1,720,988 research outputs found
Paradigma Pendidikan Seni
Saat ini muncul berbagai permasalahan yang ada dalam kehidupan baik dalam lingkup keluarga hingga dalam lapisan masyarakat. Berbagai hal yang muncul diduga karena kurang berperannya pendidikan dalam membentuk kepribadian masyarakatnya. Seni yang dijadikan sebagai media ungkap dan ekspresi diri, bahkan hanya dilirik sebelah mata oleh beberapa kalangan, namun di sisi lain dipandang oleh kawan-kawan mahasiswa pascasarjana sebagai sumber yang dapat dijadikan dasar pendidikan. Seni seharusnya tidak hanya dipandang sebagai hiburan atau ungkapan ekspresi seseorang saja, namun juga sebagai sarana atau media dalam pendidikan, karena seni dan seperangkat aktivitas di dalamnya bersentuhan langsung dengan rata. Buku ini merupakan kumpulan tulisan yang mencoba menguak sisi seni dalam konteks pendidikan. Tulisan Suherman memandang pendidikan seni sebagai bentuk penyadaran. Tulisan Deddy Irawan mengungkap bahwa pendidikan seni menawarkan sistem pembelajaran yang menyeluruh, terkait dengan pikiran, tubuh dan jiwa yang dipadukan menjadi satu. Tulisan Rachmat memandang pendidikan sebagai daya dan upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti demi memajukan kesempurnaan hidup dari masyarakat. Bachtiar Arbi mengemukakan terdapat ketimpangan kecerdasan otak kiri (pengetahuan) dan otak kanan (ketrampilan) dalam penerapan pendidikan di Indonesia saat ini. Tulisan Alfathul Mukarram mencetuskan adanya pendidikan multikultural dalam pendidikan seni. Iwan Pranoto melihat pada kemajuan teknologi dan komunikasi yang telah merubah gaya hidup manusia baik dalam bekerja, bersosialisasi, bermain maupun dunia pendidikan khususnya pendidikan sen, dll
Pengembangan Eksipien Co-Process Pati Talas (Colocasia Esculenta) Pregelatinasi Dan Avicel Sebagai Bahan Pengisi Tablet Kempa Langsung
Tablet merupakan sediaan berbentuk solid yang dalam proses pembuatannya ditambahkan ekspien tertentu yang sesuai seperti bahan pengisi, pengikat, penghancur, pewarna dan penyalut (Allen et al., 2011). Tablet dapat dibuat dengan metode kempa langsung, karena prosesnya yang mudah, cepat dan murah (Widodo dan Hassan, 2015). Pembuatan tablet dengan metode kempa langsung memberikan peranan yang penting dalam pembuatan tablet, terutama dalam menekan biaya produksi dan mempersingkat waktu produksi dibandingkan menggunakan metode granulasi basah. Metode kempa langsung adalah metode yang sesuai untuk bahan obat yang rusak akibat pemanasan dan kelembapan saat proses granulasi (Jivraj et al., 2000).
Talas (Colocasia esculenta) terdapat dalam jumlah yang besar di Indonesia. Pati talas dapat digunakan sebagai bahan pengikat dan penghancur pada sediaan tablet (Kusuma et al.,2015). Pati dalam bentuk native starch memiliki kompresibilitas yang kurang baik bila digunakan dalam pembuatan tablet dengan metode kempa langsung (Widodo dan Hassan, 2015). Kompresibilitas dari pati dapat diperbaiki menggunakan metode pregelatinasi yang merupakan salah satu metode modifikasi fisik pada pati (Teguh dan Hassan, 2015).
