1,720,970 research outputs found
Agama dan Modernisasi: studi kasus pada masyarakat Adat Cikondang Desa Lamajang Kec. Pangalengan Kab. Bandung
Penelitian ini fokus kepada bagaimana memahami kmunitas masyarakat adat di Cikondang dalam mengartikan agama dan modernisasi dan bagaimana pengaruh modernisasi pada kehidupan keagamaan pada masyarakat adat Cikondang
ADAT, BUDAYA DAN AGAMA LOKAL Studi Gerakan Ajeg Bali Agama Hindu Bali
Tulisan ini memfokuskan kajiannya pada gerakan Ajeg pada agama Hindu di Bali. Pada satu sisi Ajeg Bali dipahami sebagai adat masyarakat Hindu Bali sebagai upaya untuk melestarikan nilai dan tradisi leluhurnya agar tidak hilang. Pada sisi lain, Ajeg Bali pun di pahami sebagai sebuah gerakan politik kebudayaan yang muncul ke permukaan sebagai respon orang-orang Bali yang beragama Hindu terhadap berbagai persoalan. Dalam perkembangannya, Ajeg Bali bahkan diyakini sebagai Agama Lokal yang tumbuh dan berkembang dalam tradisi masyarakat Bali.. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemahaman tentang Gerakan Ajeg Bali terpecah menjadi dua bentuk, satu fihak berpaham terhadap artikulasi dan fihak lain berfaham pada disartikulasi. Meski berbeda, keduanya menginginkan nilai-nilai adat tetap terpelihara dan terjaga secara utuh dari pengaruh budaya asing ataupun budaya global. Singkatnya gerakan Ajeg Bali dapat dipandang sebagai latihan intelektual dalam menciptakan simbol-simbol kebudayaan baru secara terus menerus untuk mendefinisikan kembali identitas ke-bali-an orang Bali demi kepentingan kekuasaan
Perilaku Keberagamaan Masyarakat Sunda Jawa Barat
Manusia akan menjalin hubungan dengan Tuhan melalui pola emosional yang melibatkan sistem kognisi (keyakinan agama, ajaran agama, mitos, dan dogma), sistem perilaku sosial (upacara doa bersama, ritual, dan liturgi), dan organisasi dengan individu lain. Karena sifat subjektif dari pengalaman keagamaan, individu akan memiliki perasaan yang berbeda. Dengan informasi ini, terbukti bahwa pengalaman keagamaan adalah hubungan batin seseorang dengan kekuatan gaib (Tuhan), dan bahwa hubungan ini dapat dipupuk dengan pengamalan ajaran agama dan ritual dalam bentuk konsep dan perasaan. Karena kenyataan bahwa tingkat pengalaman keagamaan dan ajaran agama yang dipraktikkan setiap individu berbeda-beda, setiap orang akan memiliki pengalaman keagamaan yang unik. Hal inilah yang terjadi dalam masyarakat sunda di Kota Bandung. Penelitian ini mengungkap: Pertama, Masyarakat sunda menggunakan karya seni kebudayaannya dala acara keagamaan. Kedua, Karakteristik Keberagamaan Masyarakat Sunda sangat beragam hal itu terbagi dalam sikap sebagai manusia, masyarakat, pola hubungan dengan alam, dan melahirkan keseimbangan aspek lahiriah dan batiniah. Ketiga, Keberagamaan masyarakat Sunda terlihat dari peninggalan-peninggalan spiritual masyarakat Sunda kuno dalam bentuk perilaku atau ritual yang mendarah daging dan gigih yang hingga kini terus dilestarika
Tradisi Wuku Taun sebagai B entuk Integrasi Agama Islam dengan Budaya Sunda pada Masyarakat Adat Cikondang
This article write starts from some phenomena of the relation between religions and local cultures. Such relation is interesting to do research that interpretations of the relation between religion and local cultures to certain societies are various. The interaction between Islam and local cultures also undergoes variuos form of relation. Variety of the form of relation between Islam and local cultures in a society depends upon their understanding and interpretation of Islamic teachings itself. One of the forms of relation between Islam and local cultures can be found in traditional society of Cikondang. The form of relation between Islam and local cultures was occurred in traditional society in Cikondang tends to be the form of integration wich certain pattern. Therefore, the focus of this writer article is to describe relation between Islam and Sundanese cultures in form of integration with wuku taun. Based on data of research the tradisional society of Cikondang represents the part of Sundanese society