaliknya, dalam beberapa wacana akademis dan seni, pandangan siswa dipersempit dengan mempertebal hambatan antara seni dan desain dengan dalih kapitalisasi kebutuhan pendidikan. Oleh karena itu, penulis mencoba membuat metode merancang karya eksperimen berjudul 'Pseudo Delights'. Karya ini sebelumnya telah dieksekusi dan dipamerkan di Galeri Nasional. Pseudo Delights adalah acara performatif yang dirancang khusus untuk merespons fenomena hiper realitas saat ini. Di mana perkembangan informasi dan media massa dirayakan secara masif. Maraknya banyak aplikasi media sosial seperti instagram, masyarakat perkotaan dapat merayakan eksklusivitas kehidupan mereka di galeri virtual secara bebas. Seperti untuk meyakinkan orang lain tentang citra kehidupan modern mereka yang dianggap sukses sering gambar yang muncul kemudian mengandung muatan berlebihan atau tanda palsu. Sesuatu yang paradoks dengan kemajuan teknologi informasi saat ini adalah menghadirkan banyak gambar palsu yang telah menjadi era kematian informasi itu sendiri

    Lingkar Rupa Community Strategy in Developing the Actualization of Street Artists in Kota Tua, Jakarta

    No full text
    This study will describe the method used by the initiators of the Lingkar Rupa Community as a basis for a strategy to develop the quality of the work of street artists in Kota Tua, as well as a description that archives the movement of a new art community in Jakarta. Lingkar Rupa in an effort to protect and actualize themselves and the work of street artists in Kota Tua. The community, which was initiated by an art and culture teacher, Ferry Kurniawan, is a social activity that arose from the founder's personal anxiety about art life at the grassroots level. This research will discuss the background, art activities and exhibitions, art strategies and the impact that Lingkar Rupa has carried out. With a qualitative method, namely using in-depth interview techniques from several founders and members of Lingkar Rupa's own informants. The theory of participatory art will be a surgical tool that examines the direction of this community's journey. It should be noted that the 'street art' that the author describes here is an art that is different from the terminology of 'street art' in the West which often emerges from elite academic circles and tries to present works of protest against the social situation around them in a very 'educated' manner. This research is also important to identify the 'underground' movement which is often not recognized because it is less popular and dapper. Strategi Komunitas Lingkar Rupa dalam Mengembangkan Aktualisasi Seniman Jalanan di Kota Tua, JakartaAbstrakPenelitian ini akan mengurai metode apa yang dipakai oleh penggagas Komunitas Lingkar Rupa sebagai dasar strategi mengembangkan kualitas berkarya para seniman jalanan di Kota Tua, selain sebagai deskripsi yang mengarsipkan gerakan sebuah komunitas seni baru di Jakarta. Lingkar Rupa dalam upaya mengayomi dan mengaktualisasi diri dan kekaryaan para seniman jalanan di Kota Tua. Komunitas yang digagas oleh seorang guru seni dan budaya, Ferry Kurniawan, merupakan aktivitas sosial yang muncul dari kegelisahan personal pendirinya mengenai kehidupan seni di kalangan akar rumput. Dalam penelitian ini akan dibahas mengenai latar belakang, kegiatan seni dan pameran, strategi kesenian, serta dampak yang telah Lingkar Rupa kerjakan, dengan metode kualitatif yaitu menggunakan teknik wawancara yang mendalam dari beberapa informan pendiri dan anggota Lingkar Rupa itu sendiri. Teori seni partisipatoris akan menjadi alat bedah yang mengkaji arah perjalanan komunitas ini. Perlu diketahui bahwa ‘seni jalanan’ yang penulis jabarkan di sini adalah seni yang berbeda dari terminologi ‘street art’ di Barat yang kerap kali muncul dari kalangan akademi elit dan mencoba menghadirkan karya protes terhadap situasi sosial di sekitarnya dengan sangat ‘terdidik’. Penelitian ini juga penting untuk mengidentifikasi gerakan ‘bawah tanah’ yang sering kali tidak terekognisi karena kurang populer dan necis

    Laporan praktek kerja profesi apoteker di bidang sumber daya kesehatan seksi kefarmasian dan seksi alat kesehatan dan perbekalan rumah tangga Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur Jl. Jenderal Ahmad Yani No. 118, Surabaya 20 Juli 2020-21 Juli 2020

    No full text
    corecore