Co-process merupakan proses untuk memperoleh eksipien baru dengan cara menggabungkan dua atau lebih jenis eksipien yang sudah ada. Co-process dengan metode fisika, mengkombinasikan dua atau lebih eksipien dengan tujuan untuk memodifikasi sifat fisik tertentu seperti sifat alir dan kompresibilitas (Desai et al., 2012). Proses pencampuran eksipien bertujuan untuk memperoleh eksipien baru dengan sifat campuran yang dapat saling menutupi kekurangan masing-masing bahan. Pada pembuatan eksipien co-process, pati talas pregelatinasi dikombinasikan dengan avicel supaya dapat menghasilkan sifat alir dari eksipien co-process yang baik.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat eksipien co-process dari pati talas pregelatinasi dan avicel yang dapat digunakan sebagai bahan pengisi pada tablet kempa langsung. Dibuat tiga formula eksipien co-process dengan perbandingan pati talas pregelatinasi dan avicel yang berbeda. Ketiga formula eksipien co-process selanjutnya dievaluasi sifat alirnya yang meliputi sudut diam, kecepatan alir, indeks kompresibilitas (Carr Index) dan ukuran partikel. Eksipien co-process dari masing-masing formula selanjutnya diformulasikan menjadi tablet dengan bahan aktif vitamin C. Tablet yang dihasilkan selanjutnya dievaluasi sifat fisiknya yang meliputi kekerasan, kerapuhan, keseragaman sediaan, disintegrasi dan disolusi.
Ketiga formula eksipien co-process memiliki sifat alir yang baik. Sifat alir yang baik dapat dilihat dari nilai sudut diam, kecepatan alir dan indeks kompresibilitas (Carr Index). Nilai sudut diam, kecepatan alir ketiga formula eksipien co-process termasuk dalam kategori sifat alir yang baik. Indeks kompresibilitas (Carr Index) dari masing-masing formula eksipien co-process termasuk dalam kategori sifat alir yang cukup baik. F3 memiliki sifat alir yang paling baik dari F1 dan F2, karena mengandung jumlah avicel yang lebih tinggi. F2 memiliki kecepatan alir yang paling rendah karena kadar lembapnya lebih tinggi dari F2 dan F3.
Tablet yang dihasilkan dari ketiga formula memenuhi persyaratan kekerasan, kerapuhan, keseragaman sediaan, disintegrasi dan disolusi. Kekerasan tablet F2 paling kecil diantara F1 dan F3. Keseragaman sediaan semua formula telah terpenuhi dengan nilai penerimaan kurang dari 15% dan simpangan baku kurang dari 25%. Waktu disintegrasi dari F2 lebih cepat dari F1 dan F3 karena kekerasan tablet F2 lebih kecil dari F1 dan F3. Hasil uji disolusi menunjukkan bahwa vitamin C sebagai bahan aktif dari semua formula tablet terlarut lebih 75% dalam waktu 45 menit. Eksipien co-process yang digunakan sebagai bahan pengisi dalam formulasi tablet vitamin C tidak menghambat pelepasan dari bahan aktif obat ke dalam media disolusi
Pengembangan Eksipien Co-Process Pati Pisang Kepok (Musa Paradisiaca Var. Formatypica) Pregelatinasi – Natrium Karboksimetilselulosa Sebagai Filler-Binder Tablet
Tablet adalah bentuk sediaan padat farmasi yang paling banyak digunakan
dan dapat diproduksi menggunakan metode kempa langsung. Kriteria bahan yang
dikempa langsung harus memiliki sifat alir dan kompresibilitas yang baik
(Lachman dkk., 1994). Indonesia memiliki banyak sekali sumber bahan yang
dapat digunakan sebagai eksipien tablet, salah satunya adalah pati pisang kepok.
Pati yang dihasilkan dari pisang kepok berpotensi untuk digunakan sebagai fillerbinder
karena memiliki kadar pati lebih tinggi dengan warna yang lebih
dibandingkan pisang ambon dan pisang siem (Satuhu dan Supriyadi, 1992).