in wich all of them are muslims. This goes hand in hand with the statement that Islam is Sunda and Sunda is Islam. Sundanese people are Muslims before Islam comes to Sundanese society.Tulisan artikel ini berangkat dari fenomena hubungan agama dengan budaya lokal. Dimana hubungan agama dengan budaya lokal pada suatu masyarakat, mengalami bentuk hubungan yang beragam. Begitu pun hubungan agama Islam dengan budaya lokal mengalami bentuk hubungan yang beragam pula. Beragamnya bentuk hubungan agama Islam dengan budaya lokal pada suatu masyarakat tergantung dari penghayatan terhadap ajaran Islam itu sendiri. Bentuk hubungan agama Islam dengan budaya lokal bisa ditemukan salah satunya pada masyarakat adat Cikondang. Bentuk hubungan yang terjadi antara Islam dengan budaya Sunda pada masyarakat adat Cikondang cenderung dalam bentuk integrasi dengan pola tertentu, sehingga fokus penulisan artikel ini adalah untuk mengungkap hubungan agama Islam dengan budaya Sunda dalam bentuk integrasi melalui tradisi wuku taun. Berdasarkan data yang diperoleh, masyarakat Cikondang merepresentasikan sebagian masyarakat Sunda yang seluruhnya beragama Islam. Hal ini tentu sejalan dengan beberapa pernyataan yang menyebutkan Islam itu Sunda dan Sunda itu Islam, orang Sunda sudah Islam sebelum Isla
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Wujud Kebudayaan Masyarakat Adat Cikondang dalam Melestarikan Lingkungan
This study departs from human life lived long enough in a community, where the community will create a rule or a handle on life that can be used as a way of survival for the creation of a safe, serene and peaceful. The rule could be religious and also can be a culture. Indigenous peoples with all its potential able to be creative to build an environment that is completely self-contained and is also able to preserve the nature of the damage. As a result of the natural environment inhabited by indigenous communities today rescued from various natural disasters. This phenomenon, would be an interesting study material for study. The Society has a certain cultural values that differ from one another. The indigenous peoples are a society that is in life comes with a quirk inherited his ancestors, either in the form of a view of life, religious traditions and values of other cultures that sought to be maintained and implemented in his life as a commandment of life for the benefit of their ancestors The Cikondang society known as the Sunda ethnic and categorized as indigenous communities, because until now still cling to the traditions of his ancestors. It stands out that of the indigenous peoples Cikondang Cikondang is the persistence of indigenous peoples to preserve and utilize the environment to life. This can be seen, when the rainy season Cikondang region is not exposed to landslides, even a water source can be fully utilized for agriculture, so that agricultural produce in abundance. Likewise third dry season Cikondang indigenous peoples do not worry about lack of water even position in the hills of the mountains
Resolusi Konflik Antar Umat Beragama
Resolusi konflik menjadi suatu bagian alat untuk mempersatukan antar-umat beragama dengan jalan cara mendamaikan melalui berbagai pendekatan baik secara akademisi atau melalui solusi praktisi. Dalam hal ini, menjadi sangat penting bagi para akademisi terutama bagi mahasiswa harus memiliki sikap solusi dalam memecahkan persoalan baik intern agama maupun antar-umat beragama. Terlebih persoalan tersebut dimunculkan atas adanya isu dari agama, tetapi pada dasarnya tidak ada agama yang mengajarkan untuk saling memusuhi satu sama lain, melainkan untuk saling menjaga perdamaian dan saling tolong-menolong serta saling menghargai tali persaudaraan antar umat beragama. Meskipun lebih dikedepankan sistem kerjasama masalah sosial kemanusiaan, paling tidak keutuhan manusia hidup di dunia terutama dalam beragama merasa nyaman dalam ajaran agama masing-masing. Maka dari itu, penulis memberikan bentuk salah satu bagian dari solusi melalui jalan dialog dan jalan resolusi lainny
- …