Pati alami masih memiliki dua keterbatasan untuk digunakan sebagai
eksipien kempa langsung yakni sifat alir dan kompresibilitas yang kurang baik
(Gusmayadi dan Sumaryono, 2012). Keterbatasan tersebut dapat diperbaiki
melalui proses pregelatinasi dan co-process. Sifat alir yang kurang baik dari pati
dapat diperbaiki melalui proses pregelatinasi, sedangkan co-process diperlukan
untuk memperbaiki kompresibilitas pati yang rendah. Co-process merupakan cara
untuk mendapatkan eksipien baru dengan sifat fisik yang lebih baik dari
kombinasi dua atau lebih jenis eksipien yang telah (Gohel dan Jogani, 2005).
Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan penggunaan eksipien coprocess
dari pati pisang kepok yang dikombinasikan dengan natrium
karboksimetilselulosa melalui co-process sebagai filler-binder sehingga
didapatkan granul dan tablet dengan mutu yang baik. Eksipien co-process dibuat
dalam empat formula dengan perbandingan pati pisang kepok pregelatinasi –
natrium karboksimetilselulosa 100:0; 95:5; 92,5:7,5; dan 90:10. Granul eksipien
co-process kemudian dievaluasi karakteristiknya yang meliputi sifat alir,
kompresibilitas, ukuran partikel dan kadar lembap. Granul yang telah dievaluasi ditambahkan dengan bahan aktif vitamin C untuk selanjutnya dikempa menjadi
tablet. Tablet yang dihasilkan dievaluasi sifat fisiknya meliputi kekerasan,
kerapuhan, waktu hancur, keseragaman sediaan, dan disolusi.
Granul eksipien co-process dari F1, F2, F3, dan F4 menunjukkan
karakteristik yang baik sebagai eksipien tablet kempa langsung mencakup sifat
alir dan persen kompresibilitas, namun tidak memenuhi persyaratan untuk kadar
lembap. F4 memiliki sifat alir dan kompresibilitas yang paling baik dengan
ukuran partikel lebih besar dibandingkan formula yang lain. Penambahan CMCNa
sebagai bahan pengikat pada formulasi memberikan pengaruh yang bermakna
pada hasil evaluasi. Sifat alir dan kompresibilitas granul eksipien co-process
semakin baik seiring dengan meningkatnya jumlah CMC-Na.
Hasil evaluasi tablet vitamin C menunjukkan bahwa F4 menghasilkan tablet
dengan kriteria yang palik baik karena memenuhi persyaratan terkait kekerasan,
kerapuhan, waktu hancur, keseragaman sediaan, dan disolusi. F2 dan F3 tidak
memenuhi persyaratan kerapuhan, sedangkan F1 tidak memenuhi persyaratan
kekerasan dan kerapuhan. Penambahan jumlah CMC-Na pada formulasi dapat
meningkatkan kekerasan dan waktu hancur, namun menurunkan kerapuhan dan
disolusi tablet.
Uji ANOVA memberikan hasil bahwa terdapat perbedaan yang signifikan
antar formula pada masing-masing hasil evaluasi, kecuali sudut diam.
Berdasarkan parameter terpilih, formula yang paling baik adalah F4 dengan
perbandingan pati pisang kepok pregelatinasi dan natrium karboksimetilselulosa
90:10. Eksipien co-process pati pisang kepok (Musa paradisiaca var.
formatypica) pregelatinasi dan natrium karboksimetilselulosa dapat digunakan
sebagai filler-binder pada formulasi tablet, namun diperlukan penelitian lebih
lanjut mengenai penambahan bahan tambahan lain pada formula dan perlu
dilakukan uji lanjutan terkait stabilitas sediaan
Pengembangan Eksipien Co-Process Pati Pisang Kepok (Musa Paradisiaca Var. Formatypica) Pregelatinasi – Hidroksipropil Metilselulosa Sebagai Filler-Binder Tablet
Tablet merupakan bentuk sediaan yang paling disukai dalam dunia farmasi (Bansal dan K.Nachaegari, 2004). Bahan obat yang akan diformulasikan dalam bentuk tablet memerlukan eksipien untuk membentuk massa yang kompak antara lain pengisi, pelicin, pengikat, dan penghancur. Pati pisang kepok berpotensi untuk dikembangkan sebagai eksipien tablet sebab mudah diekstraksi dan memiliki kadar pati yang tinggi (Palupi, 2012; Crowther, 1979). Metode kempa langsung sejauh ini lebih banyak digunakan dalam teknologi farmasi karena prosesnya yang sederhana dan biayanya yang relatif murah (Augsburger dan Mark J.Zellhofer, 2007). Pati memiliki keterbatasan untuk digunakan sebagai eksipien tablet kempa langsung karena sifat alir dan kompresibilitasnya yang kurang baik (Gusmayadi dan Bambang Sumaryono, 2012).
Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki sifat alir dan kompresibilitas pati melalui pregelatinasi dan co-process. Pregelatinasi merupakan metode modifikasi fisik menggunakan air dan suhu untuk merusak sebagian atau seluruh partikel pati sehingga menghasilkan ukuran yang lebih besar (Abdorreza dkk., 2012). Co-process merupakan salah satu metode modifikasi eksipien dengan mengkombinasikan bahan-bahan yang sudah ada agar bahan-bahan yang terpilih dapat saling melengkapi satu sama lain dan menutupi sifat-sifat yang tidak diinginkan dari masing-masing bahan (Bansal dan K.Nachaegari, 2004). Pati pisang kepok diolah menjadi filler-binder (pengisi dan pengikat tablet) dengan mengkombinasikannya bersama hidroksipropil metilselulosa (HPMC) sebagai pengikat sehingga hasil dari co-process memiliki kompresibilitas yang baik (Abdorreza dkk., 2012). Bahan aktif yang digunakan dalam penelitian ini adalah vitamin C yang merupakan bahan aktif umum untuk diformulasikan dalam bentuk tablet dengan metode kempa langsung. Eksipien co-process pati pisang kepok pregelatinasi – HPMC yang dihasilkan semua formula menunjukkan karakteristik yang memenuhi persyaratan sebagai eksipien tablet kempa langsung mencakup organoleptis, kelembapan, sifat alir, dan kompresibilitas. Peningkatan konsentrasi HPMC dalam formula dapat menurunkan sifat alir, namun masih dalam kategori baik. Sebaliknya, peningkatan konsentrasi HPMC dalam formula meningkatkan kompresibilitas eksipien yang dihasilkan. Tablet vitamin C yang dihasilkan dari eksipien co-process pati pisang kepok pregelatinasi – HPMC memenuhi persyaratan terkait kekerasan, kerapuhan, waktu hancur, keseragaman sediaan, dan disolusi pada formula 4. Formula 1 dan 2 tidak memenuhi persyaratan kekerasan dan kerapuhan, sedangkan formula 3 memenuhi seluruh persyaratan kecuali kerapuhan. Bertambahnya konsentrasi HPMC dalam formula menghasilkan tablet dengan kekerasan yang semakin meningkat, waktu hancur semakin lama, dan tingkat kerapuhan semakin menurun. Berdasarkan hasil yang telah didapatkan, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terkait optimasi dan penambahan eksipien lain guna memperbaiki sifat granul maupun tablet yang belum memenuhi persyaratan serta penelitian baru menggunakan bahan aktif lain
PROFIL DISOLUSI DAN EVALUASI KAPSUL MICROSPHERES METFORMIN HIDROKLORIDA-ETIL SELULOSA
Metformin hidroklorida merupakan antidiabetik golongan biguanida yang
digunakan dalam terapi diabetes melitus tipe 2. Metformin hidroklorida beredar di
pasaran dalam bentuk tablet konvensional dengan dosis 500 mg untuk pemakaian
2-3 kali sehari atau 850 mg 1-2 kali sehari. Terapi dengan metformin hidroklorida
memiliki berbagai permasalahan diantaranya membutuhkan dosis yang besar
(1,5–2,0 g/hari), bioavailabilitas rendah (50%-60%) dan tingginya kasus
gangguan saluran pencernaan (30%).
Pada penelitian yang dilakukan oleh Fadila (2016); Susilowati (2016); dan
Sukmaningrum (2016), metformin hidroklorida diformulasikan menjadi
microspheres dengan polimer etil selulosa menggunakan metode non-aqueous
solvent evaporation. Microspheres adalah partikel sferis kecil dengan diameter
1μm-1000μm yang merupakan sediaan multiple unit bersifat biocompatible, dapat
meningkatkan bioavailabilitas suatu bahan aktif, dan menghasilkan partikel dalam
ukuran mikron. Etil selulosa telah banyak diteliti sebagai polimer microspheres,
polimer ini bersifat tidak larut dalam air, nonbiodegradable, biocompatible, tidak
beracun, dan banyak digunakan dalam produk farmasi.
Formula microspheres metformin hidroklorida-etil selulosa terpilih
menghasilkan nilai entrapment efficiency sebesar 55,856-84,792%. Pada
penelitian sebelumnya belum dilakukan uji disolusi terhadap formula terpilih. Uji
disolusi menjadi bagian penting untuk menilai keberhasilan suatu formulasi
sediaan, terutama untuk formulasi sediaan lepas lambat yang pengontrolan laju
pelepasan obatnya menjadi tujuan utama formulasi. Pada uji disolusi yang akan
dilakukan, microspheres metformin hidroklorida-etil selulosa diformulasikan ke
dalam bentuk sediaan kapsul. Preparasi microspheres pada sediaan kapsul bisa
secara langsung diisikan ke dalam cangkang keras kapsul tanpa melalui proses
pencetakan atau kempa yang dapat menyebabkan pecahnya mikropartikel sehingga pelepasan obat meningkat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dissolution efficiency dari formula terpilih hasil penelitian
sebelumnya dan mengetahui hubungan antara nilai entrapment efficiency dengan
nilai pelepasan tiap formula.
Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental laboratorik
dengan menggunakan four blades propeller 400 rpm atau 1000 rpm selama 2 jam
atau 4 jam, dan spektrofotometer UV-Vis untuk melakukan pengukuran
entrapment efficiency dan pelepasan metformin hidroklorida. Hasil nilai
entrapment efficiency dan pelepasan yang diperoleh selanjutnya dibandingkan
untuk mengetahui hubungan dari kedua nilai tersebut pada masing-masing
formula.
Adanya peningkatan kecepatan dan lama pengadukan yang digunakan
dalam suatu formula menghasilkan nilai entrapment efficiency cukup rendah
dengan pelepasan obat yang tinggi. Dan sebaliknya, penggunaan kecepatan dan
lama pengadukan yang rendah dalam suatu formula menghasilkan nilai
entrapment efficiency cukup tinggi dengan pelepasan yang lambat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai entrapment efficiency
microspheres metformin hidroklorida-etil selulosa yang dipreparasi dengan
kombinasi antara kecepatan dan lama pengadukan adalah 54,768% ± 0,563 -
83,636% ± 0,681, dengan formula 1 > formula 2 > formula 3 > formula 4. Microspheres metformin hidroklorida-etil selulosa memenuhi evaluasi sifat alir
dengan kategori sangat baik, dan juga memenuhi evaluasi kapsul meliputi
keseragaman bobot, dan waktu hancur. Pelepasan metformin hdiroklorida selama
8 jam dari keempat formula sebesar 31,41% ± 0,96 - 67,01% ± 0,20 serta DE480
26,95% ± 0,346 - 58,06% ± 0,165, dengan formula 3 > formula 1 > formula 4 >
formula 2. Formula dengan nilai DE480 paling besar mengikuti kinetika pelepasan
Korsmeyer Peppas dengan mekanisme difusi, dan rata-rata ukuran partikel yang
didapatkan menggunakan SEM sebesar 112 μm ± 27,539 dengan bentuk
mendekati sferis. Hasil entrapment effciency dari empat formula yang digunakan
tidak memiliki hubungan yang linier dengan pelepasan obat
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
- …
